Solusi Investasi Akhirat Anda

Nama Allah Al-Hakiimu

A. Penyebutan Al-Hakiimu (الحَكِيْمُ) di dalam Nash

Penyebutannya di dalam Al-Qur’an sebanyak 91 kali. Di antaranya:

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ  [الحديد: 1]

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللَّهَ وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا [الأحزاب: 1]

قَالُوا كَذَلِكِ قَالَ رَبُّكِ إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ  [الذاريات: 30]

B. Makna Al-Hakiimu (الحَكِيْمُ) Secara Bahasa

Disebutkan di dalam Lisanul ‘Arab, kurang lebihnya adalah: Al-Hakiimu (الحَكِيْمُ) dengan pola Al-Fa’iilu  (الفَعِيْلُ) maknanya sama dengan Al-Haakimu (الحَاكِمُ) dengan pola (الفَاعِلُ) yaitu pelaku/seseorang yang memutuskan sesuatu karena memang dia ahli/pakar dalam hal itu. Ia juga bermakna pemilik hikmah yaitu pengetahuan tentang detailnya sesuatu serinci-rincinya dan sedalam-dalamnya)

C. Makna Al-Hakiimu (الحَكِيْمُ) Sebagai Nama Allah

Maksudnya, Allah adalah Dzat Yang Maha Memutuskan segala sesuatu. Juga, Dia adalah Dzat Pemilik Hikmah. Ini menunjukkan kesempurnaan-Nya. Tidak ada yang salah di dalam perbuatan-Nya, penciptaan-Nya, perintah-Nya dan ketetapan-Nya. Karena ilmu-Nya meliputi segala sesuatu sedetail-detailnya dan serinci-rincinya. Segala apa pun ditempatkan pada tempat yang semestinya dan tidak ada kesia-siaan dari suatu apapun yang diciptakan-Nya.

Tidak ada siapapun yang bisa menolak ketetapan-ketetapan-Nya, sebagaimana tidak ada siapapun yang bisa menandingi ketetapan-ketetapan-Nya. Dia lah Tuhan yang semua makhluk harus menghambakan diri kepada-Nya.

Ibnul Qoyyim mengatakan: Allah memiliki hikmah yang sempurna di dalam setiap apa yang Dia takdirkan, berupa kebaikan dan keburukan, ketaataan dan kemaksiatan. Akal tidak bisa menjangkau setiap hikmah dari apa yang Dia ciptakan dan tetapkan

D. TADABBUR

Renungan kita atas pemahaman nama Allah Al-Hakiimu (الحَكِيْمُ) adalah:

  1. Allah lah Dzat yang berhak atas penetapan hukum-hukum keseluruhannya, baik hukum kauniyyah al-Qodariyyah (kausalitas), hukum diniyyah syar’iyyah (syariat), dan hukum jazaiyyah (balasan atas suatu tindakan dan perbuatan)
  2. Allah lah Dzat Yang memiliki hikmah yang sempurna di dalam penciptaan-Nya, perintah-Nya, dan syariat-Nya. Semuanya mengandung kemaslahatan dan tiada satu pun yang merupakan kesia-siaan.
  3. Kita bisa semakin menyadari bahwa apa pun yang ada pada kita; sehat, sakit, kaya, miskin, kelapangan, kesempitan, kemudahan, kesulitan dan lain-lain semuanya mengandung kemaslahatan dan tidak ada yang merupakan kesia-siasaan. Sehingga kita pun senantiasa berada di dua kondisi yaitu; syukur dan sabar
  4. Kita bisa semakin menyadari bahwa apa pun yang Allah perintahkan atau larang, yang Dia sunnahkan, atau mubah atau makruh semuanya itu mengandung kemaslahatan dan tidak ada satupun yang salah.
  5. Kita menjadi tergugah untuk memiliki karakter ini. Yaitu, menjadi orang yang di dalam berbuat, bertindak dan memutuskan senantiasa mengupayakan dengan penuh  hikmah.

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafizhahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa THAYBAH Surabaya)