Skip to main content

Solusi Investasi Akhirat Anda

Pembatal-Pembatal Pahala Bagian 4

Yang menguatkan juga bahwa sedekah adalah bukti keimanan yaitu manusia sangat cinta terhadap harta yang didapatkannya. Sehingga manusia punya sifat dasar tidak ingin berpisah dengan harta yang dia miliki. Hanya keimanan yang kuat yang bisa melawan hal ini. Begitu besarnya cinta manusia terhadap harta, sampai-sampai Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menyebut harta sebagai fitnah terbesar bagi umatnya. Beliau shalallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ

“Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah (ujian), dan fitnah umatku adalah pada masalah harta.” (HR. Al Bukhari)

Dalam hadits lainnya, Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam juga bersabda:

لَا يَـجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالْإِيْمَانُ فِـيْ قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا.

“Tidak akan pernah berkumpul antara kekikiran dan iman di hati seorang hamba selama-lamanya.” (HR. Ahmad II/342)

Namun tatkala seseorang telah memberikan sesuatu kepada orang lain, maka setelahnya ia jangan mempergunakan lidahnya untuk bermaksiat kepada Allah yaitu dengan menyakiti perasaan penerima pemberian. Misalnya dengan ia berkata ‘Bukankah aku telah menolongmu saat engkau terjatuh?’, atau dengan ucapan ‘Bukankah aku telah membantumu?’, atau dengan ucapan-ucapan yang semisal dengan ini. 

Maka itu dalam sebuah ayat, Allah ta’ala telah mengatakan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allâh dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allâh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al Baqarah ayat: 264)

Dalam ayat di atas Allah ta’ala sudah mengatakan bahwasanya mengungkit-ungkit pemberian yang telah dikeluarkan ialah hal yang dapat membatalkan pahala seseorang. Juga di dalam ayat di atas Allah ta’ala menyebutkan 4 perkara yang bisa merusak sedekah:

1. Menyebut-nyebut pemberian.

2. Menyakiti perasaan si penerima pemberian.

3. Memberi karena riya’ (mencari pujian/nama) kepada manusia.

4. Tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian.

Dalam ayat yang lain, Allah ta’ala berfirman:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنّاً وَلا أَذىً لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al Baqarah ayat: 262)

Ibnu Hajar Al Makkiy rahima hullah berkata:

إنَّ الْمَنَّ هُوَ أَنْ يُعَدِّدَ نِعْمَتَهُ عَلَى الْآخِذِ أَوْ يَذْكُرَهَا لِمَنْ لَا يُحِبُّ الْآخِذُ اطِّلَاعَهُ عَلَيْهِ، وَقِيلَ: هُوَ أَنْ يَرَى أَنَّ لِنَفْسِهِ مَزِيَّةً عَلَى الْمُتَصَدَّقِ عَلَيْهِ بِإِحْسَانِهِ إلَيْهِ وَلِذَلِكَ لَا يَنْبَغِي أَنْ يَطْلُبَ مِنْهُ دُعَاءً وَلَا يَطْمَعَ فِيهِ، لِأَنَّهُ رُبَّمَا كَانَ فِي مُقَابَلَةِ إحْسَانِهِ فَيَسْقُطُ أَجْرُهُ

“Al Manna adalah menghitung-hitung pemberiannya (baik yang berupa kebaikan, pertolongan, sedekah dan lain-lain) kepada orang yang menerimanya, atau menceritakan pemberian itu kepada orang lain yang si penerima tidak suka orang itu mengetahuinya. Ada juga yang mengatakan, al manna adalah seseorang (yang telah bersedekah) melihat dirinya memiliki keistimewaan melebihi orang yang menerima sedekah karena dia telah berbuat baik kepadanya. Oleh karena itu tidak pantas orang yang bersedekah meminta doa darinya atau mengharapkannya, karena bisa jadi itu adalah balasan perbuatan baiknya sehingga pahalanya gugur.”

Dari sahabat Abu Dzarr radiallahu anhu, Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:

ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Tiga golongan manusia yang Allah tidak akan mengajak mereka bicara pada hari kiamat, tidak melihat mereka, tidak mensucikan dosanya dan mereka akan mendapatkan siksa yang pedih.”

Abu Dzar berkata lagi: “Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengulanginya sampai tiga kali. Abu Dzar berkata, “Mereka gagal dan rugi, siapakah mereka wahai Rasulullah?”

Beliau shalallahu alaihi wasallam menjawab:

الْمُسْبِلُ، وَالْمَنَّانُ، وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ

“Orang yang melakukan isbal (memanjangkan sarungnya sampai melebihi mata kaki, pent.), orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian, dan orang yang (berusaha) membuat laku barang dagangan dengan sumpah palsu.” (HR. Muslim no: 106)

Bahkan orang yang selalu menyebut-nyebut pemberiannya diancam tidak akan masuk surga, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini:

عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” ثَلَاثَةٌ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ، وَالْمَرْأَةُ الْمُتَرَجِّلَةُ، وَالدَّيُّوثُ، وَثَلَاثَةٌ لَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ: الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ، وَالْمُدْمِنُ عَلَى الْخَمْرِ، وَالْمَنَّانُ بِمَا أَعْطَى 

Dari Salim bin Abdullah (bin ‘Umar), dari bapaknya, dia (‘Abdullah) berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Tiga orang yang Allah ta’ala tidak akan melihat mereka pada hari kiamat: anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang menyerupai laki-laki, dan dayuuts. Tiga orang yang tidak akan masuk surga: anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, pecandu khamr (minuman keras), dan orang yang menyebut-nyebut apa yang dia berikan.” (HR. An Nasa’i no: 2562)

Berdasarkan ayat dan hadits di atas, diantara bentuk dosa dan maksiat lisan adalah suka mengungkit-ungkit pemberian atau sedekah yang telah dia berikan kepada orang lain. Perbuatan ini termasuk dosa besar, karena terdapat ancaman khusus dari syari’at. Ancaman pertama, dibatalkannya pahala (sebagaimana dalam ayat). Juga ancaman yang terdapat dalam hadits. Sehingga disimpulkan bahwa perbuatan tersebut adalah dosa besar sebagaimana kaidah yang disampaikan oleh para ulama bahwa setiap dosa yang memiliki ancaman khusus, maka digolongkan dalam dosa besar.

5. Bermaksiat Tatkala Sendirian

Ada seseorang yang ketika di hadapan orang banyak terlihat sholih. Namun kala sendirian, saat sepi, dan tak ada manusia yang melihat kepadanya maka ia menjadi orang yang menerjang larangan Allah ta’ala.

Inilah yang dapat dilihat dari sebagian orang yang berada di atas muka bumi ini. terutama mereka yang memiliki media sosial yang sangat banyak pada genggamannya. Dahulu mungkin orang kalau hendak bermaksiat, maka dia harus keluar dari rumahnya dan menjajakan uang yang sangat banyak. Namun, pada masa sekarang selama kuota internet ada, baterai hp masih penuh, maka seseorang sangatlah mudah untuk bermaksiat tatkala sendiri. Mulai dari melihat video porno, mendengarkan musik, mendengarkan gossip para pesohor negeri ini, mencaci maki pemerintah, dan sebagainya. 

Kemudian media sosial memiliki sifat yang buruk yaitu bisa menipu karena memang manusia yang menjalankannya. Ketika pada keramaian atau dari sebuah komentarnya di dunia maya, ia bisa berlaku sebagai seorang alim dan shalih. Namun bukan berarti ketika dalam kesepian, ia seperti itu pula. Keadaan semacam itu telah disinggung oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jauh-jauh hari. Dalam sebuah hadis disebutkan:

عَنْ ثَوْبَانَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ : « لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا ». قَالَ ثَوْبَانُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ. قَالَ : « أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا 

Dari Tsauban radiallahu anhu, dari Nabi shalallahu alaihi wasallam ia berkata: “Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.”

Tsauban berkata: “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka pada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka sedangkan kami tidak mengetahuinya.”

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Adapun mereka adalah saudara kalian, kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika bersepian mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat pada Allah.” (HR. Ibnu Majah no: 4245)

Hadits di atas semakna dengan firman Allah ta’ala dalam sebuah ayat:

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا

“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. An Nisa’ ayat: 108)

Maka tengoklah kepada diri kita masing-masing, kita ternyata telah melakukan banyak kemaksiatan tatkala kita sendirian. Kita menerjang larangan-larangan Allah ta’ala tatkala manusia tidak melihat kepada diri kita. Apakah kita lupa bahwasanya Allah ta’ala itu adalah zat yang Maha Melihat? Allah ta’ala berfirman:

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

“Sesungguhnya Allâh telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allâh. Dan Allâh mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allâh Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al Mujadilah ayat: 1)

Maka hendaknya setiap muslim dan Muslimah dia bertakwa kepada Allah dimanapun ia berada. Baik kondisi ramai ataupun sendiri. Sebagian ulama rahima humullah mereka berkata mengingatkan manusia:

إِيَّاكَ أَنْ تَكُونَ عَدُوًّا لِإِبْلِيسَ فِي العَلَانِيَةِ صَدِيقًا لَهُ فِي السِّرِّ

“Jangan sekali-kali engkau menjadi musuh Iblis di hadapan manusia, tetapi menjadi sahabatnya ketika sedang sendirian.”

Seseorang yang memberanikan dirinya bermaksiat kepada Allah ta’ala tatkala sendirian, maka akan tergadailah imannya untuk kenikmatan dan gejolak hasrat yang sesaat saja. Dia lupa, yang ia pertaruhkan adalah kenikmatan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Nikmat yang terus bertambah setiap saatnya serta kekal abadi tiada ujungnya.

Sebaliknya, jadikan kesunyian dan kesendirian kita menjadi momentum untuk mendekatkan diri, bermunajat dan berduaan dengan Allah ta’ala. Bukan justru merobek ketaatan, yang justru akan menghancurkan iman kita setelah kita bersusah payah mendapatkannya. Allah ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ كَبِيْرٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya dengan tanpa melihat-Nya akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Mulk ayat: 12)

Diantara do’a yang dipanjatkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam ialah:

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا

Ya Allah, berikanlah kepada kami rasa takut kepada-Mu sebagai penghalang untuk bermaksiat kepada-Mu, ketaatan kami kepada-Mu sebagai jalan yang menyampaikan kami ke surga-Mu, dan keyakinan kami kepada-Mu sebagai penenang bagi kami atas musibah dunia yang menimpa.” (HR. At Tirmidizi no: 3502)

Judul buku : Pembatal-Pembatal Pahala

Penulis : Ananda Ridho Gusti, S.Pd.I. Hafizhahullah