c. Bersikap hangat kepada siapapun
Coba Anda perhatikan ketika ada seseorang saat bergaul dengan orang lain begitu hangat. Giliran dengan Anda bersikap dingin. Apa yang Anda rasakan? Tentu tidak nyaman. Demikian juga saudara kita. Untuk itu, berupayalah bergaul secara hangat dengan siapapun. Jangan pilih-pilih teman selama mereka muslim ahli kebaikan. Nabi shallahu’alaihi wasallam adalah teladan, beliau selalu hangat dengan siapapun. Disebutkan di dalam beberapa riwayat,
ما رأيتُ أحدًا أكثرَ تبسُّمًا من رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم (رواه الترمذى وأحمد عن عبدالله بن الحارث)
“Saya tidak melihat seorangpun yang lebih banyak senyumnya melebihi Rasulullah shallahu’alaihi wasallam” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad dari Abdullah bin al-Harits)
ما حَجبَني رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ منذُ أسلمتُ ، ولا رآني إلَّا تبسَّمَ (رواه الترمذى عن جرير بن عبدالله)
“Rasulullah shallahu’alaihi wasallam tidak pernah menutup diri dariku sejak saya masuk Islam. Dan, tidaklah beliau melihatku melainkan pasti tersenyum” (HR. At-Tirmidzi dari Jarir bin Abdullah)
كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم دائِمَ البِشْرِ، سَهْلَ الخَلْقِ، لَيِّنَ الجانِبِ، ليس بفَظٍّ، ولا غَليظٍ (مجموع الزوائد عن علي بن أبي طالب وهند بن أبي هالة التميمي)
“Rasulullah shallahu’alaihi wasallam senantiasa hangat, berperangai mudah, lembut, tidak keras dan tidak kasar” (Majmu’ az-Zawaid dari Ali bin Abi Tholib dan Hindun bin Abu Halah at-Taimy)
Berikut ini Hadits yang bisa memotivasi kita untuk mengupayakan agar bisa bersikap hangat dengan siapapun, bahwa ia merupakan penghalang kita dari Neraka,
حَرُم على النارِ كلُّ هيِّنٍ لينٍ سهلٍ قريبٍ من الناسِ
(رواه الترمذى وابن حبان والطبرانى عن عبد الله بن مسعود)
“Diharamkan dari Neraka setiap hayyin, layyin, sahl, dan qorib kepada manusia” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan ath-Thobroni dari Abdullah bin Mas’ud)
Hayyin, tenang tidak “gusa-grusu” yang menyebabkan kegaduhan dan kegundahan.
Layyin, berlembah-lembut dalam bergaul di tengah-tengah manusia
Sahl, berperangai mudah alias “gampangan” alias tidak ruwet tidak “mbulet”.
Qorib, dekat dengan siapapun tidak bersikap hangat dengan sebagian saja tetapi dingin kepada yang lainnya
d. Detail dalam perangai yang baik (akhlak)
Di antara perkara yang tidak kalah penting untuk mengokohkan ukhuwwah isalmiyyah adalah detail dalam perangai yang baik. Artinya setiap muslim mengupayakan untuk berhias dengan akhlak mulia dari keseluruhan aspeknya, yaitu:
- kaffu-l-adza (menahan diri dari menyakiti orang lain), baik terkait harta, kehormatan, atau kedudukan atau apapun.
- badzlu-n-Nada (mengerahkan potensi atau suatu kelebihan yang dimiliki untuk kemaslahatan orang lain). Misalnya mempersilahkan harta, waktu, skill, tenaga, dan lainnya untuk saudara yang memerlukannya.
- Tholaqatu-l-wajh (murah senyum)
Bentuk-bentuk akhlak mulia sebagiannya sudah Allah ta’ala anugerahkan kepada kita. Sebagiannya lagi belum Allah ta’ala anugerahkan kepada kita. Jadi, kita sendiri yang harus mengupayakannya. Kita harus menumbuhkannya pada diri kita, lalu menumbuhkannya dan mengokohkannya sehingga benar-benar kita berperangai dengannya. Disebutkan di dalam Hadits,
قال صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ لِأَشَجِّ عبدِ القيسِ: (إنَّ فيك خُلَّتَينِ يُحِبُّهما اللهُ: الحِلْمَ والأَناةَ)، فقال: أخُلُقَينِ تَخلَّقتُ بهِما؟ أم خُلُقينِ جُبِلتُ علَيهِما؟ فقال: (بل خُلقَينِ جُبِلتَ عليهما) فقال: الحمدُ للهِ الَّذي جبَلَني على خُلقَينِ يُحِبُّهما اللهُ [ورسولُه]. (رواه أبو داود)
“Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda kepada Asyaj Abdul Qoiys, Sesungguhnya pada dirimu ada dua perangai yang Allah ta’ala mencintai keduanya, yaitu: sabar dan pembawaan yang tenang. Dia bertanya: Apakah kedua perangai tersebut saya yang mengupayakannya ataukah saya ditabiatkan dengan keduanya? Beliau menjawab: Kamu ditabiatkan dengan kedua perangai tersebut. Lalu dia berkata; Segala puji bagi Allah yang telah mentabiatkanku dengan kedua perangai yang dicintai Allah ta’ala dan (Rasul-Nya)” (HR. Abu Daud)
Syaikh Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa Hadits di atas menunjukkan adakalanya akhlak tertentu sudah Allah ta’ala tabiatkan pada seseorang dan adakalanya belum ditabiatkan sehingga dia yang harus mengupayakannya.
Masing-masing orang tidak sama akhlak mana saja yang telah ditabiatkan pada dirinya dan mana saja yang belum. Setiap orang harus memperhatikan dirinya lalu menginventarisir di antara bentuk-bentuk akhlak. Inilah yang dimaksud detail dalam perangai yang baik, dimana dampaknya sangatlah besar pada ukhuwwah islamiyyah.
e. Merasa kehilangan ketika raib
Nabi shallahu’alaihi wasallam adalah sosok yang sangat perhatian kepada muslim di sekitarnya. Ketika seseorang tidak terlihat maka beliau merasa kehilangan dan langsung menanyakan ihwalnya. Disebutkan di dalam Hadits,
- Menanyakan kabar Tsabit bin Qois radhiallahu’anhu,
أنَّ النَّبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ افْتَقَدَ ثَابِتَ بنَ قَيْسٍ، فَقالَ رَجُلٌ: يا رَسولَ اللَّهِ، أَنَا أَعْلَمُ لكَ عِلْمَهُ، فأتَاهُ فَوَجَدَهُ جَالِسًا في بَيْتِهِ مُنَكِّسًا رَأْسَهُ، فَقالَ: ما شَأْنُكَ؟ فَقالَ: شَرٌّ؛ كانَ يَرْفَعُ صَوْتَهُ فَوْقَ صَوْتِ النَّبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ، وهو مِن أَهْلِ النَّارِ، فأتَى الرَّجُلُ فأخْبَرَهُ أنَّهُ قالَ كَذَا وكَذَا. [وفي رِوايةٍ:] فَرَجَعَ المَرَّةَ الآخِرَةَ ببِشَارَةٍ عَظِيمَةٍ، فَقالَ: اذْهَبْ إلَيْهِ، فَقُلْ له: إنَّكَ لَسْتَ مِن أَهْلِ النَّارِ، ولَكِنْ مِن أَهْلِ الجَنَّةِ (رواه مسلم عن أنس بن مالك)
“Nabi shallahu’alaihi wasallam kehilangan Tsabit bin Qais. Seseorang berkata: Ya Rasulullah, “Wahai Rasulullah, akan kuberitahukan keberadaannya kepada Panjenengan.” Maka laki-laki ini menemui Tsabit yang sedang duduk di rumahnya sambil menundukkan kepalanya. Laki-laki itu bertanya: “Ada apa denganmu?” Tsabit menjawab: “Buruk”. Tsabit adalah seseorang yang volume suaranya melebihi suara Nabi shallahu’alaihi wasallam. (Tsabit merasa) telah terhapus seluruh amalnya dan termasuk dari penghuni Neraka. Laki-laki itu pun menemui Beliau lalu mengabarkan bahwa Tsabit berkata begini begini. Disebutkan di dalam riwayat yang lain: Kemudian laki-laki itu kembali (menemui Beliau) untuk kali terakhir dengan membawa kabar gembira yang agung. Beliau shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Temuilah Tsabit dan katakan kepadanya bahwa dia bukan termasuk penghuni Neraka melainkan sebagai penghuni Surga.”
- Menanyakan kabar kaum Anshor dan mengunjungi seorang Ibu yang putranya wafat
كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يَتَعَهَّدُ الأنصارَ، ويَعُودُهم، ويَسْأَلُ عنهم، فبَلَغَهُ عنِ امرأةٍ من الأنصارِ مات ابنُها وليس لها غيرُه، وأنها جَزَعَتْ عليه جَزَعًا شديدًا، فأتاها النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ومعه أصحابُه، فلما بَلَغَ بابَ المرأةِ، قيل للمرأةِ : إنَّ نبيَّ اللهِ يريدُ أن يدخلَ، يُعَزِّيهَا، فدخل رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فقال : أَمَا إنه بَلَغَنِي أنك جَزَعْتِ على ابْنِكِ، فأمرها بتَقْوَى اللهِ وبالصبرِ، فقالت يا رسولَ اللهِ مالِيَ لا أَجْزَعُ وإني امرأةٌ رَقُوبٌ لا أَلِدُ، ولم يَكُنْ لِي غيرُه ؟ فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : الرَّقُوبُ : الذي يَبْقَى وَلَدُها، ثم قال : ما مِنِ امْرِىءٍ أو امرأةٍ مسلمةٍ يموتُ لها ثلاثةُ أولادِ يَحْتَسِبُهُم إلا أَدْخَلَهُ اللهُ بهِمُ الجنةَ، فقال عُمَرُ وهو عن يمينِ النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : بأبي أنت وأمي واثْنَيْنِ ؟ قال : واثْنَيْنِ. (رواه البزار والحاكم عَنْ بُرَيْدَةَ بْنِ الحَصِيبِ الأَسْلَمِيِّ)
Rasulullah shallahu’alaihi wasallam biasa mengunjungi kaum Ansar dan menanyakan keadaan mereka. Suatu ketika, beliau mendengar tentang seorang wanita dari kaum Ansar yang putranya meninggal dunia, padahal ia tidak mempunyai siapa-siapa lagi, ia sangat berduka atas putranya itu. Nabi shallahu’alaihi wasallam datang menemuinya bersama para Sahabatnya. Ketika sampai di depan pintu rumah wanita itu, dikatakan kepadanya: Rasulullah ingin masuk dan menyampaikan bela sungkawa. Rasulullah shallahu’alaihi wasallam masuk dan berkata: Aku mendengar kamu sedang berduka atas putramu. Dia memerintahkannya untuk takut kepada Tuhan dan bersabar. Ia berkata: Wahai Rasulullah , bagaimana aku tidak bersedih hati, sementatara aku seorang wanita yang taat, tidak mampu melahirkan anak lagi, dan tidak memiliki siapa-siapa lagi ? Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda : Yang menjadi wali adalah orang yang anaknya masih hidup.” Kemudian beliau bersabda: “Tidaklah seorang muslim laki-laki maupun perempuan yang ditinggal mati tiga orang anaknya, kemudian ia bersabar atas mereka, kecuali Allah c akan memasukkannya ke dalam Surga karena ketiga anaknya itu. Umar yang berada di sebelah kanan Nabi shallahu’alaihi wasallam berkata, ayah dan ibuku menjadi tebusan untukmu, dan kalau dua orang bagaimana? Beliau bersabda: Dan dua”. (HR. Bazzar dan Hakim dari Buraidah bin al-Khoshib al-Aslamiy)
Judul buku : UKHUWWAH ISLAMIYYAH
Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

