Search
Sunday 18 August 2019
  • :
  • :

Janda dan Kawannya Masih Banyak

 

Janda adalah wanita yang ditinggal suami, bisa karena dicerai atau ditinggal wafat. Yang dimaksud kawannya adalah orang-orang lemah; kaum wanita, miskin, dan yatim. Janda yang dimaksud di sini adalah janda lemah yang tidak memiliki keluarga yang menanggung kehidupannya. Wanita juga  dikatagorikan lemah,  karena memang demikian kodratnya; lemah akalnya, lemah fisiknya dan lemah emosionalnya. Oleh karena itu ia membutuhkan perlindungan. Kaum lelakilah yang melindunginya. Allah berfirman dalam QS. An-Nisa: 34 “Laki-laki itu pelindung bagi perempuan. Karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (kaum lelaki) atas sebagian yang lainnya (kaum wanita)”. Hadits Nabi juga mengkatagorikan wanita sebagai manusia yang lemah dalam sabdanya, “Ya Allah, betapa berdosa orang yang menyia-nyiakan hak dua macam orang lemah, yaitu anak yatim dan wanita”. (HR. An-Nasa’i)

 

Kepada kaum lemah seperti merekalah kita harus memberikan perhatian secara khusus. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ  رضى الله عنه  قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ  صلى الله عليه وسلم  : السَّاعِى عَلَى الأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ – وَأَحْسِبُهُ قَالَ ، يَشُكُّ الْقَعْنَبِىُّ – كَالْقَائِمِ لاَ يَفْتُرُ ، وَكَالصَّائِمِ لاَ يُفْطِرُ (رواه البخارى و مسلم)

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Orang yang mengurusi  janda dan orang miskin sama seperti orang yang berjihad di jalan Allah.” Dan aku kira beliau bersabda: (al-Qo’nabi sang periwayat ragu-ragu)  Dan seperti orang yang selalu shalat malam yang tidak pernah letih, serta seperti orang yang berpuasa terus menerus ” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

MasyaAllah, sungguh hadits ini menunjukkan keutamaan yang sangat tinggi bagi siapa saja yang mau mempedulikan orang-orang lemah bahwa pahala yang didapat adalah seperti pahala berjihad (berperang dalam medan tempur melawan orang kafir), atau pahalanya seperti shalat dan puasa terus-menerus yang tidak pernah berhenti.

 

Adakah di antara kita yang pernah berjihad atau shalat dan puasa yang tak pernah henti? Jawabannya tidak ada. Tetapi cukuplah dengan melakukan kebaikan ini yaitu mempedulikan orang lemah niscaya pahala amalan-amalan tersebut akan didapatkannya. Nabi juga menghukumi hidangan makanan sebagai seburuk-buruknya makanan jika hanya dinikmati oleh orang yang kaya. Beliau bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى لَهَا الأَغْنِيَاءُ ، وَيُتْرَكُ الْفُقَرَاءُ ، وَمَنْ تَرَكَ الدَّعْوَةَ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ (رواه البخارى)

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda: Seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah (pesta pernikahan) dimana orang-orang kaya diundang sementara orang miskin ditinggal (tidak diundang). Barangsiapa yang tidak memenuhi undangan maka telah mendustakan Allah dan RasulNya”. (HR. Bukhari).

 

Nabi bersabda demikian tentu agar jangan sampai ada seorang muslim yang tidak peka terhadap kondisi orang lemah.

 

Berapa jumlah janda di Indonesia? Data yang tercatat oleh sebuah sumber- Allahu A’lam– pada tanggal 17 Agustus 2015 adalah 11,2 juta. Andaikan 20% dari jumlah itu adalah janda lemah, maka berarti ada 2.240.000 janda yang harus diperhatikan kebutuhannya.

 

Berapa jumlah orang miskin di Indonesia? Berdasarkan data yang dimuat Republika.co.id  tahun 2015 adalah 30,25 juta atau 12,25% dari jumlah penduduk Indonesia.

 

Berapakah jumlah anak yatim? Berdasarkan data yang dimuat  Antaranews.com adalah 3,2 juta,  terbanyak ada di Nusa Tenggara Timur dan Papua.

 

Terlepas dari data-data di atas, memang seringkali terlihat pemandangan orang-orang lemah yang menyedihkan di berbagai tempat, di sudut-sudut jalan, di trotoar, di kampung-kampung, di pedesaan dan lain-lain. Mereka hidup dengan fasilitas sangat terbatas; di bantaran sungai, tempat pembuangan sampah, di bawah kolong jembatan dan lain-lain. Makanan seadanya sekedar untuk mengganjal perut. Pantaskah kita hidup dengan fasilitas serba ada apa lagi yang mewah sementara orang-orang di sekitar kita penuh kesengsaraan??!!  Pantaskah kita makan kenyang sementara orang-orang di sekitar kita kelaparan??!! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم : لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ (رواه البيهقى)

“Dari Ibnu Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda: Bukanlah seorang  beriman yang dia kenyang sementara tetangganya kelaparan” (HR. Baihaqi)

 

Berbuatlah apa yang bisa kita perbuat. Kita tidak perlu menyandarkan semuanya kepada pemerintah. Kita yakin pemerintah sudah memikirkan nasib mereka, tetapi barangkali dengan segala keterbatasannya belum bisa mengatasi semuanya. Oleh karena itu siapa lagi kalau bukan kita yang turut andil. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa sebaik-baik orang adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya???!!!

 

Kita ambil contoh yang ada di sekitar kita saja, Semua orang tua yang sudah ngaji (baca: mendalami agama secara ilmiyah, tidak ikut-ikutan) menginginkan agar anak-anaknya bisa belajar di sekolah yang baik dan berkwalitas, yang kurikulumnya sepenuhnya sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Permasalahannya adalah bahwa bisa dikatakan seluruh sekolah yang baik tersebut biayanya mahal. Banyak orangtua yang tidak bisa menjangkaunya. Di sinilah kesempatan Anda wahai para aghniya (orang kaya) untuk berperan dengan cara menjadi donatur di sekolah-sekolah melalui program subsidi silang. Dengan cara ini, seluruh anak-anak dari keluarga yang kurang mampu bisa mendapatkan pendidikan  yang baik dan berkwalitas. Jangan biarkan mereka memasukkan anak-anaknya di sekolah yang tidak bermutu, yang kurikulumnya banyak menyelisihi Al-Qur’an dan Hadits gara-gara kondisi perekonomian yang kepepet.

 

Contoh lain, banyak anak cerdas yang “nganggur” karena keluarganya tidak memiliki biaya untuk melanjutkan pendidikannya. Wahai para Aghniya (orang kaya), inilah kesempatan Anda untuk mendulang pahala sebanyak-banyaknya. Begabunglah bersama YNF (Yayasan Nidaul Fithrah) dengan menjadi orang tua asuh dalam program SAKU (SAntunan Kader Ustadz ustadzah). Melalui program ini anak-anak cerdas akan ditempatkan di pesantren-pesantren yang nantinya setelah lulus akan bersinergi dengan YNF dalam berbagai kegiatan-kegiatan dakwah. Ketika mereka sudah terjun dakwah, Anda wahai para aghniya bukan sekedar mendapatkan pahala yang berlipat tapi lebih dari itu, yaitu multilevel pahala. InsyaAllah. Sa’ad bin Abi Waqqosh melihat bahwa dirinya memiliki kelebihan harta daripada para sahabat lainnya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya:

هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلاَّ بِضُعَفَائِكُمْ (رواه البخارى)

“Bukankah kalian mendapat pertolongan dan rizki berkat adanya orang-orang lemah di antara kalian?” (HR. Bukhari)

Makna yang sama disebutkan dalam riwayat lain,

عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ الْحَضْرَمِىِّ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا الدَّرْدَاءِ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ : ابْغُونِى الضُّعَفَاءَ فَإِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُمْ( رواه أبو داود)

“Dari Jubair bin Nufair al-Hadhromy bahwasanya dia mendengar Abu Darda berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Carikanlah untukku orang-orang lemah, karena sesungguhnya kalian mendapat pertolongan dan rizki berkat adanya orang-orang lemah di antara kalian” (HR. Abu Daud)   

Maksud dua hadits ini adalah bahwa kaum lemah itu menjadi sumber kebaikan bagi ummat. Dimana meskipun mereka lemah fisik dan harta tetapi sebenarnya keimanan dan keyakinan mereka kepada Rabb sangatlah kuat, demikian pula keterlepasan mereka dari belenggu nafsu dan godaan perhiasan dunia. Oleh karena itu, jika mereka memanjatkan doa dengan ikhlas maka Allah akan mengabulkan doa mereka. Demikian pula Allah memberi rizki kepada hamba-hambaNya disebabkan oleh mereka.

 

Jangan pernah menyakiti orang lemah dan tidak mempedulikan mereka!!  Karena seandainya mereka bersumpah niscaya akan didengar oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « رُبَّ أَشْعَثَ مَدْفُوعٍ بِالأَبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ (رواه مسلم)

“Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Betapa banyak orang yang rambutnya kusut dan ditolak di setiap pintu jika mereka bersumpah atas nama Allah niscaya Allah akan memenuhinya” (HR. Muslim)

Tentang Hadits ini Syaikh Utsaimin menjelaskan dengan menukil kisah tentang Anas bin An Nadhr dan Rubayyi’ binti An Nadhr. Rubayyi’ bin An Nadhr mematahkan gigi seorang budak wanita. Nabi memutuskan qishash bahwa gigi Rubayyi’ juga harus dipatahkan. Lalu, Anas memohon  kepada Nabi agar kiranya ada keringanan. Nabi menolaknya karena sudah merupakan ketentuan Allah.  Akhirnya Anas mengatakan:

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَتُكْسَرُ ثَنِيَّةُ الرُّبَيِّعِ لاَ وَالَّذِى بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لاَ تُكْسَرُ ثَنِيَّتُهَا (رواه  البخارى)

“Wahai Rasulullah, Apakah gigi Rubayyi’ akan dipatahkan?” Tidak, demi Dzat Yang mengutus engkau dengan hak, giginya tidak akan dipatahkan” (HR. Al-Bukhari).

 Anas sama sekali tidak menolak keputusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi, sumpahnya tidak lain adalah karena keyakinnya  kepada Allah bahwa Dia akan mengabulkan keinginannya di mana hukuman tersebut akan dibatalkan olehNya. Lalu,  benarlah apa yang diyakininya itu, Allah memberi  petunjuk kepada keluarga budak tersebut agar memaafkannya.  Akhirnya, keluarganya memaafkannya. Dan, hukuman qishash tidak jadi diberlakukan. Nabi pun bersabda:

إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ مَنْ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ (رواه البخارى)

“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah ada orang yang kalau bersumpah,  Allah akan memenuhinya” (HR. Bukhari)

 

Adapun tentang lemahnya wanita yang membutuhkan perlindungan dari kaum lelaki (suami atau mahramnya), kita renungkan satu fenomena saja. Ketika seorang istri dihadapkan pada suatu kepentingan, mana yang harus dia dahulukan suaminya atau istrinya?? Syareat menetapkan kepentingan suami harus dia dahulukan daripada orangtuanya. Ini artinya, orang tua dikalahkan demi suaminya.  Lalu, pantaskah seorang suami menyia-nyiakan istrinya tanpa perlindungan dan penjagaan?? Syaikh Utsaimin mengkritisi para juru dakwah yang meninggalkan istri dan keluarganya dalam waktu yang lama.  Karena hal itu akan mengabaikan kebutuhan keluarganya yang berupa perlindungan suami. Wahai para suami dan mahram! Padahal untuk kepentingan dakwah tetapi tidak dibenarkan, lalu bagaimanakah dengan orang yang menyia-nyiakan wanita demi keuntungan duniawi apalagi suatu kemaksiatan?? Semoga menjadi renungan. Allahu A’lam