rambut – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Mon, 10 Mar 2025 08:39:28 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png rambut – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 PANDUAN PRAKTIS HAJI & UMROH (Bag. 6 Beberapa Masalah Penting) https://nidaulfithrah.com/panduan-praktis-haji-umroh-bag-6-beberapa-masalah-penting/ Mon, 10 Mar 2025 08:39:28 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19727 E. Beberapa Masalah Penting

  • Masalah Mencukur atau Memendekkan Rambut
  1. Untuk lelaki yang utama mencukur keseluruhan rambut alias gundul. Karena Nabi shallahu’alaihi wasallam mendoakan orang yang mencukur gundul tiga kali. Sementara untuk yang memendekkan hanya sekali. Boleh memendekkan saja, misalnya dipendekkan 4 cm secara merata. Disebutkan di dalam Hadits,

رحمَ اللَّهُ المحلِّقينَ قالوا والمقصِّرينَ يا رسولَ اللَّهِ قالَ رحمَ اللَّهُ المحلِّقينَ قالوا والمقصِّرينَ يا رسولَ اللَّهِ قالَ رحمَ اللَّهُ المحلِّقينَ قالوا والمقصِّرينَ يا رسولَ اللَّهِ قالَ والمقصِّرين (رواه البخارى ومسلم عن عبد الله بن عمر)

“Semoga Allah ta’ala merahmati orang-orang yang mencukur rambutnya”. Orang-orang berkata: “Dan juga bagi orang-orang yang hanya memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah?” Beliau tetap berkata: “Semoga Allah Ta’ala merahmati orang-orang yang mencukur rambutnya”. Orang-orang berkata lagi: “Dan juga bagi orang-orang yang hanya memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah?” Beliau tetap berkata: “Semoga Allah, merahmati orang-orang yang mencukur rambutnya”. “Orang-orang berkata lagi: “Dan juga bagi orang-orang yang hanya memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah?” Beliau baru bersabda: “Ya, juga bagi orang-orang yang hanya memendekkan rambutnya” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar)
Ibnu Qudamah rahimahullah di dalam al-Mughni mengatakan: memendekkan atau mencukur haruslah merata pada keseluruhan kepala.
Imam Malik rahimahullah berkata: Bukanlah cara memendekkan rambut bagi seorang lelaki dengan memotong sebagian ujung rambutnya melainkan memendekkannya secara merata. Jadi, tidak sebagaimana wanita.
Adapun untuk wanita dipotong sepanjang satu ruas jari pada seluruh ujung rambutnya. Disebutkan di dalam Hadits Ibnu Abbas,

ليسَ على النِّساءِ حَلقٌ إنَّما على النِّساءِ التَّقصيرُ (رواه أبو داود والدارمى والطبراني)

“Tidaklah bagi wanita mencukur, tetapi baginya adalah memendekkan(HR. Abu Daud, Ad-Darimy dan Ath-Thobroni)

وقال ابن قدامة الحنبلي في المغني: وأي قدر قصَّر منه أجزأه؛ لأن الأمر به مطلق فيتناول الأقل. وقال أحمد: يقصر قدر الأنملة. وهو قول ابن عمر، والشافعي، وإسحاق، وأبي ثور

“Ibnu Qudamah Al-Hanbali mengatakan di dalam kitab Al-Mughni: Memendekkan rambut dengan kadar berapapun diperbolehkan. Karena perintahnya mutlak maka diperbolehkan meski hanya memendekkan sedikit. Imam Ahmad mengatakan dipendekkannya seukuran ruas jari demikian juga pendapat Ibnu Umar, Asy-Syafi’i, Ishaq dan Abu Tsaur
Lakukanlah di tempat tertutup, misalnya di kamar hotel karena rambut wanita itu aurat.
2. Pada umroh yang merupakan rangkaian haji tamattu’ yang afdhal adalah dengan memendekkannya. Karena nanti pada saat haji akan ada potong rambut lagi. Maka, pada saat haji inilah potong rambut dilakukan dengan mencukur atau gundul. Disebutkan di dalam Hadits Ibnu Umar,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم للناس …… ومن لم يَكن منْكم أَهدى فليطف بالبيتِ وبالصَّفا والمروةِ وليقصِّر وليحلل ثمَّ ليُهلَّ بالحجِّ ….. (رواه البخارى ومسلم)

“Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda kepada orang-orang….. Siapa saja di antara kalian yang tidak memiliki hadyu agar thowaf di Baitullah dan sa’i antara Shofa dan Marwah lalu hendaklah memendekkan rambut lalu bertahallul setelah itu berihram untuk haji…. (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:

أن المستحب في حق المتمتع عند حله من عمرته التقصير، ليكون الحلق للحج

“Yang mustahab pada haji tamattu’ ketika tahallul dari umroh adalah dengan memendekkan rambut. Adapun mencukurnya pada saat haji

  • Seputar Kegiatan Selama di Madinah

3. Selama berada di Madinah, sebelum melakukan ihram dari miqotnya yaitu Bir Ali, peribadahan yang bisa dilakukan berupa:
a. Shalat jama’ah di masjid Nabawi.
Pahalanya 1000x lipat dibandingkan shalat di masjid manapun selain Masjidil Haram dan Baitul Maqdis. Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda,

صلاةٌ في مسجدِي هذا خيرٌ من ألفِ صلاةٍ في ما سواه إلا المسجدَ الحرامَ، وصلاةٌ في المسجدِ الحرامِ أفضلُ من مائةِ صلاةٍ في مسجدِي هذا (رواه البخارى ومسلم عن أبى هريرة)

“Shalat di Masjidku ini lebih baik 1000x shalat di masjid manapun selain Masjidil Haram. Dan shalat di masjidil Haram lebih baik 100 x lipat dibandingkan shalat di masjidku ini” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Disebutkan di dalam Hadits Abu Dzar,

أنَّهُ سأل رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليْهِ وسلَّمَ عَن الصَّلاةِ في بَيتِ المقدِسِ أفضلُ أو في مسجِدِ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليْهِ وسلَّمَ فَقالَ صلاةٌ في مسجِدي هذا ، أفضلُ من أربعِ صلواتٍ فيهِ (رواه البيهقى)

“Ia bertanya kepada Rasulullah shallahu’alaihi wasallam tentang shalat di Baitul Maqdis. Apakah ia lebih afdhal ataukah di Masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Beliau menjawab: Shalat di masjidku ini lebih utama dengan 4 kali shalat di sana” (HR. Al-Baihaqi)

b. Shalat di Raudhoh.
Raudhah itu bagian di dalam Masjid Nabawi, space antara rumah Nabi shallahu’alaihi wasallam dan mimbar beliau shallahu’alaihi wasallam. Disebutkan di dalam Hadits,

عَنِ النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، قالَ: ما بيْنَ بَيْتي ومِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِن رِيَاضِ الجَنَّةِ، ومِنْبَرِي علَى حَوْضِي. (رواه البخارى عن أبى هريرة)

Dari Nabi shallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda: Antara rumahku dan minbarku adalah Roudhoh (taman) dari antara Riyadhul Jannah (taman-taman Surga), dan minbarku berada di atas Haudhku(HR. Bukhari dari Abu Hurairah)
Syaikh Abdul Aziz Bin Baz rahimahullah berkata tentang Hadits mengenai Raudhoh: Ini menunjukkan fadhilah Raudhoh, disyareatkan untuk shalat dan berdzikir tetapi tidak menetap di sana ketika datang waktu shalat sehingga tertinggal dari shoff yang di depan.
Di dalam Raudhoh ada dua tiang yang pada keduanya Nabi shallahu’alaihi wasallam biasa menghadap ketika shalat. Yaitu:

Tiang Muhallaqoh dikenal juga dengan tiang Muhajirin karena pembesar mereka biasanya duduk di situ, dikenal juga dengan tiang ‘Aisyah.

Ibnu Hajar berkata: Diriwayatkan dari Aisyah bahwa dia radhiallahu’anha mengatakan:

لو عَرَفها الناس لاضطربوا عليها بالسهام

Jika manusia mengetahui tiang tersebut niscaya mereka akan berebutan untuk mendapatkannya meskipun dengan diundi”
Aisyah merahasiakannya kepada Ibnu Zubair. Maka, dia pun orang yang memperbanyak shalat di situ
” (selesai)
Tiang Taubat. Sebuah tiang yang dulu Abu Lubabah mengikat dirinya di situ hingga Allah ta’ala menerima taubatnya.

c. I’tikaf
Yaitu berdiam diri di dalam masjid untuk fokus taqorrub kepada Allah ta’ala dengan memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, memperbanyak shalat, mudzakaroh ilmu. Demikian juga ketika berada di Makkah. Jika dilakukan di luar masjid yaitu di teras atau space yang merupakan perluasan masjid maka memiliki hukum yang sama sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Imam Asy-Syafi’i rahimahullah.

d. Ziarah kubur
Ziarah kubur ke makam Rasulullah, Abu Bakar, Umar dan pemakaman Baqi (tidak jauh dari Masjid Nabawi). Adapun untuk wanita tidak disunnah untuk ziarah kubur

e. Menghadiri halaqoh ilmu di Masjid Nabawi.
Ada halaqoh bersama para masyayikh. Bagi Anda yang bisa berbahasa Arab bisa istifadah di situ. Ada juga halaqoh bersama seorang Ustadz mahasiswa S3 dari Indonesia biasanya di pintu nomor 19.


f. Shalat di masjid Quba
Jarak dari Masjid Nabawi ke Masjid Quba sekitar 3 km. Keutamaan shalat di masjid tersebut dengan bersuci terlebih dahulu dari rumah atau hotel disebutkan di dalam Hadits berikut ini,

من تطَهَّرَ في بيتِهِ , ثمَّ أتى مسجدَ قباءٍ ، فصلَّى فيهِ صلاةً ، كانَ لَهُ كأجرِ عمرةٍ (رواه ابن ماجه والنسائى وأحمد عن سهل بن حنيف)

Barangsiapa bersuci dari rumahnya lalu mendatangi masjid Quba kemudian shalat di situ maka baginya pahala seperti pahala umroh(HR. Ibnu Majah, An-Nasa’i dan Ahmad dari Sahl bin Hanif)

Judul buku : PANDUAN PRAKTIS HAJI & UMROH Dilengkapi 40 permasalahan penting

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
PANDUAN PRAKTIS HAJI & UMROH (Bag. 2 Memendekkan rambut) https://nidaulfithrah.com/panduan-praktis-haji-umroh-bag-2-memendekkan-rambut/ Fri, 21 Feb 2025 06:14:32 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19694 c. Memendekkan rambut.
Untuk haji tamattu’, bagi lelaki yang afdhol ketika umroh adalah dengan memendekkan rambut. Adapun mencukurnya dilakukan nanti pada saat haji. Adapun untuk wanita, dengan memendekkannya seukuran ruas jari. Setelah memendekkan rambut, selesailah pelaksanaan umroh, dan telah halal kembali seluruh yang diharamkan selama ihram. Berikutnya menunggu tanggal 8 Dzulhijjah.


Tanggal 8 Dzulhijjah
Pada tanggal 8 Dzulhijjah berihram untuk haji dari tempat manapun di dalam kota Makkah. Sebelum niat ihram, terlebih dahulu mandi dan memakai wewangian pada badan seperti kepala, ketiak dan jenggotnya (untuk lelaki) lalu memakai pakaian ihram dan berniat,

لبَّيكَ حَجًّا

Seusai niat ihram inilah, para jamaah haji mulai ber-talbiyah sebanyak-bayaknya. Kemudian menuju Mina. Shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh dilakukan di sana dengan di-qoshor tanpa jamak.


Tanggal 9 Dzhulhijjah
Ketika matahari terbit pada tanggal 9 Dzulhijjah, bertolak menuju ‘Arofah dan turun di Namiroh jika memungkinkan. Jika tidak, maka dilanjutkan sampai di Arofah dan wukuf di sana. Para jamaah melakukan shalat Zhuhur dan Ashar dengan jamak taqdim dan qoshor. Setelah itu mereka disibukkan dengan doa dan dzikir. Maksimalkanlah dalam berdoa dan dzikir hingga waktu Maghrib. Durasi dari Zhuhur ke Maghrib bukanlah waktu yang singkat, untuk itu harus disiapkan apa saja yang ingin dipanjatkan dalam berdoa sejak jauh-jauh hari bahkan sejak sebelum keberangkatan ke tanah suci. Adapun dzikir yang sangat diutamakan adalah membaca,

لا إله إلا الله وحده لا شريكَ له، له الملك، وله الحمد، وهو على كل شيءٍ قدير

Sebagaimana disebutkan dalam Hadits Amr bin Syua’ib dari ayahnya dari kakeknya bahwa Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda,

خير الدُّعاء دعاء يوم عرفة، وخير ما قلتُ أنا والنَّبيون من قبلي: لا إله إلا الله وحده لا شريكَ له، له الملك، وله الحمد، وهو على كل شيءٍ قدير (رواه الترمذى)

Sebaik-baik doa itu doa di hari Arafah. Dan sebaik-baik yang saya baca juga para Nabi sebelumku adalah: Laa ilaaha illa Allah wahdahu laa syariika lahu, lahu-l-mulku wa lahu-l-hamdu wa huwa ‘ala kulli syay-in qodiir” (HR. At-Tirmidzi)


Tanggal 10 Dzulhijjah
Ketika matahari sudah terbenam di hari Arofah, jamaah haji bertolak menuju Muzdalifah. Shalat Maghrib dan Isya dilakukan di Muzdalifah secara jamak dan qoshor. Dan, terus berada di sini hingga datang waktu Shubuh.
Setelah shalat Shubuh dan ufuk berwarna kuning dilanjutkan berangkat menuju Mina. Bagi yang kesulitan karena macet atau penuh sesak maka diperbolehkan meninggalkan Muzdalifah sebelum Shubuh. Disebutkan di dalam Hadits,

نَزَلْنَا المُزْدَلِفَةَ، فَاسْتَأْذَنَتِ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ سَوْدَةُ أنْ تَدْفَعَ قَبْلَ حَطْمَةِ النَّاسِ -وكَانَتِ امْرَأَةً بَطِيئَةً- فأذِنَ لَهَا، فَدَفَعَتْ قَبْلَ حَطْمَةِ النَّاسِ، وأَقَمْنَا حتَّى أصْبَحْنَا نَحْنُ، ثُمَّ دَفَعْنَا بدَفْعِهِ، فَلَأَنْ أكُونَ اسْتَأْذَنْتُ رَسولَ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كما اسْتَأْذَنَتْ سَوْدَةُ، أحَبُّ إلَيَّ مِن مَفْرُوحٍ بهِ (رواه البخارى عن عائشة)

Kami turun di Muzdalifah. Saudah meminta izin kepada Nabi shallahu’alaihi wasallam untuk bertolak (menuju Mina) sebelum padatnya manusia. Dia itu seorang wanita yang sudah lambat. Nabi mengizinkannya. Dia lalu bertolak sebelum padatnya manusia. Adapun kami menetap hingga pagi hari. Kami baru bertolak ketika beliau shallahu’alaihi wasallam bertolak. )Ketika melihat penuh sesaknya manusia) Jika saya meminta izin sebagaimana Saudah tentu lebih saya sukai dibandingkan bergembiranya dia dari berbagai sisi manapun (HR. Bukhari dari Aisyah)
Selanjutnya ke Mina. Begitu sampai langsung bersegera melempar jumroh ‘Aqobah terlebih dahulu dengan tujuh kerikil sebelum melakukan apapun. Setiap lontaran kerikil dibarengi dengan bacaan takbir. Berikutnya menyembelih hadyu lalu mencukur atau memendekkan rambut. Tetapi, mencukur lebih utama. Bagi wanita, memendekkan seluruh ujung rambutnya seukuran satu ruas jari. Dengan rangkaian ibadah ini berarti sudah TAHALLUL AWAL di mana perkara yang dilarang selama ihram telah diperbolehkan kecuali jima’.
MARI KITA BERHENTI SEJENAK UNTUK PENEGASAN MATERI !! Coba perhatikan ibadah apa saja yang dilakukan oleh jamaah haji pada tanggal 10 Dzulhijjah?
a. Melontar jumroh ‘Aqobah
b. Menyembelih hadyu
c. Mencukur atau memendekkan rambut
d. Thowaf
e. Sa’i
Demikianlah lima ibadah ini dilakukan secara berurutan. Tetapi jika tidak berurutan tidaklah mengapa. Ini kemudahan dari Allah ta’ala untuk para hamba-Nya. Misalnya:

#dari Muzdalifah ->ke Mekkah untuk thowaf dan sa’i -> lalu ke Mina untuk lontar jumrah. Ini tidak mengapa.

#dari Muzdalifah -> melontar jumroh -> mencukur -> menyembelih -> thowaf dan sa’i tidaklah mengapa.

#Dari Muzdalifah -> melontar jumroh -> menyembelih -> mencukur -> thowaf dan sa’i juga tidak mengapa.

Dari antara yang lima ini mana saja dilakukan terlebih dahulu tidaklah mengapa. Disebutkan di dalam Hadits,

النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَخْطُبُ يَومَ النَّحْرِ، فَقَامَ إلَيْهِ رَجُلٌ فَقَالَ: كُنْتُ أحْسِبُ أنَّ كَذَا قَبْلَ كَذَا، ثُمَّ قَامَ آخَرُ فَقَالَ: كُنْتُ أحْسِبُ أنَّ كَذَا قَبْلَ كَذَا، حَلَقْتُ قَبْلَ أنْ أنْحَرَ، نَحَرْتُ قَبْلَ أنْ أرْمِيَ، وأَشْبَاهَ ذلكَ، فَقَالَ النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: افْعَلْ ولَا حَرَجَ، لهنَّ كُلِّهِنَّ، فَما سُئِلَ يَومَئذٍ عن شيءٍ إلَّا قَالَ: افْعَلْ ولَا حَرَجَ (رواه البخارى ومسلم عن عبد الله بن عمرو)

Nabi shallahu’alaihi wasallam berkhutbah pada hari Nahr. Ada seseorang yang mendekati beliau dan bertanya: “Saya kira ini harus dilakukan sebelum ini”. Ada yang berdiri lagi dan berkata: Saya kira ini harus dilakukan sebelum ini”. “Saya telah cukur sebelum menyembelih”. “Saya telah meyembelih sebelum melontar” dan perkataan-perkataan lainnya. Beliau shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Lakukanlah keseluruhannya (mulai dari yang mana saja) tidak mengapa”. Tidaklah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya lagi melainkan pasti bersabda: “Lakukanlah tidak mengapa(HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah Ibnu Amr)
Rangkaian ibadah berikutnya adalah mabit di Mina di malam 11 dan 12. Bagi yang ingin melanjutkan hingga malam ke-13, maka itu lebih utama. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَاذْكُرُواْ اللّهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ فَمَن تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَن تَأَخَّرَ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ [البقرة:203]

“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. Barangsiapa yang ingin segera berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya, bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya” (QS. Al-Baqoroh: 203)

Judul buku : PANDUAN PRAKTIS HAJI & UMROH Dilengkapi 40 permasalahan penting

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>