talbiyah – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Sat, 12 Jul 2025 02:36:03 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png talbiyah – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 PANDUAN PRAKTIS HAJI & UMROH (Bag. 8 Seputar Masalah Umroh Berkali – kali dalam Satu Safar) https://nidaulfithrah.com/panduan-praktis-haji-umroh-bag-8-seputar-masalah-umroh-berkali-kali-dalam-satu-safar/ Sun, 13 Jul 2025 01:27:58 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=20075
  • Seputar Masalah Umroh Berkali – kali dalam Satu Safar
  • 19. Satu safar satu umroh. Tidak ada umroh berulang-ulang. Dimana seusai menunaikan umroh lalu keluar ke Ji’ronah atau Tan’im dengan tujuan mengambil miqot dari sana untuk bisa melakukan umroh berulang-ulang.


    Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan bahwa Nabi yang tingal di Makkah selama 13 tahun tidak pernah melakukan umroh dengan cara keluar dari Makkah sebagaimana yang dilakukan banyak kaum muslimin sekarang ini. Umroh yang beliau lakukan adalah ketika memasuki Makkah seusai bepergian. Demikian juga para Sahabat tidak ada yang keluar dari Makkah ke tanah halal untuk mengambil miqot umroh dari sana. Kecuali hanya A’isyah radhiallahu’anha seorang diri dimana dia telah berihram untuk umroh ketika berangkat bersama Nabi shallahu’alaihi wasallam untuk haji, yaitu haji Wada’ lalu datang haidh, maka Nabi perintahkan agar hajinya include umroh atau haji qiron …. [selesai]


    Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata: Perbuatan demikian adalah bid’ah di dalam agama Allah. Tidak ada orang yang lebih semangat melebihi Nabi shallahu’alaihi wasallam dan para Sahabat. Kita semua tahu beliau ketika fathu Makkah menetap di sana 19 hari tetapi tidak keluar ke Tan’im untuk ihram umroh. Demikian juga para Sahabat radhiallahu’anhum. Jadi, mengulang-ngulang umroh dalam satu safar itu perbuatan bid’ah.


    Syaikh Al-Albany rahimahullah berkata bahwa ihram umroh dari Tan’im sebagaimana yang dilakukan Aisyah radhiallahu’anha adalah hukum khusus baginya dan siapapun yang mengalami kondisinya yang sama dengan beliau. Ketika itu Aisyah radhiallahu’anha berangkat bersama Nabi shallahu’alaihi wasallam untuk Haji yaitu Haji Wada’. Seusai melakukan ihram untuk umroh dan sampai di suatu tempat mendekati Makkah dia haidh. Dia pun tidak thowaf dan tidak shalat. Ketika sudah suci, di Arofah dia menigikuti manasik haji hingga selesai secara sempurna. Ketika Rasulullah shallahu’alaihi wasallam hendak pulang, dijumpainya sedang menangis. Dia sedih, dimana para wanita yang bersamanya bisa menunaikan haji dan umroh secara tersendiri. Sementara dirinya umrohnya di-include-kan ke dalam haji. (Yaitu haji ifrod menurut Syaikh Al-Albany, atau haji qiron menurut ulama lainnya). Kemudian, Nabi shallahu’alaihi wasallam memerintahkan saudaranya Abdurrahman bin Abu Bakar ash-Shiddiq untuk menemaninya ke Tan’im guna mengambil ihram umroh di sana. Syaikh berkata bahwa wanita yang kondisinya seperti Aisyah radhiallahu’anha bisa melakukan seperti yang dia lakukan. Tentunya, hal ini tidak terjadi pada lelaki karena lelaki tidak haidh. Dan, Abdurrahman yang mengantarkan Aisyah radhiallahu’anha tidak melakukan ihram untuk mengulangi umroh. Dan, Sahabat radhiallahu’anhum yang berhaji bersama Nabi jumlanya sekitar 100.000, tidak ada satupun yang melakukannya (keluar dari Makkah untuk mengulang-ngulang umroh)

    • Seputar Masalah Talbiyah

    20. Talbiyah dalam umroh berakhir ketika akan melakukan thowaf. Adapun talbiyah dalam haji berakhir ketika sudah melakukan jumroh ‘Aqobah tanggal 10 Dzulhijjah. Setelah jamaah haji memperbanyak takbir kapanpun di manapun. Disebutkan di dalam Hadits Ibnu Abbas,’

    أنَّ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ أرْدَفَ الفَضْلَ، فأخْبَرَ الفَضْلُ: أنَّه لَمْ يَزَلْ يُلَبِّي حتَّى رَمَى الجَمْرَةَ (رواه الخارى ومسلم)

    “Nabi shallahu’alaihi wasallam memboncengkan Fadhl. Beliau shallahu’alaihi wasallam memberitahukan kepada Fadhl bahwa beliau masih terus bertalbiyah hingga usai melontar jumroh” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Ibnu Abbas mengatakan sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hajar bahwa Nabi shallahu’alaihi wasallam terus ber-talbiyah hingga kerikil terakhir yang dilemparkannya


    21. Takbir mutlak dan muqoyyad bertemu dalam 5 hari, yaitu Shubuh 9 Dzulhijjah hingga Ashar 13 Dzulhijjah. Ketika bertolak dari Mina menuju Arofah, pagi hari 9 Dzulhijjah, jamaah haji memperbanyak talbiyah atau takbir? Memperbanyak talbiyah lebih utama karena ia syiar haji. Disebutkan di dalam Hadits,

    عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ الثَّقَفِي أَنَّهُ سَأَلَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، وَهُمَا غَادِيَانِ مِنْ مِنًى إِلَى عَرَفَةَ: كَيْفَ كُنْتُمْ تَصْنَعُونَ فِي هذَا الْيَوْمِ مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم؟ فَقَالَ: كَانَ يُهِلُّ الْمُهِلُّ مِنَّا، فَلاَ يُنْكَرُ عَلَيْهِ، وَيُكَبِّرُ الْمُكَبِّرُ مِنَّا، فَلاَ يُنْكَرُ عَلَيْهِ (رواه البخارى ومسلم)

    “Dari Muhammad bin Abu Bakar Ats-Tsaqofi, dia bertanya kepada Anas bin Malik. Keduanya sedang bertolak dari Mina menuju Arofah, “Apa yang dulu kalian lakukan di hari ini bersama Rasulullah shallahu’alaihi wasallam”. Dia menjawab: Diantara kami yang bertalbiyah, tidak diingkari. Ada yang bertakbir, tidak diingkari juga” (HR. Bukhari dan Muslim)

    عن ابْنِ عُمَرَ قَالَ: غَدَوْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ مِنًى إِلَى عَرَفَاتِ. مِنَّا الْمُلَبِّي، وَمِنَّا الْمُكَبِّرُ (رواه مسلم)

    “Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Kami betolak di pagi hari bersama Rasulullah shallahu’alaihi wasallam dari Mina menuju Arofah. Diantara kami ada yang bertalbihyah ada juga yang bertakbir” (HR. Muslim)

    • Seputar masalah miqot

    22. Orang yang berhaji tamattu’, miqotnya mengikuti miqot penduduk Makkah. Disebutkan di dalam Hadits Jabir,

    أَمَرَنَا النبيُّ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ لَمَّا أَحْلَلْنَا، أَنْ نُحْرِمَ إذَا تَوَجَّهْنَا إلى مِنًى، قالَ: فأهْلَلْنَا مِنَ الأبْطَحِ (رواه مسلم)

    “Nabi shallahu’alaihi wasallam memerintahkan kami ketika sudah bertahallul (dari umroh) untuk berihram (haji) jika akan berangkat menuju Mina. Maka, kami pun bertalbiyah dari Abthoh (daerah antara Makkah dan Mina)” (HR. Muslim)

    23. Siapa yang memasuki Makkah untuk umroh dan tidak berihram dari miqot yang telah ditetapkan oleh Syariat, maka dia wajib kembali ke miqotnya untuk mengulangi ihramnya. Jika tidak kembali, maka dikenakan fidyah. Karena berihram dari miqot adalah wajib haji. Disebutkan di dalam Hadits Ibnu Abbas,

    وَقَّتَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ لأهْلِ المَدِينَةِ ذا الحُلَيْفَةِ، ولِأَهْلِ الشَّأْمِ الجُحْفَةَ، ولِأَهْلِ نَجْدٍ قَرْنَ المَنازِلِ، ولِأَهْلِ اليَمَنِ يَلَمْلَمَ، فَهُنَّ لهنَّ، ولِمَن أتَى عليهنَّ مِن غيرِ أهْلِهِنَّ لِمَن كانَ يُرِيدُ الحَجَّ والعُمْرَةَ، فمَن كانَ دُونَهُنَّ، فَمُهَلُّهُ مِن أهْلِهِ، وكَذاكَ حتَّى أهْلُ مَكَّةَ يُهِلُّونَ مِنْها (رواه البخارى ومسلم)

    “Nabi shallahu’alaihi wasallam telah menetapkan miqat untuk penduduk Madinah yaitu Dzul Hulaifah, penduduk Syam yaitu Al-Juhfah, penduduk Najd yaitu Qarnul Manazil, penduduk Yaman yaitu Yalamlam. Miqat-miqat itu untuk mereka dari negeri-negeri tersebut dan untuk mereka yang melewatinya dari negeri-negeri lain yang ingin menunaikan haji dan umrah. Adapun bagi orang-orang di dalam miqat, maka miqatnya dari tempat yang ia kehendaki, sehingga penduduk Makkah, miqatnya adalah dari Makkah”. (HR. Bukhari dan Muslim)

    Judul buku : PANDUAN PRAKTIS HAJI & UMROH Dilengkapi 40 permasalahan penting

    Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
    (Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

    ]]>
    PANDUAN PRAKTIS HAJI & UMROH (Bag. 4 Rangkuman pelaksanaan ibadah haji) https://nidaulfithrah.com/panduan-praktis-haji-umroh-bag-4-rangkuman-pelaksanaan-ibadah-haji/ Sat, 01 Mar 2025 05:50:36 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19719 Rangkuman pelaksanaan ibadah haji:

    • Hari pertama ( tanggal 08 Dzulhijjah)
    1. Ihram haji dari tempatnya. Dimulai dengan mandi, memakai wewangian pada badan dan mengenakan pakaian ihram. Lalu memperbanyak talbiyah
    2. Menuju Mina dan mabit di sana hingga terbit matahari pada tanggal 09 Dzulhijjah. Shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh dilakukan pada masing-masing waktunya dengan cara mengqoshor shalat yang empat rakaat.

    • Hari kedua (tanggal 09 Dzulhijjah)
    1. Setelah matahari terbit, bertolak menuju Arofah. Shalat Zhuhur dan Ashar dijamak qoshor. Jika memungkinkan sebelum datang waktu Zhuhur singgah di Namiroh.
    2. Terus menetap di ‘Arofah (wuquf) hingga datang waktu Maghrib. Selama wukuf berdoa sebanyak-banyaknya dengan mengangkat kedua tangan menghadap ke kiblat.
    3. Ketika sudah Maghrib bertolak menuju Muzdalifah. Shalat Maghrib dan Isya dikerjakan dengan dijamak ta’khir dan qoshor di Muzdalifah, dan terus mabit hingga datang waktu Shubuh.
    4. Setelah shalat Shubuh, berdzikir dan doa hingga ufuk berwarna kuning
    5. Sebelum matahari terbit, bertolak menuju Mina

    • Hari ketiga (tanggal 10 Dzulhijjah)
    1. Sesampainya di Mina, melontar jumroh ‘Aqobah Dengan tujuh butir kerikil bertakbir pada setiap lontaran.
    2. Menyembelih hadyu.
    3. Mencukur rambut atau memendekkannya. Ini yang disebut tahallul awal. Seluruh yang dilarang selama ihram sudah diperbolehkan kecuali hubungan suami istri.
    4. Bertolak menuju Makkah untuk melakukan thowaf ifadhoh (thowaf haji) dilanjutkan dengan sa’i di Shofa dan Marwah. Dengan selesainya ini jamaah haji sudah tahallul tsani dimana seluruh larangan selama ihram sudah dibolehkan termasuk jima’.
    5. Kembali ke Mina untuk mabit malam sebelas Dzulhijjah.

    • Hari keempat (tanggal 11 Dzulhijjah)
    1. Ketika sudah datang waktu Zhuhur lontar tiga jumroh. Dimulai dari Ula, Wustho dan ‘Aqobah. Masing-masing dengan 7 butir kerikil. Tidak boleh dikerjakan sebelum Zhuhur. Seusai lontar pada Ula dan Wustho berdiri panjang untuk memanjatkan doa.
    2. Mabit di Mina malam 12 DZulhijjah

    • Hari kelima (tanggal 12 Dzulhijjah)
    1. Lontar tiga jumroh sebagaimana hari keempat (tanggal 11 Dzulhijjah)
    2. Meninggalkan Mina sebelum terbenamnya matahari bagi yang menginginkan. Ini disebut nafar awal. Bagi yang menghendaki nafar tsani, mabit lagi di Mina malam 13 Dzulhijjah.

    • Hari keenam (tanggal 13 Dzulhijjah)
    Hari ini khusus bagi yang menghendaki nafar tsani.
    1. Lontar jumroh sebagaimana tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah
    2. Meninggalkan Mina.
    • Selesailah pelaksanaan haji.

    Tinggal satu lagi peribadahan yaitu thowaf wada’. Ia dilakukan ketika jamaah haji akan pulang meninggalkan Mekkah. Semoga haji kita semua mabrur. Amin

    B. Rukun, Wajib dan Sunnah Haji

    • Rukun haji:

    a. Ihram: berniat umroh atau haji
    b. Wukuf di Arofah
    c. Thowaf Ifadhoh
    d. Sa’i antara Shofa dan Marwah

    • Wajib Haji

    a. Ihram dari miqot yang telah ditetapkan
    b. Mabit di Muzdalifah
    c. Mabit di Mina malam 11,12, 13
    d. Lontar jumroh
    e. Mencukur/memendekkan rambut
    f. Thowaf Wada’

    • Sunnah Haji

    Selain yang disebutkan pada rukun dan wajib haji maka masuk ke dalam sunnah haji, seperti:
    a. Thowaf qudum bagi haji ifrod dan qiron
    b. Mabit di Mina tanggal 8 Dzulhijjah
    c. Raml pada tiga putaran pertama thowaf
    d. Idhthiba
    e. Mandi sebelum ihram
    f. Mengenakan kain putih bagi lelaki
    g. Talbiyah
    h. Mengusap dan mencium hajar Aswad

    C. Fidyah atau denda dalam Haji
    Orang yang sedang ihram jika melakukan pelanggaran, maka dikenakan fidyah (denda). Rinciannya berikut ini:


    a. Tidak ada fidyah: akad nikah.
    Ia tidak sah dan pelakunya berdosa tetapi tidak ada fidyah.


    b. Fidyah besar: jima’.
    Jika dilakukan sebelum tahallul awal, berdosa, hajinya tidak sah dengan tetap menyelesaikan amalan yang tersisa dan hajinya wajib diulang tahun berikutnya. Keduanya suami dan istri tersebut dikenakan fidyah kambing, disembelih dan dagingnya dibagi-bagikan kepada fakir miksin di wilayah Haram. Adapun jika jima’ diakukan setelah tahallul awal, hajinya sah tetapi dikenakan denda seekor kambing yang dibagikan di daerah haram.

    Judul buku : PANDUAN PRAKTIS HAJI & UMROH Dilengkapi 40 permasalahan penting

    Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
    (Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

    ]]>