Solusi Investasi Akhirat Anda

Nama Allah Al-‘Aliy (العَلِيّ), Al-A’laa (الأَعْلَي), dan Al-Muta’al (المُتَعَال) 

A. Penyebutan Nama Allah Al-‘Aliy (العَلِيّ), Al-A’laa (الأَعْلَي), dan Al-Muta’al (المُتَعَال) di dalam Nash

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ  (البقرة: 255)

Al-‘Aliy (العَلِيّ) disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak delapan kali.

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى  (الأعلى: 1)

Al-A’laa (الأَعْلَي) disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak dua kali.

عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِ  (الرعد: 9)

Al-Muta’al (المُتَعَال) disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak sekali.

B. Makna Al-‘Aliy (العَلِيّ), Al-A’laa (الأَعْلَي), dan Al-Muta’al (المُتَعَال) Secara Bahasa

Ketiganya berasal dari akar kata yang sama, yaitu ‘a-la-wa (علو), artinya tinggi. 

a. Al-‘Aliy (العَلِيّ) adalah ‘a-la-wa (علو) yang ber-wazan al-fa’iil (الفعيل). 

b. Al-A’laa (الأَعْلَي) adalah ‘a-la-wa (علو) yang ber-wazan al- af’al.

c. Al-Muta’al (المُتَعَال) adalah ‘a-la-wa (علو) yang ber-wazan al-mutafa-‘il

C. Al-‘Aliy (العَلِيّ), Al-A’laa (الأَعْلَي), dan Al-Muta’al (المُتَعَال) Sebagai Nama Allah

Ketiga nama tersebut menunjukkan makna ‘uluw (عُلُوّ) artinya ketinggian. Perbedaan di antara ketiganya sebagaimana yang saya dapati dari referensi-referensi di antaranya berikut ini:

Penjelasan Pertama:

a. Al-‘Aliy (العَلِيّ), menunjukkan makna ‘uluw (عُلُوّ) dengan segala maknanya.

b. Al-A’laa (الأَعْلَي), menunjukkan makna comparative dan superlative dalam ‘uluw (عُلُوّ) bahwa Dia Maha Tinggi dalam segala maknanya di atas segala apapun. Tidak ada siapapun yang lebih tinggi dari-Nya.

c. Al-Muta’al (المُتَعَال), menunjukkan Dia menguasai hamba-Nya dengan kekuasaan-Nya yang sempurna karena ke-Mahatinggi-anNya yang tak tertandingi.

Penjelasan Kedua:

Allah Al-‘Aliy (العَلِيّ), maksudnya Dia Dzat Yang Maha Tinggi dalam dzat dan kedudukan-Nya. Semua muslim meyakini bahwa Allah Maha Tinggi dalam kedudukan. Tapi tidak meyakini yang demikian dalam Dzat-Nya. Banyak dari sebagian mereka yang tidak mengimaninya kecuali dengan mentakwil ke makna lain.  Hal ini tidak benar. Ketahuilah! Dzat Allah itu Tinggi di atas dan tidak ada yang lebih tinggi lagi sebagaimana telah dijelaskan juga pada Nama-Nya Azh-Zhohir (الظَاهِر)

Maka yakinilah! Allah itu Maha Tinggi terkait Dzat dan kedudukan-Nya

b. Allah Al-A’laa (الأَعْلَي), maksudnya Dia Dzat Yang Maha Tinggi dalam urusan-Nya. Dia senantiasa mengurus makhluk-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an,

كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ [الرحمن: 29]

“Setiap hari Dia dalam urusan” (QS. Ar Rahman: 29)

Setiap saat Allah mengurus urusan-urusan makhluk-Nya; mengampuni, memberikan pahala atau dosa, mengabulkan atau tidak mengabulkan, menyembuhkan atau tidak menyembuhkan, memuliakan, merendahkan dan lain-lain. Ketahuilah semua urusan Allah itu suci dan jauh dari hal-hal yang menciderai rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya dan Asma wa Shifat-Nya.

c. Allah Al-Muta’al (المُتَعَال), maksudnya Dia Dzat Yang Maha Tinggi dalam kekuasaan-Nya. Kekuasaannya meliputi segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang lepas dari kekuasaan-Nya, sehingga semuanya tunduk secara “thow’an” ataupun “qohron”. Orang mukmin lah yang tunduk secara “thow’an” karena menyadari hanya Allah yang berhak diibadahi. Dia pun tunduk secara totalitas dalam penghambaan diri demi meraih ridho-Nya. Adapun orang kafir meskipun tidak melakukan penghambaan kepada-Nya tetapi tidak bisa berlepas dari ketetapan-Nya yang telah Dia tetapkan pada dirinya dan alam semesta. Di antara ketetapan-Nya adalah adanya lelaki dan perempuan, kuat dan lemah, hidup dan mati, sembuh dan tidak sembuh, siang dan malam, sehat dan sakit, panas dan dingin, melek dan ngantuk, sukses dan gagal dan lain-lain. Bisakah dia menghindar, sehingga tindakannya untuk tidak menghambakan diri kepada-Nya bisa dibenarkan? Tentu tidak bisa, maka merekapun tunduk secara “qohron”.

Susunan tiga nama Allah ini secara berurutan [Al-‘Aliy (العَلِيّ), Al-A’laa (الأَعْلَي) dan Al-Muta’al (المُتَعَال)] adalah seperti susunan secara berurutan pada tiga nama Allah [Al-Qoodir (القادر), Al-Qodiir (القدير) dan Al-Muqtadir (المقتدر)]. Sebagaimana Al-Muqtadir (المقتدر) nama yang mencakup dua nama lainnya. Demikian pula Al-Muta’al (المُتَعَال). Untuk itu, mari kita perhatikan nama-nama Allah  yang berdampingan dengan ketiga nama tersebut.

Al-‘Aliy (العَلِيّ) berdampingan dengan Al-Hakim  العلي الحكيم → (الحكيم)  

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ (الشورى: 51) 

وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ (الزخرف: 4)

Al-‘Aliy (العَلِيّ) berdampingan dengan Al-Kabiir العلي الكبير → (الكبير)

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ (الحج: 62)

ذَلِكُمْ بِأَنَّهُ إِذَا دُعِيَ اللَّهُ وَحْدَهُ كَفَرْتُمْ وَإِنْ يُشْرَكْ بِهِ تُؤْمِنُوا فَالْحُكْمُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ (غافر: 12)

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ (لقمان: 30)

وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ حَتَّى إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ (سبأ: 23)

Al-‘Aliy (العَلِيّ) berdampingan dengan Al-‘Azhim العلي العظيم → (العظيم)

وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ (البقرة: 255)

Al-Muta’al (المُتَعَال) berdampingan dengan Al-Kabiir الكبير المتعال → (الكبير) 

عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِ (الرعد: 9)

Jika kita perhatikan ketika berdampingan dengan nama lain, maka Al-‘Aliy (العَلِيّ) senantiasa berada di depan. Adapun Al-Muta’al (المُتَعَال) berada di belakang. Mari sekali lagi kita bandingkan;

الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ dan الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِ. Ini menunjukkan bahwa di antara nama yang mengandung makna ‘uluw (علو) yang bermakna tertinggi adalah Al-Muta’al (المُتَعَال)

• Bagaimana dengan Al-A’laa (الأَعْلَي)

Kalau diperhatikan nama Allah ini disebutkan hanya berdampingan dengan kata Robb (الرب) yang bermakna Tuhan.

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى [الأعلى: 1]

سبحان ربي الأعلى (Bacaan sujud)

وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى () إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَى [الليل: 19، 20]

Pada surat Al-A’la:1 dan bacaan sujud menunjukkan bahwa Allah Mahasuci dari segala sifat kurang, cacat, dan aib lalu lebih disempurnakan dengan pernyataan bahwa Dia Paling Tinggi di atas segala apapun. Tinggi dalam dzat dan kedudukan-Nya. Untuk itu tidak sepatutnya kita berbuat kebaikan apapun dengan disusupi riya’, sum’ah atau tendensi apapun. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Lail: 19-20, tidaklah seseorang patut ber-infaq kecuali hanya demi mengharapkan Wajah-Nya yang Maha Tinggi.

D. Tadabbur

1. Dengan memahami tiga nama ini, sudah sepatutnya kita tunduk dan merendahkan diri di hadapan Allah Azza wa Jalla juga mencintai-Nya dan mengagungkan-Nya. Merendahkan diri dan mengagungkan, keduanya merupakan rukun penghambaan diri kepada-Nya. Karena kalau dengan salah satunya saja penghambaan diri tidak akan terwujud dengan baik. Jadi, harus dengan keduanya. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qoyyim: Ibadah menghimpun dua hal pokok yaitu; puncak cinta dan puncak kerendahan.

2. Penegasan poin no.1, Mengimani bahwa Allah Maha Tinggi di dalam dzat-Nya, kedudukan-Nya dan kekuasaan-Nya melahirkan ketundukan.

3. Ibnul Qoyyim juga mengatakan: Mensifati Allah dengan Maha Tinggi digambarkan dengan keadaan orang sujud yang menyungkurkan dirinya di lantai dengan wajahnya diliputi penuh ketawadhu’an di hadapan-Nya. Sebagaimana juga dia mengingat keagungan-Nya saat ruku’ dengan menghadirkan perasaan bahwa Dia Maha Suci dari segala hal yang tidak sesuai dengan keagungan dan ketinggian-Nya.

4. Memahami tiga nama ini juga melahirkan rasa malu jika melanggar ketentuan-ketentuan-Nya sehingga kita berhati-hati dengan perintah dan larangan-Nya.

5. Memahami tiga nama ini sudah sepatutnya menjadikan kita menerima hukum-hukumnya baik yang qodariyyah ataupun syar’iyyah.

6. Menghisab diri kita sendiri agar jangan sampai tersusupi sifat “gumede” betapapun hebatnya kita, baik karena harta, ilmu, popularitas, jabatan, dan lain-lain.

7. Agar suami tidak semena-mena terhadap istrinya. Allah ta’ala mengingatkan dengan diri-Nya sebagai Al-‘Aliy al-Kabiir (الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ). Disebutkan dalam QS. An-Nisa: 34,

وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا  [النساء: 34]

“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar (QS. An-Nisa: 34)

Perhatikanlah ayat ini! Allah memperingatkan para suami agar jangan menzholimi para istri. Jika mereka lemah terhadap kesewenangan para suami, maka sesungguhnya Allah Maha Tinggi dan Maha Besar, berkuasa penuh untuk membalas kezhaliman. Untuk itu janganlah para suami dan siapapun yang merasa memiliki power tertipu dengan kehebatan dirinya.

8. Memahami tiga nama ini menjadikan kita harus takut hanya kepada Allah Azza wa Jalla saja sehingga hati terbebas dari takut kepada siapapun selain Allah. Karena selain Allah lemah dan kecil. Allah lah yang Maha Tinggi dan Maha Besar.

9. Doa yang ma’tsur dari Nabi terkait dengan tiga nama ini adalah:

اللهمَّ اهدِنا فيمَن هدَيت، وعافِنا فيمَن عافيت وتولَّنا فيمَن تولَّيت، وباركْ لنا فيما أعطيت، وقِنا شرَّ ما قضيت، إنك تَقضي ولا يُقضى عليكَ، إنه لا يَذِلُّ مَن والَيت، ولا يَعزُّ مَن عاديت، تباركت ربَّنا وتعالَيت (صحيح؛ الألباني، إرواء الغليل)

Judul Buku: Memahami Al-Asma’ul Husna Jilid 9

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)