Solusi Investasi Akhirat Anda

Ternyata Akhirat Tidak Jauh

Berapa lama Anda menempuh perjalanan dari Ma’had Ali bin Abi Tholib Sidotopo ke Masjid Nidaul Fithrah Sidoarjo? Dari Pesantren al-Furqon Sedayu ke Pesma Thaybah Sukolilo? Cukupkah 40 menit? Tentu tidak cukup. Ketahuilah perjalanan menuju akherat hanya butuh waktu kurang dari 40 menit. Anda ingin bukti? Silahkan tahan nafas Anda selama 30 menit, niscaya Anda akan sampai Akherat alias mati. Mati adalah pintu gerbang menuju Akhirat (baca: Hari Kiamat).

Berbicara hari Kiamat tidaklah terlepas dari Kematian. Dalam musnad Imam Ahmad dari riwayat al-Barra bin ‘Azib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya saat seorang hamba mukmin hendak berpisah dengan dunia dan menuju Akhirat, turunlah malaikat-malaikat dari langit dengan wajah putih seperti matahari. Mereka membawa kain kafan…” Di dalam hadits ini nabi menceritakan kondisi orang mukmin ketika mau mati yang disebutkan dengan istilah “Akherat”. Ini menunjukkan bahwa keimanan kepada hari Kiamat tidak lepas dengan keimanan kepada kematian yang di dalamnya terdapat nikmat dan azab kubur. Jelaslah, orang yang menyatakan beriman kepada hari Kiamat tetapi tidak mengimani adanya nikmat dan adzab kubur, maka keimanannya dipertanyakan.

Tentang siksa kubur Allah ‘azza wa jalla berfirman: “Kepada mereka diperlihatkan Neraka, pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat (Lalu kepada para Malaikat diperintahkan), “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam siksa yang sangat keras”. (Qs.Ghofir:46). Nabi bersabda dalam hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah yang kita diperintahkan membacanya setelah tasyahud akhir: “Wahai Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dari fitnah al-Masih adDajjal”

Tentang nikmat kubur, nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di dalam hadits riwayat Imam Ahmad dari al-Barra bin ‘Azib: …Maka ada suara dari langit, ‘Hamba-Ku benar. Hamparkanlah baginya tikar Surga, berilah pakaian untuknya dari pakaian Surga, bukakan baginya pintu Surga’. Kemudian diberikanlah kepada ruh itu wewangian dan hamparan yang sangat luas. ”Rasulullah bersabda lagi, “Datanglah laki-laki berwajah tampan, berpakaian indah, dan wangi harumnya lalu berkata, ‘Aku memberimu kabar gembira yang pernah dijanjikan kepadamu’. Yang meninggal berkata, “Siapa kamu, wajah kamu mendatangkan kebaikan’. Si wajah tampan menjawab, ‘Aku adalah amal shaleh mu’. Kemudian si mati berkata, ‘Wahai Tuhanku, bangkitkanlah Kiamat, sehingga aku kembali kepada keluargaku dan hartaku’.”

Selain harus mengimani adanya nikmat dan siksa kubur, iman kepada hari Akhir mengharuskan kita beriman kepada tiga perkara lainnya yang pokok, yaitu:

  1. Mengimani adanya kebangkitan manusia dari alam barzah. Suatu hari ada seorang santri yang menasehati seorang lelaki paruh baya, “Mbah… eling lah…!! Sampean kue sampun tua, koq durung nyiapna sangu nggo mati… sampean ora tahu shalat, puasa…apa maning ibadah-ibadah liyane…? Lelaki tersebut menjawab, “Memang neng kuburan ana apa? Wong angger wis mati ya wis…dadi lemah sih pan apa maning…?” Seorang mahasiswa bercerita kepada saya bahwa salah seorang dosennya ketika melanjutkan studinya di Australia berkata kepada professornya yang atheis: “Pak, nanti jangan menyesal yah dengan apa yang akan Bapak hadapi di alam kubur?” Dengan enteng professor itu menjawab: “Justru kamu yang jangan menyesal yah…bahwa nanti di alam kubur gak ada apa-apa.” Subhanallah…bener-bener kedua orang ini telah ditutup mata hatinya sehingga tidak mengimani adanya kebangkitan setelah mati. Dikiranya kematian adalah akhir segala-segalanya. Akal siapapun pasti menolak, karena jika kematian adalah akhir segalagalanya berarti tidak ada bedanya menjadi orang baik, dermawan, suka menolong, peduli dhu’afa dengan penjahat, perampok, koruptor, pembunuh dan lain-lain. Allah ‘azza berfirman: “Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian tanpa tujuan dan kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Qs.al-Mukminun: 115). Ingatlah, setiap manusia akan dibangkitkan dalam keadaan telanjang bulat, tanpa alas kaki dan kuncup (tidak berkhitan) kemudian digiring menuju persidangan Allah ‘azza wa jalla.
  2. Mengimani adanya penghitungan amal dan balasannya. Setiap amal manusia besar kecilnya akan dihitung dan ditimbang; manakah yang lebih berat kebaikannya ataukah keburukannya. Kita tidak perlu mempertanyakan amalan kan sesuatu yang abstrak bagaimana bisa ditimbang. Allah Maha Kuasa. BagiNya tidak ada yang mustahil. Apa yang dalam pandangan akal mustahil, bagiNya tidak mustahil. Ingatkah Anda berita dari Nabi bahwa kematian pada hari kiamat akan disembelih. Akal tentu akan memustahilkannya karena ia sesuatu yang abstrak. Tetapi, Allah Maha Kuasa, kematian tersebut diwujudan dalam bentuk domba lalu disembelih… Bisakah Anda mengingat-ingat perbuatan Anda selama satu bulan per detiknya? Tidak usah per detik, per menit? Tidak usah per menit, per jam? Tentu Anda tidak mengingatnya. Namun, Ketahuilah seluruh amalan kita per detikanya sejak baligh sampai mati tercatat dengan sempurna. Allah ‘azza wa jalla berfirman: “Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang tertulis di dalamnya, dan mereka berkata: Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya, dan mereka dapati semua apa yang telah mereka kerjakan tertulis. Dan Tuhanmu tidak mendzalimi siapapun juga” (QS. Al-Kahfi:49)
  3. Mengimani adanya Surga dan Neraka. Yakinlah keduanya sudah ada. Allah ‘azza wa jalla telah menyediakan Surga untuk orang-orang muslim. Neraka untuk orang-orang non muslim dan mereka kekal di dalamnya. Adapun orang muslim yang berdosa dia akan dimasukkan Neraka terlebih dahulu sesuai dengan kadar dosanya. Namun, adakah orang yang kuat menahan pedihnya siksa Neraka yang jika bara apinya diinjak, ubun-ubun akan mendidih sangkin panasnya. Berupayalah secara maksimal untuk masuk Surga langsung, tanpa mampir ke Neraka terlebih dahulu. Di dalamnya terdapat kenikmatan yang belum pernah ada mata melihat, telinga mendengar dan juga belum pernah terbersit oleh hati seseorang. Itu semua karena sangkin indah dan nikmatnya. Apa bila terbersit dalam benak kita suatu keindahan yang luar biasa, maka itu hanyalah sebatas nuansa keindahan dunia. Perbandingan kadar keindahan antara Surga dan dunia adalah seperti jari telunjuk yang dimasukkan ke dalam laut. Berapa kadar air yang terbawa oleh jari tersebut, itulah kadar keindahan dan kenikmatan dunia. Sementara air yang di laut itulah kadar kenikmatan Surga. Sungguh tidak bisa dibandingkan.

Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa kiamat sudat dekat diantaranya adalah QS. Al-Qomar: 1, “Kiamat sudah dekat. Bulan telah terbelah.” Sudah dekat, sudah dekat? Kapan dong? Perlu Anda ketahui bahwa jarak antara zaman diutusnya Nabi dengan waktu terjadinya hari kiamat sangatlah dekat jika dibandingkan dengan jarak antara diciptakannya alam semesta dengan zaman diutusnya beliau.

Syekh Muhammad bin Sholeh menjelaskan, iman kepada hari akhir hukumnya wajib dan kedudukannya dalam agama Islam merupakan salah satu di antara rukun iman yang enam. Banyak sekali Allah Ta’ala menggandengkan antara iman kepada Allah Ta’ala dan iman kepada hari akhir, karena barangsiapa yang tidak beriman kepada hari akhir, tidak mungkin akan beriman kepada Allah Ta’ala. Orang yang tidak beriman dengan hari akhir tidak akan beramal, karena seseorang tidak akan beramal kecuali dia mengharapkan kenikmatan di hari akhir dan takut terhadap adzab di hari akhir. (Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah hal. 482]

Disebut hari akhir karena pada hari itu tidak ada hari lagi setelahnya, saat itu merupakan tahapan yang terakhir dalam perjalanan hidup manusia. Manusia dalam hidupnya mengarungi lima tahapan kehidupan secara global, (1) Ketika manusia belum ada; (2) Ketika dalam perut ibu; (3) Ketika berada di dunia; (4) Ketika di alam barzakh; (5) Ketika berada di akhirat.

Keimanan yang benar terhadap hari akhir -setidaknya- mencakup tiga hal pokok yaitu mengimani adanya hari kebangkitan (ba’ts), mengimani adanya hisaab (perhitungan) dan jazaa’ (balasan), serta mengimani tentang surga dan neraka. Termasuk juga keimanan kepada hari akhir adalah mengimani segala peristiwa yang akan terjadi setelah kematian seperti fitnah qubur, ‘adzab qubur, dan nikmat qubur.

Mengimani Adanya Hari Kebangkitan

Hari kebangkitan adalah hari dihidupkannya kembali orang yang sudah mati ketika ditiupkannya sangkakala yang kedua. Kemudian manusia akan berdiri menghadap Rabb semesta alam dalam keadaan telanjang tanpa alas kaki, telanjang tanpa pakaian, dan dalam keadaan tidak dikhitan, lihat QS. Al Anbiyaa’:104]

Hari kebangkitan merupakan kebenaran yang sudah pasti. Ditetapkan oleh Al Quran, As Sunnah dan Ijma’ (konsensus) kaum muslimin, lihat QS. Al Mukminun:15-16.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salaam bersabda : “Pada hari kiamat, seluruh manusia akan dikumpulkan dalam keadaan tanpa alas kaki, telanjang, dan tidak disunat”[HR. Muslim 2859]

Adanya Hari Perhitungan dan Pembalasan

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka. kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.” (QS. Al Ghasiyah:25-26] Allah juga berfirman, “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al Anbiyaa’:47]

Mengimani Adanya Surga dan Neraka

Keduanya merupakan tempat kembali yang abadi bagi makhluk. Surga adalah kampung kenikmatan yang dipersiapkan oleh Allah Ta’ala bagi orang-orang yang beriman. Sedangkan neraka adalah hunian yang penuh dengan ‘adzab yang dipersiapkan oleh Allah Ta’ala untuk orang-orang kafir. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh keni’matan. dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benarbenar berada dalam neraka” (QS. Al Infithaar:13-14]

Mengimani Fitnah, Adzab, dan Nikmat Kubur

Adapun dalil tentang adanya siksa kubur adalah tentang kisah pertanyaan malaikat di alam kubur kepada mayit tentang Rabbnya, agamanya, dan nabinya. Allah Ta’ala lalu meneguhkan orang-orang yang beriman dengan kata-kata yang mantap, sehingga dengan kemantapannya ia menjawab, “Rabbku adalah Allah, agamaku Islam, dan nabiku adalah Nabi Muhammad”. Sebaliknya Allah menyesatkan orang-orang yang dzalim. Orang yang kafir hanya bisa menjawab, “Hah…hah!Aku tidak tahu” sementara itu orang munafik atau orang yang ragu menjawab: “Aku tidak tahu. Aku dengar orangorang mengatakan sesuatu, lalu aku ikut pula mengatakannya”.

Faedah Iman yang Benar

Keimanan yang benar akan memberikan faedah yang bermanfaat. Demikian pula keimanan yang benar terhadap hari akhir akan memberikan manfaat yang besar, di antaranya: (1) Merasa senang dan bersemangat dalam melakukan kataatan dengan mengharapkan pahalanya kelak di ahri akhir; (2) Merasa takut ketika melakukan kemaksiatan dan tidak suka kembali pada maksiat karena khawatir mendapat siksa di hari akhir; (3) Hiburan bagi orang-orang yang beriman terhadap apa yang tidak mereka dapatkan di dunia dengan mengharapkan kenikmatan dan pahala di akhirat.

Syekh Dr. Yusuf bin ‘Abdillah bin Yusuf al-Wabil menuturkan, “Iman kepada segala hal yang terjadi pada hari Akhir dan tanda-tandanya merupakan keimanan terhadap hal ghaib yang tidak bisa dijangkau oleh akal, dan tidak ada jalan untuk mengetahuinya kecuali dengan nash melalui wahyu. Karena pentingnya hari yang agung ini, kita dapati (di dalam al-Qur-an) bahwa Allah Ta’ala seringkali menghubungkan iman kepada-Nya dengan iman kepada hari Akhir, lihat QS. Al-Baqarah: 177 dan QS. Ath-Thalaaq: 2. Dan masih banyak ayat yang lainnya. Jarang sekali Anda membuka lembaranlembaran Al-Qur-an kecuali Anda akan dapati padanya pembicaraan tentang hari Akhir dan apa yang ada di dalamnya berupa pahala dan siksa. Kehidupan menurut pandangan Islam bukanlah sekedar kehidupan di dunia yang sangat pendek dan terbatas, bukan pula sebatas umur manusia yang sangat pendek.” [Selesai kutipan]

Allah Ta’ala berfirman: “Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabbmu dan Surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Rasul-Nya….” (QS. Al-Hadiid: 21] Dan Allah berfirman: “(Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami bertanya kepada Jahannam, ‘Apakah kamu sudah penuh?’ Dia menjawab, ‘Masih ada tambahan?”” [QS. Qaaf:30]

Orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir mengetahui bahwasanya dunia adalah ladang bagi kehidupan akhirat, juga mengetahui bahwasanya amal shalih adalah bekal hari Akhir, sebagaimana difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala: “.. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa….” [QS. Al-Baqarah: 197] Juga sebagaimana dikatakan oleh seorang Sahabat yang mulia ‘Umair bin Humam Radhiyallahu anhu: Berlari (menghadap) Allah tanpa bekal kecuali ketaqwaan dan amal untuk hari Akhir. Juga kesabaran dalam berjuang di jalan Allah, Dan setiap bekal pasti akan hancur. Kecuali ketaqwaan, kebaikan dan petunjuk.

‘Umair bin Humam bin al-Jamuh bin Zaid al-Anshari Radhiyallahu anhu. Beliau gugur pada perang Badar, dan dialah yang melemparkan beberapa biji kurma ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bersegeralah kalian menuju Surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” Dia (Umair) berkata, “Bakhin, bakhin (ungkapan yang digunakan untuk mengagungkan sesuatu,-penj.).” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa yang mendorongmu untuk mengatakan bakhin, bakhin?” Dia menjawab, “Demi Allah wahai Rasulullah, tidak (ada yang mendorongku) kecuali harapan (semoga) aku menjadi penghuninya.” Rasul berkata, “Sesungguhnya engkau termasuk penghuninya.” Dia berkata, “Jika aku masih hidup sampai aku memakan kurma-kurma ini, maka sungguh ia adalah kehidupan yang panjang.” Kemudian dia melemparkan kurma-kurmanya dan berperang hingga akhirnya dia gugur.” Lihat Shahiih Muslim kitab al-Amaaraat bab Tsubuutul Jannah lisy Syahiid (XIII/ 45-46. Syarah anNawawi)

Sangat jauh berbeda dengan perilaku orang yang tidak beriman kepada Allah, hari Akhir dan apa yang ada di dalamnya berupa pahala dan siksaan. Maka orang yang membenarkan adanya hari Akhir akan beramal dengan melihat timbangan langit bukan dengan timbangan bumi, dan dengan perhitungan akhirat bukan dengan perhitungan dunia. Dia memiliki prilaku yang istimewa di dalam kehidupannya, kita bisa menyaksikan keistiqamahan di dalam dirinya, luasnya pandangan, kuatnya keimanan, keteguhan di dalam segala cobaan, kesabaran di dalam setiap musibah, dengan mengharap pahala dan ganjaran, serta yakin bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal.

Dari Shuhaib, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman, semua urusannya adalah baik (baginya), hal itu tidak akan didapatkan kecuali oleh orang yang beriman. Jika dia mendapatkan kenikmatan, dia bersyukur maka hal itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia tertimpa musibah, dia bersabar maka hal itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim, kitab azZuhd, bab fii Ahaadiits Mutafarriqah (XVIII/125, Syarh AnNawawi)]

Manfaat seorang muslim tidak terbatas hanya untuk manusia saja, akan tetapi dirasakan pula oleh hewan, sebagaimana ungkapan yang sangat terkenal dari ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu : “Seandainya ada seekor keledai terjatuh di Irak, sungguh aku yakin bahwa Allah akan bertanya kepadaku (di hari Kiamat) tentangnya, ‘Kenapa engkau tidak membuatkan jalan untuknya wahai ‘Umar?’” Dalam riwayat Abu Nu’aim dengan lafazh “Seandainya seekor kambing mati di tepi sungai Furat karena tersesat, aku yakin bahwa Allah akan bertanya kepadaku tentangnya pada hari Kiamat.” [Hilyatul Auliyaa’ wa Thabaqaatul Ashfiyaa’ (I/53), cet. Darul Kutub al’Arabi]

Perasaan seperti ini adalah buah dari keimanan kepada Allah dan hari Akhir, perasaan beratnya beban dan besarnya amanah yang dipikul manusia. Di mana langit, bumi, dan gunung merasa iba untuk menerimanya, karena dia tahu bahwa segala hal; baik yang kecil atau yang besar akan dimintai pertanggungjawaban, akan diperhitungkan dan akan dibalas. Jika baik maka baik pula balasannya, jika jelek maka jelek pula balasannya, lihat QS. Ali ‘Imran: 30.

Sementara orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir, dia akan selalu berusaha dengan keras untuk mewujudkan segala keinginannya dalam kehidupan dunia, terengah-engah di belakang perhiasannya, rakus dalam mengumpulkannya, dan sangat pelit jika orang lain ingin mendapatkan kebaikan melaluinya. Dia telah menjadikan dunia sebagai tujuannya yang paling besar, dan puncak dari ilmunya (pengetahuannya). Dia bergerak dengan menjadikan bumi dan umur sebagai batasannya saja. Oleh karena itu, dia menganggap bahwa hari Kebangkitan itu tidak mungkin terjadi, lihat QS. AlQiyaamah:5-6.

Inilah cara pandang Jahiliyyah, terbatas dan sangat sempit. Lihat QS. Al-An’aam: 29. Persis seperti ungkapan mereka, “Ia (kehidupan) hanyalah rahim-rahim yang melahirkan dan bumi yang menelan.”

Anda dapati golongan manusia seperti ini masuk ke dalam golongan manusia yang sangat rakus terhadap kehidupan dunia, karena mereka tidak mengim ani a da nya kebangkitan setelah kematian, lihat QS. Al-Baqarah: 96.

Orang musyrik tidak mengharapkan adanya kebangkitan setelah kematian. Dia menginginkan kehidupan dunia yang terusmenerus, sementara orang Yahudi mengetahui segala kehinaan yang akan mereka dapatkan di akhirat, disebabkan apa yang mereka perbuat terhadap ilmu yang mereka ketahui [Lihat Tafsiir Ibni Katsir (I/184), tahqiq ‘Abdul ‘Aziz Ghanim dan dua temannya, cet. asy-Sya’bi – Kairo.].

Karena itulah Islam sangat memperhatikannya. Allah mengingkari sikap mereka yang menganggap bahwa hari Akhir itu mustahil, dan Dia memerintahkan Nabi-Nya agar bersumpah bahwa hal ini adalah haq (benar): “… Katakanlah (Muhammad), “Memang, demi Rabb-ku, benarbenar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’ Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. AtTaghaabun: 7].

Oktober, 2013 Edisi 16

Tersenyum Ketika Tertimpa Musibah

Syaikh Khalid az-Zahrany Hafidhohullahu ketika berkunjung ke Pesantren mahasiswa ‘ath-Thaybah’ bercerita: “Seorang imam masjid di kota Riyadh ditimpa musibah. Rumahnya kebakaran yang mengakibatkan seluruh keluarganya-istri dan anak-anaknyatewas. Tetangga dan kawan-kawannya berdatangan untuk bertakziah. Yang aneh adalah- kata beliau lebih lanjut- pada raut wajahnya sama sekali tidak ada tanda-tanda kesedihan. Beliau menyambut setiap tamunya dengan terus mengumbar senyum. Seakan-akan tidak ada kejadian apa-apa. Kondisinya terbalik, seakan-akan para tamunya adalah yang ditimpa musibah sementara beliau adalah tamu yang datang untuk menghiburnya. Subhanallah” Bagaimana bisa orang ditimpa musibah, bukannya sedih malah mengumbar senyum? Ini tidak lain karena orang tersebut memiliki keimanan yang benar terhadap takdir.

Di suatu kampung, seorang da’i bertanya kepada tukang becak: “Apakah kamu tidak takut adzab Allah , kamu tidak pernah shalat, puasa dan amal shalih lainnya. Hidupmu hanya untuk berjudi dan bersenang-senang? “Dia menjawab: “Lho, bukankah segala sesuatu sudah ditakdirkan oleh Allah ? Jadi, saya menjadi begini ya.. sudah ditakdirkan Allah. Jadi, jangan salahkan saya. Salahkan Allah dong!” Maa syaa’a Allah Laa haula wa laa quwwata illa billah. Jawabannya menunjukkan ia tidak mengerti tentang hakekat takdir.

Agar kita beriman kepada takdir dengan keimanan yang benar, maka kita harus mengetahui kandungannya.

  1. Meyakini bahwa Allahlmengetahui segala sesuatu sekecil-kecilnya secara terperinci.
  2. Meyakini bahwa Allahl+dengan mencatat pengetahuannya tentang segala sesuatu itu di lauh mahfudz. Bahkan Dia telah mencatatnya 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi, sebagaimana disebutkan di dalam Hadits Imam Muslim dari Abdullah bin Amr bin al-Asha”Allahltelah mencatat takdir seluruh makhluk limapuluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi” (HR. Muslim).

Untuk kandungan pertama dan kedua bahwa Allahlmengetahui segala sesuatu dan telah mencatatnya dalam lauh mahfudz, Dialtelah menjelaskan dalam firmanNya: “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (lauh mahfudz). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah” (Qs. Al-Hajj:70)

  • Meyakini bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allahl. Dia befirman: “Dan Tuhanmu mencip-takan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya”. (Qs. Al-Qashash: 68)
  • Meyakini bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Allahl. Dialberfirman: “Allah menciptakan segala sesuatu”. (Qs. Az-Zumar: 62). “Allah menciptakan kalian dan apa yang kalian perbuat”. (Qs. Ash-shoffat: 96).

Inilah empat kandungan takdir yang harus diketahui oleh setiap muslim. Adakah sesuatu yang tidak diketahui oleh Allah? Tidak mungkin, Segala sesuatu pasti diketahui Nya, bukan saja yang telah terjadi tetapi juga yang akan terjadi sampai hari Kiamat. Tuhan itu sempurna, kalau ada sesuatu yang tidak diketahui maka ada sifat kurang pada diriNya. Mahasuci Allah dari hal yang demikian.

Adakah sesuatu yang terjadi diluar kehendakNya? Mustahil, segala sesuatu pasti terjadi dengan kehendakNya. Dialah Raja di dalam kerajaan Nya yang meliputi seluruh alam. Jika ada sesuatu yang terjadi diluar kehendakNya, berarti ada cacat pada diriNya sebagai Raja. Mahasuci Allah dari yang demikian. Kalau ditanya; berarti maksiat-maksiat seperti perzinaan, pencurian, pembunuhan, perampokan dengan kehendaknya ? Jawabannya adalah betul. Tetapi, perlu diketahui bahwa tidak setiap yang Allahlkehendaki Dia meridhainya/ mencintainya. Segala kemaksiatan terjadi dengan kehendak Allahlakan tetapi Allah tidak meridhainya. Dialberfirman: “Dan Allah tidak mencintai kerusakan” (alBaqoroh: 205). “Dan Allah tidak menyukai setiap orang kafir dan berbuat dosa” (al-Baqarah; 276).

Untuk lebih memudahkan dalam pemahaman, kita ambil contoh dari kehidupan manusia; Penderita kencing manis berstadium tinggi diputuskan dokter harus diamputasi kakinya karena itu satu-satunya solusi, kalau tidak maka akibatnya fatal. Penderita ini tentunya menghendaki a m putasi ini untuk kemaslahatan dirinya, meskipun sebenarnya dia tidak suka dengan tindakan ini. Tetapi bagaimana lagi, inilah yang harus ditempuh untuk kemaslahatan dirinya. Demikian pula Allahl, Dia menghendaki sesuatu yang Dia tidak meridhainya untuk suatu hikmah. Yang jelas, Allahltelah menjelaskan kepada manusia mana yang harus ditempuh/ diambil sehingga bisa selamat di dunia dan masuk Surga di Akherat nanti.

Adakah sesuatu yang terjadi diluar ciptaanNya? Mustahil, segala sesuatu baik dzat, sifat, dan gerakan pasti semuanya diciptakan oleh Allah. Tidak mungkin ada sesuatu tercipta dengan sendirinya. Jika dikatakan; berarti syarr (perbuatan/sifat buruk) diciptakan oleh Allah? Jawabannya adalah betul. Tetapi, perlu diketahui bahwa Allahlah Pencipta syarr, tetapi pelakunya adalah manusia. Allah sendiri telah memberikan pilihan kepada manusia akankah mengambil syarr atau khair (perkara/sifat baik)? Allah telah menjelaskan mana yang harus ditempuh agar menuju Surga, tentunya khair. Tetapi manusia itu sendiri yang menempuh syarr yang menuju Neraka? Jadi, Allah tidak berbuat dzalim. “Allah tidak berbuat dzalim kepada mereka, merekalah yang mendzalimi diri mereka sendiri” (Qs. Ali Imran:

117)

Mari kita memperhatikan beberapa hal berikut ini untuk lebih memahami masalah takdir:

  1. Segala sesuatu yang terjadi adalah dengan kehendak Allah. Ini tidak berarti manusia tidak punya kehendak. Realitanya memang demikian, kita semua tidak ada yang mengingkari bahwa kita punya kehendak. Contoh: ketika kita menyengaja pergi dari rumah ke suatu tempat adalah bukti bahwa manusia mempunyai kehendak. Allahltentang berfirman: “Datangilah ladingladang kalian (istri-istri) dari arah mana saja yang kalian kehendaki” (Qs. Al-Baqarah: 223). Tetapi, kehendak Allahlberada diatas kehendak manusia.
  2. Segala sesuatu yang ada itu diciptakan oleh Allah . Ini tidak berarti bahwa manusia tidak punya kemampuan. Realitanya memang demikian dan tidak ada seorangpun yang mengingkari hal ini. Contoh: Pak Ali mampu mengangkat beras 50 kg, kalau Pak Ahmad mampu 60 kg. Allahlberfirman: “Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kesanggupan kalian” (Qs. At-Taghobun: 16). Tetapi, kemampuan Allahlitu diatas kemampuan manusia.
  3. Adakalanya sesuatu yang telah ditakdirkan terikat dengan sebab/ikhtiarnya, apabila sebabnya direalisasikan, maka takdirnya akan terjadi. Contoh: Ada umur seseorang yang terikat dengan silaturrahim. Kalau melakukan silaturrahim maka umurnya diperpanjang, kalau tidak maka tidak diperpanjang. Contoh lain: Takdir suatu kebaikan pada seseorang Allah mengikatkannya dengan doa. Jika dia berdoa, maka takdir kebaikan akan terwujud, dan kalau tidak maka tidak akan terwujud. Inilah maksud dari Hadits Nabi n “Barangsiapa yang ingin rizkinya dilapangkan dan umurnya dipanjangkan maka bersilaturrahimlah” (HR. Bukhari dan Muslim). “Tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa” (HR. al-Hakim). Tentu kita tidak mengetahui; apakah sesuatu yang ditakdirkan bagi kita terikat dengan ikhtiar ataukah tidak? Yang terpenting kita harus tetap ikhtiar. Jika ternyata suatu takdir tersebut dikaitkan dengan ikhtiar, maka ia akan terwujud. Jika tidak, maka ikhtiar kita tidak akan siasia. Ia akan dinilai sebagai amal shaleh yang memperberat timbangan kebaikan kita. d. Untuk urusan dunia, seringkali manusia tidak beralasan dengan takdir. Contoh: ketika seseorang dilempar kepalanya dengan batu, pasti dia akan menghindar, tidak mungkin dia berdiam diri dan menyandarkan kepada takdir, “kalau takdirnya kena ya kena, kalau gak ya gak”. Lalu kenapa untuk urusan akherat (berupa mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan) mudahmudahnya menyandarkan kepada takdir. Contoh: ketika dikatakan kepada seseorang, “kenapa berjudi?” jawabannya, “kan semua nya sudah ditakdirkan”. “kenapa tidak shalat?” jawabannya, “kan sudah ditakdirkan”. Inilah bentuk ketidakadilan manusia. Sehingga berbeda sikap untuk urusan dunia dan akherat. Mestinya keduanya harus disikapi sama persis, tanpa membedakan.
  4. Allahltidak memaksakan hambaNya untuk melakukan suatu hal (mengerjakan perintah atau meninggalkan larangan). Manusia telah diberikan pilihan oleh Allahldengan seluas-luasnya. Bersamaan dengan itu Allahlmenjelaskan dengan penjelasan yang sangat banyak baik dalam al-Qur’an ataupun melalui Hadits-Hadits Nabinya apa yang seharusnya ditempuh untuk bisa selamat dunia dan Akherat. Jadi, salah kaprah jika manusia menyandarkan maksiatnya kepada takdir.
  5. Hikmah beriman kepada takdir. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauh mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allahl. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlaku bergembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri (QS. Al-Hadid : 22-23).

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafizhahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa THAYBAH Surabaya)