Solusi Investasi Akhirat Anda

Nama Allah Al-Haqq (ٱلْحَقِّ) 

A. Penyebutan Nama Allah Al-Haqq (ٱلْحَقِّ) di dalam Nash

● Penyebutannya di dalam Al-Qur’an

ثُمَّ رُدُّوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ مَوْلَىٰهُمُ ٱلْحَقِّ ۚ أَلَا لَهُ ٱلْحُكْمُ وَهُوَ أَسْرَعُ ٱلْحَٰسِبِينَ (الأنعام: 62)

Kemudian mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah bahwa segala hukum (pada hari itu) kepunyaan-Nya. Dan Dialah Pembuat Perhitungan yang paling cepat.

فَذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمُ ٱلْحَقُّ ۖ فَمَاذَا بَعْدَ ٱلْحَقِّ إِلَّا ٱلضَّلَٰلُ ۖ فَأَنَّىٰ تُصْرَفُونَ (يونس: 32)

فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ ٱلْمَلِكُ ٱلْحَقُّ (طه:114)

يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ ٱللَّهُ دِينَهُمُ ٱلْحَقَّ وَيَعْلَمُونَ أَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْحَقُّ ٱلْمُبِينُ (النور: 25)

● Penyebutannya di dalam Hadits

اللَّهمَّ لَكَ الحمدُ أنتَ ربُّ السَّمواتِ والأرضِ ومن فيهنَّ، ولَكَ الحمدُ أنتَ قيُّومُ السَّمواتِ والأرضِ ومن فيهنَّ، ولَكَ الحمدُ أنتَ نور السَّمواتِ والأرضِ ومن فيهنَّ ، أنتَ الحقُّ، وقولُكَ الحقُّ، ووعدك حقٌّ، والجنَّةُ حقٌّ، والنَّارُ حقٌّ، والنَّبيُّونَ حقٌّ، ومحمَّدٌ حقٌّ، اللَّهمَّ لَكَ أسلمتُ، وبِكَ آمنتُ، وعليْكَ توَكَّلتُ، وإليْكَ أنَبتُ، وبِكَ خاصَمتُ، وإليْكَ حاكمتُ، فاغفِر لي ما قدَّمتُ وما أخَّرتُ، وما أسررتُ وما أعلَنتُ، أنتَ إلَهي لاَ إلَهَ إلَّا أنتَ (رواه البخارى ومسلم عن ابن عباس)

B. Makna Al-Haqq (ٱلْحَقِّ) Secara Bahasa

ٱلْحَقِّ  kebalikannya الْبَاطِلُ   

Al-Azhari berkata: artinya perkara yang wajib atau perkara yang benar adanya.

C. Makna Al- Haqq (ٱلْحَقِّ) Sebagai Nama Allah ta’ala

Ibnu Jarir rahima hullah berkata tentang ayat, 

وَرُدُّوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ مَوْلَىٰهُمُ ٱلْحَقِّ (يونس: 30)

“Dan mereka dikembalikan kepada Allah Pelindung mereka yang sebenarnya (QS. Yunus: 30)

Orang-orang musyrik ketika itu pasti kembali kepada Allah ta’ala, tidak diragukan keniscayaannya. Bukan kembali kepada apapun yang mereka dahulu menyembahnya. “hilanglah dari mereka sembahan-sembahan yang dahulu mereka ada-adakan(QS. Al-An’am: 24). Berhala-berhala  yang mereka klaim sebagai serikat bagi Allah ta’ala dan sebagai perantara yang mendekatkan diri mereka kepada Allah kini terang-benderang di hadapan mereka akan kebatilannya. 

Al-Khuthobi berkata: Al-Haqq (ٱلْحَقِّ) adalah Dzat yang kahanan dan keberadaannya pasti. Segala sesuatu yang kahanan dan keberadaannya tidak disangsikan maka dia itu haqq (benar adanya)[selesai].

Kiamat disebut al-Haqqoh (ٱلْحَآقَّةُ) karena terjadinya tidak mustahil, sesuatu yang pasti, niscaya, benar adanya dan tidak disangsikan.

Ibnul Atsir berkata Al-Haqq (ٱلْحَقِّ) artinya yang benar secara pasti dan niscaya Wujud-Nya dan ketuhanan-Nya. Dan, Al-Haqq (ٱلْحَقِّ) itu kebalikannya al-bathil (الْبَاطِلُ) [selesai]

Syaikh As-Sa’di berkata: Dia Al-Haqq (ٱلْحَقِّ) pada dzat-Nya dan sifat-Nya. Dzat-Nya itu wajib ada dengan sifat-Nya yang sempurna. Ada-Nya itu suatu yang lazim. Tidak akan berwujud apapun yang berwujud tanpa-Nya. Dia lah Dzat yang ada dan kekal dengan keagungan, kebesaran dan kesempurnaan sifat. Dia Dzat yang ada nan kekal dan diketahui kebaikan-Nya. Firman-Nya haqq, perbuatan-Nya haqq, perjumpaan dengan-Nya haqq, para Rasul-Nya haqq, Kitab-Kitab-Nya haqq, agama-Nya haqq, peribadahan hanya kepada-Nya semata tanpa sekutu bagi-Nya adalah haqq, dan segala sesuatu dinisbatkan kepada-Nya itu haqq

ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلْبَٰطِلُ وَأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْكَبِيرُ(الحج:62)

“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar” (QS. Al-Hajj: 62)

وَقُلِ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ ۖ فَمَن شَآءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَآءَ فَلْيَكْفُرْ(الكهف: 29)

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir” (QS.Al-Kahfi: 29)

فَمَاذَا بَعْدَ ٱلْحَقِّ إِلَّا ٱلضَّلَٰلُ  (يونس: 32)

“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan” (QS. Yunus: 32)

وَقُلْ جَآءَ ٱلْحَقُّ وَزَهَقَ ٱلْبَٰطِلُ ۚ إِنَّ ٱلْبَٰطِلَ كَانَ زَهُوقًا (الإسراء: 81)

“Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap” (QS. Al-Isra’: 81)

Ibnul Qoyyim rahima hullah berkata: Dzat-Nya haqq, Firman-Nya -Nya haqq, janji-Nya haqq, perintah-Nya haqq, perbuatan-Nya haqq, balasan-Nya pada hari Kiamat sebagai konsekuensi dari syariat dan agama-Nya haqq. Barangsiapa yang mengingkari sebagian dari perkara-perkara tersebut maka berarti ia tidak mensifati Allah dengan al-haqq secara mutlak dari berbagai aspek. Jadi, dari aspek apapun Dia itu haqq yang tentu berkonsekuensi pada haqq-nya syariat, agama, pahala dan dosa-Nya [selesai].

D. Tadabbur

1. Allah Al-Haqq; wujud-Nya Haqq sementara keseluruhan makhluk sirna dan fana. Allah Al-Haqq lah Yang Maha Hidup tidak akan mati. Dia tidak ngantuk ataupun tidur, capek ataupun letih.

2. Nama dan Sifat-Nya Haqq. Tidak terdapat padanya kebatilan baik pada perbuatan, kekuasaan, keperkasaan ataupun kebijaksanaan-Nya.

3. Dia Al-Haqq dalam rububiyyah dan uluhiyyah-Nya. Pada semua penciptaan, Dia lah Penciptanya. Pada semua peribadahan, Dia lah yang Haqq untuk diibadahi. 

4. Seluruh perbuatan-Nya Haqq tidak ada yang sia-sia. Tidak kosong dari hikmah. Tidak kebetulan. Syariat-Nya haq, ketetapan-Nya haq, balasan-Nya haq. Allah menurunkan kitab dengan haq, mengutus Rasul-Nya dengan haq, menciptakan langit dan bumi dengan haq, mengkisahkan kisah-kisah dengah haq, berjanji dengan haq tidak menyelisihinya dan pertolongan-Nya untuk para wali-Nya haq. Kebangkitan setelah kematian itu haq, Surga itu haq, Neraka itu haq dan Kiamat itu haq. Semuanya itu haq karena keseluruhan-Nya berasal dari Allah Al-Haqq. Ibnul Qoyyim berkata: “Allah ta’ala menciptakan makhluk-Nya dengan sebab haq untuk tujuan haq. Dia menciptakan seluruh makhluk diliputi dengan haq. Dia Ta’ala sendiri Dzat-Nya al-Haqq maka semua yang berasal dari-Nya itu haq, keberlangsungannya itu haq dan endingnya kepada-Nya itu haq” 

5. Rasa cinta dan pengagungan kita kepada Allah ta’ala harus ditingkatkan. Bagaimana tidak? Dia adalah Dzat wujud-Nya haq, sebagai pencipta yang haq, sesembahan yang haq. Seluruh apapun selain-Nya itu diciptakan. Apapun yang berwujud bergantung kepada wujud-Nya ta’ala. Karena Dia lah yang Al-Awwal, tidak ada apapun yang mendahului-Nya. Dari-Nya lah segala sesuatu bisa berwujud, berbilang dan berkembang. Adapun selain-Nya hanyalah sebagai sebab adanya makhluk yang berasal dari Penyebab adanya sebab tersebut, tidak lain adalah Dia Al-Haqq.

Jelaslah, Dia azza wa jalla dengan sifat yang demikian itu sudah seharusnya dicintai dan diagungkan. Dipersembahkan peribadahan hanya kepada-Nya dengan tidak dipersekutukan dengan suatu apapun. 

6. Merasakan kenikmatan yang besar atas hidayah beragama Islam. Agama yang haq dari Dzat Al-Haqq. Maka, siapapun yang diberi hidayah ini dan istiqomah di atasnya niscaya jiwanya tenang, dadanya lapang, dan selamat dari kegoncangan dan kebingungan. 

7. Allah Al-Haqq telah menjelaskan mengenai perbandingan ihwal orang-orang yang memegangi haq yang kuat, dan kokoh nan teguh dengan ihwal orang musyrik ahli kebatilan yang goyah, bimbang dan bingung dalam firman-Nya:

ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا رَّجُلًا فِيهِ شُرَكَآءُ مُتَشَٰكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِّرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا ۚ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (الزمر: 29)

Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (QS. Az-Zumar: 29)

أَفَمَن يَعْلَمُ أَنَّمَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ ٱلْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰٓ ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ (الرعد: 19)

Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran (QS. Ar-Ra’d: 19)

فَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يَهْدِيَهُۥ يَشْرَحْ صَدْرَهُۥ لِلْإِسْلَٰمِ ۖ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُۥ يَجْعَلْ صَدْرَهُۥ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى ٱلسَّمَآءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ ٱللَّهُ ٱلرِّجْسَ عَلَى ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ (الأنعام: 125)

Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman (QS. Al-An’am: 125)

8. Ridho dan merasa tenang ketika ditimpa musibah yang menyedihkan. Karena kita mengimani bahwa itu terjadi dengan ilmu Allah ta’ala, kehendak dan hikmah-Nya. Musibah tersebut haq tidak ada kebatilan padanya, tidak ada kesia-siaan, dan tidak karena hawa.

Seorang hamba ketika benar-benar mengetahui dan meyakini bahwa setiap apapun yang datangnya dari Allah ta’ala itu haq, adil dan rahmat akan menjadikannya tenang dan menyerahkannya kepada Pemiliknya Al-Haqq, al-Hakim, al-‘Alim yang pada akhirnya dia menerimanya dengan ridho sepenuhnya dan di tengah-tengah manusia dia tampak sebagai orang yang tidak tertimpa suatu beban apapun.

9. Mempercayai sepenuhnya tanpa keraguan sedikitpun terhadap setiap perkara ghoib yang Dia ta’ala beritakan. Sebagaimana Dia ta’ala telah firmankan,

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ ٱللَّهِ حَدِيثًا (النساء: 87)

“Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allah?” (QS. An-Nisa: 87)

10. Setelah suatu perkara kebenarannya jelas dan gamblang bagi seseorang maka dia harus tawadhu’ dan tunduk serta mentaatinya. Jangan sekali-kali menolaknya. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda,

الكِبْرُ بَطَرُ الحَقِّ، وغَمْطُ النَّاسِ (رواه مسلم عن عبدالله بن مسعود)

“Sombong itu menolak kebenaran dan meremehkan orang lain” (HR. Muslim dari Abdullah Ibnu Mas’ud)

Ibnul Qoyyim rahima hullah berkata: Sebagaimana orang yang tawadhu’ karena Allah akan Dia ta’ala angkat derajatnya, maka demikian pula orang yang sombong tidak mau tunduk di hadapan kebenaran akan Dia ta’ala rendahkan. Barangsiapa yang  tidak mau tunduk kepada kebenaran yang berasal dari anak kecil atau orang yang tidak disukainya maka berarti ia orang sombong kepada Allah ta’ala karena Allah lah pemilik kebenaran. Firman-Nya haq dan agama-Nya haq, Haq adalah sifat-Nya, ia berasal dari-Nya dan kembali kepada-Nya. Jadi, jika ada orang yang menolak kebenaran maka berarti dia takabbur kepada Allah ta’ala. Allahu A’lam [selesai}

11. Hendaknya kita meningkatkan tawakkal kita. Karena siapa saja  berada di atas haq yang berarti berada di atas agama Allah ta’ala maka dia akan yakin dan bersandar kepada Allah ta’ala bahwa Dia ta’ala akan menolong agama-Nya dan menolong para wali-Nya. Disebutkan dalam firman-Nya;

فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۖ إِنَّكَ عَلَى ٱلْحَقِّ ٱلْمُبِينِ (النمل: 79)

“Sebab itu bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata (QS. An-Naml: 79).

12. Mengimani nama Al-Haqq sebagai nama Allah ta’ala di mana semua yang berasal dari-Nya adalah haq; Surga-Nya haq, Neraka-Nya haq, dan perjumpaan dengan-Nya haq maka seseorang akan menguatkan persiapan-persiapan-Nya demi berjumpa dengan-Nya.

13. Dijumpai di dalam Al-Qur’an nama Al- Haqq (ٱلْحَقِّ) bersanding dengan nama Al-Malik (الْمَلِكُ) sebagaimana di dalam surat Al-Mu’minun: 116 dan surat Thoha: 114,

فَتَعٰلَى اللّٰهُ الْمَلِكُ الْحَقُّۚ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيْمِ (المؤمنون: 116)

Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenarnya; tidak  ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Tuhan (yang memiliki) ‘Arsy yang mulia (QS. Al-Mu’minun: 116).

Jika kita perhatikan ayat sebelumnya (Al-Mu’minun: 115)  bahwa Allah ta’ala tidak menciptakan manusia untuk suatu kesia-siaan. Jelaslah bahwa Dia sebagai Raja yang Haqq (الْمَلِكُ الْحَقُّۚ) tidak mungkin menciptakan sesuatu asal menciptakan saja tanpa adanya suatu  hikmah. Dia tidak berbuat di dalam kerajaan-Nya kecuali semuanya mengandung hikmah; tidak ada kesia-siaan dan tidak ada kezhaliman. 

فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ ٱلْمَلِكُ ٱلْحَقُّ ۗ وَلَا تَعْجَلْ بِٱلْقُرْءَانِ مِن قَبْلِ أَن يُقْضَىٰٓ إِلَيْكَ وَحْيُهُۥ ۖ وَقُل رَّبِّ زِدْنِى عِلْمًا (طه:114)

Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. (QS. Thoha: 114)

Adapun ayat yang kedua ini maksudnya adalah Nabi shalallahu alaihi wasallam dilarang terburu-buru untuk menangkap ayat-ayat yang dibaca oleh Jibril karena khawatir terlewatkan dalam menghapalnya. Maka, Allah ta’ala melarang beliau yang demikian itu. Melainkan beliau harus menyimaknya hingga selesai terlebih dahulu. Tidak perlu terburu-buru karena khawatir akan terlewatkan dalam menghapalnya di mana Allah ta’ala akan menghimpunkan keseluruhannya di dalam dada beliau karena beliau lah Raja yang Haq (الْمَلِكُ الْحَقُّۚ).

14. Dijumpai di dalam Al-Qur’an nama Al-Haqq (ٱلْحَقِّ) bersanding dengan nama Al-Mubin (ٱلْمُبِين) yang artinya menjelaskan, sebagaimana disebutkan dalam surat An-Nur: 25,

يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ ٱللَّهُ دِينَهُمُ ٱلْحَقَّ وَيَعْلَمُونَ أَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْحَقُّ ٱلْمُبِين  (النور:52)

Ayat ini menunjukkan, nanti pada hari Kiamat betapa mereka akan menyaksikan secara langsung bahwa adzab Allah ta’ala adalah benar adanya. Semuanya itu telah Allah ta’ala jelaskan ketika di dunia tetapi mereka mendustakannya. Dia lah Allah Dzat Yang Maha Benar lagi Maha Menjelasskan (الْمَلِكُ الْحَقُّۚ). Allahu A’lam

Judul Buku: Memahami Al-Asma’ul Husna Jilid 9

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)