zhuhur – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Sat, 01 Mar 2025 05:51:35 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png zhuhur – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 PANDUAN PRAKTIS HAJI & UMROH (Bag. 4 Rangkuman pelaksanaan ibadah haji) https://nidaulfithrah.com/panduan-praktis-haji-umroh-bag-4-rangkuman-pelaksanaan-ibadah-haji/ Sat, 01 Mar 2025 05:50:36 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19719 Rangkuman pelaksanaan ibadah haji:

  • Hari pertama ( tanggal 08 Dzulhijjah)
  1. Ihram haji dari tempatnya. Dimulai dengan mandi, memakai wewangian pada badan dan mengenakan pakaian ihram. Lalu memperbanyak talbiyah
  2. Menuju Mina dan mabit di sana hingga terbit matahari pada tanggal 09 Dzulhijjah. Shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh dilakukan pada masing-masing waktunya dengan cara mengqoshor shalat yang empat rakaat.

  • Hari kedua (tanggal 09 Dzulhijjah)
  1. Setelah matahari terbit, bertolak menuju Arofah. Shalat Zhuhur dan Ashar dijamak qoshor. Jika memungkinkan sebelum datang waktu Zhuhur singgah di Namiroh.
  2. Terus menetap di ‘Arofah (wuquf) hingga datang waktu Maghrib. Selama wukuf berdoa sebanyak-banyaknya dengan mengangkat kedua tangan menghadap ke kiblat.
  3. Ketika sudah Maghrib bertolak menuju Muzdalifah. Shalat Maghrib dan Isya dikerjakan dengan dijamak ta’khir dan qoshor di Muzdalifah, dan terus mabit hingga datang waktu Shubuh.
  4. Setelah shalat Shubuh, berdzikir dan doa hingga ufuk berwarna kuning
  5. Sebelum matahari terbit, bertolak menuju Mina

  • Hari ketiga (tanggal 10 Dzulhijjah)
  1. Sesampainya di Mina, melontar jumroh ‘Aqobah Dengan tujuh butir kerikil bertakbir pada setiap lontaran.
  2. Menyembelih hadyu.
  3. Mencukur rambut atau memendekkannya. Ini yang disebut tahallul awal. Seluruh yang dilarang selama ihram sudah diperbolehkan kecuali hubungan suami istri.
  4. Bertolak menuju Makkah untuk melakukan thowaf ifadhoh (thowaf haji) dilanjutkan dengan sa’i di Shofa dan Marwah. Dengan selesainya ini jamaah haji sudah tahallul tsani dimana seluruh larangan selama ihram sudah dibolehkan termasuk jima’.
  5. Kembali ke Mina untuk mabit malam sebelas Dzulhijjah.

  • Hari keempat (tanggal 11 Dzulhijjah)
  1. Ketika sudah datang waktu Zhuhur lontar tiga jumroh. Dimulai dari Ula, Wustho dan ‘Aqobah. Masing-masing dengan 7 butir kerikil. Tidak boleh dikerjakan sebelum Zhuhur. Seusai lontar pada Ula dan Wustho berdiri panjang untuk memanjatkan doa.
  2. Mabit di Mina malam 12 DZulhijjah

  • Hari kelima (tanggal 12 Dzulhijjah)
  1. Lontar tiga jumroh sebagaimana hari keempat (tanggal 11 Dzulhijjah)
  2. Meninggalkan Mina sebelum terbenamnya matahari bagi yang menginginkan. Ini disebut nafar awal. Bagi yang menghendaki nafar tsani, mabit lagi di Mina malam 13 Dzulhijjah.

  • Hari keenam (tanggal 13 Dzulhijjah)
Hari ini khusus bagi yang menghendaki nafar tsani.
  1. Lontar jumroh sebagaimana tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah
  2. Meninggalkan Mina.
  • Selesailah pelaksanaan haji.

Tinggal satu lagi peribadahan yaitu thowaf wada’. Ia dilakukan ketika jamaah haji akan pulang meninggalkan Mekkah. Semoga haji kita semua mabrur. Amin

B. Rukun, Wajib dan Sunnah Haji

  • Rukun haji:

a. Ihram: berniat umroh atau haji
b. Wukuf di Arofah
c. Thowaf Ifadhoh
d. Sa’i antara Shofa dan Marwah

  • Wajib Haji

a. Ihram dari miqot yang telah ditetapkan
b. Mabit di Muzdalifah
c. Mabit di Mina malam 11,12, 13
d. Lontar jumroh
e. Mencukur/memendekkan rambut
f. Thowaf Wada’

  • Sunnah Haji

Selain yang disebutkan pada rukun dan wajib haji maka masuk ke dalam sunnah haji, seperti:
a. Thowaf qudum bagi haji ifrod dan qiron
b. Mabit di Mina tanggal 8 Dzulhijjah
c. Raml pada tiga putaran pertama thowaf
d. Idhthiba
e. Mandi sebelum ihram
f. Mengenakan kain putih bagi lelaki
g. Talbiyah
h. Mengusap dan mencium hajar Aswad

C. Fidyah atau denda dalam Haji
Orang yang sedang ihram jika melakukan pelanggaran, maka dikenakan fidyah (denda). Rinciannya berikut ini:


a. Tidak ada fidyah: akad nikah.
Ia tidak sah dan pelakunya berdosa tetapi tidak ada fidyah.


b. Fidyah besar: jima’.
Jika dilakukan sebelum tahallul awal, berdosa, hajinya tidak sah dengan tetap menyelesaikan amalan yang tersisa dan hajinya wajib diulang tahun berikutnya. Keduanya suami dan istri tersebut dikenakan fidyah kambing, disembelih dan dagingnya dibagi-bagikan kepada fakir miksin di wilayah Haram. Adapun jika jima’ diakukan setelah tahallul awal, hajinya sah tetapi dikenakan denda seekor kambing yang dibagikan di daerah haram.

Judul buku : PANDUAN PRAKTIS HAJI & UMROH Dilengkapi 40 permasalahan penting

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
PANDUAN PRAKTIS HAJI & UMROH (Bag. 3 Tanggal 11 Dzulhijjah) https://nidaulfithrah.com/panduan-praktis-haji-umroh-bag-3-tanggal-11-dzulhijjah/ Wed, 26 Feb 2025 02:30:13 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19705 Tanggal 11 Dzulhijjah
Ketika sudah datang waktu Zhuhur tanggal 11, melontar kerikil pada tiga jumroh. Dimulai dari Shughro, Jumlah kerikil yang dilontarkan 7 butir. Setiap lontaran kerikil membaca takbir. Setelah itu berpindah ke tempat yang agak longgar, menghadap kiblat dan mengangkat tangan berdoa dengan doa yang panjang. Demikian juga yang dilakukan pada jumroh Wustho. Adapun pada jumroh Kubro, setelah melontar 7 kerikil tidak berdiri untuk berdoa melainkan langsung pergi.


Tanggal 12 Dzulhijjah
Kembali ke Mina, untuk mabit. Keesokannya ketika sudah masuk waktu Zhuhur tanggal 12 melontar tiga jumroh lagi, tata caranya sama sebagaimana pada tanggal 11. Bagi yang ingin segera meninggalkan Mina maka diperbolehkan. Ini yang disebut dengan nafar awal. Dengan ketentuan sebelum Maghrib sudah meninggalkan Mina. Jika waktu Maghrib masih berada di Mina, maka harus menunda kepergiannya untuk melakukan lontar jumroh tanggal 13 sebagaimana tanggal 11 dan 12.


Tanggal 13 Dzulhijjah
Adapun bagi yang ingin menunda, maka kembali mabit di Mina malam 13 nya. Keesokannya ketika sudah masuk waktu Zhuhur melontar jumroh sebagaimana tanggal 11 dan 12.
Perhatikan! Tidak boleh lontar tiga jumroh pada tanggal 11, 12 dan 13 sebelum datangnya waktu Zhuhur. Karena Nabi shallahu’alaihi wasallam tidak pernah melakukannya kecuali ketika sudah datang waktu Zhuhur. Dan, beliau bersabda “Ambillah dariku tata cara haji kalian”. Juga berdasarkan amalan para Shahabat radhiallahu’anhum yang menunggu datangnya waktu Zhuhur. Kalau sudah Zhuhur, mereka baru melakukan lontar jumroh. Jika melontar sebelum Zhuhur diperbolehkan, niscaya Nabi shallahu’alaihi wasallam telah menjelaskan kepada ummat baik dengan perbuatan, ucapan ataupun ketetapan (taqrir).

Penegasan: Waktu melontar jumroh di hari tasyrik itu kalau sudah masuk waktu Zhuhur

Jika jamaah haji begitu crowded, dan sulit untuk melakukan lontar jumroh ketika sudah masuk waktu Zhuhur maka boleh dilakukan di malam hari. Karena waktu malam juga waktu untuk melontar, di mana tidak ada dalil yang menjelaskan bahwa lontar jumroh di malam hari tidak sah. Nabi shallahu’alaihi wasaallam hanyalah menentukan awal waktu untuk lontar jumroh tetapi tidak membatasi akhir waktunya. Kaedah fiqh menyatakan bahwa sesuatu yang hukum asalnya mutlak, maka tetap dalam kemutlakannya hingga ada dalil yang men-taqyid-nya dengan suatu sebab atau suatu waktu.
Perhatikan baik-baik! Janganlah Anda bermudah-mudahan dalam melontar jumroh dengan mewakilkan kepada seseorang untuk melakukannya. Ini tidak diperbolehkan. Lakukanlah oleh diri Anda. Karena Allah ta’ala berfirman:

وَأَتِمُّواْ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلّهِ [البقرة:196]

“Sempurnakanlah haji dan umroh karena Allah ta’ala” (QS. Al-Baqoroh: 196)
Dan, lontar jumroh itu bagian dari ibadah haji. Maka, janganlah dirusak. Nabi shallahu’alaihi wasaallam tidak mengizinkan orang-orang yang lemah dari kalangan keluarganya untuk mewakilkan kepada orang lain dalam lontar jumroh. Melainkan beliau mengizinkan untuk berangkat lebih dahulu meninggalkan Muzdalifah di akhir malam agar bisa melakukan lontar oleh dirinya sebelum penuh sesaknya manusia. Dalam keadaan yang sangat terpaksa atau darurat saja, seseorang diperbolehkan melakukan perwakilan. Misalnya kondisi sakit, wanita hamil yang mengkhawatirkan diri dan janinnya atau sudah sepuh yang tidak kuat untuk berjalan menuju Jamarat (tempat lontar jumroh). Kondisi darurat semacam ini boleh diwakilkan.
Wajib bagi kita untuk mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah ta’ala. Janganlah bermudah-mudahan. Lakukanlah semuanya oleh diri kita sendiri karena ini adalah ibadah (munajatnya seorang hamba kepada Allah ta’ala) sebagaimana disebutkan di dalam Hadits:

عن عائشة رضي الله عنها قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم: (إنما جعل الطواف بالبيت وبين الصفا والمروة ورمي الجمار لإقامة ذكر الله (سنن أبي داوود)

“Dari Aisyah radhiallahu’anha, dia berkata: Rasulullah shallahu’alaihi wasaallam bersabda:Sesungguhnya dijadikannya thowaf di Baitullah, sa’i antara Shofa dan Marwah, dan lontar jumroh adalah untuk berdzikir kepada Allah ta’ala” (Sunan Abu Daud)
Jika lontar jumroh sudah selesai dilakukan, jamaah haji belum meninggalkan Makkah hingga melakukan thowaf wada’ terlebih dahulu. Sebagaimana disebutkan di dalam Hadits Ibnu Abbas radhiallahu’anhu:

كان النَّاسُ ينصرفون في كلِّ وجهةٍ ، فقال النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : لا ينفِرنَّ أحدٌ منكم حتَّى يكونَ آخرَ عهدِه الطَّوافُ بالبيتِ (رواه مسلم)

“Orang-orang bepergian di berbagai penjuru, maka Nabi shallahu’alaihi wasaallam bersabda: “Janganlah seseorang di antara kalian bepergian pulang hingga akhir keberadaannya adalah thowaf di Baitullah” (HR. Muslim)
Kecuali wanita haidh dan nifas yang telah melakukan thowaf ifadhah, maka thowaf wada’nya gugur sebagaimana di dalam Hadits Ibnu Abbas,

أُمِرَ النَّاسُ أنْ يَكونَ آخِرُ عَهْدِهِمْ بالبَيْتِ، إلَّا أنَّه خُفِّفَ عَنِ الحَائِضِ (رواه البخارى ومسلم)

“Orang-orang diperintahkan agar akhir keberadaannya di Baitullah, kecuali hal itu diringankan bagi wanita haidh” (HR. Bukhari dan Muslim)
Thowaf wada’ itu rangkaian ibadah haji yang terakhir. Jadi, apa yang dilakukan oleh sebagian jamaah haji di mana mereka melakukan thowaf wada’ lalu pergi ke Mina untuk melakukan lontar jumroh, lalu melakukan perjalanan pulang dari sana. Ini keliru. Thowaf wada’ nya tidak sah, karena mereka tidak menjadikan akhir keberadan mereka di Baitullah melainkan menjadikan akhir keberadaanya di Jamarat.


Ringkasan pelaksanaan ibadah umroh:

  1. Mandi sebagaimana mandi junub lalu memakai wewangian di badan.
  2. Mengenakan pakaian ihram; kain dan selendang bagi lelaki, dan untuk wanita pakaian menutup aurat yang biasa dikenakannya ketika keluar rumah
  3. Memperbanyak talbiyah hingga menjelang thowaf
  4. Thowaf di Ka’bah tujuh putaran dimulai dan berakhir di Hajar Aswad
  5. Shalat dua rakaat seusai thowaf di belakang Maqom Ibrahim
  6. Sa’i antara Shofa dan Marwah tujuh kali putaran dimulai dari Shofa dan berakhir di Marwah.
  7. Mencukur atau memendekkan rambut bagi lelaki, dan memendekkan bagi perempuan. Dalam rangkaian haji tamattu’ bagi lelaki memendekkan rambut lebih utama dari pada mencukur

Judul buku : PANDUAN PRAKTIS HAJI & UMROH Dilengkapi 40 permasalahan penting

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Apakah doa pada hari Rabu antara Zhuhur dan Ashar mustajab? https://nidaulfithrah.com/apakah-doa-pada-hari-rabu-antara-zhuhur-dan-ashar-mustajab/ https://nidaulfithrah.com/apakah-doa-pada-hari-rabu-antara-zhuhur-dan-ashar-mustajab/#respond Thu, 07 Sep 2023 08:22:41 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=17773 (https://islamqa.info/ar/answers/170713/)

Teks Arab

هل دعاء يوم الأربعاء بين الظهر والعصر مستجاب؟
السؤال :ما صحة الحديث: عَنْ ‏جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ الله عَنْهُ،‏ أَنَّ النَّبِيَّ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏دَعَا فِي مَسْجِدِ الْفَتْحِ ثَلَاثًا يَوْمَ ‏‏الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الثُّلَاثَاءِ وَيَوْمَ الْأَرْبِعَاءِ فَاسْتُجِيبَ لَهُ يَوْمَ الْأَرْبِعَاءِ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ فَعُرِفَ الْبِشْرُ فِي وَجْهِهِ، ‏ قَالَ ‏ ‏جَابِرٌ: ‏ “‏فَلَمْ يَنْزِلْ بِي أَمْرٌ مُهِمٌّ غَلِيظٌ إِلَّا ‏ ‏تَوَخَّيْتُ ‏ ‏تِلْكَ السَّاعَةَ ‏ ‏فَأَدْعُو فِيهَا فَأَعْرِفُ الْإِجَابَةَ”؟

ملخص الجواب:
حديث استجابة الدعاء يوم الأربعاء بين الظهر والعصر ضعيف سنداً، لا يصح الاحتجاج به، ولو صح فالمراد به تحري هذا الوقت للدعاء فيه، كما يدل على ذلك فعل جابر رضي الله عنه، وليس في الحديث قصد مسجد الفتح لأجل الدعاء فيه. وينظر تفصيل ذلك في الجواب المطول.
الجواب
الحمد لله. حديث استجابة الدعاء يوم الأربعاء
هذا الحديث رواه الإمام أحمد في مسنده (14153) من طريق كَثِير بْنَ زَيْدٍ، قال: حَدَّثَنِي عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْن كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ، قال: حَدَّثَنِي جَابِرٌ يَعْنِي ابْنَ عَبْدِ اللَّهِ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَا فِي مَسْجِدِ الْفَتْحِ ثَلَاثًا: يَوْمَ الِاثْنَيْنِ، وَيَوْمَ الثُّلَاثَاءِ، وَيَوْمَ الْأَرْبِعَاءِ، فَاسْتُجِيبَ لَهُ يَوْمَ الْأَرْبِعَاءِ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ، فَعُرِفَ الْبِشْرُ فِي وَجْهِهِ.
قَالَ جَابِرٌ: فَلَمْ يَنْزِلْ بِي أَمْرٌ مُهِمٌّ غَلِيظٌ إِلَّا تَوَخَّيْتُ تِلْكَ السَّاعَةَ، فَأَدْعُو فِيهَا، فَأَعْرِفُ الْإِجَابَةَ.
درجة حديث استجابة الدعاء يوم الأربعاء
والأظهر في الحديث أنه ضعيف لا يحتج به ؛ ففي إسناده علتان:
الأولى: كثير بن زيد الأسلمي، وفي قبول روايته خلاف بين علماء الحديث، فمنهم من يوثقه، والأكثر على تضعيفه، والأقرب أن فيه ضعفاً يسيراً.
ولذلك قال فيه الحافظ في “التقريب”: “ صدوق يخطئ “.
ينظر: “الجرح والتعديل” (7/150)، “الكامل في ضعفاء الرجال” (6/67)، “ميزان الاعتدال” (3/404)، “تهذيب التهذيب” (8/370).
الثانية: عبد الله بن عبد الرحمن بن كعب بن مالك، وهو مجهول الحال، ترجم لـه البخاري في “التاريخ الكبير” (5/133)، وابن أبي حاتم في “الجرح والتعديل” (5/95)، ولم يذكرا فيه جرحًا ولا تعديلاً.
قال محققو مسند الإمام أحمد: “ إسناده ضعيف، كثير بن زيد ليس بذاك القوي، خاصة إذا لم يتابعه أحد، وقد تفرَّد بهذا الحديث عن عبد الله بن عبد الرحمن بن كعب، وهذا الأخير في عداد المجاهيل “. انتهى، ينظر: “ مسند الإمام أحمد” (ط: الرسالة) (22/426).
وقد اختلف على كثير في هذا الحديث ؛ فروي عنه: عن عبد الله بن عبد الرحمن بن كعب، على ما سبق.
ووري عنه: عن عبد الرحمن بن كعب بن مالك، وليس عن عبد الله، كما هو عند البخاري في الأدب المفرد (704)، وابن سعد في الطبقات الكبرى (1/73) وغيرهما. والظاهر أن ذلك من اضطراب كثير فيه، وعدم ضبطه لإسناده، ومتنه أيضا.
ومن أراد الاستزادة في تخريج الحديث فليراجع كتاب “المساجد السبعة” للشيخ عبد الله بن محمد الأنصاري (ص 11- 15)، ففيه بحث موسع حول هذا الحديث وعلله.
والحاصل: أن الحديث ضعيف سنداً، لا يصح الاحتجاج به، ولو صح فالمراد به تحري هذا الوقت للدعاء فيه، كما يدل على ذلك فعل جابر رضي الله عنه، وليس في الحديث قصد مسجد الفتح لأجل الدعاء فيه.
قال شيخ الإسلام ابن تيمية: “وفي إسناد هذا الحديث: كثير بن زيد، وفيه كلام، يوثقه ابن معين تارة، ويضعفه أخرى.
وهذا الحديث يعمل به طائفة من أصحابنا وغيرهم، فيتحرون الدعاء في هذا، كما نقل عن جابر، ولم ينقل عن جابر رضي الله عنه أنه تحرى الدعاء في المكان، بل تحرى الزمان”. انتهى من “اقتضاء الصراط المستقيم” (2/344).
والله أعلم .

Terjemahan teks Arab

Pertanyaan: Bagaimana ke-shohih-an Hadits,

عَنْ ‏جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ الله عَنْهُ،‏ أَنَّ النَّبِيَّ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏دَعَا فِي مَسْجِدِ الْفَتْحِ ثَلَاثًا يَوْمَ ‏‏الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الثُّلَاثَاءِ وَيَوْمَ الْأَرْبِعَاءِ فَاسْتُجِيبَ لَهُ يَوْمَ الْأَرْبِعَاءِ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ فَعُرِفَ الْبِشْرُ فِي وَجْهِهِ، ‏ قَالَ ‏ ‏جَابِرٌ: ‏ “‏فَلَمْ يَنْزِلْ بِي أَمْرٌ مُهِمٌّ غَلِيظٌ إِلَّا ‏ ‏تَوَخَّيْتُ ‏ ‏تِلْكَ السَّاعَةَ ‏ ‏فَأَدْعُو فِيهَا فَأَعْرِفُ الْإِجَابَةَ”

“Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallahu ‘alaihi wasallam berdoa di Masjid Al Fath tiga kali, yaitu hari Senin, Selasa dan Rabu. Pada hari Rabu lah doanya dikabulkan, yaitu di antara dua shalat. Ini diketahui dari kegembiraan di wajah beliau. Jabir berkata: ‘Tidaklah ada suatu perkara penting yang berat pada saya kecuali saya memilih waktu ini untuk berdoa, dan saya mendapati dikabulkannya doa saya‘”.
Rangkuman jawaban:
Hadits dikabulkannya doa pada hari Rabu di waktu antara Zhuhur dan Ashar itu dho’if jiddan. Tidak bisa dijadikan hujjah. Jika ia shohih maka maksudnya adalah mengupayakan berdoa di waktu tersebut. Ucapan Jabir radhiallahu anhu menunjukkan demikian. Hadits ini tidak dipahami menyengaja ke masjid al-Fath untuk berdoa di sana. Bisa dilihat penjabarannya di penjelasan yang panjang berikut ini.
Jawab: Alhamdulillah. Hadits dikabulkannya doa pada hari Rabu diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnad-nya (14153) dari jalan Katsir bin Zaid. Dia menuturkan,

حَدَّثَنِي عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْن كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ، قال: حَدَّثَنِي جَابِرٌ يَعْنِي ابْنَ عَبْدِ اللَّهِ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَا فِي مَسْجِدِ الْفَتْحِ ثَلَاثًا: يَوْمَ الِاثْنَيْنِ، وَيَوْمَ الثُّلَاثَاءِ، وَيَوْمَ الْأَرْبِعَاءِ، فَاسْتُجِيبَ لَهُ يَوْمَ الْأَرْبِعَاءِ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ، فَعُرِفَ الْبِشْرُ فِي وَجْهِهِ. قَالَ جَابِرٌ: فَلَمْ يَنْزِلْ بِي أَمْرٌ مُهِمٌّ غَلِيظٌ إِلَّا تَوَخَّيْتُ تِلْكَ السَّاعَةَ، فَأَدْعُو فِيهَا، فَأَعْرِفُ الْإِجَابَةَ

Abdullah bin Abdurrahman bin Ka’ab bin Malik berkata, Jabir yakni Bin Abdullah memberitahukanku: Nabi shallahu ‘alaihi wasallam berdoa di masjid al-Fath selama tiga hari; hari Senin, hari Selasa, dan hari Rabu. Dikabulkanlah untuk beliau pada hari Rabu di antara dua shalat ini. Ini diketahui dari kegembiraan di wajah beliau. Jabir berkata: ‘Tidaklah ada suatu perkara penting yang berat pada saya kecuali saya memilih waktu ini untuk berdoa, dan saya mendapati dikabulkannya doa saya‘”.
Derajat Hadits dikabulkannya doa pada hari Rabu, yang tampak ia itu lemah tidak dijadikan hujjah. Di dalamnya ada dua ‘illat (cacat):
Pertama: Katsir bin Zaid al-Aslami. Para ulama Hadits berbeda pendapat tentang diterima atau tidak periwayatannya. Sebagian mereka men-tsiqoh-kannya tapi kebanyakan mereka men-dho’if-kannya. Yang lebih dekat (kepada kebenaran) pada dirinya terdapat dhu’f (lemah) yang ringan. Oleh karena itu Al-Hafizh mengatakan di dalam kitab “At-Taqrib” menyatakan: shoduq yukhti ( orang jujur yang keliru).
Bisa dilihat di kitab “al-Jarh wa-t-Ta’dil” (7/150), al-Kamil fi Dhu’afa-i-r- Rijal (6/67), Mizanul I’tidal (3/404), Tahdzibu-t-Tahdzhib (8/370)
Kedua: Abdullah bin Abdurrahman bin Ka’ab bin Malik, dia seorang majhulul hal (ihwalnya tidak diketahui), Demikian penjelasan Al-Bukhari di dalam kitab “At-Tarikh Al-Kabir” (5/133) dan Ibnu Abi Hatim di dalam kitab “Al-Jarh wa-t-Ta’dil (5/95). Keduanya tidak menyebutkan terkait jarh dan ta’dil padanya.
Para peneliti Musnad Imam Ahmad berkata: Isnad-nya dho’if. Katsir bin Zaid dalam hal yang demikian bukan qowiyy (orang kuat) terlebih jika tidak ada orang lain yang mengikutinya. Hanya dia seorang diri meriwayatkan Hadits ini dari Abdullah bin Abdurrahman bin Ka’ab. Yang terakhir ini masuk dalam katagori majhul. [selesai]. Bisa dilihat pada “Musnad Imam Ahmad” (Ar-Risalah 22/426).
Terjadi banyak perselisihan mengenai Hadits ini. Dikatakan ia riwayat dari Abdullah bin Abdurrahman bin Ka’ab sebagaimana disebutkan di atas. Ada juga yang mengatakan ia riwayat Abdurrahman bin Ka’ab bin Malik. Jadi, bukan Abdullah sebagaimana riwayat milik al-Bukhari dalam “Al-Adabu-l-Mufrod (704), Ibnu Sa’d dalam “Atj-Thobaqot al-Kubro” (1/73) dan selain keduanya. Yang jelas, terjadi ketidakjelasan (idhthirob) di dalamnya dan tidak dhobt (otentik) pada sanad-nya juga pada matan-nya.
Barangsiapa menginginkan takhrij Hadits lebih banyak lagi, bisa merujuk kitab “Al-Masajid as-Sab’ah” milik Syaikh Abdullah bin Muhammad al-Anshory (hal. 11-15). Di dalamnya banyak pembahasan secara luas tentang Hadits ini beserta ‘illat-‘illat-nya.
Ringkasnya: Hadits ini sanad-nya dho’if. Tidak sah berhujjah dengannya. Jika ia shohih, maka maksudnya adalah mengoptimalkan waktu ini untuk berdoa di dalamnya, dan perbuatan Jabir radhiallahu anhu menunjukkan demikian. Bukanlah maksud Hadits ini, menyengaja ke masjid al-Fath untuk berdoa di sana.
Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah berkata: Di dalam Isnad Hadits ini ada Katsir bin Zaid banyak komentar tentangnya. Ibnu Ma’in terkadang men-tsiqoh-kan dan terkadang mendho’ifkan. Hadits ini banyak diamalkan oleh teman-teman kita dan yang lainnya. Mereka mengupayakan doa di waktu tersebut sebagaimana dinukil dari Jabir radhiallahu anhu. Tidaklah dinukil darinya bahwa dia mengupayakan doa di suatu tempat melainkan di suatu waktu [selesai dari “Iqtidhoi-sh-Shiroth al-Mustaqim” 2/344]. Allhu A’lam.

Judul buku : Terkadang Ditanyakan 11

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
https://nidaulfithrah.com/apakah-doa-pada-hari-rabu-antara-zhuhur-dan-ashar-mustajab/feed/ 0