Skip to main content

Solusi Investasi Akhirat Anda

Nama Allah Al-Haadi (الهادى)

A. Penyebutan di dalam Nash

Di dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak dua kali. Yaitu:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِىٍّ عَدُوًّا مِّنَ ٱلْمُجْرِمِينَ ۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا (الفرقان:3)

وَلِيَعْلَمَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَيُؤْمِنُوا۟ بِهِۦ فَتُخْبِتَ لَهُۥ قُلُوبُهُمْ ۗ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَهَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ (الحج:54)

B. Makna Al-Haadi (الهادى) Secara Bahasa

Al-Haadi (الهادى) itu isim fa’il dari Hadaa yahdiihudaa/ hidayah

 (هدى – يهدى -هدى و هداية)

Orang Arab mengatakan:

 هديته الطريق والبيت هداية

artinya: saya memberitahukan kepadanya jalan dan rumahnya

Mashdar-nya adalah hudaa/ hidaayah

(هدى و هداية)

artinya: petunjuk, dalil

C. Makna Al-Haadi (الهادى) Sebagai Nama Allah

Ibnu Jarir rahima hullah ketika menjelaskan ayat Al-Qur’an,

وَإِنَّ ٱللَّهَ لَهَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus” (QS. Al-Hajj: 54), dia berkata: Allah ta’ala memberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya menuju haq yang gamblang dan jelas.

Juga tentang ayat,

وكَفَىٰ بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا (الفرقان: 31)

“Cukuplah dengan Tuhanmu sebagai Pemberi petunjuk dan Penolong” (QS. Al- Furqon: 31), dia rahima hullah mengatakan: Cukuplah Tuhanmu bagimu wahai Muhammad, Dia lah yang menunjukimu kepada haq dan menjadikanmu mengetahui haq [selesai]

Az-Zajaj berkata: Al-Haadi (الهادى), Dia lah yang memberikan petunjuk kepada makhluk untuk mengenali diri-Nya dan Rububiyah-Nya. Dia lah yang memberi petunjuk hamba-hamba-Nya menuju shirot al-Mustaqim. Sebagaimana firman-Nya,

وَٱللَّهُ يَدْعُوٓا۟ إِلَىٰ دَارِ ٱلسَّلَٰمِ وَيَهْدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ (يونس: 25)

“Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (Surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).” (QS. Yunus: 25)

Az-Zajaj juga mengatakan: Al-Haadi (الهادى), Dia ta’ala menunjuki hamba kepada diri-Nya dan membimbingnya kepada-Nya dan kepada jalan-jalan kebaikan yang mendekatkan kepada-Nya.

Al-Khuthobi mengatakan: Al-Haadi (الهادى), Dia menganugerahkan dan mengkhususkan dengan hidayah-Nya kepada orang yang dikehendaki-Nya dari antara hamba-hamba-Nya dan memuliakannya dengan cahaya tauhid-Nya. Sebagaimana firman-Nya,

وَٱللَّهُ يَدْعُوٓا۟ إِلَىٰ دَارِ ٱلسَّلَٰمِ وَيَهْدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ (يونس: 25)

“Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (Surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam)” (QS. Yunus: 25) [selesai]

Dia Al-Haadi (الهادى) memberi petunjuk kepada seluruh makhluk termasuk binatang untuk mendapatkan apa yang merupakan kemaslahatannya. Dia ta’ala mengilhami semuanya bagaimana cara meraih rizkinya dan bagaimana menghindarkan diri dari bahaya dan kebinasaan. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

قَالَ رَبُّنَا ٱلَّذِىٓ أَعْطَىٰ كُلَّ شَىْءٍ خَلْقَهُۥ ثُمَّ هَدَىٰ

“Musa berkata: “Tuhan kami adalah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk” (QS. Thoha: 50)

Syaikh As-Sa’di rahima hullah berkata: Al-Haadi (الهادى), Dia menunjuki hamba-hamba-Nya kepada seluruh apapun yang bermanfaat baginya dan apapun yang menghindarkan diri dari mudhorot. Dia ta’ala juga mengajari mereka apa yang belum mereka ketahui, menuntunnya kepada hidayah taufiq dan peningkatan diri dan mengilhami mereka ketaqwaan serta menjadikan hati mereka tunduk kepada perintah-Nya [selesai].

Ibnul Qoyyim rahima hullah berkata kurang lebihnya berikut ini: Ada empat macam hidayah, yaitu:

a. Hidayah umum untuk seluruh makhluk. Ini sebagaimana firman-Nya,

قَالَ رَبُّنَا ٱلَّذِىٓ أَعْطَىٰ كُلَّ شَىْءٍ خَلْقَهُۥ ثُمَّ هَدَىٰ

“Musa berkata: “Tuhan kami adalah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk” (QS. Thoha: 50)

Dia ta’ala memberikan masing-masing makhluk dengan bentuk tersendiri yang tidak serupa satu dari yang lainnya. Memberikan kepada anggota badan bentuknya tersendiri berbeda dari yang lainnya. Memberikan kepada masing-masing makhluk kekhususan tersendiri lalu menunjukinya kepada pergerakan-pergerakan yang sesuai dengan bentuk dan ihwal dirinya.

Dia ta’ala memberikan petunjuk kepada makhluk yang bergerak dan yang tidak bergerak dengan petunjuk yang berbeda sesuai dengan keberadaan dan kondisi masing-masing.

Pada masing-masing, Allah ta’ala berikan hidayah sesuai dengan fungsinya; dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memukul dan bekerja, lisan untuk berbicara, telinga untuk mendengar, mata untuk melihat, dan lain-lain masing-masing mendapatkan petunjuk yang berbeda-beda.

Allah ta’ala memberikan petunjuk kepada pasangan-pasangan binatang untuk melakukan aktivitas khusus sehingga terus berkembang biak dan menjaga keturunannya. Kepada anak-anaknya begitu lahir diberi petunjuk bagaimana bisa meraih puting susu dari induknya. Dan petunjuk-petunjuk lainnya yang sangat banyak tidak ada yang bisa menghitung kecuali Dia ta’ala sendiri.

Dia ta’ala memberi petunjuk kepada lebah untuk menjadikan gunung, pohon dan bangunan sebagai tempat tinggalnya. Kemudian ia menempuh jalan-jalan yang telah ditentukan Tuhannya dengan mudah untuk terbang jauh ke berbagai tempat mencari bunga dengan tidak ada kesulitan baginya. Lalu ia kembali ke sarangnya tanpa tersesat. Dan Allah ta’ala juga memberi petunjuk kepadanya untuk taat kepada ratunya, mengikutinya, dan menjadi makmumnya ke mana pun ia pergi. Kemudian Allah ta’ala memberi petunjuk kepadanya untuk membangun sarang-sarang dengan bentuk yang menakjubkan, kokoh, dan rapi. Siapa saja yang merenungi sebagian petunjuk Allah ta’ala untuk lebah ini niscaya akan mempersaksikan bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Dia ta’ala semata.

Dengan mengetahui hidayah/petunjuk pada lebah ini, kita bisa mengimani kenabian Muhammad shalallahu alaihi wasallam yang menjelaskan kepada manusia betapa kita nanti akan dihidupkan kembali setelah kematian untuk dimintai pertanggungjawaban. Keimanan ini bisa dikuatkan oleh akal dengan cara yang paling mudah, paling awal terlintas dalam pikiran, paling mudah penalarannya, paling ringkas, dan paling jauh dari segala keraguan. Mari simak baik-baik:  Sesungguhnya Dzat yang tidak menyia-nyiakan hewan-hewan ini begitu saja, tidak membiarkannya terlantar, bahkan Dia memberi petunjuk kepada mereka dengan petunjuk yang akal orang-orang cerdas pun tidak mampu memahaminya, maka tidaklah pantas bagi-Nya untuk membiarkan jenis manusia —  yang merupakan makhluk paling mulia dari antara makhluk yang ada dan pusat seluruh dinamika kehidupan,– dalam keadaan terlantar, sia-sia, dibiarkan tanpa tujuan, tidak diperintah, tidak dilarang, tidak diberi pahala, dan tidak diberi hukuman. Maka, ini berarti menyelisihi hikmah-Nya. Maha Suci Allah ta’ala dari yang demikian itu. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَٰكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ  () فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ ٱلْمَلِكُ ٱلْحَقُّ ۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ ٱلْعَرْشِ ٱلْكَرِيمِ (المؤمنون: 116-115)

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu untuk kesia-siaan, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan yang haq selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.” (QS. Al-Mu’minun:115-116)

Barangsiapa yang memahami pemaparan di atas niscaya akan memahami ayat berikut ini yang merupakan pertanyaan orang kafir pada ayat yang sebelumnya,

 وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا طَٰٓئِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّآ أُمَمٌ أَمْثَالُكُم ۚ مَّا فَرَّطْنَا فِى ٱلْكِتَٰبِ مِن شَىْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ (الأنعام:38)

“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tidak Kami lewatkan sesuatu pun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan” (QS. Al-An’am: 38)

وَقَالُوا۟ لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ ءَايَةٌ مِّن رَّبِّهِۦ ۚ قُلْ إِنَّ ٱللَّهَ قَادِرٌ عَلَىٰٓ أَن يُنَزِّلَ ءَايَةً وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (الأنعام: 37)

“Dan mereka (orang-orang musyrik Mekah) berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu mu’jizat dari Tuhannya?” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah kuasa menurunkan suatu mukjizat, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-An’am: 37)

Pada surat Al-An’am ayat 37 orang-orang kafir menuntut Muhammad shalallahu alaihi wasallam agar diturunkan mu’jizat dari Allah ta’ala jika benar dirinya seorang Nabi. Kemudian turunlah ayat 38 sebagai jawabannya. Bukankah kandungan ayat tersebut mengenai keberadaan binatang di muka bumi. Lalu apa korelasinya? Korelasinya sangat erat, Dia ta’ala tidak mengabaikan binatang bumi dan tidak menterlantarkannya sedikipun bahkan menunjukinya kepada setiap apa yang merupakan kemaslahatannya, maka bagaimana mungkin Dia ta’ala tidak menunjuki kalian wahai manusia kepada apa yang merupakan kemaslahatan dan kesempurnaan kalian.

b. Hidayat al-bayan atau ad-dalalah (penjelasan).

Ia menjelaskan tentang perkara kebaikan atau keburukan dan jalan keselamatan atau kebinasaan. Hidayah jenis ini tidak otomatis mendatangkan kebaikan atau  keselamatan, melainkan sebagai sebab atau faktor saja. Sebagaimana firman Allah ta’ala,

وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَٰهُمْ فَٱسْتَحَبُّوا۟ ٱلْعَمَىٰ عَلَى ٱلْهُدَىٰ فَأَخَذَتْهُمْ صَٰعِقَةُ ٱلْعَذَابِ ٱلْهُونِ بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ (فصلت:17)

“Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri hidayah (petunjuk) tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Fushilat: 17)

Maksudnya, Allah ta’ala telah menjelaskan, menunjuki, dan memberikan bukti-bukti tetapi semuanya itu tidak mendatangkan efek kebaikan bagi mereka.

c. Hidayah taufiq dan ilham, yaitu hidayah yang otomatis menjadikan seseorang berada di atas petunjuk, tidak meleset darinya.

فَإِنَّ ٱللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِى مَن يَشَآءُ (فاطر:8)

“Maka sesungguhnya Allah ta’ala menyesatkan siapa saja yang dikehendaki dan memberi hidayah kepada siapa saja yang dikehendaki” (QS. Fathir: 8)

إِن تَحْرِصْ عَلَىٰ هُدَىٰهُمْ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى مَن يُضِلُّ ۖ وَمَا لَهُم مِّن نَّٰصِرِينَ (النحل: 37)

“Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong” (QS. An-Nahl: 37)

مَن يَهدِ اللهُ فلا مُضِلَّ له، ومَن يُضلِلْ فلا هاديَ له (رواه أبو داود والترمذى والنسائي عن عبد الله بن مسعود)

“Barangsiapa yang Allah beri hidayah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang memberinya hidayah” (HR. Abu Daud, At- Tirmidzi dan An-Nasa’i dari Abdullah bin Mas’ud)

إِنَّكَ لَا تَهْدِى مَنْ أَحْبَبْتَ (القصص:56)

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi” (QS. Al-Qoshosh: 56)

Di dalam hidayah jenis ini Allah ta’ala menafikannya pada Nabi shalallahu alaihi wasallam. Tetapi menetapkan untuk beliau jenis hidayah lain yaitu hidayah bayan (penjelasan) sebagaimana dalam firman-Nya,

وَإِنَّكَ لَتَهْدِىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ (القصص: 52)

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (QS. Al-Qoshosh: 52)

d. Puncak hidayah, yaitu hidayah ketika manusia digiring ke Surga atau Neraka. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُم بِإِيمَٰنِهِمْ ۖ تَجْرِى مِن تَحْتِهِمُ ٱلْأَنْهَٰرُ فِى جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam Surga yang penuh kenikmatan” (QS. Yunus: 9)

وَنَزَعْنَا مَا فِى صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ تَجْرِى مِن تَحْتِهِمُ ٱلْأَنْهَٰرُ ۖ وَقَالُوا۟ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى هَدَىٰنَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِىَ لَوْلَآ أَنْ هَدَىٰنَا ٱللَّهُ (القصص:43)

“Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (Surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk” (QS. Al-Qoshosh: 43)

ٱحْشُرُوا۟ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ وَأَزْوَٰجَهُمْ وَمَا كَانُوا۟ يَعْبُدُونَ () مِن دُونِ ٱللَّهِ فَٱهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلْجَحِيمِ (الصفات: 22-23)

(Kepada Malaikat diperintahkan): “Kumpulkanlah orang-orang yang zhalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah () Selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke Neraka” (QS. Ash-Shoffat: 22-23)

D. TADABBUR

1. Dengan memahami Nama Allah Al-Haadi (الهادى), sudah seharusnya rasa cinta kita kepada Allah ta’ala semakin meningkat. Bagaimana tidak, Dia ta’ala telah memberikan segala sesuatu kepada semua makhluk lalu menunjuki mereka kepada apa yang merupakan kebutuhannya untuk kemasalahatan hidupnya. Secara khusus untuk manusia, Dia ta’ala telah menurunkan Kitab-Kitab dan Rasul-Rasul dari zaman ke zaman untuk menjelaskan jalan-jalan yang haq dari antara jalan-jalan yang batil. Dia ta’ala juga telah memberikan kepada manusia akal. Yang dengannya bisa “sampai” kepada Allah ta’ala dengan merenungi penciptaan-penciptaannya pada alam semestanya yang menakjubkan sehingga bisa melakukan penghambaan kepada-Nya dengan baik.

2. Ketika kita menyadari betapa hidayah taufiq itu hak prerogative Allah ta’ala semata, maka seorang hamba merasakan dirinya sangat membutuhkan kepada-Nya di dalam meraih hidayah taufiq ini. Akhirnya, dia pun terus merengek-rengek kepada-Nya.

3. Pada hakekatnya hidayah bayan atau dilalah juga hak Allah. Karena, bukankah para Nabi yang berhak atas hidayah ini dipilih langsung oleh Allah ta’ala. Pemahaman yang demikian ini seharusnya menjadikan kita semakin mendekatkan diri kepada-Nya.

4. Ada sebagian orang yang ibadahnya “kedodoran” dengan alasan banyaknya permasalahan dan kompleksnya problem yang dihadapi. Maka kita sampaikan kepadanya, justru dalam keadaan demikian seharusnya Anda semakin meningkatkan taqorrub. Karena pada-Nya lah petunjuk dan taufiq atas solusi-solusinya. Jadi, bukan malah mengendorkan peribadahan.

5. Nikmat apapun yang ada pada kita menjadi rendah atau tidak ada nilainya jika tidak dibarengi dengan nikmat hidayah. Karena tanpa nikmat hidayah, seseorang akan menggunakan kenikmatan-kenikmatan tanpa arah dan tempat yang benar. Nyatalah hidayah adalah nikmat tertinggi yang telah diberikan oleh Allah Al-Haadi (الهادى).

6. Saking pentingnya nikmat hidayah kita pun diperintahkan untuk memintanya kepada-Nya minimal sehari semalam 17x . Bukankah sehari semalam kita membaca,

ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ (الفاتحة: 6)

“Berilah kami petunjuk menuju jalan yang lurus” (QS. Al-Fatihah: 6)

Ini baru dalam shalat fardhu. Kalau ditambah dengan shalat-shalat sunnah tentu lebih dari 17x.

E. Doa permohonan hidayah di dalam Hadits

اللَّهمَّ ربَّ جبريلَ وميكائيلَ وإسرافيلَ فاطرَ السَّمواتِ والأرضِ عالِمَ الغيبِ والشَّهادةِ أنتَ تحكُمُ بينَ عبادِكَ فيما كانوا فيهِ يختلِفونَ اهدِني لما اختُلِفَ فيهِ منَ الحقِّ بإذنِكَ إنَّكَ تهدي من تشاءُ إلى صِراطٍ مستقيمٍ (رواه مسلم عن عائشة)

“Ya Allah Tuhannya Jibril, Mikail dan Isrofil, Pencipta langit dan bumi, Dzat Yang Mengetahui perkara ghoib dan tampak, Engkau lah yang memutuskan di antara hamba-hamba-Mu di dalam perkara yang mereka perselisihkan. Tunjukilah saya di dalam apa yang diperselisihkan itu  berupa kebenaran dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjuki orang yang Engkau kehendaki menuju jalan yang lurus” (HR. Muslim dari Aisyah)

اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ الهُدى والتُّقى والعَفافَ والغِنى (رواه مسلم عن عبد الله بن مسعود)

“Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada-Mu petunjuk, ketaqwaan, kehormatan, dan kekayaan” (HR. Muslim dari Abdullah Ibnu Mas’ud)

اللَّهمَّ اهدِني وسَدِّدْني (رواه مسلم عن علي ابن أبى طالب)

“Ya Allah, tunjukilah saya dan tepatkanlah saya” (HR. Muslim dari Ali bin Abi Tholib)

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

Judul Buku: Memahami Al-Asma’ul Husna Jilid 13

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)