Skip to main content

Solusi Investasi Akhirat Anda

Pembatal-Pembatal Pahala Bagian 1

Setiap muslim yang hidup di atas muka bumi ini hendaknya dia memanfa’atkan waktu yang ada dalam rangka keta’atan kepada Allah ta’ala. Karena kehidupan akhirat lah yang memang seharusnya menjadi cita-cita seorang muslim. Nabi yang mulia shalallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ  وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ. وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

“Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.” (HR. Ibnu Majah no: 4105)

Maka merupakan kerugian bagi setiap muslim tatkala ia hidup di dunia ini hanya dalam rangka meraih kesenangan duniawi yang sifatnya hanya sementara. Terlebih lagi Allah ta’ala telah menyatakan bahwa kehidupan akhirat ialah kehidupan yang kekal abadi, sebagaimana dalam firman-Nya,

وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ

“Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al Ankabut ayat: 64)

Ditambah lagi Allah ta’ala mengatakan bahwa derajat kehidupan akhirat jauh lebih besar daripada kehidupan dunia. Allah ta’ala berfirman:

انْظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍۗ وَلَلْاٰخِرَةُ اَكْبَرُ دَرَجٰتٍ وَّاَكْبَرُ تَفْضِيْلًا

“Perhatikanlah bagaimana Kami melebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi derajatnya dan lebih besar keutamaannya.” (QS. Al Isra’ ayat: 21)

Bagaimana seseorang meraih kehidupan akhirat yang membahagiakan tersebut? Tentunya dia harus melakukan amal shalih. Yang Dimana dengan amal shalih tersebut dia kerjakan penuh keikhlasan dan mengikuti sunnah-sunnah Nabi shalallahu alaihi wasallam atau ittiba’. Karena memang dengan amal shalih yang dikerjakan dengan Ikhlas dan ittiba’ maka pahala akan diperoleh, dengannya seseorang bisa mendapatkan rahmat Allah ta’ala untuk bisa masuk ke dalam surga.

Dalam beberapa ayat dan hadis disebutkan tentang tujuan seseorang beramal ialah meraih balasan baik dari Allah ta’ala berupa pahala. Diantarnya Allah ta’ala berfirman:

فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَيُوَفِّيْهِمْ اُجُوْرَهُمْ وَيَزِيْدُهُمْ مِّنْ فَضْلِهٖۚ

“Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal shaleh, maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya.” (QS. An Nisa’ ayat: 173)

Dalam ayat lain Allah ta’ala juga berfirman:

وَمَنْ يَّعْمَلْ مِنَ الصّٰلِحٰتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخٰفُ ظُلْمًا وَّلَا هَضْمًا  

“Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang shaleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya.” (QS. Thaha ayat: 112)

Juga firman-Nya:

مَنْ جَاۤءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهٗ عَشْرُ اَمْثَالِهَا  

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya.” (QS. Al An’am ayat: 160)

Begitu juga dalam sebuah hadis disebutkan:

عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِذَا هَمَّ عَبْدِي بِحَسَنَةٍ وَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبْتُهَا لَهُ حَسَنَةً، فَإِنْ عَمِلَهَا كَتَبْتُهَا لَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ. وَإِذَا هَمَّ بِسَيِّئَةٍ وَلَمْ يَعْمَلْهَا لَمْ أَكْتُبْهَا عَلَيْهِ، فَإِنْ عَمِلَهَا كَتَبْتُهَا سَيِّئَةً وَاحِدَةً

Dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Allah ta’ala berfirman: ‘Apabila terbetik dalam benak hamba –Ku untuk mengerjakan kebajikan, maka Aku catat baginya (pahala) satu kebaikan walaupun tidak melakukan dan apabila dia sampai melakukannya maka Aku catat pahala sepuluh kali lipat. Jika terbetik dalam dirinya untuk berbuat jelek maka Aku ampuni dirinya selagi belum mengerjakannya, dan bisa sampai melakukan maka Aku catat baginya semisal perbuatannya.” (HR Muslim no: 129)

Beberapa ayat dan hadis di atas menunjukkan bahwa tujuan seseorang dalam beramal sholih ialah meraih pahala dari Allah ta’ala. Bahkan dalam sebuah hadis pula, Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam bersabda:

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ . فَقِيلَ كَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ  يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ الْمَوْتِ 

“Jika Allah menginginkan kebaikan untuk seorang hamba maka dia akan mempekerjakan/menggunakannya”, beliau ditanya, “Bagaimana Allah akan mempekerjakannya, wahai Rasulullah shalallahu alaihi wasallam?”, beliau menjawab: “Allah akan memberinya petunjuk untuk beramal shalih sebelum meninggal.” (HR. At Tirmidzi)

Akan tetapi tatkala sudah beramal sholih, ada hal yang ternyata lebih sulit daripada beramal itu sendiri yaitu menjaga pahala itu agar tetap ada. Perjuangan ini lebih sulit dan lebih berat karena banyak sekali hal-hal yang bisa menggugurkan pahala kita. Karenanya Ibnul Qoyyim rahima hullah pernah berkata:

وَمُحْبِطَاتُ الْأَعْمَالِ وَمُفْسِدَاتُهَا أَكْثَرُ مِنْ أَنْ تُحْصَرَ، وَلَيْسَ الشَّأْنُ فِي الْعَمَلِ، إِنَّمَا الشَّأْنُ فِي حِفْظِ الْعَمَلِ مِمَّا يُفْسِدُهُ وَيُحْبِطُهُ

“Penghalang dan perusak amal itu lebih banyak. Persoalan (yang penting) bukanlah sekadar melakukan amal, tetapi bagaimana menjaga amal tersebut dari hal-hal yang dapat merusak dan menghapus pahalanya.” (Al Wabil Ash Shoyyib 1/18)

Sebagaimana disebutkan di dalam Al Qur’an ada Al Hasanaat Al Maahiyah (Amal Sholih Penghapus Dosa) seperti ibadah shalat, puasa, sahur, haji dan lain-lain, Allah ta’ala berfirman:

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَيِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِۚ إِنَّ ٱلۡحَسَنَٰتِ يُذۡهِبۡنَ السَّيِّئَاتِ

“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Huud ayat: 114)

Berdasarkan ayat ini, maka setiap amal sholih akan menghapuskan kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa seorang muslim. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al Bukhari no: 38)

Dalam hadis lain juga disebutkan, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

“Shalat lima waktu. Ibadah Jum’at yang satu dengan ibadah jum’at berikutnya. Puasa Ramadhan yang satu dengan puasa Ramadhan berikutnya. Itu semua merupakan penghapus dosa antara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim no: 233)

Sebaliknya pula ada yang namanya As Sayyiaat Al Muhbithoh (Dosa-dosa Penggugur Pahala), yang Dimana ada amalan-amalan di dalam Al Qur’an dan As Sunnah yang apabila dikerjakan manusia maka bisa menggugurkan pahala yang telah ada. Karenanya Ibnul Qoyyim rahima hullah pernah berkata:

وَأَكْثَرُ النَّاسِ مَا عِنْدَهُمْ خَبَرٌ مِنَ السَّيِّئَاتِ الَّتِي تُحْبِطُ الْحَسَنَاتِ

“Dan kebanyakan manusia tidak memiliki pengetahuan tentang dosa-dosa yang dapat menghapuskan (pahala) amal-amal kebaikan.” (Al Wabil Ash Shoyyib 1/18)

Dalam beberapa ayat, Allah ta’ala berfirman 

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا * الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“Katakanlah: Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfi ayat: 103-104)

Demikian pula gambaran orang yang paling merugi terhadap amal saleh yang dikumpulkannya selama di dunia. Ternyata di akhirat ia tidak menemukan pahalanya sama sekali. Pada hari kiamat kelak, Allah ta’ala akan menghancurkan amal orang-orang yang merugi seperti debu yang berterbangan. Allah berfirman:

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَّنثُورًا

“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqân: 23)

Pada hari kiamat Allah ta’ala memperlihatkan pahala amal saleh mereka. Namun akhirnya Allah ta’ala menjadikannya layaknya debu yang beterbangan, dan ini adalah nasib yang sangat mengenaskan. 

Percuma seseorang melakukan banyak amal sholih akan tetapi pahala amalnya gugur.  Mayoritas manusia tidak memiliki ilmu tentang dosa-dosa yang bisa menggugurkan pahala. Sangat merugi orang yang beramal banyak namun pahalanya gugur. Siapakah yang lebih menderita, orang yang telah banyak beramal sholih kemudian pahalanya berguguran atau dari awal ia tidak melakukan amal saleh sama sekali? Jawabannya adalah lebih menderita orang yang telah banyak beramal, tetapi pahalanya berguguran. Gambaran sederhananya adalah seperti orang yang telah banyak mengumpulkan harta, tiba-tiba hartanya hilang. Maka kondisi yang demikian lebih menderita dari pada orang yang sejak awal memang tidak memiliki harta sama sekali.

Para ulama’ rahima humullah membagi dua tentang hal yang bisa membatalkan pahala seseorang, yang pertama ialah yang membatalkan seluruhnya dan yang kedua ialah yang membatalkan sebagian pahala. 

Yang membatalkan pahala seseorang seluruhnya ialah:

1. Kekufuran atau Syrik Besar

Kekufuran ialah sebuah amalan yang bisa mengugurkan pahala amal sholih seseorang, meskipun amalan tersebut telah dilakukan puluhan tahun yang lalu. Barangsiapa yang mengerjakan kekufuran atau syrik besar maka pahalanya akan berguguran seluruhnya. Allah ta’ala berfirman dalam banyak ayat tentang hal ini:

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al An’am ayat: 88)

Dalam ayat lain Allah ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar ayat: 65)

Barangsiapa melakukan syirik besar, seperti: meminta kepada mayat, meminta kepada wali, meminta kepada Syaikh yang telah mati, percaya kepada dukun, tukang sihir, menyembelih untuk jin, dan segala bentuk kesyirikan lainnya, maka semua praktik ini membatalkan seluruh amal shalih.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barangsiapa mendatangi peramal atau dukun dan mempercayai ucapannya, maka sungguh dia telah kufur terhadap (syariat) yang diturunkan kepada Muhammad shalallahu alahi wasallam.” (HR. Ahmad no: 9532)

Judul buku : Pembatal-Pembatal Pahala

Penulis : Ananda Ridho Gusti, S.Pd.I. Hafizhahullah