rumah – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Mon, 13 Apr 2026 06:42:55 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png rumah – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 Apakah disyareatkan bagi wanita yang menjalani masa iddah kematian untuk tinggal di rumah lain jika mengkhawatirkan keamanan atas dirinya? https://nidaulfithrah.com/apakah-disyareatkan-bagi-wanita-yang-menjalani-masa-iddah-kematian-untuk-tinggal-di-rumah-lain-jika-mengkhawatirkan-keamanan-atas-dirinya/ Wed, 06 Aug 2025 06:22:39 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=20241 Sumber : (https://www.islamweb.net/ar/fatwa/155677/)

Teks Arab

السؤال:
هل يشرع للمعتدة من وفاة أن تقيم في بيت آخر إذا لم تأمن على نفسها
شيخي الفاضل السؤال يتعلق بمبيت المعتدة من وفاة زوجها خارج منزلها، فالحالة هي أن المعتدة كبيرة في السن، وعندها أمراض، وكانت تقطن معها أخت زوجها، إلا أن أن أخت زوجها ذهبت لأداء مناسك العمرة، مما يعني أن المعتدة ستبقى وحدها، بطبيعة الحال لديها أولاد وبنات جميعهم متزوج، ولديهم أولاد، والوقت هو وقت مدارس مما يجعل من مسألة مبيتهم عندها صعبا، ولتوضيح الأمر، يسكن بالقرب منها أختها ومعظم أقاربها، ولكن أعتقد أنها قد لا تتمكن من الطلب من نسائهم المبيت عندها، لأنهم قد يقولون أولادها أحق في هذا. فأين هم؟ فالسؤال هل يجوز أن تنتقل المعتدة لبيت إحدى بناتها للمبيت عندها ريثما تعود أخت زوجها إلى بيتها؟ وهل يمكن أن تبقى عندها حتى نهاية العدة طالما أنها خرجت من البيت؟.
الجواب:
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
فيجب على المرأة المتوفى عنها زوجها أن تعتد للوفاة في بيت زوجها الذي توفي وهي فيه، ولا تنتقل عنه إلا لضرورة؛ كأن تخاف على نفسها، أو تحول منه قهرًا، وبالتالي فالمرأة التي ذكرت حالتها إن وجدت من يقيم معها في مسكنها بحيث تأمن بوجوده فلا يجوز لها أن تبيت خارج بيتها، ولا أن تنتقل عنه، وإن لم تجد من يكون معها وخافت على نفسها إذا بقيت وحدها جاز الانتقال لمسكن تأمن فيه، وإن أمكنها البقاء في منزلها نهارا ثم تبيت خارجه ثم ترجع إليه تعين عليها ذلك، ولا تترك منزلها إلا لضرورة.
جاء في الشرح الممتع للشيخ ابن عثيمين فقوله: «خوفاً» يعني ما أمكنها أن تبقى في المنزل، فتحولت عنه خوفاً على نفسها من أن يسطو عليها أحد لفعل الفاحشة مثلاً، أو لكونها امرأة عندها شيء من الوحشة ـ وهذا يكون، فقد تكون صغيرة تتوحش ـ أو خوفاً على مالها فلها أن تنتقل. انتهى
وإذا انتقلت من بيت العدة ثم حصل لها الأمن رجعت إليه، ولا تكمل عدتها خارجه، لأن الوجوب متعلق بعين ذلك المكان، وإن استمر تعذر البقاء فيه أكملت العدة خارجه.
وقال الشيخ ابن عثيمين أيضا : لأنه لما تعذر المكان الأصلي سقط الوجوب، والوجوب معلق بنفس البيت الذي مات وهي ساكنة فيه، فلما تعذر ولم يمكن سكناه قلنا: تعتد حيث شاءت. انتهى
وعليه، فإذا كانت تلك المرأة لا تستطيع المبيت وحدها في بيتها، أو كانت لا تأمن على نفسها أو ما لها فيه، فلها أن تنتقل إلى أقرب مكان آمن تعتد فيه.
والله أعلم .

Terjemahan teks Arab

Pertanyaan: Syaikh yang mulia, pertanyaannya terkait wanita yang dalam masa ‘iddah (mu’taddah) atas  kematian suaminya untuk tinggal di luar rumahnya. Dia seorang wanita yang sudah tua dan sudah sakit-sakitan. Dia tinggal bersama saudari suaminya. Masalahnya jika dia pergi menunaikan umroh maka mu’taddah ini sendirian dengan keadaan yang demikian. Dia mempunyai putra dan putri yang semuanya sudah menikah dan memiliki anak. Mereka kesulitan untuk tinggal bersamanya khususnya di jam-jam sekolah. Sebenarnya ada saudari dan sebagian besar kerabatnya yang dekat dari tempat tinggalnya, tetapi dipastikan dia tidak mungkin meminta mereka untuk menemaninya karena istri-istri mereka memandang anak-anaknya lebih berhak daripada dia. Pertanyaannya apakah boleh dia berpindah ke rumah salah satu putrinya untuk tinggal di sana hingga saudari suaminya (saudari ipar) pulang ke rumahnya? Bolehkah menetap di sana hingga selesai masa ‘iddah yang berarti keluar dari rumah di masa ‘iddah?

Jawab:

:الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد

Wajib bagi seorang wanita yang suaminya wafat untuk menjalani masa ‘iddah di rumah suaminya yang dia tinggal di situ. Tidak berpindah darinya kecuali ada hal darurat. Seperti adanya kekhawatiran atas dirinya, dipaksa keluar dari situ. Jadi, mu’taddah tersebut jika ada orang yang tinggal bersamanya di mana dia merasa aman maka tidak diperbolehkan untuk tinggal di luar rumahnya atau berpindah darinya. Jika dia sendirian dan mengkhawatirkan keamanan atas dirinya maka boleh berpindah. Jika memungkinkan, menetap di rumahnya pada siang hari dan berpindah ke luar pada malam harinya. Yang seperti ini juga bisa sebagai solusinya. Intinya, janganlah mu’taddah meninggalkan rumahnya kecuali ada kondisi darurat. 

Disebutkan di dalam “Syarah al-Mumti’” milik Syaikh Ibnu Utsaimin, redaksinya berikut ini: “KHAWATIR” maksudnya tidak memungkinkan untuk tinggal di rumahnya. Maka dia boleh berpindah karena mengkhawatirkan dirinya seperti khawatir ada seseorang yang akan berbuat jahat. Atau dirinya sebagai wanita penakut. Atau dia mengkhawatirkan akan keselamatan hartanya. Kondisi seperti ini menjadikannya boleh berpindah [selesai].

Jika dia berpindah dari rumah ‘iddah-nya ke tempat lain, lalu dirasakan rumah ‘iddah-nya telah aman maka wajib kembali ke rumah ‘iddah-nya tidak melanjutkan di tempat lain dalam menjalani masa ‘iddah-nya. Karena kewajibannya terkait dengan tempat ‘iddah-nya. Tetapi, kalau udzurnya berkelanjutan, maka tidak mengapa menjalani masa ‘iddah-nya di luar.

Syaikh Utsaimin juga mengatakan, Jika tidak ada udzur pada tempat asalnya di mana dia menetap di rumah yang dia tinggal bersama suaminya maka dia harus menetap di situ. Jika ada udzur, maka dia boleh menjalani masa ‘iddah yang dia kehendaki [selesai].

Jadi, jika mu’taddah tersebut tidak bisa tinggal sendirian di rumahnya atau mengkhawatikan atas diri atau hartanya maka boleh pindah ke tempat yang paling dekat untuk dia menjalani masa ‘iddah-nya. Allahu a’lam.

Judul buku : Terkadang Ditanyakan 24

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Apakah boleh seseorang menghibahkan semua hartanya kepada seluruh anaknya yang semuanya perempuan agar agar ahli waris lainnya tidak mendapatkannya sama sekali? https://nidaulfithrah.com/apakah-boleh-seseorang-menghibahkan-semua-hartanya-kepada-seluruh-anaknya-yang-semuanya-perempuan-agar-agar-ahli-waris-lainnya-tidak-mendapatkannya-sama-sekali/ Wed, 30 Jul 2025 09:09:34 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=20180 Sumber : (https://www.islamweb.net/ar/fatwa/12549/)

Teks Arab

شروط جواز هبة جميع المال للأولاد قبل الوفاة

السؤال: سيدة مسنة لهاأربعة بنات متزوجات وتملك أراض زراعية وعقارات.. تريد أن تهب جميع ما تملكه لبناتها قبل وفاتها حتى لا يرث معهن أحد من الأقارب الذين لا يصلون رحما ولا يوقرونها ولا تراهم بالسنين.. مع العلم بأن زوجها متوفى.. فما الحكم؟

الجواب: 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد:

فيجوز لهذه المرأة أن تهب جميع مالها لبناتها قبل وفاتها بشروط:

الأول: أن يكون ذلك في صحتها.

الثاني: أن تقسمه بينهن بالسوية.

الثالث: أن يَحُزْنَ المال قبل موتها أو مرضها مرض الموت، وترفع هي عنه يدها، ويتصرفن فيه تصرف الملاك فيما يملكون.

ولمزيد فائدة تراجع الفتوى رقم: 9084 والله أعلم.

Terjemahan teks Arab

Pertanyaan: Seorang Ibu memiliki empat anak perempuan yang semuanya sudah menikah. Dia punya beberapa tanah pertanian dan beberapa rumah. Dia ingin menghibahkan seluruh harta yang dimilikinya itu untuk anak-anaknya sebelum wafatnya sehingga tidak ada seorang pun yang mendapatkan warisan dari kalangan kerabatnya di mana mereka telah memutuskan silaturrahim, tidak menghormatinya dan beliau juga tidak pernah melihat mereka bertahun-tahun. Apa hukumnya? Sebagai informasi suami beliau telah meninggal dunia.

Jawab

:الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد

Boleh bagi seorang Ibu ini untuk menghibahkan seluruh hartanya kepada anak-anaknya sebelum wafatnya dengan syarat:

Pertama: Keadaan beliau masih dalam sehat

Kedua: Pembagian sesama mereka dengan sama rata

Ketiga: Harta sudah dibagikan sebelum kematian beliau atau datangnya sakit berat (secara medis akan menghantarkan kepada kematian, Pent). Dan kepemilikan harta juga seketika sudah berpindah dimana mereka langsung berhak untuk memanfaatkannya.

Untuk keterangan lebih lanjut silahkan merujuk “Al-Fatwa” no. 9084. Allahu A’lam.

Judul buku : Terkadang Ditanyakan 23

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
PEGAWAI, SURGA MERINDUKANMU (Untuk Pemilik Usaha, Utamakan Meraih Jalan-Jalan Keberkahan, Bag. 5) https://nidaulfithrah.com/pegawai-surga-merindukanmu-untuk-pemilik-usaha-utamakan-meraih-jalan-jalan-keberkahan-bag-5/ Mon, 03 Feb 2025 02:31:56 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19625 10. Untuk Pemilik Usaha, Utamakan Meraih Jalan-Jalan Keberkahan
Keberkahan itu perkara yang sangat penting. Keberkahan artinya diliputi dengan kebaikan-kebaikan.

  • Tubuh dikatakan berkah, jika kondisi fit dan tidak fitnya terkondisikan untuk mendatangkan pahala.
  • Rumah dikatakan berkah jika keberadaannya menjadikan penghuninya nyaman untuk berbuat kebaikan-kebaikan, bagaimanapun kondisinya.
  • Umur dikatakan berkah jika menjadikan pemiliknya terdorong kuat untuk berbuat ketaatan-ketaatan pada waktu-waktu yang dilaluinya.
  • Harta dikatakan berkah, jika banyak dan sedikitnya bisa menjadikan siapapun yang terkait dengannya diliputi kebaikan dan jauh dari kemungkaran. Misalnya: Harta yang didapatkan seseorang bisa menjadikan istri shalehah, putra- putri shalih shalihah, makanan menyehatkan badan, dan faslitas dirasakan nyaman untuk ibadah. Ia mudah untuk dialokasikan pada hal-hal kebaikan, sebaliknya sulit untuk dialokasikan pada hal-hal kemungkaran. Itulah harta yang berkah.
Nah, bagaimanakah agar bisnis dan penghasilan seseorang berkah?

Tema ini saya khususkan untuk pengelola bisnis yang memiliki sejumlah pegawai atau karyawan. Jawabannya adalah: utamakanlah meraih jalan-jalan keberkahan, diantaranya:
a. Sesuaikan“waktu manusia” dengan “waktu Allah ta’ala”.
Jangan dibalik, “waktu Allah ta’ala” yang disesuaikan dengan “waktu manusia”. Misalnya jam masuk dan keluar kerja disesuaikan dengan waktu shalat sehingga Anda dan karyawan Anda yang lelaki bisa shalat di awal waktu dan berjamaah di masjid.
b. Tidak memilih karyawan non muslim dengan pertimbangan agar etos kerja terjaga.
Ada sebagian pengusaha yang memiliki pandangan bahwa karyawan muslim akan menghentikan pekerjaan pada waktu-waktu shalat yang mengakibatkan berkurangnya efektivitas kerja selama beberapa menit, yaitu pada waktu-waktu shalat; Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh. Juga pada saat puasa Ramadhan, efektivitas kerja bisa terganggu selama satu bulan. Inilah pandangan mereka. Hal ini menjadikan mereka lebih memilih orang-orang non muslim sebagai karyawannya. Subhanallah….. Apa artinya kehilangan beberapa menit atau beberapa saat. Lagi pula, jika Anda merasa dirugikan bukankah masalah jam kerja bisa diatur dengan kesepakatan bersama?
Justru dengan karyawan muslimlah, Anda membantu pemenuhan hajatnya seperti menyekolahkan putra-putrinya demi kaderisasi keshalihan generasi, berinfaq di masjid, berdonasi untuk panti asuhan, dan “proyek-proyek ukhrowi” lainnya. Dan, dengan karyawan muslimlah Anda membantu keberadaannya yang terikat dengan Allah ta’ala sebagai hamba yang harus menghambakan diri kepada-Nya. Dan, tidak kalah penting ia akan selalu mendoakan dengan kebaikan-kebaikan untuk Anda dan memanjatkannya kepada Tuhan Yang Haq. Yang semua ini tidak akan Anda dapatkan pada karyawan yang non muslim. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَهُمْ رَٰكِعُونَ (المائدة: 55)

Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah) (QS. Al-Maidah: 55)
c. Adakan kajian rutin untuk pegawai/karyawan.
Adakan kajian rutin untuk pegawai/karyawan. Misalnya sepekan sekali, dua pekan sekali atau sebulan sekali. Atau pada waktu-waktu yang memungkinkan. Hakekat kajian tidak lain adalah upaya mengkondisikan ummat muslim pada khouf, roja’ dan mahabbah kepada Allah ta’ala. Ia tidak lain adalah upaya mengkondisikan ubudiyah ummat Islam agar senantiasa tersadarkan pada rambu-rambu syareat yang harus dijalaninya. Ia tidak lain adalah diperdengarkannya ayat-ayat al-Qur’an dan penjelasannya yang memiliki fungsi sebagai obat rohani sekaligus obat jasmani. Semuanya itu akan berdampak sangat positif pada bisnis atau perkantoran Anda.
Allah ta’ala berfirman,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ[الأعراف: 96]

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS. Al-A’rof: 96)
d. Segera memberikan upah sebelum keringatnya kering
Keberkahan bisa tidak Allah ta’ala turunkan atau tunda disebabkan majikan/pengusaha mengabaikan hak-hak pegawai/karyawannya. Contohnya upah atau gaji yang semestinya sudah diberikan tetapi belum diberikan. Bahkan ada di antara mereka yang merengek-rengek dan bolak-balik menuntutnya tetapi tidak diberikan juga. Allahu-l-Musta’an.
Nabi shallahu’alaihi wasallam mengingatkan hal ini di dalam Haditsnya,

أعطوا الأجيرَ أجْرَه قَبلَ أنْ يَجِفَّ عَرَقُه (رواه ابن ماجه عن عبد الله ابن عمر)

“Berilah pegawai upahnya sebelum keringatnya kering(HR. Ibnu Majah dari Abdullah Ibnu Umar)
e. Memperhatikan kemaslahatan keluarga pegawai
Karyawan Anda bekerja, tidak lain karena dorongan tanggungjawab terhadap keluarganya. Untuk itu, perhatikanlah keluarga mereka. Niscaya mereka akan menunjukkan sikap terimakasih dan akan banyak mendoakan kebaikan untuk Anda. Perhatian kepada mereka bisa berupa mengadakan rekreasi bersama, membantu biaya pengobatan, memberikan beasiswa kepada putra-putri yang prestasi, dan lain-lain. Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda,

واللهُ في عونِ العبدِ ما كان العبدُ في عونِ أخيه (رواه مسلم عن أبى هريرة)

“Allah ta’ala senantiasa menolong hamba-Nya selama dia menolong saudaranya” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
11. Berinfaq setiap hari
Berapapun gaji atau pendapatan Anda banyak atau sedikit, berinfaqlah setiap hari. Karena infaq tidak hanya diperintahkan kepada orang kaya saja. Tentu nominalnya disesuaikan dengan kemampuan dengan tidak memudharatkan Anda dan keluarga Anda. Disebutkan di dalam Al-Qur’an tentang muttaqin (orang yang bertaqwa),

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ (اال عمران:134 )

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah ta’ala menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Ali Imran: 134)
Setiap hari ada dua Malaikat yang berdoa khusus terkait orang yang berinfaq. Sebagaimana disebutkan di dalam Hadits,

ما مِن يَومٍ يُصْبِحُ العِبادُ فِيهِ، إلَّا مَلَكانِ يَنْزِلانِ، فيَقولُ أحَدُهُما: اللَّهُمَّ أعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، ويقولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا (رواه البخارى ومسلم عن أبى هريرة)

“Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun dua Malaikat kepadanya lalu salah satunya berkata; “Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya”, sedangkan yang satunya lagi berkata; “Ya Allah berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil) “ (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Tentu setiap hari Anda ingin termasuk orang yang didoakan oleh Malaikat agar harta yang diinfaqkan diganti dengan yang lebih baik. Untuk itu berinfaqlah setiap hari!!

Kita tidak perlu berpikir bahwa berinfaq hanya akan mengurangi harta. Apa lagi kalau dilakukan setiap hari. Tidak usah berpikir demikian. Cukuplah kita meyakini statemen seseorang yang kebenarannya mutlak dan tidak pernah salah. Bagaimana tidak, seluruh statemennya bersumber dari wahyu Ilahi. Beliau bersabda,

ما نَقَصَتْ صَدَقةٌ مِن مالٍ (رواه مسلم عن أبى هريرة)

“Harta tidak akan berkurang disebabkan shodaqoh” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
Betul, memang secara nominal berkurang. Tetapi, bukankah penggantinya jauh lebih besar baik yang bersifat materi ataupun yang immateri berupa keberkahan hidup yang mendatangkan kebaikan dari berbagai aspek.
Apakah pernah terdengar sebuah informasi tentang seseorang yang bangkrut disebabkan banyak berinfaq? PASTI TIDAK PERNAH.
Apakah pernah terdengar sebuah perusahaan yang bangkrut disebabkan banyak melakukan kepedualian sosial? PASTI TIDAK PERNAH.
Yang ada justru sebaliknya. Orang banyak berifaq usahanya menjadi semakin maju. Perusahaan yang banyak peduli sosial menjadi semakin jaya dan berkembang. Allah ta’ala berfirman,

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍ ۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah ta’ala adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Baqarah:261)
Dalam ayat lain,

مَّن ذَا ٱلَّذِى يُقْرِضُ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَٰعِفَهُۥ لَهُۥ وَلَهُۥٓ أَجْرٌ كَرِيمٌ

Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah ta’ala pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak” (QS. Al-Hadid: 11)

Judul buku : PEGAWAI, SURGA MERINDUKANMU

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Doa memohon istana di Surga https://nidaulfithrah.com/doa-memohon-istana-di-surga/ Tue, 28 Jan 2025 04:34:33 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19583 رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ [التحريم: 11]

Wahai Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu di dalam surga . (At Tahrim Ayat 11)

Judul buku : 162 DOA DARI AL QUR’AN & HADITS

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Mana yang lebih utama dan besar pahalanya, sholat Ashar lalu duduk di masjid hingga Maghrib atau pulang ke rumah menjelang Maghrib? https://nidaulfithrah.com/mana-yang-lebih-utama-dan-besar-pahalanya-sholat-ashar-lalu-duduk-di-masjid-hingga-maghrib-atau-pulang-ke-rumah-menjelang-maghrib/ https://nidaulfithrah.com/mana-yang-lebih-utama-dan-besar-pahalanya-sholat-ashar-lalu-duduk-di-masjid-hingga-maghrib-atau-pulang-ke-rumah-menjelang-maghrib/#respond Wed, 02 Oct 2024 06:54:22 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19180 Sumber : (https://www.islamweb.net/ar/fatwa/178901/)

Teks Arab

وقد فصل لكم ما حرم عليكم إلا ما اضطررتم إليه
, وقال تعالى : وما كان الله ليضل قوما بعد إذ هداهم حتى يبين لهم ما يتقون
6-السؤال: ما هو الأفضل والأعظم أجرا صلاة العصر ثم الجلوس في المسجد إلى المغرب أو العودة إلى البيت قبيل المغرب وتجديد الوضوء ثم تجديد الخروج ليتجدد أجر الحجة والنزل والخطوات إلى المسجد؟
الجواب: الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعد
فالذي يظهر ـ والعلم عند الله تعالى ـ أن الأولى أن يبقى الإنسان في المسجد يذكر الله تعالى، فإن ثواب بقائه في المسجد أعظم من الثواب الحاصل له بالمشي إليه، فإن الملائكة تصلي عليه وتدعو له تقول: اللهم اغفر له، اللهم ارحمه ما دام في مصلاه ما لم يحدث، كما أنه في صلاة ما دام منتظرا للصلاة؛ كما صح عن النبي صلى الله عليه وسلم، فعن أبي هريرة ـ رضي الله عنه ـ أنَّ رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لا يَزَالُ أحَدُكُمْ في صَلاَةٍ مَا دَامَتِ الصَّلاَةُ تَحْبِسُهُ، لا يمنعه أن ينقلب إلى أهله إلا الصلاة. متفق عليه
وعنه ـ رضي الله عنه ـ أنَّ رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الْمَلائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلاهُ الَّذِي صَلَّى فِيهِ، مَا لَمْ يُحْدِثْ، تَقُولُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ. رواه البُخَارِيُّ
فكون الإنسان ينال ثواب المصلي وتستغفر له الملائكة وتدعو له أولى من أن يخرج من المسجد ليتوضأ ثم يعود إليه، كما أن بقاءه في المسجد أحفظ له من اللغو، وقد روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: صلاة في إثر صلاة لا لغو بينهما كتاب في عليين. رواه أبو داود وحسنه الألباني. والله أعلم

Terjemahan teks Arab

Pertanyaan: Mana yang lebih utama dan besar pahalanya, sholat Ashar lalu duduk di masjid hingga Maghrib atau pulang ke rumah menjelang Maghrib lalu memperbarui wudhu dan memperbarui keberangkatan untuk memperbarui pahala persaksian, singgah dan langkah ke masjid?
Jawab:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعد

Zhahirnya– Allah lah yang mengetahui secara pasti—yang utama adalah hendaknya seseorang menetap di masjid berdzikir kepada Allah Ta’ala. Pahala menetap di masjid lebih besar dibandingkan pahala berjalan ke masjid karena Malaikat mendoakannya, “Ya Allah ampunilah dia”, Ya Allah rahmatilah dia” selama dia di tempat sholatnya dan selama tidak berhadats/berbicara keburukan. Dia juga dicatat tengah mengerjakan shalat selama dia menunggu shalat sebagaimana disebutkan dalam Hadits shohih,

عن أبي هريرة ـ رضي الله عنه ـ أنَّ رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لا يَزَالُ أحَدُكُمْ في صَلاَةٍ مَا دَامَتِ الصَّلاَةُ تَحْبِسُهُ، لا يمنعه أن ينقلب إلى أهله إلا الصلاة ( متفق عليه)

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda: Seseorang di antara kalian senatiasa dalam shalat selama shalat menahannya dan tidak ada yang menghalanginya untuk kembali ke keluarganya kecuali sholat (Muttafaq ‘alaih)
Juga dari riwayat Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda,

الْمَلائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلاهُ الَّذِي صَلَّى فِيهِ، مَا لَمْ يُحْدِثْ، تَقُولُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ ( رواه البُخَارِيُّ)

Malaikat mendoakan seseorang di antara kalian selama dia berada di tempat shalatnya di mana dia mengerjakannya. Mereka berucap “Ya Allah ampunilah dia, ya Allah rahmatilah dia(HR. Bukhari)
Seseorang memperoleh pahala musholli, dimohonkan ampun dan didoakan oleh Malaikat itu lebih utama daripada keluar masjid untuk memperbarui wudhu lalu kembali lagi ke masjid. Dan, menetapnya dia di masjid lebih terjaga dari kesia-siaan. Beliau shallahu’alaihi wasallam bersabda,

(صلاة في إثر صلاة لا لغو بينهما كتاب في عليين(رواه أبو داود وحسنه الألباني

Menunggu shalat hingga datang waktu shalat yang lain yang tidak ada main-main di antara keduanya, maka pahalanya ditulis di ‘Iliyyin. (HR. Abu Daud, di hasan-kan oleh Syaikh Al-Albani)

Judul buku : Terkadang Ditanyakan 21

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
https://nidaulfithrah.com/mana-yang-lebih-utama-dan-besar-pahalanya-sholat-ashar-lalu-duduk-di-masjid-hingga-maghrib-atau-pulang-ke-rumah-menjelang-maghrib/feed/ 0