qiron – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Thu, 14 Aug 2025 07:12:11 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png qiron – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 Hukum Menunda Penyembelihan Hadyu hingga Melewati Hari Tasyrik https://nidaulfithrah.com/hukum-menunda-penyembelihan-hadyu-hingga-melewati-hari-tasyrik/ Thu, 14 Aug 2025 07:11:57 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=20304 Sumber : (https://www.islamweb.net/ar/fatwa/125396/)

Teks Arab

حكم تأخير ذبح الهدي عن أيام التشريق

السؤال: فضل الله أديت فريضة الحج منذ عدة سنين، ودفعت ثمن الأضحية مسبقا مع تكاليف الفريضة، ولكن عن طريق الخطأ والجهل لم أعط إيصال الأضحية إلا بعد انتهاء المناسك. ولا أدري هل ضحيت أم لا؟ وعلى الأغلب لا. فهل يجب علي إعادة الحج أم القضاء في الأضحية مع الكفارة أم ماذا أفعل؟ مع الأخذ بالعلم أنه ليس بقدرتي الإعادة لعدم توفر المال. أرجو الإفادة؟

الإجابة: لحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

فالأضحية ليست واجبة على الحاج سواء حج متمتعا أو قارنا أو مفردا، وإنما يجب على المتمتع والقارن الهدي. ولم يتبين لنا المقصود بقول السائل أنه لم يدفع الإيصال. وعلى كل فهدي القران أو التمتع واجب من واجبات الحج، وليس ركنا من أركانه، والحج لا يفسد بترك الهدي. فليس عليك إعادة الحج وحجك صحيح إجماعا. وإذا كنت حججت متمتعا أو قارنا وقد دفعت ثمن الهدي لجهة موثوق بها لتتولى الذبح عنك فقد أديت الواجب. ولا حرج عليك في تأخير تسليم الإيصال إذا لم يترتب على التأخير عدم الذبح، وأما إذا ترتب على تأخير تسليم الإيصال أن الجهة التي وكلتها لم تذبح عنك حتى انتهت أيام التشريق، فمن فاته ذبح الهدي في وقته المشروع فإنه يذبحه بعد ذلك إن تيسر فيرسل إلى مكة من يشتري له هديا ويذبحه.

قال ابن باز رحمه الله كما في مجموع فتاواه: ومن فاتته الأيام ولم يذبح هديه إما عاجزا ، أو لم يحصل الدراهم إلا بعد الحج ، أو ضل هديه ووجده فيما بعد ، أو اقترض واشترى فإنه يذبح ولو بعد الأيام ، كالقضاء….اهـ

وقال ابن عثيمين فيمن نسي أن يذبح الهدي وسافر عن مكة : … الذي لم يفعل فيجب عليه الآن أن يبعث بدراهم إلى أحدٍ يعرفه في مكة ليشتري له شاةً ويذبحها هناك في مكة. انتهى كما في فتاوى نور على الدرب .

والله أعلم.

Terjemahan teks Arab

Pertanyaan: Karunia Allah ta’ala, saya telah menunaikan kewajiban haji sejak beberapa tahun yang lalu. Saya telah membayar biaya qurban bersamaan dengan biaya haji. Tetapi, disebabkan kesalahan dan kebodohan saya tidak menyerahkan bukti pembayaran qurban hingga selesai pelaksanaan haji. Saya tidak tahu apakah sudah berqurban atau belum? Dugaan besar saya, belum. Apakah wajib bagi saya untuk mengulangi haji ataukah meng-qodho qurban dengan membayar kaffarah atau apakah yang harus saya lakukan? Sebagai informasi, saya tidak punya kemampuan untuk mengulangi haji karena terbatasnya keuangan saya. Mohon petunjuknya? (Yang dimaksud dengan qurban di sini adalah hadyu, Pent.)

Jawab:

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد

Qurban tidaklah wajib bagi orang yang berhaji baik haji tamattu’, qiron ataupun ifrod. Tetapi yang wajib bagi haji tamattu’ dan qiron adalah hadyu. Kami tidak paham maksud dari penanya bahwa ia tidak menyerahkan kwitansi bukti pembayaran. Intinya, hadyu bagi haji qiron dan tamattu’ termasuk perkara yang wajib dari antara kewajiban-kewajiban lainnya. Bukan rukun dari antara rukun-rukunnya. Haji tidaklah rusak disebabkan tidak menyembelih hadyu, maka Anda tidak perlu mengulangi haji. Haji Anda sah berdasarkan ijma’ ulama. Jika Anda berhaji tamattu’ atau qiron dan telah membayar biaya hadyu melalui jalur yang terpercaya bahwa hadyu benar-benar ditunaikan maka Anda telah menunaikan perkara yang wajib ini. Tertundanya penyerahan kwitansi tidaklah masalah jika tidak berdampak pada tiadanya penyembelihan hadyu. Tetapi jika berdampak, dimana penyembelihan hadyu belum ditunaikan hingga berakhirnya hari tasyrik, maka barangsiapa yang terlewatkan dari waktu yang disyareatkan ini dia harus mentransfer sejumlah uang kepada orang yang akan membelikannya di Makkah lalu menyembelihnya.

Ibnu Baz rahima hullah mengatakan sebagaimana disebutkan di dalam kitab “Majmu’ Fatawa” nya: Barangsiapa yang terlewatkan dari menyembelih hadyu di hari tasyrik disebabkan tidak mampu atau uangnya tidak mencukupi hingga selesai musim haji atau binatangnya hilang dan tidak ditemukan hingga habisnya musim haji maka dia wajib menyembelih meskipun musim haji telah berakhir sebagai qodho. 

Ibnu Utsaimin mengatakan: Barangsiapa yang lupa menyembelih hadyu dan sudah meninggalkan Makkah…. dan belum melakukan penyembelihan hadyu maka dia wajib mentransfer uang kepada seseorang yang di kenalnya di Makkah agar membelikan kambing untuknya lalu disembelih di sana di Makkah [selesai, di dalam ‘Fatawa Nur ‘ala-d-Darbi”]. Allahu A’lam.

Judul buku : Terkadang Ditanyakan 25

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
PANDUAN PRAKTIS HAJI & UMROH (Bag. 5 Fidyah sepadan) https://nidaulfithrah.com/panduan-praktis-haji-umroh-bag-5-fidyah-sepadan/ Fri, 07 Mar 2025 05:27:04 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19723 menyembelih kambingBerburu keledai liar -> menyembelih sapiBerburu burung onta -> menyembelih ontaDan yang lainnya yang sepadan […]]]> c. Fidyah sepadan: Berburu binatang. Fidyahnya salah satu dari tiga perkara berikut ini:
a.] Menyembelih binatang dari antara 3 hewan qurban; onta, sapi atau kambing sepadan dengan yang diburu. Lalu dibagikan kepada fakir miskin di tanah Haram.
Contoh: Berburu rusa -> menyembelih kambing
Berburu keledai liar -> menyembelih sapi
Berburu burung onta -> menyembelih onta
Dan yang lainnya yang sepadan sebagaimana sudah dijelaskan oleh ahli fiqih.
b.] Memberi makan. Caranya: membeli makanan senilai harga binatang fidyahnya lalu dibagikan kepada fakir miskin. Masing-masing setengah sha’.
c.] Berpuasa. Caranya: Lihatlah berapa jumlah fakir miskin yang harus diberi makanan. Sejumlah mereka, berpuasa untuk tiap satu orang puasa sehari.
Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَقْتُلُوا۟ ٱلصَّيْدَ وَأَنتُمْ حُرُمٌ ۚ وَمَن قَتَلَهُۥ مِنكُم مُّتَعَمِّدًا فَجَزَآءٌ مِّثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ ٱلنَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِۦ ذَوَا عَدْلٍ مِّنكُمْ هَدْيًۢا بَٰلِغَ ٱلْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّٰرَةٌ طَعَامُ مَسَٰكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَٰلِكَ صِيَامًا لِّيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِۦ ۗ عَفَا ٱللَّهُ عَمَّا سَلَفَ ۚ وَمَنْ عَادَ فَيَنتَقِمُ ٱللَّهُ مِنْهُ ۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ ذُو ٱنتِقَامٍ (المائدة:95)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak sepadan dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai hadyu yang dibawa sampai ke Ka’bah atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin atau berpuasa sepadan dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa (QS. Al-Maidah:95)

d. Fidyah adzaa: Cukur rambut, potong kuku, menutup kepala dengan sesuatu yang menempel. mengenakan pakaian membentuk badan, mengenakan parfum, memakai niqob dan kaos tangan.
Fidyahnya: memilih dari antara tiga pilihan; menyembelih kambing lalu dibagikan kepada fakir miskin, memberi makan enam orang miskin setiap orang setengah sha’, atau berpuasa tiga hari. Fidyah ini disebut fidyah adzaa sebagaimana disebutkan di dalam al-Qur’an,

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ بِهِۦٓ أَذًى مِّن رَّأْسِهِۦ فَفِدْيَةٌ مِّن صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ (البقرة: 196)

“Jika ada di antara kalian yang sakit atau ada gangguan (adzaa) di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah baginya berfidyah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berqurban” (QS. Al-Baqoroh: 196)
Catatan: Mengenakan niqob/cadar bagi wanita adalah pelanggaran, tentunya dikenakan fidyah. Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda dalam Hadits Abdullah Ibnu Umar,

لا تَتَنَقَّبِ المُحْرِمَةُ، ولَا تَلْبَسِ القُفَّازَيْنِ (رواه البخارى ومسلم)

“Janganlah seorang wanita yang sedang berihram mengenakan niqob, jangan pula mengenakan kaos tangan(HR. Bukhari dan Muslim)
Tetapi jika ia menutupkan wajahnya dengan kerudung (bukan niqob) karena adanya lelaki lain yang bukan mahramnya maka diperbolehkan. Disebutkan di dalam Hadits Aisyah radhiallahu’anha,

كان الرُّكبانُ يَمُرُّون بنا ونحن مع رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم مُحْرِماتٌ فإذا حاذُوا بنا أَسدَلَتْ إحدانا جِلْبابَها من رأسِها على وجهِها (رواه أبو داود وأبن ماجه وأحمد)

“Rombongan lelaki melewati kami yang sedang berihram bersama Rasulullah shallahu’alaihi wasallam. Ketika mereka berada di hadapan kami salah seorang dari kami menjulurkan jilbabnya dari atas kepalanya menutup wajahnya(HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad)
Jika seseorang melakukan satu jenis pelanggaran secara berulang sebelum menunaikan fidyah, maka hanya dikenakan sekali fidyah. Contoh berulang kali memotong kuku, maka hanya dikenakan satu fidyah. Tetapi kalau pelanggarannya pada jenis yang berbeda-beda seperti potong kuku, menutup kepala, memakai wewangian maka masing-masing ada fidyahnya. Untuk berburu binatang pada setiap kali berburu satu fidyah.
Penjelasan di atas adalah fidyah untuk pelanggaran dalam ihram. Adapun orang yang meninggalkan wajib haji, maka fidyahnya menyembelih seekor kambing, jika tidak mendapatkannya maka sepuluh hari ( 3 hari di Haram, dan 7 hari di daerahnya)

D. Macam-Macam Haji

a. Haji tamattu’
Penjelasannya sebagaimana telah kita bahas di atas. Yaitu seseorang melaksanakan umroh terlebih dahulu hingga selesai lalu ber-tahallul. Lalu menunggu tanggal 8 Dzulhijjah untuk pelaksanaan haji hingga selesai lalu ber-tahallul.

b. Haji qiron
Seseorang berniat haji dan umroh sekaligus dari miqot yang telah ditentukan. Lafazh niatnya,

لبيك حجا وعمرة

Sesampainya di Makkah, melakukan thowaf qudum. Thowaf ini hukumnya sunnah jika tidak dikerjakan tidaklah mengapa. Setelah thowaf melakukan sa’i. Seusai sa’i menunggu tanggal 8 Dzulhijjah untuk mabit di Mina dan seterusnya. Setelah lontar jumroh ‘Aqobah tanggal 10 Dzulhijjah menyembelih hadyu dan mencukur/memendekkan yang berarti sudah tahallul. Dengan memakai pakaian biasa, dia berangkat ke Makkah untuk thowaf ifadhah lalu sa’i jika belum dilakukan bersamaan dengan thowaf qudum. Setelah itu kembali ke Mina untuk mabit di sana tanggal 11, 12 dan 13. Pada siang harinya melakukan lontar tiga jumroh sebagaimana sudah dijelaskan di atas. Ibadah yang terakhir adalah thowaf wada’ sebelum kepulangannya ke negara masing-masing.

c. Haji ifrod
Jenis ini, seseorang hanya melakukan ibadah haji tanpa umroh. Pelaksanaannya sama persis sebagaimana haji qiron. Perbedaannya hanya ada pada dua hal saja, yaitu:
a.] Niat. Lafazh niatnya

لبيك حجا

b.] Hadyu. Pada haji qiron dikenakan hadyu, sementara pada haji ifrod tidak dikenakan hadyu.

Judul buku : PANDUAN PRAKTIS HAJI & UMROH Dilengkapi 40 permasalahan penting

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>