Solusi Investasi Akhirat Anda

Nama Allah Asy- Syahiid (الشهيد)

A. Penyebutan Asy- Syahiid (الشهيد) di dalam Nash

Di dalam Al-Qu’an, ia disebutkan sebanyak 18 kali. Di antaranya;

مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَآ أَمَرْتَنِى بِهِۦٓ أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ رَبِّى وَرَبَّكُمْ ۚ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَّا دُمْتُ فِيهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِى كُنتَ أَنتَ ٱلرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ (المأئدة: 117)

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱلَّذِينَ هَادُوا۟ وَٱلصَّٰبِـِٔينَ وَٱلنَّصَٰرَىٰ وَٱلْمَجُوسَ وَٱلَّذِينَ أَشْرَكُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ (الحج:17)

لَّٰكِنِ ٱللَّهُ يَشْهَدُ بِمَآ أَنزَلَ إِلَيْكَ ۖ أَنزَلَهُۥ بِعِلْمِهِۦ ۖ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ يَشْهَدُونَ ۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدًا (النساء:166)

B. Makna Asy- Syahiid (الشهيد) secara Bahasa

Disebutkan di dalam Al-Lisan, Ibnu Sayidah berkata: Artinya adalah yang menyaksikan dan mengetahui serta menjelaskannya.

Az-Zajaj berkata: yang menyaksikan dan hadir. Ucapan seseorang: “شهدت به ” artinya saya menyaksikannya. Maksudnya saya menyaksikan di mana saya hadir di situ. Hari Kiamat disebut “ اليوم المشهود “ karena ia tidak mustahil dan diketahui secara pasti akan keniscayaannya.

C. Makna Asy- Syahiid (الشهيد) sebagai nama Allah ta’ala

Tentang ayat,

وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ (المأئدة: 117)

Ath-Thobari berkata: Engkau menyaksikan segala sesuatu, karena bagi-Mu tidak ada sesuatupun yang tersembunyi.

Al-Khuthobi rahima hullah berkata: Dia adalah Dzat yang tidak ada apapun yang ghoib bagi-Nya.

Ibnu Katsir rahima hullah berkata: Allah menyaksikan perbuatan mereka, menjaga / mengawasi perkataan mereka, mengetahui rahasia mereka dan segala apapun yang tersembunyi.

Ibnul Qoyyim rahima hullah berkata: Di antara nama Allah adalah Asy- Syahiid (الشهيد), Dzat yang segala sesuatu tidak ghoib bagi-Nya. Tidak tersembunyi segala apapun di muka bumi meskipun seberat atom. Dia meliputi segala sesuatu serinci-rincinya. 

As-Sa’di rahima hullah berkata: Asy-Syahiid (الشهيد), Dzat yang meliputi segala sesuatu, Dzat yang mendengar segala suara yang terang dan samar, Dzat yang mengetahui segala apapun  yang tersembunyi dan gamblang, kecil dan besar, ilmu-Nya mencakup segala sesuatu pada hamba-Nya segala apa yang mereka perbuat.

D. TADABBUR

1. Dengan memahami makna nama Allah Asy-Syahiid (الشهيد) bahwa Dia Dzat yang meliputi segala sesuatu, Dzat yang mendengar segala suara yang terang dan samar, Dzat yang mengetahui segala apapun  yang tersembunyi dan gamblang, kecil dan besar, serta ilmu-Nya mencakup segala sesuatu pada hamba-Nya apapun yang mereka perbuat, maka hal ini akan menjadikan hati seorang hamba “melek” senantiasa berhati-hati, mawas diri  dan takut kepada Allah ta’ala sehinga tidak akan terlahir darinya ucapan dan perilaku kecuali yang Allah ta’ala ridhoi. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

وَمَا تَكُونُ فِى شَأْنٍ وَمَا تَتْلُوا۟ مِنْهُ مِن قُرْءَانٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ ۚ وَمَا يَعْزُبُ عَن رَّبِّكَ مِن مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِى ٱلسَّمَآءِ وَلَآ أَصْغَرَ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكْبَرَ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ (يونس 61)

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar dzarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh) (QS. Yunus: 61)

2. Dengan memahami makna nama Allah Asy-Syahiid (الشهيد) bahwa Dia Dzat yang Maha Mengetahui secara persis dan detail apa yang kita perselisihkan di dalam muamalah sesama manusia dan nantinya di hari Kiamat akan diadili seadil-adilnya menjadikan kita semakin berhati-hati dalam ber-muamalah. Tidak abai terhadap hak-hak orang lain. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

إِنَّ ٱللَّهَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ (الحج:17)

“Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari Kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu” (QS. Al-Hajj: 17)

3. Persaksian Allah ta’ala adalah setinggi-tingginya persaksian. Allah sebagai Dzat Yang Maha Agung, Maha Tinggi, Maha Kuasa, Maha Besar maka persaksiannya sempurna karena tidak ada yang tersembunyi sedikitpun bagi-Nya. Untuk itu, orang yang mengakui bahwa Allah ta’ala menyaksikan dirinya, maka dia mencukupkan diri dengan-Nya ta’ala tidak perlu mendatangkan persaksian dari yang lain. Perhatikanlah, ketika Nabi berselisih dengan orang-orang musyrik di dalam masalah tauhid dan apa yang didakwahkan Allah ta’ala memerintahkan beliau shalallahu alaihi wasallam untuk mengatakan: 

قُلْ أَىُّ شَىْءٍ أَكْبَرُ شَهَٰدَةً ۖ قُلِ ٱللَّهُ ۖ شَهِيدٌۢ بَيْنِى وَبَيْنَكُمْ ۚ وَأُوحِىَ إِلَىَّ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانُ لِأُنذِرَكُم بِهِۦ وَمَنۢ بَلَغَ ۚ أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ ٱللَّهِ ءَالِهَةً أُخْرَىٰ ۚ قُل لَّآ أَشْهَدُ ۚ قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ وَإِنَّنِى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ (الأنعام: 19)

Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah: “Allah”. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang Al-Quran sampai (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?” Katakanlah: “Aku tidak mengakui”. Katakanlah: “Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)” (QS. A-An’am: 19)

Allah ta’ala telah bersaksi untuk diri-Nya tentang ketauhidan-Nya sebagaimana dalam firman-Nya,

شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ (أل عمران: 18)

“Allah ta’ala bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Dia” (QS. Ali Imron: 18)

Tentang ayat ini Ibnul Qoyyim rahima hullah berkata: Ayat ini mengandung makna sebesar-besar dan seagung-agungnya persaksian. Yaitu persaksian Allah ta’ala yang menunjukkan juga besar dan agungnya perkara yang dipersaksikan” [selesai]

4. Allah ta’ala bersaksi tentang benarnya apa yang disampaikan oleh Nabi-Nya. Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya adalah firman-Nya dan Hadits sebagai penjelasnya adalah berdasarkan wahyu bukan dari hawa-nya sendiri. Disebutkan di dalam Al-Qur’an, 

هُوَ ٱلَّذِىٓ أَرْسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلْهُدَىٰ وَدِينِ ٱلْحَقِّ لِيُظْهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ ۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدًا (الفتح:28)

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi” (QS.Al-Fath: 28).

لٰكِنِ اللّٰهُ يَشْهَدُ بِمَآ اَنْزَلَ اِلَيْكَ اَنْزَلَه بِعِلْمِه وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ يَشْهَدُوْنَۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًاۗ (النساء:166)

Akan tetapi, Allah bersaksi atas apa (Al-Qur’an) yang telah diturunkan-Nya kepadamu (Nabi Muhammad). Dia menurunkannya dengan ilmu-Nya. (Demikian pula) para Malaikat pun bersaksi. Cukuplah Allah menjadi saksi (QS. An-Nisa: 166)

Judul Buku: Memahami Al-Asma’ul Husna Jilid 11

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)