tazakiyatunNufus – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Fri, 27 Dec 2024 04:26:15 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png tazakiyatunNufus – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 Oh..Kematian?! (Jasad Seluruh Nabi Utuh, Tidak Hancur Setelah Kematiannya Bag. Penutup) https://nidaulfithrah.com/oh-kematian-jasad-seluruh-nabi-utuh-tidak-hancur-setelah-kematiannya-bag-penutup/ Fri, 27 Dec 2024 04:26:14 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19439 H. Jasad Seluruh Nabi Utuh, Tidak Hancur Setelah Kematiannya
Seluruh jasad manusia di dalam liang lahad akan rusak dan hancur yang tersisa hanyalah tulang ekor, kecuali jasad para Nabi ‘alaihimussalam. Disebutkan di dalam Hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu,

كلُّ ابنِ آدمَ يأْكلُهُ التُّرابُ إلاَّ عجبَ الذَّنبِ منْهُ خلقَ وفيهِ يرَكَّبُ (رواه البخارى و مسلم)

Setiap anak Adam akan dimakan oleh tanah kecuali tulang ekornya. Darinya Allah menciptakan dan dengannya akan disusun kembali (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam Hadits Aus bin Abu Aus radhiallahu’anhu,

إنَّ اللَّهَ عزَّ وجلَّ حرَّمَ علَى الأرضِ أجسادَ الأنبياءِ (رواه أبو داود)

“Sesungguhnya azzawajalla mengharamkan bumi dari (memakan) jasad para Nabi (HR. Abu Daud)

Jadi, tegasnya hanya jasad Nabi saja yang tidak hancur, karena Allah ta’ala telah mengharamkan bumi untuk memakannya

Lalu bagaimana dengan jasad syuhada?
Tidak ada dalil tentang utuhnya jasad syuhada. Yang ada hanya jasad para Nabi. Namun, dalam kenyataannya tidak sedikit dijumpai jasad syuhada masih tetap utuh meskipun telah terkubur dalam tanah dalam kurun waktu yang sangat lama. Seperti dalam Riwayat Jabir bin Abdullah radhiallahu’anhu berikut ini,

لَمَّا حَضَرَ أُحُدٌ دَعَانِي أبِي مِنَ اللَّيْلِ، فَقالَ: ما أُرَانِي إلَّا مَقْتُولًا في أوَّلِ مَن يُقْتَلُ مِن أصْحَابِ النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، وإنِّي لا أتْرُكُ بَعْدِي أعَزَّ عَلَيَّ مِنْكَ، غيرَ نَفْسِ رَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فإنَّ عَلَيَّ دَيْنًا فَاقْضِ، واسْتَوْصِ بأَخَوَاتِكَ خَيْرًا، فأصْبَحْنَا، فَكانَ أوَّلَ قَتِيلٍ ودُفِنَ معهُ آخَرُ في قَبْرٍ، ثُمَّ لَمْ تَطِبْ نَفْسِي أنْ أتْرُكَهُ مع الآخَرِ، فَاسْتَخْرَجْتُهُ بَعْدَ سِتَّةِ أشْهُرٍ، فَإِذَا هو كَيَومِ وضَعْتُهُ هُنَيَّةً غيرَ أُذُنِهِ (رواه البخارى)

Ketika terjadi perang Uhud, pada suatu malamnya bapakku memanggilku seraya berkata,: “Tidaklah aku melihat diriku (menduga) melainkan aku akan menjadi orang yang pertama-tama gugur di antara para sahabat Nabi (dalam peperangan ini) dan aku tidak meninggalkan sesuatu yang berharga bagimu sepeninggalku melainkan diri Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam. Dan aku mempunyai hutang, maka lunasilah dan berilah nasehat yang baik kepada saudara-saudaramu yang perempuan”. Pada pagi harinya kami dapati bapakku adalah orang yang pertama gugur dan dikuburkan bersama dengan yang lain dalam satu kubur. Setelah itu perasaanku tidak nyaman dengan membiarkan dia bersama yang lain, maka kemudian aku keluarkan setelah enam bulan lamanya dari hari pemakamannya dan aku dapati jenazah bapakku masih utuh sebagaimana hari dia dikebumikan dan tidak ada yang berubah padanya kecuali sedikit pada ujung bawah telinganya (HR. Bukhari)
Dan, masih banyak lagi fenomena-fenomena masih utuhnya jasad mayat setelah dikubur sekian lama. Anda pun mungkin mendengar atau menjumpainya. Berikut ini penjelasan Syaikh Utsaimin,

أما الشهداء والصديقون والصالحون فهؤلاء قد لا تأكل الأرض بعضهم كرامة لهم، وإلا فالأصل أنها تأكله ولا يبقى إلا عجب الذنب انتهى

Adapun syuhada, shiddiqun, sholihun ketika bumi tidak memakan sebagian mereka adalah bentuk karomah untuk mereka. Jika tidak demikan, maka hukum asal jasad siapapun adalah dimakan oleh tanah kecuali tulang ekor [selesai].
Bagaimana jika diketahui bahwa jasad yang utuh tersebut bukanlah orang yang sangat shaleh selama hidupnya. Para ulama menjelaskan bahwa Nabi dan Rasul alaihimussalam lah yang tidak mungkin jasadnya dimakan oleh tanah karena Allah ta’ala mengharamkannya untuk memakan jasad mereka. Namun, bukan berarti setiap mayat muslim yang jasadnya utuh disamakan seperti Rasul dalam ketaqwaan dan keshalehannya. Tidak ada dalil atau Nash yang menunjukkan demikian. Tidak juga ada unsur untuk meng-qiyas-kan yang demikian itu.. Adakalanya hal itu disebabkan faktor-faktor alam yang menjadikan mayat terawetkan secara alami, sebagaimana halnya mayat yang meninggal di pegunungan es, atau mayat yang dibalsem untuk dijadikan mummi. Kalau ada mayat orang kafir yang masih utuh jasadnya maka tidak lain karena faktor ini.


I. Adab-Adab Terhadap Mayat

  1. Bersabar untuk terus men-talqin-nya yaitu menuntunnya dengan kalimat “Laa ilaaha Illa Allah”. Dalam Hadits Abu Sa’id Al-Hudhri dan Abu Hurairah Nabi Shallahu’alaihi wsallam bersabda ,

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ (رواه مسلم وأبو داود والترمذى والنسائى وابن ماجه)

Talqinlah orang yang akan meninggal di antara kalian dengan “Laa Ilaaha illa Allah(HR. Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

2. Ketika ruhnya terlepas dari jasadnya, segera matanya dipejamkan dan didoakan. Disebutkan di dalam Hadits Ummu Salamah radhiallahu’anhu ,

دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَبِي سَلَمَةَ وَقَدْ شَقَّ بَصَرُهُ فَأَغْمَضَهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الرُّوحَ إِذَا قُبِضَ تَبِعَهُ الْبَصَرُ فَضَجَّ نَاسٌ مِنْ أَهْلِهِ فَقَالَ لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلَّا بِخَيْرٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَبِي سَلَمَةَ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّينَ وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ فِي الْغَابِرِينَ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ (رواه مسلم)

Ketika Abu Salamah meninggal, Rasulullah shallahu’alaihi wasallam datang ke rumah kami untuk menjenguk jenazahnya. Saat itu, mata Abu Salamah tengah terbelalak, maka beliau menutupnya. Kemudian beliau bersabda: “Apabila ruh telah dicabut, maka penglihatan akan mengikutinya” dan keluarganya pun meratap histeris. Maka, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Janganlah sekali-kali mendoakan atas diri kalian kecuali kebaikan, sebab ketika itu Malaikat akan mengaminkan apa yang kalian ucapkan”. Setelah itu, beliau berdoa: “ALLAHUMMAGHFIR LI ABI SALAMAH WARFA’ DARAJATAHU FIL MAHDIYYIIN WAKHLUFHU FI ‘AQIBIHI FIL GHAABIRIIN, W-AGH-FIR LANAA WA LAHU YAA RABBA-L- ‘ALAMIIN, WA-F-SAH LA HU FII QABRIHI WA NAWWIR LAHU FIIHI (Ya Allah, ampunilah Abu Salamah, tinggikan derajatnya di kalangan orang-orang yang terpimpin dengan petunjuk-Mu dan gantilah ia bagi keluarganya yang ditinggalkannya. Ampunilah kami dan ampunilah dia. Wahai Rabb semesta alam. Lapangkanlah kuburnya dan terangilah dia di dalam kuburnya).(HR. Muslim)

3. Menutupkan kain ke seluruh tubuhnya

أنَّ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ حِينَ تُوُفِّيَ سُجِّيَ ببُرْدٍ حِبَرَةٍ (رواه البخارى عن عائشة)

Rasulullah shallahu’alaihi wasallam ketika wafat, beliau ditutupi dengan kain hibarah (kain yang bergaris) (HR. Bukhari dari ‘Aisyah)

4. Menyegerakan pengurusannya mulai dari memandikan hingga memakamkan

أسرِعُوا بالجنازَةِ ، فإنْ تكُ صالِحةً فخيرٌ تُقدِّمُونَها إليه ، وإنْ تَكُ سِوَى ذلكَ فشَرٌّ تَضعونَهُ عن رِقابِكمْ (رواه البخارى ومسلم عن أبى هريرة)

“Bersegerah (di dalam mengurus) jenazah, karena bila jenazah itu dari orang shalih berarti kalian telah mempercepat kebaikan untuknya dan jika tidak, berarti kalian telah menyingkirkan kejelekan dari pundak kalian” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

5. Segera menunaikan hutang-hutangnya dari hartanya meskipun habis keseluruhannya.
Disebutkan di dalam Hadits Jabir radhiallahu ‘anhu ,

تُوفِّيَ رَجُلٌ مِنَّا، فغسَّلْناه، وحنَّطْناه، وكفَّنَّاه، ثم أَتَيْنا به رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فقُلنا: تُصلِّي عليه؟ فخَطا خُطًى، ثم قال: أعليه دَينٌ؟ قلنا: دينارانِ، فانصَرَفَ، فتحَمَّلَهما أبو قَتادَةَ، فقال أبو قَتادَةَ: الدِّنيارانِ عليَّ، فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: حَقُّ الغَريمِ، وبَرِئَ منهما الميِّتُ؟ قال: نَعَمْ، فصلَّى عليه

Ada seorang laki-laki di antara kami meninggal dunia, lalu kami memandikannya, membubuhkan wewangian padanya, dan mengkafaninya. Kemudian kami mendatangi Rasulullah shallahu’alaihi wasallam dan kami tanyakan: Apakah baginda akan menyolatkannya?. Beliau melangkah beberapa langkah kemudian bertanya: “Apakah ia mempunyai hutang?”. Kami menjawab: Dua dinar. Lalu beliau kembali. Maka Abu Qotadah menanggung hutang tersebut. Ketika kami mendatanginya; Abu Qotadah berkata: Dua dinar itu menjadi tanggunganku. Lalu Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Betul-betul engkau tanggung dan mayit itu terbebas darinya.” Ia menjawab: Ya. Maka beliau menyolatkannya. (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Nasa’i) Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Hakim.

J. Niyahah, Perkara yang Diharamkan bagi Keluarga Mayat
Niyahah yaitu meratapi mayat disebabkan sedih yang berlebihan. Disebutkan di dalam Hadits,

أَرْبَعٌ في أُمَّتي مِن أمْرِ الجاهِلِيَّةِ لا يَتْرُكُونَهُنَّ: الفَخْرُ في الأحْسابِ، والطَّعْنُ في الأنْسابِ، والاسْتِسْقاءُ بالنُّجُومِ، والنِّياحَةُ. وقالَ: النَّائِحَةُ إذا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِها، تُقامُ يَومَ القِيامَةِ وعليها سِرْبالٌ مِن قَطِرانٍ، ودِرْعٌ مِن جَرَبٍ.(رواه مسلم عن أبو مالك الأشعري)

“Ada empat perkara jahiliyah yang masih melekat pada umatku dan mereka belum meninggalkannya: Membanggakan kedudukan, mencela nasab (garis keturunan), meminta hujan dengan bintang-bintang, dan niyahah (meratapi mayit).” Dan beliau bersabda: “Orang yang meratapi mayit, jika ia belum bertaubat sebelum ajalnya tiba maka pada hari kiamat ia akan dibangkitkan dengan memakai baju terbuat dari tir dan memakai tameng dari kudis (kulitnya dipenuhi kudis, Pent.).” (HR. Muslim dari Abu Malik al-Asy’ari)
Niyahah bisa berupa:
a. Menampar-nampar pipi, merobek-robek baju, sebagaimana sabda Nabi shallahu’alaihi wasallam,

ليسَ مِنَّا مَن ضَرَبَ الخُدُودَ، أوْ شَقَّ الجُيُوبَ، أوْ دَعا بدَعْوَى الجاهِلِيَّةِ (رواه البخارى ومسلم عن عبدالله بن مسعود)

“Bukan dari golongan kami siapa yang memukul-mukul pipi, merobek-robek baju dan menyeru dengan seruan jahiliyyah (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud).
b. Menggundul rambut kepala.

وَجِعَ أَبُو مُوسَى وجَعًا شَدِيدًا، فَغُشِيَ عليه ورَأْسُهُ في حَجْرِ امْرَأَةٍ مِن أَهْلِهِ، فَلَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَرُدَّ عَلَيْهَا شيئًا، فَلَمَّا أَفَاقَ، قالَ: أَنَا بَرِيءٌ مِمَّنْ بَرِئَ منه رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، إنَّ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: بَرِئَ مِنَ الصَّالِقَةِ والحَالِقَةِ والشَّاقَّةِ (رواه البخارى عن أبى موسى الأشعرى)

“Abu Musa merasakan sakit hingga jatuh pingsan sementara kepalanya menyandar dalam pangkuan seorang wanita dari keluarganya, wanita itu pun berteriak histeris sementara ia (Abu Musa) tidak bisa melakukan apa-apa (karena pingsan). Ketika sadar, maka [Abu Musa] pun berkata, ‘Saya berlepas diri dari tindakan yang mana Rasulullah shallahu’alaihi wasallam berlepas diri darinya. Sesungguhnya Rasulullah shallahu’alaihi wasallam berlepas diri dari wanita yang berteriak-teriak ketika terjadi musibah, dan yang memotong-motong rambut, serta menyobek-nyobek baju.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari)
c. Mengurai rambut

كانَ فيما أخذَ علَينا رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ في المعروفِ الَّذي أخذَ علَينا: أن لا نَعصيَهُ فيهِ أن لا نَخمِشَ وجهًا ولا ندعوَ ويلًا ولا نَشُقَّ جيبًا ولا ننشرَ شَعرًا (رواه أبوداود عن امرأة من المبايعات )

“Diantara yang Rasulullah shallahu’alaihi wasallam wajibkan atas kami dari perkara yang ma’ruf adalah kami tidak bermaksiat kepadanya, dan tidak mencakar wajah, tidak menyerukan kebinasaan, dan tidak merobek saku, serta tidak mengacak-acak rambut(HR. Abu Daud dari seorang wanita yang berbai’at) .

K. Penutup
Semoga tulisan ini bisa menginspirasi kita semua untuk lebih berhati-hati di dalam menjalani kehidupan ini dan lebih banyak memikirkan untuk bekal kematian kita. Sehingga kita mendapatkan ampunan dan rahmat Allah ta’ala. Amin. Alhamdulillahi Robb-l- ‘alamin.

Referensi:

  1. Al-Wajiz fi Fiqhi-s-Sunnah wa-l-Kitabi-l- ‘Aziz oleh Syaikh Dr. Abdul Azhim Badawi
  2. Ushul fi-t-tafsir oleh Syaikh Al-Utsaimin
  3. Tafsir Ath-Thobari
  4. Tafsir Ibnu Katsir
  5. Tafsir As-Sa’di
  6. Tafsir Al Wasith
  7. https://dorar.net/hadith/sharh
  8. Islamweb.net
  9. Islamqa.info
  10. https://midad.com/article/223092/
  11. https://almoslim.net/node/83879
  12. https://khutabaa.com/ar/article
  13. https://al-maktaba.org/book/
  14. https://shamela.ws/book/9953/40

Judul buku : Oh..Kematian?!

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Oh..Kematian?! (Kematian Datangnya Tidak “Kulonuwun” Bag. 3) https://nidaulfithrah.com/oh-kematian-kematian-datangnya-tidak-kulonuwun-bag-3/ Wed, 04 Dec 2024 08:59:52 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19363 C. Kematian Datangnya Tidak “Kulonuwun”
Bukankah Anda menjumpai anak kecil meninggal dunia? Kematian datang tidak menunggu sasarannya tua terlebih dahulu. Bukankah Anda melihat orang sehat segar- bugar meniggal dunia? Kematian datang tidak menunggu sakit dulu. Bukankah Anda menyaksikan orang yang tengah sibuk dengan program-program kejayaannya wafat? Kematikan datang tidak menunggu pensiun dulu. Kalau ajal yang Allah ta’ala telah menetapkannya tiba, maka kematian akan datang tidak tertunda dan tidak dimajukan sedikitpun. Allah ta’ala berfirman,

قُلْ إِنَّ ٱلْمَوْتَ ٱلَّذِى تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُۥ مُلَٰقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ (الجمعة:8)

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Al-Jumu’ah:8)
Meskipun Anda “sangat protek” dengan rajin check up, berobat, timbang badan, jaga stamina, makanan bergizi, istirahat yang memadahi dan lain-lain semuanya itu tidak akan bisa menghalang-halangi datangnya kematian. Allah ta’ala berfirman,

أَيْنَمَا تَكُونُوا۟ يُدْرِككُّمُ ٱلْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِى بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ (النساء: 78)

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapati kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh (QS. An-Nisa: 78)

Jadikanlah kebaikan dan ketaatan sebagai perkara yang Anda biasakan. Sehingga ketika kematian yang tidak “kulonuwun” datang menjemput, maka Anda akan meniggal dunia di atas kebaikan dan ketaatan. Karena ia adalah perkara yang melekat pada diri Anda di mana Anda selalu membiasakannya.

D. Sakaratul Maut dan Perjalanan Menuju Alam Barzah
Sakaratul maut adalah suatu keadaan pada seseorang menjelang kematian. Pada dirinya terjadi pergolakan yang luar biasa. Karena ruh akan dicabut dari jasadnya. Ketika itu kondisinya lemah baik fisik atau batinnya. Saat itulah syetan datang dan terus berusaha menjerumuskannya. Inilah yang disebut fitnatu-l-mamaat. Adapun orang yang istiqomah dengan agamanya mendapatkan motivasi dan kabar gembira dari para Malaikat. Allah ‘azawajalla berfirman,

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ (فصلت: 30)

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan Surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu (QS. Fushilat:30)”
Nabi shallahu’alaihi wasallam memberitahukan kepada kita semua bagaimana keadaan sakaratul maut manusia hingga perjalanannya menuju alam barzah di dalam Hadits panjang berikut ini,

عن البراء بن عازب قال : خرجنا مع النبي صلى الله عليه و سلم في جنازة رجل من الأنصار فانتهينا إلى القبر ولما يلحد فجلس رسول الله صلى الله عليه و سلم وجلسنا حوله وكأن على رءوسنا الطير وفي يده عود ينكت في الأرض فرفع رأسه فقال استعيذوا بالله من عذاب القبر مرتين أو ثلاثا
ثم قال إِنَّ العبدَ المؤْمن إذا كان في انْقِطَاعٍ من الدُّنْيَا، وإِقْبالٍ من الْآخِرَةِ، نزل إليه من السَّمَاءِ ملائكةٌ بِيضُ الوجُوهِ، كأَنَّ وجوهَهُمُ الشمسُ ، معهُمْ كفنٌ من أكْفَانِ الجنَّةِ، وحَنُوطٌ من حَنُوطِ الجَنَّةِ ، حتى يَجْلِسُوا منه مَدَّ البَصَرِ ، ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ المَوْتِ حتى يَجلِسَ عندَ رأسِه فيَقولُ : أيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ اخْرُجِي إلى مغْفِرةٍ من اللَّهِ ورِضْوَانٍ، فتخْرُجُ تَسِيلُ كما تسِيلُ القَطْرَةُ من فِي السِّقَاءِ ، فيَأْخذُها ، فإذا أخَذَها ، لم يَدَعُوها في يَدِه طَرْفَةَ عَيْنٍ، حتى يَأْخُذُوها فيَجْعَلُوهَا في ذلكَ الكَفَنِ وفي ذلكَ الحَنُوطِ ، فيَخْرُجُ منها كأَطيَبِ نَفْخَةِ مِسْكٍ، وُجِدَتْ على وجْهِ الأرضِ، فيَصْعَدُونَ بِها فلا يمُرُّونَ بها على مَلَكٍ من الملائِكَةِ، إلَّا قالُوا: ما هذا الرُّوحُ الطَّيِّبُ؟ فيقولُونَ : فُلَانُ بنُ فُلَانٍ بأَحْسَنِ أسمائِه التي كانُوا يُسَمُّونَه بها في الدُّنْيَا – حتى ينْتَهُوا بها إلى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَسْتَفْتِحون له فَيُفْتَحُ له ، فيُشَيِّعُهُ من كلِّ سماءٍ مُقَرَّبُوها إلى السماءِ التِي تلِيها ، حتى يُنتَهَي إلى السماءِ السابِعةِ ، فيقولُ اللهُ عزَّ وجلَّ : اكْتُبُوا كِتابَ عبدِي في علِّيِّينَ ، وأَعِيدُوا عَبدِي إلى الأرضِ ، فإِنِّي مِنها خَلَقتُهم ، وفِيها أُعِيدُهُم ، ومِنها أُخْرِجُهم تارةً أُخْرَى . فتُعادُ رُوحُه ، فيَأتِيهِ مَلَكانِ ، فيُجْلِسانِه ، فيَقولانِ له : مَن ربُّكَ ؟ فيقولُ : رَبِّيَ اللهُ ، فيَقولانِ له : ما دِينُكَ ؟ فيَقولُ : دِينِيَ الإِسلامُ ، فيَقولانِ له : ما هذا الرجلُ الذِي بُعِثَ فِيكُمْ ؟ فيَقولُ : هو رسولُ اللهِ ، فيَقولانِ له ومَا عِلْمُكَ ؟ فيَقولُ : قَرأتُ كِتابَ اللهِ فآمَنتُ به وصَدَّقْتُ ، فيُنادِي مُنادٍ من السماءِ أنْ صَدَقَ عَبدِي ، فَأفْرِشُوه من الجنةِ ، وألْبِسُوهُ من الجنةِ ، وافْتَحُوا له بابًا إلى الجنةِ ، فيَأتِيهِ من رَوْحِها وطِيبِها ، ويُفسحُ له في قَبرِهِ مَدَّ بَصرِهِ ، ويَأتِيهِ رَجلٌ حَسَنُ الوَجهِ ، حَسنُ الثِّيابِ ، طَيِّبُ الرِّيحِ فيَقولُ : أبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ ، هذا يَومُكَ الذي كُنتَ تُوعَدُ ، فيقولُ لهُ : مَن أنتَ ؟ فوجْهُكَ الوَجْهُ يَجِيءُ بِالخيرِ ، فيَقولُ : أنَا عَملُك الصالِحُ ، فيَقولُ : رَبِّ أقِمِ السَّاعَةَ ، رَبِّ أقِمِ الساعَةَ ، وإنَّ العبدَ الكافِرَ إذا كان في انقِطَاعٍ من الدنيا، وإقبالٍ من الآخِرةِ ، نزل إليه من السماءِ ملائكةٌ سُودُ الوجُوهِ معَهُمُ المُسُوحُ ، فيجلِسُونَ منه مَدَّ البَصَرِ ، ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الموتِ حتى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَيَقُولُ: يَا أيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ اخْرُجِي إلى سَخَطٍ من اللَّهِ وغَضَبٍ ، فَتَفْرُقُ في جَسَدِهِ فيَنتَزِعُهَا كَما يُنتَزَعُ السَّفُّودُ من الصُّوفِ المَبْلُولِ ، فيَأْخذَها ، فإذا أخذَها لَم يَدعُوها في يَدِهِ طَرْفَةَ عَينٍ حتى يَجْعَلُوهَا في تِلْكَ الْمُسُوحِ ، يخرجُ منها كأَنْتَنِ ريحِ جِيفَةٍ، وُجِدَتْ على ظَهْرِ الأَرضِ فيصْعَدُونَ بِها، فلا يَمُرُّونَ بها على مَلَكٍ من الملائِكَةِ إلَّا قَالُوا: ما هذا الرُّوحُ الْخَبِيثُ؟ فيَقُولُونَ: فُلَانُ بنُ فُلَانٍ بأَقْبَحِ أسْمَائِهِ التي كان يُسَمَّى بِهَا في الدُّنْيَا، حتى يَنْتَهِيَ بِهَا إلى سمَاءِ الدُّنْيَا فَيُسْتَفْتَحُ لهُ، فلا يُفْتَحُ لهُ، ثُمَّ قَرَأَ لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أبْوَابُ السَّمَاءِ قال : فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وجَلَّ: اكْتُبُوا كِتَابَه في سِجِّينٍ في الْأَرْضِ السُّفْلَى، قال : فَتُطْرَحُ رُوحُهُ طَرْحًا، قال : فتُعَادُ رُوحُهُ في جَسَدِهِ، ويَأْتِيهِ ملَكَانِ فَيُجْلِسَانِه، فيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ فيَقُولُ: هَاهَا لا أدْرِي، فَيَقُولَانِ لَهُ: ومَا دِينُكَ؟، فَيَقُولُ: هَاهَا لا أدْرِي فيَقُولانِ له : ما هذا الرَّجلُ الذي بُعِثَ فِيكُم ؟ فيَقولُ : هَاه هَاه لا أدْرِي ، فيُنادِي مُنادٍ من السماءِ : أنْ كَذَبَ عَبدِي ، فأفْرِشُوهُ من النارِ، وافْتَحُوا له بابًا إلى النَّارِ، قال : فَيَأْتِيهِ من حَرِّهَا وسَمُومِهَا، ويُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ، حتى تَخْتَلِفَ عَلَيْهِ أضْلَاعُهُ، ويَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ، وقَبِيحُ الثِّيَابِ، مُنْتِنُ الرِّيحِ، فَيَقُولُ: أبْشِرْ بِالَّذِي يَسُوءُكَ هذا يَوْمُكَ الذي كُنْتُ تُوعَدُ، فَيَقُولُ: مَنْ أنْتَ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالشَّرِّ، فَيَقُولُ: أنا عَمَلُكَ الخَبِيثُ فيَقُولُ: ربِّ لا تُقِمِ السَّاعةَ (رواه أحمد عن الراء بن عازب

Kami keluar bersama Nabi shallahu’alaihi wasallam mengantarkan jenazah seseorang dari Anshor. Maka kami pun sampai di makam (dan waktu itu) sedang dibuatkan liang lahat. Lalu Rosulullah shallahu’alaihi wasallam duduk, dan kami pun duduk di sekitarnya. (suasana tenang sekali) sehingga seakan-akan di atas kepala kami ada burung. Dan di tangan beliau ada kayu yang beliau pukul-pukulkan ke tanah. Lalu beliau mengangkat kepalanya seraya mengatakan: Berlindunglah kalian kepada Allah ta’ala dari adzab kubur (dua atau tiga kali)
Kemudian beliau bersabda : Sesungguhnya seorang hamba yang beriman, apabila dia berada di akhir kehidupan dunianya, dan hendak menuju Akhirat (kematian), maka turunlah kepadanya Malaikat dari langit. Yang mana wajah mereka putih seolah-olah wajah mereka adalah matahari. Dan mereka membawa kafan dari kafan-kafan Surga dan kapur barus dari kapur barus Surga. Dan mereka duduk sejauh mata memandang darinya.Kemudian datanglah Malaikat maut kepadanya. Lalu dia duduk di sisi kepalanya. Maka dia pun mengatakan : Wahai jiwa yang baik, keluarlah engkau menuju ampunan dari Allah ta’ala dan keridhoan-Nya.
Beliau melanjutkan : Maka mengalirlah (keluar) jiwanya seperti mengalirnya air dari cerek. Lalu Malaikat maut pun mengambilnya. Tatkala dia mengambilnya, para Malaikat yang sudah menantinya tidak membiarkan ada di tangannya meskipun hanya sekejap mata, lalu mereka mengambilnya dan meletakannya di kafan dan kapur barus yang telah mereka siapkan. Dan keluarlah darinya aroma harum seperti harumnya misik yang paling bagus yang ada di muka bumi.
Lalu beliau teruskan : Maka mereka membawanya naik (ke langit). Dan tidaklah mereka melewati sekumpulan Malaikat, melainkan mereka (Malaikat yang melihatnya) mengatakan: Siapa ruh yang bagus ini? Mereka (yang membawanya) menjawab : Fulan bin Fulan yakni dengan disebutkan namanya yang paling bagus yang dahulu dia dinamakan dengannya di dunia. Sampailah mereka ke langit dunia. Lalu mereka minta agar dibukakan (pintu) untuknya. Maka dibukalah untuk mereka. Lalu mengikutinya pula dari setiap langit para Malaikat yang dekat hingga sampai ke langit yang setelahnya. Hingga akhirnya sampai ke langit yang ke tujuh. Lalu Allah ta’ala berfirman: Tulislah kitab (catatan amalan) hamba-Ku di ‘illiyyin dan kembalikanlah dia ke bumi. Sesungguhnya darinyalah Aku menciptakan mereka, dan padanyalah Aku mengembalikan mereka, serta darinyalah Aku akan mengeluarkan mereka pada kali yang lain.
Beliau bersabda : Lalu dikembalikanlah ruhnya pada jasadnya, dua Malaikat datang kepadanya dan mendudukkannya. Keduanya bertanya : Siapa Rabbmu? Dia menjawab : Rabbku adalah Allah ta’ala. Lalu mereka bertanya lagi : Apa agamamu? Agamaku adalah Islam, jawabnya. Mereka kembali bertanya : Siapa orang ini yang diutus kepada kalian? Dia mengatakan : Dia adalah Rasulullah. Dari mana kamu tahu? Tanya mereka. Dia pun menjelaskan: Aku membaca Kitabullah (Al Quran), lalu aku mengimaninya dan aku membenarkannya. Setelah itu, sebuah seruan datang di langit; HambaKu benar, bentangkanlah untuknya (bentangan) dari Surga, dan pakaikanlah (pakaian) dari Surga, serta bukakanlah untuknya pintu menuju Surga.
Beliau bersabda: Lalu datanglah kepadanya aroma dan keindahannya, dan diluaskan untuknya di kuburnya sejauh mata memandang. Lalu seseorang yang bagus wajahnya, bagus bajunya, serta wangi aromanya datang menghampirinya sambil berkata: Bergembiralah dengan hal yang akan menyenangkanmu, ini adalah hari yang kamu dijanjikan dengannya. Dia (ruh) bertanya: Siapa kamu? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan kebaikan. Dia (orang yang datang kepadanya) menjawab: Saya adalah amalanmu yang sholih. Lalu dia (ruh) itu berkata: Wahai Robbku, segerakanlah datangnya hari Kiamat, hingga aku bisa kembali kepada keluargaku dan hartaku.
Lalu beliau melanjutkan: Adapun seorang hamba yang kafir, apabila dia akan meninggalkan dunia dan menuju Akhirat (mendekati ajalnya), Malaikat yang hitam wajahnya turun kepadanya dengan membawa kain yang kasar. Lalu mereka duduk darinya sejauh mata memandang. Kemudian datanglah Malaikat maut, hingga dia duduk di sisi kepalanya. Dia pun berkata: Wahai jiwa yang buruk, keluarlah menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya!
Lebih lanjut beliau bersabda: maka (ruhnya) tercerai berai di dalam jasadnya. Lalu dia (Malaikat maut) menariknya dengan kuat sebagaimana ditariknya besi pemanggang dari kain wol yang basah. Lalu dia mengambilnya. Dan tatkala dia (Malaikat maut) telah mengambilnya, mereka (para Malaikat yang hitam wajahnya) tidak membiarkan ruh itu ada d itangannya meskipun sekejap mata, sehingga langsung ditempatkan di kain yang kasar itu. Dan keluarlah bau busuk seperti bau yang paling busuk yang ada di muka bumi. Lalu mereka membawanya naik ke langit. Dan tidaklah mereka melewati sekumpulan Malaikat, melainkan mereka bertanya : Siapa ruh yang busuk ini? Maka mereka (Malaikat yang membawanya) menjawab: Ruh Fulan bin Fulan yakni dengan menyebutkan namanya yang paling jelek yang dahulu dia dinamakan dengannya di dunia. Akhirnya mereka pun sampai di langit dunia. Lalu mereka meminta untuk dibukakan baginya pintu, namun tidak dibukakan untuknya.
Kemudian Rasulullah shallahu’alaihi wasallam membaca firman Allah ta’ala (yang artinya) : Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk Surga, hingga ada unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan (Al A’rof : 40). Lalu Allah ta’ala berfirman: Tulislah kitabnya (catatan amalannya) di sijjin di bumi yang paling bawah. Maka ruhnya pun dilempar dengan keras, kemudian beliau membaca ayat (yang artinya) : Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka dia seperti jatuh dari langit lalu disambar burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh (Al Hajj: 31).
Lalu ruhnya kembali ke jasadnya. Dan datanglah dua Malaikat mendudukannya. Mereka berdua mengatakan padanya: Siapa Rabbmu? Dia menjawab: hah hah hah….. aku tidak tahu. Mereka bertanya lagi : Apa agamamu? Hah hah hah….. aku tidak tahu, jawabnya. Mereka kembali bertanya padanya : Siapa orang ini yang diutus kepada kalian? Dia mengatakan: hah hah hah….. aku tidak tahu. Lalu datang seruan dari langit : Telah dusta dia, bentangkanlah baginya hamparan dari Neraka, dan bukakanlah baginya pintu menuju Neraka. Maka panas dan racunnya mendatanginya. Dan disempitkan baginya kuburannya sehingga tulang-tulangnya saling berhimpitan.
Datanglah kepadanya seseorang yang buruk wajahnya dan bajunya, serta busuk baunya. Dia mengatakan : Rasakanlah penderitaan yang akan menyusahkanmu, ini adalah hari yang dulu engkau dijanjikannya. Maka dia (ruh) bertanya: Siapa kamu? Wajahmu seperti wajah orang yang datang dengan keburukan. Dia menjawab: Aku adalah amalanmu yang buruk. Lalu dia (ruh) mengatakan : Wahai Robbku, jangan Engkau tegakkan hari Kiamat. (HR. Ahmad no. 18557 dari Al Barro’ Bin ‘Azib)
Pada Hadits di atas “Maka mengalirlah (keluar) jiwanya seperti mengalirnya air dari cerek” menunjukkan sakaratul maut yang dialami seorang muslim itu mudah. Tetapi sesungguhnya ia masih tetap merasakan sakit. Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda,

لا إله إلا اللهُ ، إنَّ للموتِ سَكَراتٍ (رواه البخارى عن عائشة)

“Laa ilaaha illa Allah, sungguh pada kematian ada kepedihan-kepedihan” (HR. Bukhari dari Aisyah)
Jadi, muslim masih merasakan sakitanya sakaratul maut. Tetapi kadar kepedihannya berbeda-beda antara muslim yang satu dari muslim yang lainnya. Nabi shallahu’alaihi wasallam sendiri masih merasakan sakitnya sakaratul maut sebagaimana dituturkan oleh Aisyah radhialahu’anha,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَا أَغْبِطُ أَحَدًا بِهَوْنِ مَوْتٍ بَعْدَ الَّذِي رَأَيْتُ مِنْ شِدَّةِ مَوْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (رواه الترمذى)

“Aku tidak iri terhadap seseorang karena mudahnya kematiannya setelah melihat sulitnya kematian Rasulullah shallahu’alaihi wasallam.” (HR. At-Tirmidzi)

Semoga Allah ta’ala memudahkan kita semua saat sakaratul maut nanti. Amin

Judul buku : Oh..Kematian?!

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Oh..Kematian?! (Umur Manusia Bag. 2) https://nidaulfithrah.com/oh-kematian-umur-manusia-bag-2/ Thu, 21 Nov 2024 04:11:20 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19330 B. Umur Manusia
Berbicara tentang kematian sangat erat kaitannya dengan pembahasan umur. Bukankah kematian itu terjadi tidak lain karena habisnya jatah umur? Disebutkan dalam Hadits Abu Hurairah rata-rata umur ummat Nabi shallahu’alaihi wasallam itu 60-70 tahun.

أعمارُ أمتي ما بين الستينَ إلى السبعينَ وأقلُّهم مَنْ يَجُوزُ ذلك (رواه الترمذى و ابن ماجه)

Umur-umur ummatku antara 60-70 tahun, sedikit dari mereka yang melampuinya(HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Jika untuk tidur per hari 6 jam dari 24 jam berarti untuk tidur saja sudah memakan waktu seperempat umur. Jika umur seseorang 60 tahun maka ¼ x60 = 15 tahun.
15 tahun tidaklah sebentar. Dan ternyata ia hanya digunakan untuk tidur. Sisanya tinggal 45 tahun bukan? Akankah dibiarkan berlalu tanpa menghasilkan bekal untuk Akherat nanti? Itu belum dikurangi masa kanak-kanak (belum baligh) dan durasi untuk urusan-urusan duniawi. Sungguh sangat rugi jika tidak dimaksimalkan untuk amalan-amalan sholih.
60-70 tahun keberadaan kita di dunia, nanti akan dikesankan di Akherat sangat sebentar sekali, Hal ini sebagaimana telah diinformasikan oleh Allah ta’ala,

كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوٓا۟ إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَىٰهَا (النازعات:46)

Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari (QS. An-Nazi’at:46)

يَوْمَ يُنفَخُ فِى ٱلصُّورِ ۚ وَنَحْشُرُ ٱلْمُجْرِمِينَ يَوْمَئِذٍ زُرْقًا () يَتَخَٰفَتُونَ بَيْنَهُمْ إِن لَّبِثْتُمْ إِلَّا عَشْرًا () نَّحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُولُونَ إِذْ يَقُولُ أَمْثَلُهُمْ طَرِيقَةً إِن لَّبِثْتُمْ إِلَّا يَوْمًا (طه:102-104)

(yaitu) di hari (yang di waktu itu) ditiup sangkakala dan Kami akan mengumpulkan pada hari itu orang-orang yang berdosa dengan muka yang biru muram. Mereka berbisik-bisik di antara mereka: “Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sepuluh (hari)”. Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka: “Kamu tidak berdiam (di dunia), melainkan hanyalah sehari saja. (QS. Thoha: 102-104)

وَيَوْمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ يُقْسِمُ ٱلْمُجْرِمُونَ مَا لَبِثُوا۟ غَيْرَ سَاعَةٍ ۚ كَذَٰلِكَ كَانُوا۟ يُؤْفَكُونَ (الروم:55)

Dan pada hari terjadinya Kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa; “mereka tidak bertempat tinggal melainkan sesaat (saja)”. Seperti demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran) (QS. Ar-Rum:55)

قَٰلَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِى ٱلْأَرْضِ عَدَدَ سِنِينَ () قَالُوا۟ لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَسْـَٔلِ ٱلْعَآدِّينَ (المؤمن :112-113)

Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung” (QS. Al-Mukmin: 112-113)

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ كَأَن لَّمْ يَلْبَثُوٓا۟ إِلَّا سَاعَةً مِّنَ ٱلنَّهَارِ يَتَعَارَفُونَ بَيْنَهُمْ ۚ قَدْ خَسِرَ ٱلَّذِينَ كَذَّبُوا۟ بِلِقَآءِ ٱللَّهِ وَمَا كَانُوا۟ مُهْتَدِينَ (يونس:45)

Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk (QS. Yunus:45)
Ayat-ayat di atas manusia merasa bertempat tinggal di dunia hanya dalam durasi sekedar sesaat, sepanjang waktu sore atau pagi hari, setengah hari, atau sehari. Ini tidak berarti antara satu ayat dengan yang lainnya kontradiktif. Tetapi maknanya, durasi yang zhahirnya berbeda-beda itu bergantung kepada perbedaan ihwal mereka di dunia yang berdampak pada perbedaan tingkat kengerian di Akherat. Intinya, mereka merasakan keberadaannya di dunia sangatlah sebentar sekali.
Yang demikian itu disebabkan manusia telah menghabiskan umurnya untuk kepentingan duniawi. Mereka lalai dari mempersiapkan bekal untuk kehidupan Akherat sebagai kehidupan hakiki yang tidak pernah ada kematian lagi. Bahkan mereka mengejar dan terus disibukkan dengan urusan duniawi yang fana yang hanya berumur sekitar 60-70 tahun. Mereka sangat menyesali apa yang telah diperbuatnya. Jatah umur yang diberikan oleh Allah ta’ala tidak dimanfaatkan dengan baik. Jadi, seakan-akan mereka tidak mendapatkan jatah umur kecuali sangat sedikit sekali. Ini sebagaimana telah dijelaskan oleh Imam Abu Muslim.

Betapa rugi orang yang tidak memanfaatkan umurnya untuk mempersiapkan diri bagi kehidupannya yang hakiki di Akherat nanti.

Untuk itu Nabi shallahu’alaihi wasallam mengingatkan Abdullah Ibnu Umar. Dia radhiallahu’anhu menuturkan,

أخذ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم بمنكِبي ، فقال : كُنْ في الدُّنيا كأنَّك غريبٌ أو كعابرِ سبيلٍ

Rasulullah shallahu’alaihi wasallam memegang pundakku dan bersabda: “Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang menyeberang jalan.
Setelah itu Ibnu Umar radhiallahu’anhu pun berbagi kebaikan dengan mengingatkan kita semua,

.إذا أصبحتَ فلا تنتظِرِ المساءَ ، وإذا أمسيْتَ فلا تنتظِرِ الصَّباحَ ، وخُذْ من صِحَّتِك لمرضِك ، وفي حياتِك لموتِك (رواه البخارى)

Jika kamu berada di pagi hari janganlah menunggu sore. Dan jika kamu di sore hari janganlah menunggu pagi. Manfaatkan masa sehatmu sebelum masa sakitmu, hidupmu sebelum matimu.
Jangan sampai sesorang berumur 60 tahun tetapi belum juga memperbaiki diri. Belum melakukan peningkatan kwalitas ubudiyyah. Padahal ia berada di penghujung jatah usianya. Disebutkan di dalam Hadits,

أَعْذَرَ اللَّهُ إلى امْرِئٍ أخَّرَ أجَلَهُ، حتَّى بَلَّغَهُ سِتِّينَ سَنَةً (رواه البخارى عن أبو هريرة )

“Allah telah memberi udzur kepada seseorang dengan menangguhkan ajalnya hingga umur enam puluh tahun.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah)
Maksud Hadits ini, udzur orang tersebut sudah usai. Artinya dia telah diberi kesempatan panjang hingga 60 tahun yang seharusnya digunakan sebaik-baiknya untuk mempersiapkan bekal Akherat. Dia harus sadar ketika telah berusia 60 tahun ini, janganlah menyia-nyiakan kesempatan. Jadikanlah kesempatan yang tersisa ini sebagai “ghonimah” demi kematian yang husnul khatimah.
Jika seseorang sejak sedini mungkin bisa tumbuh dengan ketaatan-ketaatan maka keutamaannya sangatlah besar. Bagaimana tidak, di usia ABG yang notabene kejiwaan labil, emosi tak terkendali, idealisme tinggi, dan pada dirinya banyak sejuta keinginan tetapi dia bisa menundukkan semuanya itu demi bisa banyak taqorrub kepada Allah ta’ala, maka tentu ini perkara yang luar biasa. Jelaslah keutamaan yang akan didapatkan sangat besar. Yaitu, ia akan dimasukkan ke dalam 7 golongan yang pada hari Kiamat nanti mendapat naungan Allah ta’ala di saat tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Disebutkan di dalam Hadits,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ يَومَ القِيَامَةِ في ظِلِّهِ، يَومَ لا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ في عِبَادَةِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ في خَلَاءٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ في المَسْجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا في اللَّهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إلى نَفْسِهَا، قالَ: إنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فأخْفَاهَا حتَّى لا تَعْلَمَ شِمَالُهُ ما صَنَعَتْ يَمِينُهُ (رواه البخارى عن ابى هريرة)

“Tujuh golongan yang dinaungi Allâh ta’ala dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, (3) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya, (4) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (5) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, (6) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan (7) seseorang yang bershadaqah dengan suatu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah)
Adapun umur 40 tahun, menurut ilmu psikologi adalah umur kedewasaan dan kematangan seseorang dalam berpikir, berbicara, bertindak dan bersikap. Sebagaimana fisik atau tubuh akan mencapai puncak primanya pada umur 30 tahun. Ibnu Katsir mengatakan bahwa seseorang tidak berubah lagi dari kebiasaan yang dilakukannya bila mencapai umur 40 tahun.
Jadi, kalau seseorang pada umur 40 tahun ini telah membiasakan dengan hal-hal baik maka ia akan terus meng-istiqomah-i-nya. Shalat Tahajjud, puasa sunnah, shodaqoh, membaca Al-Qur’an, shalat jama’ah, dan kebaikan apapun yang telah dibiasakannya akan terus menguat pada dirinya. Dan, ia telah menjadi orang yang lebih bijak dan lebih berhati-hati dalam bertindak dan memutuskan. Tentang umur 40 tahun, Allah ta’ala berfirman,

حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَٰلِحًا تَرْضَىٰهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِىٓ ۖ إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ (الأحقاف:19)

“Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (QS. Al-Ahqof:19)
Untuk itu Nabi shallahu’alaihi wasallam dan secara umum para Nabi lainnya diangkat sebagai utusan Allah setelah umur 40 tahun. Syaikh Utsaimin rahimahullah di dalam kitabnya “Ushul fi-t-Tafsir” mengatakan: Muhammad shallahu’alaihi wasallam ketika diangkat menjadi Rasul berumur 40 tahun. Demikian yang masyhur di kalangan para ahli ilmu. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhu, ‘Atho, Sa’id bin al-Musayyab dan yang lainnya bahwa umur 40 tahun adalah umur kedewasaan dan kematangan seseorang dalam berpikir dan bersikap.

Jika Anda yang telah berusia 40 tahun sudah melekat dengan karekter yang disebutkan di atas maka pujilah Allah ta’ala, jika belum maka segeralah berbenah diri.

Kalau kita bisa mengamalkan nasehat Abdullah Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu ini niscaya kita termasuk al-kayyis (orang berakal sempurna) yaitu orang yang mengkondisikan diri untuk senantiasa menyiapkan bekal yang akan dibawa dalam perjumpaan menghadap Allah nanti, sebagaimana sabda Nabi shallahu’alaihi wasallam,

عن ابي يعلى شداد ابن اوس رضي الله عنه قال قال رسول الله ص م الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ ، وَعَمِلَ لِمَا بعدَ المَوتِ ، والعَاجِزُ مَنْ أتْبَعَ نَفْسَهُ هَواهَا وَتَمنَّى عَلَى اللهِ الاَمَانِيَّ (رواه الترميذي)

Dari Abu Ya’ala Syidad bin Aus radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Orang yang sempurna akalnya ialah yang menundukkan hawanya dan senantiasa beramal sebagai bekal setelah mati. Dan orang yang rendah adalah yang selalu menurutkan hawa nafsunya. Disamping itu, ia mengharapkan berbagai angan-angan kepada Allah.” (HR Tirmidzi).
Ada kisah yang luar biasa tentang seorang Shahabat yang bernama ‘Umair bin Al Hammam Al Anshari. Dia tidak mau menyia-nyiakan umurnya demi segera meraih Surga. Dia tidak mau tertunda meraih Surga. Dia berfikir kalau harus menunggu kurma hingga habis dimakan maka akan memperlambat peraihan Surga. Akhirnya kurmanya pun dilempar. Sebagaimana disebutkan di dalam Hadits,

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُقَدِّمَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ إِلَى شَيْءٍ حَتَّى أَكُونَ أَنَا دُونَهُ فَدَنَا الْمُشْرِكُونَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُومُوا إِلَى جَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ قَالَ يَقُولُ عُمَيْرُ بْنُ الْحُمَامِ الْأَنْصَارِيُّ يَا رَسُولَ اللَّهِ جَنَّةٌ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ قَالَ نَعَمْ قَالَ بَخٍ بَخٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَحْمِلُكَ عَلَى قَوْلِكَ بَخٍ بَخٍ قَالَ لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِلَّا رَجَاءَةَ أَنْ أَكُونَ مِنْ أَهْلِهَا قَالَ فَإِنَّكَ مِنْ أَهْلِهَا فَأَخْرَجَ تَمَرَاتٍ مِنْ قَرَنِهِ فَجَعَلَ يَأْكُلُ مِنْهُنَّ ثُمَّ قَالَ لَئِنْ أَنَا حَيِيتُ حَتَّى آكُلَ تَمَرَاتِي هَذِهِ إِنَّهَا لَحَيَاةٌ طَوِيلَةٌ قَالَ فَرَمَى بِمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ التَّمْرِ ثُمَّ قَاتَلَهُمْ حَتَّى قُتِلَ (رواه مسلم عن أنس بن مالك)

…..Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Majulah kalian ke Surga, yang luasnya seluas langit dan bumi.” Anas berkata, “Tiba-tiba ‘Umair bin Al Hammam Al Anshari berkata, “Ya Rasulullah, Surga luasnya seluas langit dan bumi!” Beliau menjawab: “Ya.” ‘Umair berkata, “Wah, wah..!” Maka Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Mengapa kamu mengatakan wah…wah..?” Umair menjawab, “Tidak, demi Allah wahai Rasulullah, saya mengharap semoga saya menjadi penghuninya.” Beliau bersabda: “Ya, sesungguhnya kamu termasuk penghuninya.” Kemudian dia mengeluarkan kurma dari dalam sakunya dan memakannya sebagian. Sesudah itu dia berkata, “Sungguh kehidupan yang lama bagiku kalau aku menghabiskan kurmaku ini.” Anas berkata, “Maka kurma yang masih tersisa di tangannya ia lemparkan begitu saja kemudian dia bertempur hingga gugur.” (HR. Muslim dari Anas bin Malik)

Judul buku : Oh..Kematian?!

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>