A. Penyebutan Dalam Nash
Ia disebutkan di dalam Al-Qur’an sebanyak 17x.adakalanya secara sendirian. Ini lebih sedikit. Dan adakalanya secara berbarengan dengan nama Allah lainnya. Di ataranya:
وَهُدُوٓا۟ إِلَى ٱلطَّيِّبِ مِنَ ٱلْقَوْلِ وَهُدُوٓا۟ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلْحَمِيد (الحج:24)
وَهُوَ ٱلَّذِى يُنَزِّلُ ٱلْغَيْثَ مِنۢ بَعْدِ مَا قَنَطُوا۟ وَيَنشُرُ رَحْمَتَهُۥ ۚ وَهُوَ ٱلْوَلِىُّ ٱلْحَمِيدُ (الشورى:28)
قَالُوٓا۟ أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ ۖ رَحْمَتُ ٱللَّهِ وَبَرَكَٰتُهُۥ عَلَيْكُمْ أَهْلَ ٱلْبَيْتِ ۚ إِنَّهُۥ حَمِيدٌ مَّجِيدٌ (هود:73)
وَقَالَ مُوسَىٰٓ إِن تَكْفُرُوٓا۟ أَنتُمْ وَمَن فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًا فَإِنَّ ٱللَّهَ لَغَنِىٌّ حَمِيدٌ (إبراهيم:8)
B. Makna Al-Hamiid (ٱلْحَمِيدُ) Secara Bahasa
Al-Hamiid (ٱلْحَمِيدُ) adalah isim fa’il sekaligus sebagai isim maf’ul dari “Hamida- yahmadu– hamdan” (حمِدَ يَحمَد ، حَمْدًا) artinya memuji.
Sebagai isim maf’ul maknanya Dia dipuji, dan sebagai isim fa’il artinya Dia memuji.
C. Makna Al-Hamiid (ٱلْحَمِيدُ) Sebagai Nama Allah
Syaikh Utsaimin berkata: Al-Hamiid (ٱلْحَمِيدُ) sebagai isim maf’ul yang bermakna dipuji maksudanya adalah Dia dipuji atas kesempurnaan sifat-Nya, kesempurnaan kebaikan-Nya dan kesempurnaan perbuatan-Nya. Segala puji milik-Nya. Dan Dia terpuji dalam segala keadaan.
Lebih lanjut Syaikh Utsaimin berkata: Al-Hamiid (ٱلْحَمِيدُ) sebagai isim fa’il yang bermakna memuji maksudnya adalah Dia memuji orang-orang yang behak dipuji dari kalangan hamba-hamba-Nya.
D. TADABBUR
1. Jika Anda mendapati orang yang sangat baik kepada Anda. Kebaikannnya bagi Anda sangat super. Apa kesan Anda terhadap orang tersebut? Pasti Anda akan memuji-mujinya dengan berbagai macam pujian karena saking besarnya cinta Anda kepadanya. Padahal sehebat apapun kebaikan dan kepedulian manusia tidaklah mutlak. Ia diliputi dengan berbagai keterbatasan. Namun, Anda begitu terkesan dengannya dan terus menyanjung-nyanjungnya. Lalu bagaimana terhadap Allah ta’ala?
Anda pasti mengakui betapa Allah ta’ala Maha Terpuji di dalam Dzat, Nama, Sifat, perbuatan, hukum, dan ketetapan-Nya. Bagi-Nya segala puji; di langit, bumi, dunia, dan Akherat. Setelah kita memahami semuanya ini maka rasa cinta dan pengagungan kita kepada-Nya harus terus meningkat dan ditingkatkan. Cinta yang tak tertandingi dengan cinta kepada apapun dan siapapun. Cinta yang demikian ini mengkondisikan hamba pada tiga amalan, yaitu hati, lisan dan perbuatan;
a. Amalan hati: keikhlasan, malu, rasa harap, takut, dan penuh adab kepada-Nya.
b. Amalan lisan: memperbanyak dzikir.
c. Perbuatan: kokoh dan komitmen dalam menjalankan syareat-syareat-Nya.
2. Banyak bersyukur seiring dengan banyaknya pujian kepada-Nya.
3. Mengupayakan untuk menghadirkan hati ketika membaca Al-hamdu lillahi Robbi-l-‘alamin di dalam shalat dan lainnya.
4. Pemahaman bahwa pada hakekatnya yang terpuji hanyalah Allah ta’ala akan menghilangkan dari seseorang ‘ujub (bangga diri). Seseorang menyadari ketika dirinya sebagai orang yang terhormat, dimuliakan, di elu-elukan dan di sanjung-sanjung di tengah-tengah kaumnya disebabkan kekayaannya atau keilmuannya atau kecantikannya atau ketampanannya atau kekuatannya atau apapun, maka siapakah yang memberikan semuanya itu? Dia sadar Allah ta’ala lah yang memberikan semuanya itu. Kalau Allah ta’ala tidak memberikan semuanya itu maka dia tidak akan pernah mendapatkannya. Jadi hakikatnya yang terpuji hanyalah Allah ta’ala. Perasaan ‘ujub pun menyingkir dari dirinya.
5. Ketika Anda dipuii-puji oleh seseorang atas suatu keunggulan, kebaikan, atau prestasi maka segera kembalikan langsung kepada Allah ta’ala, bisa dengan berucap:
اللهم لك الحمد
“Ya Allah, bagi-Mu segala puji”
Dengan cara ini sanjungan dan pujian dari seseorang tidak mengendap dalam hati yang bisa menghantarkan kepada ‘ujub.
6. Makna Al-Hamiid (ٱلْحَمِيدُ) juga sebagai isim fa’il yang bermakna memuji. Siapakah yang Allah ta’ala puji? Di antara yang Allah ta’ala bangga-banggakan sebagaimana yang disebutkan di dalam Nash adalah:
a. Orang yang sedang wuquf di ‘Arofah. Disebutkan di dalam Hadits Aisyah radiallahu anha,
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ (رواه مسلم)
“Tidak ada hari yang lebih banyak Allah membebaskan hamba dari api Neraka daripada hari Arafah. Sesungguhnya Allah mendekat, lalu membanggakan mereka di hadapan para Malaikat.” (HR. Muslim)
b. Orang yang menetap di masjid setelah shalat untuk menunggu shalat yang berikutnya.
صلَّينا معَ رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ المغربَ فرجعَ من رجعَ وعقَّبَ من عقَّبَ فجاءَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ مُسرِعًا قد حفَزهُ النَّفسُ وقد حسرَ عن ركبتيهِ فقالَ أبشِروا هذا ربُّكم قد فتحَ بابًا من أبوابِ السَّماءِ يباهي بكمُ الملائكةَ يقولُ انظروا إلى عبادي قد قضَوا فريضةً وهم ينتظِرونَ أُخرى (رواه ابن ماجه و أحمد)
“Kami shalat Magrib bersama Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, lalu sebagian orang pergi dan sebagian lainnya menetap. Kemudian Rasulullah shalallahu alaihi wasallam datang dengan terburu-buru, nafasnya terengah-engah, dan lututnya tersingkap (karena terburu-buru). Beliau bersabda, ‘Bergembiralah kalian! Rabb kalian telah membuka salah satu pintu langit dan membangga – banggakan kalian di hadapan para Malaikat, seraya berfirman, ‘Lihatlah hamba-hamba-Ku, mereka telah menunaikan kewajiban dan mereka menunggu (shalat) yang lain.’” (HR. Ibnu Majah)
c. Orang yang berkumpul untuk dzikir dan menuntut ilmu
Disebutkan di dalam Hadits Abu Hurairah radiallahu anhu,
ما اجتمع قومٌ في بيتٍ من بيوتِ اللهِ ، يتلون كتابَ اللهِ ، و يتدارسونه بينهم ، إلا نزلتْ عليهم السَّكينةُ : وغَشِيَتْهم الرحمةُ ، و حفَّتهم الملائكةُ ، و ذكرهم اللهُ فيمن عندَه (راه مسلم)
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah Allah dari antara rumah-rumah Allah, mereka membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya sesama mereka melainkan akan turun pada mereka ketenangan, diliputi rahmat, dinaungi oleh para Malaikat dan Allah ta’ala menyebut-nyebut mereka di hadapan siapa yang ada di sisi-Nya (para Malaikat)” (HR. Muslim)
7. Kita memuji Allah ta’ala dalam segala keadaan; lapang atau sempit, senang atau susah, sehat atau sakit, untung atau rugi. Tetapi dengan lafazh yang berbeda. Disebutkan di dalam Hadits Aisyah radiallahu anha,
أنَّهُ كان إذا رأى ما يسرُّهُ قالَ الحمدُ للَّهِ الَّذي بنعمتِه تتمُّ الصَّالحاتُ وإذا رأى ما يسوؤُه قالَ الحمدُ للَّهِ على كلِّ حالٍ (رواه ابن ماجه و الحاكم والطبرانى)
“Bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam jika melihat sesuatu yang menyenangkan beliau mengucapakan:
الحمدُ للَّهِ الَّذي بنعمتِه تتمُّ الصَّالحاتُ
“Segala puji bagi Allah ta’ala yang dengan nikmat-Nya sempurnalah kebaikan-kebaikan”
Dan jika melihat sesuatu yang tidak menyenangkan beliau mengucapkan;
الحمدُ للَّهِ على كلِّ حالٍ
“Segala puji bagi Allah ta’ala dalam segala keadaan” (HR. Ibnu Majah, Al-Hakim dan Ath-Thobroni)
Judul Buku: Memahami Al-Asma’ul Husna Jilid 13
Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)
