A. Penyebutan Nama Allah Al-Mu’thii (المُعْطِى), Al-Wahhab (الوَهَّابُ), dan Ar-Rooziq (الرازق) di dalam Nash
1. Nama Allah Al-Mu’thii (المُعْطِى)
Ia tidak disebutkan di dalam Al-Qur’an, tetapi di dalam Hadits, yaitu:
عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَمِعَ مُعَاوِيَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ ، وَاللَّهُ الْمُعْطِى وَأَنَا الْقَاسِمُ ، وَلاَ تَزَالُ هَذِهِ الأُمَّةُ ظَاهِرِينَ عَلَى مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِىَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ (رواه البخارى)
2. Nama Allah Al-Wahhab (الوَهَّابُ)
Ia disebutkan di dalam Al-Qur’an sebanyak tiga kali, yaitu:
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ[آل عمران: 8]
أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَحْمَةِ رَبِّكَ الْعَزِيزِ الْوَهَّابِ[ص: 9]
قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ[ص: 35]
3. Nama Allah Ar-Rooziq (الرَّازِقُ)
Ia disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak lima kali dengan jamak (plural) dan sighoh isim tafdhil (komperatif). Di antaranya:
قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِنْكَ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ [المائدة: 114]
أَمْ تَسْأَلُهُمْ خَرْجًا فَخَرَاجُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ [المؤمنون: 72]
قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ (الجمعة: 11)
Adapun penyebutannya di dalam Hadits,
عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ النَّاسُ يَا رَسُولَ اللَّهِ غَلاَ السِّعْرُ فَسَعِّرْ لَنَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّازِقُ وَإِنِّى لأَرْجُو أَنْ أَلْقَى اللَّهَ وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يُطَالِبُنِى بِمَظْلَمَةٍ فِى دَمٍ وَلاَ مَالٍ(رواه أبو داود)
B. Makna Nama Allah Al-Mu’thii (المُعْطِى), Al-Wahhab (الوَهَّابُ), dan Ar-Rooziq (الرازق) Secara Bahasa
– Kata Al-Mu’thii (المُعْطِى) adalah isim fa’il dari أَعْطَى – يُعْطِى berasal dari mashdar العَطَاء artinya pemberian. Jadi, Al-Mu’thii (المُعْطِى) artinya yang memberi
– Kata Al-Wahhab (الوَهَّابُ) adalah shighoh mubalaghoh dari isim fa’il الوَاهِبُ, berasal dari mashdar الهِبَة artinya pemberian. Jadi, Al-Wahhab (الوَهَّابُ) artinya yang memberi
– Kata Ar-Rooziq (الرَّازِقُ) adalah isim fa’il dari رَزَقَ- يَرْزُقُ berasal dari mashdar الرِزْقُ artinya rizki. Jadi, Ar-Rooziq (الرَّازِقُ) artinya yang memberi rizki
C. Makna Nama Allah Al-Mu’thii (المُعْطِى), Al-Wahhab (الوَهَّابُ), dan Ar-Rooziq (الرازق) Pada Nama Allah
– Al-Mu’thii (المُعْطِى) sebagai nama Allah, maksudnya adalah Dialah Dzat Yang Maha Pemberi secara mutlak. Tidak ada siapa pun yang bisa menghalangi sesuatu yang Dia berikan. Dan, tidak ada siapa pun yang bisa memberi sesuatu yang Dia halangi. Dia memberi siapa pun mukmin juga kafir di dunia.
– Al-Wahhab (الوَهَّابُ) sebagai nama Allah, maksudnya adalah Dialah Dzat Yang Maha Pemberi sesuatu yang istimewa. Sisi istimewanya ada pada dua hal,
1. Pemberian tersebut terkait dengan kesalehan seorang hamba
2. Pemberian dari sisi-Nya kepada hamba di luar nalar ikhtiar. Yang dimaksud di luar nalar ikhtiar adakalanya seorang hamba tidak meminta suatu pemberian tersebut. Atau adakalanya seorang hamba meminta sesuatu yang di luar wilayah kemampuan manusia.
Mari kita perhatikan! Beberapa ayat dalam Al-Qur’an,
قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ (ص:53)
“Dia (Sulaiman) berkata; Ya Allah ampunilah aku dan berilah aku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapapun setelahku. Sungguh Engkau adalah Dzat Yang Maha Pemberi” (QS. Shod: 35)
Di dalam ayat ini Nabi Sulaiman meminta kerajaan yang tidak akan pernah dimiliki oleh manusia setelahnya dengan lafadz (هَبْ لِي) bukan dengan lafadz (اللهم ارزقنى).
Lafadz (هَبْ) adalah bentukan dari Al-Wahhab (الوَهَّابُ). Karena permintaan kerajaan yang tidak dimiliki oleh manusia setelahnya adalah di luar nalar ikhtiar.
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا (الفرقان:74)
“Dan mereka (Ibadurrahman) mengatakan: Ya Tuhan Kami berilah untuk kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Furqon: 74)
Di dalam ayat ini Ibadurrahman (para hamba yang dirahmati Allah) meminta diberikan penyejuk mata berupa pasangan dan keturunan yang sholeh dengan lafadz (هَبْ لَنَا). Bukan dengan lafadz (اللهم ارزقنا). Karena permintaan untuk memperoleh penyejuk mata berupa keshalihan dan ketakwaan keluarga dan agar dijadikan imam bagi muttaqin tidaklah mutlak oleh para pakar pendidikan. Tapi, semuanya itu adalah pemberian (الهبة) dari Allah Al-Wahhab (الوَهَّابُ).
Ar-Rooziq (الرَّازِقُ) sebagai nama Allah, maksudnya- sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Atsir- Dialah Dzat Yang memberikan segala kebutuhan untuk makhluknya dan menghantarkan makhluknya kepada segala kebutuhan tersebut.
D. Sisi Perbedaan Nama Allah Al-Mu’thii (المُعْطِى), Al-Wahhab (الوَهَّابُ), dan Ar-Rooziq (الرازق) Pada Nama Allah
1. الهِبَة dan الرِزْق yang bermakna pemberian dan rizki, masing-masing adalah mashdar dari Al-Wahhab (الوَهَّابُ) dan Ar-Rooziq (الرَّازِقُ). Keduanya menunjukkan pada pengertian nikmat baik zhahir ataupun bathin dan merupakan faktor untuk meraih kebahagiaan.
Perbedaannya; الهِبَة itu tidak identik dengan ikhtiar karena ia terkait dengan hal di luar wilayah kemampuan manusia. Sedangkan الرزق identik dengan ikhtiar.
Mari kita perhatikan ayat Al-Qur’an, nama Allah Al-Wahhab (الوَهَّابُ) disebutkan dengan redaksi tunggal/singular yang berarti الهبة tidak melibatkan makhluk-Nya. Adapun nama Ar-Rooziq (الرَّازِقُ) adakalanya disebutkan dengan redaksi jamak/plural yang berarti الرزق melibatkan makhluk-Nya. Contoh sebagaimana telah disebutkan di atas:
قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِنْكَ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ [المائدة: 114]
أَمْ تَسْأَلُهُمْ خَرْجًا فَخَرَاجُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ [المؤمنون: 27]
قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ (الجمعة: 11)
العطاء (pemberian) tidaklah dipastikan sebagai nikmat dan juga bukan faktor untuk meraih kebahagiaan. Karena hakekat العطاء adalah ujian.
Penjelasannya berikut ini:
a. Bisa saja Allah memberikan kepada seseorang suatu pemberian yang malah menghantarkannya ke Neraka, karena ia menyalahgunakannya.
b. Bisa saja Allah tidak memberikan alias menahan sesuatu dari seseorang, tetapi justru menjadikannya mendadapatkan hidayah. Jadi, ditahannya sesuatu itu sendiri pada hakekatnya adalah العطاء
2. العطاء tidaklah menjadi الهبة ataupun الرزق kecuali jika melahirkan keshalihan, kebaikan dan keberkahan di dunia dan Akherat. Oleh karena itu ketika kita meminta kepada Allah janganlah dengan lafadz yang maknanya ,العطاء melainkan dengan lafadz yang maknanya الهبة, atau الرزق , contoh:
a. Jangan sekedar meminta istri,
اللهم زوجني
(Ya Allah, nikahkanlah aku!)
tetapi meminta istri yang sholehah,
اللهم ارزقني بزوجة صالحة تكون عونا لي على أمر ديني و دنياني
(Ya Allah, berikanlah aku rezeki istri sholihah yang akan membantuku di dalam urusan dunia ku dan akhiratku)
b. Janganlah sekedar meminta harta, tetapi mintalah harta yang diberkahi.
c. Janganlah sekedar meminta jadi orang kaya, tetapi mintalah agar menjadi orang kaya yang banyak bershodaqoh, dan lain-lain.
E. Taddabur
1. Sudah seharusnya cinta kita kepada Allah dan keikhlasan beribadah kepada-Nya semakin meningkat. Betapa tidak, hanya ada di Tangan-Nya lah seluruh apa pun yang merupakan pemberian yang tak terhitung jenis dan rupanya.
2. Sudah seharusnya kita meningkatkan kesyukuran kita kepada Allah dengan menggunakan seluruh pemberian-Nya untuk ketaatan kepada-Nya. Pada saat yang sama takut untuk menggunakannya di dalam perkara yang bisa mendatangkan murka-Nya.
3. Sudah seharusnya kita meningkatkan karakter kita yang berupa “suka memberi”. Memberi apapun yang kita miliki yang telah Allah berikan kepada kita baik ilmu, harta, kedudukan dan lain-lain kepada orang lain yang membutuhkan.
4. Menjaga pemberian-Nya yang telah diberikan kepada kita dengan melakukan sebab-sebab yang menjadikannya tetap terjaga, tidak hilang. Terlebih pemberian-Nya yang berupa hidayah.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ (أل عمران: 8)
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesasatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Maha Pemberi” (QS. Ali Imran: 8)