Solusi Investasi Akhirat Anda

Ukhuwwah Islamiyyah (Bag. 6 Menanyakan kabar wanita miskin yang sakit berkepanjangan)

  • Menanyakan kabar wanita miskin yang sakit berkepanjangan

إنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ كانَ يعودُ مَرضى مساكينِ المسلمينَ وضعفائِهِم ويتبعُ جَنائزَهُم ولا يصلِّي عليهِم غيرُهُ، وأنَّ امرأةً مسكينةً من أَهْلِ العوالي طالَ سقمُها فَكانَ رسولُ اللَّهِ -صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ- سألَ عَنها من حضرَها مِن جيرانِها وأمرَهُم أن لا يدفِنوها إن حدثَ بِها حدثٌ فيصلِّي عليها فتوُفِّيَت تلكَ المرأةُ ليلًا، واحتملوها فأتَوا بِها معَ الجَنائزِ أو قالَ موضعَ الجَنائزِ عندَ مسجدِ رسولِ اللَّهِ -صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ- ليصلِّي عليها رسولُ اللَّهِ صلَّى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ كما أمرَهُم. فوجدوهُ قد نامَ بعدَ صلاةِ العشاءِ فَكَرِهوا أن يُهَجِّدوا رسولَ اللَّهِ -صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ- من نومِهِ فصلَّوا عليها، ثمَّ انطلقوا بِها فلمَّا أصبحَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ سألَ عنها من حضرَهُ من جيرانِها فأخبروهُ خبرَها وأنَّهم كرِهوا أن يُهَجِّدوا رسولَ اللَّهِ صلَّى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ لَها فقالَ لَهُم رسولُ اللَّهِ صلَّى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ : ولمَ فعلتُمُ ؟ انطلِقوا. فانطلقوا معَ رسولِ اللَّهِ -صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ- حتَّى قاموا علَى قبرِها فصفُّوا وراءَ رسولِ اللَّهِ صلَّى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ كما يصفُّ للصَّلاةِ علَى الجنازةِ فصلَّى عليها رسولُ اللَّهِ صلَّى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ وَكَبَّرَ أربعًا كما يُكَبِّرُ علَى الجَنائزِ(رواه بعض أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم |المحدث : الألباني | خلاصة حكم المحدث : إسناده صحيح )

Rasulullah shallahu’alaihi wasallam biasa mengunjungi kaum muslimin yang miskin dan para dhu’afa dari kalangan mereka. Beliau juga mengantarkan jenazah mereka. Pernah beliau menyolati jenazah mereka tanpa didampingi orang lain. Suatu ketika ada seorang wanita miskin dari penduduk ‘Awali yang sakit berkepanjangan. Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bertanya tentangnya kepada para tetangganya dan berpesan agar mereka tidak memakamkannya jika terjadi sesuatu padanya hingga beliau menyolatinya. Dia meninggal di suatu malam. Mereka mengurus (jenazah)nya dan membawanya bersama para jenazah atau periwayat mengatakan ke tempat (disemayamkannya) jenazah di samping masjid Rasulullah agar beliau menyolatinya sebagaimana pesan beliau kepada mereka. Mereka mendapati beliau telah tidur setelah shalat Isya. Mereka tidak mau mengagetkan Rasulullah shallahu’alaihi wasallam dengan membangunkan dari tidurnya. Maka, mereka pun menyolatinya lalu membawanya pergi.

Keesokan harinya Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bertanya kepada seseorang yang hadir dari kalangan tetangganya. Mereka memberitahukan kabarnya kepada beliau dan keengganan mereka untuk membangunkan beliau untuk menyolatinya
Beliau bertanya: Kenapa tidak kalian lakukan? Ayo berangkat! Lalu mereka berangkat bersama Rasulullah shallahu’alaihi wasallam hingga berdiri di sisi kuburannya. Mereka membentuk shoff di belakang Rasulullah sebagaimana shoff shalat jenazah. Beliau menyolatinya dengan empat kali takbir atas jenazah
(Hadits riwayat sebagian Shahabat. Syaikh Al-Albani: Isnadnya shahih)

F. UKHUWWAH ISLAMIYYAH MENGHARUSKAN SESAMA MUSLIM UNTUK SALING MEMPERHATIKAN DALAM KEMASLAHATAN DUNIAWI YANG BERSIFAT FANA, LALU BAGAIMANA TERHADAP KEMASLAHATAN UKHROWI YANG BERSIFAT KEKAL ABADI? TENTU LEBIH DITEKANKAN LAGI

a. Kuatkan Ukhuwwah untuk meraih Golongan yang Selamat
Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda bahwa Ummat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan. Ungkapan “tujuh puluh” dalam bahasa Arab menunjukkan sangat banyak. Yang langsung masuk Surga hanya satu golongan. Selebihnya akan mampir ke Neraka dulu. Karena mereka tidak menjalankan keberagamaan sebagaimana keberagamaan para Sahabat. Berikut ini lafazh Haditsnya,

وتفترقُ أمَّتي على ثلاثٍ وسبعينَ ملَّةً ، كلُّهم في النَّارِ إلَّا ملَّةً واحِدةً ، قالوا : مَن هيَ يا رسولَ اللَّهِ ؟ قالَ : ما أَنا علَيهِ وأَصحابي (رواه الترمذى عن عبد الله بن عمرو)

“Ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya di Neraka kecuali satu golongan. Mereka (para Sahabat) bertanya: Siapa dia (satu golongan) itu ya Rasulullah? Beliau menjawab: Sesuatu yang saya dan para Sahabat saya berada di atasnya” (HR. At-Tirmidzi dari Abdullah bin Amr)
Tidak ada ummat Islam yang berada di Neraka selama-lamanya. Ketika Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda hanya satu golongan yang di Surga selebihnya di Neraka, maka maksudnya adalah mampir Neraka terlebih dahulu sebelum masuk Surga.
Beliau shallahu’alaihi wasallam menjelaskan bahwa syarat untuk masuk Surga langsung dengan tidak mampir terlebih dahulu ke Neraka adalah menjalankan keberagamaan sebagaimana para Sahabat. Sebagaimana juga ditegaskan di dalam Al-Qur’an dengan redaksi ancaman,

وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ ٱلْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِۦ جَهَنَّمَ ۖ وَسَآءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami akan masukkannya ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (QS. An-Nisa: 115)
Di dalam ayat ini yang dimaksud “orang-orang mukmin” adalah para Sahabat radhiallahu’anhum.
Untuk itu ukhuwwah Islamiyyah mengharuskan setiap muslim agar bersinergi di dalam dakwah sesuai manhaj para Sahabat. Ajaklah mereka agar :

  • beraqidah sebagaimana beraqidahnya para Shahabat
  • beribadah sebagaimana peribadahan para Shahabat
  • Bermuamalah sebagaimana praktek dan pemahaman para Shabat.

Dengan ini, kita telah melakukan konsekwensi ukhuwwah Islamiyyah secara totalitas. Tidak saja saling peduli dalam kemaslahatan duniawi tetapi juga hal yang lebih penting yaitu kemaslatan ukhrowi. Karena duniawi bersifat fana sementara ukhrowi bersifat kekal.


b. Men-Tahdzir Ahli Bid’ah dan memperingatkan Ummat darinya bagian dari Ukhuwaah Islamiyyah
Bid’ah adalah perkara baru dalam agama baik dalam hal pemahaman atau amaliyah yang sangat dikecam oleh syareat. Ia perusak agama. Nabi sering sekali mengingatkan para Shahabat dari masalah bid’ah di dalah khutbah hajah sebelum memulai majlis. Sabda beliau,

أما بعدُ فإنَّ أصدقَ الحديثِ كتابُ اللهِ ، وإنَّ أفضلَ الهديِ هديُ محمدٍ ، وشرَّ الأمورِ مُحدثاتُها ، وكلَّ مُحدَثةٍ بدعةٌ ، وكلَّ بدعةٍ ضلالةٌ ، وكلَّ ضلالةٍ في النَّارِ (رواه أحمد وألنسائى عن جابر بن عبد الله)

Amma ba’du, Sesungguhnya sebaik-baiknya ucapan adalah al-Qur’an. Sesungguhnya sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seburuk-buruknya perkara adalah yang diada-adakan. Perkara yang diada-adakan adalah bid’ah. Setiap bid’ah adalah sesat. Dan, setiap kesesatan tempatnya di Neraka” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i dari Jabir Abdullah)
Perhatikanlah di dalam Hadits ini, “setiap bid’ah adalah sesat” yang menunjukkan umum. Artinya bid’ah apapun tanpa dikecualikan baik yang merupakan kesyirikan atau kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari Islam ataupun tidak. Untuk itu banyak sekali statemen para ulama yang mengecam bid’ah dan mengingatkan ummat darinya dan ahlinya. Di antaranya statemen Imam Malik,

مَن ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة، فقد زعم أن محمد ﷺ خَان الرسالة، لأن الله ﷻ يقول : “الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ” فما لم يكن يومئذ ديناً، فلا يكون اليوم ديناً

“Barangsiapa yang membuat bid’ah di dalam Islam dan memandangnya baik, maka berarti dia telah menuduh Muhammad shallahu’alaihi wasallam berkhianat terhadap risalah, karena Allah ta’ala telah berfirman: الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ (pada hari ini telah Aku nyatakan sempurna bagi kalian agama kalian), maka apa yang pada saat itu bukan agama hari inipun bukan agama
Jadi, men-tahdzir ahli bid’ah dan memperingatkan ummat darinya adalah bagian dari ukhuwwah Islamiyyah demi meraih keselamatan di Akhirat. Bahkan para ulama menjelaskan, saking pentingnya perkara ini agar ummat selamat tidak terjerumus bahwa diperbolehkan menyebutkan keburukan-keburukan ahli bid’ah tanpa menyebutkan kebaikannya. Di antara statemen para ulama:
a. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahimahullah berkata: Men-jarh periwayat Hadits dengan haq dan membid’ahkan ahli bid’ah adalah wajib. Lebih lanjut beliau mengatakan: Pemuka-pemuka bid’ah yang selalu berkata dengan perkataan-perkataan yang menyelisihi Kitab dan Sunnah, maka jelaskanlah ihwal mereka dan peringatkan ummat dari mereka. Ini hukumnya wajib dengan kesepakatan kaum muslimin. Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanya manakah yang lebih Anda sukai orang yang shalat, puasa dan i’tikaf ataukah orang yang berbicara men-tahdzir ahli bid’ah? Beliau menjawab: Jika seseorang shalat, puasa dan i’tikaf maka itu hanya untuk dirinya. Tetapi seseorang yang berbicara men-tahdzir ahli bid’ah itu bermanfaat untuk kaum muslimin [selesai].


b. Syaikh Bin Baz rahimahullah ditanya: Apakah manhaj Ahulussunnah wal jamaah di dalam me-naqd (kritik) terhadap ahli bid’ah dan kitab-kitab mereka wajib menyebutkan kebaikan-kebaikannya juga ataukah cukup menyebutkan keburukan-keburukannya saja? Beliau menjawab: Yang dikenal dari ucapan para ahli ilmu adalah mengkritik keburukannya untuk tujuan men-tahdzir dan menjelaskan kesalahan-kesalahannya. Menyebutkan kebaikan itu bagus, tetapi di sini bukan tempatnya…. [selesai].

c. Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan rahimahulah ditanya setelah menjelaskan tentang jama’ah-jama’ah: Wahai Syaikh, apakah kita men-tahdzir mereka dengan menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka? Belau menjawab: Kalau kamu menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka berarti Anda menyeru untuk menerima dakwah mereka. Tidak, Janganlah Anda sebutkan kebaikan-kebaikan mereka. Cukuplah Anda sebutkan kesalahan-kesalahan mereka…. [selesai].

d. Syaikh Abdu-s-Salam bin Salim As Suhaimi di dalam kitabnya “Kun Salafiyyan ‘ala-l-Jaaddah” mengatakan: Orang yang memperhatikan kitab-kitab para ulama niscaya akan mendapati pembahasan tentang tahdzir terhadap bid’ah dan ahlinya. Dan, tidak disebutkan di dalamnya para ulama tersebut menyertakan penyebutkan kebaikan-kebaikan ketika men-tahdzir mereka atas keburukan dan kesesatannya. Silahkan bisa dilihat beberapa kitab:

  1. kitab Imam Ahmad dan putranya, Abdullah,
  2. kitab Imam Bukhari “Kholqu Af’aali-l- ‘Ibad”,
  3. kitab al-Khollal dan Ibnu Khuzaimah di dalam kitab-kitab as-Sunnah dan Tauhid
  4. kitab Ibnu Baththoh “Syarh dan Ibanah”,
  5. kitab al-Lalika-I “Syarhu I’tiqodi Ushuuli Ahli-s-Sunnah”,
  6. kitab al-Baghowi “Muqoddimah Syarhu-s- Sunnah”,
  7. muqoddimah Ibnu Majah
  8. kitab Abu Daud “As-Sunan
  9. kitab Abu-l-Qosim at-Taymiy “al-Hujjah fi Bayani-l-Mahajjah
  10. al-Ashbahani
  11. Silahkan lihat juga kitab-kitab karya Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah, Ibnu-l-Qoyyim, Imam Muhammad bin Abdul Wahhab. Perhatikan juga bagaimana sikap mereka di dalam mu’amalah dengan ahli bid’ah.
Jadi, tidaklah benar orang yang mengatakan “Sudahlah yang penting sama-sama mulim kita kuatkan persatuan. Tidak perlu merasa benar sendiri dengan mengoreksi aqidah dan ibadah mulim lainnya”

SUNGGUH INI STATEMEN YANG BERBAHAYA DAN MENJERUMUSKAN

G. PENUTUP
Semoga Allah ta’ala memberikan taufiq kepada semua ummat Islam sehingga bisa memahami konsekwensi dari ukhuwwah Islamiyyah yang totalitas yaitu ukhuwwah yang mendatangkan kemaslahatan dunia dan Akherat sekaligus.

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Judul buku : UKHUWWAH ISLAMIYYAH

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)