Setelah itu Allah ta’ala menjelaskan bahwa perumpamaan orang yang dibawakan kitab Taurat lalu tidak dipahaminya adalah seperti keledai membawa kitab. Justru, orang Yahudi lah yang keadaannya demikian sehingga mereka diumpamakan dengan keledai.
Dan, kelanjutan surat Al-Maidah: 18 yang telah disebutkan di atas merupakan bantahan atas klaim mereka.
وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ
“Yahudi dan Nashroni berkata: kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya” Jangan lupa, perhatikanlah kelanjutan ayat ini!
Kelanjutannya adalah:
قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ (المائدة: 18)
“Katakanlah: “Maka mengapa Allah ta’ala menyiksa kalian karena dosa-dosa kalian?” (Kalian bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kalian adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu)” (QS. Al-Maidah: 18)
Padahal kenyataannya kalian wahai orang Yahudi telah diadzab di dunia sebelum di akhirat nanti. Jadi, klaim bahwa mereka kekasih Allah ta’ala dan sebaik-baiknya manusia yang diciptakan di dunia selama-lamanya tidaklah betul. Demikian penjelasan tentang sesatnya ideologi mereka.
Ideologi ini menjadikan mereka berbuat secara membabi buta dalam segala aspeknya. Jangankan dalam masalah bisnis dan perdagangan, dalam masalah nyawa dan darah pun tidak segan-segan mereka tumpahkan. Lihat berapa jumlah jiwa-jiwa yang tak berdosa dari penduduk Palestina yang mereka bunuh? Bukan ratusan lagi bahkan ribuan.
Orang mukmin bukanlah orang kafir. Maka, janganlah sekali-kali ia tertempel sifat orang kafir yang akhirnya menyerupai mereka. Orang mukmin itu sangat takut kepada adzab Allah. Karena khouf adalah konsekwensi keimanan. Sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an,
فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (آل عمران: 175)
“Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian orang-orang beriman” (QS. Ali Imron: 175)
وَٱلَّذِينَ هُم مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ (المعارج: 27)
“Dan orang-orang yang takut terhadap adzab Tuhannya” (QS. Al-Ma’arij: 27)
Barangsiapa yang takut kepada Allah ta’ala niscaya bersegera berbuat ketaatan dan meninggalkan kemungkaran. Disebutkan di dalam Hadits,
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من خاف أدلج، ومن أدلج بلَغ المنزل، ألا إن سلعة الله غالية، إلا إن سلعة الله الجنة (أخرجه الترمذي عن أبى هريرة)
Siapa yang takut, hendaklah ia berangkat pagi-pagi, dan siapa yang berangkat pagi-pagi akan sampai ke tujuannya. Ketahuilah, dagangan Allah ta’ala itu mahal harganya. Ketahuilah, sesungguhnya dagangan Allah ta’ala adalah Surga (HR. At-Tirmidzi dari Abu Hurairah)
Maknanya barangsiapa yang takut tidak sampai tujuan maka hendaklah berangkat dari awal sejak pagi buta. Barangsiapa yang melakukan demikian niscaya sampai tujuan. Nabi shalallahu alaihi wasallam memaksudkan barangsiapa yang bersegera berbuat ketaan dan bersungguh-sungguh dalam ibadah niscaya akan segera meraih maghfirah dan rahmat dari Allah ta’ala.
Syaikh As-Sa’di rahima hullah mengatakan: Sesuai kadar keimanan seorang hamba, maka dengan kadar seperti itu pula rasa takutnya kepada Allah ta’ala. Ibnul Qoyyim rahima hullah berkata: Khouf itu tanda benarnya keimanan seseorang, dan hengkangnya dia dari hati adalah tanda hengkangnya keimanan darinya.
Selain khouf terpatri pada hati orang mukmin, demikian juga roja’ yang dengannya seseorang senatiasa mengharapkan perjumpaan dengan-Nya. Maka dia berhati-hati di dalam setiap tindak-tanduk di dunia ini dan mengupayakan agar semuanya masuk dalam katagori amal sholih. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,
فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا (الكهف: 110)
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya” (QS. Al-Kahfi: 110)
Perbedaan antara orang muslim dengan orang kafir atau orang muslim yang taat dengan pendosa adalah sebagaimana disebutkan oleh Abdullah Ibnu Mas’ud radiallahu anhu,
إن المؤمن يرى ذنوبه كأنه قاعد تحت جبل يخاف أن يقع عليه، وأن الفاجر يرى ذنوبه كذباب مرَّ على أنفه ….
“Orang yang beriman melihat dosa-dosanya seakan-akan ia sedang duduk di bawah gunung yang ia takut gunung itu akan menimpanya.” Orang jahat melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang terbang melewati hidungnya…”
Kenapa demikian? Ibnu Abi Jamroh mengatakan: Hal itu disebabkan karena hati seorang mukmin bercahaya. Jika dirinya melihat sesuatu yang dengannya terangnya cahaya hati menjadi redup, maka ia merasakannya sebagai problem besar. Hikmah dari perumpamaan dosa dengan gunung adalah bahwa perkara-perkara apapun yang bisa membinasakan ketika menimpa seseorang maka dia masih ada kemungkinan menyelamatkan diri. Lain halnya dengan gunung, kalau dia menimpa seseorang maka dia sama sekali tidak bisa menyelamatkan diri. Jadi, diri seorang mukmin didominasi oleh khouf dan muroqobah disebabkan kuatnya keimanan. Bahkan dengan iman dan amal yang dimilikinya tersebut, ia tidak merasa aman dari adzab. Amalan yang telah banyak dilakukannya dipandangnya hanyalah sedikit, dan jika kenyataannya telah banyak amalan yang dilakukan maka ia tetap mengkhawatirkan mengenai diterima atau tidaknya.
Sedangkan orang kafir atau muslim “abangan”, mereka sangat memandang remeh suatu dosa. Dosa tidak dirasakan sebagai penyebab kebinasaan. Dosa sangat dipandangnya sepele, hanya sekedar seperti lalat yang hinggap di hidung lalu ditepis begitu saja. Ibnu Abi Jamroh berkata: Hal itu disebabkan karena hatinya gelap sehingga perbuatan dosa baginya ringan. Ketika dia terjerumus di dalam maksiat lalu dinasehati dengan enteng tanpa beban mengatakan, “ini gampang… memang kenapa?” Jadi, Atsar ini menunjukkan, orang yang tidak ada rasa takut kepada Allah ta’ala atau kadarnya kecil maka akan mudah dituntun kepada kejahatan.
Berikut ini ungkapan para ulama tentang khouf dan roja’:
- Khouf itu mengkhawatirkan pertanggungjawaban atas setiap hela nafas.
- Khouf itu kuatnya ilmu terhadap setiap pemberlakuan hukum-hukum
- Khouf itu larinya hati ketika merasakan telah bersinggungan dengan sesuatu yang makruh
- Khouf itu kekhawatiran akan terjerumusnya jiwa di dalam perkara yang dilarang.
- Khouf yang terpuji itu khouf yang menghalangi seseorang dari perkara-perkara yang Allah ta’ala haramkan. Jika tidak demikian, maka ia bukan khouf yang terpuji.
- Abu Hafsh Umar bin Maslamah al-Hadad an-Nisabury berkata: Khouf itu pelita di dalam hati. Dengannya terlihatlah kebaikan dan keburukan yang ada di sekitarnya. Setiap orang yang takut dari sesuatu ia akan lari darinya, kecuali Allah. Anda ketika takut kepada-Nya justru akan lari menuju-Nya. Jadi, orang yang takut kepada Allah ta’ala adalah orang yang lari menuju-Nya.
- Ibrahim bin Sufyan berkata: Jika khouf menempati hati, maka ia membakar setiap relung syahwat dan mengusir duniawi darinya.
- Abu Utsman al-Hiriy berkata: benarnya khouf itu wara’ (berhati-hati) dari perkara dosa secara zhahir dan batin.
- Syaikhul Islam berkata: Khouf yang terpuji itu khouf yang mengahalangi Anda dari perkara yang Allah ta’ala haramkan.
- Roja’ itu alat kendali yang mengendalikan hati dengan perjalanan yang bagus menuju negeri pujaan, yaitu Allah ta’ala dan negeri Akhirat.
- Roja’ itu perasaan gembira di dalam merespon keutamaan-keutamaan yang Allah ta’ala sediakan dan berlapang hati untuk bisa meraihnya.
- Roja’ itu optimis terhadap kemurahan Allah ta’ala.
- Roja’ itu memandang luasnya rahmat Allah ta’ala.
- Imam al-Baihaqi berkata dalam kitab “Asy-Syu’ab”:
“قال بعضُ الحكماء في مناجاته: إلهي، لو أتانِي خبرٌ أنَّك غيرُ قابل دعائي، ولا سامع شكْواي، ما تركت دعاءَك ما بلَّ ريقٌ لساني، أين يذهب الفقيرُ إلا إلى الغني؟ وأين يذهب الذَّليل إلا إلى العزيز؟ وأنت أغنى الأغنياء، وأعزُّ الأعزاء يا رب”.
“Sebagian ahli hikmah berkata di dalam munajatnya, “ Ya Allah Tuhanku! Kalau datang kepadaku pemberitaan bahwa Engkau tidak mengabulkan do’aku dan tidak mendengar pengaduanku, maka sekali-kali saya tidak meninggalkan do’a kepada-Mu selama ludah lisanku basah. Kemanakah hamba yang fakir akan pergi kalau tidak ke Dzat Yang Maha Kaya? Kemanakah hamba yang rendah akan pergi kalau tidak ke Dzat Yang Maha Perkasa? Engkaulah Dzat Yang Maha Kaya tidak butuh kepada apapun. Engkaulah Dzat Yang Maha Perkasa dari apapun yang perkasa”
- Abdullah Ibnu Mubarok rahima hullah berkata:
جئتُ إلى سفيان الثَّوري عشيَّة عرفة، وهو جاثٍ على ركبتيه، وعيناه تهملان، فقلتُ له: مَن أسوأ هذا الجمْع حالاً؟ قال: الذي يظنُّ أنَّ الله لا يغفِر لهم.
“Saya datang kepada Sufyan Ats-Tsauri pada sore hari di Arofah. Sementara beliau sedang bersimpuh di atas kedua lututnya dan kedua matanya meneteskan air mata. Saya bertanya kepadanya: Siapa yang paling buruk keadaannya dari antara orang banyak ini? Dia menjawab: Orang yang berpikir bahwa Allah ta’ala tidak akan mengampuninya” [selesai].
Para Ulama telah bersepakat bahwa roja’ tidak ada artinya kalau tidak dibarengi dengan amal shaleh. Orang yang terus berbuat dosa dan tidak melakukan amal shaleh karena menyandarkan rahmat Allah ta’ala dan husnu-zh-zhon kepada-Nya maka sama sekali tidak bisa disebut ROJA’ melainkan kebodohan dan kedunguan. Rahmat Allah ta’ala itu dekat kepada para muhsinin (orang-orang yang berbuat kebaikan), bukan kepada orang-orang yang selalu melampaui batas dalam kelalaian.
Untuk itu, Ibnul Qoyyim rahima hullah mengatakan di dalam al-Jawab al-Kaafi tentang orang yang terus berbuat dosa dengan menyandarkan kepada rahmat Allah:
“وهذا الضَّرب في النَّاس قد تعلَّق بنصوص الرَّجاء، واتَّكل عليها، وتعلَّق بكلتا يديه، وإذا عوتب على الخطايا والانْهماك فيها، سرد لك ما يحفظه من سعة رحْمة الله، ومغفرته، ونصوص الرجاء، وللجُهَّال من هذا الضَّرب من النَّاس في هذا الباب غرائب وعجائب”. اهـ.
“Ada golongan dari manusia yang menyandarkan kepada nash-nash roja’. Mereka berdalil sepenuhnya kepada dalil-dalil tersebut. Ketika mereka ditegur tentang dosa-dosa dan kemaksiatan yang mereka perbuat, mereka akan menyebutkan kepada Anda seluruh dalil yang dihafalnya tentang luasnya rahmat Allah ta’ala dan ampunan-Nya dan nash-nash tentang roja’. Ini adalah golongan manusia bodoh dan aneh dalam bab ini” [selesai]. Lebih lanjut beliau mengatakan:
“فحُسْن الظَّنِّ إنَّما يكون مع انعِقاد أسباب النَّجاة، وأمَّا على انعقاد أسباب الهلاك، فلا يتأتَّى إحسان الظَّنِّ.
“Husnu-zh-zhonn dikatakan benar jika dibarengi dengan sebab-sebab kesuksesan. Adapun jika dibarengi sebab-sebab kehancuran maka tidak bisa disebut husnu-zh-zhonn”
D. Nash Tentang Khouf dan Roja’
- Ada banyak ayat penyebutan khouf didampingkan dengan roja’, di antaranya:
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ ءانَاء ٱلَّيْلِ سَاجِداً وَقَائِماً يَحْذَرُ ٱلآخِرَةَ وَيَرْجُواْ رَحْمَةَ رَبّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُو ٱلألْبَابِ (الزمر: 9)
(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) Akherat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakal lah yang dapat menerima pelajaran (QS.Az-Zumar: 9)
Di dalam Tafsir as-Sa’di, tentang ayat ini Allah ta’ala mempertentangkan antara orang musyrik dan muslim ‘abid (ahli ibadah). Muslim yang ‘abid ini selain disebutkan sebagai orang yang memahami tentang ilmu syar’i (hukum-hukum syari’at) dan ilmu jaza’i (ihwal hari Kiamat) juga disematkan padanya dua pilar ibadah yang mengkondisikan ubudiyah-nya yaitu, takut akan pembalasan di Akherat (khouf) dan mengharapkan rahmat Allah (roja’).
Judul Buku: Mahabbah, Khouf, dan Roja’
Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

