A. Penyebutan di dalam Nash
Ia disebutkan di dalam Al-Qur’an sebanyak dua kali.
قَالُوٓا۟ أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ ۖ رَحْمَتُ ٱللَّهِ وَبَرَكَٰتُهُۥ عَلَيْكُمْ أَهْلَ ٱلْبَيْتِ ۚ إِنَّهُۥ حَمِيدٌ مَّجِيدٌ (هود:73)
وَهُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلْوَدُودُ () ذُو ٱلْعَرْشِ ٱلْمَجِيدُ (البروج: 14-15)
B. Makna Al-Majiid (ٱلْمَجِيدُ) Secara Bahasa
Az-Zajaj berkata: Al-Majiid (ٱلْمَجِيدُ) mashdar-nya majd (مجد) artinya: banyak, luas, lapang. Penggunaan kata ini dalam ungkapan bahasa mereka (orang Arab, Pent) misalnya pada kalimat:
أمجدت الدابة إذا أكثرت علفها
“Hewan itu menjadi gemuk jika diberi banyak makanan”
Jadi, isim fa’il– nya maajid (ماجد) atau majiid (مجيد) bermakna banyak kemuliannya.
Ar-Roghib berkata: majd (مجد) artinya kesediaan memberi dengan luas dan kemuliaan.
C. Makna Al-Majiid (ٱلْمَجِيدُ) Sebagai Nama Allah
Allah Al-Majiid (ٱلْمَجِيدُ) artinya Yang Agung dengan perbuatan-Nya maka seluruh makhluk mengagungan-Nya karena keagungan-Nya.
Al-Khuthobi rahima hullah mengatakan Al-Majiid (ٱلْمَجِيدُ) maksudnya Yang Maha Luas dalam memberi.
Ibnul-Qoyyim rahima hullah berkata: Allah Al-Majiid (ٱلْمَجِيدُ) artinya mencakup banyak dan luasnya sifat kemuliaan-. Juga banyak dan luasnya pebuatan kesempurnaan yang langgeng di mana makhluk tidak bisa menghitungnya. Orang yang tidak terdapat pada dirinya sifat-sifat kesempuranaan dan perbutatan-perbuatan terpuji maka sedikitpun tidak bisa disebut Al-Majiid (ٱلْمَجِيدُ). Jadi, seseorang bisa disebut Al-Majiid (ٱلْمَجِيدُ) dengan sifat-sifat dan pebuatan yang sangat baik dan terpuji, lalu bagaimana dengan Allah Tuhan semesta alam? Maha Suci Allah dari ucapan mu’aththilun (orang yang meniadakan nama dan sifat bagi Allah). Bahkan Dia Al-Majiid (ٱلْمَجِيدُ) terhadap apapun yang Dia kehendaki. Al-Majd (ٱلْمَجِد) dalam Bahasa Arab artinya banyaknya sifat-sifat kesempurnaan dan banyaknya perbuatan-perbuatan baik” [selesai]
D. Tadabbur
1. Semakin meningkatnya rasa cinta kepada Allah ta’ala, Dzat Yang Maha Luas pemberian, karunia dan rahmat-Nya terhadap makhluk-Nya yang berkonsekwensi peribadahan hanya kepada-Nya semata tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun. Senantiasa bergantung hanya kepada-Nya. Memohon hanya kepada-Nya untuk pemenuhan hajat, hanya kepada-Nya penguraian keruwetan. Pada saat yang sama meninggalkan seluruh bentuk ketergantungan kepada selain Allah ta’ala, karena mereka semua lemah dan butuh kepada Allah ta’ala.
2. Senantiasa mengagungkan-Nya, banyak berdzikir dengan tahlil, tahmid, tashbih, takbir, dan lain-lain serta banyak menyebut Al-Asma’ul Husna dan sifat-sifat-Nya.
3. Meningkatkan taqorrub kepada-Nya dengan berbagai bentuk ketaatan, senantiasa mencari keridhoan-Nya, menjauhi bentuk-bentuk kemaksiatan dan perkara-perkara yang mendatangkan murka-Nya. Inilah hakekat taqwa yang di dalamnya terdapat kemuliaan, keagungan dan derajat tinggi bagi hamba di dunia dan Akherat.
E. Di antara doa dengan menyebut Nama Allah Al-Majiid (ٱلْمَجِيدُ)
a. Disebutkan di dalam Hadits,
يا رسولَ اللَّهِ ! كيفَ نصلَّي عليْكَ ؟ فقالَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليْهِ وسلَّمَ : قولوا : اللَّهمَّ صلِّ على محمَّدٍ وأزواجهِ وذريتِهِ كما صلَّيتَ علي آلِ إبراهيمَ وبارِك على محمَّدٍ وأزواجهِ وذريتهِ كما بارَكتَ على آلِ إبراهيمَ ، إنَّكَ حميدٌ مجيدٌ (رواه أبوداود والنسائى وابن ماجه عن أبى حميد الساعدى)
b. Diperbolehkan juga redaksi dari diri Anda, contoh:
أسألك اللهم باسمك المجيد أن تعطيَنا ولا تحرمنا، وتزيدنا ولا تنقصنا، وتعزنا ولا تذلنا، ونحو ذلك مما يناسب مجده وعظمته سبحانه.
Judul Buku: Memahami Al-Asma’ul Husna Jilid 13
Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)
