5) حديث أبي رزين – إذا مررت عليهم ( يعني أهل لام عليكم يا أهل القبور من القبور ( فقل : السـ المسلمين والمؤمنين أنتم لنا سلف ونحن لكم تبع وإنا إن شاء الله بكم لاحقون . فقال أبو رزين : يا رسول الله ويسمعون ؟ قال : ويسمعون ولكن لا يستطيعون أن يجيبوا أو لا ترضى يا أبا رزين أن يرد عليك ( بعددهم من ) الملائكة
“Jika kamu melewati mereka (penghuni kubur) katakanlah: Keselamatan semoga ter- curahkan bagi kalian, Wahai penghuni kubur muslim dan mukmin. Kalian para pendahulu dan kami pengikut kalian, insyaAllah kami akan menyusul kalian. Abu Rozin bertanya: Ya Rasulullah, apakah mereka mendengar? Beliau menjawab: Mereka mendengar tetapi tidak bisa menjawab, tidakkah kamu mau wahai Abu Rozin dijawab oleh Malaikat sejumlah mereka (mayat).
ما من أحد يمر بقبر أخيه المؤمن كان يعرفه في الدنيا فسلم عليه إلا عرفه ورد عليه
“Tidaklah seseorang melewati kuburan saudaranya yang mukmin yang dia mengenalinya di dunia lalu mengucapkan salam kepadanya, melainkan dia mengetahuinya dan menjawab salamnya”
عن أبي هريرة أن النبي صلى الله تعالى عليه وسلم وقف على مصعب بن عمير وعلى أصحابه حين رجع من أحد فقال: أشهد أنكم أحياء عند الله تعالى فزوروهم وسلموا عليهم فوالذي نفسي بيده لا يسلم أحد عليهم إلا ردوا عليه إلى يوم القيامة
“Dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di sisi (makam) Mus’ab bin Umair dan kawan-kawannya ketika kembali dari Uhud. Beliau bersabda: Aku bersaksi bahwa kalian hidup di sisi Allah. Ziarahilah mereka dan ucapkanlah salam kepada mereka. Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, tidaklah seseorang mengucapkan salam kepada mereka melainkan mereka akan menjawabnya hingga hari Kiamat”
عَنْ سَعِيدِ بن عَبْدِ اللَّهِ الْأَوْدِيِّ قَالَ: شَهِدْتُ أَبَا أُمَامَةَ وَهُوَ فِي النَّزْعِ فَقَالَ: إِذَا أَنَا مُتْ فَاصْنَعُوا بِي كَمَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَصْنَعَ بِمَوْتَانَا، أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِذَا مَاتَ أَحَدٌ مِنْ إِخْوَانِكُمْ فَسَوَّيْتُم التَّرَابَ عَلَى قَبْرِهِ فَلْيَقُمْ أَحَدُكُمْ عَلَى رَأْسِ قَبْرِهِ ثُمَّ لِيَقُلْ: يَا فُلانَ بن فُلانَةَ فَإِنَّهُ يَسْمَعُهُ وَلَا يُجِيبُ
Dari Said bin Abdullah al-Audi, dia berkata: Aku menyaksikan Abu Umamah ketika naza’ (sakaratul maut) berkata: Jika aku mati, maka lakukanlah terhadapku sebagaimana Rasulullah memerintahkan kita bagaimana kita memperlakukan orang-orang mati. Beliau bersabda: Jika seseorang dari saudara kalian meninggal dunia maka ratakanlah tanah di atas kuburannya. Kemudian seseorang di antara kalian berdiri di atas kepala kuburannya dengan mengatakan: Ya Fulan bin Fulanah. Sesungguhnya dia mendengarkannya tetapi tidak menjawab.
– Ibnul Qoyyim berkata: Cukuplah dalam masalah ini orang yang mengucapkan salam kepada mayat disebut za-ir (pengunjung). Jika mereka (para mayat) tidak merasakan ucapan salam tersebut, tentu penyebutan za-ir tidak ada artinya. Sesungguhnya orang yang dikunjungi jika tidak mengetahui atau merasakan kunjungan orang yang mengunjunginya maka tidak bisa dikatakan dia mengunjunginya. Inilah pengertian ziarah yang dipahami oleh seluruh umat. Demikian pula ucapan salam kepada mereka, jika salam ditujukan kepada orang yang tidak mengetahui atau merasakan musallim (orang yang mengucapkan salam) maka mustahil. Salam, perkataan, dan seruan ini adalah karena adanya orang yang mendengar dan diajak berbicara, dan dia menjawabnya meskipun musallim tidak mendengar jawabannya.
– Syaikh Asy-Syinqithi berkata: Jika ketika itu (para pengantar meninggalkan kuburan) mayat mendengar suara sandal mereka, tentunya untuk mendengar ucapan yang jelas dengan talqin dari para pemilik sandal tersebut lebih jelas lagi.
– Ibnul Qoyyim berkata: Seluruh umat dari timur dan barat, sebagai umat yang paling sempurna akalnya dan paling luas pengetahuannya telah menjalankan tradisi berupa mengajak bicara orang mati. Mereka memandangnya baik dan tidak seorangpun yang mengingkarinya. Bahkan ini kebiasaan sejak dahulu hingga kini. Ini menunjukkan orang mati yang diajak bicara mendengar. Seandainya tidak, niscaya sama saja mengajak bicara dengan tanah, kayu, batu dan sesuatu yang tidak ada. Jika hal ini hanya dipandang baik oleh satu orang saja tentu orang-orang berakal pasti mencelanya.
3. Khusus orang mati dari kalangan para wali bisa mendengar secara mutlak bahkan mengatur alam semesta
Ini adalah pandangan ahli bid’ah, ahli khurofat, quburiyyun (pengagung kuburan) dan kelompok-kelompok sesat. Pemahaman mereka tidak perlu dilirik karena tidak didasarkan pada al-Qur’an dan Hadits tetapi semata-mata hanya didasarkan pada hawa nafsu dan khurofat mereka. Di antara ucapan-ucapan mereka;
– Ahmad Al-Hanafi Al-Barilawy: Sesung- guhnya seluruh alam semesta berada di bawah kekuasaan para wali. Mereka melihat alam semesta seperti seseorang di antara kalian yang melihat ke telapak tangannya. Mereka selalu hadir dan menyaksikan semua titik di alam semesta ini. Jika seseorang menyeru dan ber-istighotsah kepada mereka dari tempat manapun dia berada di permukaan bumi ini dekat atau jauh, niscaya mereka mendengarkan semua suaranya. Berkuasa atas alam semesta, mengaturnya, mendengar, mengetahui segala sesuatunya dan senantiasa hadir di setiap tempat serta memantau semua alam semesta adalah tsabit (suatu keniscayaan) bagi para wali.
– Sebagian mereka mengatakan: Para wali adalah anak-anak Allah, mereka mengetahui perkara yang tampak dan yang ghoib.
Lihatlah contoh bait-bait syair mereka ketika menyeru wali untuk meminta pertolongan;
عباد الله رجال الله #اغيثونا لاجل الله
Wahai hamba-hamba Allah, tolonglah kami karena Allah
وكونوا عوننا الله # عسى نحظى بفضل الله
Jadilah kalian penolong kami karena Allah, semoga tercapai hajat karena anugrah Allah
على الكافى صلاة الله على الشا في سلام الله
Semoga rahmat Allah tetap atas Nabi yang mencukupi pengikutnya, Semoga salam Allah tetap atas Nabi-Nya yang menyembuhkan penyakit
بمحي الدين خلصنا # من البلواء يا الله
Ya Allah dengan perantaraan Muhyiddin (Syaikh Abdul Qodir) selamatkanlah kami dari segala bala
ویا اقطاب و یا انجاب # وياسادات ويا احباب
Wahai para wali Qutub, para wali yang dermawan wahai para sayid dan wahai para habib
وانتم يا اولى الالباب #تعالوا وانصر والله
Wahai engkau sekalian para wali yang berakal sempurna, kemarilah dan tolonglah kami karena Allah
سألناكم سألنكم #وللزلفي رجوناكم.
Dengan perantaraan engkau kami memohon, dengan perantaraan engkau kami memohon dengan mengharap doamu, kami dekat dengan Allah
وفى امر قصدناكم # فشدوا عزمكم الله
Kami bermaksud dengan perantaraan engkau untuk mencapai tujuan, karena itu ko- kohkanlah kami karena Allah
فیاربی بساداتی # تحقق لي اشارتی
Wahai Tuhan kami dengan perantaraan yang menjadi wali-wali kokohkanlah petunjukmu kepadaku
عسى تأتى بشارتي # ويصفو وقتنا الله
Semoga lekas datang kebahagiaan kami, dan semoga waktu kami bersih untuk beribadah karena Allah
بكشف الحجب عن عينى # ورفع البين من بينى
Dengan terbukanya tabir penutup mata kami, dan hilangkan penghalang antara kami dan Allah
وطمس الكيف والاين # بنور الوجه يا الله
Dan terhapusnya keraguan bagaimana dan dimana Allah, dengan cahaya Dzat Engkau ya Allah
صلاة الله مولانا # على من بالهدى جانا
Wahai Tuhan kami semoga kesejahteraan Allah, dilimpahkan kepada orang yang datang dengan membawa petunjuk untuk kami
ومن بالحق اولانا # شفيع الخلق عند الله
Yaitu Nabi Muhammad yang memberikan Islam kepada kami, dan memberi syafaat kepada para makhluk di sisi Allah
Bantahan untuk ahli bid’ah, ahli khurofat, quburiyyun dan yang semacamnya:
– Mereka meyakini bahwa alam semesta di bawah kekuasaan para wali. Dan mereka pun menyeru para wali yang dalam keyakinan mereka sebagai para penjaga kutub, sebagaimana dalam bait syair mereka di atas:
ویا اقطاب و یا انجاب # وياسادات ويا احباب
Wahai para wali Qutub, para wali yang dermawan wahai para sayid dan wahai para habib.
Ini menyelisihi Al-Qur’an. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
قُلْ لا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ ( الأنعام : ٥٠)
“Katakanlah (Muhammad), aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang ghoib” (QS. Al-An’am: 50)
Jelaslah, dalam ayat ini bahwa Nabi Muhammad sebagai khalilullah (kekasih Allah) tidak memiliki kekuasaan atas langit dan bumi. Lalu, bagaimana dengan selainnya? Kekuasaan hanyalah milik Allah:]
لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا فِيهِنَّ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (المائدة: ١٢٠)
“Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. Al-Maidah: 120)
– Mereka meyakini bahwa para wali mengetahui perkara ghoib, sehingga bisa diseru kapan saja dan di mana saja. Ini menyelisihi firman Allah ‘Azza wa Jalla:
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا الله (النمل: ٦٥)
“Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghoib, kecuali Allah” (QS. An-Naml: 65)
Nabi Muhammad saja tidak mengetahui perkara ghoib kecuali kalau diizinkan:
عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا () إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ [الجن: ٢٦-٢٧]
“Dzat Yang Mengetahui perkara ghoib, Dia tidak memperlihatkan perkara ghoib kepada siapa pun kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai” (QS. Al-Jinn: 26-27)
Judul buku : MAYAT MENDENGAR ORANG HIDUP?
Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)
