tirmidzi – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Thu, 16 Jan 2025 06:26:25 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png tirmidzi – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 PEGAWAI, SURGA MERINDUKANMU (Menghormati dan Menyayangi, Bag. 3) https://nidaulfithrah.com/pegawai-surga-merindukanmu-menghormati-dan-menyayangi-bag-3/ Thu, 16 Jan 2025 06:26:25 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19511 4. Menghormati dan Menyayangi
Sebuah team work yang pasti terdiri dari atasan dan bawahan akan bekerja dengan baik sehingga apa yang merupakan target kerja bisa tercapai dengan semestinya manakala semua individu di dalamnya merasakan kenyamanan, kedamaian dan ketentraman. Untuk itu sesuatu yang sangat dibutuhkan mereka adalah adanya sikap saling menghormati dan menyayangi.
Sebagai atasan tidak boleh semena-mena terhadap bawahan. Janganlah kedudukan yang lebih tinggi menjadikannya bersikap abai dan meremehkan orang-orang yang berkedudukan di bawahnya. Tidak membebani tugas di luar kemampuannya, perhatikanlah kemaslahatan jasmani dan rohaninya. Bersikaplah mengayomi dan santun dalam memberikan intruksi-intruksi, lembut dalam memberikan evaluasi-evaluasi dan tidak bakhil untuk memberikan apresiasi atas suatu prestasi. Prilaku atasan yang MENYAYANGI sedemikian rupa akan menjadikan bawahan menyenangi pekerjaannya.
Sebagai bawahan harus menghormati atasannya. Tunjukkan adab yang baik dalam tutur kata dan prilaku. Tidak menggunjingnya. Tidak membuat kegaduhan dalam lingkungan kerja. Janganlah melampaui wewenangnya. Responlah setiap perintah dan keputusannya dengan baik dan berbuatlah secara all out terhadap setiap tugas yang diberikannya. Prilaku bawahan yang MENGHORMATI sedemikian rupa akan menjadikan atasan terdorong untuk mempertahankan keberadaannya bahkan tidak ragu untuk mengangkat kedudukan atau jabatannya.
Tentang nilai-nilai MENYAYANGI DAN MENGHORMATI antara atasan dan bawahan, antara senior dan yunior telah diajarkan oleh Nabi shallahu’alaihi wasallam. Beliau bersabda,

ليسَ منَّا من لَم يَرحَمْ صغيرَنا ، و يعرِفْ حَقَّ كَبيرِنا (أخرجه أبوداود و الترمذي وأحمد عن عبدالله بن عمرو )

“Tidak termasuk bagian dari kami orang yang tidak menyayangi orang yang kecil di antara kami, dan tidak mengetahui hak orang yang besar dari antara kami” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan Ahmad dari Abdullah bin Amr)
Dalam riwayat lain,

ليس منا من لم يرحمْ صغيرَنا ، ويُوَقِّرْ كبيرَنا (رواه الألباني، في صحيح الجامع، عن أنس بن مالك وعبدالله بن عمرو بن العاص وابن عباس)

“Tidak termasuk bagian dari kami orang yang tidak menyayangi orang kecil dan tidak menghormati orang besar di antara kami” (HR. Al-Albani di dalam Shahih al-Jami’ dari Anas bin Malik, Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash dan Ibnu Abbas)
5. Jangan Ghibah
Sesama pegawai dalam satu team jangan pernah ada ghibah di dalamnya. Ghibah itu membicarakan aib atau kekurangan orang lain. Jika orang yang dibicarakan tersebut mendengarnya pasti akan marah. Aib atau kekurangan apapun bentuknya janganlah sekali-kali dijadikan bahan obrolan dan perbincangan. Karena hal itu akan mencoreng kehormatan saudaranya. Bukankah sesama muslim terikat dengan ikatan “al-wala” (loyalitas)? Coba bayangkan, jika yang di ghibah-i itu Anda. Pasti marah, bukan? Nah, jika Anda tidak mau di- ghibah-i maka jangan meng-ghibah-i orang lain.
Jika aib atau kekurangan tersebut bisa berdampak pada reputasi kantor/perusahaan atau menurunnya pendapatan maka lakukanlah salah satu dari dua cara ini;
a.] Yang bersangkutan diajak bicara secara tertutup, dinasehati dan diberikan arahan agar tidak mengulanginya lagi.
b.] Yang bersangkutan langsung dilaporkan ke atasan yang berwenang. Ini tindakan yang solutif. Bukan dibeberkan aibnya ke khalayak karena akan menjatuhkan nama baiknya dan lagi pula tidak sebagai solusi.
Ghibah itu dosa besar. Tetapi anehnya banyak kaum muslimin yang memandangnya remeh. Sehingga di mana ada kerumunan, maka obrolannya tidak lepas dari ghibah. Allahu al-Musta’an. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ (الحجرات:12)

Dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang (QS. Al-Hujurot:12)
Rasulullah shallahu’alaihi wsallam bersabda,

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Tahukah kamu, apakah ghibah itu?” Para Sahabat menjawab; ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Kemudian Rasulullah shallahu’alaihi wsallam bersabda: ‘Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.’ Seseorang bertanya; ‘Ya Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan? ‘ Rasulullah shallahu’alaihi wsallam bersabda: ‘Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu ada padanya, maka berarti kamu telah menggunjingnya. Dan apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah membuat-buat kebohongan terhadapnya.’ (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
Pelaku ghibah akan disiksa dengan mencakar-cakar wajah dan dadanya sendiri dengan kuku-kuku dari tembaga. Disebutkan di dalam Hadits,

لمَّا عُرِجَ بي مَرَرْتُ بِقومٍ لهُمْ أَظْفَارٌ من نُحاسٍ ، يَخْمُشُونَ وُجُوهَهُمْ وصُدُورَهُمْ ، فقُلْتُ : مَنْ هؤلاءِ يا جبريلُ ؟ قال : هؤلاءِ الذينَ يأكلونَ لُحُومَ الناسِ ، ويَقَعُونَ في أَعْرَاضِهِمْ (رواه أحمد وأبو داود عن أنس بن مالك) .

“Ketika aku dinaikkan ke langit (mi’raj), aku melewati suatu kaum yang kuku mereka terbuat dari tembaga, kuku itu mereka gunakan untuk mencakar muka dan dada mereka. Aku lalu bertanya, “Wahai Jibril, siapa mereka itu?” Jibril menjawab, “Mereka itu adalah orang-orang yang memakan daging manusia (ghibah) dan merusak kehormatan mereka.(HR. Ahmad dan Abu Daud dari Anas bin Malik)
6. Tidak Saling Menikung, Emosi dan Menjatuhkan Orang Lain Disebabkan Hasad dan Lainnya
Jadilah hamba-hamba Allah ta’ala yang bersaudara. Ini perintah untuk muslim secara umum. Tentu lebih utama lagi sesama teman dalam satu team work yang melekat padanya “sinergitas”. Bukankah Anda sekalian antara satu dan yang lainnya saling terikat dan terkait demi eksistensi dan kemajuan sebuah perusahaan yang kalian bekerja di dalamnya? Dan, dari perusahaan itulah kalian mendapatkan penghasilan?
Jagalah persaudaraan demi milieu kerja yang nyaman dan menyenangkan. Jangan ada hasad di antara kalian. Berlatihlah untuk mensyukuri atas suatu nikmat yang diraih oleh teman Anda karena rizki masing-masing orang telah Allah ta’ala gariskan dan tidak ada yang keliru ataupun meleset. Rizki Anda juga telah Allah ta’ala tetapkan. Bukankah Anda yakin bahwa Allah ta’ala itu “Ar-Rozzaq” (الرزاق)?
Janganlah saling menikung dan menjatuhkan demi ambisi suatu jabatan dan lainnya karena segalanya telah Allah ta’ala takdirkan. Anda beriman kepada takdir, bukan?
Jika ada suatu hal yang menjadikan kalian saling diam dan tidak bertegur sapa maka segeralah disudahi, tidak boleh berlanjut hingga melebihi tiga hari. Nabi shallahu’alaihi wsallam bersabda,

لاَ تقاطعوا ولاَ تدابروا ولاَ تباغضوا ولاَ تحاسدوا وَكونوا عبادَ اللَّهِ إخوانًا ولاَ يحلُّ لمسلمٍ أن يَهجرَ أخاهُ فوقَ ثلاثٍ (رواه الترمذى عن أنس بن مالك)

“Janganlah kalian saling memutuskan, saling membelakangi, saling murka dan saling dengki. Jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah ta’ala yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim untuk mendiamkan saudaranya melebih tiga hari” (HR At-Tirmidzi dari Anas bin Malik)
Dalam riwayat lain,

المسلِمُ أخُو المسلِمِ ، لا يَظلِمُهُ ولا يَخذُلُهُ ، ولا يَحقِرُهُ ، التَّقْوى ههُنا – وأشارَ إلى صدْرِهِ – بِحسْبِ امْرِئٍ من الشَّرِّ أنْ يَحقِرَ أخاهُ المسلِمَ ، كلُّ المسلِمِ على المسلِمِ حرامٌ ، دمُهُ ، ومالُهُ ، وعِرضُهُ (رواه البخارى ومسلم عن أبى هريرة)

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, sehingga dia tidak boleh menzhaliminya, menghinanya, mendustakannya dan merendahkannya. Takwa itu letaknya di sini –sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali– cukuplah seseorang itu dalam kejelekan selama dia merendahkan sesama saudara muslim. Setiap muslim terhadap muslim lainnya haram dan terjaga darah, harta dan kehormatannya. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Judul buku : PEGAWAI, SURGA MERINDUKANMU

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Oh..Kematian?! (Kematian Sebaik-baiknya Nasehat bag. 1) https://nidaulfithrah.com/oh-kematian-kematian-sebaik-baiknya-nasehat-bag-1/ Mon, 28 Oct 2024 02:21:44 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19282 A. Kematian Sebaik-baiknya Nasehat

Kita semua membutuhkan nasehat.
Ketika kita bengkok bisa menjadi lurus kembali setelah dinasehati.
Ketika keliru bisa sadar setelah dinasehati.
Ketika kita salah bisa kembali benar setelah dinasehati.
Hidup terasa lebih bermakna setelah Bapak dan Ibu guru memberi nasehat
Ketahuilah sebaik-baiknya nasehat adalah kematian!!!

Karena kematian sebaik-baiknya nasehat, maka Nabi shallahu’alaihi wasallam memerintahkan kita agar banyak mengingat kematian. Disebutkan di dalam Hadits,

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسولُ الله ﷺ: أكثروا ذكر هادم اللَّذات: الموت (رواه الترمذي، والنَّسائي، وصحَّحه ابن حبَّان)

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, dia berkata, Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda: Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan, yaitu kematian (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i, di-shahih-kan oleh Ibnu Hibban)
Kita benar-benar menyadari betapapun hebatnya fasilitas, lezatnya makanan dan minuman, tingginya kedudukan, glamournya fasilitas, menariknya permainan, indahnya pemandangan, nyamannya rekreasi, asyik-masyuknya pelampiasan hobi, megahnya gedung, ganteng cantiknya rupawan, dan manisnya bercengkerama semuanya itu tidak langgeng. Semuanya terbatas. Kematianlah yang membatasinya. Maka dengan mengingat kematian dan semakin banyak mengingatnya akan menjadikan kita berhati-hati dalam menjalani hidup dan kita betul-betul menyadari akan terjadinya peralihan dari kehidupan di dunia ke kehidupan di Akhirat yang dimulai dari alam barzah. Kita pun tidak akan membabi buta, semena-mena dan “sekarepe dhewek” dalam menjalani kehidupan yang fana ini. Bersamaan dengannya kita akan memperbanyak amalan.
Disebutkan dalam riwayat-riwayat tentang keadaan dan perkataan para Salafush sholih,


a. Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallhu’anhu
Ia berkata,

كُلُّ امْرِئٍ مُصَبَّحٌ فِي أَهْلِهِ:. وَالمَوْتُ أَدْنَى مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ. (رواه البخاري)

Setiap orang pada pagi hari bersantai dengan keluarganya. Padahal kematian lebih dekat dari pada tali sandalnya.” (HR. Bukhari)


b. Abdurrahman bin ‘Auf radhiallahu’anhu
Ia radhiallahu’anhu yang sedang berpuasa dihidangkan makanan untuk berbuka, tetapi tangannya tidak sanggup menyentuhnya ketika teringat kematian Mush’ab dan Hamzah radhiallahu’anhum,

أنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بنَ عَوْفٍ رَضِيَ اللَّهُ عنْه، أُتِيَ بطَعَامٍ وكانَ صَائِمًا، فَقالَ: قُتِلَ مُصْعَبُ بنُ عُمَيْرٍ وهو خَيْرٌ مِنِّي، كُفِّنَ في بُرْدَةٍ، إنْ غُطِّيَ رَأْسُهُ، بَدَتْ رِجْلَاهُ، وإنْ غُطِّيَ رِجْلَاهُ بَدَا رَأْسُهُ – وأُرَاهُ قالَ: وقُتِلَ حَمْزَةُ وهو خَيْرٌ مِنِّي – ثُمَّ بُسِطَ لَنَا مِنَ الدُّنْيَا ما بُسِطَ – أَوْ قالَ: أُعْطِينَا مِنَ الدُّنْيَا ما أُعْطِينَا – وقدْ خَشِينَا أَنْ تَكُونَ حَسَنَاتُنَا عُجِّلَتْ لَنَا، ثُمَّ جَعَلَ يَبْكِي حتَّى تَرَكَ الطَّعَامَ (رواه البخارى)

“Abdurrahman bin ‘Auf dihidangkan makanan yang saat itu ia sedang berpuasa. Lalu ia berkata, Mus’ab bin Umair telah terbunuh. Ia adalah orang yang lebih baik dariku tetapi ketika (hendak dikafani) tidak ada kain kafan yang bisa membungkusnya kecuali hanyalah burdah (kain bergaris) yang apabila ditutupkan pada kepalanya, kakinya terbuka (karena kain yang pendek) dan bila ditutupkan pada kakinya kepalanya terbuka. Dan aku melihatnya, dia lanjut berkata; “Hamzah juga lebih baik dariku ia telah terbunuh. Dunia telah dilapangkan untukku sebagaimana yang telah dilapangkan ini, dan sungguh kami khawatir bila kebaikan-kebaikan kami telah disegerakan balasannya buat kami (berupa kenikmatan dunia). Lalu ia pun mulai menangis dan meninggalkan makanan tersebut(HR. Bukhari)


c. Abu Hurairah radhiallahu’anhu,

كان إذا رأى جنازة قال : امضوا فإنا على الأثر

Ketika melihat janazah, ia mengatakan: Berlalulah kalian, kami pun pasti akan menyusul.


d. Abu Darda’ radhiallahu’anhu,
Dia berkata,

إذا ذكرت الموتى فعد نفسك كأحدهم

Kalau Anda mengingat orang-orang mati maka masukkan diri Anda salah satu dari mereka.

أضحكني؛ مؤمِّل دنيا والموتُ يطلبه، وغافل وليس مغفولًا عنه، وضاحك بملء فِيه ولا يدري أأرضى الله أم أسخطه

Aku jadi tertawa; ada orang memimpikan dunia padahal kematian tengah memburu dirinya, orang yang lalai padahal kematian tidak lalai terhadapnya, orang yang terbahak-bahak padahal dia tidak tahu apakah Allah ta’ala ridho terhadapnya ataukah murka.


e. Sa’id bin Jubair rahimahullah (665-714M)
Ia seorang ahli tafsir murid Ibnu Abbas, berkata,

لو فارق ذكر الموت قلبي لخشيت أن يفسد عليّ قلبي

“Kalau hatiku lepas dari mengingat mati, saya khawatir hatiku rusak”


f. Umar bin Abdul Aziz rahimahullah (681-720)
Ia cicit Umar bin Al Khothob, seorang khalifah Bani Umayyah berkata :

ألا ترون أنكم تجهزون كل يوم غاديا أو رائحا إلى الله عز وجل تضعونه في صدع من الأرض قد توسد التراب ، وخلف الأحباب ، وقطع الأسباب

Tidakkah kalian mengetahui bahwa kalian setiap hari pagi dan sore berjalan menuju Allah ta’ala menyiapkan diri kalian untuk kalian baringkan di liang lahat yang diurug dengan tanah, sementara kerabat kalian pulang maka terputuslah semua ikatan.


g. Abu Haazim rahimahullah
Dia seorang Tabi’in lahir di zaman sahabat Ibnu Umar, berkata,

انظُر كل عمل كرهت الموت لأجله فاترُكه، ولا يضرُّك متى متَّ

Lihatlah setiap pekerjaan yang karenanya Anda membenci kematian lalu tinggalkanlah, niscaya tidak akan memudharatkan Anda kapanpun Anda mati


h. Dzun Nun al-Mishry rahimahullah (796-859)
Ada seseorang yang menemuinya, bersamanya orang-orang para pecinta dunia. Dzun Nun pun mengatakan kepada mereka,

تَوَسَّدُوا المَوْتَ إِذَا نِمْتُمْ، وَاجْعَلُوهُ نُصْبَ أَعْيُنِكُمْ إِذَا قُمْتُمْ، كونوا كأنكم لا حاجة لكم إلى الدنيا، ولا بُدَّ لكم من الآخرة(الزهد الكبير للبيهقي)

Berbantallah kalian dengan kematian jika kalian tidur. Jadikalan ia penyangga mata kalau kalian bangun. Jadilah kalian sebagai orang-orang yang seakan-akan tidak membutuhkan dunia. Tetapi Akheratlah yang wajib bagi kalian.


i. Daud Ath-Tho-i rahimahullah (wafat tahun 781 M)
Ia belajar kepada Imam Abu Hanifah. Suatu hari Haris bin Idris berkata kepadanya, Berilah aku nasehat. Dia menjawab,

عسكر الموت ينتظرونك

“Tentara kematian tengah mengintaimu”


j. Lukman rahimahullah
Ibnu Abi Syaibah, Imam Ahmad di dalam kitab “Zuhud” dan ibnu Jarir, Ibnu Mundzir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Imam Mujahid ia berkata : Lukman itu seorang budak Habasyah berbibir tebal dan telapak kaki tebal, Ia seorang Qodhi untuk Bani Israil. Dia menasehati anaknya,

يا بني، أمرٌ لا تدري متى يلقاك، استعدَّ له قبل أنْ يفجأك

Wahai anakku, ada perkara yang kamu tidak tahu kapan ia akan menemuimu. Bersiaplah untuknya sebelum mendatangimu secara tiba-tiba


k. Hasan al-Bashri rahimahullah
Dia seorang Tabi’in yang hidup ditengah-tengah Para Pembesar Shahabat seperti Ustman bin Affan dan Thalhah bin Ubaidillah. Suatu hari sekelompok orangtua dan anak-anak muda bermajlis bersama Hasan al-Bashri rahimahullah. Dia bertanya kepada mereka,

معشر الشيوخ، ما يصنع بالزرع إذا طاب؟! فقالوا: يحصد! ثم التفت فقال: معشر الشباب، كم مِن زرع لم يَبلغ قد أدركته الآفة فأهلكته، وأتت عليه الجائحة فأتلفته؟! ثم بكى وتلا: وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ( إبراهيم: 25)

Wahai para orangtua! Apa yang mesti diperbuat terhadap tanaman yang sudah matang? Mereka menjawab: Dipanen. Lalu, dia menoleh, Wahai para pemuda! Betapa banyak tanaman belum sampai matang tapi rusak karena diserang hama. Lalu dia menangis dan membaca, “Allah ta’ala memberikan perumpamaan kepada manusia agar mereka menyadari (QS. Ibrahim:25)

Judul buku : Oh..Kematian?!

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>