h. Memperbanyak shalat sunnah
Termasuk perkara yang disunnahkan adalah begitu Anda memasuki masjid, langsung memperbanyak shalat. Anda terus-menerus shalat dengan salam setiap dua rakaat hingga khotib naik mimbar.
Shalat apa yang dikerjakan? Anda bisa shalat Dhuha hingga 8 atau 12 rakaat. Setelah itu shalat mutlak dengan jumlah rakaat sebanyak-banyaknya hingga khotib naik mimbar. Disebutkan di dalam Hadits,
عن سلمان الفارسي رضي الله عنه قال: قال النبي صلى الله عليه وسلم:…… ، ثم يُصلي ما كُتب له، ثم ينصت إذا تكلم الإمام؛ إلا غُفر له ما بينه وبين الجمعة الأخرى (رواه البخارى)
“Dari Salman al-Farisi radiallahu anhu berkata: Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda: ……….. lalu shalat sunnah (sebagaimana yang) ditetapkan baginya, kemudian diam ketika imam berkhutbah, melainkan akan diampuni dosanya antara Jumat itu dan Jumat berikutnya” (HR. Bukhari)
i. Disunnahkan membaca surat Al-Jumu’ah dan Al-Munafiqun atau surat Al-A’la dan Al-Ghosyiyah
Sebenarnya untuk shalat apapun bisa membaca surat mana saja yang dikehendaki. Namun, untuk shalat Jum’at Nabi shalallahu alaihi wasallam membacanya dengan surat tertentu, yaitu surat Al-Jumu’ah dan Al-Munafiqun atau surat Al-A’la dan Al-Ghosyiyah. Maka, inilah yang lebih utama. Disebutkan di dalam Hadits,
عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقرأ في صلاة الجمعة سورة الجمعة والمنافقين (رواه مسلم)
“Dari Ibnu Abbas radiallahu anhuma bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam membaca pada shalat Jum’at surat Al-Jumu’ah dan surat Al-Munafiqun” (HR. Muslim)
عن النُّعمان بن بَشير رضي الله عنهما قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقرأ في العيدين وفي الجمعة بـ﴿ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى ﴾ و﴿ هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ ﴾ قال: وإذا اجتمع العيد والجمعة في يوم واحد يقرأ بهما أيضًا في الصلاتين (رواه مسلم)
“Dari Nu’man bin Basyir radiallahu anhuma, dia berkata bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pada dua hari ‘Id dan Jum’at membaca Sabbih isma Rabbika Al-A’la (surat Al-A’la) dan Hal Ataaka Hadiitsul Ghosyiyah (surat Al-Ghosyiyah). Apabila berkumpul ‘Id dan Jum’at dalam satu hari beliau juga membaca keduanya pada dua shalat tersebut” (HR. Muslim)
j. Mendekat kepada imam atau khotib
Upayakanlah mengambil posisi yang dekat kepada imam atau khotib sehingga Anda bisa lebih fokus terhadap khutbah Jum’at. Disebutkan di dalam Hadits,
عن سَمُرة بن جُنْدب رضي الله عنه أن نبي الله صلى الله عليه وسلم قال: احضُروا الذكر، وادنُوا من الإمام فإن الرجل لا يزال يتباعد حتى يُؤخَّر في الجنة وإن دخلها (رواه أبو داود)
“Dari Samuroh bin Jundab radiallahu anhu bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda: Hadirilah dzikir, dan mendekatlah kepada imam. Sesungguhnya seseorang terus-menerus menjauh hingga ditunda Surganya meskipun dia orang yang memasukinya” (HR. Abu Daud)
Tidak hanya untuk mendengarkan khutbah Jum’at, melainkan pada semua kajian-kajian ilmu syariat kita diperintahkan merapat kepadanya. Semakin merapat ke pemateri, maka semakin utama. Disebutkan di dalam Hadits,
عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ فِي المَسْجِدِ وَالنَّاسُ مَعَهُ إِذْ أَقْبَلَ ثَلاَثَةُ نَفَرٍ فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَهَبَ وَاحِدٌ قَالَ فَوَقَفَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَرَأَى فُرْجَةً فِي الحَلْقَةِ فَجَلَسَ فِيهَا وَأَمَّا الآخَرُ فَجَلَسَ خَلْفَهُمْ وَأَمَّا الثَّالِثُ فَأَدْبَرَ ذَاهِبًا فَلَمَّا فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلاَ أُخْبِرُكُمْ عَنِ النَّفَرِ الثَّلاَثَةِ؟ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللَّهِ فَآوَاهُ اللَّهُ وَأَمَّا الآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللَّهُ مِنْهُ وَأَمَّا الآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ (رواه البخارى)
Dari Abu Waqid Al-Laitsi, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam ketika sedang duduk di dalam masjid bersama para Sahabat, datanglah tiga orang. Lalu, dua orang berdiri di hadapan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sedangkan yang seorang pergi. Abu Waqid berkata, “Maka dua orang tadi berdiri di hadapan Nabi shalallahu alaihi wasallam. Kemudian satu di antara keduanya melihat tempat kosong dalam majelis, maka ia duduk di tempat itu. Sedangkan yang kedua, duduk di belakang majelis. Sementara yang ketiga berbalik pergi. Setelah selesai bermajelis, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Maukah kalian aku beritahu tentang ketiga orang tadi? Adapun seorang di antara mereka, ia mendekatkan diri kepada Allah ta’ala, maka Allah ta’ala mendekatkan ia kepada-Nya. Orang yang kedua, ia malu, maka Allah ta’ala pun malu kepadanya. Sedangkan orang yang ketiga berpaling dari Allah, maka Allah pun berpaling darinya.” (HR. Bukhari)
Perhatikanlah Hadits di atas, Nabi shalallahu alaihi wasallam memuji orang yang mendekat kepada beliau di dalam majlis ta’lim dan menjelaskan fadhilahnya. Untuk itu, ketika Anda menghadiri majlis ta’lim bersegeralah merapat dan mendekat ke penceramah. Yang sering terjadi sekarang ini, mereka tidak merapat mendekat ke penceramah melainkan duduk di bagian belakang padahal di bagian depan masih kosong.
k. Tidak menyuruh seseorang untuk berdiri lalu menempati tempatnya
Di dalam interaksi sosial, kita dituntut saling mengerti dan saling memahami. Jauhkan sikap egois. Contoh: Ada seseorang baru datang sementara tempat sudah penuh. Maka siapapun yang telah mendapatkan tempat harus saling berlapang dada untuk memberikan tempat baginya. Bisa dengan saling bergeser sedikit. Dengan demikian, orang yang baru datang tadi bisa mendapatkan tempat tanpa dia menyuruh orang lain berdiri untuk dia tempati dan tanpa membikin risau orang-orang yang telah mendapatkan tempat. Inilah akhlak yang mulia. Disebutkan di dalam Hadits,
عن جابر رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: لا يُقيمنَّ أحدُكم أخاه يوم الجمعة، ثم ليُخالِف إلى مَقْعَده فيقعد فيه، ولكن يقول: افسَحوا (رواه مسلم)
“Dari Jabir radiallahu anhu, dari Nabi shalallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: Janganlah seseorang menyuruh saudaranya berdiri (dari tempat duduknya) pada hari Jum’at, untuk dia menempatinya lalu duduk di situ. Tetapi hendaklah yang semestinya dia katakan adalah ‘lapangkanlah'” (HR. Muslim)
i. Jika mengantuk, maka bergeserlah dari tempatnya
Upayakan tidak mengantuk ketika menghadiri shalat Jum’at. Caranya dimulai dengan tidak begadang di malam hari lalu menghadiri shalat Jum’at dengan tekad yang kuat untuk mengagungkan ibadah yang diadakan sepekan sekali ini. Jika terpaksa tetap saja mengantuk maka bergeserlah dari tempatnya. Disebutkan di dalam Hadits,
عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إذا نعَس أحدُكم يوم الجمعة فليتحوَّل من مجلسه ذلك (رواه الترمذى)
“Dari Ibnu Umar radiallahu anhuma, dari Nabi shalallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: Jika seseorang di antara kalian mengantuk pada hari Jum’at maka bergeserlah dari tempat duduknya” (HR. At-Tirmidzi)
m. Shalat Tahiyyatul Masjid
Janganlah kita meninggalkan shalat tahiyyatul masjid setiap kali masuk masjid. Meskipun khotib sedang berkhutbah Jum’at. Disebutkan di dalam Hadits Jabir bin Abdullah radiallahu anhu,
جَاءَ رَجُلٌ والنبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَخْطُبُ النَّاسَ يَومَ الجُمُعَةِ، فَقالَ: أصَلَّيْتَ يا فُلَانُ؟ قالَ: لَا، قالَ: قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ (رواه البخارى ومسلم)
“Seseorang datang sementara Nabi shalallahu alaihi wasallam sedang berkhutbah di hadapan manusia pada hari Jum’at. Beliaupun bertanya: Apakah kamu sudah shalat, wahai Fulan? Dia menjawab: Belum. Beliau bersabda: Bangunlah lalu shalatlah dua rakaat!” (HR. Bukhari dan Muslim)
Perhatikanlah Hadits di atas. Nabi shalallahu alaihi wasallam menghentikan khutbah untuk menegur seseorang yang sebelum duduk tidak shalat tahiyyatul masjid. Coba kita pahami sejenak, apa hukum khutbah Jum’at? Hukumnya wajib, bukan? Apa hukum shalat tahiyyatul masjid? Hukumnya sunnah, bukan? Jadi, Nabi menghentikan khutbah Jum’at yang hukumnya wajib demi memerintahkan tahiyyatul masjid yang hukumnya sunnah. Ini menunjukkan betapa shalat tahiyyatul masjid sangat ditekankan.
Ketika memasuki masjid, tepat ketika adzan berkumandang apakah mendengarkannya terlebih dahulu kemudian shalat ataukah langsung shalat tanpa mendengarkanya terlebih dahulu? Jawabannya dirinci sebagai berikut:
a. Untuk adzan Jum’at setelah imam naik mimbar, maka langsung shalat tidak menunggu untuk mendengarkan adzan terlebih dahulu. Karena mendengarkan adzan hukumnya sunnah, sementara mendengarkan khutbah hukumnya wajib.
b. Untuk selain adzan Jum’at, maka menunggu untuk mendengarkan adzan terlebih dahulu sebelum melakukan shalat.
Judul Buku: Nine On Jum’at
Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)
