Solusi Investasi Akhirat Anda

Mahabbah, Khouf, dan Roja’ Bagian 3

Disebutkan di dalam Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini menjelaskan betapa pentingnya khouf dan roja’ bagi seorang hamba dalam hal keberadaannya sebagai hamba Allah ta’ala. Asbabu-n- Nuzul ayat ini adalah:

عن مصعب بن ثابت قال : مر رسول الله – صلى الله عليه وسلم – على ناس من أصحابه يضحكون ، فقال : “ اذكروا الجنة ، واذكروا النار “ . فنزلت : نبئ عبادي أني أنا الغفور الرحيم وأن عذابي هو العذاب الأليم  (رواه ابن أبي حاتم ، وهو مرسل)

“Dari Mush’ab bin Tsabit, dia mengatakan: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melewati orang-orang dari kalangan Shahabat yang sedang tertawa. Beliau bersabda: Ingatlah Surga, ingatlah Neraka. Lalu turunlah ayat:

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ () وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ (الحجر: 49-50)

“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih” (QS. Al-Hijr: 49-50)
(HR. Ibnu Hatim, Hadits ini mursal)

Juga disebutkan di dalam Tafsir Ibnu Katsir, Ibnu Abi Robah meriwayatkan dari seorang Sahabat. Dia berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam datang kepada kami dari pintu yang biasa dilalui oleh Bani Syaibah, beliau bersabda: Bukankah saya melihat kalian tertawa? Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berpaling kemudian kembali lagi lalu bersabda: Ketika saya keluar, Jibril datang kepadaku mengatakan: Wahai Muhammad, kenapa kamu membuat hamba-hamba-Ku berputus asa? [selesai]

Ayat lainnya,

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوراً (الإسراء: 57)

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya; sesungguhnya adzab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (QS. Al-Isra’: 57)

Ayat ini tentang para Nabi, para wali dan orang-orang shalih yang selalu mengupayakan taqorrub kepada Allah ta’ala. Mereka selalu mengimbangi peribadahannya dengan roja’ dan khouf.

Ayat lainnya,

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا (السجدة: 16)

“Lambung mereka jauh dari tempat tidur. Mereka berdoa kepada Tuhan mereka dengan cemas (takut) dan harap (QS. As-Sajdah: 16)

Disebutkan di dalam Tafsir al-Wasith, orang-orang mu’minin yang shodiq (jujur) senantiasa meninggalkan tempat tidurnya demi bisa menunaikan qiyamul lail. Mereka beribadah dan berdoa kepada-Nya dengan penuh rasa takut terhadap murka-Nya dan berharap penuh terhadap keridhaan-Nya.

Adapun di dalam Hadits, di antaranya:

وعن أنَسِ بنِ مالكٍ – رضي الله عنه -: أن النبي – صلَّى اللهُ عليْه وسلَّم – دخل على شابٍّ وهو في المَوْتِ، فقَالَ: كيف تَجِدُكَ؟ قالَ: واللهِ يا رسولَ اللهِ، إنِّي أَرْجُو اللهَ، وإنِّي أخَافُ ذُنُوبِي، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ – صلَّى اللهُ عليْه وسلَّم -: لا يَجْتَمِعَانِ في قَلْبِ عَبْدٍ في مِثْلِ هَذا الْمَوْطِنِ؛ إلاَّ أعْطَاهُ اللهُ ما يَرْجُو، وآمَنَهُ ممَّا يَخَافُ (أخرجه التِّرمذي وقال: حسن غريب، والنسائي في “الكبرى”، وابن ماجه، وقال الألباني: حسنٌ صحيح)

“Dari Anas bin Malik radiallahu anhu bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam menemui seorang pemuda yang sedang menghadapi kematian. Beliau bertanya: ‘Bagaimana Anda mendapati diri Anda?’ Dia menjawab: ‘Demi Allah Ya Rasulullah, saya berharap (roja’) kepada Allah tetapi saya mengkhawatirkan dosa-dosaku.’ Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Tidaklah keduanya berkumpul pada hati seorang hamba dalam keadaan seperti ini melainkan Allah ta’ala akan memberikan apa yang dia harapkan dan memberikannya keamanan dari apa yang dia khawatirkan'” (HR. At-Tirmidzi. Dia mengatakan: Hadits Hasan ghorib, dan An-Nasa’i juga Ibnu Majah. Al-Albani mengatakan: Hasan Shahih)

Hadits lainnya,

عن أبي هريرة – رضي الله عنه – عن النبي – صلَّى الله عليْه وسلَّم -: يقول الله – عزَّ وجلَّ -: وعزَّتي، لا أجمع على عبدي خوفَين، ولا أجْمع له أمنَين، إذا أمِنَني في الدُّنيا، أخفتُه يوم القيامة، وإذا خافني في الدُّنيا، أمنته يوم القيامة (رواه البيْهقي)

“Dari Abu Hurairah radiallahu anhu, dari Nabi shalallahu alaihi wasallam, Allah ta’ala berfirman: ‘Demi kemuliaan-Ku, Aku tidak akan menggabungkan pada hamba-Ku dua rasa takut. Dan Aku tidak akan menggabungkan pada-Nya dua rasa aman. Jika dia merasa aman dengan-Ku di dunia maka Aku akan menjadikannya takut pada Hari Kiamat. Jika dia takut kepada-Ku di dunia, Aku akan menjadikannya aman pada hari Kiamat'” (HR. Al-Baihaqi)

E. Mana yang Lebih Dikuatkan Antara Khouf dan Roja’

Khouf mengharuskan adanya roja’, kalau tidak niscaya seorang hamba akan merasa putus asa dengan kesalahan dan dosa-dosa yang dia terjerumus di dalamnya. Demikian pula roja’, ia mengharuskan adanya khouf. Kalau tidak, niscaya seorang hamba akan merasa aman atas amalan-amalan yang dilakukannya. Dia memandang amalan-amalannya itu segala-galanya di sisi keridhaan Allah ta’ala tanpa ada suatu kekhawatiran apakah ia diterima atau tidak? Dia tidak pernah takut atas taqshir (kekurangan) di dalam penghambaan diri kepada-Nya.

Antara khouf dan roja’, apakah kita memprioritaskan salah satunya? Keduanya harus berimbang. Dikatakan berimbang, ketika kondisi seseorang membutuhkan penguatan khouf maka kuatkanlah khouf. Sebaliknya jika kondisinya membutuhkan penguatan roja’ maka kuatkanlah roja’. Jika terjerumus ke dalam maksiat dan rasa takutnya sedemikian hebat maka ia membutuhkan penguatan roja’. Adapun jika merasa aman-aman saja tidak ada suatu kegundahan padahal dirinya sedang bergelimang dengan kemaksiatan maka khouf harus diperkuat.

Ibnul Qoyyim rahima hullah mengatakan: Para Salaf suka untuk menguatkan sayap khouf di dalam keadaan sehat daripada roja’. Sementara ketika akan keluar dari dunia (seperti sakit yang secara medis tidak ada harapan sembuh, Pent.) maka mereka menguatkan roja’ [selesai].

Dari nukilan Ibnul Qoyyim rahima hullah ini menunjukkan kita sepanjang hidup harus didominasi oleh khouf daripada roja’. Roja’ baru dikuatkan dalam kondisi ketika sudah udzur seperti sakit dan semacamnya.

F. Mengetahui Nash-Nash Tentang Ancaman dan Fadhilah Membantu Meningkatkan Khouf dan Roja’

Cukup banyak dijumpai di dalam Al-Qur’an dan Hadits tentang ancaman dan fadhilah. Baca dan renungilah baik-baik Nash-Nash tersebut, niscaya akan meningkat pada diri Anda khouf dan roja’-nya kepada Allah ta’ala. Anda akan berhati-hati dari setiap kemungkaran dan akan meningkatkan seluruh kebaikan secara kuantitas dan kualitas. Sebagai contoh:

  • Nash tentang shalat berjamaah, fadhilah-nya 27 derajat dibandingkan shalat sendirian. Ia mendorong kita untuk meraihnya dan mengkondisikan diri untuk tidak sampai melewatkannya.
  • Nash tentang memperbanyak sujud sebagai syarat untuk bisa menemani Nabi shalallahu alaihi wasallam di Surga. Ia akan memotivasi kita untuk memperbanyak shalat.
  • Nash tentang berbeda-bedanya nilai shalat yang ditunaikan kaum muslimin. Ia akan menguatkan kita untuk mengupayakan ke-khusyu’-an. Seluruh media untuk meraih ke-khusyu’-an akan dijalani seperti mempelajari bahasa Arab, menghadiri shalat dengan tidak tergesa-gesa, menghadirkan hati pada setiap bacaan shalat yang dilafazhkan, dan lain-lain.
  • Nash tentang ancaman riba, menjadikan kita berhati-hati dalam muamalah jual beli dan bisnis-bisnis lainnya.
  • Nash tentang ancaman ‘uququl walidain menjadikan kita takut terjatuh ke dalam ucapan dan tingkah laku yang mendatangkan murka orangtua.
  • Nash tentang ancaman tabdzir menjadikan kita takut untuk membelanjakan uang yang didasarkan pada keinginan, bukan kebutuhan.
  • Dan contoh-contoh lainnya yang sangat banyak.

G. Teladan dalam Khouf dan Roja

a. Tiga puluh (30) orang Sahabat Nabi

Mereka sangat mengkhawatirkan sifat nifak hinggap pada diri mereka.

فعن ابن أبي مليكة رضي الله عنه، قال: أدركتُ ثلاثين من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم، كُلُّهم يخافُ النفاق على نفسه، ما منهم أحد يقول: إنه على إيمان جبريل وميكائيل؛ [أخرجه البخاري]

“Dari Ibnu Abi Mulaikah radiallahu anhu, dia mengatakan: ‘Saya mendapati tiga puluh Sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Semuanya mengkhawatirkan nifak pada dirinya. Tidak ada seorangpun di antara mereka yang mengatakan ‘keimanan saya sama seperti keimanan Jibril dan Mikail'” (HR. Bukhari)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: Para Sahabat yang Ibnu Mulaikah berjumpa di antara yang paling agung yaitu ‘Aisyah dan saudarinya Asma’ dan Ummu Salamah, empat Abdullah (Abdullah Ibnu Umar, Abdullah Ibnu Abbas, Abdullah Ibnu Zubair, Abdullah Ibnu Amr bin Ash) dan Abu Hurairah…, sangatlah masyhur bahwa mereka sangat mengkhawatirkan sifat nifak dalam amalan. Karena bisa saja terjadi ketika sedang berbuat amalan lalu muncul sesuatu yang merusak keikhlasan. Sesungguhnya tidak lazim bagi mereka untuk mengkhawatirkan yang demikian. Jadi, ini semata-mata karena tingginya wara’ dan taqwa mereka radiallahu anhum [selesai].

b. Amirul Mu’minin Umar bin Khoththob

Beliau radiallahu anhu sangat mengkhawatirkan sifat nifak pada dirinya. Beliau bertanya kepada Hudzaifah bin al-Yaman, seorang shahabat pemegang rahasia Nabi. Dia saja yang diberitahu Nabi mengenai siapa saja orang munafik.

عن زيد بن وهب قال: مات رجل من المنافقين فلم يصل عليه حذيفة فقال له عمر: من القوم هو؟ قال: نعم، قال: بالله أنا منهم؟ قال: لا ولن أخبر أحدا بعدك.

“Dari Zaid bin Wahab, dia berkata: Ada seseorang dari kalangan orang munafiq meninggal dunia. Hudzaifah tidak menshalatkannya. Maka, Umar bertanya: ‘Apakah dia termasuk dari kaum munafiq?’ Dia menjawab: ‘Iya.’ Lalu Umar bertanya: ‘Demi Allah (tolong jawab), apakah saya termasuk dari mereka?’ Dia menjawab: ‘Tidak, setelah ini saya tidak akan memberitahukan kepada siapapun'”.

Allahu Akbar! Beliau radiallahu anhu seorang ahli Badar, seseorang yang Nabi shalallahu alaihi wasallam menyatakan bahwa sekiranya ada Nabi setelah beliau maka dialah Umar, dan seseorang yang setan lari darinya. Meski demikian, dia sangat mengkhawatirkan kalau dirinya bagian dari orang munafik. Sungguh tawadhu’nya sangatlah tinggi.

Berikut ini masih tentang Umar bin Khoththob radiallahu anhu,

عن زيد بن أسلم عن أبيه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يسيرُ في بعض أسفاره وعمر بن الخطاب يسيرُ معه ليلًا، فسأله عمر بن الخطاب عن شيءٍ، فلم يجبه رسول الله صلى الله عليه وسلم، ثم سأله فلم يُجبهُ، ثم سأله فلم يجبه، فقال عمر بن الخطاب: ثكلت أم عمر! نزرت رسول الله صلى الله عليه وسلم ثلاث مرات، كُلُّ ذلك لا يُجيبك، قال عمر: فحركت بعيري، ثم تقدمت أمام الناس، وخشيت أن يُنزل فيَّ قرآن، فما نشبتُ أن سمعتُ صارخًا يصرُخُ بي، فقلتُ: لقد خشيت أن يكون نزل في قرآن، فجئتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم فسلمتُ عليه، فقال: (لقد أُنزلت عليَّ الليلة سورة، لهي أحبُّ إليَّ مما طلعت عليه الشمس)، ثم قرأ: إنا فتحنا لك فتحنًا مُبينًا؛

“Dari Zaid bin Aslam dari ayahnya, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sedang melakukan perjalanan pada salah satu safarnya dan Umar bin Khattab berjalan bersamanya di malam hari. Umar bin Khattab bertanya kepada Rasulullah tentang sesuatu, tetapi Rasulullah tidak menjawabnya. Kemudian Umar bertanya lagi, tapi Rasulullah tetap tidak menjawab. Umar bertanya untuk ketiga kalinya, tapi Rasulullah masih tidak menjawab. Umar bin Khattab berkata, ‘Celakalah ibuku! Aku telah bertanya kepada Rasulullah sebanyak tiga kali, tetapi beliau tidak menjawabku.’ Umar kemudian memacu untanya dan berjalan di depan orang-orang, khawatir Allah akan menurunkan ayat Al-Qur’an terkait dirinya. Tak lama kemudian, Umar mendengar seseorang memanggilnya. Umar khawatir bahwa Allah telah menurunkan ayat Al-Qur’an terkait dirinya, sehingga dia kembali kepada Rasulullah dan memberi salam. Rasulullah kemudian berkata, ‘Telah diturunkan kepadaku malam ini sebuah surat yang lebih aku cintai daripada segala sesuatu yang disinari matahari.’ Kemudian Rasulullah membaca surat Al-Fath (QS. Al-Fath: 1), ‘Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.'”

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahima hullah menjelaskan bahwa Hadits ini menunjukkan beberapa faedah, antara lain:

  • Umar bin Khaththab radiallahu anhu memiliki rasa takut yang kuat kepada Allah dan adzab-Nya.
  • Umar bin Khaththab radiallahu anhu kadang-kadang jatuh sakit ketika mendengar ayat-ayat yang mengandung ancaman, sehingga dia berhati-hati dalam perilakunya.
  • Umar bin Khaththab radiallahu anhu melarikan diri dari hadapan Nabi shalallahu alaihi wasallam karena khawatir Allah ta’ala menurunkan ayat terkait dirinya, menunjukkan kesadarannya akan kebesaran Allah dan tanggung jawabnya sebagai seorang Muslim.

Umar bin Khaththab radiallahu anhu bertanya kepada putrinya, Hafshoh radiallahu anha,

أي حفصة، أتغاضب إحداكنَّ النبي صلى الله عليه وسلم اليوم حتى الليل؟ قالت: نعم، قال: قد خبت وخسرت، أفتأمنين أن يغضب الله لغضب رسوله صلى الله عليه وسلم فتهلكي؟ (رواه البخارى ومسلم)

“‘Hai Hafshoh! Apakah seseorang di antara kalian pernah membuat Nabi shalallahu alaihi wasallam marah seharian hingga malam?’ Hafshoh menjawab: ‘Iya, pernah.’ Umar berkata: ‘Sungguh dia telah rugi! Apakah kalian merasa aman dari murka Allah atas murka Rasul-Nya maka binasalah kalian'” (HR. Bukhari dan Muslim)

Syaikh Utsaimin rahima hullah berkata: Hadits ini menunjukkan betapa Umar radiallahu anhu khouf-nya kepada Allah ta’ala sangatlah kuat. Terlihat dari statement-nya, “Apakah kalian merasa aman dari murka Allah atas murka Rasul-Nya maka binasalah kalian”.

Judul Buku: Mahabbah, Khouf, dan Roja’

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)