Skip to main content

Solusi Investasi Akhirat Anda

Populer Tapi Dha’if, Populer Tapi Maudhu’ jilid 2 bagian 3

٦- الفَاتِحَة لِمَا قُرِئَتْ لَهُ

“Al-Fatihah itu sesuai untuk apa dibaca”

Derajat Hadits: Palsu
Komentar:

Sering dijumpai seorang Kyai atau Ustadz membuka suatu majlis atau menutupnya dengan bacaan al-Fatihah. Para jamaahnya pun dengan khusyu’ mengikuti apa yang dikomandoi oleh Ustadznya; ilaa hadhratin nabiyyil mushthofa Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam al-faatihah…., tsumma ilaa sulthoonil awliyaa syaikh Abdul Qodir Jailani al- faatihah…, illa arwaahil muslimin khushuushon Fulan wa Fulan wa Fulan al-faatihah…, bi sirri alfatihah… dan lain- lain. Al-Fatihah memang salah satu surat dalam al- Qur’an. Tetapi apakah pernah diajarkan Nabi dan diamalkan para Sahabat mengamalkan Al-Fatihah dengan seremonial yang sedemikian rupa? Sungguh tidak pernah.

Seandainya dikatakan bukankah Al-Fatihah adalah surat yang paling agung yang memiliki keutamaan tinggi? Betul, ia adalah surat yang paling agung sebagaimana disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ قَالَ حَدَّثَنِي خُبَيْبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ عَنْ أَبِي سَعِيدِ بْنِ الْمُعَلَّى قَالَ: كُنْتُ أُصَلِّي فِي الْمَسْجِدِ فَدَعَانِي رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَلَمْ أُجِبْهُ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ أُصَلِّي، فَقَالَ: «أَلَمْ يَقُلِ اللَّهُ (اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ)»، ثُمَّ قَالَ لِي: «لَأُعَلِّمَنَّكَ سُورَةً هِيَ أَعْظَمُ السُّوَرِ فِي الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنَ الْمَسْجِدِ»، ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِي، فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ قُلْتُ لَهُ: أَلَمْ تَقُلْ «لَأُعَلِّمَنَّكَ سُورَةً هِيَ أَعْظَمُ سُورَةٍ فِي الْقُرْآنِ»، قَالَ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ» (صحيح البخاري).

“…dari Abu Said bin al-Mu’ala…kemudian beliau bersabda kepadaku: ‘Sungguh aku akan ajari kamu satu surat yaitu surat yang paling agung di dalam al-Qur’an… Beliau bersabda: ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin (al- fatihah) adalah tujuh ayat yang diulang dan al-Qur’an yang agung yang diberikan kepadaku”. (Shahih Al-Bukhari)

Tetapi hal ini tidak menjadikannya sebagai surat andalan yang dibaca dengan tata cara yang dibikin-bikin sendiri. Dan ingat hadits yang menjadi acuannya adalah palsu. Adapun kalau digunakan untuk meruqyah, hal ini diperbolehkan berdasarkan petunjuk Nabi.

٧ – خُذُوا مِنَ القُرْآنِ مَا شِئْتُم لِمَا شِئْتُمْ

“Ambillah dari al-Qur’an terserah kalian untuk apa yang kalian kehendaki”

Derajat Hadits: Tidak ada asal usulnya
Komentar:
Syaikh Ahmad bin Abdullah as-Salimy di dalam kitab “Ahadits muntasyiroh lam tatsbut fil ‘aqidah wa-l-ibadat was- suluk” mengatakan yang kurang lebihnya sebagai berikut: Tidak diragukan lagi bahwa riwayat ini menghilangkan fungsi al-Qur’an segagai hidayah. Mereka menjadikan ayat-ayat tertentu sebagai obat suatu penyakit. Orang yang sakit kepala dibacakan:

وَلَهُ مَا سَكَنَ فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ [الأنعام: ۱۳]

“Dan bagiNya-lah segala yang ada pada malam dan siang hari” (QS. al-An’am: 13)

Orang yang bengkak dibacakan:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا [طه: ١٠٥]

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah: ‘Tuhanku akan menghancurkannya se hancur-hancurnya’ “ (Qs. Thoha: 105)

Orang hamil yang susah melahirkan dibacakan;

وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا (الحج: ٢)

“Dan melahirkanlah kandungan segala wanita yang hamil” (Qs. al-Hajj: 2)

Saya (penulis) tambahkan bahwa sebagian mereka membacakan orang yang panas badan dengan:

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ (الأنبياء: ٦٩)

“Kami berfirman: Hai api menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim” (Qs. al-Anbiya: 69)

Untuk bisa memukul musuh dengan kuat bahkan dari jarak jauh, maka mereka membaca ayat ini yang sebelumnya telah di-puasa-i :

وَإِذَا بَطَشْتُمْ بَطَشْتُمْ جَبَّارِينَ (الشعراء: ۱۳۰)

“Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang kejam dan bengis” (QS. Asy-Syu’ara: 130)

Lebih lanjut Syaikh menuturkan bahwa tidak diragukan lagi menjadikan ayat-ayat al-Qur’an yang penuh hikmah untuk hal-hal semacam ini berarti memalingkan makna-maknanya dari sebuh kitab hidayah (petunjuk), pendidikan, dan pengarahan jiwa kepada perkara-perkara “la’ab dan istihza'” (permainan dan olok-olok).

٨ – أَنَّ ابْنَ عُمَرَ أَوْصَى أَنْ يُقْرَأَ عَلَى قَبْرِهِ وَقْتَ الدَّفْنِ بِفَوَاتِحِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ وَخَوَاتِمِهَا

“Bahwa Umar berwasiat agar ketika dimakamkan dibacakan di atas kuburannya awal-awal surat al-Baqarah dan akhir-akhirnya”

Derajat Hadits: lemah
Komentar:

Hadits ini tidak bisa dijadikan sandaran, maka tidak boleh diamalkan. Jika ada seseorang yang akan meninggal dunia berwasiat demikian maka tidak boleh dipenuhi. Bukankah wasiat harus dipenuhi? Wasiat yang harus dipenuhi adalah yang tidak bertentangan dengan syariat. Tentang tata cara dan adab ziarah kubur telah syariat jelaskan dengan gambling;

a. Ketika masuk, sunnah menyampaikan salam kepada mereka yang telah meninggal dunia. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengajarkan kepada para sahabat agar ketika masuk kuburan membaca,

السَّلَامُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمُ العَافِيَةَ

Atau,

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَلْاحِقُونَ أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

Berdasarkan Hadits Nabi,

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة وزهير بن حرب قالا حدثنا محمد بن عبدالله الأسدي عن سفيان عن علقمة بن مرثد عن سليمان بن بريدة عن أبيه قال: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُهُمْ إِذَا خَرَجُوا إِلَى الْمَقَابِرِ فكان قائلهم يقول (في رواية أبي بكر) السّلَامُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ، وفي رواية زهير السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ العَافِيَةَ (رواه مسلم).

“Memberitahu kami Abu Bakar bin Abu Syaibah… Rasululullah mengajari mereka kalau pergi mennuju kuburan agar membaca: Semoga keselamatan dicurahkan atasmu wahai para penghuni kubur, dari orang-orang yang beriman dan orang-orang Islam. Dan kami, jika Allah menghendaki, akan menyusulmu. Aku memohon kepada Allah agar memberikan keselamatan kepada kami dan kamu sekalian (dari siksa).” (HR Muslim)

b. Tidak duduk di atas kuburan,

وَحَدَّثَنِي عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ السَّعْدِيُّ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ عَنِ ابْنِ جَابِرٍ عَنْ بُسْرِ بْنِ عُبَيْدِ عَنْ وَاثِلَةَ عَنْ أَبِي مَرْثَدٍ الْغَنَوِيَّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: «لاَ تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلاَ تُصَلُّوا إِلَيْهَا» (رواه مسلم).

“Memberitahuku Ali bin Hujr as-Sa’di memberitahu kami al-Walid bin Muslim… Rasulullah bersabda: Janganlah kalian duduk di atas kuburan, dan janganlah kalian shalat menghadapnya.” (HR. Muslim)

c. Tidak melakukan thawaf sekeliling kuburan dengan niat untuk ber-taqarrub (ibadah). Karena thawaf hanyalah dilakukan di sekeliling Ka’bah. Allah berfirman,

وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ [الحج: ٢٩]

“Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah, Ka’bah).” (Al-Hajj: 29)

d. Tidak membaca Al-Qur’an di kuburan.

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ وَهُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْقَارِيُّ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ» (رواه مسلم).

“Memberitahu kami Qutaibah bin Sa’id memberitahu kami Ya’kub…dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Janganlah menjadikan rumah kalian sebagai kuburan. Sesungguhnya setan berlari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqarah.'” (HR. Muslim)

Hadits ini mengisyaratkan bahwa kuburan bukanlah tempat membaca Al-Quran. Berbeda halnya dengan rumah, ia harus diperbanyak bacaan al-Qur’an di dalamnya.

e. Tidak boleh memohon pertolongan dan bantuan. kepada mayit, meskipun dia seorang nabi atau wali, sebab itu termasuk syirik besar. Allah berfirman,

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ [يونس: ١٨]

“Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: ‘Mereka adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah’. Katakanlah: ‘Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan” (QS. Yunus: 18)

Renungkanlah ayat di atas, mereka merasa perbuatannya adalah semata-mata sekedar tawassul untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah, sementara Allah menvonis perbuatan mereka sebagai bentuk penyembahan atau peribadahan.

f. Tidak meletakkan karangan bunga atau menaburkannya di atas kuburan mayit. Karena hal itu menyerupai perbuatan orang-orang Nasrani, serta membuang-buang harta dengan tiada guna. Disebutkan di dalam hadits yang jelas melarang
“tasyabbuh” (menyerupai) orang kafir,

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو النَّصْرِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتٍ حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: «مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ» (رواه أبو داود).

“Memberitahu kami Utsman bin Abu Syaibah memberitahu kami Abu an-Nadhr…dari Ibnu Umar mengatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia bagian dari mereka'” (HR. Abu Daud)

Bagaimana dengan sebagian orang yang melakukan tabur bunga di atas kuburan beralasan sebuah riwayat tentang wasiat seorang sahabat yang bernama Buraidah bin Hushaib agar diletakkan 2 pelepah kurma di atas makamnya sebagaimana yang Nabi pernah perbuat,

حدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ خَازِمٍ قَالَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشِ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ طَاوُسٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: مَرَّ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ: «إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ» ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً، فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ، فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لِمَ فَعَلْتَ هَذَا؟ قَالَ: «لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا» (رواه البخاري ومسلم).

“Memberitahu kami Muhammad bin al-Mutsana memberitahu kami Muhammad bin Khozim…dari Ibnu Abbas: ‘Nabi melewati dua makam, lalu beliau bersabda: ‘Keduanya (penghuni kubur) sedang diazab, dan keduanya tidaklah diazab karena perkara besar, salah satunya diazab karena tidak menutup diri dari kencing dan yang lainnya berjalan dengan namimah (mengadu domba). Kemudian beliau mengambil pelepah pohon korma yang masih basah dan membelahnya menjadi dua, lalu menancapkannya pada masing-masing makam. Mereka (para sahabat) bertanya: ‘Mengapa engkau lakukan itu ya Rasulullah? Beliau menjawab: ‘Semoga keduanya diringankan azabnya dengan kedua (pelepah kurma ini) selama masih basah’ ” (HR. Bukhari dan Muslim)

Judul Buku: Populer Tapi Dha’if, Populer Tapi Maudhu’ jilid 2

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)