#Sirah – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Fri, 24 Nov 2023 09:18:22 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png #Sirah – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 Apakah Nabi Hidhr masih hidup di muka bumi? https://nidaulfithrah.com/apakah-nabi-hidhr-masih-hidup-di-muka-bumi/ https://nidaulfithrah.com/apakah-nabi-hidhr-masih-hidup-di-muka-bumi/#respond Fri, 24 Nov 2023 09:18:21 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=18391 (https://www.islamweb.net/ar/fatwa/4041/)

Teks Arab

                هل مازال الخضر حياً على وجه الأرض

السوال

هل ما زال الخضر حيّاً على وجه الأرض حتى يومنا هذا وأنه سيظل حيّاً إلى يوم القيامة ؟ ..

الجواب

الحمد لله.

قال الشنقيطي :

وحكايات الصالحين عن الخضر أكثر من أن تحصر ، ودعواهم أنه يحج هو وإلياس كل سنَة ، ويروون عنهما بعض الأدعية ، كل ذلك معروف ، ومستند القائلين بذلك ضعيف جدّاً ؛ لأن غالبه حكايات عن بعض من يظن به الصلاح ، ومنامات وأحاديث مرفوعة عن أنس وغيره وكلها ضعيف لا تقوم به حجة . . .

الذي يظهر لي رجحانه بالدليل في هذه المسألة أن الخضر ليس بحي بل توفي وذلك لعدة أدلة :

الأول : ظاهر عموم قوله تعالى : ( وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ ) الأنبياء/34 .…

الثاني : قوله صلى الله عليه وآله وسلم : “ اللهم إن تهلك هذه العصابة من أهل الإسلام لا تعبد في الأرض “ رواه مسلم …

الثالث : إخباره صلى الله عليه وآله وسلم أنه على رأس مائة سنَة من الليلة التي تكلم فيها بالحديث لم يبق على وجه الأرض أحد ممن هو عليها تلك الليلة فلو كان الخضر حيّاً لما تأخر بعد المائة المذكورة ، قال مسلم بن الحجاج … أن عبد الله بن عمر قال : “ صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم ذات ليلة صلاة العشاء في آخر حياته فلما سلم قام فقال : “ أرأيتكم ليلتكم هذه فإن على رأس مائة سنة منها لا يبقى ممن هو على ظهر الأرض أحد ، قال ابن عمر : فوهل الناس في مقالة رسول الله  صلى الله عليه وسلم تلك فيما يتحدثون من هذه الأحاديث عن مائة سنة وإنما قال رسول الله  صلى الله عليه وسلم : “ لا يبقى ممن هو اليوم على ظهر الأرض أحد يريد بذلك أن ينخرم ذلك القرن . “ …

الرابع : أن الخضر لو كان حيّاً إلى زمن النبي صلى الله عليه وآله وسلم لكان من أتباعه ، ولنصره وقاتل معه لأنه مبعوث إلى جميع الثقلين الإنس والجن …

Terjemahan teks Arab

Pertanyaan: Apakah Nabi Hidhr masih hidup di muka bumi hingga hari ini, dan ia akan terus hidup sampai hari Kiamat?

Jawab: Alhamdulillah. Asy-Syinqithi berkata: Hikayat-hikayat orang-orang sholih tentang Nabi Hidhr sangat banyak. Mereka menyatakan bahwa dia bersama Nabi Ilyas berhaji setiap tahun. Mereka melihat dari keduanya sebagian doa. Semuanya itu sangatlah popular. Sandaran mereka tentang hal ini sangatlah lemah sekali karena secara umum berasal dari hikayat-hikayat sebagian orang yang diyakini keshalehannya. Berasal dari mimpi-mimpi dan Hadits-Hadits yang diangkat dari Anas dan lainnya, tetapi semuanya dho’if yang tidak bisa dijadikan hujjah…..

Yang zhohir, dalil yang kuat bagi saya dalam masalah ini adalah bahwa Nabi Hidhr tidaklah hidup tetapi sudah meninggal dunia. Ini berdasarkan beberapa dalil:

1. Zhahirnya keumuman firman Allah ta’a;a,

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ ( الأنبياء: 43 )

Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? (QS. Al-Anbiya:34)

2. Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam,

اللَّهُمَّ إنْ تُهْلِكْ هذِه العِصَابَةَ مِن أَهْلِ الإسْلَامِ لا تُعْبَدْ في الأرْضِ (رواه مسلم )

Ya Tuhanku, jika golongan ini binasa, maka Engkau tidak akan disembah lagi di muka bumi ini untuk selama-lamanya (HR. Muslim)

3. Pemberitaan Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa dalam  seratus tahun ke depan dari malam itu yang beliau bersabda tidaklah tersisa satu orangpun yang sekarang ada di muka bumi. Seandainya Nabi Hidhr masih hidup ketika itu niscaya dia alaihissalam sudah meninggal dalam kurun seratus tahun tersebut. Muslim bin Al-Hajjaj mengatakan…. Abdullah bin Umar berkata,

“ صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم ذات ليلة صلاة العشاء في آخر حياته فلما سلم قام فقال : “ أرأيتكم ليلتكم هذه فإن على رأس مائة سنة منها لا يبقى ممن هو على ظهر الأرض أحد ، قال ابن عمر : فوهل الناس في مقالة رسول الله  صلى الله عليه وسلم تلك فيما يتحدثون من هذه الأحاديث عن مائة سنة وإنما قال رسول الله  صلى الله عليه وسلم : “ لا يبقى ممن هو اليوم على ظهر الأرض أحد يريد بذلك أن ينخرم ذلك القرن . “ …

Pada suatu malam Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah melaksanakan shalat Isya bersama kami di masa-masa akhir hidup beliau. Setelah salam beliau kemudian berdiri dan bersabda: “Aku perhatikan malam kalian ini, sungguh dalam seratus tahun (kedepan), tidak seorang pun yang ada di muka bumi ini (dari malam tersebut) yang masih tersisa (hidup).” Ibnu Umar berkata, “Mendengar ucapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, orang-orang mereka-reka berkenaan dengan makna ‘seratus tahun’ dari ucapan beliau tersebut. Padahal sebenarnya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengatakan: “Orang-orang yang hidup hari ini, maka seratus tahun ke depan tidak akan ada lagi yang masih hidup di muka bumi.” Maksudnya, beliau menegaskan bahwa masa itu akan terjadi.”

4. Nabi Hidhr alaihissalam seandaninya masih hidup sampai pada zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam niscaya akan menjadi pengikutnya, akan menolongnya dan akan berperang bersamanya. Karena beliau diutus kepada semua manusia dan jin.

Judul buku : Terkadang Ditanyakan 16

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
https://nidaulfithrah.com/apakah-nabi-hidhr-masih-hidup-di-muka-bumi/feed/ 0
HAKIM BIN HIZAM YANG NRIMO https://nidaulfithrah.com/hakim-bin-hizam-yang-nrimo/ https://nidaulfithrah.com/hakim-bin-hizam-yang-nrimo/#respond Wed, 31 Aug 2022 09:20:22 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=16288 Saudaraku! Masih ingatkah Anda? Siapakah Hakim bin Hizam? Dia adalah sahabat Nabi yang sangat “nrimo” dengan kondisinya yang telah Allah takdirkan. Dia benar-benar “nrimo” dengan kondisinya bahkan sampai menolak pemberian dari orang lain hingga wafatnya. Dia menjadi sebaik-baiknya orang setelah dinasehati oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selengkapnya disebutkan dalam riwayat berikut ini,

Dari Urwah bin Zubair dan Sa’id bin al-Musayyab bahwa Hakim bin Hizam radhiyallallahu anhu menuturkan: Aku pernah meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau memberiku. Aku meminta lagi kepada beliau, beliau pun memberiku. Lalu aku meminta lagi kepada beliau, beliau pun memberiku dan bersabda: Wahai Hakim, “Sesungguhnya harta ini mempesona lagi manis. Barangsiapa mengambilnya dengan kemurahan jiwa maka ia akan memperoleh berkah padanya. Dan barangsiapa mengambilnya dengan ketamakan jiwa maka dia tidak akan memperoleh keberkahan padanya, dan dia itu seperti orang makan yang tak pernah kenyang. Tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah” Lebih lanjut Hakim menuturkan: Lalu aku katakan: “Ya Rasulullah, Demi Dzat yang mengutusmu dengan hak, aku tidak akan menerima pemberian apapun dari orang lain sepeninggalmu sampai aku meninggal dunia”. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah memanggil Hakim untuk diberi sesuatu, tetapi Hakim menolak untuk menerimanya. Kemudian Umar radhiyallahu ‘anhu juga pernah memanggilnya untuk diberi sesuatu, tetapi Hakim tetap tidak mau menerimanya. Umar berkata: “Wahai sekalian kaum muslimin, aku mempersaksikan kepada kalian bahwa aku telah menawarkan sebagian harta rampasan yang menjadi hak Hakim sebagaimana yang diatur oleh Allah, tetapi dia enggan mengambilnya”.

Demikianlah, Hakim tetap tidak mau menerima pemberian dari seorangpun sepeninggal Nabi hingga menemui ajalnya (HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikanlah! Betapa “nrimo” nya Hakim bin Hizam dengan kondisi yang telah ditakdirkan oleh Allah. Dia tidak pernah meminta sesuatu apa pun kepada orang lain hingga wafatnya. Bahkan dia tidak mau menerima suatu pemberian ketika dikasih oleh Abu Bakar dan Umar. Meskipun menerima pemberian itu diperbolehkan Syari’at selama dia tidak meminta. Tentu, dia lebih mempersilahkan orang lain untuk memanfaatkannya. Adapun dirinya telah “nrimo” dengan yang ada. Hakim bisa seperti ini tidak lain setelah dinasehati oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allahu Akbar

Judul buku : 30 Materi Kultum

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
https://nidaulfithrah.com/hakim-bin-hizam-yang-nrimo/feed/ 0
UMMU AIMAN RADHIYALLAHU ‘ANHA DAN ISLAM NUSANTARA https://nidaulfithrah.com/ummu-aiman-radhiyallahu-anha-dan-islam-nusantara/ https://nidaulfithrah.com/ummu-aiman-radhiyallahu-anha-dan-islam-nusantara/#respond Mon, 01 Aug 2022 02:03:51 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=15834

Bismillah. Judulnya kelihatannya nyleneh. Tapi cobalah baca hingga tuntas.

وعَنْ أَنَسٍ قَالَ : قَالَ أَبُو بَكْرٍ لِعُمَرَ رضى الله عنهما بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : انْطَلِقْ بِنَا إِلَى أُمِّ أَيْمَنَ نَزُورُهَا كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَزُورُهَا ‏.‏ فَلَمَّا انْتَهَيْنَا إِلَيْهَا بَكَتْ. فَقَالاَ لَهَا : مَا يُبْكِيكِ؟ أما تعلمين أن مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ صلى الله عليه وسلم؟‏ فَقَالَتْ :إني لا أَبْكِي أَنْي لا أَعْلَمُ أَنَّ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ صلى الله عليه وسلم وَلَكِنْ أَبْكِي أَنَّ الْوَحْىَ قَدِ انْقَطَعَ مِنَ السَّمَاءِ ‏.‏ فَهَيَّجَتْهُمَا عَلَى الْبُكَاءِ فَجَعَلاَ يَبْكِيَانِ مَعَهَا (رواه مسلم)

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dia menceritakan: Abu Bakar berkata kepada Umar radhiyallahu ‘anhuma sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Mari kita berkunjung ke tempat Ummu Aiman sebagaimana Rasulullah dulu mengunjunginya. Ketika keduanya sampai di tempatnya, Ummu Aiman menangis. Keduanya bertanya kepadanya: Apa yang membuatmu menangis? Bukankah engkau mengetahui bahwa apa yang di sisi Allah bagi Rasulullah itu lebih baik? Ummu Aiman menjawab: Aku menangis bukan karena aku tidak mengetahui bahwa apa yang di sisi Allah itu lebih baik bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi aku menangis karena wahyu dari langit telah terputus. Ucapan Ummu Aiman ini mendorong keduanya untuk menangis. Akhirnya keduanya pun menangis bersamanya(HR. Muslim)

Renungkanlah! Ummu Aiman menangis karena terputusnya wahyu bersamaan dengan wafatnya Nabi. Dia kehilangan kebaikan yang ada pada keberlangsungan turunnya wahyu. Kini, ia telah terputus. Dia sangat sedih atas hal itu. Abu Bakar dan Umar pun menangis bersamanya.

Wahai kaum muslimin, Al-Qur’an sebagai wahyu ilahi dan Hadits sebagai penjelasnya ada di tengah-tengah kita. Tidak sedihkah kita ketika keduanya dilecehkan? Bukan saja dilecehkan secara fisik, tetapi juga secara maknawi. Dalam pengertian ia tidak lagi dijadikan pedoman. Atau tetap dijadikan pedoman tetapi dipahami bukan dengan pemahaman yang semestinya. Seperti yang sedang terjadi sekarang ini, kampanye paham Islam Nusantara. Oleh para tokohnya, pemahaman Islam yang notabene Al-Qur’an dan Hadits harus disesuaikan dengan budaya nusantara. Akhirnya kesyirikanpun bisa ditolerir dengan dalih menjunjung tinggi budaya nusantara. Pada saat yang sama mereka menuduh akan banyaknya kaum muslimin yang beragama dengan Islam Arab yang berkarakter keras, menjajah dan tidak santun. Wal ‘iyadzu billah.

Ini, Al-Qur’an dan penjelasnya, Hadits masih ada di tengah-tengah kita. Tetapi, penyimpangan sudah terjadi sedemikan dahsyatnya. Wajarlah, ketika Al-Qur’an nanti diangkat dari muka bumi maka Islam tidak dikenali sama sekali. Hal ini telah dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ ‏ “‏ يَدْرُسُ الإِسْلاَمُ كَمَا يَدْرُسُ وَشْىُ الثَّوْبِ حَتَّى لاَ يُدْرَى مَا صِيَامٌ وَلاَ صَلاَةٌ وَلاَ نُسُكٌ وَلاَ صَدَقَةٌ وَلَيُسْرَى عَلَى كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي لَيْلَةٍ فَلاَ يَبْقَى فِي الأَرْضِ مِنْهُ آيَةٌ وَتَبْقَى طَوَائِفُ مِنَ النَّاسِ الشَّيْخُ الْكَبِيرُ وَالْعَجُوزُ يَقُولُونَ أَدْرَكْنَا آبَاءَنَا عَلَى هَذِهِ الْكَلِمَةِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ فَنَحْنُ نَقُولُهَا ‏”‏ ‏.‏ فَقَالَ لَهُ صِلَةُ مَا تُغْنِي عَنْهُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَهُمْ لاَ يَدْرُونَ مَا صَلاَةٌ وَلاَ صِيَامٌ وَلاَ نُسُكٌ وَلاَ صَدَقَةٌ فَأَعْرَضَ عَنْهُ حُذَيْفَةُ ثُمَّ رَدَّهَا عَلَيْهِ ثَلاَثًا كُلَّ ذَلِكَ يُعْرِضُ عَنْهُ حُذَيْفَةُ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْهِ فِي الثَّالِثَةِ فَقَالَ يَا صِلَةُ تُنْجِيهِمْ مِنَ النَّارِ ‏‏ ثَلاَثًا (رواه ابن ماجه) ‏

Dari Hudzaifah bin al-Yaman, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam akan lenyap sebagaimana lenyapnya warna pada baju yang luntur. Hingga tidak lagi diketahui apa itu puasa, shalat, qurban, dan shadaqah. Kitabullah akan diangkat dalam satu malam, hingga tidak tersisalah satu ayat pun di bumi. Tinggallah segolongan manusia yang terdiri dari orang tua dan renta. Mereka berkata, ‘Kami dapati bapak-bapak kami mengucapkan kalimat: Laa ilaaha illallaah dan kami pun mengucapkannya.’” Shilah berkata kepadanya, “Bukankah kalimat laa ilaaha illallaah tidak bermanfaat untuk mereka, jika mereka tidak tahu apa itu shalat, puasa, qurban, dan shadaqah?”. Lalu Hudzaifah berpaling darinya. Shilah mengulangi pertanyaannya tiga kali. Setiap kali itu pula Hudzaifah berpaling darinya. Pada kali yang ketiga, Hudzaifah menoleh dan berkata, “Wahai Shilah, kalimat itulah yang akan menyelamatkan mereka dari Neraka. Dia mengulanginya tiga kali.” (HR. Ibnu Majah)

Menangislah, Wahai jiwa!!!

Judul buku : 30 Materi Kultum

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
https://nidaulfithrah.com/ummu-aiman-radhiyallahu-anha-dan-islam-nusantara/feed/ 0
KEHARMONISAN SAHABAT DENGAN AHLUL BAIT https://nidaulfithrah.com/keharmonisan-sahabat-dengan-ahlul-bait/ https://nidaulfithrah.com/keharmonisan-sahabat-dengan-ahlul-bait/#respond Mon, 01 Aug 2022 01:11:50 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=15799

Dalam Islam nama merupakan hal yang urgen, Nama mengandung doa, harapan, dan wujud kecintaan orang tua atas anaknya. Seorang muslim yang baik akan menamai anak-anaknya dengan nama-nama yang paling baik, dan tidak mungkin merelakan anaknya untuk memiliki nama yang sama dengan nama musuh-musuh Islam.

Jika kita melihat nama-nama keturunan Ahlul Bait, jangan heran jika di sana terdapat nama-nama Sahabat yang “konon” adalah musuh-musuh Islam menurut Syiah. Sebab sebenarnya tidak ada permusuhan antara para Ahlul Bait dan Sahabat Nabi.

Mari kita perhatikan sejenak sebagian nama-nama keturunan Ahlul Bait Nabi

Ahlul Bait yang bernama Abu Bakar :
Abu Bakar Bin Ali Bin Abi Thalib
Abu Bakar Bin Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib
Abu Bakar Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib
Abu Bakar Bin Abdullah Bin ja`far Bin Abu Thalib
Abu Bakar juga adalah salah satu Nama Kunyah (Panggilan), Ali Bin Musa Al Kadzim

Ahlul Bait yang bernama Umar :
Umar Al Athraf Bin Ali Bin Abi Thalib
Umar Bin Muhammad bin Umar Al Athraf Bin Ali Bin Abi Thalib
Umar Bin Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib
Umar Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib
Umar Bin Ali Zainal Abidin Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib
Umar Bin Ali Ashghor bin Umar Bin Ali Zainal Abidin Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib
Umar Bin Hasan Al Aqthos Bin Ali Ashghor Bin Ali Zainal Abidin Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib
Umar Bin Husain Bin Zaid Bin Ali Zainal Abidin Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib
Umar Bin Yahya Bin Husain Bin Zaid Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib
Umar Bin Musa Al Kadzim Bin Ja’ far Ash Shadiq 

Ahlul Bait Yang bernama Utsman:
Utsman Bin Ali Bin Abi Thalib
Utsman Bin Aqil Bin Abi Thalib 

Ahlul Bait yang bernama Aisyah :
Aisyah Binti Musa Al Kadzim Bin Ja’far Ashadiq
Aisyah Binti Ja’far Bin Musa Al Kadzim Bin Ja’far Ashadiq
Aisyah Binti Ali Ridha Bin Musa AL Kadzim
Aisyah Binti Ali Al Hadi Bin Muhammad Al Jawad Bin Ali Ridha .

Penamaan keturunan Ahlul Bait dengan nama-nama ini tentu bukan tanpa dasar dan tanpa makna. Tetapi Ini adalah bukti keharmonisan yang terjadi antara Ahlul Bait dan Para Sahabat Nabi. Telah biasa seorang menamakan keturunannya dengan tokoh yang mereka kagumi atau cintai.

Judul buku : 30 Materi Kultum

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
https://nidaulfithrah.com/keharmonisan-sahabat-dengan-ahlul-bait/feed/ 0