musibah – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Tue, 13 May 2025 09:53:00 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png musibah – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 Doa Terhindar dari Cobaan berat https://nidaulfithrah.com/doa-terhindar-dari-cobaan-berat/ Tue, 13 May 2025 09:52:59 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19909 الَّلُهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ وَ دَرَكِ الشَّقَاءِ وَ سُوْءِ الْقَضَاءِ وَ شَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ (البخاري حديث: 6347)

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari JAHDIL BALAA’ (musibah yang begitu berat dirasakan), DAROKISY SYAQOO’ (kesengsaraan), SUU-IL QODHO’ (keputusan yang buruk), dan kegembiraan musuh (atas keburukan yang menimpa kita)”

Judul buku : 162 DOA DARI AL QUR’AN & HADITS

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Tersenyum Ketika Tertimpa Musibah https://nidaulfithrah.com/tersenyum-ketika-tertimpa-musibah/ https://nidaulfithrah.com/tersenyum-ketika-tertimpa-musibah/#respond Fri, 15 Sep 2023 06:07:48 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=17804 Syaikh Khalid az-Zahrany Hafidhohullahu ketika berkunjung ke Pesantren mahasiswa ‘ath-Thaybah’ bercerita: “Seorang imam masjid di kota Riyadh ditimpa musibah. Rumahnya kebakaran yang mengakibatkan seluruh keluarganya-istri dan anak-anaknya tewas. Tetangga dan kawan-kawannya berdatangan untuk bertakziah. Yang aneh adalah- kata beliau lebih lanjut- pada raut wajahnya sama sekali tidak ada tanda-tanda kesedihan. Beliau menyambut setiap tamunya dengan terus mengumbar senyum. Seakan-akan tidak ada kejadian apa-apa. Kondisinya terbalik, seakan-akan para tamunya adalah yang ditimpa musibah sementara beliau adalah tamu yang datang untuk menghiburnya. Subhanallah” Bagaimana bisa orang ditimpa musibah, bukannya sedih malah mengumbar senyum? Ini tidak lain karena orang tersebut memiliki keimanan yang benar terhadap takdir.

Di suatu kampung, seorang da’i bertanya kepada tukang becak: “Apakah kamu tidak takut adzab Allah , kamu tidak pernah shalat, puasa dan amal shalih lainnya. Hidupmu hanya untuk berjudi dan bersenang-senang? “Dia menjawab: “Lho, bukankah segala sesuatu sudah ditakdirkan oleh Allah ? Jadi, saya menjadi begini ya.. sudah ditakdirkan Allah. Jadi, jangan salahkan saya. Salahkan Allah dong!” Maa syaa’a Allah Laa haula wa laa quwwata illa billah. Jawabannya menunjukkan ia tidak mengerti tentang hakekat takdir.

Agar kita beriman kepada takdir dengan keimanan yang benar, maka kita harus mengetahui kandungannya.

  1. Meyakini bahwa Allah subhanahu wata’ala mengetahui segala sesuatu sekecil-kecilnya secara terperinci.
  2. Meyakini bahwa Allahl subhanahu wata’ala dengan mencatat pengetahuannya tentang segala sesuatu itu di lauh mahfudz. Bahkan Dia telah mencatatnya 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi, sebagaimana disebutkan di dalam Hadits Imam Muslim dari Abdullah bin Amr bin al-Asha “Allah subhanahu wata’ala telah mencatat takdir seluruh makhluk limapuluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi(HR. Muslim).

Untuk kandungan pertama dan kedua bahwa Allah subhanahu wata’ala mengetahui segala sesuatu dan telah mencatatnya dalam lauh mahfudz, Dia subhanahu wata’ala telah menjelaskan dalam firmanNya: “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (lauh mahfudz). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah(Qs. Al-Hajj:70)

  1. Meyakini bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah subhanahu wata’ala. Dia befirman: “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya”. (Qs. Al-Qashash: 68)
  2. Meyakini bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Allah subhanahu wata’ala. Dia subhanahu wata’ala berfirman: “Allah menciptakan segala sesuatu”. (Qs. Az-Zumar: 62). “Allah menciptakan kalian dan apa yang kalian perbuat“. (Qs. Ash-shoffat: 96).

Inilah empat kandungan takdir yang harus diketahui oleh setiap muslim. Adakah sesuatu yang tidak diketahui oleh Allah? Tidak mungkin, Segala sesuatu pasti diketahui Nya, bukan saja yang telah terjadi tetapi juga yang akan terjadi sampai hari Kiamat. Tuhan itu sempurna, kalau ada sesuatu yang tidak diketahui maka ada sifat kurang pada diriNya. Mahasuci Allah dari hal yang demikian.

Adakah sesuatu yang terjadi diluar kehendakNya? Mustahil, segala sesuatu pasti terjadi dengan kehendakNya. Dialah Raja di dalam kerajaan Nya yang meliputi seluruh alam. Jika ada sesuatu yang terjadi diluar kehendakNya, berarti ada cacat pada diriNya sebagai Raja. Mahasuci Allah dari yang demikian. Kalau ditanya; berarti maksiat-maksiat seperti perzinaan, pencurian, pembunuhan, perampokan dengan kehendaknya ? Jawabannya adalah betul. Tetapi, perlu diketahui bahwa tidak setiap yang Allah subhanahu wata’ala kehendaki Dia meridhainya/ mencintainya. Segala kemaksiatan terjadi dengan kehendak Allahsubhanahu wata’ala akan tetapi Allah tidak meridhainya. Dia subhanahu wata’ala berfirman: “Dan Allah tidak mencintai kerusakan” (alBaqoroh: 205). “Dan Allah tidak menyukai setiap orang kafir dan berbuat dosa” (al-Baqarah; 276).

Untuk lebih memudahkan dalam pemahaman, kita ambil contoh dari kehidupan manusia; Penderita kencing manis berstadium tinggi diputuskan dokter harus diamputasi kakinya karena itu satu-satunya solusi, kalau tidak maka akibatnya fatal. Penderita ini tentunya menghendaki amputasi ini untuk kemaslahatan dirinya, meskipun sebenarnya dia tidak suka dengan tindakan ini. Tetapi bagaimana lagi, inilah yang harus ditempuh untuk kemaslahatan dirinya. Demikian pula Allah, Dia menghendaki sesuatu yang Dia tidak meridhainya untuk suatu hikmah. Yang jelas, Allah telah menjelaskan kepada manusia mana yang harus ditempuh/ diambil sehingga bisa selamat di dunia dan masuk Surga di Akherat nanti.

Adakah sesuatu yang terjadi diluar ciptaanNya? Mustahil, segala sesuatu baik dzat, sifat, dan gerakan pasti semuanya diciptakan oleh Allah. Tidak mungkin ada sesuatu tercipta dengan sendirinya. Jika dikatakan; berarti syarr (perbuatan/sifat buruk) diciptakan oleh Allah? Jawabannya adalah betul. Tetapi, perlu diketahui bahwa Allahlah Pencipta syarr, tetapi pelakunya adalah manusia. Allah sendiri telah memberikan pilihan kepada manusia akankah mengambil syarr atau khair (perkara/sifat baik)? Allah telah menjelaskan mana yang harus ditempuh agar menuju Surga, tentunya khair. Tetapi manusia itu sendiri yang menempuh syarr yang menuju Neraka? Jadi, Allah tidak berbuat dzalim. “Allah tidak berbuat dzalim kepada mereka, merekalah yang mendzalimi diri mereka sendiri” (Qs. Ali Imran: 117)

Mari kita memperhatikan beberapa hal berikut ini untuk lebih memahami masalah takdir:

  1. Segala sesuatu yang terjadi adalah dengan kehendak Allah. Ini tidak berarti manusia tidak punya kehendak. Realitanya memang demikian, kita semua tidak ada yang mengingkari bahwa kita punya kehendak. Contoh: ketika kita menyengaja pergi dari rumah ke suatu tempat adalah bukti bahwa manusia mempunyai kehendak. Allah subhanahu wata’ala tentang ini berfirman: “Datangilah ladang-ladang kalian (istri-istri) dari arah mana saja yang kalian kehendaki” (Qs. Al-Baqarah: 223). Tetapi, kehendak Allah subhanahu wata’ala berada diatas kehendak manusia.
  2. Segala sesuatu yang ada itu diciptakan oleh Allah . Ini tidak berarti bahwa manusia tidak punya kemampuan. Realitanya memang demikian dan tidak ada seorangpun yang mengingkari hal ini. Contoh: Pak Ali mampu mengangkat beras 50 kg, kalau Pak Ahmad mampu 60 kg. Allah subhanahu wata’ala berfirman: “Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kesanggupan kalian” (Qs. At-Taghobun: 16). Tetapi, kemampuan Allah subhanahu wata’ala itu diatas kemampuan manusia.
  3. Adakalanya sesuatu yang telah ditakdirkan terikat dengan sebab/ikhtiarnya, apabila sebabnya direalisasikan, maka takdirnya akan terjadi. Contoh: Ada umur seseorang yang terikat dengan silaturrahim. Kalau melakukan silaturrahim maka umurnya diperpanjang, kalau tidak maka tidak diperpanjang. Contoh lain: Takdir suatu kebaikan pada seseorang Allah mengikatkannya dengan doa. Jika dia berdoa, maka takdir kebaikan akan terwujud, dan kalau tidak maka tidak akan terwujud. Inilah maksud dari Hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasallamBarangsiapa yang ingin rizkinya dilapangkan dan umurnya dipanjangkan maka bersilaturrahimlah” (HR. Bukhari dan Muslim). “Tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa” (HR. al-Hakim). Tentu kita tidak mengetahui; apakah sesuatu yang ditakdirkan bagi kita terikat dengan ikhtiar ataukah tidak? Yang terpenting kita harus tetap ikhtiar. Jika ternyata suatu takdir tersebut dikaitkan dengan ikhtiar, maka ia akan terwujud. Jika tidak, maka ikhtiar kita tidak akan siasia. Ia akan dinilai sebagai amal shaleh yang memperberat timbangan kebaikan kita. d. Untuk urusan dunia, seringkali manusia tidak beralasan dengan takdir. Contoh: ketika seseorang dilempar kepalanya dengan batu, pasti dia akan menghindar, tidak mungkin dia berdiam diri dan menyandarkan kepada takdir, “kalau takdirnya kena ya kena, kalau gak ya gak”. Lalu kenapa untuk urusan akherat (berupa mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan) mudah-mudahnya menyandarkan kepada takdir. Contoh: ketika dikatakan kepada seseorang, “kenapa berjudi?” jawabannya, “kan semua nya sudah ditakdirkan”. “kenapa tidak shalat?” jawabannya, “kan sudah ditakdirkan”. Inilah bentuk ketidakadilan manusia. Sehingga berbeda sikap untuk urusan dunia dan akherat. Mestinya keduanya harus disikapi sama persis, tanpa membedakan.
  4. Allah subhanahu wata’ala tidak memaksakan hambaNya untuk melakukan suatu hal (mengerjakan perintah atau meninggalkan larangan). Manusia telah diberikan pilihan oleh Allah subhanahu wata’ala dengan seluas-luasnya. Bersamaan dengan itu Allah subhanahu wata’ala menjelaskan dengan penjelasan yang sangat banyak baik dalam al-Qur’an ataupun melalui Hadits-Hadits Nabinya apa yang seharusnya ditempuh untuk bisa selamat di dunia dan Akherat. Jadi, salah kaprah jika manusia menyandarkan maksiatnya kepada takdir.
  5. Hikmah beriman kepada takdir. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauh mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah subhanahu wata’ala. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu bergembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri (QS. Al-Hadid : 22-23).

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafizhahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa THAYBAH Surabaya)

Majalah Bulan Oktober, 2013 Edisi 16

]]>
https://nidaulfithrah.com/tersenyum-ketika-tertimpa-musibah/feed/ 0
Guncangan Dasyat https://nidaulfithrah.com/guncangan-dasyat/ https://nidaulfithrah.com/guncangan-dasyat/#respond Wed, 30 Aug 2023 08:29:08 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=17722 Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah ta’ala. Air mata ini belum mengering akibat kita melihat saudara-saudara kita di bagian Nusa Tenggara terkena bencana, kita sudah melihat bencana itu datang di bagian negeri yang kita cintai ini. Puing-puing rumah belum selesai dibersihkan dan dibangun kembali, kita mendengar ada suara gemuruh air laut yang merobohkan rumah-rumah di Tanah Sulawesi. Orang-orang yang sakit belum semuanya pulang dari rumah sakit karena bencana, kita menyaksikan ada lagi saudara-saudara kita yang masuk rumah sakit akibat sebuah bencana. Mengapa semua ini terjadi? Apa hikmah di balik semua bencana ini? Apa yang harus dilakukan bangsa ini agar kembali menjadi damai dan tenteram?

Ketahuilah, setiap apa yang terjadi di atas muka bumi ini merupakan tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah ta’ala. Kita sering memaksiati-Nya, kita sering melalaikan-Nya, kita melupakan hak-Nya yang agung. Lalu kemudian Allah ta’ala kirimkan tanda-tanda kebesaran-Nya kepada kita semua agar kita semua takut hanya kepada-Nya. Allah ta’ala berfirman:

وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلا تَخْوِيفًا

Dan tidaklah Kami mengirimkan tanda-tanda itu melainkan hanya untuk menakut-nakuti(QS. Al Isra’ ayat: 59)

Di dalam ayat yang lain Allah ta’ala juga berfirman:

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Dan kami tampakkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) pada sebagian ufuk dan pada diri-diri mereka sendiri. Agar jelas kepada mereka bahwasanya Al Qur’an itu benar. Dan apakah Rabbmu tidak cukup (bagimu) bahwasanya Dia melihat segala sesuatu(QS. Fusshilat ayat: 53)

Diantara tanda kebesaran Allah ta’ala ialah gempa bumi. Kita boleh berbicara bahwasanya gempa bumi ini terjadi karena adanya pergeseran lempeng-lempeng yang ada jauh di dalam perut bumi ini. Kita boleh berkata bahwasanya tsunami yang terjadi di atas muka bumi ini juga disebabkan oleh pergeseran lempeng-lempeng.

Namun apakah kita tidak mau mengoreksi, bahwa semua yang terjadi di atas muka bumi ini itu disebabkan oleh dosa-dosa yang kita perbuat. Semua yang Allah ta’ala kirimkan dari musibah-musibah ini disebabkan oleh kerusakan yang diperbuat tangan-tangan kita, Allah ta’ala berfirman:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa-apa yang menimpa kalian dari musibah, maka disebabkan oleh tangan-tangan kalian sendiri. Dan Allah Maha Pengampun“. (QS. Asy-Syuro ayat: 30)

Allah ta’ala juga berfirman:

ما أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

“Dan apa-apa yang kalian terima dari kebaikan, maka datangnya dari Allah. Dan apa-apa yang kalian terima dari keburukan, maka itu disebabkan diri-diri kalian“. (QS. An Nisa’ayat: 79)

Bahkan di dalam sebuah ayat lain, Allah ta’ala dengan sangat jelas mengatakan bahwasanya yang terjadi di atas muka bumi ini ialah akibat dari dosa-dosa yang kita perbuat. Allah ta’ala menceritakan tentang umat-umat terdahulu dengan kedahsyatan musibah yang mereka lalui. Allah ta’ala berfirman:

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya. Diantara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang menggelegar (halilintar), dan diantara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dam diantara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-hali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri(QS. Al Ankabut ayat: 40)

Apa yang Allah ta’ala gambarkan pada ayat di atas sepertinya sedang terjadi di negeri kita yang tercinta ini. Mungkin bagi orang-orang yang mendahulukan logikanya, apa yang terjadi di negeri tercinta ini hanyalah sebuah fenomena alam biasa. Namun bagi orang-orang beriman, yang di dalam hatinya ada rasa takut kepada Allah ta’ala maka semua ini ialah pengulangan kembali cerita umat terdahulu yang Allah ta’ala azab karena dosa-dosa mereka.

segala puji bagi Allah ta’ala yang telah memberikan kepada penduduk muslimin lainnya keselamatan dari musibah. Sudah seharusnya mereka mengambil pelajaran dari musibah ini Sudah seharusnya mereka bersyukur karena Allah ta’ala tidak menurunkan guncangan bumi yang sangat dahsyat sebagai pertanda hari kiamat. Renungkanlah firman Allah ta’ala yang menceritakan dahsyatnya guncangan yang akan terjadi pada hari kiamat. Dahsyatnya guncangan yang lebih besar. dari yang dirasakan saat ini:

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا

“Apabila bumi digoncangkan dengan segoncang-goncangnya”. (QS. Al Zalzalah ayat: 1)

Kalau kita melihat ada diantara ibu masih melindungi anaknya saat terjadi gempa, ada sebagian orang melindungi orang yang lain agar tidak tertimpa rumah saat terjadi gempa. Namun perhatikanlah, guncangan sebagai tanda hari kiamat membuat orang melupakan saudaranya, membuat ibu yang menyusui meletakkan anaknya, membuat wanita yang hamil menjadi keguguran, itulah pertanda dari Allah ta’ala yang agung sebagai tanda hari kiamat. Di dalam sebuah ayat Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ () يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذهَلُ هَل كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سكَاری وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ

“Wahai manusia takutlah kalian kepada Rabb kalian, sesungguhnya guncangan (gempa) hari kiamat itu adalah sesuatu yang besar. Pada hari itu engkau melihat wanita yang menyusui melupakan anak yang disusuinya, dan setiap wanita yang hamil akan mengalami keguguran, dan engkau melihat manusia dalam keadaan mabuk padahal mereka tidak sedang mabuk. Akan tetapi azab Allah sangat pedih.” (QS. Al Hajj ayat: 1-2)

Dalam ayat yang lain Allah ta’ala berfirman:

وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًا

“Dan dijalankanlah gunung-gunung, maka menjadi fatamorgana“. (QS. An Naba’ ayat: 20)

Bisa kita bayangkan, kita sudah sangat takut ketika melihat pada video-video yang beredar bahwa tanah bisa bergerak. Sebagian orang berkata bahwa tanah itu bergerak layaknya air yang mendidih. Namun kejadian hari kiamat tentu lebih dahsyat dan menakutkan. Guncangan yang ada saat ini juga pertanda dari Allah ta’ala agar kita kembali kepada-Nya. Seperti kata Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu saat terjadi gempa:

يا أيها الناس ! إن ربكم يستعتبكم فأعتبوه

Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Rabb kalian menginginkan kalian agar kembali. Maka kembalilah dengan bertaubat(Tafsir Ath Thabari 17/478)

Kemudian kita juga melihat sebagian manusia saat ini berlaku kerusakan yang sangat nyata. Diantara manusia ada yang saling membunuh untuk berebut harta. Diantara manusia ada yang merusak kehormatan orang lain demi tercapainya sebuah tujuan yaitu kedudukan yang tinggi di mata masyarakat. Mereka sudah tidak mempedulikan lagi darimana ia mendapatkan, dan untuk apa ia membelanjakan hartanya. Padahal sekarang Allah ta’ala menegur kita di dalam sebuah ayat:

وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا

“Dan bumi mengeluarkan beban-beban (isinya)” (QS. Al Zalzalah ayat: 2)

Imam Ibnu Katsir rahimahullahu saat menafsirkan hadis ini beliau membawakan hadis yang cukup panjang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تقيءُ الْأَرْضُ أَفْلَاذَ كَبدِهَا . أَمْثَالَ الأسْطُوَانِ مِنَ الذَّهَبِ وَالفِضَّةِ . فَيَجِيءُ القَاتِلُ فَيَقُوْلُ : فِي هَذَا قُتِلْتُ . ويجيءُ القَاطِعُ فَيَقُولُ فِي هَذَا قَطَعْتُ رحمي . وَيَجيْءُ السَّارِقُ فَيَقُولُ : فِي هَذَا قُطِعَتْ يَدَيَّ . ثُمَّ يَدَعُوْنَهُ فَلَا يَأْخُذُوْن مِنْهُ شَيئًا

“Kelak bumi akan mengeluarkan isi perutnya semisal tiang dari emas dan perak. Maka orang yang dahulu (saat di dunia) membunuh datang dan berkata: “Karena ini aku dibunuh Kemudian datang orang memutuskan tali silaturrahmi dan berkata: ‘Karena ini dahulu aku memutuskan tali kekerabatan. Kemudian datang seorang pencuri dan berkata: “Karena benda ini tanganku dipotong’. Lalu mereka semua meninggalkannya dan tidak mengambilnya sedikitpun. (HR. Muslim no: 1013)

Bisa kita lihat di hadis di atas, manusia yang pada mulanya saat di dunia saling berebut harta, maka kelak pada saat terjadi guncangan yang dahsyat yang mengeluarkan semua isi perut bumi mereka pun tidak ada yang mengambil emas atau perak meskipun sedikit.

Selain itu juga, mayat-mayat pun akan keluar dari perut bumi. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

أَفَلَا يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِي القُبُور

“Maka apakah dia tidak mengetahui apabila semua yang di dalam kubur akan dibangkitkan?” (QS. Al ‘Adiyat ayat: 9)

Kemudian manusia ketak saat dibangkitkan pada hari kiamat, mereka akan berkata seperti yang Allah ta’ala firmankan:

وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا

“Dan manusia berkata: “Mengapa terjadi begini?” (QS. Al Zalzalah ayat: 3)

Semua mata akan terbelalak dengan kejadian yang terjadi saat hari kiamat. Apabila diri kita ini sekarang sangat takut saat melihat gempa bumi dan tsunami. Lalu tidakkah kita takut tentang kejadian yang lebih dahsyat yang Allah ta’ala siapkan saat akhir zaman? Maka dari itu pada ayat yang lain. Allah ta’ala berfirman:

قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ

“Mereka berkata: Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)? Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah para rasul-Nya(QS. Yasin ayat: 52)

Maka dari itu, janganlah kita merasa aman atas keamanan yang Allah ta’ala berikan kepada kita. Padahal kenyataannya, kita sering bermaksiat kepada-Nya. Banyak orang tidak sadar, bahwa maut senantiasa telah mengintainya. Banyak orang tidak sadar saat dia sedang bermaksiat, akan datangnya azab yang datang secara tiba-tiba Seperti yang Allah ta’ala firmankan dalam sebuah ayat:

أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحَى وَهُمْ يَلْعَبُونَ، أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الخَاسِرُونَ

“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka pada malam hari saat waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka pada waktu matahari sepenggalan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al ‘Araf ayat: 97-99)

Lalu yang menyedihkan dari itu semua, bahwasanya kelak bumi akan bercerita tentang semua kejadian yang ada di atasnya. Bumi akan berkata tentang semua hal yang terjadi di atas muka bumi ini. Dia akan berbicara tentang kebaikan dan keburukan yang dilakukan manusia di atasnya. Bumi akan berbicara karena dia mendapatkan perintah dari Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman:

يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا () بِأَنَّ رَبَّكَ أَوحَى لَهَا

“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya. Karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya(QS. Al Zalzalah ayat: 4-5)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata:

فَإِنَّهَا أُمُورٌ مَشْهُودَةٌ يَعْرِفُهَا النَّاسُ لَكِنْ العجبُ كَوْنُ الْأَرْضِ تُخبِرُ بِذَلِكَ فَالعَجَبُ فِي المُخبِرُ لَا فِي الخَبَرِ كَشَهَادَةِ الأَعْضَاءِ

“Itulah perkara yang disaksikan Manusia saat itu mengetahui hal tersebut. Namun yang mengherankan bukanlah berita yang dibicarakan oleh bumi. Yang mengherankan adalah yang mengabarkan berita tersebut yaitu bumi (yang hanya benda mati), bukan pada beritanya yang menimbulkan decah kagum. Sebagaimana juga nantinya anggota tubuh manusia akan menjadi saksi bagi dirinya pada hari kiamat. (An Nubuwat hal: 222)

Lalu Ibnul Qayyim rahimahullahu juga berkata:

إِنَّ فِي دَوَامِ الذِّكْرِ فِي الطَّرِيقِ وَالبَيْتِ والخضرِ وَالسَّفَرِ وَالبَقَاعِ تَكْثِيرًا لِلشُّهُودِ العَبْدِ يَوْمَ القِيَامَةِ فَإِنَّ البَقْعَةِ وَالدَّارِ أَوْحَى لَهَا وَالجَبَلِ وَالْأَرْضِ تَشْهَدُ لِلذَّاكِرِ يَوْمَ القيامة

“Sungguh orang yang senantiasa berdzikir ketika berada di jalan, di rumah, di saat mukim, di saat safar, atau di berbagai tempat, itu akan membuatnya mendapatkan banyak saksi di hari kiamat Karena tempat-tempat tadi, rumah, gunung dan tanah, akan menjadi saksi bagi seseorang di hari kiamat (Al Wabil Ash Shoyyib hal: 197)

Begitu juga Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullahu juga berkata:

Bumi menjadi saksi bagi setiap orang yang telah beramal dahulu di atasnya. Bumi dahulu telah menjadi saksi amalan setiap hamba. Dan Allah memerintahkan untuk memberitahukan amalan-amalan manusia, perintah ini harus dijalankan (jangan didurhakai).” (Taisir Al Karimir Rahman hal: 932)

Semua lisan kita akan dikunci oleh Allah ta’ala, Allah ta’ala berfirman:

الْيَوْمَ نَختِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Pada hari ini Kami tutap mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan dan kaki memberi persaksian terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”. (QS. Yasin ayat 65)

Selain bumi, tubuh dan kulit-kulit kita akan berbicara. Allah ta’ala berfirman:

حَتَّى إِذَا مَا جَاءُوهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَأَبْصَارُهُمْ وَجُلُودُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ )) وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدْتُمْ عَلَيْنَا قَالُوا أَنْطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ () وَمَا كُنتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَا أَبْصَارُكُمْ وَلَا جُلُودُكُمْ وَلَكِنْ ظَنَتُمْ أنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا تَعْمَلُونَ

“Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka: ‘Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?’ Kulit mereka menjawab: ‘Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan. Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu kepadamu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan” (QS. Fushilaat ayat: 20-22)

Kemudian batu-batu, pepohonan yang kita anggap sebagai benda mati kelak mereka semua akan bersaksi kepada Allah ta’ala atas apa yang kita perbuat. Di dalam sebuah hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي أَرَاكَ تُحِبُّ الغَنَمَ وَالبَادِيَةَ، فَإِذَا كُنتَ فِي غَنَمِكَ، أَوْ بَادِيَتِكَ، فَأَذَّنْتَ بالصَّلَاةِ فَارْفَعْ صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ، فَإِنَّهُ: لا يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ المُؤَذِّنِ، جِنٌّ وَلَا إِنسٌ وَلَا شَيْءٌ، إِلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ القِيَامَةِ»، قَالَ أَبُو سَعِيدٍ: سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Aku perhatikan kamu ini orang yang suka menggembala dan berkelana, maka jika kamu sedang menggembala kambingmu atau sedang berkelana maka adzanlah kamu dengan adzan seperti adzan shalat, tinggikan suaramu dengan adzan karena sesungguhnya semua yang mendengarkan adzan, baik dari golongan jin dan manusia dan apa pun saja, mereka akan menjadi saksi bagi si muadzin ada hari kiamat nanti. Abu Sa’id berkata: Aku mendengar hal ini dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam” (HR. Al Bukhari no: 609)

Lalu kemudian semua manusia berkumpul dalam keadaan bermacam-macam untuk melihat hasil dari perbuatan-perbuatan mereka. Allah ta’ala berfirman:

يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ

“Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka”.(QS. Al Zalzalah ayat: 6)

الْيَوْمَ تُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“pada hari ini, tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya”. (QS Al Mu’min ayat: 17)

Semua usaha manusia yang dilakukan saat di dunia akan diperhitungkan dan dihisab oleh Allah ta’ala. Tidak ada satu huruf pun yang kita ucapkan melainkan Allah ta’ala telah mengetahuinya. Tidak ada sedikit pun lirikan mata kepada sesuatu yang haram, melainkan Allah ta’ala telah melihatnya. Allah ta’ala berfirman:

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

“Dia mengetahui mata-mata yang berkhianat dan apa-apa yang disembunyikan di dalam dada-dada(QS. Al Mu’min ayat: 19)

Lalu semua manusia akan mendapatkan balasannya atas apa yang mereka usahakan saat di dunia. Allah ta’ala berfirman:

(فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ () ( وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sakecil apa pun. niscaya dia akar melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”. (QS. Al Zalzalah ayat 7-8)

Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun seperti halnya engkau meremehkan dosa sekecil apapun. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَلا تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تكلم أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ

“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan” (HR. Abu Dawud no: 4084)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لَا تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ

“Wahai para wanita muslimah, janganlah salah seorang diantara kalian meremehkan pemberian tetangganya. Walau pemberiannya hanyalah kaki kambing”. (HR. Al Bukhari no: 2566 dan Muslim no: 1030)

Akhir dari tulisan ini, hendaknya kita semua bertaubat kepada Allah ta’ala. Kembali ke ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang murni. Lalu seharusnya kaum muslimin juga banyak bersedekah, karena dengan bersedekah Allah ta’ala akan menyayangi kita. Seperti di dalam sebuah hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِي الأرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Orang yang menebar kasih sayang akan disayang oleh Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah yang di muka bumi, kalian pasti akan disayangi oleh Allah yang berada di atas langit(HR. Tirmidzai dalam Al Birr wa Ash Shilah no: 1847)

Perbanyaklah kita memperdalam ilmu tentang agama ini, berdo’alah kepada Allah ta’ala agar Allah ta’ala menjadikan negeri ini menjadi tenteram kembali serta diridhoi oleh-Nya.

Penulis : Ustadz Ananda Ridho Gusti

Majalah Bulan November, 2018 Edisi 71

]]>
https://nidaulfithrah.com/guncangan-dasyat/feed/ 0