Solusi Investasi Akhirat Anda

Nine On Jum’at bagian 5

7. Mengoptimalkan bersih-bersih badan

Tidak ada Nash shorih (dalil eksplisit) yang menyatakan agar di hari Jum’at seorang muslim bersih-bersih badan berupa potong kuku, memendekkan kumis, cabut bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan. Tidak ada Hadits yang menjelaskan bahwa beliau shalallahu alaihi wasallam memerintahkan atau melakukannya.

Untuk itu, bersih-bersih badan pada hari Jum’at tidaklah dikatakan sebagai perkara yang disunnahkan.

Hadits yang berikut ini adalah dho’if,

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يَسْتَحِبُّ أن يأخذَ من أظفاره وشاربه يوم الجمعة (رواه البيهقى)

“Rasulullah shalallahu alaihi wasallam suka untuk memotong kuku dan mencukur kumis di hari Jum’at” (HR. Al-Baihaqy).

Hadits yang shohih berikut ini,

وقت لنا في قص الشارب وتقليم الأظفار ونتف الإبط وحلق العانة أن لا يترك أكثر من أربعين يوما (رواه مسلم عن أنس)

“Ditetapkan bagi kami untuk memendekkan kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan tidak melebihi empat puluh hari” (HR. Muslim dari Anas)

Ini menunjukkan keleluasaan di dalam melakukannya. Intinya tidak melebihi empat puluh hari. Namun demikian, jika kita melakukan semuanya itu di hari Jum’at sehingga kita berbuat lebih maksimal, selain yang disunnahkan berupa mandi, memakai parfum, dan memakai minyak rambut maka lebih utama insya Allah. Disebutkan di dalam beberapa Atsar, di antaranya:

عن نافع أن عبد الله بن عمر كان يقلم أظفاره ويقص شاربه في كل جمعة (روى الإمام البيهقي في “السنن الكبرى)

“Dari Nafi’ bahwa Abdullah Ibnu Umar ketika memotong kuku dan mencukur kumis di hari Jum’at” (Riwayat Imam Al-Baihaqy di dalam Sunan Al-Kubro)

عن إبراهيم قال : ينقي الرجل أظفاره في كل جمعة (وروى ابن أبي شيبة في “المصنف)

“Dari Ibrahim, dia berkata: Hendaknya seseorang memotong kukunya setiap hari Jum’at” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushonnif)

عن محمد بن إبراهيم التيمي قال : من قلم أظفاره يوم الجمعة ، وقص شاربه ، واستن ، فقد استكمل الجمعة (وروى عبد الرزاق في “المصنف”)

“Dari Muhammad bin Ibrahim At-Taymiy, dia berkata: Barangsiapa yang memotong kuku, memotong kumis, dan membersihkan gigi (bersiwak) pada hari Jum’at, maka dia telah menyempurnakan (ibadah) Jum’atnya” (Riwayat Abdur Rozzak di dalam Al-Mushonnaf)

عن راشد بن سعد قال : كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم يقولون : من اغتسل يوم الجمعة ، واستاك ، وقلم أظفاره ، فقد أوجب (خرجه حميد بن زنجويه (ونقل الحافظ ابن رجب في “فتح الباري”)

“Dari Rasyid bin Sa’ad, dia berkata, Para Shahabat Rasulullah mengatakan: Barangsiapa yang mandi pada Hari Jum’at, bersiwak dan potong kuku pada hari Jum’at maka telah wajib (mendapatkan keutamaan)” (Al-Hafizh Ibnu Rojab menukil di dalam “Fathul Bari”)

8. Berhubungan badan

Tidak ada Nash yang menjelaskan sunnahnya jima’ di hari Jum’at. Apalagi dinyatakan sebagai amalan yang pahalanya berlipat ganda. Akan tetapi para ahli ilmu memandang bagusnya jima’ di hari Jum’at berdasarkan Hadits Nabi,

من غسَّل يومَ الجمعةِ واغتسل وبكَّرَ وابتكرَ ومشى ولم يَركبْ ودنا من الإمامِ واستمع ولم يَلْغُ كان له بكلِّ خطوةٍ عملُ سنةٍ أجرُ صيامِها وقيامِها (رواه أبو داود و الترمذى والنسائى عن أوس بن أوس)

“Barangsiapa yang “ghossala” pada hari Jum’at, lalu mandi, segera berangkat, berjalan tidak berkendara, mendekat kepada imam, lalu mendengarkan dan tidak berbuat kesia-siaan maka baginya pada setiap langkah pahala shalat dan puasa selama satu tahun” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi An-Nasa’i dari Aus bin Aus)

Ada beberapa penjelasan tentang maksud “ghossala” dengan huruf sin di-tasydid (سّ) dari Hadits tersebut, yaitu:

a. Menggauli istrinya sehingga istrinya berkewajiban mandi sebagaimana dirinya berkewajiban mandi

b. Membasuh bagian-bagian wudhu sebanyak tiga kali lalu melakukan mandi untuk Jum’at

c. Mencuci bajunya lalu mandi untuk Jum’at

Ada juga yang membacanya dengan huruf sin tidak di-tasydid (س) yaitu “ghosala“, maka maknanya juga ada beberapa penjelasan dari para ulama, yaitu:

a. Menjadikan istri mandi (menyetubuhinya)

b. membasuh kepala dan badannya

c. wudhu

Jadi, berdasarkan Hadits ini, merupakan hal yang dianjurkan jika suami menyetubuhi istrinya di hari Jum’at agar dia terkondisikan untuk mandi junub sehingga berangkat ke masjid dalam keadaan telah mandi. Allahu A’lam.

Tetapi, jika dikatakan bahwa jima’ di malam atau hari Jum’at adalah sunnah maka tidak ada nash shorih yang menjelaskan demikian. Apalagi dinyatakan ada fadhilah tersendiri yaitu berpahala seperti memerangi orang kafir sebagaimana sering dikatakan demikian oleh sebagian kaum muslimin. Maka, ini pemahaman yang lebih jauh lagi tidak ada dasarnya sama sekali.

9. Membaca surat Al-Kahfi

Ada perbedaan pendapat mengenai ke-shahih-an Hadits tentang pengkhususan hari Jum’at dengan surat Al-Kahfi. Ada yang mengatakan shahih seperti Syaikh Al-Albany dan ada yang mengatakan dho’if seperti Syaikh Al-Khuwainy. Hadits-Hadits tersebut berikut ini:

عن أبي سعيد الخدري قال: “من قرأ سورة الكهف ليلة الجمعة أضاء له من النور فيما بينه وبين البيت العتيق (رواه الدارمي صححه الشيخ الألباني)

“Dari Abu Sa’id al-Khudri, dia berkata: Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at maka ia akan meneranginya dari cahaya antara dirinya dan Baitul ‘Atik” (HR. Ad-Darimi, di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani)

من قرأ سورة الكهف في يوم الجمعة أضاء له من النور ما بين الجمعتين (رواه الحاكم والبيهقي وصححه الشيخ الألباني)

“Barangsiapa yang membaca surat al-Kahfi pada hari Jum’at maka ia akan meneranginya dari cahaya antara dua Jum’at” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqy, di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani)

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من قرأ سورة الكهف في يوم الجمعة سطع له نور من تحت قدمه إلى عنان السماء يضيء له يوم القيامة، وغفر له ما بين الجمعتين( قال المنذري: رواه أبو بكر بن مردويه بإسناد لا بأس به)

“Dari Ibnu Umar radiallahu anhuma, dia berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada hari Jum’at maka dia akan memancar cahaya dari bawah telapak kakinya sampai ke ufuk langit, ia akan meneranginya pada hari Kiamat” (Al-Mundziri berkata: Diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Mardawaih dengan sanad tidak ada masalah)

Al-Munawi mengatakan, Ibnu Hajar berkata: sebagian riwayat menyebutkan “hari Jum’at”, sebagian riwayat lainnya menyebutkan “malam Jum’at”, maka keduanya digabungkan. Jadi diamalkannya malam dan siang Jum’at.

Syaikh Al-‘Adawi mengatakan riwayatnya tidak bersambung kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam. Melainkan hanya bersambung sampai kepada Abu Sa’id al-Khudri, tetapi tidak mungkin beliau menyebutkan fadhilah semacam ini dari dirinya. Tentu dari pemahaman Hadits Nabi. Jadi, secara maknanya marfu’ (bersambung) kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam tidak pula mengambil dari Israiliyat” [selesai]. Jadi, kesimpulannya tidak masalah mengamalkannya.

Syaikh Bin Baz rahima hullah mengatakan: Hadits-Haditsnya terdapat dhu’f (lemah). Jika seseorang mengamalkannya dan mengharapkan fadhilahnya maka hal itu baik dan telah diamalkan oleh Shahabat Ibnu Umar radiallahu anhuma. Para ahli ilmu mengamalkan Hadits dho’if untuk fadhoilul a’mal terlebih diamalkan oleh sebagian Shahabat maka hal ini menguatkannya.

Syaikh Utsaimin rahima hullah mengatakan bahwa mengkhususkan hari Jum’at dengan surat al-Kahfi adalah sunnah sebagaimana sunnah-sunnah hari Jum’at lainnya seperti mandi, bersegera berangkat ke masjid dan lain-lain.

Allahu A’lam

Judul Buku: Nine On Jum’at

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)