Search
Friday 24 November 2017
  • :
  • :

MENGGANTUNG PADA ‘ARSY

Saya punya Budhe. Beliau kakak Emak saya, namanya Ketun. Emak sering bercerita tentang beliau. Saya sendiri tidak pernah melihatnya dan keluarganya kecuali hanya sekali ketika saya bersekolah kelas kelas satu MI (Madrasah Ibtidaiyyah). Beliau merantau Ke Jakarta dan hidup di sana bersama keluarganya dan tidak pernah kembali ke kampung halaman, Tegal Jawa Tengah.
Tahun 2000, berusia 24 tahun, seusai lulus dan pengabdian dari pesantren saya merantau ke Jakarta mencari pekerjaan. Sembari mencari pekerjaan, bermodalkan alamat Budhe yang konon telah berpindah dari Jakarta ke Depok, saya sekuat tenaga berusaha mencari beliau. Sunggguh sangat susah mencarinya. Karena alamat yang diberikan kepada saya hanya tertulis nama kelurahan dan kota (Citayem-Depok) tidak ada nomor RT dan RW. Citayam sendiri sebuah kelurahan yang sangat luas. Rasanya mustahil untuk bisa mendapatkannya.
Semangat silaturrahim yang membara terlebih telah mengetahui fadhilahnya menjadikan saya tidak putus untuk terus mencari. Saya mengelilingi wilayah Citayam, bulusukan masuk dan keluar gang. “Maaf, apakah di sini ada orang aslinya Tegal?” , kalimat tanya andalan setiap kali bertemu orang. Lama mencari, tapi tak kunjung ada hasil.
Subhanallah, di luar dugaan. Tiba saatnya pertolongan Allah datang. Di suatu gang, tampak seorang pemuda sebaya saya. Saya menghampiri, “Maaf, di sini ada orang aslinya Tegal?”. Dia langsung menjawab, “Iya Mama saya aslinya Tegal”. “Maaf, barangkali Abang tahu ada orang namanya Bu Ketun?” Dengan wajah kaget dia langsung menjawab, “Itu Mama saya dan saya Nardi”. Lho….MasyaAllah, saya Yasin”. Kami spontan langsung berpelukan. Karena kami sudah saling mengenal nama dan baru sekali bertemu enambelas tahun yang lalu ”. Sejak itulah keluarga saya dan Budhe tersambung kembali setelah sekian lama tidak pernah bertemu.
Betapa indahnya silaturrahim. Tapi kok judulnya MENGGANTUNG PADA ‘ARSY. Apa hubungannya? Penasaran? Yuk baca pada rubrik bahasan utama.