Solusi Investasi Akhirat Anda

Fithrah Suci di Hari ‘Idul Fithri

Bagaimanakah kondisi mobil setelah diservis dan diperbaiki di sebuah bengkel? Bukankah mesin jadi halus…body mulus… enak dipandang dan nyaman dipakai? Demikian juga seorang muslim ketika keluar dari “bengkel” ramadhan. Ia telah membersihkan hatinya sehingga tidak ada karat kedengkian, kesombongan yang nempel. la telah membersihkan lisan, telinga dan seluruh anggota tubuhnya dari berbagai kotoran maksiat. Akhirnya seorang muslim tersebut menjadi sosok yang membanggakan bagi fithrah dirinya dan manusia yang ada di sekitarnya. Akhirnya tercapailah apa yang diharapkan dari setiap muslim. Secara pribadi, menjadi individu yang muttaqin (bertakwa) selaras dengan tujuan puasa itu sendiri. Allah ‘azza wa jalla berfirman: “ Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan kepada kalian untuk berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa”. (QS. Al-Baqarah: 183). Secara sosial, akan menentramkan lingkungannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Muslim adalah seseorang yang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya” (HR. Bukhari Muslim)

Allahu Akbar Allahu Akbar Laa ilaaha illa Allah Allahu Akbar… Allahu Akbar wa lillahi alhamd. Takbir menggema di mana-mana sejak satu Syawwal mulai waktu maghrib, yang juga berarti berakhirnya puasa Ramadhan. Kaum muslimin terus mengagungkan Allah ‘azza wa jalla. Namun, kebesaran Tuhan tidak cukup hanya ramai dilafadzkan saat malam takbiran. Lebih dari itu, memaknai takbir juga harus disertakan dengan niat sungguh dalam hati dan menyadari betul bahwa hanya Allah saja yang Mahabesar dan Dia harus selalu dilibatkan dalam segala perkara duniawi. Seluruh apapun yang ada; harta, kedudukan, jabatan, ilmu, popularitas dan lain sebagainya adalah kecil, maka tidak bisa terlepas dari Allah yang Maha Besar. Orang bijak bilang: “Biarlah kehilangan sesuatu daripada kehilangan Allah” jangan dibalik, “Biarlah kehilangan Allah daripada kehilangan sesuatu”.

Makna takbir yang sesungguhnya juga melahirkan rasa syukur. Syukur kepada al Khalik melahirkan dua pengaruh kebaikan, pertama: bagi individu itu sendiri. la mewujudkan syukur dalam segala kondisi, lapang maupun sempit. Memang demikian seharusnya. Ketika lapang dilafadz kan dengan “Alhamdulillahi alladzi bi ni’matihi tatimmu ashshalihat”. Ketika sempit dilafadz kan dengan “Alhamdulillah ala kulli haal”. Syukur dengan lafadz berdampak pada keinginan dalam hati untuk tidak berbuat dosa (maksiat) pada-Nya. Sedangkan kedua: kepada sesama makhluk, adalah berupa kepedulian dan kemurahan hati untuk berbagi. Baik berbagi halhal yang bersifat materi maupun nonmateri. Ini tidak saja berlaku bagi orang kaya, tetapi juga orang miskin. Karena dengan rasa syukur, orang miskin yang secara dzahirnya kurang harta tetapi sesungguhnya dia kaya hati. Tetapi tentunya sesuai dengan kondisinya. Orang kaya akan berinfak dengan harta yang jauh lebih banyak daripada orang miskin. Jadi semuanya berinfak, Allah ‘azza wa jalla berfirman ketika menjelaskan cirri-ciri orang bertakwa: (yaitu) orang yang berinfak baik di waktu lapang maupun sempit” (Qs. Ali Imran: 134). Itulah hikmahnya mengapa Ramadhan ditutup dengan pemberian zakat fitrah, sebab ada nilai sosial dalam tiap ibadah yang Allah perintahkan untuk segenap hamba-Nya.

Dianjur kan pelaksanaan shalat idul fithri diundur waktunya. Kenapa? Jawabannya adalah agar orang yang belum berkesempatan membayar zakat di malam harinya bisa melakukannya sebelum shalat ‘id. Di sini ada makna bahwa semua kaum muslimin harus bergembira dengan makanan yang berlimpah, jangan sampai ada yang sedih karena tidak memiliki makanan. Makna ini haruslah berlanjut pada harihari berikutnya, tidak pada saat hari raya saja. Nah, sekarang ini kan masih sering terdengar bahwa orang-orang kaya suka menghamburhamburkan hartanya untuk berekreasi ke berbagai manca negara, negara-negara nonmuslim lagi… padahal kalau mereka mau jalan-jalan ke pelosok-pelosok atau ke kampung-kampung niscaya mereka akan mendapati orangorang yang untuk makan saja susah. Dimanakah fithrah (baca: naluri) mereka?

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafizhahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa THAYBAH Surabaya)