A. Penyebutan di dalam Nash
Disebutkan di dalam Al-Qur’an hanya sekali. Yaitu:
ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ (الإخلاص:2)
Adapun di dalam Hadits,
اللهمَّ إنِّي أسألُك بأني أشهدُ أنك أنت اللهُ لا إلهَ إلا أنتَ الأحدُ الصمدُ الذي لم يلدْ ولم يولدْ ولم يكنْ له كفُوًا أحدٌ (أخرجه أبو داود ، والترمذي ، وأحمد عن بريدة بن الحصيب الأسلمي)
B. Makna Ash-Shomad (الصمد) Secara Bahasa
Kata “صمد” berasal dari akar kata ص-م-د yang bermakna menuju, menyengaja, memaksudkan, menyandarkan.
Contoh: تصمد له بالعصا artinya kamu menyandarkan kepadanya dengan tongkat.
Dalam kamus Lisanul Arab, Ash-Shomad (الصمد) artinya tuan yang ditaati dimana urusan tidak bisa selesai kecuali dengannya. Juga berarti seseorang atau sesuatu yang dituju untuk menyampaikan hajat-hajat.
Ibnu Jarir berkata: Ash-Shomad (الصمد) dalam pengertian Arab adalah tuan yang dituju karena tiada seorangpun yang di atasnya. Dia juga dinamai orang yang paling mulia.
C. Makna Ash-Shomad (الصمد) Sebagai Nama Allah
Az-Zajaj berkata: Ash-Shomad (الصمد) artinya Dzat yang disandari dalam seluruh kebutuhan.
Al-Khuthobi berkata: Ash-Shomad (الصمد) artinya Dzat yang disandari dalam semua urusan dan didatangi dalam seluruh hajat dan turunannya.
Ibnul Qoyyim rahima hullah berkata di dalam sya’irnya,
وهو الإله السيد الصمد الذى صمدت إليه الخلق بالإذعان
الكامل الأوصاف من كل الوجوه كماله ما فيه من نقصان
Dia Iah Ilah As-Sayyid Ash-Shomad yang # seluruh makhluk dengan tunduk bersandar kepada-Nya
Dzat yang sempurna Sifat-Nya dari berbagai sisi # kesempurnaan-Nya pada-Nya tidak terdapat kekurangan
Ibnul Qoyyim juga berkata: Ash-Shomad, Dzat yang hati-hati menuju kepada-Nya dengan harap dan cemas. Yang demikian itu karena banyaknya sifat kebaikan pada-Nya dan banyaknya sifat terpuji pada-Nya. Untuk itu Jumhur para Salaf di antaranya Ibnu Abbas radiallahu anhu mengatakan: Ash-Shomad itu Tuan yang sempurna pertuanan-Nya, Dzat Yang Bijaksana yang sempurna kebijaksanaan-Nya, Dzat Yang Maha Rahmat yang sempurna rahmat-Nya, Pemberi anugerah yang sempurna pemberian anugerah-Nya [selesai]
Ibnu Taymiyyah rahima hullah menukil dari sebagian Salaf, ia berkata: Ash-Shamad adalah Dzat yang Maha Kekal, yang tetap ada setelah seluruh makhluk-Nya binasa. Ini memang konsekuensi dari sifat shamadiyyah-Nya. Karena kalau Allah bisa fana’ (binasa), maka sifat shamadiyyah-Nya tidak akan menjadi sifat yang melekat pada-Nya. Bahkan sifat Shamadiyyah itu hilang dari-Nya, sehingga Dia tidak lagi menjadi Ash-Shamad. Jadi, sifat Shamadiyyah tidak akan hilang dari-Nya kecuali kalau Dia bersifat fana’ (binasa). Dan itu mustahil bagi Allah [selesai].
Jika ada orang menjadi tumpuan dan sandaran banyak orang dalam berbagai kebutuhannya, maka dia juga bersifat shamadiyyah (yang disandari) tetapi tentunya tidak mutlak melainkan penuh keterbatasan baik secara kadar, waktu, jangkauan, dan lainnya. Maka, hanya Allah lah satu-satunya yang bersifat shamadiyyah secara mutlak. Jadi, Dia lah satu-satunya Tuhan.
D. Tadabbur
1. Dengan memahami makna Ash-Shomad (الصمد) bahwa tidaklah suatu hajat apapun melainkan Dia lah satu-satunya Dzat yang seluruh makhluk bersandar kepada-Nya, maka hal ini menjadikan kita semakin mencintai-Nya. Dia ta’ala berfirman,
مَّا يَفْتَحِ ٱللَّهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُۥ مِنۢ بَعْدِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ (فاطر:2)
“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Fathir: 2)
2. Konsekwensi dari cinta yang semakin meningkat adalah peribadahan hanya kepada Dia ta’ala semata dengan kadar kwantitas dan kwalitas yang meningkat pula.
3. Senantiasa mengagungkan dan memuji Allah ta’ala dengan banyak berdzikir dan berbuat penghambaan sebaik-baiknya.
4. Berdoa kepada-Nya dengan ber-tawassul menggunakan nama ini, yaitu Ash-Shomad (الصمد) yang mengandung makna keindahan, kesempurnaan dan keagungan. Nabi shalallahu alaihi wasallam ber-tawassul dengan Nama tersebut sebagaiamana sudah disebutkan di atas,
اللهمَّ إنِّي أسألُك بأني أشهدُ أنك أنت اللهُ لا إلهَ إلا أنتَ الأحدُ الصمدُ الذي لم يلدْ ولم يولدْ ولم يكنْ له كفُوًا أحدٌ (أخرجه أبو داود ، والترمذي ، وأحمد عن بريدة بن الحصيب الأسلمي)
“Ya Allah! Sesungguhnya saya memohon kepada-Mu, saya bersaksi sungguh Engkau Allah tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau Al-Ahad Ash-Shomad yang tidak melahirkan, tidak dilahirkan, dan tidak ada siapapun yang menyerupai-Nya.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan Ahmad dari Buraidah bin Hushaib Al-Aslamy)
Judul Buku: Memahami Al-Asma’ul Husna Jilid 13
Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)
