#Tarbiyah – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Tue, 05 Apr 2022 07:34:02 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png #Tarbiyah – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 Tarbiyah – 11 Kiat Mendidik Anak #part11 (Mendidik Dengan Teladan) https://nidaulfithrah.com/tarbiyah-11-kiat-mendidik-anak-part11-mendidik-dengan-teladan/ https://nidaulfithrah.com/tarbiyah-11-kiat-mendidik-anak-part11-mendidik-dengan-teladan/#respond Thu, 30 Dec 2021 03:38:29 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=13227

Merupakan perkara yang sangat penting bahwa nilai-nilai keutamaan yang seorang anak dituntut untuk melaksanakannya, telah diaplikasikan oleh tokoh-tokoh yang ia anggap sebagai teladan bagi dirinya. Teladan yang paling dekat tidak lain adalah ayah dan ibunya. Ketika orangtua menginginkan anaknya berkarakter jujur, maka sifat ini harus sudah melekat pada keduaorangtuanya, sehingga dengan mudah anak mencontohnya. Demikian pula sifat-sifat keutamaan lainnya, semuanya harus sudah ada pada orangtunya, sehingga si anak dengan mudah bisa mentransfernya.

Sering sekali yang terjadi tidak demikian, sang ayah ingin anaknya rajian shalat berjamaah di masjid sementara dia sendiri tidak mencontohkan. Dia اhanya memaksa-maksa anaknya ketika  terdengar adzan sementara dia sendiri duduk-duduk santai. Seorang ibu menginginkan putra-putranya berperangai lemah lembut, sabar dan pemaaf sementara dia sendiri sering mempertontonkan di hadapan mereka “pertunjukan gratis”, membantah suaminya dengan meninggikan suara, melempar-lempar benda yang di dekatnya ketika emosi, dan berperilaku kasar. Sungguh bagai pungguk merindukan bulan.

Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semua manusia menjadikan beliau sebagai teladan. Maka, sebagai apapun posisi seseorang, baik sebagai suami, guru, pedagang, kepala pemerintah, tetangga,  pendidik, pegawai, pebisnis dan lain-lain pasti mendapati semua keteladanan ada pada diri beliau. Allah berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ (الأحزاب:21)

“Sungguh pada diri Rasulullah terdapat suri teladan yang baik bagi kamu sekalian” (QS. Al-Ahzab:21)

 

≈ الحمد لله رب العالمين ≈

]]>
https://nidaulfithrah.com/tarbiyah-11-kiat-mendidik-anak-part11-mendidik-dengan-teladan/feed/ 0
Tarbiyah – 11 Kiat Mendidik Anak #part10 (Bersikap Adil Diantara Anak-Anak) https://nidaulfithrah.com/tarbiyah-11-kiat-mendidik-anak-part10-bersikap-adil-diantara-anak-anak/ https://nidaulfithrah.com/tarbiyah-11-kiat-mendidik-anak-part10-bersikap-adil-diantara-anak-anak/#respond Thu, 30 Dec 2021 03:10:52 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=13222

Anak-anak memiliki sensitivitas kuat terhadap sikap membeda-bedakan yang dilakukan oleh ayah ibunya. Tidak sedikit kasus-kasus kerenggangan di antara sesama saudara disebabkan hal ini.

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ تَصَدَّقَ عَلَىَّ أَبِى بِبَعْضِ مَالِهِ فَقَالَتْ أُمِّى عَمْرَةُ بِنْتُ رَوَاحَةَ لاَ أَرْضَى حَتَّى تُشْهِدَ رَسُولَ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم-. فَانْطَلَقَ أَبِى إِلَى النَّبِىِّ –صلى الله عليه وسلم- لِيُشْهِدَهُ عَلَى صَدَقَتِى فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- « أَفَعَلْتَ هَذَا بِوَلَدِكَ كُلِّهِمْ ». قَالَ لاَ. قَالَ « اتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا فِى أَوْلاَدِكُمْ ». فَرَجَعَ أَبِى فَرَدَّ تِلْكَ الصَّدَقَةَ (رواه مسلم)

“Dari Nu’man bin Basyir, dia mengatakan: Ayahku bersedekah kepadaku sebagian hartanya. Ibuku, Amrah binti Rawahah berkata: Saya tidak rela sehingga kamu mempersaksikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ayahku pun berangkat menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  untuk mempersaksikan kepada beliau atas shadaqoh yang diberikan kepadaku. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bertanya kepadanya: Apakah kamu berbuat seperti ini kepada seluruh anak-anakmu? Dia menjawab: Tidak. Beliau bersabda: Bertakwalah kepada Allah dan berbuat adil lah terhadap anak-anak kalian. Ayahku pun pulang dan mengembalikan shadaqahnya.”  (HR. Muslim)

Dalam masalah cinta dan kasih sayang, bisa saja ayah atau ibu tidak bisa berlaku adil karena menyangkut masalah hati. Kecenderungan hati kepada sebagian anak tertentu bisa saja berbeda kepada sebagian yang lainnya. Tetapi, jangan sampai berdampak pada sikap dan perlakuan terhadap anak-anaknya. Sehingga mereka tetap merasa mendapatkan kasih sayang yang sama, tanpa dibeda – bedakan.

Bersambung…

]]>
https://nidaulfithrah.com/tarbiyah-11-kiat-mendidik-anak-part10-bersikap-adil-diantara-anak-anak/feed/ 0
Tarbiyah – 11 Kiat Mendidik Anak #part9 (Membuat Mereka Merasakan Cinta Dan Kelembutan) https://nidaulfithrah.com/tarbiyah-11-kiat-mendidik-anak-part9-membuat-mereka-merasakan-cinta-dan-kelembutan/ https://nidaulfithrah.com/tarbiyah-11-kiat-mendidik-anak-part9-membuat-mereka-merasakan-cinta-dan-kelembutan/#respond Fri, 03 Dec 2021 08:15:58 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=12907

Merasakan cinta dan kasih sayang bagi anak-anak adalah termasuk kebutuhan utama, sehingga ketiadaannya bisa menyebabkan gangguan mental anak. Mari menyimak sikap-sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَدِيٌّ قَالَ سَمِعْتُ الْبَرَاءَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ عَلَى عَاتِقِهِ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُ فَأَحِبَّهُ (رواه البخارى)

“Adi mengatakan: “Saya mendengar al-Barra radhiyallahu ‘anhu berkata: Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhu berada di atas pundaknya, beliau berdoa: Ya Allah sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah ia” (HR. Bukhari)

Aqro’ bin Habis radhiyallahu ‘anhu keheranan ketika melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciumi Hasan dan Husain.

عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ :جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ تُقَبِّلُونَ الصِّبْيَانَ فَمَا نُقَبِّلُهُمْ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَأَمْلِكُ لَكَ أَنْ نَزَعَ اللَّهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ (رواه البخارى ومسلم)

“Dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia mengatakan: Seorang Badui datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan: Engkau menciumi anak-anak, sementara kami tidak pernah menciumi mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Jangan-jangan Allah telah mencabut dari hati Anda rasa kasih sayang” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berlemah lembut, mencintai dan menyayangi sesama muslim adalah petunjuk beliau,:

أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ:  جَاءَ شَيْخٌ يُرِيدُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَبْطَأَ الْقَوْمُ عَنْهُ أَنْ يُوَسِّعُوا لَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا (رواه الترمذى)

“Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan: Ada orangtua datang menginginkan (bertemu) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para kaum enggan melapangkan tempat untuknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidak termasuk dari kami orang yang tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati yang besar” (HR. At-Tirmidzi)

Kepuasan dan kasih sayang yang bagaimanakah yang dirasakan oleh Hasan dan Husain ketika Nabi shallallahu `alaihi wa sallam bersabda tentang keduanya:

  هُمَا رَيْحَانَتَايَ مِنْ الدُّنْيَا   (رواه البخارى)

“Keduanya adalah kecintaanku di dunia” (HR. Bukhari)

Lihatlah sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala Hasan bin Ali naik ke punggung beliau ketika sujud.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَدَّادٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي إِحْدَى صَلَاتَيْ الْعِشَاءِ وَهُوَ حَامِلٌ حَسَنًا أَوْ حُسَيْنًا فَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعَهُ ثُمَّ كَبَّرَ لِلصَّلَاةِ فَصَلَّى فَسَجَدَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِهِ سَجْدَةً أَطَالَهَا قَالَ أَبِي فَرَفَعْتُ رَأْسِي وَإِذَا الصَّبِيُّ عَلَى ظَهْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ سَاجِدٌ فَرَجَعْتُ إِلَى سُجُودِي فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ قَالَ النَّاسُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ سَجَدْتَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِكَ سَجْدَةً أَطَلْتَهَا حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ أَوْ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْكَ قَالَ كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ (رواه النسائي)

“ Dari Abdullah bin Syaddad, dari ayahnya, dia mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju kami pada salah satu shalat isya dengan menggendong Hasan atau Husain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maju ke depan (untuk mengimami) dan menaruhnya. Beliau takbir memulai shalat. Beliaupun shalat dan sujud. Pada salah satu sujudnya beliau memanjangkannya. Ayahku berkata: Aku mengangkat kepalaku, ternyata (saya melihat) seorang bocah naik di atas punggung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan beliau sujud. Saya pun kembali sujud lagi. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat, orang-oang pun berkata : Ya Rasulullah, sesungguhnya engkau sujud di dalam shalat engkau dengan sujud yang panjang, kami menduga telah terjadi sesuatu atau sedang turun wahyu kepada engkau. Beliau menjawab: Itu semua tidak ada, tetapi anakkku ini naik dan aku tidak ingin mengejutkannya sehingga dia menyelesaikan hajatnya.” (HR. An-Nasa’i)

Lihatlah canda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

عن أبي هريرة ، قال : كان النبي صلى الله عليه وسلم يدلع لسانه للحسين ، فيرى الصبي حمرة لسانه ، فيهش إليه (رواه ابن حبان)

“Dari Abu Hurairah, dia mengatakan; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjulur-julurkan lidahnya kepada Husain, maka anak tersebut melihat merahnya lidah beliau dan meraihnya”. (HR. Ibnu Hibban)

Bersambung…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

]]>
https://nidaulfithrah.com/tarbiyah-11-kiat-mendidik-anak-part9-membuat-mereka-merasakan-cinta-dan-kelembutan/feed/ 0
Tarbiyah – 11 Kiat Mendidik Anak #part8 (Memberi Balasan Perilaku Baik) https://nidaulfithrah.com/tarbiyah-11-kiat-mendidik-anak-part8-memberi-balasan-perilaku-baik/ https://nidaulfithrah.com/tarbiyah-11-kiat-mendidik-anak-part8-memberi-balasan-perilaku-baik/#respond Thu, 02 Dec 2021 07:38:12 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=12902

Selain bersegera mengarahkan sebagaimana pada poin ke-7, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam juga bersegera memberi balasan atas perilaku yang baik. Inilah keseimbangan. Misalnya,  balasan beliau kepada Ibnu Abas saat masih kecil berupa doa ketika bermalam di rumah beliau,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْخَلَاءَ فَوَضَعْتُ لَهُ وَضُوءًا قَالَ مَنْ وَضَعَ هَذَا فَأُخْبِرَ فَقَالَ اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ (رواه البخاري)

“Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki tempat buang hajat, maka saya menyiapkan air wudhu untuk beliau. Beliau bertanya: Siapa yang menyiapkan ini? Beliaupun dikasih tahu, lalu beliau mendoakan: Ya Allah, pahamkanlah dia dalam masalah agama” (HR. Bukhari)

Dukungan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada perilaku baik Ja’far bin Abi Thalib:

أَشْبَهْتَ خَلْقِي وَخُلُقِي (رواه البخاري)

“Fisik dan akhlakmu mirip denganku(HR. Bukhari)

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat perilaku baik  Muadz bin Jabal yang masih remaja dalam menerapkan sunnah dan sering duduk bersama beliau:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ :أَخَذَ بِيَدِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي لَأُحِبُّكَ يَا مُعَاذُ فَقُلْتُ وَأَنَا أُحِبُّكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ (رواه النسائي)

“Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang tanganku lalu mengatakan: Sungguh aku mencintaimu wahai Mu’adz. Saya merespon: Demikian juga saya mencintaimu wahai Rasulullah” (HR. An-Nasa’i)

Memberi apresiasi atas perilaku baik anak bisa berupa sesuatu yang sifatnya materi dan immateri. Bersifat materi, bisa apa saja yang berkesan bagi anak, seperti piala, rekreasi, perlengkapan sekolah, permainan edukatif, makanan, minuman dan lain-lain. Bersifat immateri, bisa apa saja yang memotivasi anak untuk terus berbuat baik, seperti pujian, doa, dukungan dan lain-lain.

Dari sini, kita bisa mengambil pelajaran bahwa kalau kita mengadakan suatu perlombaan hendaknya semua peserta diberi hadiah jangan hanya juara satu sampai tiga saja, tetapi semuanya. Mereka yang kalah juga telah berusaha tampil sebaik mungkin. Maka, berilah apresiasi sehingga merasa dihargai yang dampak berikutnya mereka akan tetap termovitasi dengan prestasi dan kebaikan-kebaikan. Hadiah antara yang juara dan tidak juara tentu harus dibedakan. Karena kalau tidak dibedakan, maka yang juara tidak merasa tersanjung dengan kemenangannya.

Bersambung…

]]>
https://nidaulfithrah.com/tarbiyah-11-kiat-mendidik-anak-part8-memberi-balasan-perilaku-baik/feed/ 0
Tarbiyah – 11 Kiat Mendidik Anak #part7 (Mengarahkan Kepada Perilku Terpuji) https://nidaulfithrah.com/tarbiyah-11-kiat-mendidik-anak-part-mengarahkan-kepada-perilku-terpuji/ https://nidaulfithrah.com/tarbiyah-11-kiat-mendidik-anak-part-mengarahkan-kepada-perilku-terpuji/#respond Thu, 02 Dec 2021 06:55:17 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=12893

Anak membutuhkan pengarahan karena pengalaman hidupnya masih minim. Maka pendidikan Nabi shallallahu `alaihi wa sallam didasarkan pada bersegera di dalam mengarahkan kepada etika dan perilaku yang baik. Di antaranya adalah sabda beliau kepada Hasan bin Ali ketika dia masih kanak-kanak:

عَنْ أَبِي الْحَوْرَاءِ السَّعْدِيِّ قَالَ قُلْتُ لِلْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ مَا حَفِظْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ (رواه الترمذى)

“Dari Abu al-Haura as-Sa’di, dia mengatakan: Saya berkata kepada Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhu: Apakah Anda hapal (sesuatu) dari Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam? Dia mengatakan: Saya menghapal (sesuatu) dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yaitu: Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya jujur itu ketenangan dan dusta itu keraguan” (HR. At-Tirmidzi)

Hasan sangat menghapal sabda Nabi shallallahu `alaihi wa sallam tersebut, karena hal itu begitu tertanam kuat di dalam hatinya. Lihat juga arahan beliau kepada Ibnu Umar ketika masih kecil:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ  (رواه البخاري)

“ Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegangi pundakku sambil mengatakan: Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang menyeberang jalan. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: Jika Anda di sore hari janganlah menunggu pagi, jika Anda di pagi hari janganlah menunggu sore. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum masa sakitmu, dan hidupmu sebelum matimu” (HR. Bukhari)

Teguran beliau kepada Umar bin Abi Salamah:

عُمَرَ بْنَ أَبِي سَلَمَةَ يَقُولُ: كُنْتُ غُلَامًا فِي حَجْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَتْ يَدِي تَطِيشُ فِي الصَّحْفَةِ فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِي بَعْدُ (رواه البخارى ومسلم)

“Umar bin Abu Salamah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ketika saya kecil di dalam asuhan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tangan saya kesana kemari pada nampan (untuk mengambil makanan). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegurku: Ya Ghulam (anak kecil), makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah apa yang dekat darimu. ( Dia berkata;) Demikianlah cara makanku setelah kejadian itu” (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikianlah beberapa contoh pendidikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Betapa beliau bersegera meluruskan kekeliruan yang terjadi pada anak didiknya. Sementara para orang tua zaman sekarang, sungguh sangat disayangkan, banyak di antara mereka yang tidak memperhatikan masalah ini. Mereka tidak mengarahkan ketika melihat, misalnya: anaknya bersikap suka memusuhi kawan-kawannya yang tidak seide atau sependapat, bersikap kejam kepada kawannya, ketika sedang makan kue tidak menawari kawan-kawannya, berkata jorok, atau mementingkan diri sendiri dan lain-lain.

Bersambung…

]]>
https://nidaulfithrah.com/tarbiyah-11-kiat-mendidik-anak-part-mengarahkan-kepada-perilku-terpuji/feed/ 0
Tarbiyah – 11 Kiat Mendidik Anak #part6 (Menumbuhkan Kepercayaan Diri Pada Anak) https://nidaulfithrah.com/tarbiyah-11-kiat-mendidik-anak-part6-menumbuhkan-kepercayaan-diri-pada-anak/ https://nidaulfithrah.com/tarbiyah-11-kiat-mendidik-anak-part6-menumbuhkan-kepercayaan-diri-pada-anak/#respond Thu, 02 Dec 2021 03:05:43 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=12886

Bagaimana anak akan tumbuh kepercayaan dirinya, bila orang tuanya membuatnya tidak merasa dibutuhkan dan terhormat. Misalnya kasus yang sering terjadi di pedesaan, ketika ada tamu lalu anak-anak berlarian ke ruang tamu maka dengan segera orang tuanya mengusirnya. Ungkapan yang biasa terucapkan adalah  “sana-sana jangan di sini…gak sopan, ada tamu kok ribut”.  Anak-anak pun segera beranjak pergi karena takut.

Tidak jarang dijumpai anak-anak yang ke masjid diusir-usir oleh sebagian jama’ah. Seringkali terdengar teriakan dengan suara tinggi mengusir anak-anak, “ Pulang-pulang…kalau mau shalat jangan ribut”. “Bisa diam nggak…..pulang-pulang nggak usah ke masjid”.  

Lihatlah sikap Nabi shallallahu `alaihi wa sallam terhadap anak kecil dalam Hadits berikut ini,

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَدَحٍ فَشَرِبَ مِنْهُ وَعَنْ يَمِينِهِ غُلَامٌ أَصْغَرُ الْقَوْمِ وَالْأَشْيَاخُ عَنْ يَسَارِهِ فَقَالَ يَا غُلَامُ أَتَأْذَنُ لِي أَنْ أُعْطِيَهُ الْأَشْيَاخَ قَالَ مَا كُنْتُ لِأُوثِرَ بِفَضْلِي مِنْكَ أَحَدًا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ (رواه البخاري)

“Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi bejana (berisi minuman), beliau meminumnya. Di sebelah kanan beliau anak kecil, sementara para orang tua di sebelah kiri beliau. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: Ya Ghulam (anak kecil), apakah kamu mengizinkan jika aku memberinya (minuman) kepada para orang tua (terlebih dahulu)? Dia mengatakan: Saya tidak akan mendahulukan bagianku untuk siapapun selain engkau ya Rasulullah. Beliaupun memberikannya kepadanya” (HR. Bukhari)

Dalam Hadits ini, ada beberapa poin yang bisa kita ambil, yaitu:

  • Anak kecil duduk tepat di sebelah kanan beliau, padahal beliau adalah orang yang paling utama, juga di sekitar beliau terdapat orang-orang tua
  • Kepercayaan diri apa yang tumbuh ketika Nabi shallallahu `alaihi wa sallam meminta izin kepadanya, dan bukan dalam masalah yang mendasar.
  • Kepercayaan diri anak-anak pada zaman Nabi shallallahu `alaihi wa sallam sampai pada tingkatan menolak dengan tegas permintaan dari Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dengan disertai kemampuan memberi alasan yang bisa diterima.
  • “Nabi shallallahu `alaihi wa sallam menyerahkan mangkuk itu kepadanya” menunjukkan Nabi shallallahu `alaihi wa sallam menerima alasannya dan menghormatinya.


Coba lihatlah pertumbuhan anak-anak pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, betapa mereka tumbuh dengan kepercayaan diri yang kuat. Hal ini tidak lain adalah karena sentuhan pendidikan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Misalnya,  Muadz bin Jabal dalam usianya yang masih remaja telah mengimami shalat bagi kaumnya.Usamah bin Zaid tampil memimpin pasukan yang di dalamnya terdapat tokoh-tokoh senior dan  Ali bin Abi Thalib memantapkan diri tidur di tempat Nabi shallallahu `alaihi wa sallam saat beliau hijarah, padahal taruhannya adalah nyawa.

Bersambung…

]]>
https://nidaulfithrah.com/tarbiyah-11-kiat-mendidik-anak-part6-menumbuhkan-kepercayaan-diri-pada-anak/feed/ 0
Tarbiyah – 11 Kiat Mendidik Anak #part5 (Evaluasi Yang Proporsioanal) https://nidaulfithrah.com/tarbiyah-11-kiat-mendidik-anak-part5-evaluasi-yang-proporsioanal/ https://nidaulfithrah.com/tarbiyah-11-kiat-mendidik-anak-part5-evaluasi-yang-proporsioanal/#respond Wed, 01 Dec 2021 07:36:42 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=12876

Evaluasi haruslah  dilakukan bervariasi sesuai dengan kondisi kesalahan dan pelakunya. Janganlah seluruh kesalahan disikapi dengan sikap yang sama. Demikianlah yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada beberapa contoh yang bisa disebutkan di sini.Sikap beliau kepada Mu’adz, beliau tidak mendiamkan kesalahannya dan tidak memarahinya melebihi kesalahan yang dilakukannya.

فَصَلَّى مُعَاذٌ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ جَاءَ قَوْمَهُ فَقَرَأَ الْبَقَرَةَ فَاعْتَزَلَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ فَصَلَّى فَقِيلَ نَافَقْتَ يَا فُلَانُ قَالَ مَا نَافَقْتُ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ مُعَاذًا يُصَلِّي مَعَكَ ثُمَّ يَرْجِعُ فَيَؤُمُّنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا نَحْنُ أَصْحَابُ نَوَاضِحَ وَنَعْمَلُ بِأَيْدِينَا وَإِنَّهُ جَاءَ يَؤُمُّنَا فَقَرَأَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَقَالَ يَا مُعَاذُ أَفَتَّانٌ أَنْتَ أَفَتَّانٌ أَنْتَ اقْرَأْ بِكَذَا وَكَذَا (رواه أحمد والبخاري ومسلم)

 

“….shalatlah Mu’adz radhiyallahu ‘anhu bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian datang kepada kaumnya (mengimami shalat) dengan membaca surat al-Baqarah. Ada seseorang dari suatu kaum yang memisahkan diri (dari jama’ah) lalu shalat. Dikatakan kepadanya: ‘Anda seorang munafiq ya fulan’, dia menjawab: ‘Saya bukan orang munafik’. Dia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan : ‘Sesungguhnya Mu’adz shalat bersama engkau kemudian pulang dan mengimami kami, ya Rasulullah sesungguhnya kami para pekerja berat dan bekerja dengan tangan-tangan kami, sementara dia mengimami kami dengan surat al-Baqarah. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda : Ya Mu’adz, apakah Anda tukang fitnah, apakah Anda tukang fitnah? Semestinya cukup baca ini dan ini (surat-surat pendek)” (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim)

Terkadang beliau cuma mendiamkannya. Sebagaimana dalam riwayat tentang  Aisyah ketika membeli bantal bergambar,

عَنْ عَائِشَةَ  رضى الله عنها  قَالَتْ حَشَوْتُ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وِسَادَةً فِيهَا تَمَاثِيلُ كَأَنَّهَا نُمْرُقَةٌ ، فَجَاءَ فَقَامَ بَيْنَ الْبَابَيْنِ وَجَعَلَ يَتَغَيَّرُ وَجْهُهُ (رواه البخارى)

“Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Aku membeli untuk Nabi shallallahu `alaihi wa sallam bantal bergambar makhluk hidup, ketika beliau datang beliaupun hanya berdiri di antara dua pintu dan wajahnya berubah (marah)”. (HR. Bukhari)

Aisyah dengan mudah bisa memahami bahwa beliau mengoreksi perbuatannya, meskipun beliau hanya diam saja. Akhirnya Aisyah bertanya alasan tentang ketidaksukaan beliau. Beliau pun menjelaskannya:

أَمَا عَلِمْتِ أَنَّ الْمَلاَئِكَةَ لاَ تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ صُورَةٌ ، وَأَنَّ مَنْ صَنَعَ الصُّورَةَ يُعَذَّبُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ  (رواه البخارى)

“Tidakkah Anda tahu bahwa Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat gambar. Dan sesungguhnya orang yang membuat gambar ini akan diadzab pada hari Kiamat. Dia (Allah) berkata: Hidupkanlah apa yang kamu ciptakan” (HR. Bukhari)

Berbeda lagi, evaluasi beliau kepada Usamah bin Zaid.   Sebagaimana disebutkan di dalam Hadits:

عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِأَنَّ امْرَأَةً سَرَقَتْ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةِ الْفَتْحِ فَفَزِعَ قَوْمُهَا إِلَى أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ يَسْتَشْفِعُونَهُ قَالَ عُرْوَةُ فَلَمَّا كَلَّمَهُ أُسَامَةُ فِيهَا تَلَوَّنَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَتُكَلِّمُنِي فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ قَالَ أُسَامَةُ اسْتَغْفِرْ لِي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَلَمَّا كَانَ الْعَشِيُّ قَامَ رَسُولُ اللَّهِ خَطِيبًا فَأَثْنَى عَلَى اللَّهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ النَّاسَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا ثُمَّ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِتِلْكَ الْمَرْأَةِ فَقُطِعَتْ يَدُهَا فَحَسُنَتْ تَوْبَتُهَا بَعْدَ ذَلِكَ وَتَزَوَّجَتْ قَالَتْ عَائِشَةُ فَكَانَتْ تَأْتِي بَعْدَ ذَلِكَ فَأَرْفَعُ حَاجَتَهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (رواه البخارى)

“Dari Az-Zuhri, dia mengatakan, Urwah bin Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu memberitahukan saya bahwa ada seorang wanita mencuri pada zaman Nabi shallallahu `alaihi wa sallam di saat fathu Makkah, maka kaumnya meminta tolong kepada Usamah bin Zaid. Mereka menjadikannya sebagai wasilah (kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam). Tatkala Usamah menyampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (meminta dispensasi), beliau marah. Beliau bersabda: Apakah kalian meminta keringanan hukum kepadaku dari hukum-hukum Allah? Usamah berkata: Mohonkanlah ampun untukku ya Rasulullah. Di sore harinya beliau berdiri khutbah. Beliau memuji Allah ‘Azza wa Jalla, Dia lah yang berhak untuk dipuji. Beliau bersabda: Amma ba’du, sesungguhnya yang menyebabkan manusia sebelum kalian binasa adalah bahwa jika orang bangsawan mencuri, mereka membiarkannya. Tetapi, jika yang mencuri orang lemah mereka menegakkan hukuman baginya. Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di TanganNya, sungguh seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri niscaya aku potong tangannya. Maka dipotonglah tangannnya (wanita Makhzumiyah tersebut). Setelah itu baiklah taubatnya. Kemudian dia menikah. Aisyah berkata: Suatu ketika-setelah kejadian itu- dia datang, dan saya menyampaikan hajatnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” (HR. Bukhari)

Jelaslah di dalam Hadits ini sikap beliau berbeda sebagaimana sikapnya kepada Aisyah yang hanya mendiamkannya atau kepada Mu’adz bin Jabal yang menegurnya sesuai dengan kesalahannya. Namun, di dalam Hadits ini beliau tidak sekedar memarahi Usamah bin Zaid tetapi melebarkan kemarahannya kepada para Sahabat yang lainnya. Beliau mengadakan khutbah ‘aridhah (insidentil) untuk mengingatkan para Sahabat agar jangan pernah ada lagi perbuatan sebagaimana yang dilakukan Usamah bin Zaid.

Jadi, intinya adalah memberikan evaluasi itu haruslah proporsional sesuai dengan kadar kesalahan yang diperbuat. 

Bersambung…

]]>
https://nidaulfithrah.com/tarbiyah-11-kiat-mendidik-anak-part5-evaluasi-yang-proporsioanal/feed/ 0
Tarbiyah – 11 Kiat Mendidik Anak #part4 (Memberi Kesempatan Berdialog) https://nidaulfithrah.com/tarbiyah-11-kiat-mendidik-anak-part4-memberi-kesempatan-berdialog/ https://nidaulfithrah.com/tarbiyah-11-kiat-mendidik-anak-part4-memberi-kesempatan-berdialog/#respond Sat, 27 Nov 2021 04:53:56 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=12836

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ: إِنَّ فَتًى شَابًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ائْذَنْ لِي بِالزِّنَا فَأَقْبَلَ الْقَوْمُ عَلَيْهِ فَزَجَرُوهُ قَالُوا مَهْ مَهْ فَقَالَ ادْنُهْ فَدَنَا مِنْهُ قَرِيبًا قَالَ فَجَلَسَ قَالَ أَتُحِبُّهُ لِأُمِّكَ قَالَ لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ قَالَ وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأُمَّهَاتِهِمْ قَالَ أَفَتُحِبُّهُ لِابْنَتِكَ قَالَ لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ قَالَ وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِبَنَاتِهِمْ قَالَ أَفَتُحِبُّهُ لِأُخْتِكَ قَالَ لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ قَالَ وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأَخَوَاتِهِمْ قَالَ أَفَتُحِبُّهُ لِعَمَّتِكَ قَالَ لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ قَالَ وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِعَمَّاتِهِمْ قَالَ أَفَتُحِبُّهُ لِخَالَتِكَ قَالَ لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ قَالَ وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِخَالَاتِهِمْ قَالَ فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهِ وَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَهُ فَلَمْ يَكُنْ بَعْدُ ذَلِكَ الْفَتَى يَلْتَفِتُ إِلَى شَيْءٍ(رواه أحمد)

“Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan: Ada seorang pemuda datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia mengatakan: Ya Rasulullah izinkanlah aku untuk berzina, Para kaumpun membentaknya, heh…heh…!! Nabi shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: Biarkan dia kemari. Dia pun mendekat kepada beliau lalu duduk. Nabi bertanya: Apakah kamu suka dia (zina) terjadi pada ibumu? Dia menjawab: Tidak demi Allah, Allah menjadikanku sebagai tebusanmu, tak satupun manusia yang menginginkan hal itu terjadi pada ibunya. Nabi bertanya: Apakah kamu suka dia (zina) terjadi pada putrimu? Dia menjawab: Tidak demi Allah, wahai Rasulullah Allah menjadikanku sebagai tebusanmu, tak satupun manusia yang menginginkan hal itu terjadi pada putrinya. Nabi bertanya: Apakah kamu suka dia (zina) terjadi pada saudarimu? Dia menjawab: Tidak demi Allah, Allah menjadikanku sebagai tebusanmu, tak satupun manusia yang menginginkan hal itu terjadi pada saudarinya. Nabi bertanya: Apakah kamu suka dia (zina) terjadi pada bibimu (dari ayah)? Dia menjawab: Tidak demi Allah, Allah menjadikanku sebagai tebusanmu, tak satupun manusia yang menginginkan hal itu terjadi pada bibinya ( dari jalur ayah). Nabi bertanya: Apakah kamu suka dia (zina) terjadi pada bibimu (dari jalur ibu)? Dia menjawab: Tidak demi Allah, Allah   menjadikanku sebagai tebusanmu, tak satupun manusia yang menginginkan hal itu terjadi pada bibinya (dari jalur ibu). Kemudian Nabi shallallahu `alaihi wa sallam meletakkan tangan beliau padanya sambil mendoakan: Ya Allah ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya dan jagalah kemaluannya. Setelah itu pemuda tersebut tidak pernah menginginkan berzina lagi” (HR. Ahmad)        

Remaja tersebut tidak mungkin berani meminta izin berbuat zina kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, jika tipikal beliau tidak bersahabat ( mudah diajak berdialog). Jangankan untuk meminta izin berzina, pernahkah Anda melihat seseorang melakukan pendekatan kepada pimpinan yang tertutup? Tidak mungkin terjadi. Seandainya terjadi tidak lain adalah karena terpaksa.
Lalu, bagaimana mungkin meminta izin berzina? Sangatlah mustahil. Tetapi hal itu terjadi pada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam.

Jelaslah ini menunjukkan betapa beliau seorang yang mudah diajak berdialog. Kebalikannya adalah Fir’aun sang diktator, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an:

قَالَ فِرْعَوْنُ مَا أُرِيكُمْ إِلَّا مَا أَرَى وَمَا أَهْدِيكُمْ إِلَّا سَبِيلَ الرَّشَادِ (غافر:29)

“Aku tidak mengemukakan kepadamu kecuali apa yang aku pandang baik, dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.”(QS. Ghofir:29)

Ayat ini menggambarkan betapa Fir’aun seorang yang diktator, sangat tertutup, tidak dialogis hanya memandang apa yang baik menurut dirinya saja. Padahal dia manusia biasa yang tidak ma’shum (terbebas dari kesalahan). Sementara Nabi shallallahu `alaihi wa sallam orang yang ma’shum saja sangat terbuka untuk diajak dialog.

Jika orangtua kurang dialogis, maka anak akan menjadi korban. Ia segan untuk curhat atau mengutarakan permasalahan-permasalahan dengan mereka. Padahal dia membutuhkan tempat curhat atas berbagai persoalan.. Akhirnya dia pun mencari tempat pelarian lain, siapa saja yang mau mendengarkan curhatnya. Iya, kalau mendapatkan orang yang baik…bagaimanakah jika yang didapati adalah orang yang jelek. Allahul Musta’an.

Bersambung…

]]>
https://nidaulfithrah.com/tarbiyah-11-kiat-mendidik-anak-part4-memberi-kesempatan-berdialog/feed/ 0
Tarbiyah – 11 Kiat Mendidik Anak #part3 (Mengantisipasi Sesuatu Yang Dikhawatirkan Akan Terjadi) https://nidaulfithrah.com/tarbiyah-11-kiat-mendidik-anak-part3-mengantisipasi-sesuatu-yang-dikhawatirkan-akan-terjadi/ https://nidaulfithrah.com/tarbiyah-11-kiat-mendidik-anak-part3-mengantisipasi-sesuatu-yang-dikhawatirkan-akan-terjadi/#respond Thu, 25 Nov 2021 05:31:14 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=12813

Mutiara hikmah menyatakan:

الوقاية خير من العلاج

”Penjagaan lebih baik daripada pengobatan”

Tidak ada seorangpun yang mau sakit. Oleh karena itu jika dia mengantisipasi agar tidak sampai terkena sakit itu lebih baik daripada setelah terkena baru sibuk mencari obatnya. Misalnya, lakukanlah penjagaan dengan berbekam rutin, konsumsilah habbas sauda dengan disiplin. Orang yang kadar gulanya tinggi, lakukanlah antisipasi dengan mengurangi makanan atau minuman manis. Orang yang alergi udara dingin, lakukanlah antisipasi dengan memakai jaket atau menghindari ruangan ber-AC.

Demikian pula di dalam masalah pendidikan, konsep “antisipasi” telah Nabi shallallahu `alaihi wa sallam isyaratkan dengan sabdanya

 وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ (رواه ابو داود)

“….mereka (anak-anak) berumur 10 tahun, pisahkanlah tempat tidurnya”  (HR. Abu Daud)

Anak ketika berumur 10 tahun sudah mulai memahami lawan jenis dan yang berkaitan dengannya. Oleh karena itu pisahkanlah tempat tidurnya. Artinya tidak diperbolehkan tidur bersama ayah ibunya. Karena kalau ia mendapati ayah ibunya sedang membuka aurat maka hal itu bisa berdampak negatif bagi dirinya.

Masalah apapun yang tidak diharapkan terjadi, maka lakukanlah antisipasi sejak awal. Bukankah Anda mendengar orangtua yang stress ketika anaknya ditangkap polisi karena mengkonsumsi narkoba?

Siapa yang bersalah? Bisa jadi orangtuanya.

Karena mereka tidak  memperhatikan dimana anaknya bermain dan dengan siapa dia bergaul. Ketika musibah telah menimpanya barulah mereka menyadari.  Nasi sudah jadi bubur

Anda tentu mendengar informasi tentang orangtua yang jatuh pingsan begitu mengetahui anaknya sedang hamil padahal belum menikah. Ini tidak jarang terjadi.

Siapa yang disalahkan? Bisa jadi orangtuanya.

Karena mereka tidak memperhatikan buku-buku bacaanya, teman-teman pergaulannya di sekolah, kemana perginya ketika keluar rumah, terlebih kalau orangtuanya menyediakan televisi tersendiri di kamar tidur anak maka hal ini juga lebih berbahaya. Ketika musibah menimpanya, barulah mereka menyadari. Penyesalan di kemudian hari tidaklah mengobati.

bersambung…

]]>
https://nidaulfithrah.com/tarbiyah-11-kiat-mendidik-anak-part3-mengantisipasi-sesuatu-yang-dikhawatirkan-akan-terjadi/feed/ 0
Tarbiyah – 11 Kiat Mendidik Anak #part2 (Memperhatikan Pengajaran Shalat) https://nidaulfithrah.com/tarbiyah-11-kiat-mendidik-anak-part2-memperhatikan-pengajaran-shalat/ https://nidaulfithrah.com/tarbiyah-11-kiat-mendidik-anak-part2-memperhatikan-pengajaran-shalat/#respond Wed, 24 Nov 2021 07:24:11 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=12801

Pengenalan shalat kepada anak tentunya sejak sedini mungkin, bahkan sejak bayi. Ketika ibunya shalat, ia melihatnya. Ketika sudah mulai bisa meniru-niru, diapun akan mengikuti gerakan shalat orangtuanya. Dalam fase ini anak dibiarkan meniru-niru bahkan dikondisikan untuk hal tersebut. Dia belum diintruksikan untuk shalat karena belum saatnya. Jadi, orang tua sekedar membantu mengarahkan saja. Anak baru diintruksikan untuk shalat ketika sudah berumur 7(tujuh)  tahun.

Intruksi di sini kental dengan kelembutan, bimbingan, dan  penyemangatan tanpa ada hukumuan sama sekali, tanpa dicela, tanpa dimarahi dan tanpa dihina. Contoh dengan ungkapan:

“Nak, mari sholat!”

“Kalau kamu shalat nanti kamu dapat Surga”.

“Di Surga ada apa saja yang kamu inginkan” dan lain-lain.

Jangan hanya diiming-imingi dengan hadiah-hadiah dunia saja karena akan menumbuhkan tujuan-tujuan duniawi dalam hati anak. Contoh:

“Kalau kamu shalat, nanti Allah bisa mengilhami Abi untuk kasih duit kamu”

“Kalau kamu shalat nanti Allah memberikan ide ke Ummi untuk kasih kamu kue kesukaanmu”

“Kalau kamu shalat nanti Allah akan memudahkan Abi untuk ngajak kamu jalan-jalan ke air terjun”. dan lain-lain.

Jadi,  harus juga diimbangi dengan stimulus-stimulus ukhrowi. Dia terus diingatkan dengan cara yang lembut. Kalau anaknya lelaki harus lebih intensif diarahkan ke masjid. Hal ini terus berlangsung hingga usianya 10 tahun. Kalau sudah umur 10 tahun, dimulailah perintah shalat dengan hukuman. Orang tua dipersilahkan memukulnya demi membiasakan anak untuk shalat yang pada akhirnya nanti ketika baligh dia sudah bisa mandiri shalat.  Pada umur 10 tahun ini, dia harus sudah menjalankannya dengan penuh kesadaran sebagai kewajibannya.

Menggembleng sejak umur 7 tahun hingga umur 10 tahun yang dilanjutkan hingga usia baligh adalah waktu yang mencukupi untuk menjadikan anak shalat secara mandiri.

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ   (رواه ابو داود)

“Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, ia mengatakan, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: Perhatikanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika berusia tujuh tahun, pukullah mereka ketika berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah mereka dari tempat tidurnya” (HR. Abu Daud)

Coba lihatlah kondisi shalat zaman sekarang!
Banyak sekali anak-anak umur 10 tahun yang belum bisa mandiri. Shalatnya masih bolong-bolong . Bahkan sampai tuapun banyak yang belum bisa shalat, apa lagi mandiri menunaikannya?! Salah siapa? Salah satu faktornya adalah terlewatkannya poin yang kedua ini.

Bersambung…

 

]]>
https://nidaulfithrah.com/tarbiyah-11-kiat-mendidik-anak-part2-memperhatikan-pengajaran-shalat/feed/ 0