Solusi Investasi Akhirat Anda

ZIARAH VS ZIARAH

A. Tentang Ziarah Kubur

Zirarah kubur sangatlah penting sekali, karena bisa mengingatkan kita kepada Akherat. Semakin kita mengingat kematian, maka semakin kita berhati-hati menjalani kehidupan. Oleh karena itu berziarah kuburlah! Disebutkan dalam Hadits,

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ » كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُزَهِّدُ فِى الدُّنْيَا وَتُذَكِّرُ الآخِرَةَ » (رواه ابن ماجه)

 “Dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dahulu saya melarang ziarah kubur, sekarang ziarah kubur lah kalian karena sesungguhnya ia menjadikan Anda zuhud dari dunia dan mengingatkan Anda kepada Akhirat” (HR. Ibnu Majah)

Ada dua macam orang yang ekstrim. Yang pertama: tidak memperhatikan ziarah kubur sehingga terkesan mengabaikannya, dan yang kedua: memperhatikan ziarah kubur tapi berlebih-lebihan. Orang yang pertama merasa cukup mendoakan mayat dari rumah atau dari tempat mana saja, “ngapain” mesti datang ke kuburan. Orang yang kedua datang ke kuburan tapi “kelewatan”. Ia menjadikan kuburan sebagai ‘’id” (mengharuskan mendatanginya pada moment-moment tertentu) dan dengan tata cara yang dibikin-bikin sendiri bahkan sampai ada yang mengagungkannya (baca: berbuat kesyirikan).

Dua macam orang di atas tidaklah baik. Yang baik adalah yang pertengahan, yaitu ziarah kubur sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana sih yang sesuai tuntunan Nabi? Perhatikanlah poin-poin berikut ini:

1. Memasuki area pemakaman dengan melepas sandal atau alas kaki. Disebutkan dalam Hadits,

عَنْ بَشِيرِ ابْنِ الْخَصَاصِيَةِ بَشِيرِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- رَأَى رَجُلاً يَمْشِى فِى نَعْلَيْنِ بَيْنَ الْقُبُورِ فَقَالَ » يَا صَاحِبَ السِّبْتِيَّتَيْنِ أَلْقِهِمَا (رواه أحمد)

“Dari Basyir bin Al- Khoshoshiyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang lelaki berjalan di antara kuburan dengan memakai sandal kulit. Maka, Nabi bersabda: Wahai pemilik sandal, lepaslah” (HR. Ahmad)

2. Mengucapkan salam. Sebagaimana disebutkan di dalam Hadits,

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُعَلِّمُهُمْ إِذَا خَرَجُوا إِلَى الْمَقَابِرِ فَكَانَ قَائِلُهُمْ يَقُولُ – فِى رِوَايَةِ أَبِى بَكْرٍ – السَّلاَمُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ – وَفِى رِوَايَةِ زُهَيْرٍ – السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَلاَحِقُونَ أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ (رواه مسلم)

“Dari Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari mereka apabila keluar menuju kuburan untuk membaca – dalam riwayat Abu Bakar- 

 السَّلاَمُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَلاَحِقُونَ أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

Dan dalam riwayat Zuhair-

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَلاَحِقُونَ أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

“Semoga keselamatan tercurahkan bagi kalian wahai ahli kubur dari kalangan mukmin dan muslim. InsyaAllah kami akan menyusul. Saya memohon kepada Allah ampunan untuk kami dan untuk kalian” (HR. Muslim)

3. Mendoakan para ahli kubur dengan doa-doa yang kandungannya adalah memohonkan ampunan, keselamatan dari adzab kubur dan Neraka, dilapangkan tempatnya, dibersihkan dosa-dosanya, diangkat derajatnya dan lain-lain. Sangatlah baik jika menggunakan lafadz-lafadz doa yang telah Nabi ajarkan, di antaranya:

عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ سَمِعَهُ يَقُولُ سَمِعْتُ عَوْفَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى جَنَازَةٍ فَحَفِظْتُ مِنْ دُعَائِهِ وَهُوَ يَقُولُ » اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ(رواه مسلم)

عن أبي هريرة : أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان إذا صلى على جنازة قال : اللهم اغفر لحينا و ميتنا و شاهدنا و غائبنا و صغيرنا و كبيرنا و ذكرنا و أنثانا اللهم من أحييته منا فأحيه على الإسلام و من توفيته فتوفه على الإيمان (المستدرك على الصحيحين للحاكم)

4. Tidak menjadikannya sebagai tempat ibadah seperti; membaca Al-Qur’an, shalat, dzikir-dzikir, I’tikaf dan lainnya. Karena adanya larangan Nabi untuk menjadikannya kuburan sebagai tempat ibadah. Disebutkan di dalam riwayat,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ النَّجْرَانِىِّ قَالَ حَدَّثَنِى جُنْدَبٌ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِخَمْسٍ وَهُوَ يَقُولُ ………. أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّى أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ (رواه مسلم)

“Dari Abdullah bin Al-Harits An-Najrani, dia berkata: Jundub memberitahuku: Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, lima hari sebelum wafatnya: …..Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menjadikan kuburan-kuburan Nabi dan orang shalehnya sebagi masjid, ketahuilah janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid. Sesungguhnya saya melarang yang demikian itu(HR. Muslim)

Yang dimaksud menjadikan kuburan sebagai masjid ada 2 hal:

  1. Membangun masjid di atas kuburan
  2. Menjadikannya sebagai tempat ibadah
Jadi, intinya adalah bahwa tidak ada apapun yang dilakukan seseorang ketika ziarah kubur kecuali sebatas mendoakan

B. Tentang ziarah ahli khair

Selain ziarah kubur, syariat juga memperhatikan ziarah kepada siapa saja kaum muslimin yang masih hidup baik ada ikatan nasab ataupun tidak. Kalau ada ikatan nasab namanya silaturrahim. Kalau tidak ada ikatan nasab namanya ziarah. Karena ziarah bisa menguatkan ukhuwwah Islamiyyah yang kita sangat diperintahkan untuk memperkokohnya sehingga tidak ada perpecahan dan perselisihan. Ziarah lah faktor ukhuwwah Islamiyyah yang sangat besar dan memiliki keutamaan yang sangat mulia. Disebutkan dalam sebuah riwayat,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- « أَنَّ رَجُلاً زَارَ أَخًا لَهُ فِى قَرْيَةٍ أُخْرَى فَأَرْصَدَ اللَّهُ لَهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ قَالَ أَيْنَ تُرِيدُ قَالَ أُرِيدُ أَخًا لِى فِى هَذِهِ الْقَرْيَةِ. قَالَ هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا قَالَ لاَ غَيْرَ أَنِّى أَحْبَبْتُهُ فِى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ. قَالَ فَإِنِّى رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكَ بِأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ »  (رواه مسلم)

“Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ada seseorang yang mengunjungi saudaranya (baca: temannya)  di kampung yang lain. Allah mengutus Malaikat di jalannya. Ketika orang itu melewatinya, dia (Malaikat) bertanya kepadanya: “Kamu hendak ke mana? Dia menjawab: Hendak ke saudaraku (baca: teman) di kampung ini. Malaikat bertanya: “Adakah suatu nikmat yang kamu dapatkan darinya?”. Dia menjawab: Tidak, tetapi aku (melakukannya) semata-mata karena saya mencintainya karena Allah ‘Azza wa Jalla. Dia (Malaikat) berkata: Sesungguhnya aku ini utusan Allah kepadamu (untuk menyampaikan) bahwa sesungguhnya Allah mencintaimu sebagaimana kamu mencintainya karena-Nya.” (HR. Muslim)

MasyaAllah, dalam Hadits ini seseorang berziarah ke kawannya karena Allah, maka fadhilahnya luar biasa. Dia  dicintai oleh Allah sebagaimana dia mencintai saudaranya

Tidak terlewatkan fadhilah yang besar juga, jika kita berziarah kepada teman yang sakit. Disebutkan dalam sebuah iriwayat:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- » مَنْ عَادَ مَرِيضًا أَوْ زَارَ أَخًا لَهُ فِى اللَّهِ نَادَاهُ مُنَادٍ أَنْ طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ وَتَبَوَّأْتَ مِنَ الْجَنَّةِ مَنْزِلاً » (رواه الترمذى)

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa mengunjungi orang sakit atau menziarahi saudaranya (baca: teman) karena Allah, maka ada penyeru yang menyerunya, Bagus kamu, perjalananmu bagus, dan kamu telah disediakan tempat di Surga)” (HR. At-Tirmidzi)

Lihatlah, pujian untuk orang yang berziarah kepada kawannya dan dijanjikannya dengan Surga. Ini menunjukkan keutamaan yang tinggi untuk orang yang menziarahi kawannya

Ketahuilah ziarah kepada kaum muslimin secara umum adalah diperintahkan, maka tentu terhadap ahli khair lebih ditekankan lagi. Yang dimaksud ahli khair adalah pemilik keutamaan. Terlebih keutamaan tersebut terkait erat dengan kemasalahatan ubudiyah ummat. Merekalah para ahli ilmu dan ahli ibadah. Oleh karena itu Abu Bakar mengajak Umar bin Khothob untuk berziarah kepada Ummu Aiman karena dialah wanita yang Nabi pernah menziarahinya. Disebutkan dalam sebuah riwayat,

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رضى الله عنه بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لِعُمَرَ انْطَلِقْ بِنَا إِلَى أُمِّ أَيْمَنَ نَزُورُهَا كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَزُورُهَا. فَلَمَّا انْتَهَيْنَا إِلَيْهَا بَكَتْ فَقَالاَ لَهَا مَا يُبْكِيكِ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ -صلى الله عليه وسلم-. فَقَالَتْ مَا أَبْكِى أَنْ لاَ أَكُونَ أَعْلَمُ أَنَّ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ -صلى الله عليه وسلم- وَلَكِنْ أَبْكِى أَنَّ الْوَحْىَ قَدِ انْقَطَعَ مِنَ السَّمَاءِ. فَهَيَّجَتْهُمَا عَلَى الْبُكَاءِ فَجَعَلاَ يَبْكِيَانِ مَعَهَا (رواه مسلم)

“Dari Anas, dia berkata: Setelah Nabi wafat, Abu Bakar berkata kepada Umar: Mari kita pergi berziarah kepada Ummu Aiman sebagaimana dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berziarah kepadanya. Ketika kami sudah sampai, menangislah Ummu Aiman. Keduanya bertanya: Apa yang menyebabkan kamu menangis, bukankah yang di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya. Dia menjawab: Saya tidaklah menangisi karena tidak tahu bahwa apa yang di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya, tetapi saya menangis karena wahyu telah terputus dari langit. Jawabannya ini mendorong keduanya untuk menangis. Maka, keduanya pun menangis bersamanya (Ummu Aiman)” (HR. Muslim)

MasyaAllah…pengaruh Ahlul khair benar-benar menyentuh kuat kepada keimanan seseorang

Karena tingginya keutamaan ini, maka Nabi Musa ‘alaihissalam berjuang sekuat tenaga untuk bisa berziarah kepada Hidir (seorang pemilik keutamaan) meskipun perjalanan untuk bisa bertemu dengannya harus memakan waktu bertahun-tahun. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا (الكهف: 60)

“Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada pembantunya: “Aku tidak akan berhenti berjalan sebelum ke pertemuan dua laut atau aku akan berjalan ( terus sampai) bertahun-tahun” (QS. Al-Kahfi:60)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan pengaruh ahlul khair kepada orang lain sebagaimana riwayat berikut ini,

عَنْ أَبِى مُوسَى – رضى الله عنه – عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ » مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً » (رواه البخارى ومسلم)

“Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: Perumpamaan teman yang sholeh dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pande besi. Adapun penjual minyak wangi bisa saja dia memberi kamu (minyak) atau kamu membeli darinya, atau kamu mendapati darinya aroma yang sedap. Sementara pande besi, Bisa jadi (proses pekerjaannya) akan membakar baju kamu atau bisa jadi kamu mendapati aroma yang tidak sedap” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berharap dikunjungi ahli khair….

Sebagaimana kita semangat untuk berziarah kepada ahlul khair, maka kita juga harus banyak berharap agar rumah kita diziarahi oleh mereka. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berharap agar Jibril sesering mungkin berziarah kepadanya,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – لِجِبْرِيلَ » مَا يَمْنَعُكَ أَنْ تَزُورَنَا أَكْثَرَ مِمَّا تَزُورُنَا فَنَزَلَتْ ( وَمَا نَتَنَزَّلُ إِلاَّ بِأَمْرِ رَبِّكَ لَهُ مَا بَيْنَ أَيْدِينَا وَمَا خَلْفَنَا ) (رواه البخارى)

“Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Jibril, ‘Apa yang menghalangi Anda untuk sesering mungkin menziarahi kami?’, maka turuanlah ayat (yang artinya) ‘ Tidaklah kami turun kecuali dengan perintah Tuhanmu, milik-Nya apa yang ada di depan kita dan apa yang ada  di belakang kita’ “ (HR. Bukhari)

Ketika ahlul khair datang berziarah ke rumah kita, lalu kita berupaya menyambut sebaik-baiknya; menyediakan berbagai hal sebagai ikram dhuyuf (memuliakan tamu ), dan tidak ketinggalan menghidangkan makanan yang kita punya maka ketahuilah itulah sebaiik-baiknya makanan. Disebutkan dalam sebuah riwayat,

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ » لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا وَلاَ يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلاَّ تَقِىٌّ » (رواه أبو داود)

“Dari Abu Sa’id, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: Janganlah Anda berteman kecuali dengan orang mukmin, dan hendaklah tidak memakan makanan Anda kecuali orang takwa” (HR. Abu Daud)

MayaAllah, bersyukurlah Anda yang rumahnya sering diziarahi orang shaleh lalu Anda mengupayakan untuk menjamunya.

Di akhir tulisan ini, saya ajak khususnya saya sendiri dan umumnya untuk seluruh kaum muslimin agar tidak saja semangat ziarah kubur tetapi juga semangat ziarah teman-teman terlebih ahli khair. Barakallahu fikum

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafizhahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa THAYBAH Surabaya)

Majalah Bulan Desember, 2017