ukhuwwah – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Wed, 18 Feb 2026 08:59:36 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png ukhuwwah – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 Ukhuwwah Islamiyyah (Bag. 4 Saling menasehati) https://nidaulfithrah.com/ukhuwwah-islamiyyah-bag-4-saling-menasehati/ Tue, 09 Dec 2025 05:25:09 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21002 d. Saling menasehati

Allah ta’ala berfirman,

وَتَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ (العصر: 3)

“Saling berwasiatlah di dalam kebenaran” (QS. Al-Ashr:3)
“Saling” itu pengertiannya ada dua pihak; yang menasehati dan yang dinasehati. Setiap muslim ada pada posisi keduanya. Adakalanya pada posisi yang menasehati dan adakalanya pada posisi yang dinasehati. Ini pancaran ukhuwwah islamiyyah yang luar biasa. Karena dengan hal ini berarti setiap muslim menginginkan kebaikan bagi suadaranya. Banyak sekali keteladanan yang bisa kita ambil, di antaranya:

آخَى النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ بيْنَ سَلْمَانَ وأَبِي الدَّرْدَاءِ، فَزَارَ سَلْمَانُ أبَا الدَّرْدَاءِ، فَرَأَى أُمَّ الدَّرْدَاءِ مُتَبَذِّلَةً، فَقَالَ لَهَا: ما شَأْنُكِ؟ قَالَتْ: أخُوكَ أبو الدَّرْدَاءِ ليسَ له حَاجَةٌ في الدُّنْيَا. فَجَاءَ أبو الدَّرْدَاءِ فَصَنَعَ له طَعَامًا، فَقَالَ: كُلْ، قَالَ: فإنِّي صَائِمٌ، قَالَ: ما أنَا بآكِلٍ حتَّى تَأْكُلَ، قَالَ: فأكَلَ، فَلَمَّا كانَ اللَّيْلُ ذَهَبَ أبو الدَّرْدَاءِ يَقُومُ، قَالَ: نَمْ، فَنَامَ، ثُمَّ ذَهَبَ يَقُومُ، فَقَالَ: نَمْ، فَلَمَّا كانَ مِن آخِرِ اللَّيْلِ قَالَ سَلْمَانُ: قُمِ الآنَ. فَصَلَّيَا فَقَالَ له سَلْمَانُ: إنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، ولِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، ولِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فأعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ. فأتَى النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَذَكَرَ ذلكَ له، فَقَالَ النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: صَدَقَ سَلْمَانُ (رواه البخارى عن أبى جحيفة)

“Nabi shallahu’alaihi wasallam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman berkunjung ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, “Mengapa keadaan kamu seperti itu?” Wanita itu menjawab, “Saudaramu Abu Darda’ sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan.”
Abu Darda’ datang lalu membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai Abu Darda’ berkata kepada Salman, “Makanlah, adapun saya sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Saya tidak akan makan kecuali kalau kamu juga makan.” Maka Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam. Salman berkata padanya, “Tidurlah.” Abu Darda’ pun tidur kembali.
Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan shalat malam, Salman berkata lagi padanya, “Tidurlah!” Hingga pada akhir malam, Salman berkata, “Bangunlah.” Lalu mereka shalat bersama-sama. Setelah itu, Salman berkata kepadanya, “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.
Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallahu’alaihi wasallam dan menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, “Salman itu benar.”
(HR. Bukhari no. 1968)

Perhatikanlah! Salman melihat suatu kondisi yang mengharuskannya memberi nasehat, dan Abu Darda’ pada pihak yang dinasehati menerimanya dengan baik. Keduanya memahami bahwa saling menasehati itu untuk kebaikan setiap insan muslim.

Kisah nasehat ketika Umar radhiallahu’anhu sakit dan dikunjungi oleh kaum muslimin.

وَجَاءَ النَّاسُ فَجَعَلُوا يُثْنُونَ عَلَيْهِ وَجَاءَ رَجُلٌ شَابٌّ فَقَالَ أَبْشِرْ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ بِبُشْرَى اللَّهِ لَكَ مِنْ صُحْبَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدَمٍ فِي الْإِسْلَامِ مَا قَدْ عَلِمْتَ ثُمَّ وَلِيتَ فَعَدَلْتَ ثُمَّ شَهَادَةٌ قَالَ وَدِدْتُ أَنَّ ذَلِكَ كَفَافٌ لَا عَلَيَّ وَلَا لِي فَلَمَّا أَدْبَرَ إِذَا إِزَارُهُ يَمَسُّ الْأَرْضَ قَالَ رُدُّوا عَلَيَّ الْغُلَامَ قَالَ يَا ابْنَ أَخِي ارْفَعْ ثَوْبَكَ فَإِنَّهُ أَبْقَى لِثَوْبِكَ وَأَتْقَى لِرَبِّكَ (رواه البخارى)

“, Datanglah orang-orang lalu memberikan pujian untuk beliau. Datang juga seorang pemuda seraya mengatakan, ‘Berbahagialah Anda, wahai Amirul Mu’minin dengan kabar gembira dari Allah untuk Anda, karena Anda telah hidup mendampingi (menjadi sahabat) Rasulullah shallahu’alaihi wasallam dan berbagai jasa dalam Islam yang telah Anda ketahui. Lalu Anda diberi kepercayaan menjadi pemimpin dan Anda telah menjalankannya dengan adil lalu Anda mati syahid.’
Umar berkata, ‘Aku berharap itu semua impas, aku tidak terkena dosa dan juga tidak mendapat pahala.’
Ketika pemuda itu pergi, tampak pakaiannya menyeret tanah, maka beliau berkata, ‘Bawa kembali pemuda itu kepadaku.’
Beliau berkata kepadanya, ‘Wahai anak saudaraku, angkatlah pakaianmu! Karena yang demikian itu lebih membuat awet pakaianmu dan lebih membuatmu bertakwa kepada Rabb-mu..’”
(HR. al-Bukhari )

Umar bin Khottob radhiallahu’anhu mendengarkan pujian lalu berharap suatu kebaikan berupa ampunan. Tidak berhenti di situ, ketika di antara pengunjungnya yang berpakaian isbal beliau dalam keadaan sakit memberinya nasehat. Allahu Akbar.

Berikut ini majlis Abdullah Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu yang penuh nasehat,

وعن عَلقَمةَ قال: (كنَّا جُلوسًا معَ ابنِ مسعودٍ، فجاء خبَّابٌ فقال: يا أبا عبدِ الرَّحمنِ، أيستطيعُ هؤلاء الشَّبابُ أن يقرؤوا كما تقرأُ؟ قال: أمَا إنَّك لو شئْتَ أمَرْتَ بعضَهم يقرأُ عليك، قال: أجَلْ، قال: اقرَأْ يا عَلقَمةُ، فقال زيدُ بنُ حُدَيرٍ أخو زيادِ بنِ حُدَيرٍ: أتأمُرُ عَلقَمةَ أن يقرَأَ، وليس بأقرَئِنا؟! قال: أمَا إنَّك إن شئْتَ أخبرْتُك بما قال النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم في قَومِك وقَومِه، فقرأْتُ خمسينَ آيةً مِن سورةِ مَريَمَ، فقال عبدُ اللهِ: كيف ترى؟ قال قد أحسَن، قال عبدُ اللهِ: ما أقرَأُ شيئًا إلَّا وهو يقرَؤُه، ثُمَّ التفَت إلى خبَّابٍ وعليه خاتَمٌ مِن ذَهبٍ، فقال: ألم يَأنِ لهذا الخاتَمِ أن يُلقى؟ قال: أمَا إنَّك لن تراه عليَّ بَعدَ اليومِ، فألقاه
(رواه البخارى)

“Dari Alqamah, dia berkata: (Kami sedang duduk bersama Ibnu Mas`ud , ketika itu datanglah Khabbab seraya berkata: Wahai Abu Abdirrahman, apakah para pemuda ini dapat membaca seperti engkau? Dia berkata: Jika kamu mau, kamu bisa meminta salah satu dari mereka untuk membaca untukmu. Dia berkata: Baik, lalu lanjut mengatakan: Bacalah, wahai Alqamah.
Zayd bin Hudayr, saudara Ziyad bin Hudayr, berkata: Apakah kamu memerintahkan Alqamah untuk membaca, padahal dia bukan qari terbaik di antara kita?! Dia berkata: Jika kamu mau, aku akan memberitahumu apa yang dikatakan Nabi shallahu’alaihi wasallam tentang kaummu dan kaumnya. Lalu saya membacakan lima puluh ayat dari Surah Maryam. Abdullah berkata: Bagaimana menurutmu? Dia berkata: Sangat bagus.
Abdullah berkata: Aku tidak membaca sesuatu pun kecuali dia membacanya.
Lalu Abdullah menoleh ke Khabbab, yang mengenakan cincin emas, dan berkata: Bukankah sudah saatnya cincin ini dibuang? Ia berkata: Engkau tidak akan pernah melihatnya lagi padaku setelah hari ini. Dia pun membuangnya”
(HR. al-Bukhari).
Ibnu Umar langsung menegur orang yang keliru yang berada di dekatnya sebagaimana disebutkan di dalam riwayat At-Tirmidzi,

وعن نافِعٍ: أنَّ رجُلًا عطَس إلى جَنبِ ابنِ عُمرَ، فقال: الحَمدُ للهِ، والسَّلامُ على رسولِ اللهِ، قال ابنُ عُمرَ: وأنا أقولُ: الحَمدُ للهِ، والسَّلامُ على رسولِ اللهِ، وليس هكذا علَّمَنا رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، علَّمَنا أن نقولَ: الحَمدُ للهِ على كُلِّ حال

“Dari Nafi’: Ada seorang laki-laki bersin di samping Ibnu Umar seraya membaca:

الحَمدُ للهِ، والسَّلامُ على رسولِ اللهِ

Ibnu Umar berkata : Aku juga mengucapkan lafazh ini:

الحَمدُ للهِ، والسَّلامُ على رسولِ اللهِ

Tapi bukan seperti itu yang Rasulullah shallahu’alaihi wasallam ajarkan kepada kami (ketika bersin), ucapkan saja:

الحَمدُ للهِ على كُلِّ حال

E. HAL-HAL YANG BISA MENGOKOHKAN UKHUWWAH ISLAMIYYAH

a. Menyampaikan ungkapan cinta
Ketika Anda melihat saudara Anda yang berhias dengan banyak kebaikan; ahli shalat, ahli puasa, ahli shodaqoh, ahli silaturrahim, ahli al-Qur’an, ahli majlis ta’lim, peduli sekitar, penyayang dhu’afa, tidak sombong, ringan tangan dan lain-lain, maka janganlah Anda sekedar terkesan di dalam hati saja. Tetapi, lebih dari itu ungkapkanlah secara lisan
“ إنِّي أُحِبُّك في اللهِ “ (Sungguh saya mencintai Anda karena Allah). Diseburkan di dalam Hadits,

مَرَّ رجُلٌ بالنَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم وعِندَ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم رجُلٌ جالِسٌ، فقال الرَّجُلُ: واللهِ يا رسولَ اللهِ، إنِّي لَأُحِبُّ هذا في اللهِ، فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: أخبَرْتَه بذلك؟ قال: لا، قال: قُمْ فأَخبِرْهُ؛ تَثْبُتِ المَودَّةُ بيْنكما. فقام إليه فأخبَرَه، فقال: إنِّي أُحِبُّك في اللهِ، أو قال: أُحِبُّك للهِ، فقال الرَّجُلُ: أَحَبَّك الذي أحبَبْتَني فيه (رواه أبو داود والنسائى عن أنس بن مالك)

“Ada seseorang lewat di depan Nabi shallahu’alaihi wasallam, di samping beliau ada seseorang yang sedang duduk. Dia berkata: Demi Allah, Ya Rasulullah sungguh saya mencintai orang ini karena Allah. Rasulullah bertanya: Apakah kamu sudah memberitahukan kepadanya yang demikian? Dia menjawab: Belum. Beliau bersabda: Ayo berdiri dan sampaikanlah kepadanya niscaya akan memperkokoh cinta kalian berdua. Dia pun berdiri lalu mengatakan kepadanya: Inni uhibbuka fillah atau dia mengatakan: uhibbuka fillah. Orang itu menjawab: Ahhabaka alladzi- ahbabtani fihi (Semoga mencintai Anda Dzat yang telah menjadikan Anda mencintaiku karenanya)” (HR. Abu Daud dan An-Nasa’I dari Anas bin Malik)

b. Mendoakan tanpa sepengetahuannya
Ini hal yang luar biasa. Namun, belum banyak kaum muslimin yang melakukannya. Bagaimana tidak, ketika kita mendoakan saudara kita tanpa dia mengetahuinya maka doa ini mustajab. Apakah kita rugi? Tidak, kita justru didoakan oleh Malaikat dengan doa sama seperti yang kita panjatkan. Disebutkan di dalam Hadits,

دَعْوَةُ المَرْءِ المُسْلِمِ لأَخِيهِ بظَهْرِ الغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّما دَعَا لأَخِيهِ بخَيْرٍ، قالَ المَلَكُ المُوَكَّلُ بهِ: آمِينَ وَلَكَ بمِثْلٍ (رواه مسلم عن أم الدرداء)

“Doa seorang muslim untuk saudaranya tanpa dia mengetahuinya adalah mustajab. Di sisi kepalanya ada Malaikat yang diserahi urusan. Setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan kebaikan, maka Malaikat yang diserahi urusan tersebut itu mengatakan: Amin… dan untukmu sama seperti itu juga(HR. Muslim dari Ummu Darda’)

Judul buku : UKHUWWAH ISLAMIYYAH

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Ukhuwwah Islamiyyah (Bag. 2 UKHUWWAH ATAS DASAR AQIDAH LEBIH UTAMA DARIPADA UKHUWWAH ATAS DASAR APAPUN) https://nidaulfithrah.com/ukhuwwah-islamiyyah-bag-2-ukhuwwah-atas-dasar-aqidah-lebih-utama-daripada-ukhuwwah-atas-dasar-apapun/ Mon, 01 Sep 2025 07:04:00 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=20396 C. UKHUWWAH ATAS DASAR AQIDAH LEBIH UTAMA DARIPADA UKHUWWAH ATAS DASAR APAPUN
Persaudaraan atas dasar aqidah lebih utama daripada persaudaraan atas dasar kabilah, bisnis, negara, kekayaan, komunitas, atau apapun. Bahkan lebih utama daripada persaudaraan atas dasar nasab/keluarga. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَٰنَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْإِيمَٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ حِزْبُ ٱللَّهِ ۚ أَلَآ إِنَّ حِزْبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ (المجادلة:22)

“Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ta’ala ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah ta’ala. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung” (QS. Al-Mujadilah: 22)
Coba kita perhatikan ayat ini, orang muknin tidaklah mencintai orang kafir meskipun ayah, anak, saudara atau famili. Padahal mereka adalah orang-orang yang ada ikatan nasab, tetapi mereka tidak boleh dicintai karena kafir.
Ayat ini menjelaskan suatu kejadian dalam perang Badar. Ketika itu Abu Ubaidah membunuh ayahnya. Abu Bakar berkeinginan kuat untuk membunuh anaknya, Abdurrahman. Mush’ab bin Umair membunuh saudaranya Ubaid bin Umair. Umar bin Khottob membunuh kerabatnya. Hamzah, Ali dan Ubaidah bin Al-Harits juga membunuh kerabatnya yaitu ‘Utbah, Syaibah, dan Al-Walid bin ‘Utbah.
Jelaslah, ukhuwwah atas dasar aqidah lebih utama daripada ukhuwwah atas dasar keluaga.

D. PANCARAN ENERGI UKHUWWAH ISLAMIYYAH
Ukhuwwah Islamiyyah memancarkan energi yang luar biasa dalam kehidupan kaum muslimin. Di antaranya:

a. Tidak menzhalimi, tidak membiarkannya disakiti, saling menolong, dan menutup aibnya
Disebutkan di dalam Hadits,

المُسْلِمُ أخُو المُسْلِمِ لا يَظْلِمُهُ ولَا يُسْلِمُهُ، ومَن كانَ في حَاجَةِ أخِيهِ كانَ اللَّهُ في حَاجَتِهِ، ومَن فَرَّجَ عن مُسْلِمٍ كُرْبَةً، فَرَّجَ اللَّهُ عنْه كُرْبَةً مِن كُرُبَاتِ يَومِ القِيَامَةِ، ومَن سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَومَ القِيَامَةِ (رواه البخارى ومسلم عن ابن عمر)

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti. Barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah c akan membantu kebutuhannya. Barangsiapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah ta’ala menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari Kiamat. Barang siapa yang menutupi (aib) seorang muslim maka Allah ta’ala akan menutupi (aibnya) pada hari Kiamat” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar)

  • Nabi shallahu’alaihi wasllam menegur seseorang yang melaknat seorang muslim akibat suatu dosa

Nabi shallahu’alaihi wasllam menegur orang yang menzhalimi saudaranya secara lisan, lalu bagaimana bentuk kezhaliman yang lebih besar lagi. Suatu hari Nabi shallahu’alaihi wasllam menghukum orang yang minum khamr, lalu ada orang yang mengomenteri peminum khamr tersebut dengan ucapan-ucapan yang buruk. Maka Nabi shallahu’alaihi wasllam menegurnya. Disebutkan di dalam Hadits,

أنَّ رَجُلًا علَى عَهْدِ النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كانَ اسْمُهُ عَبْدَ اللَّهِ، وكانَ يُلَقَّبُ حِمَارًا، وكانَ يُضْحِكُ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، وكانَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ قدْ جَلَدَهُ في الشَّرَابِ، فَأُتِيَ به يَوْمًا فأمَرَ به فَجُلِدَ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ القَوْمِ: اللَّهُمَّ العنْه، ما أكْثَرَ ما يُؤْتَى بهِ؟ فَقَالَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: لا تَلْعَنُوهُ، فَوَاللَّهِ ما عَلِمْتُ إنَّه يُحِبُّ اللَّهَ ورَسولَهُ (رواه البخارى عن عمر الخطاب)

“Ada seseorang pada zaman Nabi shallahu’alaihi wasllam namanya Abdullah. Biasa dijuluki dengan Himar. Dia orang yang pernah membikin Nabi tertawa. Nabi shallahu’alaihi wasllam pernah mencambuknya disebabkan minum khamr. Suatu hari dia dibawa ke hadapan Nabi shallahu’alaihi wasllam. Beliau memerintahkan agar dicambuk. Ada seseorang dari suatu kaum yang berkomentar: Ya Allah, laknatlah dia! Betapa sering dia ditangkap Maka Nabi shallahu’alaihi wasllam menegurnya: Janganlah kamu melaknatnya. Demi Allah, sungguh dia seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya” (HR. Bukhari dari -Umar bin al-Khottob)

  • Nabi menegur Abu Dzar yang me-laqob-i seseorang dengan laqob-laqob yang tidak patut.

Nabi shallahu’alaihi wasllam menegur Abu Dzar yang me-laqob-i seseorang dengan laqob-laqob yang tidak patut. Disebutkan di dalam Hadits,

رَأَيْتُ أَبَا ذَرٍّ وَعليه حُلَّةٌ، وعلَى غُلَامِهِ مِثْلُهَا، فَسَأَلْتُهُ عن ذلكَ، قالَ: فَذَكَرَ أنَّهُ سَابَّ رَجُلًا علَى عَهْدِ رَسولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ، فَعَيَّرَهُ بأُمِّهِ، قالَ: فأتَى الرَّجُلُ النبيَّ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ، فَذَكَرَ ذلكَ له، فَقالَ النبيُّ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ: إنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ، إخْوَانُكُمْ وَخَوَلُكُمْ، جَعَلَهُمُ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ، فمَن كانَ أَخُوهُ تَحْتَ يَدَيْهِ، فَلْيُطْعِمْهُ ممَّا يَأْكُلُ، وَلْيُلْبِسْهُ ممَّا يَلْبَسُ، وَلَا تُكَلِّفُوهُمْ ما يَغْلِبُهُمْ، فإنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ فأعِينُوهُمْ عليه (رواه البخارى ومسلم عن أبى ذر الغفارى)

“Saya (periwayat) melihat Abu Dzar mengenakan pakaian. Budaknya juga mengenakan pakaian yang sama. Lalu saya (periwayat) bertanya sebab demikian. Dia menuturkan bahwa dirinya pernah mencela seseorang pada zaman Nabi shallahu’alaihi wasallam dengan menjelek-jelekkan ibunya. Ketika mendatangi Nabi shallahu’alaihi wasallam dan menceritakan apa yang terjadi, beliau bersabda: Sesungguhnya pada dirimu terdapat sifat jahiliyyah. Mereka itu saudara kalian. Allah ta’ala menjadikan mereka di bawah kekuasaan kalian. Maka siapa saja yang saudaranya itu di bawah kekuasaannya dia harus memberinya makan sebagaimana dirinya makan, dia harus memberinya pakaian sebagaimana dirinya berpakaian. Janganlah membebaninya dengan sesuatu yang di luar kemampuannya. Jika kamu menugaskannya dengan suatu tugas maka bantulah dia” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Dzar)

Dua kejadian di atas menunjukkan dua kezhaliman yang barangkali dikatagorikan kezhaliman kecil. Meski demikian, Nabi shallahu’alaihi wasallam langsung menegurnya. Lalu, bagaimana jika kezhaliman besar?
  • Seorang muslim tidak membiarkan saudaranya disakiti

Ibnu Hasyim rahimahullah menjelaskan mengenai sebab terjadinya perang Bani Qoinuqo, yaitu seorang muslim yang tidak rela saudarinya seorang Muslimah dilecehkan oleh orang Yahudi. Dia marah dan membunuh orang Yahudi tersebut. Dia sendiri akhirnya dibuhuh oleh orang-orang Yahudi.

أن امرأة من العرب قدمت بجلب لها، فباعته بسوق بني قينقاع، وجلست إلى صائغ بها، فجعلوا يريدونها على كشف وجهها، فأبت، فعمد الصائغ إلى طرف ثوبها فعقده إلى ظهرها، فلما قامت انكشفت سوأتها، فضحكوا بها، فصاحت، فوثب رجل من المسلمين على الصائغ فقتله وكان يهوديًا، وشدّت اليهود على المسلم فقتلوه، فاستصرخ أهل المسلم المسلمين على اليهود، فغضب المسلمون، فوقع الشرّ بينهم وبين بني قينقاع

Seorang perempuan( Muslimah) dari Arab membawa perhiasan. Dia hendak menjualnya di pasar Bani Qainuqa’. Perempuan itu duduk di tempat pembuat perhiasan. Mereka meminta kepanya agar membuka wajahnya. Dia tidak mau salah seorang pembuat perhiasan sengaja berbuat (buruk) dengan mengikatkan ujung pakaian bagian belakang muslimah tersebut ke bagian yang lainnya. Sehingga ketika perempuan itu bangkit dari duduknya tersingkaplah aurat bagian belakangnya. Hal itu membuat orang-orang yang ada di pasar melihat perempuan tersebut dan menertawakan. Dia berteriak. Seorang muslim segera menghampiri dan membunuh Yahudi tadi. Melihat hal itu, Yahudi yang lain pun mendatanginya lalu membunuh muslim tersebut. Kemudian terjadilah pertengkaran antara kaum muslimin yang ada di sana dengan Bani Qainuqa’.
Allahu Akbar, beginilah ukhuwwah Islamiyyah. Seorang muslim tidak rela, marah dan tidak membiarkan saudaranya disakiti.

Judul buku : UKHUWWAH ISLAMIYYAH

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Ukhuwwah Islamiyyah (Bag. 1 KONSEKWENSI DARI KONSEP AL-WALA’ WAL-BARA’ YANG MERUPAKAN AJARAN ISLAM YANG FUNDAMENTAL) https://nidaulfithrah.com/ukhuwwah-islamiyyah-bag-1-konsekwensi-dari-konsep-al-wala-wal-bara-yang-merupakan-ajaran-islam-yang-fundamental/ Sat, 26 Jul 2025 05:20:19 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=20127 A. UKHUWWAH ISLAMIYYAH ADALAH KONSEKWENSI DARI KONSEP AL-WALA’ WAL-BARA’ YANG MERUPAKAN AJARAN ISLAM YANG FUNDAMENTAL

Ukhuwwah Islamiyyah artinya persaudaraan Islam. Maksudnya persaudaraan sesama kaum muslimin.

Al-Wala’ maksudnya cinta dan loyalitas. Al-Bara’ maksudnya benci dan putus ikatan hati. Kepada siapa kita mesti tunjukkan sikap al-Wala’ dan kepada siapa kita tunjukkan sikap al-Bara’. Islam telah mengaturnya. Jangan sampai salah sasaran atau keliru dengan dua persikapan ini. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَهُمْ رَٰكِعُونَ (المائدة” 55)

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)” (QS. Al-Maidah:55)
Ayat ini menunjukkan bahwa circle al-Wala’ wa- al Bara’ adalah tiga pihak. Yaitu Allah ta’ala, Rasulullah shallahu’alaihi wasallam dan orang Islam (muslim).

a. Allah ta’ala, Dia lah Tuhan yang kita menghambakan diri hanya kepada-Nya, yang kita memohon untuk dimasukkan ke dalam Surga-Nya. Maka, kita harus mencintai dan loyal kepada-Nya.

b. Rasulullah shallahu’alaihi wasallam. Beliau adalah utusan Allah ta’ala yang melalui beliau syareat-Nya bisa sampai kepada kita sehingga kita bisa menjalani hidup di atas jalan yang lurus. Maka, kita harus cinta dan loyal kepada beliau.

c. Muslim. Dia lah orang yang mencitai Allah dan Rasul-Nya. Dialah yang menegakkan dan mensyiarkan syareat Allah yang disampaikan kepadanya melalui Rasul-Nya. Maka, kepada muslim kita harus cinta dan loyal.

Adapun terhadap kebalikan dari tiga pihak di atas kita harus menunjukkan sikap al-bara’ (benci dan putus ikatan hati);

a. Berhala-berhala, jimat-jimat dan apapun yang merupakan tandingan bagi Allah. Kita harus berlepas diri dari semuanya itu (sikap al-bara’).

b. Orang yang memposisikan diri sebagai Rasul; membuat syareat dan menetapkan hukum-hukum yang menyelisihi syareat Allah. Kepada orang semcam ini kita juga harus menunjukkan sikap al-bara’

c. Orang kafir. Kepadanya kita sebatas berbuat baik dalam koredor pemenuhan hak-hak. Sebagai kawan, tetangga, pembeli, penjual, layanan jasa, partner bisnis dan lain-lain. Jadi, berbuat baik saja, tidak dalam koridor cinta dan loyalitas. Karena cinta dan loyalitas hanya sesama muslim. Allah ta’ala berfirman,

فَسَوْفَ يَأْتِى ٱللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُۥٓ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلْكَٰفِرِين َ(المائدة:54)

“Kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir” (QS. Al-Madiah:54)

Ayat ini menunjukkah, benarnya cinta kepada Allah ta’ala di mana Allah ta’ala membalas cintanya alias tidak bertepuk sebelah tangan yaitu orang berlemah-lembut kepada orang muslim dan bersikap keras atau benci kepada orang kafir.

لَّا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ (الممتحنة:8)

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (QS. Al-Mumtahanah:8)

Adapun surat Al-Mumtahanah ayat 8 ini menunjukkan, terhadap orang kafir hanya diperbolehkan berbuat baik (memenuhi hak-haknya) bukan sikap cinta atau loyal. Karena cinta dan loyalitas hanya sesama muslim.

Jelaslah, ukhuwwah Islamiyyah atau persaudaran atas dasar sesama orang yang bersyahadat itu merupakan konsekwensi dari ajaran Islam yang sangat fundamental.

B. UKHUWWAH ITU TASYRI’ ROBBANI
Artinya ia merupakan ketetapan syari’at dari Allah ta’ala langsung. Ia bukan tradisi suatu bangsa. Bukan warisan leluhur. Dan, bukan juga taqlid (mengekor) terhadap budaya suatu kaum.

a. Allah ta’ala memerintahkannya di dalam Al-Qur’an.
Dia ta’ala berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ [ آل عمران: 103]

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu kamu menjadi orang-orang yang bersaudara karena nikmat Allah; dan kamu telah berada di tepi jurang Neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk” (QS. Ali Imran:103)

Ayat ini menjelaskan tentang kondisi bangsa Arab sebelum datangnya Islam. Mereka selalu dalam permusuhan dan peperangan. Di antaranya adalah suku Aus dan Khazraj yang satu sebagai musuh bebuyutan bagi yang lainnya. Ketika Nabi shallahu’alaihi wasallam datang berdakwah, mereka berduyun-duyun masuk Islam. Maka, berubahlah kondisinya. Mereka menjadi ummat yang bersatu dan bersaudara. Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda,

إنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاثًا، ويَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاثًا، فَيَرْضَى لَكُمْ: أنْ تَعْبُدُوهُ، ولا تُشْرِكُوا به شيئًا، وأَنْ تَعْتَصِمُوا بحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا ولا تَفَرَّقُوا، ويَكْرَهُ لَكُمْ: قيلَ وقالَ، وكَثْرَةَ السُّؤالِ، وإضاعَةِ المالِ (رواه مسلم عن أبى هريرة)

“Allah ta’ala meridhoi untuk kalian pada tiga perkara dan membenci untuk kalian pada tiga perkara. Dia ridho untuk kalian menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, kalian berpegang teguh dengan tali Allah semuanya dan janganlah kalian bercerai berai, Dia ta’ala membenci untuk kalian “katanya-katanya”, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Secara gamblang Allah ta’ala perintahkan jika ada kaum muslimin bertikai agar didamaikan. Dia ta’ala berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (الحجرات:10)

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah di antara saudara kalian. Dan bertaqwalah kepada Allah ta’ala agar kalian mendapatkan rahmat” (QS. Al-Hujurot:10)

Bahkan saking tidak diperbolehkan adanya perselisihan dan pertikaian di dalam tubuh kaum muslimin, syareat menyatakan mendamaikan pihak-pihak yang bertikai itu termasuk salah satu dari sebaik-baiknya pembicaraan. Allah ta’ala berfirman,

لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَاحٍۢ بَيْنَ النَّاسِۗ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا (النساء:114)

“Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar” (QS. An-Nisa:114)

b. Nabi shallahu’alaihi wasallam mempersaudarakan sesama Sahabat padahal mereka tidak ada ikatan nasab.

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan…. Nabi mempersaudarakan sesama Shahabat sebanyak dua kali. Pertama: khusus sesama muhajirin. Diantaranya dipersaudarakannya Zaid bin Haritsah dengan Hamzah bin Abdul Mutholib. Kedua: antara Muhajirin dan Anshor setelah hijrah ke Madinah.

Jadi, sesampainya di Madinah selain mendirikan masjid Nabi shallahu’alaihi wasallam mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshor yang menunjukkan pentingnya kedua hal tersebut. Masjid terkait hubungan vertikal dan persaudaraan terkait hubungan horizontal.

Bahkan persaudaraan ini yang ia tidak ada kaitannya dengan nashab bukan saja pada ikatan saling menolong, memperhatikan dan mempedulikan, tetapi lebih dari itu mereka juga saling mewarisi. Disebutkan di dalam Hadits,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عنْهمَا كانَ المُهَاجِرُونَ لَمَّا قَدِمُوا المَدِينَةَ يَرِثُ المُهَاجِرُ الأنْصَارِيَّ دُونَ ذَوِي رَحِمِهِ؛ لِلْأُخُوَّةِ الَّتي آخَى النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ بيْنَهُمْ (رواه البخارى)

“Dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma, ia mengatakan bahwa ketika orang-orang Muhajirin datang ke Madinah mereka mewarisi Anshor padahal tidak ada hubungan rahim. Itu tidak lain karena ikatan setelah Nabi persaudarakan sesama mereka” (HR. Bukhari)

Namun, ikatan saling mewarisi ini dihapus. Yang masih tetap berlangsung adalah ikatan saling menolong dan mempedulikan. Sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Ibnu Abbas,

فَلَمَّا نَزَلَتْ: {وَلِكُلٍّ جَعَلْنَا مَوَالِيَ} [النساء: 33] نَسَخَتْ، ثُمَّ قالَ: (وَالَّذِينَ عَاقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ) إلَّا النَّصْرَ، وَالرِّفَادَةَ، وَالنَّصِيحَةَ، وَقَدْ ذَهَبَ المِيرَاثُ، وَيُوصِي له (رواه البخارى)

“Ketika turun ayat “ وَلِكُلٍّ جَعَلْنَا مَوَالِيَ ” (QS. An-Nisa:33) ia (saling mewarisi) dihapus. Kemudian firman-Nya “ وَالَّذِينَ عَاقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ “ menunjukkan (yang masih dilanjutkan) adalah saling menolong, menjamin, dan menasehati. Adapun saling mewarisi sudah ditiadakan” (HR. Bukhari)

Berikut ini pasangan-pasangan persaudaran yang Rasulullah shallahu’alaihi wasallam lakukan terhadap Muhajirin dan Anshor:

  1. Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan Kharijah bin Zaid
  2. Umar bin Al-Khottob dengan ‘Utban bin Malik
  3. Ubaidah bin Al-Jarroh dengan Abu Tholhah
  4. Abdurrahman bin ‘Auf dengan Sa’ad bin Ar-Robi’
  5. Ja’far bin Abu Tholib dengan Mu’adz bin Jabal
  6. Mush’ab bin ‘Umair dengan Abu Ayyub Al-Anshory
  7. Abu Dzar Al-Ghifari dengan Al-Mundzir bin ‘Amr
  8. Salman Al-Farisi dengan Abu Darda’
  9. Tholhah bin ‘Ubaidillah dengan Ka’ab bin Malik
  10. Zubair bin Al-Awam dengan Salmah bin Salamah bin Waqsy
  11. Bilal bin Robah dengan Abu Rouhah Al-Khots’amy

Judul buku : UKHUWWAH ISLAMIYYAH

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>