ohkematian – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Fri, 27 Dec 2024 04:26:15 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png ohkematian – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 Oh..Kematian?! (Jasad Seluruh Nabi Utuh, Tidak Hancur Setelah Kematiannya Bag. Penutup) https://nidaulfithrah.com/oh-kematian-jasad-seluruh-nabi-utuh-tidak-hancur-setelah-kematiannya-bag-penutup/ Fri, 27 Dec 2024 04:26:14 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19439 H. Jasad Seluruh Nabi Utuh, Tidak Hancur Setelah Kematiannya
Seluruh jasad manusia di dalam liang lahad akan rusak dan hancur yang tersisa hanyalah tulang ekor, kecuali jasad para Nabi ‘alaihimussalam. Disebutkan di dalam Hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu,

كلُّ ابنِ آدمَ يأْكلُهُ التُّرابُ إلاَّ عجبَ الذَّنبِ منْهُ خلقَ وفيهِ يرَكَّبُ (رواه البخارى و مسلم)

Setiap anak Adam akan dimakan oleh tanah kecuali tulang ekornya. Darinya Allah menciptakan dan dengannya akan disusun kembali (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam Hadits Aus bin Abu Aus radhiallahu’anhu,

إنَّ اللَّهَ عزَّ وجلَّ حرَّمَ علَى الأرضِ أجسادَ الأنبياءِ (رواه أبو داود)

“Sesungguhnya azzawajalla mengharamkan bumi dari (memakan) jasad para Nabi (HR. Abu Daud)

Jadi, tegasnya hanya jasad Nabi saja yang tidak hancur, karena Allah ta’ala telah mengharamkan bumi untuk memakannya

Lalu bagaimana dengan jasad syuhada?
Tidak ada dalil tentang utuhnya jasad syuhada. Yang ada hanya jasad para Nabi. Namun, dalam kenyataannya tidak sedikit dijumpai jasad syuhada masih tetap utuh meskipun telah terkubur dalam tanah dalam kurun waktu yang sangat lama. Seperti dalam Riwayat Jabir bin Abdullah radhiallahu’anhu berikut ini,

لَمَّا حَضَرَ أُحُدٌ دَعَانِي أبِي مِنَ اللَّيْلِ، فَقالَ: ما أُرَانِي إلَّا مَقْتُولًا في أوَّلِ مَن يُقْتَلُ مِن أصْحَابِ النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، وإنِّي لا أتْرُكُ بَعْدِي أعَزَّ عَلَيَّ مِنْكَ، غيرَ نَفْسِ رَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فإنَّ عَلَيَّ دَيْنًا فَاقْضِ، واسْتَوْصِ بأَخَوَاتِكَ خَيْرًا، فأصْبَحْنَا، فَكانَ أوَّلَ قَتِيلٍ ودُفِنَ معهُ آخَرُ في قَبْرٍ، ثُمَّ لَمْ تَطِبْ نَفْسِي أنْ أتْرُكَهُ مع الآخَرِ، فَاسْتَخْرَجْتُهُ بَعْدَ سِتَّةِ أشْهُرٍ، فَإِذَا هو كَيَومِ وضَعْتُهُ هُنَيَّةً غيرَ أُذُنِهِ (رواه البخارى)

Ketika terjadi perang Uhud, pada suatu malamnya bapakku memanggilku seraya berkata,: “Tidaklah aku melihat diriku (menduga) melainkan aku akan menjadi orang yang pertama-tama gugur di antara para sahabat Nabi (dalam peperangan ini) dan aku tidak meninggalkan sesuatu yang berharga bagimu sepeninggalku melainkan diri Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam. Dan aku mempunyai hutang, maka lunasilah dan berilah nasehat yang baik kepada saudara-saudaramu yang perempuan”. Pada pagi harinya kami dapati bapakku adalah orang yang pertama gugur dan dikuburkan bersama dengan yang lain dalam satu kubur. Setelah itu perasaanku tidak nyaman dengan membiarkan dia bersama yang lain, maka kemudian aku keluarkan setelah enam bulan lamanya dari hari pemakamannya dan aku dapati jenazah bapakku masih utuh sebagaimana hari dia dikebumikan dan tidak ada yang berubah padanya kecuali sedikit pada ujung bawah telinganya (HR. Bukhari)
Dan, masih banyak lagi fenomena-fenomena masih utuhnya jasad mayat setelah dikubur sekian lama. Anda pun mungkin mendengar atau menjumpainya. Berikut ini penjelasan Syaikh Utsaimin,

أما الشهداء والصديقون والصالحون فهؤلاء قد لا تأكل الأرض بعضهم كرامة لهم، وإلا فالأصل أنها تأكله ولا يبقى إلا عجب الذنب انتهى

Adapun syuhada, shiddiqun, sholihun ketika bumi tidak memakan sebagian mereka adalah bentuk karomah untuk mereka. Jika tidak demikan, maka hukum asal jasad siapapun adalah dimakan oleh tanah kecuali tulang ekor [selesai].
Bagaimana jika diketahui bahwa jasad yang utuh tersebut bukanlah orang yang sangat shaleh selama hidupnya. Para ulama menjelaskan bahwa Nabi dan Rasul alaihimussalam lah yang tidak mungkin jasadnya dimakan oleh tanah karena Allah ta’ala mengharamkannya untuk memakan jasad mereka. Namun, bukan berarti setiap mayat muslim yang jasadnya utuh disamakan seperti Rasul dalam ketaqwaan dan keshalehannya. Tidak ada dalil atau Nash yang menunjukkan demikian. Tidak juga ada unsur untuk meng-qiyas-kan yang demikian itu.. Adakalanya hal itu disebabkan faktor-faktor alam yang menjadikan mayat terawetkan secara alami, sebagaimana halnya mayat yang meninggal di pegunungan es, atau mayat yang dibalsem untuk dijadikan mummi. Kalau ada mayat orang kafir yang masih utuh jasadnya maka tidak lain karena faktor ini.


I. Adab-Adab Terhadap Mayat

  1. Bersabar untuk terus men-talqin-nya yaitu menuntunnya dengan kalimat “Laa ilaaha Illa Allah”. Dalam Hadits Abu Sa’id Al-Hudhri dan Abu Hurairah Nabi Shallahu’alaihi wsallam bersabda ,

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ (رواه مسلم وأبو داود والترمذى والنسائى وابن ماجه)

Talqinlah orang yang akan meninggal di antara kalian dengan “Laa Ilaaha illa Allah(HR. Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

2. Ketika ruhnya terlepas dari jasadnya, segera matanya dipejamkan dan didoakan. Disebutkan di dalam Hadits Ummu Salamah radhiallahu’anhu ,

دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَبِي سَلَمَةَ وَقَدْ شَقَّ بَصَرُهُ فَأَغْمَضَهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الرُّوحَ إِذَا قُبِضَ تَبِعَهُ الْبَصَرُ فَضَجَّ نَاسٌ مِنْ أَهْلِهِ فَقَالَ لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلَّا بِخَيْرٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَبِي سَلَمَةَ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّينَ وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ فِي الْغَابِرِينَ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ (رواه مسلم)

Ketika Abu Salamah meninggal, Rasulullah shallahu’alaihi wasallam datang ke rumah kami untuk menjenguk jenazahnya. Saat itu, mata Abu Salamah tengah terbelalak, maka beliau menutupnya. Kemudian beliau bersabda: “Apabila ruh telah dicabut, maka penglihatan akan mengikutinya” dan keluarganya pun meratap histeris. Maka, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Janganlah sekali-kali mendoakan atas diri kalian kecuali kebaikan, sebab ketika itu Malaikat akan mengaminkan apa yang kalian ucapkan”. Setelah itu, beliau berdoa: “ALLAHUMMAGHFIR LI ABI SALAMAH WARFA’ DARAJATAHU FIL MAHDIYYIIN WAKHLUFHU FI ‘AQIBIHI FIL GHAABIRIIN, W-AGH-FIR LANAA WA LAHU YAA RABBA-L- ‘ALAMIIN, WA-F-SAH LA HU FII QABRIHI WA NAWWIR LAHU FIIHI (Ya Allah, ampunilah Abu Salamah, tinggikan derajatnya di kalangan orang-orang yang terpimpin dengan petunjuk-Mu dan gantilah ia bagi keluarganya yang ditinggalkannya. Ampunilah kami dan ampunilah dia. Wahai Rabb semesta alam. Lapangkanlah kuburnya dan terangilah dia di dalam kuburnya).(HR. Muslim)

3. Menutupkan kain ke seluruh tubuhnya

أنَّ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ حِينَ تُوُفِّيَ سُجِّيَ ببُرْدٍ حِبَرَةٍ (رواه البخارى عن عائشة)

Rasulullah shallahu’alaihi wasallam ketika wafat, beliau ditutupi dengan kain hibarah (kain yang bergaris) (HR. Bukhari dari ‘Aisyah)

4. Menyegerakan pengurusannya mulai dari memandikan hingga memakamkan

أسرِعُوا بالجنازَةِ ، فإنْ تكُ صالِحةً فخيرٌ تُقدِّمُونَها إليه ، وإنْ تَكُ سِوَى ذلكَ فشَرٌّ تَضعونَهُ عن رِقابِكمْ (رواه البخارى ومسلم عن أبى هريرة)

“Bersegerah (di dalam mengurus) jenazah, karena bila jenazah itu dari orang shalih berarti kalian telah mempercepat kebaikan untuknya dan jika tidak, berarti kalian telah menyingkirkan kejelekan dari pundak kalian” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

5. Segera menunaikan hutang-hutangnya dari hartanya meskipun habis keseluruhannya.
Disebutkan di dalam Hadits Jabir radhiallahu ‘anhu ,

تُوفِّيَ رَجُلٌ مِنَّا، فغسَّلْناه، وحنَّطْناه، وكفَّنَّاه، ثم أَتَيْنا به رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فقُلنا: تُصلِّي عليه؟ فخَطا خُطًى، ثم قال: أعليه دَينٌ؟ قلنا: دينارانِ، فانصَرَفَ، فتحَمَّلَهما أبو قَتادَةَ، فقال أبو قَتادَةَ: الدِّنيارانِ عليَّ، فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: حَقُّ الغَريمِ، وبَرِئَ منهما الميِّتُ؟ قال: نَعَمْ، فصلَّى عليه

Ada seorang laki-laki di antara kami meninggal dunia, lalu kami memandikannya, membubuhkan wewangian padanya, dan mengkafaninya. Kemudian kami mendatangi Rasulullah shallahu’alaihi wasallam dan kami tanyakan: Apakah baginda akan menyolatkannya?. Beliau melangkah beberapa langkah kemudian bertanya: “Apakah ia mempunyai hutang?”. Kami menjawab: Dua dinar. Lalu beliau kembali. Maka Abu Qotadah menanggung hutang tersebut. Ketika kami mendatanginya; Abu Qotadah berkata: Dua dinar itu menjadi tanggunganku. Lalu Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Betul-betul engkau tanggung dan mayit itu terbebas darinya.” Ia menjawab: Ya. Maka beliau menyolatkannya. (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Nasa’i) Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Hakim.

J. Niyahah, Perkara yang Diharamkan bagi Keluarga Mayat
Niyahah yaitu meratapi mayat disebabkan sedih yang berlebihan. Disebutkan di dalam Hadits,

أَرْبَعٌ في أُمَّتي مِن أمْرِ الجاهِلِيَّةِ لا يَتْرُكُونَهُنَّ: الفَخْرُ في الأحْسابِ، والطَّعْنُ في الأنْسابِ، والاسْتِسْقاءُ بالنُّجُومِ، والنِّياحَةُ. وقالَ: النَّائِحَةُ إذا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِها، تُقامُ يَومَ القِيامَةِ وعليها سِرْبالٌ مِن قَطِرانٍ، ودِرْعٌ مِن جَرَبٍ.(رواه مسلم عن أبو مالك الأشعري)

“Ada empat perkara jahiliyah yang masih melekat pada umatku dan mereka belum meninggalkannya: Membanggakan kedudukan, mencela nasab (garis keturunan), meminta hujan dengan bintang-bintang, dan niyahah (meratapi mayit).” Dan beliau bersabda: “Orang yang meratapi mayit, jika ia belum bertaubat sebelum ajalnya tiba maka pada hari kiamat ia akan dibangkitkan dengan memakai baju terbuat dari tir dan memakai tameng dari kudis (kulitnya dipenuhi kudis, Pent.).” (HR. Muslim dari Abu Malik al-Asy’ari)
Niyahah bisa berupa:
a. Menampar-nampar pipi, merobek-robek baju, sebagaimana sabda Nabi shallahu’alaihi wasallam,

ليسَ مِنَّا مَن ضَرَبَ الخُدُودَ، أوْ شَقَّ الجُيُوبَ، أوْ دَعا بدَعْوَى الجاهِلِيَّةِ (رواه البخارى ومسلم عن عبدالله بن مسعود)

“Bukan dari golongan kami siapa yang memukul-mukul pipi, merobek-robek baju dan menyeru dengan seruan jahiliyyah (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud).
b. Menggundul rambut kepala.

وَجِعَ أَبُو مُوسَى وجَعًا شَدِيدًا، فَغُشِيَ عليه ورَأْسُهُ في حَجْرِ امْرَأَةٍ مِن أَهْلِهِ، فَلَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَرُدَّ عَلَيْهَا شيئًا، فَلَمَّا أَفَاقَ، قالَ: أَنَا بَرِيءٌ مِمَّنْ بَرِئَ منه رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، إنَّ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: بَرِئَ مِنَ الصَّالِقَةِ والحَالِقَةِ والشَّاقَّةِ (رواه البخارى عن أبى موسى الأشعرى)

“Abu Musa merasakan sakit hingga jatuh pingsan sementara kepalanya menyandar dalam pangkuan seorang wanita dari keluarganya, wanita itu pun berteriak histeris sementara ia (Abu Musa) tidak bisa melakukan apa-apa (karena pingsan). Ketika sadar, maka [Abu Musa] pun berkata, ‘Saya berlepas diri dari tindakan yang mana Rasulullah shallahu’alaihi wasallam berlepas diri darinya. Sesungguhnya Rasulullah shallahu’alaihi wasallam berlepas diri dari wanita yang berteriak-teriak ketika terjadi musibah, dan yang memotong-motong rambut, serta menyobek-nyobek baju.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari)
c. Mengurai rambut

كانَ فيما أخذَ علَينا رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ في المعروفِ الَّذي أخذَ علَينا: أن لا نَعصيَهُ فيهِ أن لا نَخمِشَ وجهًا ولا ندعوَ ويلًا ولا نَشُقَّ جيبًا ولا ننشرَ شَعرًا (رواه أبوداود عن امرأة من المبايعات )

“Diantara yang Rasulullah shallahu’alaihi wasallam wajibkan atas kami dari perkara yang ma’ruf adalah kami tidak bermaksiat kepadanya, dan tidak mencakar wajah, tidak menyerukan kebinasaan, dan tidak merobek saku, serta tidak mengacak-acak rambut(HR. Abu Daud dari seorang wanita yang berbai’at) .

K. Penutup
Semoga tulisan ini bisa menginspirasi kita semua untuk lebih berhati-hati di dalam menjalani kehidupan ini dan lebih banyak memikirkan untuk bekal kematian kita. Sehingga kita mendapatkan ampunan dan rahmat Allah ta’ala. Amin. Alhamdulillahi Robb-l- ‘alamin.

Referensi:

  1. Al-Wajiz fi Fiqhi-s-Sunnah wa-l-Kitabi-l- ‘Aziz oleh Syaikh Dr. Abdul Azhim Badawi
  2. Ushul fi-t-tafsir oleh Syaikh Al-Utsaimin
  3. Tafsir Ath-Thobari
  4. Tafsir Ibnu Katsir
  5. Tafsir As-Sa’di
  6. Tafsir Al Wasith
  7. https://dorar.net/hadith/sharh
  8. Islamweb.net
  9. Islamqa.info
  10. https://midad.com/article/223092/
  11. https://almoslim.net/node/83879
  12. https://khutabaa.com/ar/article
  13. https://al-maktaba.org/book/
  14. https://shamela.ws/book/9953/40

Judul buku : Oh..Kematian?!

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Oh..Kematian?! (Nikmat dan Adzab Kubur Bag. 6) https://nidaulfithrah.com/oh-kematian-nikmat-dan-adzab-kubur-bag-6/ Wed, 25 Dec 2024 03:00:34 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19433 G. Nikmat dan Adzab Kubur

Pertama : Keniscayaan nikmat dan adzab Kubur
Nikmat dan adzab kubur adalah haq, benar adanya dan kita harus mengimaninya. Berikut ini dalil-dalil tentangnya;

أن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ قال “المسلمُ إذا سُئِلَ في قبره فشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدًا رسول الله” فذلك قول الله “يُثَبِّتُ اللهُ الذينَ آمنوا بالقَوْلِ الثَّابِتِ في الحياةِ الدُّنْيَا وفي الآخرَةِ). وفي لفظٍ: نزلتْ في عذاب القبر، يُقال له: مَنْ ربك؟ فيقول: الله ربي ومحمد نَبِيِّي، فذلك قول الله: (يُثَبِّتُ اللهُ الذينَ آمنوا بالقولِ الثابتِ في الحياةِ الدنيا وفي الآخرة” (إبراهيم: 27). (رواه البخاري ومسلم وأصحاب السنن)

Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Seorang muslim apabila ditanya di dalam kubur, maka akan bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah. itulah firman Allah yang berbunyi: “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di Akhirat.” (Ibrahiim: 27). Di dalam lafazh lain: Ayat ini turun berkenaan dengan adzab kubur, dikatakan kepadanya: Siapa Tuhanmu? Dia menjawab: Allah Tuhanku dan Muhammad Nabiku. Yang demikian itu sebagaimana firman Allah ta’alaAllah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di Akhirat.” (Ibrahiim: 27) (HR. Bukhari, Muslim dan Ash-habu-s-Sunan)

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْعَبْدُ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَتُوُلِّيَ وَذَهَبَ أَصْحَابُهُ حَتَّى إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ فَأَقْعَدَاهُ فَيَقُولَانِ لَهُ مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُ أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ فَيُقَالُ انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنْ النَّارِ أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنْ الْجَنَّةِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا وَأَمَّا الْكَافِرُ أَوْ الْمُنَافِقُ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ فَيُقَالُ لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَقَةٍ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أُذُنَيْهِ فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ (رواه البخارى ومسلم عن أنس بن مالك)

“Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Jika jenazah sudah diletakkan di dalam kuburnya dan teman-temannya sudah berpaling dan pergi meninggalkannya, dia mendengar gerak langkah sandal sandal mereka, maka akan datang kepadanya dua Malaikat yang keduanya akan mendudukkannya seraya keduanya berkata kepadanya: “Apa yang kamu komentari tentang laki-laki ini, Muhammad shallahu’alaihi wasallam?”. Maka jenazah itu menjawab: “Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya”. Maka dikatakan kepadanya: “Lihatlah tempat dudukmu di Neraka yang Allah telah menggantinya dengan tempat duduk di Surga”. Nabi shallahu’alaihi wasallam selanjutnya berkata,: “Maka dia dapat melihat keduanya”. Adapun (jenazah) orang kafir atau munafiq akan menjawab: “Aku tidak tahu, aku hanya berkata, mengikuti apa yang dikatakan kebanyakan orang”. Maka dikatakan kepadanya: “Kamu tidak mengetahuinya dan tidak mengikuti orang yang mengerti”. Maka kemudian dia dipukul dengan palu godam besar terbuat dari besi diantara kedua telinganya sehingga mengeluarkan suara teriakan yang dapat didengar oleh yang ada di sekitarnya kecuali oleh dua makhluk (jin dan manusia)(HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik).

أن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ مَرَّ بقبور ثم قال: “إن هذه الأمة تُبْتَلَى في قبورها، فلولا ألا تُدافنوا لَدَعَوْتُ الله أن يُسمعكم من عذاب القبر الذي أَسَمَعُ منه” ثم قال: “تَعَوَّذُوا بالله من عذاب القبر” (رواه مسلم)

“Nabi shallahu’alaihi wasallam melewati kuburan, beliau bersabda: Sesungguhnya ummat ini akan diuji di kuburnya. Seandainya kalian tidak saling menguburkan niscaya saya akan berdoa kepada Allah ta’ala agar memperdengarkan kepada kalian adzab kubur sebagaimana yang saya dengar. Lalu beliau bersabda: Berlindunglah kalian dari adzab kubur” (HR. Muslim)

كانَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذَا صَلَّى صَلَاةً أقْبَلَ عَلَيْنَا بوَجْهِهِ فَقالَ: مَن رَأَى مِنْكُمُ اللَّيْلَةَ رُؤْيَا؟ قالَ: فإنْ رَأَى أحَدٌ قَصَّهَا، فيَقولُ: ما شَاءَ اللَّهُ فَسَأَلَنَا يَوْمًا فَقالَ: هلْ رَأَى أحَدٌ مِنكُم رُؤْيَا؟ قُلْنَا: لَا، قالَ: لَكِنِّي رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ رَجُلَيْنِ أتَيَانِي فأخَذَا بيَدِي، فأخْرَجَانِي إلى الأرْضِ المُقَدَّسَةِ، فَإِذَا رَجُلٌ جَالِسٌ، ورَجُلٌ قَائِمٌ، بيَدِهِ كَلُّوبٌ مِن حَدِيدٍ قالَ بَعْضُ أصْحَابِنَا عن مُوسَى: إنَّه يُدْخِلُ ذلكَ الكَلُّوبَ في شِدْقِهِ حتَّى يَبْلُغَ قَفَاهُ، ثُمَّ يَفْعَلُ بشِدْقِهِ الآخَرِ مِثْلَ ذلكَ، ويَلْتَئِمُ شِدْقُهُ هذا، فَيَعُودُ فَيَصْنَعُ مِثْلَهُ، قُلتُ: ما هذا؟ قالَا: انْطَلِقْ، فَانْطَلَقْنَا حتَّى أتَيْنَا علَى رَجُلٍ مُضْطَجِعٍ علَى قَفَاهُ ورَجُلٌ قَائِمٌ علَى رَأْسِهِ بفِهْرٍ – أوْ صَخْرَةٍ – فَيَشْدَخُ به رَأْسَهُ، فَإِذَا ضَرَبَهُ تَدَهْدَهَ الحَجَرُ، فَانْطَلَقَ إلَيْهِ لِيَأْخُذَهُ، فلا يَرْجِعُ إلى هذا حتَّى يَلْتَئِمَ رَأْسُهُ وعَادَ رَأْسُهُ كما هُوَ، فَعَادَ إلَيْهِ، فَضَرَبَهُ، قُلتُ: مَن هذا؟ قالَا: انْطَلِقْ فَانْطَلَقْنَا إلى ثَقْبٍ مِثْلِ التَّنُّورِ، أعْلَاهُ ضَيِّقٌ وأَسْفَلُهُ واسِعٌ يَتَوَقَّدُ تَحْتَهُ نَارًا، فَإِذَا اقْتَرَبَ ارْتَفَعُوا حتَّى كَادَ أنْ يَخْرُجُوا، فَإِذَا خَمَدَتْ رَجَعُوا فِيهَا، وفيهَا رِجَالٌ ونِسَاءٌ عُرَاةٌ، فَقُلتُ: مَن هذا؟ قالَا: انْطَلِقْ، فَانْطَلَقْنَا حتَّى أتَيْنَا علَى نَهَرٍ مِن دَمٍ فيه رَجُلٌ قَائِمٌ علَى وسَطِ النَّهَرِ – قالَ يَزِيدُ، ووَهْبُ بنُ جَرِيرٍ: عن جَرِيرِ بنِ حَازِمٍ – وعلَى شَطِّ النَّهَرِ رَجُلٌ بيْنَ يَدَيْهِ حِجَارَةٌ، فأقْبَلَ الرَّجُلُ الذي في النَّهَرِ، فَإِذَا أرَادَ أنْ يَخْرُجَ رَمَى الرَّجُلُ بحَجَرٍ في فِيهِ، فَرَدَّهُ حَيْثُ كَانَ، فَجَعَلَ كُلَّما جَاءَ لِيَخْرُجَ رَمَى في فيه بحَجَرٍ، فَيَرْجِعُ كما كَانَ، فَقُلتُ: ما هذا؟ قالَا: انْطَلِقْ، فَانْطَلَقْنَا حتَّى انْتَهَيْنَا إلى رَوْضَةٍ خَضْرَاءَ، فِيهَا شَجَرَةٌ عَظِيمَةٌ، وفي أصْلِهَا شيخٌ وصِبْيَانٌ، وإذَا رَجُلٌ قَرِيبٌ مِنَ الشَّجَرَةِ بيْنَ يَدَيْهِ نَارٌ يُوقِدُهَا، فَصَعِدَا بي في الشَّجَرَةِ، وأَدْخَلَانِي دَارًا لَمْ أرَ قَطُّ أحْسَنَ منها، فِيهَا رِجَالٌ شُيُوخٌ وشَبَابٌ، ونِسَاءٌ، وصِبْيَانٌ، ثُمَّ أخْرَجَانِي منها فَصَعِدَا بي الشَّجَرَةَ، فأدْخَلَانِي دَارًا هي أحْسَنُ وأَفْضَلُ فِيهَا شُيُوخٌ، وشَبَابٌ، قُلتُ: طَوَّفْتُمَانِي اللَّيْلَةَ، فأخْبِرَانِي عَمَّا رَأَيْتُ، قالَا: نَعَمْ، أمَّا الذي رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ، فَكَذَّابٌ يُحَدِّثُ بالكَذْبَةِ، فَتُحْمَلُ عنْه حتَّى تَبْلُغَ الآفَاقَ، فيُصْنَعُ به إلى يَومِ القِيَامَةِ، والذي رَأَيْتَهُ يُشْدَخُ رَأْسُهُ، فَرَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَنَامَ عنْه باللَّيْلِ ولَمْ يَعْمَلْ فيه بالنَّهَارِ، يُفْعَلُ به إلى يَومِ القِيَامَةِ، والذي رَأَيْتَهُ في الثَّقْبِ فَهُمُ الزُّنَاةُ، والذي رَأَيْتَهُ في النَّهَرِ آكِلُوا الرِّبَا، والشَّيْخُ في أصْلِ الشَّجَرَةِ إبْرَاهِيمُ عليه السَّلَامُ، والصِّبْيَانُ، حَوْلَهُ، فأوْلَادُ النَّاسِ والذي يُوقِدُ النَّارَ مَالِكٌ خَازِنُ النَّارِ، والدَّارُ الأُولَى الَّتي دَخَلْتَ دَارُ عَامَّةِ المُؤْمِنِينَ، وأَمَّا هذِه الدَّارُ فَدَارُ الشُّهَدَاءِ، وأَنَا جِبْرِيلُ، وهذا مِيكَائِيلُ، فَارْفَعْ رَأْسَكَ، فَرَفَعْتُ رَأْسِي، فَإِذَا فَوْقِي مِثْلُ السَّحَابِ، قالَا: ذَاكَ مَنْزِلُكَ، قُلتُ: دَعَانِي أدْخُلْ مَنْزِلِي، قالَا: إنَّه بَقِيَ لكَ عُمُرٌ لَمْ تَسْتَكْمِلْهُ فَلَوِ اسْتَكْمَلْتَ أتَيْتَ مَنْزِلَكَ (رواه البخاري عن سمرة بن جندب)

“Nabi shallahu’alaihi wasallam jika seusai sholat, beliau menghadapkan wajah beliau kepada kami seraya bersabda: “Siapakah di antara kalian yang melihat suatu mimpi tadi malam?” Jika ada seseorang melihatnya, dia akan bercerita, lalu Nabi mentakwilkannya sesuai dengan kehendak Allah. Lalu pada suatu hari beliau bertanya pada kami: “Siapakah di antara kalian yang melihat suatu mimpi tadi malam?” kami menjawab: “Tidak ada.” Beliau bersabda: “Tapi aku tadi malam melihat dalam mimpi ada dua orang yang mendatangiku seraya mengambil tanganku lalu mengeluarkan aku dari tanah suci. Tiba-tiba saja ada seseorang yang duduk, dan yang lainnya berdiri sambil membawa cakar besi di tangannya. Dia memasukkan cakar besi tadi ke dalam tepi mulutnya lalu menariknya hingga mencapai tengkuknya. Lalu dia berbuat seperti itu pada sisi mulut yang lain. Lalu tepi mulut yang robek tadi mengatup kembali, dan selanjutnya dirobek lagi seperti sebelumnya. Aku bertanya: “Apa ini?” Keduanya berkata: “Berangkatlah” maka kamipun berangkat lagi hingga kami mendatangi seseorang yang sedang berbaring di atas tengkuknya, dan yang lainnya berdiri di kepalanya dengan membawa batu pemukul atau batu karang, lalu dipergunakannya batu tadi untuk memecahkan kepalanya, setelah batu itu dipukulkan, batu tadi menggelinding, maka orang tadi beranjak mengejar batu tadi untuk mengambilnya. Belumlah dia kembali ke orang yang berbaring tadi, tetapi kepala orang itu mengatup dan kembali seperti semula. Lalu orang itu kembali kepadanya, seraya memukulnya lagi. Aku bertanya: “Apa ini?” Keduanya berkata: “Berangkatlah” maka kamipun berangkat lagi hingga kami mendatangi lubang seperti tungku, atasnya sempit, dan bagian bawahnya luas, di bawahnya ada api yang dinyalakan. Jika mendekati permukaan tungku, orang-orang (yang di dalamya) terbawa naik sampai hampir mau keluar darinya, tapi jika apinya padam, mereka kembali ke dalam. Mereka para pria dan wanita yang telanjang. Aku bertanya: “Apa ini?” Keduanya berkata: “Berangkatlah” maka kamipun berangkat lagi hingga kami mendatangi sungai darah yang terdapat orang di dalamnya. Di tengah sungai –atau berkata:- di tepi sungai ada orang yang di hadapannya ada bebatuan. Maka orang yang di sungai itu menuju ke arahnya, jika orang itu ingin keluar dari sungai, orang yang ini melemparinya dengan batu ke mulutnya sehingga mengembalikannya ke tempatnya semula. Dan demikian seterusnya, setiap kali orang tersebut hendak keluar, orang tadi melempari dengan batu pada mulutnya hingga mengembalikannya ke tempatnya semula. Aku bertanya: “Apa ini?” Keduanya berkata: “Berangkatlah” maka kamipun berangkat lagi hingga kami tiba di sebuah kebun yang hijau yang di dalamnya ada pohon besar, dan di pangkal pohon tadi ada seorang syaikh (tua) dan anak-anak kecil, tiba-tiba saja ada orang di dekat pohon itu, yang di depannya ada api yang dinyalakannya. Lalu dua orang ini membawaku naik di pohon itu lalu memasukkan aku ke sebuah rumah yang belum pernah aku lihat ada rumah yang lebih bagus darinya. Di dalamnya ada orang-orang tua, anak-anak muda, para perempuan dan anak-anak kecil. Lalu keduanya mengeluarkan aku dari rumah itu, membawaku naik lagi ke pohon itu lalu memasukkan aku ke sebuah rumah yang lebih bagus dan lebih mulia. Di dalamnya ada orang-orang tua dan anak-anak muda. Aku berkata: kalian berdua telah membawaku berkeliling malam ini, maka kabarilah aku tentang apa yang aku lihat. Keduanya menjawab: “Iya. Adapun orang yang kau lihat ujung mulutnya dirobek, maka dia itu adalah pembohong besar yang berbicara dengan kedustaan, lalu kedustaan itu dibawa darinya hingga mencapai ufuk-ufuk. Maka dia disiksa seperti itu sampai hari Kiamat. Dan orang yang engkau lihat kepalanya dipecahkan, dia adalah orang yang Allah ta’ala telah mengajarinya Al Qur’an, lalu dia tidur meninggalkannya di malam hari dan tidak mengamalkannya di siang hari. Maka dia disiksa seperti itu sampai hari Kiamat. Dan yang engkau lihat berada di dalam lubang tadi, mereka itu adalah para pezina. Dan orang yang engkau lihat ada di sungai, dia itu pemakan riba. Dan orang tua yang engkau lihat ada di pangkal pohon tadi, dia adalah Ibrohim alaihissalam . dan anak-anak yang di sekitarnya adalah anak-anak manusia. Dan orang yang menyalakan api tadi adalah Malik penjaga Neraka. Rumah yang pertama yang engkau masuki adalah rumah keumuman orang yang beriman. Adapun rumah yang kedua adalah rumah para syuhada. Dan aku adalah Jibril, dan ini Mikail. Angkatlah kepalamu.” Maka aku mengangkat kepalaku, ternyata di atasku ada seperti awan. Keduanya berkata: “Itu adalah tempat tinggalmu.” Aku berkata: “Biarkanlah aku memasuki tempat tinggalku.” Keduanya berkata: “Masih tersisa untukmu umur yang belum engkau selesaikan. Jika engkau telah menyelesaikannya, engkau akan mendatangi tempat tinggalmu.(HR. Bukhari )

أن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ قال في سعد بن معاذ “هذا الذي تَحَرَّكَ له العرش وفُتحتْ له أبواب السماء، وشَهده سبعون ألفًا من الملائكة، لقد ضُمَّ ـ هي ضَمَّةُ القبر ـ ثم فُرِجَ عنه”( رواه البخاري ومسلم)

“Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda mengenai Sa’ad bin Mu’adz: Ini orang yang ‘Arsy bergetar karenanya, dibukakan baginya pintu-pintu langit, dan disaksikan oleh tujuh puluh ribu Malaikat. Dia telah dihimpit oleh kubur lalu dilapangkan darinya(HR. Bukhari dan Muslim)

أن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ مَرَّ بقبرينِ فقال: “إنهما يُعذَّبانِ وما يُعذبان في كبير، بلى إنه كبير، أما أحدهما فكان يمشي بالنميمة وأما الآخر فكان لا يَستترُ من بوله”( رواه البخاري ومسلم)

“Nabi shallahu’alaihi wasallam melewati dua makam, lalu bersabda: Kedua (penghuni)nya lagi diadzab. Keduanya tidak diadzab karena urusan besar. Iya, tetapi ia besar. Salah satunya berbuat adu domba, Adapun satunya lagi tidak menjaga diri dari kencing” (HR. Bukhari dan Muslim)

النارُ يُعْرَضُونَ عليها غُدُّوًا وَعَشِيًّا ويومَ تَقُومُ الساعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ العذابِ ( غافر: 46)

Kepada mereka ditampakkan Neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada Malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras (QS. Ghofir:46)
“ditampakkan Neraka pada pagi dan petang” maksudnya adalah sebelum terjadinya hari Kiamat. Jelaslah itu di alam barzah.

Kedua : Nikmat dan adzab kubur langgeng?
Disebutkan di dalam Syarh al-‘Aqidah ath-Thohawiyyah” li-b-ni Abi-l-‘Iz: Apakah adzab kubur itu langgeng atau tidak langgeng (terputus)? Jawabannya ada dua macam; ada yang langgeng dan ada yang terputus. Pertama yaitu jenis yang langgeng sebagaimana firman Allah ta’ala,

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

Kepada mereka ditampakkan Neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada Malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras” (QS. Ghafir: 46)
Demikian juga dalam Hadits Ibnu ‘Azib tentang kisah orang Kafir “….lalu dibukakan baginya pintu menuju Neraka maka dia melihat tempat duduknya di dalamnya hingga hari Kiamat” (HR. Ahmad).
Jenis yang kedua: Adzab berlangsung sampai waktu tertentu lalu terputus. Yaitu, adzab untuk pelaku maksiat yang dosanya ringan, dia diadzab sesuai kadar dosanya lalu dihentikan [selesai].
Ibnul Qoyyim juga mengatakan yang kurang lebihnya berikut ini: Apakah adzab kubur langgeng atau tidak? Jawabannya ada dua macam; langgeng dan tidak langgeng. Yang tidak langgeng, sebagaimana dijumpai di dalam Hadits bahwa adzabnya diringankan dan dihentikan. Ketika mereka bangkit dari kuburnya, mengatakan:

يَا وَيْلَنَا مَن بَعَثَنَا مِن مَّرْقَدِنَا هَذَا (يس: 52)

“Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?” (QS. Yasin: 52)
Adapun yang langgeng, sebagaimana firman Allah ta’ala,

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

Kepada mereka ditampakkan Neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada Malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras” (QS. Ghafir: 46).
Dalil lainnya sebagaimana disebutkan di di dalam Hadits Samuroh yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari,

أمَّا الذي رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ، فَكَذَّابٌ يُحَدِّثُ بالكَذْبَةِ، فَتُحْمَلُ عنْه حتَّى تَبْلُغَ الآفَاقَ، فيُصْنَعُ به إلى يَومِ القِيَامَةِ، والذي رَأَيْتَهُ يُشْدَخُ رَأْسُهُ، فَرَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَنَامَ عنْه باللَّيْلِ ولَمْ يَعْمَلْ فيه بالنَّهَارِ، يُفْعَلُ به إلى يَومِ القِيَامَةِ،

Adapun orang yang kau lihat ujung mulutnya dirobek, maka dia itu adalah pembohong besar yang berbicara dengan kedustaan, lalu kedustaan itu dibawa darinya hingga mencapai ufuk-ufuk. Maka dia disiksa seperti itu sampai hari Kiamat. Dan orang yang engkau lihat kepalanya dipecahkan, maka dia adalah orang yang Allah ta’ala telah mengajarinya Al Qur’an, lalu dia tidur meninggalkannya di malam hari dan tidak mengamalkannya di siang hari. Maka dia disiksa seperti itu sampai hari Kiamat.
Juga Hadits Ibnu Abbas radhiallahu’anhu tentang dua penghuni kubur yang sedang diadzab lalu adzabnya diringankan dengan pelepah kurma yang ditancapkan oleh Rasulullah shallahu’alaihi wasallam pada kedua makamnya. Dirigankannya adzab di sini dikaitkan dengan pelepah kurma selama masih basah.
Hadits lainnya riwayat Al-Bazzar dari Abu Hurairah,

ثمَّ أَتَى عَلَى قَوْمٍ تُرضَخ رُءُوسُهُمْ بِالصَّخْرِ، كُلَّمَا رُضخت عَادَتْ كَمَا كَانَتْ، وَلَا يُفَتَّرُ عَنْهُمْ مِنْ ذَلِكَ شَيْءٌ، فَقَالَ: “مَا هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ؟ ” قَالَ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ تَتَثَاقَلُ رُءُوسُهُمْ عَنِ الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ

….Nabi menghampiri suatu kaum yang membentur-benturkan kepala dengan batu besar, setiap kali hancur kembalilah kepala mereka itu seperti sedia kala, dan hal itu berlangsung terus menerus tidak henti-hentinya. Nabi bertanya kepada Jibril yang kemudian dijawabnya : Mereka adalah orang-orang yang terasa berat kepalanya ketika hendak melakukan shalat wajib…….
Hadits lain,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَمَا رَجُلٌ يَتَبَخْتَرُ يَمْشِي فِي بُرْدَيْهِ قَدْ أَعْجَبَتْهُ نَفْسُهُ فَخَسَفَ اللَّهُ بِهِ الْأَرْضَ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِيهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ (رواه مسلم)

“Dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Dahulu ketika ada seseorang yang berjalan dan ia merasa bangga dengan mantelnya yang indah, tiba-tiba bumi beserta isinya ditenggelamkan, dan diapun ikut terbenam ke dalam perut bumi sembari meronta-ronta hingga hari Kiamat nanti (HR.Muslim)
Dalam Hadits lain tentang orang kafir di alam barzakh,

ثم يُفتَحُ له بابٌ من نارٍ فينظرُ إلى مقعدِه منها حتى تقومَ الساعةُ (رواه أحمد عن البراء بن عازب)

… kemudian dibukakan baginya pintu menuju Neraka, maka dia pun melihat tempa duduknyai di Neraka hingga hari Kiamat (HR. Ahmad dari Albaro bin ‘Azib)

Ketiga : Nikmat dan adzab kubur terjadi pada ruh atau jasad?
Asal dari nikmat atau adzab kubur adalah pada ruh. Terkadang juga pada ruh dan jasad sekaligus. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahimahullah berkata: Ketahuilah, madzhab salaful ummah dan para imamnya adalah bahwa orang yang telah meninggal dunia berada dalam nikmat atau adzab kubur. Itu terjadi pada ruh dan jasadnya. Ruh kekal setelah berlepas dari jasad dalam keadaan mendapatkan kenikmatan atau adzab. Kadang-kadang ia bersambung ke jasad. Maka, ruhnya pun merasakan nikmat atau siksa bersamaan dengan jasad. Adapun pada hari Kiamat nanti ruh akan kembali ke jasad untuk bangkit dari kuburnya menghadap Allah ta’ala Tuhan semesta alam [sesesai].
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya apakah adzab kubur itu pada jasad ataukah pada ruh? Beliau menjawab: Yang asal itu terjadi pada ruh. Karena hukum setelah kematian itu berkaitan dengan ruh. Karena jasad telah mati. Untuk itu jasad tidak butuh untuk dikekalkan di mana ia tidak makan dan tidak minum lagi. Bahkan ia dimakan oleh blatung. Jadi, asalnya itu pada ruh, tetapi Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah telah menjelaskan bahwa terkadang terjadi juga pada keduanya. Untuk itu para ulama mengatakan bahwa ruh terkadang bersambung ke jasad sehingga adzab terjadi pada keduanya. Bisa jadi landasan mereka adalah Hadits,

ويضيَّقُ عليْهِ قبرُهُ حتَّى تختلِفَ فيهِ أضلاعُهُ

“Sesungguhnya kubur disempitkan untuknya (orang kafir) sehingga tulang rusuknya bersilangan” (HR. Abu Daud dari Albaro bin ‘Azib)
Ini menunjukkan adzab bisa terjadi pada jasad, karena tulang rusuk itu dzat badan [selesai].

Judul buku : Oh..Kematian?!

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Oh..Kematian?! (Himpitan Kubur Bag. 5) https://nidaulfithrah.com/oh-kematian-himpitan-kubur-bag-5/ Mon, 23 Dec 2024 07:03:51 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19415 F. Himpitan Kubur
Pertama : Himpitan kubur itu benar adanya.
Himpitan kubur adalah awal perkara yang dijumpai mayat di alam barzah. Banyak nash-nash shorih dan shohih dari Nabi shallahu ‘alaihi wasallam tentangnya. Diantaranya:
a. Dalil pertama:

عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال :إِنَّ لِلْقَبْرِ ضَغْطَةً وَلَوْ كَانَ أَحَدٌ نَاجِيًا مِنْهَا نَجَا مِنْهَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ )رواه أحمد (6/55 ،98) ، قال العراقي في “ تخريج الإحياء “ (5/259) : إسناده جيد . وقال الذهبي في “ السير “ (1/291) : إسناده قوي . وقال الألباني في “ السلسلة الصحيحة “ (1695) : “ وجملة القول أن الحديث بمجموع طرقه وشواهده صحيح بلا ريب “ انتهى. وصححه محققو مسند أحمد في طبعة مؤسسة الرسالة (40/327)

“Dari ‘Aisyah radhiallahu’anha bahwa Nabi shallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Pada kubur ada himpitan, kalau ada seseorang yang selamat darinya niscaya Sa’ad bin Mu’ad telah selamat” (HR. Imam Ahmad 6/55. 98).
Al-’Iroqi berkata di dalam “Takhrijul Ihya” 5/259: Isnadnya jayyid. Adz-Dzahabi berkata di dalam “Siyar” 1/291: Isnadnya qowiyy. Al-Albani berkata di dalam “As-Silsilah ash-Shohihah” 165: Seluruh pendapat menyatakan Hadits tersebut dengan seluruh jalannya dan syawahidnya shohih tanpa diragukan [selesai]
b. Dalil kedua

عن ابن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال عن سعد بن معاذ رضي الله عنه حين توفي :هَذَا الَّذِي تَحَرَّكَ لَهُ الْعَرْشُ وَفُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَشَهِدَهُ سَبْعُونَ أَلْفًا مِنْ الْمَلَائِكَةِ لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ فُرِّجَ عَنْهُ ] )رواه النسائي في “ السنن “ (2055) (4/100)[ وسكت عنه ، وبوب عليه بقوله : “ ضمة القبر وضغطته “، وصححه الألباني في “ صحيح النسائي “

Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang Sa’ad bin Mu’adz radhiallahu’anhu ketika wafatnya: “Ini orang yang ‘Arsy berguncang karenanya, pintu-pintu langit dibuka untuknya, dan telah dipersaksikan tujuh puluh ribu Malaikat, tapi masih mengalami himpitan kubur yang kemudian dilapangkan baginya(HR. An-Nasa’i di dalam “As-Sunan” 2055, 4/100) , dia tidak berkomentar tentangnya, dan menyebutkan di dalam penyusunan bab-babnya dengan “Bab Himpitan Qubur”. Di-shahih-kan oleh Al-Albani di dalam “Shohih An-Nasa’i
c. Dalil ketiga

عن أبي أيوب رضي الله عنه : أن صبيًا دُفنَ ، فقالَ صلى الله عليه وسلم :لَوْ أَفْلَتَ أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ القَبْرِ لَأَفْلَتَ هَذَا الصَبِيُّ ).رواه الطبراني “ المعجم الكبير “ (4/121) وصحح الحافظ ابن حجر نحوه في “ المطالب العالية “ (13/44)، وصححه الهيثمي في “ مجمع الزوائد “ (3/47) ، والألباني في “ السلسلة الصحيحة “ (رقم/2164)

Dari Abu Ayyub radhiallahua’hu bahwa ada bayi dimakamkan. Nabi shallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jika ada orang yang selamat dari himpitan kubur niscaya bayi ini selamat(HR Ath-Thobroni di dalam “al-Mu’jam al-Kabir” 4/121). Al-Hafizh Ibnu Hajar men-shahih-kannya di dalam “al-Matholib al-‘aliyah” 13/44. Al-Haitsami men-shahih-kannya di dalam “Majma’ az-Zawaid 3/47 dan Al-Albani di dalam “As-Silsilah ash-Shohihah” no. 2164.
Al-Qurthubi menyebutkan di dalam “At-Tadzkiroh fi Ahwaali-l-Mawta wa Umuri-l- Akhiroh” Hal. 323 pada Bab “Himpitan Kubur pada penghuninya meskipun Orang Sholeh”. Juga pada nash-nash lain dalam tema yang sama tetapi kebanyakannya dho’if dan munkar. Sebagaimana Ibnu-l-Ajur mengeluarkan di dalam “Al-Mawdhu’at” 3/231 sebagian besarnya dengan judul HIMPITAN KUBUR. Yang kami sebutkan dari Hadits-Hadits shohih sudah mencukupi. In sya-a Allah.
Kedua : Apakah orang mukmin mengalami himpitan kubur?
Ahli ilmu berbeda pendapat berkenanaan dengan seorang mukmin. Apakah ia mengalami himpitan kubur? Dan, bagaimanakah keadaannya? Ada dua pendapat:
Pendapat pertama: Himpitan kubur menimpa setiap mukmin dan dirasakan berat baginya. Namun, bagi orang mukmin yang sholeh cepat terbebas darinya dan dilapangkan kuburnya. Adzab ini tidak berkepanjangan baginya. Adapun orang fasik himpitan sangat dahsyat dirasakannya. Menyempitnya lahat memakan waktu yang lama sesuai dosa dan maksiatnya.
Abu-l-Qosim as-Sa’di rahimahullah berkata: Tidak akan selamat dari himpitan kubur orang tholih juga orang sholihnya. Bedanya antara muslim dan kafir adalah orang kafir terus-menerus, sementara orang muslim mengalaminya hanya ketika awal diturunkan ke liang lahat kemudian kembali mendapatkan kelapangan [selesai].
Al-Hakim at-Tirmidzi rahimahullah berkata: Himpitan ini disebabkan tidak lain setiap orang itu berbuat dosa, maka himpitan akan dirasakannya sebagai balasannya lalu dia akan merasakan rahmat [selesai]. Dinukil dari “Hasyiah as-Suyuthi ‘ala “Sunan an-Nasa’i” 3/292. Ar-Romli menukilnya di dalam “Fatawa” nya 4/210.
Pendapat kedua: Orang mukmin yang shalih juga mengalami himpitan kubur, tetapi ia himpitan sayang dan kelembutan. Tidak terdapat padanya sakit dan penderitaan. Adapun orang muslim yang bermaksiat, himpitan keras kemurkaan sangat dirasakan sesuai banyaknya dosa dan buruknya amalan mereka.
Dari Muhammad At-Taimiy rahimahullah, ia berkata: Dikatakan, Sesungguhnya himpitan kubur sejatinya ia itu ibu mereka. Darinya mereka diciptakan. Mereka telah raib dalam waktu yang lama. Ketika kembali ke sang Ibu, maka ia mendekapnya dengan dekapan kasih sayang, dekapan kerinduan terhadap anak-anaknya yang menghilang lalu datang kembali. Barangsiapa di antara mereka yang taat kepada Allah ta’ala maka akan didekapnya dengan kelembutan. Barangsiapa bermaksiat kepada Allah ta’ala maka akan didekapnya dengan dekapan kemurkaan (Imam As-Suyuthi menyebutkannya di dalam Hasyiah atas “Sunan An-Nasa’i 3/292 dari riwayat Ibnu Abi-d-Dunya. Dia menyebutnya di dalam “Busyro-l-Kaib bi liqoo-i-l- Habib”, Hal. 5 Bab: “Dzikru Takhfifi dhimmati-l-qobr ‘ala-l-mu’min”)
Ada Hadits marfu’ yang meriwayatkan secara makna dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, dia berkata:

يا رسول الله إنك منذ حدثتني بصوت منكر ونكير وضغطة القبر ليس ينفعني شيء ؟ قال: “يا عائشة إن أصوات منكر في أسماع المؤمنين كالإثمد في العين ، وإن ضغطة القبر على المؤمن كالأم الشفيقة يشكو إليها ابنها الصداع فتغمز رأسه غمزا رفيقا ، ولكن يا عائشة ويل للشاكين في الله كيف يُضغطون في قبورهم كضغطة البيضة على الصخرة ](رواه البيهقي في “ إثبات عذاب القبر “ (ص/85، رقم/116)[، والديلمي في “ مسند الفردوس “ (رقم/3776)، وفي سنده الحسن بن أبي جعفر وعلي بن زيد بن جدعان ضعيفان . فهو حديث ضعيف . وقد عزاه بعضهم لابن منده وابن النجار ولم أقف عليه

Ya Rasulullah! Sesungguhnya sejak hari Engkau memberitahuku tentang suara Munkar dan Nakir dan himpitan kubur, saya belum paham. Beliau bersabda: Ya ‘Aisyah! Sesungguhnya Munkar dan Nakir pada pendengaran orang mukmin itu seperti itsmid pada mata. Adapun himpitan kubur pada mukmin itu seperti Ibu yang anak mengeluhkan sakit kepala kepadanya, ia pun menganggukkan kepala dengan lembut. Wahai ‘Aisyah! Celakalah orang-orang yang ragu-ragu akan Tuhannya betapa mereka akan dihimpit oleh kubur seperti telor yang ditekan di atas batu (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di dalam “Itsbat ‘adzabi-l-qobr” (Hal. 85, No. 116), Ad-Dailami di dalam “Musnad Al-Firdaus” no. 3776, di dalam sanad-nya terdapat al-Hasan bin Abi Ja’far dan ‘Ali bin Zaid bin Jad’an. Keduanya lemah. Ini Hadits dho’if. Sebagian mereka menisbatkannya kepada Ibnu Mandah dan Ibnu an-Najjar
Al-Hafizh Adz-Dzahabi rahimahullah berkata: “Himpitan ini bukan adzab kubur. Tetapi, ia adalah perkara yang seorang mukmin menjumpainya sebagaimana sakit atas kehilangan anak dan teman karibnya di dunia. Sakit dari suatu penyakit. Sakit ketika terlepasnya ruh. Sakit karena keberadanya di kubur dan adanya ujian yang dihadapinya. Sakit akibat pengaruh dari tangisan keluarganya. Sakit ketika bangkit dari kuburnya. Sakit dari berdiri (di mahsyar, Pent.) dan kengerian yang mencekam. Sakit ketika mendatangi Neraka dan semacamnya. Kegoncangan-kegoncangan ini semua orang mendapatinya. Ia bukan adzab kubur. Juga bukan bagian dari adzab Jahannam. Tetapi seorang hamba menjumpainya pada sebagiannya atau keseluruhannya dengan kelembutan dari Allah ta’ala. Tidak ada rehat bagi mukmin hingga bertemu dengan Tuhannya. Allah ta’ala berfirman,

وَأَنذِرْهُمْ يَوْمَ ٱلْحَسْرَةِ

“Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan (QS. Maryam:39)

وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْآزِفَةِ إِذِ الْقُلُوبُ لَدَى الْحَنَاجِرِ كَاظِمِينَ(غافر: 18)

Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari Kiamat yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan (QS. Ghofir: 18)
Kita memohon ampunan dan kelembutan yang tersembunyi kepada Allah ta’ala. Ketika terjadi kegundahan-kegundahan pada diri kita (berkenaan himpitan kubur ini, Pent.), maka ketahuilah Sa’ad bin Mu’adz yang diketahui sebagai ahli Surga, syahid yang tertinggi dan telah meraih kemenangan masih merasakan kengerian, ketakutan,dan rasa sakit!!! Lalu bagaimana dengan kita?! Mintalah keselamatan kepada Tuhan kalian, dan semoga Dia ta’ala mengumpulkan kita bersama golongan Sa’ad bin Mu’adz [selesai]. “Siyar A’lami-n-Nubala” 1/290-292.
Syaikh An-Nafrawi al-Maliki berkata: Himpitan kubur adalah perkara yang pasti terjadi. Meskipun keadaannya berbeda-beda antara satu orang dengan yang lainnya [selesai]. “Al-Fawakih ad-Dawani” 2/688.
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata: Hadits ini, yaitu tentang dihimpitnya Sa’ad bin Mu’adz dalam kubur adalah masyhur di kalangan para ulama. Seandainya Hadits itu shahih, maka himpitan kubur bagi mukmin adalah himpitan rahmat dan kelembutan seperti seorang Ibu yang memeluk anaknya ke dadanya. Adapun bagi orang kafir, maka ia merupakan himpitan siksa. Wa-l-‘iyaadzu billah. Nabi shallahu ‘alaihi wasallam memberitahukan bahwa manusia ketika dikuburkan datanglah dua Malaikat yang akan bertanya tentang tiga perkara: Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Dan siapa Nabimu? Orang mukmin akan menjawab: Tuhanku Allah, agamaku Islam dan Nabiku Muhammad. Saya memohon kepada Allah ta’ala semoga menjadikan jawabanku dan jawaban kalian seperti ini. Adapun orang munafik atau murtad – semoga Allah ta’ala melindungi kami dan kalian semua – akan menjawab: Haa… haa.. saya tidak tahu. Saya mendengar orang-orang mengatakannya maka akupun mengatakannya. Lalu, kubur menghimpitnya hingga tulang-tulang rusuknya bersilangan carut-marut. Wa-l-‘iyaadzu billah. Jadi, berbeda antara himpitan kubur bagi kafir atau murtad dengan orang mukmin [selesai dengan ringkasan]. “Liqoo-aa-t Al-Baab al-Mafthuh” No. 161 Soal no. 17.
Zhahirnya – Allahu A’lam – yang rojih dari dua pendapat ini adalah pendapat yang berdasarkan teks sunnah yang menunjukkan demikian. Seorang mukmin saja merasakan himpitan kubur apalagi yang lainnya. Ini menunjukkan dahsyatnya himpitan kubur. Ia dirasakan sakit bagi orang yang dihimpitnya dengan kadar yang berbeda-beda antara satu dan yang lainnya. Masing-masing sesuai amalan dan keadaannya. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahmahullah menyebutkan himpitan kubur sebagai faktor penyebab diampuninya dosa-dosa. Dia rahimahullah berkata: Sebab kedelapan, apa yang terjadi di kubur berupa fitnah, himpitan dan kengeriannya bisa merupakan sebab yang menghapus kesalahan-kesalahan [selesai dari “Majmu’-l- Fatawa” 7/500.
Hadits yang disebutkan di dalam pertanyaan tidak menunjukkan bahwa Sa’ad bin Mu’adz sebagai satu-satunya yang selamat dari himpitan kubur sebagaimana yang dipahami oleh penanya. Tetapi, ia justru merupakan nash bahwa Sa’ad bin Mu’adz radhiallahu’anhu tidak selamat dari himpitan kubur. Jika ada orang yang selamat darinya, niscaya Sa’ad termasuk orang yang selamat di mana dia termasuk seutama-utamanya manusia. Lihatlah “Jawabu-s- Sual” no. 71175. Allahu A’lam.

Judul buku : Oh..Kematian?!

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Oh..Kematian?! (Ciri-Ciri Husnul Khotimah Bag. 4) https://nidaulfithrah.com/oh-kematian-ciri-ciri-husnul-khotimah-bag-4/ Mon, 16 Dec 2024 07:18:02 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19367 E. Ciri-Ciri Husnul Khotimah
Husnul khotimah artinya good ending atau akhir yang baik. Maksudnya, seseorang meninggalkan dunia menuju Akhirat yang dimulai dari alam barzakh dengan kondisi baik sehingga baik pula di alam barunya tersebut. Syariat menginformasikan di antara ciri-cirnya, yaitu:
a .Meninggal dalam perang jihad fi sabilillah
Allah ta’ala berfirman,

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ ۞ فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ( آل عمران: 169،170)

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergembira terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (QS. Ali Imron:169-170)

أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: “ما أحد يدخل الجنة يحب أن يرجع إلى الدنيا وله ما على الأرض من شيء إلا الشهيد يتمنى أن يرجع إلى الدنيا فيقتل عشر مرات لما يرى من الكرامة (رواه البخاري ومسلم من أنس بن مالك)

“Tidak satupun seseorang yang masuk Surga ingin kembali ke dunia, sekalipun seluruh dunia dan isinya diberikan kepadanya, kecuali orang yang mati syahid. Sesungguhnya ia berangan-angan hendak kembali (ke dunia) kemudian terbunuh hingga sepuluh kali, karena ia melihat mulianya mati syahid.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik)
Derajat syahadah (mati syahid) ini diharapkan juga bisa diraih bagi orang yang memintanya kepada Allah ta’ala secara ikhlas tetapi tidak berkesempatan turut andil dalam suatu peperangan di medan jihad. Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda,

من سأل الله الشهادة بصدق، بلغه الله منازل الشهداء، وإن مات على فراشه (رواه مسلم وأبو داود عن أبى هريرة)

Barangsiapa yang memohon mati syahid kepada Allah ta’ala dengan tulus (benar), niscaya Allah akan menyampaikannya ke derajat orang-orang yang mati syahid meskipun ia mati di atas tempat tidurnya.” (HR. Muslim dan Abu Daud dari Abu Hurairah)
b. Mengucapkan kalimat “Laa ilaaha illa Allah” di akhir hayatnya.
Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda,

“من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة (رواه أبو داود عن معاذ)

Barangsiapa yang akhir ucapannya “Laa ilaaha illa Allah” niscaya masuk Surga (HR. Abu Daud dari Mu’adz)
c. Pelipisnya berkeringat

روى الترمذي في سننه من حديث بريدة بن الحصيب – رضي الله عنه -: عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: “المؤمن يموت بعرق الجبين

Dari Nabi shallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda: Seorang mukmin itu meninggal dunia dengan keringat di pelipisnya(HR. At-Tirmidzi dari Buraidah bin Hushaib)
Ada sebagian ulama yang mencoba menyingkap hikmah mengenai pemberitaan dari Nabi shallahu’alaihi wasallam ini. Ada yang mengatakan hal itu dampak dari beratnya keadaan saat menghadapi kematian karena suatu dosa yang masih ada padanya. Dia merasa kesakitan demi membersihkan dosa tersebut. Ada yang mengatakan itu disebabkan malu ketika mendapatkan kabar gembira sementara dirinya terdapat dosa-dosa. Saking malunya kepada Allah ta’ala menjadikan pelipisnya berkeringat. Ada yang mengatakan keringat pada pelipis itu tanda kematian seorang mukmin meskipun tidak bisa disingkap hikmahnya.
d. Meninggal dunia karena tho’un

أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: “الطاعون شهادة لكل مسلم” (رواه البخاري ومسلم عن أنس بن مالك)

Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda: Tho’un itu syahid bagi setiap muslim” (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik)
e. Meninggal dunia karena sakit perut

أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: “من مات في البطن فهو شهيد (رواه مسلم عن أبى هريرة)

“Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang meninggal dunia karena sakit perut maka dia syahid” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
f . Meninggal dunia disebabkan kebakaran, tenggelam, keruntuhan, radang selaput dada dan karena hamil atau melahirkan anak

أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – جاء يعود عبد الله بن ثابت فوجده قد غلب، فصاح به رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فلم يجبه، فاسترجع رسول الله – صلى الله عليه وسلم – وقال: “غلبنا عليك يا أبا الربيع”، فصاح النسوة وبكين، فجعل ابن عتيك يسكتهن، فقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: “دعهن فإذا وجب فلا تبكين باكية”، قالوا: وما الوجوب يا رسول الله؟ قال: الموت، قالت ابنته: والله إن كنت لأرجو أن تكون شهيدًا فإنك كنت قد قضيت جهازك، قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: “إن الله قد أوجع أجره على قدر نيته، وما تعدون الشهادة؟” قالوا: القتل في سبيل الله تعالى، قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: “الشهادة سبع سوى القتل في سبيل الله: المطعون شهيد والغريق شهيد وصاحب ذات الجنب شهيد والمبطون شهيد وصاحب الحريق شهيد والذي يموت تحت الهدم شهيد والمرأة تموت بجمع شهيد (رواه أبوداود عن جابربن عتيك)

Rasulullah shallahu’alaihi wasallam datang mengunjungi Abdullah bin Tsabit. Beliau mendapatinya telah parah sakitnya. Rasulullah shallahu’alaihi wasallam memanggilnya dan Abdullah tidak menjawab panggilan beliau. Lalu beliau mengucapkan istirja’ (INNAALILLAAHI WA INNAA ILAIHI RAAJI’UUN), dan berkata: “Taqdirmu telah mendahului kami wahai Abu Ar Rabi’! Para wanita berteriak dan menangis, lalu Ibnu ‘Atik mendiamkan mereka. Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Biarkan mereka, seandainya ia telah ‘wajab’ maka janganlah ada seorang wanita yang menangis!” Mereka bertanya; apakah ‘wajab’ itu wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Meninggal dunia”. Anak wanitanya berkata; Demi Allah, sungguh aku berharap kamu menjadi orang yang syahid. Sungguh engkau telah menyelesaikan persiapan (perang)mu. Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah ta’ala telah memberikannya pahala sesuai dengan niatnya. Apakah yang kalian anggap sebagai mati syahid?” Mereka menjawab; Terbunuh di jalan Allah ta’ala. Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Mati syahid selain terbunuh di jalan Allah ada tujuh, yaitu: orang yang meninggal karena terkena penyakit tha’un, syahid. Orang yang mati tenggelam, syahid. Orang yang meninggal karena sakit radang selaput dada, syahid. Orang meninggal karena sakit perut, syahid. Orang yang terbakar, syahid. Orang yang meninggal terkena reruntuhan, syahid. Dan seorang wanita yang meninggal dalam keadaan hamil juga syahid.(HR. Abu Daud dari Jabir bin ‘Atik)
g. Meninggal dunia karena mempertahankan agama, jiwa dan harta

قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: “من قتل دون ماله فهو شهيد ومن قتل دون أهله أو دون دمه أو دون دينه فهو شهيد (روأه أبو داود عن سعيد بن زيد)

Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang terbunuh karena mempertahankan hartanya maka dia syahid. Siapa yang terbunuh karena mempertahankan keluarganya, nyawanya, atau agamanya maka dia syahid.” (HR. Abu Daud dari Sa’id bin Zaid)

جاء رجل إلى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فقال: يا رسول الله! أرأيت إن جاء رجل يريد أخذ مالي؟ قال: “فلا تعطه مالك”، قال: أرأيت إن قاتلني؟ قال: “قاتله”، قال أرأيت إن قتلني؟ قال: “فأنت شهيد”، قال: أرأيت إن قتلته؟ قال: “هو في النار” (رواه مسلم عن أبي هريرة)

“Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah a dan menanyakan: “Ya Rasulullah! Bagaimana menurutmu, kalau ada seseorang hendak merampas hartaku?” Jawab Nabi: “Jangan egnkau berikan hartamu kepadanya!” Tanya laki-laki: “Bagaimana menurutmu, kalau dia memerangiku?” Nabi menjawab: “Perangi dia!”. Tanya laki-laki: “Bagaimana kalau dia membunuhku?” Nabi menjawab: “Maka engkau mati syahid!” Laki-laki bertanya: “Bagaimana kalau saya membunuhnya?” Nabi menjawab: “Maka dia masuk Neraka” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Judul buku : Oh..Kematian?!

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Oh..Kematian?! (Kematian Datangnya Tidak “Kulonuwun” Bag. 3) https://nidaulfithrah.com/oh-kematian-kematian-datangnya-tidak-kulonuwun-bag-3/ Wed, 04 Dec 2024 08:59:52 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19363 C. Kematian Datangnya Tidak “Kulonuwun”
Bukankah Anda menjumpai anak kecil meninggal dunia? Kematian datang tidak menunggu sasarannya tua terlebih dahulu. Bukankah Anda melihat orang sehat segar- bugar meniggal dunia? Kematian datang tidak menunggu sakit dulu. Bukankah Anda menyaksikan orang yang tengah sibuk dengan program-program kejayaannya wafat? Kematikan datang tidak menunggu pensiun dulu. Kalau ajal yang Allah ta’ala telah menetapkannya tiba, maka kematian akan datang tidak tertunda dan tidak dimajukan sedikitpun. Allah ta’ala berfirman,

قُلْ إِنَّ ٱلْمَوْتَ ٱلَّذِى تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُۥ مُلَٰقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ (الجمعة:8)

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Al-Jumu’ah:8)
Meskipun Anda “sangat protek” dengan rajin check up, berobat, timbang badan, jaga stamina, makanan bergizi, istirahat yang memadahi dan lain-lain semuanya itu tidak akan bisa menghalang-halangi datangnya kematian. Allah ta’ala berfirman,

أَيْنَمَا تَكُونُوا۟ يُدْرِككُّمُ ٱلْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِى بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ (النساء: 78)

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapati kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh (QS. An-Nisa: 78)

Jadikanlah kebaikan dan ketaatan sebagai perkara yang Anda biasakan. Sehingga ketika kematian yang tidak “kulonuwun” datang menjemput, maka Anda akan meniggal dunia di atas kebaikan dan ketaatan. Karena ia adalah perkara yang melekat pada diri Anda di mana Anda selalu membiasakannya.

D. Sakaratul Maut dan Perjalanan Menuju Alam Barzah
Sakaratul maut adalah suatu keadaan pada seseorang menjelang kematian. Pada dirinya terjadi pergolakan yang luar biasa. Karena ruh akan dicabut dari jasadnya. Ketika itu kondisinya lemah baik fisik atau batinnya. Saat itulah syetan datang dan terus berusaha menjerumuskannya. Inilah yang disebut fitnatu-l-mamaat. Adapun orang yang istiqomah dengan agamanya mendapatkan motivasi dan kabar gembira dari para Malaikat. Allah ‘azawajalla berfirman,

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ (فصلت: 30)

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan Surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu (QS. Fushilat:30)”
Nabi shallahu’alaihi wasallam memberitahukan kepada kita semua bagaimana keadaan sakaratul maut manusia hingga perjalanannya menuju alam barzah di dalam Hadits panjang berikut ini,

عن البراء بن عازب قال : خرجنا مع النبي صلى الله عليه و سلم في جنازة رجل من الأنصار فانتهينا إلى القبر ولما يلحد فجلس رسول الله صلى الله عليه و سلم وجلسنا حوله وكأن على رءوسنا الطير وفي يده عود ينكت في الأرض فرفع رأسه فقال استعيذوا بالله من عذاب القبر مرتين أو ثلاثا
ثم قال إِنَّ العبدَ المؤْمن إذا كان في انْقِطَاعٍ من الدُّنْيَا، وإِقْبالٍ من الْآخِرَةِ، نزل إليه من السَّمَاءِ ملائكةٌ بِيضُ الوجُوهِ، كأَنَّ وجوهَهُمُ الشمسُ ، معهُمْ كفنٌ من أكْفَانِ الجنَّةِ، وحَنُوطٌ من حَنُوطِ الجَنَّةِ ، حتى يَجْلِسُوا منه مَدَّ البَصَرِ ، ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ المَوْتِ حتى يَجلِسَ عندَ رأسِه فيَقولُ : أيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ اخْرُجِي إلى مغْفِرةٍ من اللَّهِ ورِضْوَانٍ، فتخْرُجُ تَسِيلُ كما تسِيلُ القَطْرَةُ من فِي السِّقَاءِ ، فيَأْخذُها ، فإذا أخَذَها ، لم يَدَعُوها في يَدِه طَرْفَةَ عَيْنٍ، حتى يَأْخُذُوها فيَجْعَلُوهَا في ذلكَ الكَفَنِ وفي ذلكَ الحَنُوطِ ، فيَخْرُجُ منها كأَطيَبِ نَفْخَةِ مِسْكٍ، وُجِدَتْ على وجْهِ الأرضِ، فيَصْعَدُونَ بِها فلا يمُرُّونَ بها على مَلَكٍ من الملائِكَةِ، إلَّا قالُوا: ما هذا الرُّوحُ الطَّيِّبُ؟ فيقولُونَ : فُلَانُ بنُ فُلَانٍ بأَحْسَنِ أسمائِه التي كانُوا يُسَمُّونَه بها في الدُّنْيَا – حتى ينْتَهُوا بها إلى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَسْتَفْتِحون له فَيُفْتَحُ له ، فيُشَيِّعُهُ من كلِّ سماءٍ مُقَرَّبُوها إلى السماءِ التِي تلِيها ، حتى يُنتَهَي إلى السماءِ السابِعةِ ، فيقولُ اللهُ عزَّ وجلَّ : اكْتُبُوا كِتابَ عبدِي في علِّيِّينَ ، وأَعِيدُوا عَبدِي إلى الأرضِ ، فإِنِّي مِنها خَلَقتُهم ، وفِيها أُعِيدُهُم ، ومِنها أُخْرِجُهم تارةً أُخْرَى . فتُعادُ رُوحُه ، فيَأتِيهِ مَلَكانِ ، فيُجْلِسانِه ، فيَقولانِ له : مَن ربُّكَ ؟ فيقولُ : رَبِّيَ اللهُ ، فيَقولانِ له : ما دِينُكَ ؟ فيَقولُ : دِينِيَ الإِسلامُ ، فيَقولانِ له : ما هذا الرجلُ الذِي بُعِثَ فِيكُمْ ؟ فيَقولُ : هو رسولُ اللهِ ، فيَقولانِ له ومَا عِلْمُكَ ؟ فيَقولُ : قَرأتُ كِتابَ اللهِ فآمَنتُ به وصَدَّقْتُ ، فيُنادِي مُنادٍ من السماءِ أنْ صَدَقَ عَبدِي ، فَأفْرِشُوه من الجنةِ ، وألْبِسُوهُ من الجنةِ ، وافْتَحُوا له بابًا إلى الجنةِ ، فيَأتِيهِ من رَوْحِها وطِيبِها ، ويُفسحُ له في قَبرِهِ مَدَّ بَصرِهِ ، ويَأتِيهِ رَجلٌ حَسَنُ الوَجهِ ، حَسنُ الثِّيابِ ، طَيِّبُ الرِّيحِ فيَقولُ : أبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ ، هذا يَومُكَ الذي كُنتَ تُوعَدُ ، فيقولُ لهُ : مَن أنتَ ؟ فوجْهُكَ الوَجْهُ يَجِيءُ بِالخيرِ ، فيَقولُ : أنَا عَملُك الصالِحُ ، فيَقولُ : رَبِّ أقِمِ السَّاعَةَ ، رَبِّ أقِمِ الساعَةَ ، وإنَّ العبدَ الكافِرَ إذا كان في انقِطَاعٍ من الدنيا، وإقبالٍ من الآخِرةِ ، نزل إليه من السماءِ ملائكةٌ سُودُ الوجُوهِ معَهُمُ المُسُوحُ ، فيجلِسُونَ منه مَدَّ البَصَرِ ، ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الموتِ حتى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَيَقُولُ: يَا أيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ اخْرُجِي إلى سَخَطٍ من اللَّهِ وغَضَبٍ ، فَتَفْرُقُ في جَسَدِهِ فيَنتَزِعُهَا كَما يُنتَزَعُ السَّفُّودُ من الصُّوفِ المَبْلُولِ ، فيَأْخذَها ، فإذا أخذَها لَم يَدعُوها في يَدِهِ طَرْفَةَ عَينٍ حتى يَجْعَلُوهَا في تِلْكَ الْمُسُوحِ ، يخرجُ منها كأَنْتَنِ ريحِ جِيفَةٍ، وُجِدَتْ على ظَهْرِ الأَرضِ فيصْعَدُونَ بِها، فلا يَمُرُّونَ بها على مَلَكٍ من الملائِكَةِ إلَّا قَالُوا: ما هذا الرُّوحُ الْخَبِيثُ؟ فيَقُولُونَ: فُلَانُ بنُ فُلَانٍ بأَقْبَحِ أسْمَائِهِ التي كان يُسَمَّى بِهَا في الدُّنْيَا، حتى يَنْتَهِيَ بِهَا إلى سمَاءِ الدُّنْيَا فَيُسْتَفْتَحُ لهُ، فلا يُفْتَحُ لهُ، ثُمَّ قَرَأَ لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أبْوَابُ السَّمَاءِ قال : فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وجَلَّ: اكْتُبُوا كِتَابَه في سِجِّينٍ في الْأَرْضِ السُّفْلَى، قال : فَتُطْرَحُ رُوحُهُ طَرْحًا، قال : فتُعَادُ رُوحُهُ في جَسَدِهِ، ويَأْتِيهِ ملَكَانِ فَيُجْلِسَانِه، فيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ فيَقُولُ: هَاهَا لا أدْرِي، فَيَقُولَانِ لَهُ: ومَا دِينُكَ؟، فَيَقُولُ: هَاهَا لا أدْرِي فيَقُولانِ له : ما هذا الرَّجلُ الذي بُعِثَ فِيكُم ؟ فيَقولُ : هَاه هَاه لا أدْرِي ، فيُنادِي مُنادٍ من السماءِ : أنْ كَذَبَ عَبدِي ، فأفْرِشُوهُ من النارِ، وافْتَحُوا له بابًا إلى النَّارِ، قال : فَيَأْتِيهِ من حَرِّهَا وسَمُومِهَا، ويُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ، حتى تَخْتَلِفَ عَلَيْهِ أضْلَاعُهُ، ويَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ، وقَبِيحُ الثِّيَابِ، مُنْتِنُ الرِّيحِ، فَيَقُولُ: أبْشِرْ بِالَّذِي يَسُوءُكَ هذا يَوْمُكَ الذي كُنْتُ تُوعَدُ، فَيَقُولُ: مَنْ أنْتَ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالشَّرِّ، فَيَقُولُ: أنا عَمَلُكَ الخَبِيثُ فيَقُولُ: ربِّ لا تُقِمِ السَّاعةَ (رواه أحمد عن الراء بن عازب

Kami keluar bersama Nabi shallahu’alaihi wasallam mengantarkan jenazah seseorang dari Anshor. Maka kami pun sampai di makam (dan waktu itu) sedang dibuatkan liang lahat. Lalu Rosulullah shallahu’alaihi wasallam duduk, dan kami pun duduk di sekitarnya. (suasana tenang sekali) sehingga seakan-akan di atas kepala kami ada burung. Dan di tangan beliau ada kayu yang beliau pukul-pukulkan ke tanah. Lalu beliau mengangkat kepalanya seraya mengatakan: Berlindunglah kalian kepada Allah ta’ala dari adzab kubur (dua atau tiga kali)
Kemudian beliau bersabda : Sesungguhnya seorang hamba yang beriman, apabila dia berada di akhir kehidupan dunianya, dan hendak menuju Akhirat (kematian), maka turunlah kepadanya Malaikat dari langit. Yang mana wajah mereka putih seolah-olah wajah mereka adalah matahari. Dan mereka membawa kafan dari kafan-kafan Surga dan kapur barus dari kapur barus Surga. Dan mereka duduk sejauh mata memandang darinya.Kemudian datanglah Malaikat maut kepadanya. Lalu dia duduk di sisi kepalanya. Maka dia pun mengatakan : Wahai jiwa yang baik, keluarlah engkau menuju ampunan dari Allah ta’ala dan keridhoan-Nya.
Beliau melanjutkan : Maka mengalirlah (keluar) jiwanya seperti mengalirnya air dari cerek. Lalu Malaikat maut pun mengambilnya. Tatkala dia mengambilnya, para Malaikat yang sudah menantinya tidak membiarkan ada di tangannya meskipun hanya sekejap mata, lalu mereka mengambilnya dan meletakannya di kafan dan kapur barus yang telah mereka siapkan. Dan keluarlah darinya aroma harum seperti harumnya misik yang paling bagus yang ada di muka bumi.
Lalu beliau teruskan : Maka mereka membawanya naik (ke langit). Dan tidaklah mereka melewati sekumpulan Malaikat, melainkan mereka (Malaikat yang melihatnya) mengatakan: Siapa ruh yang bagus ini? Mereka (yang membawanya) menjawab : Fulan bin Fulan yakni dengan disebutkan namanya yang paling bagus yang dahulu dia dinamakan dengannya di dunia. Sampailah mereka ke langit dunia. Lalu mereka minta agar dibukakan (pintu) untuknya. Maka dibukalah untuk mereka. Lalu mengikutinya pula dari setiap langit para Malaikat yang dekat hingga sampai ke langit yang setelahnya. Hingga akhirnya sampai ke langit yang ke tujuh. Lalu Allah ta’ala berfirman: Tulislah kitab (catatan amalan) hamba-Ku di ‘illiyyin dan kembalikanlah dia ke bumi. Sesungguhnya darinyalah Aku menciptakan mereka, dan padanyalah Aku mengembalikan mereka, serta darinyalah Aku akan mengeluarkan mereka pada kali yang lain.
Beliau bersabda : Lalu dikembalikanlah ruhnya pada jasadnya, dua Malaikat datang kepadanya dan mendudukkannya. Keduanya bertanya : Siapa Rabbmu? Dia menjawab : Rabbku adalah Allah ta’ala. Lalu mereka bertanya lagi : Apa agamamu? Agamaku adalah Islam, jawabnya. Mereka kembali bertanya : Siapa orang ini yang diutus kepada kalian? Dia mengatakan : Dia adalah Rasulullah. Dari mana kamu tahu? Tanya mereka. Dia pun menjelaskan: Aku membaca Kitabullah (Al Quran), lalu aku mengimaninya dan aku membenarkannya. Setelah itu, sebuah seruan datang di langit; HambaKu benar, bentangkanlah untuknya (bentangan) dari Surga, dan pakaikanlah (pakaian) dari Surga, serta bukakanlah untuknya pintu menuju Surga.
Beliau bersabda: Lalu datanglah kepadanya aroma dan keindahannya, dan diluaskan untuknya di kuburnya sejauh mata memandang. Lalu seseorang yang bagus wajahnya, bagus bajunya, serta wangi aromanya datang menghampirinya sambil berkata: Bergembiralah dengan hal yang akan menyenangkanmu, ini adalah hari yang kamu dijanjikan dengannya. Dia (ruh) bertanya: Siapa kamu? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan kebaikan. Dia (orang yang datang kepadanya) menjawab: Saya adalah amalanmu yang sholih. Lalu dia (ruh) itu berkata: Wahai Robbku, segerakanlah datangnya hari Kiamat, hingga aku bisa kembali kepada keluargaku dan hartaku.
Lalu beliau melanjutkan: Adapun seorang hamba yang kafir, apabila dia akan meninggalkan dunia dan menuju Akhirat (mendekati ajalnya), Malaikat yang hitam wajahnya turun kepadanya dengan membawa kain yang kasar. Lalu mereka duduk darinya sejauh mata memandang. Kemudian datanglah Malaikat maut, hingga dia duduk di sisi kepalanya. Dia pun berkata: Wahai jiwa yang buruk, keluarlah menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya!
Lebih lanjut beliau bersabda: maka (ruhnya) tercerai berai di dalam jasadnya. Lalu dia (Malaikat maut) menariknya dengan kuat sebagaimana ditariknya besi pemanggang dari kain wol yang basah. Lalu dia mengambilnya. Dan tatkala dia (Malaikat maut) telah mengambilnya, mereka (para Malaikat yang hitam wajahnya) tidak membiarkan ruh itu ada d itangannya meskipun sekejap mata, sehingga langsung ditempatkan di kain yang kasar itu. Dan keluarlah bau busuk seperti bau yang paling busuk yang ada di muka bumi. Lalu mereka membawanya naik ke langit. Dan tidaklah mereka melewati sekumpulan Malaikat, melainkan mereka bertanya : Siapa ruh yang busuk ini? Maka mereka (Malaikat yang membawanya) menjawab: Ruh Fulan bin Fulan yakni dengan menyebutkan namanya yang paling jelek yang dahulu dia dinamakan dengannya di dunia. Akhirnya mereka pun sampai di langit dunia. Lalu mereka meminta untuk dibukakan baginya pintu, namun tidak dibukakan untuknya.
Kemudian Rasulullah shallahu’alaihi wasallam membaca firman Allah ta’ala (yang artinya) : Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk Surga, hingga ada unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan (Al A’rof : 40). Lalu Allah ta’ala berfirman: Tulislah kitabnya (catatan amalannya) di sijjin di bumi yang paling bawah. Maka ruhnya pun dilempar dengan keras, kemudian beliau membaca ayat (yang artinya) : Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka dia seperti jatuh dari langit lalu disambar burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh (Al Hajj: 31).
Lalu ruhnya kembali ke jasadnya. Dan datanglah dua Malaikat mendudukannya. Mereka berdua mengatakan padanya: Siapa Rabbmu? Dia menjawab: hah hah hah….. aku tidak tahu. Mereka bertanya lagi : Apa agamamu? Hah hah hah….. aku tidak tahu, jawabnya. Mereka kembali bertanya padanya : Siapa orang ini yang diutus kepada kalian? Dia mengatakan: hah hah hah….. aku tidak tahu. Lalu datang seruan dari langit : Telah dusta dia, bentangkanlah baginya hamparan dari Neraka, dan bukakanlah baginya pintu menuju Neraka. Maka panas dan racunnya mendatanginya. Dan disempitkan baginya kuburannya sehingga tulang-tulangnya saling berhimpitan.
Datanglah kepadanya seseorang yang buruk wajahnya dan bajunya, serta busuk baunya. Dia mengatakan : Rasakanlah penderitaan yang akan menyusahkanmu, ini adalah hari yang dulu engkau dijanjikannya. Maka dia (ruh) bertanya: Siapa kamu? Wajahmu seperti wajah orang yang datang dengan keburukan. Dia menjawab: Aku adalah amalanmu yang buruk. Lalu dia (ruh) mengatakan : Wahai Robbku, jangan Engkau tegakkan hari Kiamat. (HR. Ahmad no. 18557 dari Al Barro’ Bin ‘Azib)
Pada Hadits di atas “Maka mengalirlah (keluar) jiwanya seperti mengalirnya air dari cerek” menunjukkan sakaratul maut yang dialami seorang muslim itu mudah. Tetapi sesungguhnya ia masih tetap merasakan sakit. Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda,

لا إله إلا اللهُ ، إنَّ للموتِ سَكَراتٍ (رواه البخارى عن عائشة)

“Laa ilaaha illa Allah, sungguh pada kematian ada kepedihan-kepedihan” (HR. Bukhari dari Aisyah)
Jadi, muslim masih merasakan sakitanya sakaratul maut. Tetapi kadar kepedihannya berbeda-beda antara muslim yang satu dari muslim yang lainnya. Nabi shallahu’alaihi wasallam sendiri masih merasakan sakitnya sakaratul maut sebagaimana dituturkan oleh Aisyah radhialahu’anha,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَا أَغْبِطُ أَحَدًا بِهَوْنِ مَوْتٍ بَعْدَ الَّذِي رَأَيْتُ مِنْ شِدَّةِ مَوْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (رواه الترمذى)

“Aku tidak iri terhadap seseorang karena mudahnya kematiannya setelah melihat sulitnya kematian Rasulullah shallahu’alaihi wasallam.” (HR. At-Tirmidzi)

Semoga Allah ta’ala memudahkan kita semua saat sakaratul maut nanti. Amin

Judul buku : Oh..Kematian?!

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Oh..Kematian?! (Umur Manusia Bag. 2) https://nidaulfithrah.com/oh-kematian-umur-manusia-bag-2/ Thu, 21 Nov 2024 04:11:20 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19330 B. Umur Manusia
Berbicara tentang kematian sangat erat kaitannya dengan pembahasan umur. Bukankah kematian itu terjadi tidak lain karena habisnya jatah umur? Disebutkan dalam Hadits Abu Hurairah rata-rata umur ummat Nabi shallahu’alaihi wasallam itu 60-70 tahun.

أعمارُ أمتي ما بين الستينَ إلى السبعينَ وأقلُّهم مَنْ يَجُوزُ ذلك (رواه الترمذى و ابن ماجه)

Umur-umur ummatku antara 60-70 tahun, sedikit dari mereka yang melampuinya(HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Jika untuk tidur per hari 6 jam dari 24 jam berarti untuk tidur saja sudah memakan waktu seperempat umur. Jika umur seseorang 60 tahun maka ¼ x60 = 15 tahun.
15 tahun tidaklah sebentar. Dan ternyata ia hanya digunakan untuk tidur. Sisanya tinggal 45 tahun bukan? Akankah dibiarkan berlalu tanpa menghasilkan bekal untuk Akherat nanti? Itu belum dikurangi masa kanak-kanak (belum baligh) dan durasi untuk urusan-urusan duniawi. Sungguh sangat rugi jika tidak dimaksimalkan untuk amalan-amalan sholih.
60-70 tahun keberadaan kita di dunia, nanti akan dikesankan di Akherat sangat sebentar sekali, Hal ini sebagaimana telah diinformasikan oleh Allah ta’ala,

كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوٓا۟ إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَىٰهَا (النازعات:46)

Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari (QS. An-Nazi’at:46)

يَوْمَ يُنفَخُ فِى ٱلصُّورِ ۚ وَنَحْشُرُ ٱلْمُجْرِمِينَ يَوْمَئِذٍ زُرْقًا () يَتَخَٰفَتُونَ بَيْنَهُمْ إِن لَّبِثْتُمْ إِلَّا عَشْرًا () نَّحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُولُونَ إِذْ يَقُولُ أَمْثَلُهُمْ طَرِيقَةً إِن لَّبِثْتُمْ إِلَّا يَوْمًا (طه:102-104)

(yaitu) di hari (yang di waktu itu) ditiup sangkakala dan Kami akan mengumpulkan pada hari itu orang-orang yang berdosa dengan muka yang biru muram. Mereka berbisik-bisik di antara mereka: “Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sepuluh (hari)”. Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka: “Kamu tidak berdiam (di dunia), melainkan hanyalah sehari saja. (QS. Thoha: 102-104)

وَيَوْمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ يُقْسِمُ ٱلْمُجْرِمُونَ مَا لَبِثُوا۟ غَيْرَ سَاعَةٍ ۚ كَذَٰلِكَ كَانُوا۟ يُؤْفَكُونَ (الروم:55)

Dan pada hari terjadinya Kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa; “mereka tidak bertempat tinggal melainkan sesaat (saja)”. Seperti demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran) (QS. Ar-Rum:55)

قَٰلَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِى ٱلْأَرْضِ عَدَدَ سِنِينَ () قَالُوا۟ لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَسْـَٔلِ ٱلْعَآدِّينَ (المؤمن :112-113)

Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung” (QS. Al-Mukmin: 112-113)

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ كَأَن لَّمْ يَلْبَثُوٓا۟ إِلَّا سَاعَةً مِّنَ ٱلنَّهَارِ يَتَعَارَفُونَ بَيْنَهُمْ ۚ قَدْ خَسِرَ ٱلَّذِينَ كَذَّبُوا۟ بِلِقَآءِ ٱللَّهِ وَمَا كَانُوا۟ مُهْتَدِينَ (يونس:45)

Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk (QS. Yunus:45)
Ayat-ayat di atas manusia merasa bertempat tinggal di dunia hanya dalam durasi sekedar sesaat, sepanjang waktu sore atau pagi hari, setengah hari, atau sehari. Ini tidak berarti antara satu ayat dengan yang lainnya kontradiktif. Tetapi maknanya, durasi yang zhahirnya berbeda-beda itu bergantung kepada perbedaan ihwal mereka di dunia yang berdampak pada perbedaan tingkat kengerian di Akherat. Intinya, mereka merasakan keberadaannya di dunia sangatlah sebentar sekali.
Yang demikian itu disebabkan manusia telah menghabiskan umurnya untuk kepentingan duniawi. Mereka lalai dari mempersiapkan bekal untuk kehidupan Akherat sebagai kehidupan hakiki yang tidak pernah ada kematian lagi. Bahkan mereka mengejar dan terus disibukkan dengan urusan duniawi yang fana yang hanya berumur sekitar 60-70 tahun. Mereka sangat menyesali apa yang telah diperbuatnya. Jatah umur yang diberikan oleh Allah ta’ala tidak dimanfaatkan dengan baik. Jadi, seakan-akan mereka tidak mendapatkan jatah umur kecuali sangat sedikit sekali. Ini sebagaimana telah dijelaskan oleh Imam Abu Muslim.

Betapa rugi orang yang tidak memanfaatkan umurnya untuk mempersiapkan diri bagi kehidupannya yang hakiki di Akherat nanti.

Untuk itu Nabi shallahu’alaihi wasallam mengingatkan Abdullah Ibnu Umar. Dia radhiallahu’anhu menuturkan,

أخذ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم بمنكِبي ، فقال : كُنْ في الدُّنيا كأنَّك غريبٌ أو كعابرِ سبيلٍ

Rasulullah shallahu’alaihi wasallam memegang pundakku dan bersabda: “Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang menyeberang jalan.
Setelah itu Ibnu Umar radhiallahu’anhu pun berbagi kebaikan dengan mengingatkan kita semua,

.إذا أصبحتَ فلا تنتظِرِ المساءَ ، وإذا أمسيْتَ فلا تنتظِرِ الصَّباحَ ، وخُذْ من صِحَّتِك لمرضِك ، وفي حياتِك لموتِك (رواه البخارى)

Jika kamu berada di pagi hari janganlah menunggu sore. Dan jika kamu di sore hari janganlah menunggu pagi. Manfaatkan masa sehatmu sebelum masa sakitmu, hidupmu sebelum matimu.
Jangan sampai sesorang berumur 60 tahun tetapi belum juga memperbaiki diri. Belum melakukan peningkatan kwalitas ubudiyyah. Padahal ia berada di penghujung jatah usianya. Disebutkan di dalam Hadits,

أَعْذَرَ اللَّهُ إلى امْرِئٍ أخَّرَ أجَلَهُ، حتَّى بَلَّغَهُ سِتِّينَ سَنَةً (رواه البخارى عن أبو هريرة )

“Allah telah memberi udzur kepada seseorang dengan menangguhkan ajalnya hingga umur enam puluh tahun.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah)
Maksud Hadits ini, udzur orang tersebut sudah usai. Artinya dia telah diberi kesempatan panjang hingga 60 tahun yang seharusnya digunakan sebaik-baiknya untuk mempersiapkan bekal Akherat. Dia harus sadar ketika telah berusia 60 tahun ini, janganlah menyia-nyiakan kesempatan. Jadikanlah kesempatan yang tersisa ini sebagai “ghonimah” demi kematian yang husnul khatimah.
Jika seseorang sejak sedini mungkin bisa tumbuh dengan ketaatan-ketaatan maka keutamaannya sangatlah besar. Bagaimana tidak, di usia ABG yang notabene kejiwaan labil, emosi tak terkendali, idealisme tinggi, dan pada dirinya banyak sejuta keinginan tetapi dia bisa menundukkan semuanya itu demi bisa banyak taqorrub kepada Allah ta’ala, maka tentu ini perkara yang luar biasa. Jelaslah keutamaan yang akan didapatkan sangat besar. Yaitu, ia akan dimasukkan ke dalam 7 golongan yang pada hari Kiamat nanti mendapat naungan Allah ta’ala di saat tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Disebutkan di dalam Hadits,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ يَومَ القِيَامَةِ في ظِلِّهِ، يَومَ لا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ في عِبَادَةِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ في خَلَاءٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ في المَسْجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا في اللَّهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إلى نَفْسِهَا، قالَ: إنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فأخْفَاهَا حتَّى لا تَعْلَمَ شِمَالُهُ ما صَنَعَتْ يَمِينُهُ (رواه البخارى عن ابى هريرة)

“Tujuh golongan yang dinaungi Allâh ta’ala dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, (3) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya, (4) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (5) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, (6) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan (7) seseorang yang bershadaqah dengan suatu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah)
Adapun umur 40 tahun, menurut ilmu psikologi adalah umur kedewasaan dan kematangan seseorang dalam berpikir, berbicara, bertindak dan bersikap. Sebagaimana fisik atau tubuh akan mencapai puncak primanya pada umur 30 tahun. Ibnu Katsir mengatakan bahwa seseorang tidak berubah lagi dari kebiasaan yang dilakukannya bila mencapai umur 40 tahun.
Jadi, kalau seseorang pada umur 40 tahun ini telah membiasakan dengan hal-hal baik maka ia akan terus meng-istiqomah-i-nya. Shalat Tahajjud, puasa sunnah, shodaqoh, membaca Al-Qur’an, shalat jama’ah, dan kebaikan apapun yang telah dibiasakannya akan terus menguat pada dirinya. Dan, ia telah menjadi orang yang lebih bijak dan lebih berhati-hati dalam bertindak dan memutuskan. Tentang umur 40 tahun, Allah ta’ala berfirman,

حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَٰلِحًا تَرْضَىٰهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِىٓ ۖ إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ (الأحقاف:19)

“Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (QS. Al-Ahqof:19)
Untuk itu Nabi shallahu’alaihi wasallam dan secara umum para Nabi lainnya diangkat sebagai utusan Allah setelah umur 40 tahun. Syaikh Utsaimin rahimahullah di dalam kitabnya “Ushul fi-t-Tafsir” mengatakan: Muhammad shallahu’alaihi wasallam ketika diangkat menjadi Rasul berumur 40 tahun. Demikian yang masyhur di kalangan para ahli ilmu. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhu, ‘Atho, Sa’id bin al-Musayyab dan yang lainnya bahwa umur 40 tahun adalah umur kedewasaan dan kematangan seseorang dalam berpikir dan bersikap.

Jika Anda yang telah berusia 40 tahun sudah melekat dengan karekter yang disebutkan di atas maka pujilah Allah ta’ala, jika belum maka segeralah berbenah diri.

Kalau kita bisa mengamalkan nasehat Abdullah Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu ini niscaya kita termasuk al-kayyis (orang berakal sempurna) yaitu orang yang mengkondisikan diri untuk senantiasa menyiapkan bekal yang akan dibawa dalam perjumpaan menghadap Allah nanti, sebagaimana sabda Nabi shallahu’alaihi wasallam,

عن ابي يعلى شداد ابن اوس رضي الله عنه قال قال رسول الله ص م الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ ، وَعَمِلَ لِمَا بعدَ المَوتِ ، والعَاجِزُ مَنْ أتْبَعَ نَفْسَهُ هَواهَا وَتَمنَّى عَلَى اللهِ الاَمَانِيَّ (رواه الترميذي)

Dari Abu Ya’ala Syidad bin Aus radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Orang yang sempurna akalnya ialah yang menundukkan hawanya dan senantiasa beramal sebagai bekal setelah mati. Dan orang yang rendah adalah yang selalu menurutkan hawa nafsunya. Disamping itu, ia mengharapkan berbagai angan-angan kepada Allah.” (HR Tirmidzi).
Ada kisah yang luar biasa tentang seorang Shahabat yang bernama ‘Umair bin Al Hammam Al Anshari. Dia tidak mau menyia-nyiakan umurnya demi segera meraih Surga. Dia tidak mau tertunda meraih Surga. Dia berfikir kalau harus menunggu kurma hingga habis dimakan maka akan memperlambat peraihan Surga. Akhirnya kurmanya pun dilempar. Sebagaimana disebutkan di dalam Hadits,

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُقَدِّمَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ إِلَى شَيْءٍ حَتَّى أَكُونَ أَنَا دُونَهُ فَدَنَا الْمُشْرِكُونَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُومُوا إِلَى جَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ قَالَ يَقُولُ عُمَيْرُ بْنُ الْحُمَامِ الْأَنْصَارِيُّ يَا رَسُولَ اللَّهِ جَنَّةٌ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ قَالَ نَعَمْ قَالَ بَخٍ بَخٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَحْمِلُكَ عَلَى قَوْلِكَ بَخٍ بَخٍ قَالَ لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِلَّا رَجَاءَةَ أَنْ أَكُونَ مِنْ أَهْلِهَا قَالَ فَإِنَّكَ مِنْ أَهْلِهَا فَأَخْرَجَ تَمَرَاتٍ مِنْ قَرَنِهِ فَجَعَلَ يَأْكُلُ مِنْهُنَّ ثُمَّ قَالَ لَئِنْ أَنَا حَيِيتُ حَتَّى آكُلَ تَمَرَاتِي هَذِهِ إِنَّهَا لَحَيَاةٌ طَوِيلَةٌ قَالَ فَرَمَى بِمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ التَّمْرِ ثُمَّ قَاتَلَهُمْ حَتَّى قُتِلَ (رواه مسلم عن أنس بن مالك)

…..Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Majulah kalian ke Surga, yang luasnya seluas langit dan bumi.” Anas berkata, “Tiba-tiba ‘Umair bin Al Hammam Al Anshari berkata, “Ya Rasulullah, Surga luasnya seluas langit dan bumi!” Beliau menjawab: “Ya.” ‘Umair berkata, “Wah, wah..!” Maka Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Mengapa kamu mengatakan wah…wah..?” Umair menjawab, “Tidak, demi Allah wahai Rasulullah, saya mengharap semoga saya menjadi penghuninya.” Beliau bersabda: “Ya, sesungguhnya kamu termasuk penghuninya.” Kemudian dia mengeluarkan kurma dari dalam sakunya dan memakannya sebagian. Sesudah itu dia berkata, “Sungguh kehidupan yang lama bagiku kalau aku menghabiskan kurmaku ini.” Anas berkata, “Maka kurma yang masih tersisa di tangannya ia lemparkan begitu saja kemudian dia bertempur hingga gugur.” (HR. Muslim dari Anas bin Malik)

Judul buku : Oh..Kematian?!

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Oh..Kematian?! (Kematian Sebaik-baiknya Nasehat bag. 1) https://nidaulfithrah.com/oh-kematian-kematian-sebaik-baiknya-nasehat-bag-1/ Mon, 28 Oct 2024 02:21:44 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19282 A. Kematian Sebaik-baiknya Nasehat

Kita semua membutuhkan nasehat.
Ketika kita bengkok bisa menjadi lurus kembali setelah dinasehati.
Ketika keliru bisa sadar setelah dinasehati.
Ketika kita salah bisa kembali benar setelah dinasehati.
Hidup terasa lebih bermakna setelah Bapak dan Ibu guru memberi nasehat
Ketahuilah sebaik-baiknya nasehat adalah kematian!!!

Karena kematian sebaik-baiknya nasehat, maka Nabi shallahu’alaihi wasallam memerintahkan kita agar banyak mengingat kematian. Disebutkan di dalam Hadits,

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسولُ الله ﷺ: أكثروا ذكر هادم اللَّذات: الموت (رواه الترمذي، والنَّسائي، وصحَّحه ابن حبَّان)

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, dia berkata, Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda: Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan, yaitu kematian (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i, di-shahih-kan oleh Ibnu Hibban)
Kita benar-benar menyadari betapapun hebatnya fasilitas, lezatnya makanan dan minuman, tingginya kedudukan, glamournya fasilitas, menariknya permainan, indahnya pemandangan, nyamannya rekreasi, asyik-masyuknya pelampiasan hobi, megahnya gedung, ganteng cantiknya rupawan, dan manisnya bercengkerama semuanya itu tidak langgeng. Semuanya terbatas. Kematianlah yang membatasinya. Maka dengan mengingat kematian dan semakin banyak mengingatnya akan menjadikan kita berhati-hati dalam menjalani hidup dan kita betul-betul menyadari akan terjadinya peralihan dari kehidupan di dunia ke kehidupan di Akhirat yang dimulai dari alam barzah. Kita pun tidak akan membabi buta, semena-mena dan “sekarepe dhewek” dalam menjalani kehidupan yang fana ini. Bersamaan dengannya kita akan memperbanyak amalan.
Disebutkan dalam riwayat-riwayat tentang keadaan dan perkataan para Salafush sholih,


a. Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallhu’anhu
Ia berkata,

كُلُّ امْرِئٍ مُصَبَّحٌ فِي أَهْلِهِ:. وَالمَوْتُ أَدْنَى مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ. (رواه البخاري)

Setiap orang pada pagi hari bersantai dengan keluarganya. Padahal kematian lebih dekat dari pada tali sandalnya.” (HR. Bukhari)


b. Abdurrahman bin ‘Auf radhiallahu’anhu
Ia radhiallahu’anhu yang sedang berpuasa dihidangkan makanan untuk berbuka, tetapi tangannya tidak sanggup menyentuhnya ketika teringat kematian Mush’ab dan Hamzah radhiallahu’anhum,

أنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بنَ عَوْفٍ رَضِيَ اللَّهُ عنْه، أُتِيَ بطَعَامٍ وكانَ صَائِمًا، فَقالَ: قُتِلَ مُصْعَبُ بنُ عُمَيْرٍ وهو خَيْرٌ مِنِّي، كُفِّنَ في بُرْدَةٍ، إنْ غُطِّيَ رَأْسُهُ، بَدَتْ رِجْلَاهُ، وإنْ غُطِّيَ رِجْلَاهُ بَدَا رَأْسُهُ – وأُرَاهُ قالَ: وقُتِلَ حَمْزَةُ وهو خَيْرٌ مِنِّي – ثُمَّ بُسِطَ لَنَا مِنَ الدُّنْيَا ما بُسِطَ – أَوْ قالَ: أُعْطِينَا مِنَ الدُّنْيَا ما أُعْطِينَا – وقدْ خَشِينَا أَنْ تَكُونَ حَسَنَاتُنَا عُجِّلَتْ لَنَا، ثُمَّ جَعَلَ يَبْكِي حتَّى تَرَكَ الطَّعَامَ (رواه البخارى)

“Abdurrahman bin ‘Auf dihidangkan makanan yang saat itu ia sedang berpuasa. Lalu ia berkata, Mus’ab bin Umair telah terbunuh. Ia adalah orang yang lebih baik dariku tetapi ketika (hendak dikafani) tidak ada kain kafan yang bisa membungkusnya kecuali hanyalah burdah (kain bergaris) yang apabila ditutupkan pada kepalanya, kakinya terbuka (karena kain yang pendek) dan bila ditutupkan pada kakinya kepalanya terbuka. Dan aku melihatnya, dia lanjut berkata; “Hamzah juga lebih baik dariku ia telah terbunuh. Dunia telah dilapangkan untukku sebagaimana yang telah dilapangkan ini, dan sungguh kami khawatir bila kebaikan-kebaikan kami telah disegerakan balasannya buat kami (berupa kenikmatan dunia). Lalu ia pun mulai menangis dan meninggalkan makanan tersebut(HR. Bukhari)


c. Abu Hurairah radhiallahu’anhu,

كان إذا رأى جنازة قال : امضوا فإنا على الأثر

Ketika melihat janazah, ia mengatakan: Berlalulah kalian, kami pun pasti akan menyusul.


d. Abu Darda’ radhiallahu’anhu,
Dia berkata,

إذا ذكرت الموتى فعد نفسك كأحدهم

Kalau Anda mengingat orang-orang mati maka masukkan diri Anda salah satu dari mereka.

أضحكني؛ مؤمِّل دنيا والموتُ يطلبه، وغافل وليس مغفولًا عنه، وضاحك بملء فِيه ولا يدري أأرضى الله أم أسخطه

Aku jadi tertawa; ada orang memimpikan dunia padahal kematian tengah memburu dirinya, orang yang lalai padahal kematian tidak lalai terhadapnya, orang yang terbahak-bahak padahal dia tidak tahu apakah Allah ta’ala ridho terhadapnya ataukah murka.


e. Sa’id bin Jubair rahimahullah (665-714M)
Ia seorang ahli tafsir murid Ibnu Abbas, berkata,

لو فارق ذكر الموت قلبي لخشيت أن يفسد عليّ قلبي

“Kalau hatiku lepas dari mengingat mati, saya khawatir hatiku rusak”


f. Umar bin Abdul Aziz rahimahullah (681-720)
Ia cicit Umar bin Al Khothob, seorang khalifah Bani Umayyah berkata :

ألا ترون أنكم تجهزون كل يوم غاديا أو رائحا إلى الله عز وجل تضعونه في صدع من الأرض قد توسد التراب ، وخلف الأحباب ، وقطع الأسباب

Tidakkah kalian mengetahui bahwa kalian setiap hari pagi dan sore berjalan menuju Allah ta’ala menyiapkan diri kalian untuk kalian baringkan di liang lahat yang diurug dengan tanah, sementara kerabat kalian pulang maka terputuslah semua ikatan.


g. Abu Haazim rahimahullah
Dia seorang Tabi’in lahir di zaman sahabat Ibnu Umar, berkata,

انظُر كل عمل كرهت الموت لأجله فاترُكه، ولا يضرُّك متى متَّ

Lihatlah setiap pekerjaan yang karenanya Anda membenci kematian lalu tinggalkanlah, niscaya tidak akan memudharatkan Anda kapanpun Anda mati


h. Dzun Nun al-Mishry rahimahullah (796-859)
Ada seseorang yang menemuinya, bersamanya orang-orang para pecinta dunia. Dzun Nun pun mengatakan kepada mereka,

تَوَسَّدُوا المَوْتَ إِذَا نِمْتُمْ، وَاجْعَلُوهُ نُصْبَ أَعْيُنِكُمْ إِذَا قُمْتُمْ، كونوا كأنكم لا حاجة لكم إلى الدنيا، ولا بُدَّ لكم من الآخرة(الزهد الكبير للبيهقي)

Berbantallah kalian dengan kematian jika kalian tidur. Jadikalan ia penyangga mata kalau kalian bangun. Jadilah kalian sebagai orang-orang yang seakan-akan tidak membutuhkan dunia. Tetapi Akheratlah yang wajib bagi kalian.


i. Daud Ath-Tho-i rahimahullah (wafat tahun 781 M)
Ia belajar kepada Imam Abu Hanifah. Suatu hari Haris bin Idris berkata kepadanya, Berilah aku nasehat. Dia menjawab,

عسكر الموت ينتظرونك

“Tentara kematian tengah mengintaimu”


j. Lukman rahimahullah
Ibnu Abi Syaibah, Imam Ahmad di dalam kitab “Zuhud” dan ibnu Jarir, Ibnu Mundzir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Imam Mujahid ia berkata : Lukman itu seorang budak Habasyah berbibir tebal dan telapak kaki tebal, Ia seorang Qodhi untuk Bani Israil. Dia menasehati anaknya,

يا بني، أمرٌ لا تدري متى يلقاك، استعدَّ له قبل أنْ يفجأك

Wahai anakku, ada perkara yang kamu tidak tahu kapan ia akan menemuimu. Bersiaplah untuknya sebelum mendatangimu secara tiba-tiba


k. Hasan al-Bashri rahimahullah
Dia seorang Tabi’in yang hidup ditengah-tengah Para Pembesar Shahabat seperti Ustman bin Affan dan Thalhah bin Ubaidillah. Suatu hari sekelompok orangtua dan anak-anak muda bermajlis bersama Hasan al-Bashri rahimahullah. Dia bertanya kepada mereka,

معشر الشيوخ، ما يصنع بالزرع إذا طاب؟! فقالوا: يحصد! ثم التفت فقال: معشر الشباب، كم مِن زرع لم يَبلغ قد أدركته الآفة فأهلكته، وأتت عليه الجائحة فأتلفته؟! ثم بكى وتلا: وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ( إبراهيم: 25)

Wahai para orangtua! Apa yang mesti diperbuat terhadap tanaman yang sudah matang? Mereka menjawab: Dipanen. Lalu, dia menoleh, Wahai para pemuda! Betapa banyak tanaman belum sampai matang tapi rusak karena diserang hama. Lalu dia menangis dan membaca, “Allah ta’ala memberikan perumpamaan kepada manusia agar mereka menyadari (QS. Ibrahim:25)

Judul buku : Oh..Kematian?!

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>