#TazkiyatunNufus – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Sat, 04 Jan 2025 05:54:00 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png #TazkiyatunNufus – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 PEGAWAI, SURGA MERINDUKANMU (Jujur dan Profesional, Bag. 2) https://nidaulfithrah.com/pegawai-surga-merindukanmu-jujur-dan-profesional-bag-2/ Sat, 04 Jan 2025 05:53:59 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19497 3. Jujur dan Profesional
Tentang pelaksanaan kerja/tugas, Al-Qur’an menyebutkan dua kata kunci yaitu jujur dan profesional. Keduanya harus ada, tidak boleh hanya salah satunya. Bisa dibayangkan apa yang terjadi jika suatu perusahaan hanya diisi oleh orang-orang yang jujur tetapi tidak profesional, atau sebaliknya hanya diisi oleh orang-orang yang profesional tetapi tidak jujur? Sudah pasti kerugian dan kehancuran. Disebutkan tentang Nabi Musa ‘alaihissalam ketika diminati untuk dijadikan pegawai,

قَالَتْ إِحْدَىٰهُمَا يَٰٓأَبَتِ ٱسْتَـْٔجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ ٱسْتَـْٔجَرْتَ ٱلْقَوِىُّ ٱلْأَمِينُ (القصص:26)

Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Wahai bapakku jadikanlah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya (QS. Al-Qoshosh: 26)

Nabi Musa ‘alaihissalam disebut sebagai ٱلْقَوِىُّ (yang kuat/profesional) dan ٱلْأَمِينُ (jujur)

Demikian juga Nabi Yusuf ‘alaihissalam untuk menjadi penanggungjawab atas perbendaharaan kerajaan disebutkan sebagai حَفِيظٌ (yang menjaga/jujur) dan عَلِيمٌ (yang berpengetahuan/profesional), sebagaimana firman-Nya,

قَالَ ٱجْعَلْنِى عَلَىٰ خَزَآئِنِ ٱلْأَرْضِ ۖ إِنِّى حَفِيظٌ عَلِيمٌ (يوسف:55)

Yusuf berkata: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga (jujur), lagi berpengetahuan (profesional) (QS. Yusuf: 55)
Demikian juga ‘Ifrith disebutkan sebagai ٱلْقَوِىُّ (yang kuat/profesional) dan ٱلْأَمِينُ (jujur), sebagaimana firman-Nya,

قَالَ عِفْرِيتٌ مِّنَ ٱلْجِنِّ أَنَا۠ ءَاتِيكَ بِهِۦ قَبْلَ أَن تَقُومَ مِن مَّقَامِكَ ۖ وَإِنِّى عَلَيْهِ لَقَوِىٌّ أَمِينٌ (النمل:39)

“ ‘Ifrith dari golongan jin berkata: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat (profesional) untuk membawanya lagi dapat dipercaya (jujur)” (QS. An-Naml:39)
* Jujur
Jujur adalah sifat mendasar bagi muslim. Allah ta’ala berfirman,

لِّيَجْزِىَ ٱللَّهُ ٱلصَّٰدِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ ٱلْمُنَٰفِقِينَ إِن شَآءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا (الأحزاب: 24)

Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Al-Ahzab: 24)
Perhatikanlah ayat di atas! Allah ta’ala menyebut muslim dengan sebutan ash-shodiq (orang yang jujur) ketika dipertentangkan dengan orang munafik. Kenapa demikian? Untuk menegaskan bahwa sebagaimana sifat mendasar orang munafiq adalah dusta, maka sifat mendasar muslim adalah jujur.
Jujur membawa kebaikan di dalam segala hal. Karena ia menenangkan semua pihak, baik kepada perseorangan, team, orang banyak dan juga kepada diri sendiri. Karena tidak ada pihak manapun yang dirugikan atau dizholimi. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنَّ الصِّدقَ يَهدي إلى البِرِّ وإنَّ البِرَّ يَهدي إلى الجنَّةِ وإنَّ الرَّجلَ ليصدقُ ويتحرَّى الصِّدقَ حتَّى يُكتبَ عندَ اللَّهِ صدِّيقًا (رواه البخارى ومسلم عن عبد الله بن مسعود)

“Sesungguhnya jujur itu menghantarkan kepada kebaikan. Sesungguhnya kebaikan itu menghantarkan kepada Surga. Dan sungguh ada seseorang yang jujur dan terus mengupayakan kejujuran hingga dicatat di sisi Allah ta’ala sebagai SHIDDIQ (orang jujur)” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud)
Disebutkan di dalam Hadits lain,

دعْ ما يُريبُكَ إلى ما لا يُريبُكَ فإنَّ الصدقَ طُمأنينةٌ وإنَّ الكذبَ رِيبَةٌ (رواه أحمد والترمذى والنسائى عن الحسن بن علي بن أبي طالب )

”Tinggalkanlah sesuatu yang membuatmu ragu, dan kerjakanlah sesuatu yang tidak membuatmu ragu. Sesungguhnya jujur itu ketenangan dan dusta itu kegalauan” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan An-Nasa’i dari Hasan bin Ali bin Abi Tholib)
Jujur merupakan salah satu sikap yang sangat penting dan harus dimiliki oleh setiap manusia dalam beraktivitas apapun, termasuk saat bekerja/berbisnis. Sikap jujur akan melahirkan kepercayaan antara satu orang dan lainnya. Sikap jujur juga menjauhkan rasa curiga, benci, keretakan dan juga menjauhkan kekhawatiran akan rusaknya sebuah kepercayaan yang dibangun.
Orang yang jujur sangat disenangi oleh siapa pun. Perilaku jujur juga menjadi pondasi dalam menjaga kepercayaan antar mitra kerja. Selain itu kejujuran akan memudahkan Anda dekat dengan atasan. Kejujuran juga akan terpandang lebih terhormat dari orang yang memiliki sikap kecurangan.
Pegawai/ karyawan yang jujur akan dimudahkan dalam segala urusan. Baik itu pekerjaan atau kehidupannya. Ciri dari sebuah kejujuran adalah ia ikhlas dalam menjalankan pekerjaannya tanpa mengeluh dan selalu lapang dada.
Tidak semua orang dapat bertindak jujur apalagi pegawai/ karyawan yang berhubungan dengan jenis pekerjaan yang melibatkan kepercayaan, seperti mengelola uang, memberi informasi yang benar dan lain sebagainya.
Jujur dan profesional (yang akan dibahas di bawah ini) akan menghantarkan pada integritas Anda. Jadi, bukan suatu alasan Anda tidak berlaku jujur dalam keadaan apa pun, tidak tergoda dengan urusan yang melibatkan ketidakjujuran. Integritas bagi seorang pekerja wajib dipegang teguh walaupun amat sulit dilakukan. Berikut ini saya nukilkan kisah tentang kejujuran yang luar biasa tentang seseorang yang takut memakan hak orang lain dari Hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam untuk bisa diambil ‘ibrah-nya,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اشْتَرَى رَجُلٌ مِنْ رَجُلٍ عَقَارًا لَهُ فَوَجَدَ الرَّجُلُ الَّذِي اشْتَرَى الْعَقَارَ فِي عَقَارِهِ جَرَّةً فِيهَا ذَهَبٌ فَقَالَ لَهُ الَّذِي اشْتَرَى الْعَقَارَ خُذْ ذَهَبَكَ مِنِّي إِنَّمَا اشْتَرَيْتُ مِنْكَ الْأَرْضَ وَلَمْ أَبْتَعْ مِنْكَ الذَّهَبَ وَقَالَ الَّذِي لَهُ الْأَرْضُ إِنَّمَا بِعْتُكَ الْأَرْضَ وَمَا فِيهَا فَتَحَاكَمَا إِلَى رَجُلٍ فَقَالَ الَّذِي تَحَاكَمَا إِلَيْهِ أَلَكُمَا وَلَدٌ قَالَ أَحَدُهُمَا لِي غُلَامٌ وَقَالَ الْآخَرُ لِي جَارِيَةٌ قَالَ أَنْكِحُوا الْغُلَامَ الْجَارِيَةَ وَأَنْفِقُوا عَلَى أَنْفُسِهِمَا مِنْهُ وَتَصَدَّقَا (رواه البخارى ومسلم)

“Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu ia berkata; Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada seorang laki-laki yang membeli sebidang tanah dari orang lain kemudian laki-laki yang membeli tanah itu mendapatkan sebuah guci yang di dalamnya ada emas. Orang yang membeli tanah itu berkata; “Ambillah emas milikmu karena aku hanya membeli tanah dan bukan membeli emas”. Si penjual berkata; “Yang aku jual adalah tanah dan apa yang ada di dalamnya”. Akhirnya kedua orang itu meminta pendapat kepada seseorang, lalu orang yang dimintai pendapat itu berkata; “Apakah kalian berdua mempunyai anak?. Laki-laki yang satu berkata; “Aku puya anak laki-laki”. Dan yang satunya lagi berkata: “Aku punya anak perempuan”. Maka orang yang dimintai pendapat berkata; “Nikahkanlah anak laki-laki itu dengan anak perempuan itu dan berilah nafkah untuk keduanya dari emas tadi dan juga shadaqahkanlah” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kedua orang dalam Hadits ini menujukkan kejujuran yang luar biasa. Bukankah sangat mudah bagi pembeli tanah untuk langsung memiliki emas temuannya itu dengan mengedapankan alasan bahwa dirinya telah membeli tanah, maka sudah barang tentu include apapun yang di dalamnya.
Demikian pula si penjual. Sangat luar biasa kejujurannya. Dia tidak memanfaatkan kesempatan atas kejujuran si pembeli. Dia tidak bersikap “aji mumpung” bahkan langsung menolak dan mengedepankan pandangannya bahwa menjual tanah itu include dengan apapun yang ada di dalamnya.
* Profesional
Profesional adalah kemampuan seseorang untuk menjalankan tugasnya dengan baik sesuai dengan bidang yang ditekuninya. Profesionalitas meliputi beberapa karakter:

  1. Bangga pada pekerjaan dan menunjukkan komitmen pribadi pada kualitas
  2. Berusaha meraih tanggung jawab
  3. Mengantisipasi dan tidak menunggu perintah untuk menunjukkan inisiatif
  4. Mengerjakan apa yang perlu dikerjakan untuk merampungkan tugas
  5. Melibatkan diri secara aktif dan tidak sekadar bertahan pada peran yang telah ditetapkan untuk mereka
  6. Selalu mencari cara untuk membuat berbagai hal menjadi lebih mudah bagi orang-orang yang mereka layani
  7. Ingin belajar sebanyak mungkin mengenai bisnis orang-orang yang mereka layani
  8. Mendengarkan kebutuhan orang-orang yang mereka layani
  9. Belajar memahami dan berpikir seperti orang-orang yang mereka layani sehingga bisa mewakili mereka ketika orang-orang itu tidak ada di tempat
  10. Pemain dalam team
  11. Memahami mana saja perkara yang merupakan konsumsi internal atau eksternal
  12. Loyalitas, sense of belonging dan dedikasi
  13. Terbuka terhadap kritik-kritik yang membangun mengenai cara meningkatkan diri.
  14. Mengedepankan sinergitas team dan membuang jauh-jauh sikap ego.

Dalam dunia kerja, menjadi seorang yang profesional bukanlah hal yang mudah. Dengan menerapkan beberapa hal di atas, maka dapat membantu terciptanya profesionalisme dalam ruang lingkup pekerjaan dan membuat hasil pekerjaan lebih memuaskan.

Judul buku : PEGAWAI, SURGA MERINDUKANMU

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
PEGAWAI, SURGA MERINDUKANMU (Beberapa perkara yang harus diperhatikan, Bag. 1) https://nidaulfithrah.com/pegawai-surga-merindukanmu-beberapa-perkara-yang-harus-diperhatikan-bag-1/ Fri, 03 Jan 2025 06:56:07 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19482 A. Beberapa perkara yang harus diperhatikan
1. Menyematkan Ibadah pada Aktivitas
I’tikaf, shalat, membaca Al-Qur’an, tholabul ilmi, dzikir, infaq, wakaf, haji, umroh, ziarah kubur, dan lain-lain semuanya itu secara dzatnya merupakan ibadah yang mendatangkan pahala. Biasanya disebut dengan ibadah mahdhoh.
Lalu, bagaimana dengan bekerja, olahraga, mandi, makan, minum, rekreasi, touring, mendaki gunung, dan lain-lain? Semuanya itu merupakan aktivitas duniawi yang tidak mendatangkan pahala tetapi sekedar kemaslahatan duniawi. Namun, haruslah diketahui bahwa aktivitas duniawi ini bisa bernilai ibadah yang mendatangkan pahala dengan satu syarat. Apa syaratnya? Landaskanlah pada seluruh aktivitas tersebut dengan niat untuk mendukung, menopang dan memperkuat peribadahan-peribadahan mahdhoh. Contoh:

  • Ketika mandi, hadirkan dalam hati: Ya Allah, dengan mandi sehatkanlah badan demi bisa menjalankan ibadah-ibadah.
  • Ketika olahraga, hadirkan dalam hati: Ya Allah, dengan olahraga ini jadikanlah badanku sehat sehingga bisa berbuat banyak peribadahan; puasa, qiyamullail, shodaqoh tenaga di berbagai acara baksos, silaturrahim dan lain-lain
  • Ketika mendaki gunung dan touring, niatkanlah untuk tadabbur alam yang menghadirkan rasa keagungan dan kebesaran terhadap Allah ta’ala sebagai satu-satunya Dzat yang harus diibadahi.
  • DEMIKIAN JUGA KETIKA ANDA BEKERJA, HADIRKANLAH setiap kali akan berangkat kerja dalam hati Anda: Ya Allah, saya niatkan dari pekerjaan ini untuk menafkahi keluargaku sebagai tanggungjawabku yang Engkau berikan kepadaku. Yang dengannya pula saya bisa mendapatkan rizki untuk infaq, membayar biaya pendidikan, wakaf, santunan anak yatim, membantu dhu’afa, membeli pakaian untuk menutup aurat dan lain-lain. DENGAN CARA INI, ANDA MENJADI PEGAWAI yang pekerjaan Anda bernilai ibadah yang mendatangkan pahala. Ibadah seperti ini terjadi dari amalan mubah yang didasari niat disebut ibadah ghoiru mahdhoh

Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda,

إنَّكَ لن تُنْفِقَ نفقةً تبتَغي بها وجهَ اللهِ عزَّ وجلَّ إلَّا أُجِرْتَ بها حتَّى ما تجعلُ في فَمِ امرأتِكَ (رواه البخارى عن سعد بن أبى وقاص)

“Sesungguhnya kamu tidaklah memberi nafkah karena mengharapkan Wajah Allah ‘azzawajalla melainkan kamu diberi pahala dengannya hingga sesuatu yang kamu masukkan ke dalam mulut istrimu(HR. Bukhari dari Sa’ad bin Abu Waqosh)

Mu’adz bin Jabal radhiallahu’anhu berkata:

أمَّا أنَا فأنَامُ وأَقُومُ، فأحْتَسِبُ نَوْمَتي كما أحْتَسِبُ قَوْمَتِي (رواه البخارى عن أبى موسى ألأشعرى)

“Adapun saya, saya tidur dan bangun. Saya berharap tidurku sebagaimana melek-ku(HR.Bukhari dari Abu Musa Al-Asy’ari)

Alhafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan, Mua’adz bin Jabal berharap pahala dari rehatnya itu sebagaimana ketika beraktivitas di mana rehat yang dimaksudkan untuk memperkuat ibadah akan mendatangkan pahala.

Maksudnya, Mu’adz bin Jabal radhiallahu’anhu berharap dari tidurnya yang notabene diam tidak ada kegiatan apapun yang bisa mendatangkan pahala tetapi tetap bisa mendatangkan pahala. Tidak lain caranya dengan menghadirkan niat bahwa tidur yang dilakukannya untuk “getting power” yang akan memperkuat peribadahan.

Zubaid al-Yamiy (seorang Tabi’in wafat tahun 124 H) berkata,

إني لأحب أن تكون لي نية في كل شيء، حتى في الطعام والشراب

“Sungguh saya sangat mencintai kalau pada setiap aktivitasku ada niat sampai ketika makan dan minum”

Yang bisa membantu hadirnya niat adalah perenungan, penghayatan, ketenangan alias tidak tergesa-gesa, evaluasi diri sebelum bekerja, dan setiap saat memastikan kehalalan atas jenis pekerjaan dan hasilnya.

2. Bekerja pada Pekerjaan yang Halal

Kadang masih terdengar ucapan dari sebagian orang, “Mencari yang haram saja susah apalagi yang halal”. Jika ada seseorang merasa kesulitan untuk mendapatkan mata pencaharian atau pendapatannya pas-pasan, hendaklah memperkuat kesabaran sehingga tidak sampai berpenghasilan haram. Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda,

أَيُّها النَّاسُ، إنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لا يَقْبَلُ إلَّا طَيِّبًا، وإنَّ اللَّهَ أمَرَ المُؤْمِنِينَ بما أمَرَ به المُرْسَلِينَ، فقالَ: {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ} [المؤمنون: 15]، وقالَ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} [البقرة: 271]، ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أشْعَثَ أغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إلى السَّماءِ، يا رَبِّ، يا رَبِّ، ومَطْعَمُهُ حَرامٌ، ومَشْرَبُهُ حَرامٌ، ومَلْبَسُهُ حَرامٌ، وغُذِيَ بالحَرامِ، فأنَّى يُسْتَجابُ لذلكَ؟! (رواه مسلم عن أبى هريرة)

“Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah ta’ala telah memerintahkan kepada kaum mukminin dengan sesuatu yang Allah perintahkan pula kepada para Rasul. Maka Allah ta’ala berfirman: ”Wahai para Rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih.” Dan Allah ta’ala berfirman: ”Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kalian dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepada kalian.” Kemudian beliau shallahu’alaihi wasallam menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan panjang dalam keadaan dirinya kusut dan kotor, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: ”Wahai Rabb-ku, wahai Rabb-ku,” tetapi makanannya haram, minumannya haram dan pakaiannya haram dan kenyang dengan sesuatu yang haram, bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?.” (HR. Muslim)

Hadits ini memperingatkan kita betapa penghasilan haram akan menjadikan doa kita tidak dikabulkan. Meskipun yang berdoa adalah seorang musafir yang doanya mustajab. Penghasilan haram itulah yang menjadikan hilangnya ke-mustajab-annya doa.

Dalam Hadits lain, Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda,

يا كعبُ بنَ عُجْرةَ إنَّه لا يدخُلُ الجنَّةَ لحمٌ ودمٌ نبَتا على سُحتٍ النَّارُ أَوْلى به (رواه ابن حبان)

“Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah, sesungguhnya tidak akan masuk Surga daging yang tumbuh dari makanan haram, Neraka lebih utama baginya” (HR. Ibnu Hibban)
Yang dimaksud dengan pekerjaan halal ada dua macam;
a. Jenisnya; bukan pekerjaan yang ribawi, tipu-menipu, ada unsur judi, dan unsur kezhaliman.
b. Implementasinya; bisa jadi jenis pekerjaannya halal. Tetapi seseorang mengerjakannya tidak dengan semestinya. Misalnya korupsi waktu, bekerja asal-asalan tetapi saat pembagian gaji menuntutnya secara sempurna, menerima tips dari klien padahal sudah digaji oleh instansinya atas pekerjaannya, menerima gratifikasi dan contoh-contoh lainnya. Tentang ini ada nash yang mengecamnya,

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ () ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكْتَالُوا۟ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسْتَوْفُونَ () وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang () (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi (QS. Al-Muthoffifin : 1-3)
Disebutkan di dalam Hadits,

لعنةُ اللهِ على الرّاشِي والمُرْتَشِي (رواه أحمد والترمذى عن عبد الله بن عمرو)

Laknat Allah bagi orang yang menyuap dan yang disuap” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi dari Abdullah bin Amr)
Disebutkan di dalam Hadits,

اسْتَعْمَلَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ رَجُلًا مِنَ الأسْدِ، يُقَالُ له: ابنُ اللُّتْبِيَّةِ، قالَ عَمْرٌو: وَابنُ أَبِي عُمَرَ، علَى الصَّدَقَةِ، فَلَمَّا قَدِمَ قالَ: هذا لَكُمْ، وَهذا لِي، أُهْدِيَ لِي، قالَ: فَقَامَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ علَى المِنْبَرِ، فَحَمِدَ اللَّهَ، وَأَثْنَى عليه، وَقالَ: ما بَالُ عَامِلٍ أَبْعَثُهُ، فيَقولُ: هذا لَكُمْ، وَهذا أُهْدِيَ لِي، أَفلا قَعَدَ في بَيْتِ أَبِيهِ، أَوْ في بَيْتِ أُمِّهِ، حتَّى يَنْظُرَ أَيُهْدَى إلَيْهِ أَمْ لَا؟ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بيَدِهِ، لا يَنَالُ أَحَدٌ مِنكُم منها شيئًا إلَّا جَاءَ به يَومَ القِيَامَةِ يَحْمِلُهُ علَى عُنُقِهِ بَعِيرٌ له رُغَاءٌ، أَوْ بَقَرَةٌ لَهَا خُوَارٌ، أَوْ شَاةٌ تَيْعِرُ، ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ حتَّى رَأَيْنَا عُفْرَتَيْ إبْطَيْهِ، ثُمَّ قالَ: اللَّهُمَّ، هلْ بَلَّغْتُ؟ مَرَّتَيْنِ (رواه مسلم عن أبى حميد الساعدى)

“Rasulullah shallahu’alaihi wasallam memperkerjakan seorang laki-laki dari suku Al Asad bernama Ibnu Luthbiyah -Amru dan Ibnu Abu ‘Umar berkata- untuk mengumpulkan harta sedekat (zakat). Ketika menyetorkan zakat yang dipungutnya, dia berkata, “Zakat ini kuserahkan kepada Anda, dan ini pemberian orang kepadaku.” Abu Humaid berkata, “Rasulullah shallahu’alaihi wasallam lalu berkhutbah di atas mimbar, setelah beliau memuji dan menyanjung Allah ta’ala, beliau sampaikan: “Ada seorang petugas yang aku tugaskan memungut zakat, dia berkata, ‘Zakat ini yang kuberikan (setorkan) kepada Anda, dan ini pemberian orang untukku.’ Mengapa dia tidak duduk saja di rumah ibu bapaknya menunggu orang mengantarkan hadiah kepadanya? Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, tidak ada seorangpun di antara kalian yang menggelapkan zakat ketika ia ditugaskan untuk memungutnya, melainkan pada hari Kiamat kelak dia akan memikul unta yang digelapkannya itu melenguh-lenguh di lehernya, atau sapi yang melenguh, atau kambing yang mengembik-embik.” Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sehingga kami melihat putih kedua ketiaknya. kemudian beliau bersabda: ‘Ya Allah, telah aku sampaikan (HR. Muslim dari Abu Hamid as- Sa’idi)
Canggihnya kemajuan teknologi menjadikan manusia mudah untuk berbuat banyak hal. Tidak terlewatkan, pemanfaatannya untuk bisnis online. Akhirnya muncullah macam- macam bisnis dengan berbagai variasinya secara online. Berhati-hatilah dan perhatikanlah mana yang syar’i dan yang tidak syar’i. Sebut saja misalnya menjual emas secara online, menjual barang yang tidak dimilikinya padahal salah satu rukun jual beli adalah adanya barang yang dijual. Maka kedua contoh ini tidaklah syar’i. Banyak juga bermunculan variasi bisnis offline yang mengharuskan kita untuk berhati-hati. Karena ada yang secara zhahir kelihatannya syar’i padahal hakekatnya tidaklah demikian.
Hadirkan selalu Hadits tentang persidangan di hari Kiamat bahwa kedua telapak kaki tidak akan bergeser hingga ditanya tentang asal perolehan harta yang kita dapatkan,

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ (رواه الترمذى عن أبو برزة الأسلمي نضلة بن عبيد )

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari Kiamat hingga dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya” (HR. Tirmidzi dari Abu Barzah al-Aslami Nadholah bin Ubaid).

Judul buku : PEGAWAI, SURGA MERINDUKANMU

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Oh..Kematian?! (Nikmat dan Adzab Kubur Bag. 6) https://nidaulfithrah.com/oh-kematian-nikmat-dan-adzab-kubur-bag-6/ Wed, 25 Dec 2024 03:00:34 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19433 G. Nikmat dan Adzab Kubur

Pertama : Keniscayaan nikmat dan adzab Kubur
Nikmat dan adzab kubur adalah haq, benar adanya dan kita harus mengimaninya. Berikut ini dalil-dalil tentangnya;

أن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ قال “المسلمُ إذا سُئِلَ في قبره فشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدًا رسول الله” فذلك قول الله “يُثَبِّتُ اللهُ الذينَ آمنوا بالقَوْلِ الثَّابِتِ في الحياةِ الدُّنْيَا وفي الآخرَةِ). وفي لفظٍ: نزلتْ في عذاب القبر، يُقال له: مَنْ ربك؟ فيقول: الله ربي ومحمد نَبِيِّي، فذلك قول الله: (يُثَبِّتُ اللهُ الذينَ آمنوا بالقولِ الثابتِ في الحياةِ الدنيا وفي الآخرة” (إبراهيم: 27). (رواه البخاري ومسلم وأصحاب السنن)

Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Seorang muslim apabila ditanya di dalam kubur, maka akan bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah. itulah firman Allah yang berbunyi: “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di Akhirat.” (Ibrahiim: 27). Di dalam lafazh lain: Ayat ini turun berkenaan dengan adzab kubur, dikatakan kepadanya: Siapa Tuhanmu? Dia menjawab: Allah Tuhanku dan Muhammad Nabiku. Yang demikian itu sebagaimana firman Allah ta’alaAllah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di Akhirat.” (Ibrahiim: 27) (HR. Bukhari, Muslim dan Ash-habu-s-Sunan)

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْعَبْدُ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَتُوُلِّيَ وَذَهَبَ أَصْحَابُهُ حَتَّى إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ فَأَقْعَدَاهُ فَيَقُولَانِ لَهُ مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُ أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ فَيُقَالُ انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنْ النَّارِ أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنْ الْجَنَّةِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا وَأَمَّا الْكَافِرُ أَوْ الْمُنَافِقُ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ فَيُقَالُ لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَقَةٍ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أُذُنَيْهِ فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ (رواه البخارى ومسلم عن أنس بن مالك)

“Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Jika jenazah sudah diletakkan di dalam kuburnya dan teman-temannya sudah berpaling dan pergi meninggalkannya, dia mendengar gerak langkah sandal sandal mereka, maka akan datang kepadanya dua Malaikat yang keduanya akan mendudukkannya seraya keduanya berkata kepadanya: “Apa yang kamu komentari tentang laki-laki ini, Muhammad shallahu’alaihi wasallam?”. Maka jenazah itu menjawab: “Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya”. Maka dikatakan kepadanya: “Lihatlah tempat dudukmu di Neraka yang Allah telah menggantinya dengan tempat duduk di Surga”. Nabi shallahu’alaihi wasallam selanjutnya berkata,: “Maka dia dapat melihat keduanya”. Adapun (jenazah) orang kafir atau munafiq akan menjawab: “Aku tidak tahu, aku hanya berkata, mengikuti apa yang dikatakan kebanyakan orang”. Maka dikatakan kepadanya: “Kamu tidak mengetahuinya dan tidak mengikuti orang yang mengerti”. Maka kemudian dia dipukul dengan palu godam besar terbuat dari besi diantara kedua telinganya sehingga mengeluarkan suara teriakan yang dapat didengar oleh yang ada di sekitarnya kecuali oleh dua makhluk (jin dan manusia)(HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik).

أن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ مَرَّ بقبور ثم قال: “إن هذه الأمة تُبْتَلَى في قبورها، فلولا ألا تُدافنوا لَدَعَوْتُ الله أن يُسمعكم من عذاب القبر الذي أَسَمَعُ منه” ثم قال: “تَعَوَّذُوا بالله من عذاب القبر” (رواه مسلم)

“Nabi shallahu’alaihi wasallam melewati kuburan, beliau bersabda: Sesungguhnya ummat ini akan diuji di kuburnya. Seandainya kalian tidak saling menguburkan niscaya saya akan berdoa kepada Allah ta’ala agar memperdengarkan kepada kalian adzab kubur sebagaimana yang saya dengar. Lalu beliau bersabda: Berlindunglah kalian dari adzab kubur” (HR. Muslim)

كانَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذَا صَلَّى صَلَاةً أقْبَلَ عَلَيْنَا بوَجْهِهِ فَقالَ: مَن رَأَى مِنْكُمُ اللَّيْلَةَ رُؤْيَا؟ قالَ: فإنْ رَأَى أحَدٌ قَصَّهَا، فيَقولُ: ما شَاءَ اللَّهُ فَسَأَلَنَا يَوْمًا فَقالَ: هلْ رَأَى أحَدٌ مِنكُم رُؤْيَا؟ قُلْنَا: لَا، قالَ: لَكِنِّي رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ رَجُلَيْنِ أتَيَانِي فأخَذَا بيَدِي، فأخْرَجَانِي إلى الأرْضِ المُقَدَّسَةِ، فَإِذَا رَجُلٌ جَالِسٌ، ورَجُلٌ قَائِمٌ، بيَدِهِ كَلُّوبٌ مِن حَدِيدٍ قالَ بَعْضُ أصْحَابِنَا عن مُوسَى: إنَّه يُدْخِلُ ذلكَ الكَلُّوبَ في شِدْقِهِ حتَّى يَبْلُغَ قَفَاهُ، ثُمَّ يَفْعَلُ بشِدْقِهِ الآخَرِ مِثْلَ ذلكَ، ويَلْتَئِمُ شِدْقُهُ هذا، فَيَعُودُ فَيَصْنَعُ مِثْلَهُ، قُلتُ: ما هذا؟ قالَا: انْطَلِقْ، فَانْطَلَقْنَا حتَّى أتَيْنَا علَى رَجُلٍ مُضْطَجِعٍ علَى قَفَاهُ ورَجُلٌ قَائِمٌ علَى رَأْسِهِ بفِهْرٍ – أوْ صَخْرَةٍ – فَيَشْدَخُ به رَأْسَهُ، فَإِذَا ضَرَبَهُ تَدَهْدَهَ الحَجَرُ، فَانْطَلَقَ إلَيْهِ لِيَأْخُذَهُ، فلا يَرْجِعُ إلى هذا حتَّى يَلْتَئِمَ رَأْسُهُ وعَادَ رَأْسُهُ كما هُوَ، فَعَادَ إلَيْهِ، فَضَرَبَهُ، قُلتُ: مَن هذا؟ قالَا: انْطَلِقْ فَانْطَلَقْنَا إلى ثَقْبٍ مِثْلِ التَّنُّورِ، أعْلَاهُ ضَيِّقٌ وأَسْفَلُهُ واسِعٌ يَتَوَقَّدُ تَحْتَهُ نَارًا، فَإِذَا اقْتَرَبَ ارْتَفَعُوا حتَّى كَادَ أنْ يَخْرُجُوا، فَإِذَا خَمَدَتْ رَجَعُوا فِيهَا، وفيهَا رِجَالٌ ونِسَاءٌ عُرَاةٌ، فَقُلتُ: مَن هذا؟ قالَا: انْطَلِقْ، فَانْطَلَقْنَا حتَّى أتَيْنَا علَى نَهَرٍ مِن دَمٍ فيه رَجُلٌ قَائِمٌ علَى وسَطِ النَّهَرِ – قالَ يَزِيدُ، ووَهْبُ بنُ جَرِيرٍ: عن جَرِيرِ بنِ حَازِمٍ – وعلَى شَطِّ النَّهَرِ رَجُلٌ بيْنَ يَدَيْهِ حِجَارَةٌ، فأقْبَلَ الرَّجُلُ الذي في النَّهَرِ، فَإِذَا أرَادَ أنْ يَخْرُجَ رَمَى الرَّجُلُ بحَجَرٍ في فِيهِ، فَرَدَّهُ حَيْثُ كَانَ، فَجَعَلَ كُلَّما جَاءَ لِيَخْرُجَ رَمَى في فيه بحَجَرٍ، فَيَرْجِعُ كما كَانَ، فَقُلتُ: ما هذا؟ قالَا: انْطَلِقْ، فَانْطَلَقْنَا حتَّى انْتَهَيْنَا إلى رَوْضَةٍ خَضْرَاءَ، فِيهَا شَجَرَةٌ عَظِيمَةٌ، وفي أصْلِهَا شيخٌ وصِبْيَانٌ، وإذَا رَجُلٌ قَرِيبٌ مِنَ الشَّجَرَةِ بيْنَ يَدَيْهِ نَارٌ يُوقِدُهَا، فَصَعِدَا بي في الشَّجَرَةِ، وأَدْخَلَانِي دَارًا لَمْ أرَ قَطُّ أحْسَنَ منها، فِيهَا رِجَالٌ شُيُوخٌ وشَبَابٌ، ونِسَاءٌ، وصِبْيَانٌ، ثُمَّ أخْرَجَانِي منها فَصَعِدَا بي الشَّجَرَةَ، فأدْخَلَانِي دَارًا هي أحْسَنُ وأَفْضَلُ فِيهَا شُيُوخٌ، وشَبَابٌ، قُلتُ: طَوَّفْتُمَانِي اللَّيْلَةَ، فأخْبِرَانِي عَمَّا رَأَيْتُ، قالَا: نَعَمْ، أمَّا الذي رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ، فَكَذَّابٌ يُحَدِّثُ بالكَذْبَةِ، فَتُحْمَلُ عنْه حتَّى تَبْلُغَ الآفَاقَ، فيُصْنَعُ به إلى يَومِ القِيَامَةِ، والذي رَأَيْتَهُ يُشْدَخُ رَأْسُهُ، فَرَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَنَامَ عنْه باللَّيْلِ ولَمْ يَعْمَلْ فيه بالنَّهَارِ، يُفْعَلُ به إلى يَومِ القِيَامَةِ، والذي رَأَيْتَهُ في الثَّقْبِ فَهُمُ الزُّنَاةُ، والذي رَأَيْتَهُ في النَّهَرِ آكِلُوا الرِّبَا، والشَّيْخُ في أصْلِ الشَّجَرَةِ إبْرَاهِيمُ عليه السَّلَامُ، والصِّبْيَانُ، حَوْلَهُ، فأوْلَادُ النَّاسِ والذي يُوقِدُ النَّارَ مَالِكٌ خَازِنُ النَّارِ، والدَّارُ الأُولَى الَّتي دَخَلْتَ دَارُ عَامَّةِ المُؤْمِنِينَ، وأَمَّا هذِه الدَّارُ فَدَارُ الشُّهَدَاءِ، وأَنَا جِبْرِيلُ، وهذا مِيكَائِيلُ، فَارْفَعْ رَأْسَكَ، فَرَفَعْتُ رَأْسِي، فَإِذَا فَوْقِي مِثْلُ السَّحَابِ، قالَا: ذَاكَ مَنْزِلُكَ، قُلتُ: دَعَانِي أدْخُلْ مَنْزِلِي، قالَا: إنَّه بَقِيَ لكَ عُمُرٌ لَمْ تَسْتَكْمِلْهُ فَلَوِ اسْتَكْمَلْتَ أتَيْتَ مَنْزِلَكَ (رواه البخاري عن سمرة بن جندب)

“Nabi shallahu’alaihi wasallam jika seusai sholat, beliau menghadapkan wajah beliau kepada kami seraya bersabda: “Siapakah di antara kalian yang melihat suatu mimpi tadi malam?” Jika ada seseorang melihatnya, dia akan bercerita, lalu Nabi mentakwilkannya sesuai dengan kehendak Allah. Lalu pada suatu hari beliau bertanya pada kami: “Siapakah di antara kalian yang melihat suatu mimpi tadi malam?” kami menjawab: “Tidak ada.” Beliau bersabda: “Tapi aku tadi malam melihat dalam mimpi ada dua orang yang mendatangiku seraya mengambil tanganku lalu mengeluarkan aku dari tanah suci. Tiba-tiba saja ada seseorang yang duduk, dan yang lainnya berdiri sambil membawa cakar besi di tangannya. Dia memasukkan cakar besi tadi ke dalam tepi mulutnya lalu menariknya hingga mencapai tengkuknya. Lalu dia berbuat seperti itu pada sisi mulut yang lain. Lalu tepi mulut yang robek tadi mengatup kembali, dan selanjutnya dirobek lagi seperti sebelumnya. Aku bertanya: “Apa ini?” Keduanya berkata: “Berangkatlah” maka kamipun berangkat lagi hingga kami mendatangi seseorang yang sedang berbaring di atas tengkuknya, dan yang lainnya berdiri di kepalanya dengan membawa batu pemukul atau batu karang, lalu dipergunakannya batu tadi untuk memecahkan kepalanya, setelah batu itu dipukulkan, batu tadi menggelinding, maka orang tadi beranjak mengejar batu tadi untuk mengambilnya. Belumlah dia kembali ke orang yang berbaring tadi, tetapi kepala orang itu mengatup dan kembali seperti semula. Lalu orang itu kembali kepadanya, seraya memukulnya lagi. Aku bertanya: “Apa ini?” Keduanya berkata: “Berangkatlah” maka kamipun berangkat lagi hingga kami mendatangi lubang seperti tungku, atasnya sempit, dan bagian bawahnya luas, di bawahnya ada api yang dinyalakan. Jika mendekati permukaan tungku, orang-orang (yang di dalamya) terbawa naik sampai hampir mau keluar darinya, tapi jika apinya padam, mereka kembali ke dalam. Mereka para pria dan wanita yang telanjang. Aku bertanya: “Apa ini?” Keduanya berkata: “Berangkatlah” maka kamipun berangkat lagi hingga kami mendatangi sungai darah yang terdapat orang di dalamnya. Di tengah sungai –atau berkata:- di tepi sungai ada orang yang di hadapannya ada bebatuan. Maka orang yang di sungai itu menuju ke arahnya, jika orang itu ingin keluar dari sungai, orang yang ini melemparinya dengan batu ke mulutnya sehingga mengembalikannya ke tempatnya semula. Dan demikian seterusnya, setiap kali orang tersebut hendak keluar, orang tadi melempari dengan batu pada mulutnya hingga mengembalikannya ke tempatnya semula. Aku bertanya: “Apa ini?” Keduanya berkata: “Berangkatlah” maka kamipun berangkat lagi hingga kami tiba di sebuah kebun yang hijau yang di dalamnya ada pohon besar, dan di pangkal pohon tadi ada seorang syaikh (tua) dan anak-anak kecil, tiba-tiba saja ada orang di dekat pohon itu, yang di depannya ada api yang dinyalakannya. Lalu dua orang ini membawaku naik di pohon itu lalu memasukkan aku ke sebuah rumah yang belum pernah aku lihat ada rumah yang lebih bagus darinya. Di dalamnya ada orang-orang tua, anak-anak muda, para perempuan dan anak-anak kecil. Lalu keduanya mengeluarkan aku dari rumah itu, membawaku naik lagi ke pohon itu lalu memasukkan aku ke sebuah rumah yang lebih bagus dan lebih mulia. Di dalamnya ada orang-orang tua dan anak-anak muda. Aku berkata: kalian berdua telah membawaku berkeliling malam ini, maka kabarilah aku tentang apa yang aku lihat. Keduanya menjawab: “Iya. Adapun orang yang kau lihat ujung mulutnya dirobek, maka dia itu adalah pembohong besar yang berbicara dengan kedustaan, lalu kedustaan itu dibawa darinya hingga mencapai ufuk-ufuk. Maka dia disiksa seperti itu sampai hari Kiamat. Dan orang yang engkau lihat kepalanya dipecahkan, dia adalah orang yang Allah ta’ala telah mengajarinya Al Qur’an, lalu dia tidur meninggalkannya di malam hari dan tidak mengamalkannya di siang hari. Maka dia disiksa seperti itu sampai hari Kiamat. Dan yang engkau lihat berada di dalam lubang tadi, mereka itu adalah para pezina. Dan orang yang engkau lihat ada di sungai, dia itu pemakan riba. Dan orang tua yang engkau lihat ada di pangkal pohon tadi, dia adalah Ibrohim alaihissalam . dan anak-anak yang di sekitarnya adalah anak-anak manusia. Dan orang yang menyalakan api tadi adalah Malik penjaga Neraka. Rumah yang pertama yang engkau masuki adalah rumah keumuman orang yang beriman. Adapun rumah yang kedua adalah rumah para syuhada. Dan aku adalah Jibril, dan ini Mikail. Angkatlah kepalamu.” Maka aku mengangkat kepalaku, ternyata di atasku ada seperti awan. Keduanya berkata: “Itu adalah tempat tinggalmu.” Aku berkata: “Biarkanlah aku memasuki tempat tinggalku.” Keduanya berkata: “Masih tersisa untukmu umur yang belum engkau selesaikan. Jika engkau telah menyelesaikannya, engkau akan mendatangi tempat tinggalmu.(HR. Bukhari )

أن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ قال في سعد بن معاذ “هذا الذي تَحَرَّكَ له العرش وفُتحتْ له أبواب السماء، وشَهده سبعون ألفًا من الملائكة، لقد ضُمَّ ـ هي ضَمَّةُ القبر ـ ثم فُرِجَ عنه”( رواه البخاري ومسلم)

“Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda mengenai Sa’ad bin Mu’adz: Ini orang yang ‘Arsy bergetar karenanya, dibukakan baginya pintu-pintu langit, dan disaksikan oleh tujuh puluh ribu Malaikat. Dia telah dihimpit oleh kubur lalu dilapangkan darinya(HR. Bukhari dan Muslim)

أن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ مَرَّ بقبرينِ فقال: “إنهما يُعذَّبانِ وما يُعذبان في كبير، بلى إنه كبير، أما أحدهما فكان يمشي بالنميمة وأما الآخر فكان لا يَستترُ من بوله”( رواه البخاري ومسلم)

“Nabi shallahu’alaihi wasallam melewati dua makam, lalu bersabda: Kedua (penghuni)nya lagi diadzab. Keduanya tidak diadzab karena urusan besar. Iya, tetapi ia besar. Salah satunya berbuat adu domba, Adapun satunya lagi tidak menjaga diri dari kencing” (HR. Bukhari dan Muslim)

النارُ يُعْرَضُونَ عليها غُدُّوًا وَعَشِيًّا ويومَ تَقُومُ الساعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ العذابِ ( غافر: 46)

Kepada mereka ditampakkan Neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada Malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras (QS. Ghofir:46)
“ditampakkan Neraka pada pagi dan petang” maksudnya adalah sebelum terjadinya hari Kiamat. Jelaslah itu di alam barzah.

Kedua : Nikmat dan adzab kubur langgeng?
Disebutkan di dalam Syarh al-‘Aqidah ath-Thohawiyyah” li-b-ni Abi-l-‘Iz: Apakah adzab kubur itu langgeng atau tidak langgeng (terputus)? Jawabannya ada dua macam; ada yang langgeng dan ada yang terputus. Pertama yaitu jenis yang langgeng sebagaimana firman Allah ta’ala,

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

Kepada mereka ditampakkan Neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada Malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras” (QS. Ghafir: 46)
Demikian juga dalam Hadits Ibnu ‘Azib tentang kisah orang Kafir “….lalu dibukakan baginya pintu menuju Neraka maka dia melihat tempat duduknya di dalamnya hingga hari Kiamat” (HR. Ahmad).
Jenis yang kedua: Adzab berlangsung sampai waktu tertentu lalu terputus. Yaitu, adzab untuk pelaku maksiat yang dosanya ringan, dia diadzab sesuai kadar dosanya lalu dihentikan [selesai].
Ibnul Qoyyim juga mengatakan yang kurang lebihnya berikut ini: Apakah adzab kubur langgeng atau tidak? Jawabannya ada dua macam; langgeng dan tidak langgeng. Yang tidak langgeng, sebagaimana dijumpai di dalam Hadits bahwa adzabnya diringankan dan dihentikan. Ketika mereka bangkit dari kuburnya, mengatakan:

يَا وَيْلَنَا مَن بَعَثَنَا مِن مَّرْقَدِنَا هَذَا (يس: 52)

“Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?” (QS. Yasin: 52)
Adapun yang langgeng, sebagaimana firman Allah ta’ala,

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

Kepada mereka ditampakkan Neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada Malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras” (QS. Ghafir: 46).
Dalil lainnya sebagaimana disebutkan di di dalam Hadits Samuroh yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari,

أمَّا الذي رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ، فَكَذَّابٌ يُحَدِّثُ بالكَذْبَةِ، فَتُحْمَلُ عنْه حتَّى تَبْلُغَ الآفَاقَ، فيُصْنَعُ به إلى يَومِ القِيَامَةِ، والذي رَأَيْتَهُ يُشْدَخُ رَأْسُهُ، فَرَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَنَامَ عنْه باللَّيْلِ ولَمْ يَعْمَلْ فيه بالنَّهَارِ، يُفْعَلُ به إلى يَومِ القِيَامَةِ،

Adapun orang yang kau lihat ujung mulutnya dirobek, maka dia itu adalah pembohong besar yang berbicara dengan kedustaan, lalu kedustaan itu dibawa darinya hingga mencapai ufuk-ufuk. Maka dia disiksa seperti itu sampai hari Kiamat. Dan orang yang engkau lihat kepalanya dipecahkan, maka dia adalah orang yang Allah ta’ala telah mengajarinya Al Qur’an, lalu dia tidur meninggalkannya di malam hari dan tidak mengamalkannya di siang hari. Maka dia disiksa seperti itu sampai hari Kiamat.
Juga Hadits Ibnu Abbas radhiallahu’anhu tentang dua penghuni kubur yang sedang diadzab lalu adzabnya diringankan dengan pelepah kurma yang ditancapkan oleh Rasulullah shallahu’alaihi wasallam pada kedua makamnya. Dirigankannya adzab di sini dikaitkan dengan pelepah kurma selama masih basah.
Hadits lainnya riwayat Al-Bazzar dari Abu Hurairah,

ثمَّ أَتَى عَلَى قَوْمٍ تُرضَخ رُءُوسُهُمْ بِالصَّخْرِ، كُلَّمَا رُضخت عَادَتْ كَمَا كَانَتْ، وَلَا يُفَتَّرُ عَنْهُمْ مِنْ ذَلِكَ شَيْءٌ، فَقَالَ: “مَا هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ؟ ” قَالَ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ تَتَثَاقَلُ رُءُوسُهُمْ عَنِ الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ

….Nabi menghampiri suatu kaum yang membentur-benturkan kepala dengan batu besar, setiap kali hancur kembalilah kepala mereka itu seperti sedia kala, dan hal itu berlangsung terus menerus tidak henti-hentinya. Nabi bertanya kepada Jibril yang kemudian dijawabnya : Mereka adalah orang-orang yang terasa berat kepalanya ketika hendak melakukan shalat wajib…….
Hadits lain,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَمَا رَجُلٌ يَتَبَخْتَرُ يَمْشِي فِي بُرْدَيْهِ قَدْ أَعْجَبَتْهُ نَفْسُهُ فَخَسَفَ اللَّهُ بِهِ الْأَرْضَ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِيهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ (رواه مسلم)

“Dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Dahulu ketika ada seseorang yang berjalan dan ia merasa bangga dengan mantelnya yang indah, tiba-tiba bumi beserta isinya ditenggelamkan, dan diapun ikut terbenam ke dalam perut bumi sembari meronta-ronta hingga hari Kiamat nanti (HR.Muslim)
Dalam Hadits lain tentang orang kafir di alam barzakh,

ثم يُفتَحُ له بابٌ من نارٍ فينظرُ إلى مقعدِه منها حتى تقومَ الساعةُ (رواه أحمد عن البراء بن عازب)

… kemudian dibukakan baginya pintu menuju Neraka, maka dia pun melihat tempa duduknyai di Neraka hingga hari Kiamat (HR. Ahmad dari Albaro bin ‘Azib)

Ketiga : Nikmat dan adzab kubur terjadi pada ruh atau jasad?
Asal dari nikmat atau adzab kubur adalah pada ruh. Terkadang juga pada ruh dan jasad sekaligus. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahimahullah berkata: Ketahuilah, madzhab salaful ummah dan para imamnya adalah bahwa orang yang telah meninggal dunia berada dalam nikmat atau adzab kubur. Itu terjadi pada ruh dan jasadnya. Ruh kekal setelah berlepas dari jasad dalam keadaan mendapatkan kenikmatan atau adzab. Kadang-kadang ia bersambung ke jasad. Maka, ruhnya pun merasakan nikmat atau siksa bersamaan dengan jasad. Adapun pada hari Kiamat nanti ruh akan kembali ke jasad untuk bangkit dari kuburnya menghadap Allah ta’ala Tuhan semesta alam [sesesai].
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya apakah adzab kubur itu pada jasad ataukah pada ruh? Beliau menjawab: Yang asal itu terjadi pada ruh. Karena hukum setelah kematian itu berkaitan dengan ruh. Karena jasad telah mati. Untuk itu jasad tidak butuh untuk dikekalkan di mana ia tidak makan dan tidak minum lagi. Bahkan ia dimakan oleh blatung. Jadi, asalnya itu pada ruh, tetapi Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah telah menjelaskan bahwa terkadang terjadi juga pada keduanya. Untuk itu para ulama mengatakan bahwa ruh terkadang bersambung ke jasad sehingga adzab terjadi pada keduanya. Bisa jadi landasan mereka adalah Hadits,

ويضيَّقُ عليْهِ قبرُهُ حتَّى تختلِفَ فيهِ أضلاعُهُ

“Sesungguhnya kubur disempitkan untuknya (orang kafir) sehingga tulang rusuknya bersilangan” (HR. Abu Daud dari Albaro bin ‘Azib)
Ini menunjukkan adzab bisa terjadi pada jasad, karena tulang rusuk itu dzat badan [selesai].

Judul buku : Oh..Kematian?!

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Oh..Kematian?! (Ciri-Ciri Husnul Khotimah Bag. 4) https://nidaulfithrah.com/oh-kematian-ciri-ciri-husnul-khotimah-bag-4/ Mon, 16 Dec 2024 07:18:02 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19367 E. Ciri-Ciri Husnul Khotimah
Husnul khotimah artinya good ending atau akhir yang baik. Maksudnya, seseorang meninggalkan dunia menuju Akhirat yang dimulai dari alam barzakh dengan kondisi baik sehingga baik pula di alam barunya tersebut. Syariat menginformasikan di antara ciri-cirnya, yaitu:
a .Meninggal dalam perang jihad fi sabilillah
Allah ta’ala berfirman,

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ ۞ فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ( آل عمران: 169،170)

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergembira terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (QS. Ali Imron:169-170)

أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: “ما أحد يدخل الجنة يحب أن يرجع إلى الدنيا وله ما على الأرض من شيء إلا الشهيد يتمنى أن يرجع إلى الدنيا فيقتل عشر مرات لما يرى من الكرامة (رواه البخاري ومسلم من أنس بن مالك)

“Tidak satupun seseorang yang masuk Surga ingin kembali ke dunia, sekalipun seluruh dunia dan isinya diberikan kepadanya, kecuali orang yang mati syahid. Sesungguhnya ia berangan-angan hendak kembali (ke dunia) kemudian terbunuh hingga sepuluh kali, karena ia melihat mulianya mati syahid.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik)
Derajat syahadah (mati syahid) ini diharapkan juga bisa diraih bagi orang yang memintanya kepada Allah ta’ala secara ikhlas tetapi tidak berkesempatan turut andil dalam suatu peperangan di medan jihad. Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda,

من سأل الله الشهادة بصدق، بلغه الله منازل الشهداء، وإن مات على فراشه (رواه مسلم وأبو داود عن أبى هريرة)

Barangsiapa yang memohon mati syahid kepada Allah ta’ala dengan tulus (benar), niscaya Allah akan menyampaikannya ke derajat orang-orang yang mati syahid meskipun ia mati di atas tempat tidurnya.” (HR. Muslim dan Abu Daud dari Abu Hurairah)
b. Mengucapkan kalimat “Laa ilaaha illa Allah” di akhir hayatnya.
Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda,

“من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة (رواه أبو داود عن معاذ)

Barangsiapa yang akhir ucapannya “Laa ilaaha illa Allah” niscaya masuk Surga (HR. Abu Daud dari Mu’adz)
c. Pelipisnya berkeringat

روى الترمذي في سننه من حديث بريدة بن الحصيب – رضي الله عنه -: عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: “المؤمن يموت بعرق الجبين

Dari Nabi shallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda: Seorang mukmin itu meninggal dunia dengan keringat di pelipisnya(HR. At-Tirmidzi dari Buraidah bin Hushaib)
Ada sebagian ulama yang mencoba menyingkap hikmah mengenai pemberitaan dari Nabi shallahu’alaihi wasallam ini. Ada yang mengatakan hal itu dampak dari beratnya keadaan saat menghadapi kematian karena suatu dosa yang masih ada padanya. Dia merasa kesakitan demi membersihkan dosa tersebut. Ada yang mengatakan itu disebabkan malu ketika mendapatkan kabar gembira sementara dirinya terdapat dosa-dosa. Saking malunya kepada Allah ta’ala menjadikan pelipisnya berkeringat. Ada yang mengatakan keringat pada pelipis itu tanda kematian seorang mukmin meskipun tidak bisa disingkap hikmahnya.
d. Meninggal dunia karena tho’un

أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: “الطاعون شهادة لكل مسلم” (رواه البخاري ومسلم عن أنس بن مالك)

Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda: Tho’un itu syahid bagi setiap muslim” (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik)
e. Meninggal dunia karena sakit perut

أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: “من مات في البطن فهو شهيد (رواه مسلم عن أبى هريرة)

“Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang meninggal dunia karena sakit perut maka dia syahid” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
f . Meninggal dunia disebabkan kebakaran, tenggelam, keruntuhan, radang selaput dada dan karena hamil atau melahirkan anak

أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – جاء يعود عبد الله بن ثابت فوجده قد غلب، فصاح به رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فلم يجبه، فاسترجع رسول الله – صلى الله عليه وسلم – وقال: “غلبنا عليك يا أبا الربيع”، فصاح النسوة وبكين، فجعل ابن عتيك يسكتهن، فقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: “دعهن فإذا وجب فلا تبكين باكية”، قالوا: وما الوجوب يا رسول الله؟ قال: الموت، قالت ابنته: والله إن كنت لأرجو أن تكون شهيدًا فإنك كنت قد قضيت جهازك، قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: “إن الله قد أوجع أجره على قدر نيته، وما تعدون الشهادة؟” قالوا: القتل في سبيل الله تعالى، قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: “الشهادة سبع سوى القتل في سبيل الله: المطعون شهيد والغريق شهيد وصاحب ذات الجنب شهيد والمبطون شهيد وصاحب الحريق شهيد والذي يموت تحت الهدم شهيد والمرأة تموت بجمع شهيد (رواه أبوداود عن جابربن عتيك)

Rasulullah shallahu’alaihi wasallam datang mengunjungi Abdullah bin Tsabit. Beliau mendapatinya telah parah sakitnya. Rasulullah shallahu’alaihi wasallam memanggilnya dan Abdullah tidak menjawab panggilan beliau. Lalu beliau mengucapkan istirja’ (INNAALILLAAHI WA INNAA ILAIHI RAAJI’UUN), dan berkata: “Taqdirmu telah mendahului kami wahai Abu Ar Rabi’! Para wanita berteriak dan menangis, lalu Ibnu ‘Atik mendiamkan mereka. Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Biarkan mereka, seandainya ia telah ‘wajab’ maka janganlah ada seorang wanita yang menangis!” Mereka bertanya; apakah ‘wajab’ itu wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Meninggal dunia”. Anak wanitanya berkata; Demi Allah, sungguh aku berharap kamu menjadi orang yang syahid. Sungguh engkau telah menyelesaikan persiapan (perang)mu. Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah ta’ala telah memberikannya pahala sesuai dengan niatnya. Apakah yang kalian anggap sebagai mati syahid?” Mereka menjawab; Terbunuh di jalan Allah ta’ala. Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Mati syahid selain terbunuh di jalan Allah ada tujuh, yaitu: orang yang meninggal karena terkena penyakit tha’un, syahid. Orang yang mati tenggelam, syahid. Orang yang meninggal karena sakit radang selaput dada, syahid. Orang meninggal karena sakit perut, syahid. Orang yang terbakar, syahid. Orang yang meninggal terkena reruntuhan, syahid. Dan seorang wanita yang meninggal dalam keadaan hamil juga syahid.(HR. Abu Daud dari Jabir bin ‘Atik)
g. Meninggal dunia karena mempertahankan agama, jiwa dan harta

قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: “من قتل دون ماله فهو شهيد ومن قتل دون أهله أو دون دمه أو دون دينه فهو شهيد (روأه أبو داود عن سعيد بن زيد)

Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang terbunuh karena mempertahankan hartanya maka dia syahid. Siapa yang terbunuh karena mempertahankan keluarganya, nyawanya, atau agamanya maka dia syahid.” (HR. Abu Daud dari Sa’id bin Zaid)

جاء رجل إلى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فقال: يا رسول الله! أرأيت إن جاء رجل يريد أخذ مالي؟ قال: “فلا تعطه مالك”، قال: أرأيت إن قاتلني؟ قال: “قاتله”، قال أرأيت إن قتلني؟ قال: “فأنت شهيد”، قال: أرأيت إن قتلته؟ قال: “هو في النار” (رواه مسلم عن أبي هريرة)

“Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah a dan menanyakan: “Ya Rasulullah! Bagaimana menurutmu, kalau ada seseorang hendak merampas hartaku?” Jawab Nabi: “Jangan egnkau berikan hartamu kepadanya!” Tanya laki-laki: “Bagaimana menurutmu, kalau dia memerangiku?” Nabi menjawab: “Perangi dia!”. Tanya laki-laki: “Bagaimana kalau dia membunuhku?” Nabi menjawab: “Maka engkau mati syahid!” Laki-laki bertanya: “Bagaimana kalau saya membunuhnya?” Nabi menjawab: “Maka dia masuk Neraka” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Judul buku : Oh..Kematian?!

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Oh..Kematian?! (Kematian Sebaik-baiknya Nasehat bag. 1) https://nidaulfithrah.com/oh-kematian-kematian-sebaik-baiknya-nasehat-bag-1/ Mon, 28 Oct 2024 02:21:44 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19282 A. Kematian Sebaik-baiknya Nasehat

Kita semua membutuhkan nasehat.
Ketika kita bengkok bisa menjadi lurus kembali setelah dinasehati.
Ketika keliru bisa sadar setelah dinasehati.
Ketika kita salah bisa kembali benar setelah dinasehati.
Hidup terasa lebih bermakna setelah Bapak dan Ibu guru memberi nasehat
Ketahuilah sebaik-baiknya nasehat adalah kematian!!!

Karena kematian sebaik-baiknya nasehat, maka Nabi shallahu’alaihi wasallam memerintahkan kita agar banyak mengingat kematian. Disebutkan di dalam Hadits,

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسولُ الله ﷺ: أكثروا ذكر هادم اللَّذات: الموت (رواه الترمذي، والنَّسائي، وصحَّحه ابن حبَّان)

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, dia berkata, Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda: Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan, yaitu kematian (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i, di-shahih-kan oleh Ibnu Hibban)
Kita benar-benar menyadari betapapun hebatnya fasilitas, lezatnya makanan dan minuman, tingginya kedudukan, glamournya fasilitas, menariknya permainan, indahnya pemandangan, nyamannya rekreasi, asyik-masyuknya pelampiasan hobi, megahnya gedung, ganteng cantiknya rupawan, dan manisnya bercengkerama semuanya itu tidak langgeng. Semuanya terbatas. Kematianlah yang membatasinya. Maka dengan mengingat kematian dan semakin banyak mengingatnya akan menjadikan kita berhati-hati dalam menjalani hidup dan kita betul-betul menyadari akan terjadinya peralihan dari kehidupan di dunia ke kehidupan di Akhirat yang dimulai dari alam barzah. Kita pun tidak akan membabi buta, semena-mena dan “sekarepe dhewek” dalam menjalani kehidupan yang fana ini. Bersamaan dengannya kita akan memperbanyak amalan.
Disebutkan dalam riwayat-riwayat tentang keadaan dan perkataan para Salafush sholih,


a. Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallhu’anhu
Ia berkata,

كُلُّ امْرِئٍ مُصَبَّحٌ فِي أَهْلِهِ:. وَالمَوْتُ أَدْنَى مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ. (رواه البخاري)

Setiap orang pada pagi hari bersantai dengan keluarganya. Padahal kematian lebih dekat dari pada tali sandalnya.” (HR. Bukhari)


b. Abdurrahman bin ‘Auf radhiallahu’anhu
Ia radhiallahu’anhu yang sedang berpuasa dihidangkan makanan untuk berbuka, tetapi tangannya tidak sanggup menyentuhnya ketika teringat kematian Mush’ab dan Hamzah radhiallahu’anhum,

أنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بنَ عَوْفٍ رَضِيَ اللَّهُ عنْه، أُتِيَ بطَعَامٍ وكانَ صَائِمًا، فَقالَ: قُتِلَ مُصْعَبُ بنُ عُمَيْرٍ وهو خَيْرٌ مِنِّي، كُفِّنَ في بُرْدَةٍ، إنْ غُطِّيَ رَأْسُهُ، بَدَتْ رِجْلَاهُ، وإنْ غُطِّيَ رِجْلَاهُ بَدَا رَأْسُهُ – وأُرَاهُ قالَ: وقُتِلَ حَمْزَةُ وهو خَيْرٌ مِنِّي – ثُمَّ بُسِطَ لَنَا مِنَ الدُّنْيَا ما بُسِطَ – أَوْ قالَ: أُعْطِينَا مِنَ الدُّنْيَا ما أُعْطِينَا – وقدْ خَشِينَا أَنْ تَكُونَ حَسَنَاتُنَا عُجِّلَتْ لَنَا، ثُمَّ جَعَلَ يَبْكِي حتَّى تَرَكَ الطَّعَامَ (رواه البخارى)

“Abdurrahman bin ‘Auf dihidangkan makanan yang saat itu ia sedang berpuasa. Lalu ia berkata, Mus’ab bin Umair telah terbunuh. Ia adalah orang yang lebih baik dariku tetapi ketika (hendak dikafani) tidak ada kain kafan yang bisa membungkusnya kecuali hanyalah burdah (kain bergaris) yang apabila ditutupkan pada kepalanya, kakinya terbuka (karena kain yang pendek) dan bila ditutupkan pada kakinya kepalanya terbuka. Dan aku melihatnya, dia lanjut berkata; “Hamzah juga lebih baik dariku ia telah terbunuh. Dunia telah dilapangkan untukku sebagaimana yang telah dilapangkan ini, dan sungguh kami khawatir bila kebaikan-kebaikan kami telah disegerakan balasannya buat kami (berupa kenikmatan dunia). Lalu ia pun mulai menangis dan meninggalkan makanan tersebut(HR. Bukhari)


c. Abu Hurairah radhiallahu’anhu,

كان إذا رأى جنازة قال : امضوا فإنا على الأثر

Ketika melihat janazah, ia mengatakan: Berlalulah kalian, kami pun pasti akan menyusul.


d. Abu Darda’ radhiallahu’anhu,
Dia berkata,

إذا ذكرت الموتى فعد نفسك كأحدهم

Kalau Anda mengingat orang-orang mati maka masukkan diri Anda salah satu dari mereka.

أضحكني؛ مؤمِّل دنيا والموتُ يطلبه، وغافل وليس مغفولًا عنه، وضاحك بملء فِيه ولا يدري أأرضى الله أم أسخطه

Aku jadi tertawa; ada orang memimpikan dunia padahal kematian tengah memburu dirinya, orang yang lalai padahal kematian tidak lalai terhadapnya, orang yang terbahak-bahak padahal dia tidak tahu apakah Allah ta’ala ridho terhadapnya ataukah murka.


e. Sa’id bin Jubair rahimahullah (665-714M)
Ia seorang ahli tafsir murid Ibnu Abbas, berkata,

لو فارق ذكر الموت قلبي لخشيت أن يفسد عليّ قلبي

“Kalau hatiku lepas dari mengingat mati, saya khawatir hatiku rusak”


f. Umar bin Abdul Aziz rahimahullah (681-720)
Ia cicit Umar bin Al Khothob, seorang khalifah Bani Umayyah berkata :

ألا ترون أنكم تجهزون كل يوم غاديا أو رائحا إلى الله عز وجل تضعونه في صدع من الأرض قد توسد التراب ، وخلف الأحباب ، وقطع الأسباب

Tidakkah kalian mengetahui bahwa kalian setiap hari pagi dan sore berjalan menuju Allah ta’ala menyiapkan diri kalian untuk kalian baringkan di liang lahat yang diurug dengan tanah, sementara kerabat kalian pulang maka terputuslah semua ikatan.


g. Abu Haazim rahimahullah
Dia seorang Tabi’in lahir di zaman sahabat Ibnu Umar, berkata,

انظُر كل عمل كرهت الموت لأجله فاترُكه، ولا يضرُّك متى متَّ

Lihatlah setiap pekerjaan yang karenanya Anda membenci kematian lalu tinggalkanlah, niscaya tidak akan memudharatkan Anda kapanpun Anda mati


h. Dzun Nun al-Mishry rahimahullah (796-859)
Ada seseorang yang menemuinya, bersamanya orang-orang para pecinta dunia. Dzun Nun pun mengatakan kepada mereka,

تَوَسَّدُوا المَوْتَ إِذَا نِمْتُمْ، وَاجْعَلُوهُ نُصْبَ أَعْيُنِكُمْ إِذَا قُمْتُمْ، كونوا كأنكم لا حاجة لكم إلى الدنيا، ولا بُدَّ لكم من الآخرة(الزهد الكبير للبيهقي)

Berbantallah kalian dengan kematian jika kalian tidur. Jadikalan ia penyangga mata kalau kalian bangun. Jadilah kalian sebagai orang-orang yang seakan-akan tidak membutuhkan dunia. Tetapi Akheratlah yang wajib bagi kalian.


i. Daud Ath-Tho-i rahimahullah (wafat tahun 781 M)
Ia belajar kepada Imam Abu Hanifah. Suatu hari Haris bin Idris berkata kepadanya, Berilah aku nasehat. Dia menjawab,

عسكر الموت ينتظرونك

“Tentara kematian tengah mengintaimu”


j. Lukman rahimahullah
Ibnu Abi Syaibah, Imam Ahmad di dalam kitab “Zuhud” dan ibnu Jarir, Ibnu Mundzir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Imam Mujahid ia berkata : Lukman itu seorang budak Habasyah berbibir tebal dan telapak kaki tebal, Ia seorang Qodhi untuk Bani Israil. Dia menasehati anaknya,

يا بني، أمرٌ لا تدري متى يلقاك، استعدَّ له قبل أنْ يفجأك

Wahai anakku, ada perkara yang kamu tidak tahu kapan ia akan menemuimu. Bersiaplah untuknya sebelum mendatangimu secara tiba-tiba


k. Hasan al-Bashri rahimahullah
Dia seorang Tabi’in yang hidup ditengah-tengah Para Pembesar Shahabat seperti Ustman bin Affan dan Thalhah bin Ubaidillah. Suatu hari sekelompok orangtua dan anak-anak muda bermajlis bersama Hasan al-Bashri rahimahullah. Dia bertanya kepada mereka,

معشر الشيوخ، ما يصنع بالزرع إذا طاب؟! فقالوا: يحصد! ثم التفت فقال: معشر الشباب، كم مِن زرع لم يَبلغ قد أدركته الآفة فأهلكته، وأتت عليه الجائحة فأتلفته؟! ثم بكى وتلا: وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ( إبراهيم: 25)

Wahai para orangtua! Apa yang mesti diperbuat terhadap tanaman yang sudah matang? Mereka menjawab: Dipanen. Lalu, dia menoleh, Wahai para pemuda! Betapa banyak tanaman belum sampai matang tapi rusak karena diserang hama. Lalu dia menangis dan membaca, “Allah ta’ala memberikan perumpamaan kepada manusia agar mereka menyadari (QS. Ibrahim:25)

Judul buku : Oh..Kematian?!

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
BUKAN ‘UZLAH (Mengucilkan diri), TAPI BERSIKAP ‘UZLAH (Part 3) https://nidaulfithrah.com/bukan-uzlah-mengucilkan-diri-tapi-bersikap-uzlah-part-3/ https://nidaulfithrah.com/bukan-uzlah-mengucilkan-diri-tapi-bersikap-uzlah-part-3/#comments Fri, 02 Sep 2022 02:26:15 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=16283 Abul ‘Aliyah, di saat terjadi fitnah antara Ali dan Muawiyah radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: Saat itu aku adalah seorang pemuda yang sangat mencintai peperangan. Perang lebih aku sukai daripada makanan lezat. Aku sendiri sudah mempersiapkan diri dengan persiapan yang prima. Begitu aku mendatangi lokasi, ternyata yang ada adalah dua pasukan besar muslim yang saling berhadapan. Ketika yang satu bertakbir maka yang satunya lagi bertakbir. Ketika yang satu bertahlil maka yang satunya lagi juga demikian. Aku berbicara pada diriku: ‘Mana di antara dua pasukuan itu yang terjebur pada kekafiran?’ Lalu, akupun pulang meninggalkan mereka”

Lihatlah! Abul ‘Aliyah, dia tidak mengikuti hawa nafsunya. Padahal jiwanya sangat senang berperang. Perang baginya lebih dicintai daripada makanan lezat. Namun, ketika perkara ini baginya tidak jelas maka diapun memastikan diri untuk menjauhkan darinya. Inilah “sikap ‘uzlah”. Allahu A’lam

Judul buku : 30 Materi Kultum

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
https://nidaulfithrah.com/bukan-uzlah-mengucilkan-diri-tapi-bersikap-uzlah-part-3/feed/ 1
BUKAN ‘UZLAH (Mengucilkan diri), TAPI BERSIKAP ‘UZLAH (Part 2) https://nidaulfithrah.com/bukan-uzlah-mengucilkan-diri-tapi-bersikap-uzlah-part-2/ https://nidaulfithrah.com/bukan-uzlah-mengucilkan-diri-tapi-bersikap-uzlah-part-2/#comments Thu, 01 Sep 2022 15:47:28 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=16286 Dikisahkan, seorang pembesar Tabi’in Ayyub As-Sakhtiyani. Dia orang yang sangat menghindarkan diri dari popularitas. Suatu ketika ia melewati gang-gang jalan. Ketika melewati suatu kaum, dia mengucapkan salam. Dan semua kaum itupun menjawab salamnya. Hal ini yang menjadikannya sedih lalu mempercepat jalannya dan beristir’ja’ (ucapan inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un). Ketika ditanya tentang perkara yang menyedikahkannya, dia menjawab:

Tidaklah mereka semua menjawab salamku melainkan karena mereka semua telah mengenaliku. Saya telah menjadi orang terkenal. Sungguh ini musibah.

Setelah itu dia tidak memperkenankan siapun untuk berjalan mendampinginya. Allahu Akbar. Inilah “sikap ‘uzlah”.

Ketahuilah!! Orang yang memiliki popularitasdi tengah-tengah manusia belum tentu selamat. Sementara orang yang memiliki popularitas di tengahtengah penduduk langit pasti selamat.Saya sendiri seringkali menyampaikan kepada temanteman dalam rangka saling menasehati,

Menjadi orang tidak dikenal itu lebih mudah urusannya daripada orang yang terkenal karena lebih mudah di dalam mengontrol hati. Berbeda dengan orang yang terkenal, ia lebih tinggi tertuntutnya untuk senantiasa mengontrol hati”.

Ingatkah Anda kisah tentang Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Tholib? Ketika itu para dhu’afa dan fakir miskin seringkali menjumpai kantong berisi gandum dan bahan makanan lainnya di depan pintu-pintu rumah mereka tanpa diketahui siapa yang menaruhnya. Begitu Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Tholib wafat, mereka tidak lagi menjumpai kantong-kantong berisi makanan lagi sebagaimana biasanya. Ketika dijumpai pada punggung jenazah beliau warna kehitaman bekas sering memanggul suatu beban. Akhirnya, diketahuilah bahwa selama ini yang berbuat kemuliaan tersebut adalah beliau. Allahu Akbar. Inilah “sikap ‘uzlah”.

Umar bin Abdul Aziz, ketika ditanya tentang pertumpahan darah yang terjadi di antara para Sahabat, mengatakan:

Itu adalah darah yang Allah mensucikan tangan-tangan kita darinya, maka marilah mensucikan lisan-lisan kita darinya!

Beliau mengajak kaum muslimin untuk menghindarkan diri dari fitnah. Inilah “sikap ‘uzlah”

Orang-orang bertanya kepada Masruq bin Al-Ajda’seorang Tabi’in:

Kenapa Anda tidak membantu Ali bin Abu Tholib radhiyallahu ‘anhu?”

Dia menjawab:

Bagaimana menurut kalian ketika dua pasukan dari kalangan kalian sendiri sudah saling berhadapan, lalu turun Malaikat di hadapan kalian dengan mengatakan

ۚ وَلَا تَقْتُلُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًۭا


Janganlah kalian membunuh diri kalian. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang terhadap kalian (QS. An-Nisa:29)

Orang-orang menjawab: “Tentu”. Lebih lanjut dia mengatakan:

“Demi Allah, sungguh Malaikat telah turun kepada mereka melalui lisan Nabiyullah, sungguh kejadian itu adalah mahkamah besar yang tidak mungkin dihapus oleh sejarah”

Lihatlah sikap Masruq bin Al-Ajda’, dia menghindarkan diri dari fitnah. Inilah sikap ‘uzlah.

Judul buku : 30 Materi Kultum

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
https://nidaulfithrah.com/bukan-uzlah-mengucilkan-diri-tapi-bersikap-uzlah-part-2/feed/ 1
BUKAN ‘UZLAH (Mengucilkan diri), TAPI BERSIKAP ‘UZLAH (Part 1) https://nidaulfithrah.com/bukan-uzlah-mengucilkan-diri-tapi-bersikap-uzlah-part-1/ https://nidaulfithrah.com/bukan-uzlah-mengucilkan-diri-tapi-bersikap-uzlah-part-1/#comments Thu, 01 Sep 2022 14:31:50 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=16284 ‘Uzlah memang bagian dari syariat Islam. Tetapi tidak serta merta diamalkan. Pelaksanaanya hanyalah ketika terjadi suatu kondisi yang mengharuskan demikian. Yaitu jika untuk tetap berbaur dengan manusia bisa membahayakan agama seseorang

seperti terancam menjadi murtad, berbuat kesyirikan, merobohkan pondasi-pondasi Islam, melecehkan syareat dan kerusakan lain yang semacamnya. Namun, ber”sikap ‘uzlah” adalah suatu keharusan dalam segala kondisi. Apa yang dimaksud bersikap ‘uzlah? Yaitu, menyembunyikan amalan sholeh, menghindari popularitas dan menghindarkan diri dari suatu fitnah sehingga tidak terjerumus ke dalamnya. Disebutkan di dalam Hadits,

Hadits Sa’ad bin Abi Waqqosh, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaqwa, kaya, dan menyembunyikan” (Shahih Muslim)

Yang dimaksud dengan “hamba yang menyembunyikan” sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Utsaimin yaitu — kurang lebihnya seperti ini– orang yang tidak mempopulerkan dirinya. Tidak pernah mempersoalkan dirinya dikenal atau tidak. Tidak mempermasalahkan orang mengacungkan jempol kepada dirinya atau tidak. Tidak mengurusi manusia memperbincangkan kebaikan dirinya atau tidak. Anda akan menjumpai kehidupannya berkisar antara rumah, masjid, kerabat, dan tempat kerja. Dia senantiasa menyembunyikan dirinya.

Ini tidak berarti jika seseorang diberikan oleh Allah kepahaman tentang ilmu lantas berdiam diri saja di dalam rumah tidak mau mengajarkan kepada manusia

karena hal ini menyelisihi ketaqwaan. Dia tetap mengajar manusia dengan ilmunya, tidak berdiam diri di rumah yang akhirnya ilmunya tidak bermanfaat bagi orang lain. Sebagaimana orang yang diberi Allah dengan harta kekayaan, maka ia juga tidak berdiam diri di rumah yang akhirnya hartanya tidak bermanfaat untuk orang lain atau ummat yang membutuhkan. Namun, jika dia dihadapkan pada kondisi antara dua pilihan; menampakkan dan memperlihatkan diri untuk menjadi terkenal atau menyembunyikan dirinya, maka dia memilih menyembunyikan dirinya.[selesai] Inilah “sikap ‘uzlah”

Judul buku : 30 Materi Kultum

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
https://nidaulfithrah.com/bukan-uzlah-mengucilkan-diri-tapi-bersikap-uzlah-part-1/feed/ 1
BETAPA HINA DUNIA INI https://nidaulfithrah.com/betapa-hina-dunia-ini/ https://nidaulfithrah.com/betapa-hina-dunia-ini/#comments Thu, 01 Sep 2022 14:26:46 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=16287 Disebutkan di dalam Hadits,

“Dari Sahl bin Sa’d, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Seandainya dunia ini sepadan dengan dengan sayap nyamuk di sisi Allah, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir meski hanya seteguk air.” (HR. At-Tirmidzi)

Bagaimanakah sikap yang semestinya dalam memberlakukan musuh? Apakah memuliakannya ataukah menghinakannya? Semua pasti menjawab MENGHINAKANNYA. Bagaimana mungkin musuh dimuliakan. Nah, siapakah musuh Allah? Tidak lain adalah orang kafir. Maka, Allah pun menghinakan mereka.

Perhatikanlah! Apa yang Allah suguhkan untuk musuh-Nya? Bukankah DUNIA DENGAN SEGALA KENIKMATANNYA? Jelaslah, bahwa dunia ini sangat hina karena ia merupakah suguhan dari Allah untuk musuh-Nya.

Oleh karena itu Nabi bersabda bahwa seandainya dunia itu bernilai meskipun hanya dengan kadar menyamai nilai sayap nyamuk, niscaya orang kafir tidak akan diberi minum meskipun hanya seteguk. SUBHANALLAH, BETAPA HINA DUNIA INI.

Judul buku : 30 Materi Kultum

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
https://nidaulfithrah.com/betapa-hina-dunia-ini/feed/ 1
MENGAPA DINAMAKAN DUNIA? https://nidaulfithrah.com/mengapa-dinamakan-dunia/ https://nidaulfithrah.com/mengapa-dinamakan-dunia/#comments Thu, 01 Sep 2022 13:11:51 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=16289 Mengapa tempat kita tinggal sekarang ini dinamai dunia? Untuk menjawabnya, terlebih dahulu kita harus mengetahui asal muasal kata ini. Ia berasal dari bahasa Arab,

دنا – يدنو – دنيا

(artinya rendah). Paling tidak ada dua alasan mengapa dinamakan dunia, yaitu:

  1. Dunia disebutkan oleh Allah dengan al-uula (الأولى). ( Artinya lebih rendah daripada Akhirat, dimana ia lebih dulu dilalui oleh manusia baru kemudian Akherat. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,
  1. Nilai dunia sangatlah rendah. Tidak ada apaapanya jika dibandingkan dengan Akherat. Disebutkan di dalam Hadits,

ALLAHU A’LAM

Judul buku : 30 Materi Kultum

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
https://nidaulfithrah.com/mengapa-dinamakan-dunia/feed/ 1