A. Penyebutan nama Al-Warits (الْوارث) di dalam Nash
وَإِنَّا لَنَحْنُ نُحْىِ وَنُمِيتُ وَنَحْنُ ٱلْوَٰرِثُونَ (الحجر:23)
وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِى فَرْدًا وَأَنتَ خَيْرُ ٱلْوَٰرِثِينَ (الأنبياء:89)
وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِن قَرْيَةٍ بَطِرَتْ مَعِيشَتَهَا فَتِلْكَ مَسَٰكِنُهُمْ لَمْ تُسْكَن مِّن بَعْدِهِمْ إِلَّا قَلِيلًا وَكُنَّا نَحْنُ ٱلْوَٰرِثِينَ (القصص: 58)
B. Makna Al-Warits (الْوارث) Secara Bahasa
Az-Zajaj berkata: Al-Warits (الْوارث) maknanya setiap yang tersisa ketika yang lainnya sirna. Ia adalah isim fa’il dari (ورث – يرث).
C. Makna Al-Warits (الْوارث) Sebagai Nama Allah
Ath-Thobari rahimahullah menjelaskan tentang ayat Al-Qur’an “وَنَحْنُ ٱلْوَاٰرِثُونَ “ artinya adalah Kami mewarisi bumi dan siapapun yang di atasnya di mana ketika sudah datang ajalnya Dia ta’ala mematikan semua mereka maka tidak tersisa siapapun kecuali Dia ta’ala.
Az-Zajaji berkata: Allah ta’ala mewarisi seluruh makhluk, karena Dia ta’ala sendiri yang ada setelah Allah binasakan mereka seluruhnya. Dia lah Dzat yang kekal sementara yang lainnya fana. Sebagaimana firman-Nya:
إِنَّا نَحْنُ نَرِثُ ٱلْأَرْضَ وَمَنْ عَلَيْهَا وَإِلَيْنَا يُرْجَعُونَ (مريم :40)
Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang-orang yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kamilah mereka dikembalikan (QS. Maryam: 40)
Al-Khuthobi berkata: Al-Warits (الْوارث) maknanya Dzat Yang kekal setelah binasanya seluruh makhluk, Dzat Yang mengambil kembali seluruh kerajaan dan apapun setelah binasanya seluruh makhluk. Dia lah Dzat Yang Kekal, Raja atas segala apapun, dan Dia mewariskannya kepada siapa yang Dia kehendaki dan Dia sukai.
D. TADABBUR
1. Berupaya keras di dunia ini untuk ber-taqorrub kepada Allah azza wa jalla agar meraih Surga-Nya dengan ilmu yang manfaat dan amal sholih. Dengan ini, manusia akan meraih Surga yang Allah azza wa jalla tidak mewariskannya kecuali kepada muttaqin. Dan, untuk meraih derajat muttaqin haruslah dengan ilmu manfaat dan amal sholih. Disebutkan di dalam Al-Qur’an:
تِلْكَ ٱلْجَنَّةُ ٱلَّتِى نُورِثُ مِنْ عِبَادِنَا مَن كَانَ تَقِيًّا (مريم:63)
Itulah Surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa (Maryam: 63)
وَٱجْعَلْنِى مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ ٱلنَّعِيمِ (الشعراء:85)
“(Nabi Ibrahim berdoa) : Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai Surga yang penuh kenikmatan” (QS. Asy-Syu’ara: 85)
2. Tidak tertipu terhadap kuatnya kebatilan dan perlombaannya dengan berbagai kemewahan di muka bumi ini karena Allah azza wa jalla mengetahui persis tentang mereka dan pada saatnya nanti akan Dia azza wa jalla binasakan lalu diwariskannya untuk hamba-hamba-Nya yang beriman. Disebutkan di dalam Al-Qur’an:
وَأَوْرَثْنَا ٱلْقَوْمَ ٱلَّذِينَ كَانُوا يُسْتَضْعَفُونَ مَشَٰرِقَ ٱلْأَرْضِ وَمَغَٰرِبَهَا ٱلَّتِى بَٰرَكْنَا فِيهَا وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ ٱلْحُسْنَىٰ عَلَىٰ بَنِى إِسْرَٰءِيلَ بِمَا صَبَرُوا وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوا يَعْرِشُونَ (الأعراف:137)
“Dan Kami wariskan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bagian Timur bumi dan bagian Baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka” (QS. Al-A’rof: 137)
قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ ٱسْتَعِينُوا بِٱللَّهِ وَٱصْبِرُوا إِنَّ ٱلْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ (الأعراف:128)
Musa berkata kepada kaumnya: “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; diwariskan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-A’rof: 128)
وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِى ٱلزَّبُورِ مِن بَعْدِ ٱلذِّكْرِ أَنَّ ٱلْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِىَ ٱلصَّٰلِحُونَ (الأنبياء: 105)
Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tetapkan dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini diwariskan hamba-hamba-Ku yang saleh (QS. Al-Anbiya’: 105)
3. Tidak tertipu dengan dunia dan berhati-hati dari mencintainya karena ending-nya adalah kebinasaan dan tidaklah tersisa kecuali apa yang telah disiapkan oleh seorang hamba untuk bekal di hari Kiamat. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:
يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِى مَالِى – قَالَ – وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ (صحيح مسلم)
“Anak manusia mengucapkan: “Hartaku, hartaku”, kemudian beliau bersabda: “Wahai anak manusia, Apakah kamu memiliki dari hartamu melainkan yang kamu telah makan lalu habis, atau yang kamu telah pakai lalu rusak, atau yang telah kamu sedekahkan maka itu yang tersisa” (HR. Muslim)
4. Bergantung dan tawakkal hanya kepada Allah azza wa jalla saja di dalam penjagaan harta dan anak ketika kita meninggal dunia. Dia lah sebaik-baik Dzat Yang disandari.
