miqot – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Sat, 12 Jul 2025 02:36:03 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png miqot – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 PANDUAN PRAKTIS HAJI & UMROH (Bag. 8 Seputar Masalah Umroh Berkali – kali dalam Satu Safar) https://nidaulfithrah.com/panduan-praktis-haji-umroh-bag-8-seputar-masalah-umroh-berkali-kali-dalam-satu-safar/ Sun, 13 Jul 2025 01:27:58 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=20075
  • Seputar Masalah Umroh Berkali – kali dalam Satu Safar
  • 19. Satu safar satu umroh. Tidak ada umroh berulang-ulang. Dimana seusai menunaikan umroh lalu keluar ke Ji’ronah atau Tan’im dengan tujuan mengambil miqot dari sana untuk bisa melakukan umroh berulang-ulang.


    Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan bahwa Nabi yang tingal di Makkah selama 13 tahun tidak pernah melakukan umroh dengan cara keluar dari Makkah sebagaimana yang dilakukan banyak kaum muslimin sekarang ini. Umroh yang beliau lakukan adalah ketika memasuki Makkah seusai bepergian. Demikian juga para Sahabat tidak ada yang keluar dari Makkah ke tanah halal untuk mengambil miqot umroh dari sana. Kecuali hanya A’isyah radhiallahu’anha seorang diri dimana dia telah berihram untuk umroh ketika berangkat bersama Nabi shallahu’alaihi wasallam untuk haji, yaitu haji Wada’ lalu datang haidh, maka Nabi perintahkan agar hajinya include umroh atau haji qiron …. [selesai]


    Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata: Perbuatan demikian adalah bid’ah di dalam agama Allah. Tidak ada orang yang lebih semangat melebihi Nabi shallahu’alaihi wasallam dan para Sahabat. Kita semua tahu beliau ketika fathu Makkah menetap di sana 19 hari tetapi tidak keluar ke Tan’im untuk ihram umroh. Demikian juga para Sahabat radhiallahu’anhum. Jadi, mengulang-ngulang umroh dalam satu safar itu perbuatan bid’ah.


    Syaikh Al-Albany rahimahullah berkata bahwa ihram umroh dari Tan’im sebagaimana yang dilakukan Aisyah radhiallahu’anha adalah hukum khusus baginya dan siapapun yang mengalami kondisinya yang sama dengan beliau. Ketika itu Aisyah radhiallahu’anha berangkat bersama Nabi shallahu’alaihi wasallam untuk Haji yaitu Haji Wada’. Seusai melakukan ihram untuk umroh dan sampai di suatu tempat mendekati Makkah dia haidh. Dia pun tidak thowaf dan tidak shalat. Ketika sudah suci, di Arofah dia menigikuti manasik haji hingga selesai secara sempurna. Ketika Rasulullah shallahu’alaihi wasallam hendak pulang, dijumpainya sedang menangis. Dia sedih, dimana para wanita yang bersamanya bisa menunaikan haji dan umroh secara tersendiri. Sementara dirinya umrohnya di-include-kan ke dalam haji. (Yaitu haji ifrod menurut Syaikh Al-Albany, atau haji qiron menurut ulama lainnya). Kemudian, Nabi shallahu’alaihi wasallam memerintahkan saudaranya Abdurrahman bin Abu Bakar ash-Shiddiq untuk menemaninya ke Tan’im guna mengambil ihram umroh di sana. Syaikh berkata bahwa wanita yang kondisinya seperti Aisyah radhiallahu’anha bisa melakukan seperti yang dia lakukan. Tentunya, hal ini tidak terjadi pada lelaki karena lelaki tidak haidh. Dan, Abdurrahman yang mengantarkan Aisyah radhiallahu’anha tidak melakukan ihram untuk mengulangi umroh. Dan, Sahabat radhiallahu’anhum yang berhaji bersama Nabi jumlanya sekitar 100.000, tidak ada satupun yang melakukannya (keluar dari Makkah untuk mengulang-ngulang umroh)

    • Seputar Masalah Talbiyah

    20. Talbiyah dalam umroh berakhir ketika akan melakukan thowaf. Adapun talbiyah dalam haji berakhir ketika sudah melakukan jumroh ‘Aqobah tanggal 10 Dzulhijjah. Setelah jamaah haji memperbanyak takbir kapanpun di manapun. Disebutkan di dalam Hadits Ibnu Abbas,’

    أنَّ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ أرْدَفَ الفَضْلَ، فأخْبَرَ الفَضْلُ: أنَّه لَمْ يَزَلْ يُلَبِّي حتَّى رَمَى الجَمْرَةَ (رواه الخارى ومسلم)

    “Nabi shallahu’alaihi wasallam memboncengkan Fadhl. Beliau shallahu’alaihi wasallam memberitahukan kepada Fadhl bahwa beliau masih terus bertalbiyah hingga usai melontar jumroh” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Ibnu Abbas mengatakan sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hajar bahwa Nabi shallahu’alaihi wasallam terus ber-talbiyah hingga kerikil terakhir yang dilemparkannya


    21. Takbir mutlak dan muqoyyad bertemu dalam 5 hari, yaitu Shubuh 9 Dzulhijjah hingga Ashar 13 Dzulhijjah. Ketika bertolak dari Mina menuju Arofah, pagi hari 9 Dzulhijjah, jamaah haji memperbanyak talbiyah atau takbir? Memperbanyak talbiyah lebih utama karena ia syiar haji. Disebutkan di dalam Hadits,

    عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ الثَّقَفِي أَنَّهُ سَأَلَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، وَهُمَا غَادِيَانِ مِنْ مِنًى إِلَى عَرَفَةَ: كَيْفَ كُنْتُمْ تَصْنَعُونَ فِي هذَا الْيَوْمِ مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم؟ فَقَالَ: كَانَ يُهِلُّ الْمُهِلُّ مِنَّا، فَلاَ يُنْكَرُ عَلَيْهِ، وَيُكَبِّرُ الْمُكَبِّرُ مِنَّا، فَلاَ يُنْكَرُ عَلَيْهِ (رواه البخارى ومسلم)

    “Dari Muhammad bin Abu Bakar Ats-Tsaqofi, dia bertanya kepada Anas bin Malik. Keduanya sedang bertolak dari Mina menuju Arofah, “Apa yang dulu kalian lakukan di hari ini bersama Rasulullah shallahu’alaihi wasallam”. Dia menjawab: Diantara kami yang bertalbiyah, tidak diingkari. Ada yang bertakbir, tidak diingkari juga” (HR. Bukhari dan Muslim)

    عن ابْنِ عُمَرَ قَالَ: غَدَوْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ مِنًى إِلَى عَرَفَاتِ. مِنَّا الْمُلَبِّي، وَمِنَّا الْمُكَبِّرُ (رواه مسلم)

    “Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Kami betolak di pagi hari bersama Rasulullah shallahu’alaihi wasallam dari Mina menuju Arofah. Diantara kami ada yang bertalbihyah ada juga yang bertakbir” (HR. Muslim)

    • Seputar masalah miqot

    22. Orang yang berhaji tamattu’, miqotnya mengikuti miqot penduduk Makkah. Disebutkan di dalam Hadits Jabir,

    أَمَرَنَا النبيُّ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ لَمَّا أَحْلَلْنَا، أَنْ نُحْرِمَ إذَا تَوَجَّهْنَا إلى مِنًى، قالَ: فأهْلَلْنَا مِنَ الأبْطَحِ (رواه مسلم)

    “Nabi shallahu’alaihi wasallam memerintahkan kami ketika sudah bertahallul (dari umroh) untuk berihram (haji) jika akan berangkat menuju Mina. Maka, kami pun bertalbiyah dari Abthoh (daerah antara Makkah dan Mina)” (HR. Muslim)

    23. Siapa yang memasuki Makkah untuk umroh dan tidak berihram dari miqot yang telah ditetapkan oleh Syariat, maka dia wajib kembali ke miqotnya untuk mengulangi ihramnya. Jika tidak kembali, maka dikenakan fidyah. Karena berihram dari miqot adalah wajib haji. Disebutkan di dalam Hadits Ibnu Abbas,

    وَقَّتَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ لأهْلِ المَدِينَةِ ذا الحُلَيْفَةِ، ولِأَهْلِ الشَّأْمِ الجُحْفَةَ، ولِأَهْلِ نَجْدٍ قَرْنَ المَنازِلِ، ولِأَهْلِ اليَمَنِ يَلَمْلَمَ، فَهُنَّ لهنَّ، ولِمَن أتَى عليهنَّ مِن غيرِ أهْلِهِنَّ لِمَن كانَ يُرِيدُ الحَجَّ والعُمْرَةَ، فمَن كانَ دُونَهُنَّ، فَمُهَلُّهُ مِن أهْلِهِ، وكَذاكَ حتَّى أهْلُ مَكَّةَ يُهِلُّونَ مِنْها (رواه البخارى ومسلم)

    “Nabi shallahu’alaihi wasallam telah menetapkan miqat untuk penduduk Madinah yaitu Dzul Hulaifah, penduduk Syam yaitu Al-Juhfah, penduduk Najd yaitu Qarnul Manazil, penduduk Yaman yaitu Yalamlam. Miqat-miqat itu untuk mereka dari negeri-negeri tersebut dan untuk mereka yang melewatinya dari negeri-negeri lain yang ingin menunaikan haji dan umrah. Adapun bagi orang-orang di dalam miqat, maka miqatnya dari tempat yang ia kehendaki, sehingga penduduk Makkah, miqatnya adalah dari Makkah”. (HR. Bukhari dan Muslim)

    Judul buku : PANDUAN PRAKTIS HAJI & UMROH Dilengkapi 40 permasalahan penting

    Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
    (Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

    ]]>
    PANDUAN PRAKTIS HAJI & UMROH (Bag. 6 Beberapa Masalah Penting) https://nidaulfithrah.com/panduan-praktis-haji-umroh-bag-6-beberapa-masalah-penting/ Mon, 10 Mar 2025 08:39:28 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19727 E. Beberapa Masalah Penting

    • Masalah Mencukur atau Memendekkan Rambut
    1. Untuk lelaki yang utama mencukur keseluruhan rambut alias gundul. Karena Nabi shallahu’alaihi wasallam mendoakan orang yang mencukur gundul tiga kali. Sementara untuk yang memendekkan hanya sekali. Boleh memendekkan saja, misalnya dipendekkan 4 cm secara merata. Disebutkan di dalam Hadits,

    رحمَ اللَّهُ المحلِّقينَ قالوا والمقصِّرينَ يا رسولَ اللَّهِ قالَ رحمَ اللَّهُ المحلِّقينَ قالوا والمقصِّرينَ يا رسولَ اللَّهِ قالَ رحمَ اللَّهُ المحلِّقينَ قالوا والمقصِّرينَ يا رسولَ اللَّهِ قالَ والمقصِّرين (رواه البخارى ومسلم عن عبد الله بن عمر)

    “Semoga Allah ta’ala merahmati orang-orang yang mencukur rambutnya”. Orang-orang berkata: “Dan juga bagi orang-orang yang hanya memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah?” Beliau tetap berkata: “Semoga Allah Ta’ala merahmati orang-orang yang mencukur rambutnya”. Orang-orang berkata lagi: “Dan juga bagi orang-orang yang hanya memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah?” Beliau tetap berkata: “Semoga Allah, merahmati orang-orang yang mencukur rambutnya”. “Orang-orang berkata lagi: “Dan juga bagi orang-orang yang hanya memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah?” Beliau baru bersabda: “Ya, juga bagi orang-orang yang hanya memendekkan rambutnya” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar)
    Ibnu Qudamah rahimahullah di dalam al-Mughni mengatakan: memendekkan atau mencukur haruslah merata pada keseluruhan kepala.
    Imam Malik rahimahullah berkata: Bukanlah cara memendekkan rambut bagi seorang lelaki dengan memotong sebagian ujung rambutnya melainkan memendekkannya secara merata. Jadi, tidak sebagaimana wanita.
    Adapun untuk wanita dipotong sepanjang satu ruas jari pada seluruh ujung rambutnya. Disebutkan di dalam Hadits Ibnu Abbas,

    ليسَ على النِّساءِ حَلقٌ إنَّما على النِّساءِ التَّقصيرُ (رواه أبو داود والدارمى والطبراني)

    “Tidaklah bagi wanita mencukur, tetapi baginya adalah memendekkan(HR. Abu Daud, Ad-Darimy dan Ath-Thobroni)

    وقال ابن قدامة الحنبلي في المغني: وأي قدر قصَّر منه أجزأه؛ لأن الأمر به مطلق فيتناول الأقل. وقال أحمد: يقصر قدر الأنملة. وهو قول ابن عمر، والشافعي، وإسحاق، وأبي ثور

    “Ibnu Qudamah Al-Hanbali mengatakan di dalam kitab Al-Mughni: Memendekkan rambut dengan kadar berapapun diperbolehkan. Karena perintahnya mutlak maka diperbolehkan meski hanya memendekkan sedikit. Imam Ahmad mengatakan dipendekkannya seukuran ruas jari demikian juga pendapat Ibnu Umar, Asy-Syafi’i, Ishaq dan Abu Tsaur
    Lakukanlah di tempat tertutup, misalnya di kamar hotel karena rambut wanita itu aurat.
    2. Pada umroh yang merupakan rangkaian haji tamattu’ yang afdhal adalah dengan memendekkannya. Karena nanti pada saat haji akan ada potong rambut lagi. Maka, pada saat haji inilah potong rambut dilakukan dengan mencukur atau gundul. Disebutkan di dalam Hadits Ibnu Umar,

    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم للناس …… ومن لم يَكن منْكم أَهدى فليطف بالبيتِ وبالصَّفا والمروةِ وليقصِّر وليحلل ثمَّ ليُهلَّ بالحجِّ ….. (رواه البخارى ومسلم)

    “Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda kepada orang-orang….. Siapa saja di antara kalian yang tidak memiliki hadyu agar thowaf di Baitullah dan sa’i antara Shofa dan Marwah lalu hendaklah memendekkan rambut lalu bertahallul setelah itu berihram untuk haji…. (HR. Bukhari dan Muslim)
    Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:

    أن المستحب في حق المتمتع عند حله من عمرته التقصير، ليكون الحلق للحج

    “Yang mustahab pada haji tamattu’ ketika tahallul dari umroh adalah dengan memendekkan rambut. Adapun mencukurnya pada saat haji

    • Seputar Kegiatan Selama di Madinah

    3. Selama berada di Madinah, sebelum melakukan ihram dari miqotnya yaitu Bir Ali, peribadahan yang bisa dilakukan berupa:
    a. Shalat jama’ah di masjid Nabawi.
    Pahalanya 1000x lipat dibandingkan shalat di masjid manapun selain Masjidil Haram dan Baitul Maqdis. Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda,

    صلاةٌ في مسجدِي هذا خيرٌ من ألفِ صلاةٍ في ما سواه إلا المسجدَ الحرامَ، وصلاةٌ في المسجدِ الحرامِ أفضلُ من مائةِ صلاةٍ في مسجدِي هذا (رواه البخارى ومسلم عن أبى هريرة)

    “Shalat di Masjidku ini lebih baik 1000x shalat di masjid manapun selain Masjidil Haram. Dan shalat di masjidil Haram lebih baik 100 x lipat dibandingkan shalat di masjidku ini” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
    Disebutkan di dalam Hadits Abu Dzar,

    أنَّهُ سأل رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليْهِ وسلَّمَ عَن الصَّلاةِ في بَيتِ المقدِسِ أفضلُ أو في مسجِدِ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليْهِ وسلَّمَ فَقالَ صلاةٌ في مسجِدي هذا ، أفضلُ من أربعِ صلواتٍ فيهِ (رواه البيهقى)

    “Ia bertanya kepada Rasulullah shallahu’alaihi wasallam tentang shalat di Baitul Maqdis. Apakah ia lebih afdhal ataukah di Masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Beliau menjawab: Shalat di masjidku ini lebih utama dengan 4 kali shalat di sana” (HR. Al-Baihaqi)

    b. Shalat di Raudhoh.
    Raudhah itu bagian di dalam Masjid Nabawi, space antara rumah Nabi shallahu’alaihi wasallam dan mimbar beliau shallahu’alaihi wasallam. Disebutkan di dalam Hadits,

    عَنِ النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، قالَ: ما بيْنَ بَيْتي ومِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِن رِيَاضِ الجَنَّةِ، ومِنْبَرِي علَى حَوْضِي. (رواه البخارى عن أبى هريرة)

    Dari Nabi shallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda: Antara rumahku dan minbarku adalah Roudhoh (taman) dari antara Riyadhul Jannah (taman-taman Surga), dan minbarku berada di atas Haudhku(HR. Bukhari dari Abu Hurairah)
    Syaikh Abdul Aziz Bin Baz rahimahullah berkata tentang Hadits mengenai Raudhoh: Ini menunjukkan fadhilah Raudhoh, disyareatkan untuk shalat dan berdzikir tetapi tidak menetap di sana ketika datang waktu shalat sehingga tertinggal dari shoff yang di depan.
    Di dalam Raudhoh ada dua tiang yang pada keduanya Nabi shallahu’alaihi wasallam biasa menghadap ketika shalat. Yaitu:

    Tiang Muhallaqoh dikenal juga dengan tiang Muhajirin karena pembesar mereka biasanya duduk di situ, dikenal juga dengan tiang ‘Aisyah.

    Ibnu Hajar berkata: Diriwayatkan dari Aisyah bahwa dia radhiallahu’anha mengatakan:

    لو عَرَفها الناس لاضطربوا عليها بالسهام

    Jika manusia mengetahui tiang tersebut niscaya mereka akan berebutan untuk mendapatkannya meskipun dengan diundi”
    Aisyah merahasiakannya kepada Ibnu Zubair. Maka, dia pun orang yang memperbanyak shalat di situ
    ” (selesai)
    Tiang Taubat. Sebuah tiang yang dulu Abu Lubabah mengikat dirinya di situ hingga Allah ta’ala menerima taubatnya.

    c. I’tikaf
    Yaitu berdiam diri di dalam masjid untuk fokus taqorrub kepada Allah ta’ala dengan memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, memperbanyak shalat, mudzakaroh ilmu. Demikian juga ketika berada di Makkah. Jika dilakukan di luar masjid yaitu di teras atau space yang merupakan perluasan masjid maka memiliki hukum yang sama sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Imam Asy-Syafi’i rahimahullah.

    d. Ziarah kubur
    Ziarah kubur ke makam Rasulullah, Abu Bakar, Umar dan pemakaman Baqi (tidak jauh dari Masjid Nabawi). Adapun untuk wanita tidak disunnah untuk ziarah kubur

    e. Menghadiri halaqoh ilmu di Masjid Nabawi.
    Ada halaqoh bersama para masyayikh. Bagi Anda yang bisa berbahasa Arab bisa istifadah di situ. Ada juga halaqoh bersama seorang Ustadz mahasiswa S3 dari Indonesia biasanya di pintu nomor 19.


    f. Shalat di masjid Quba
    Jarak dari Masjid Nabawi ke Masjid Quba sekitar 3 km. Keutamaan shalat di masjid tersebut dengan bersuci terlebih dahulu dari rumah atau hotel disebutkan di dalam Hadits berikut ini,

    من تطَهَّرَ في بيتِهِ , ثمَّ أتى مسجدَ قباءٍ ، فصلَّى فيهِ صلاةً ، كانَ لَهُ كأجرِ عمرةٍ (رواه ابن ماجه والنسائى وأحمد عن سهل بن حنيف)

    Barangsiapa bersuci dari rumahnya lalu mendatangi masjid Quba kemudian shalat di situ maka baginya pahala seperti pahala umroh(HR. Ibnu Majah, An-Nasa’i dan Ahmad dari Sahl bin Hanif)

    Judul buku : PANDUAN PRAKTIS HAJI & UMROH Dilengkapi 40 permasalahan penting

    Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
    (Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

    ]]>
    PANDUAN PRAKTIS HAJI & UMROH (Bag. 1 TATA CARA HAJI TAMATTU’) https://nidaulfithrah.com/panduan-praktis-haji-umroh-bag-1-tata-cara-haji-tamattu/ Wed, 19 Feb 2025 05:24:39 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19686 PANDUAN PRAKTIS HAJI & UMROH Dilengkapi 40 permasalahan penting

    A. TATA CARA HAJI TAMATTU’

    1. Mengetahui miqot dan bentuk peribadahannya.

    Secara umum warga negara Indonesia jenis haji yang dilakukannya adalah haji tamattu’, maka langsung saja kita bahas pelaksanaan jenis haji ini.

    Orang yang akan berhaji berangkat menuju Makkah di bulan-bulan haji yaitu Syawwal, Dzulqo’dah dan Dzulhijjah. Untuk haji tamattu’ jamaah melakukan umroh terlebih dahulu kemudian haji. Sebelum ber-ihram untuk umroh dari miqot yang telah ditetapkan oleh syariat disunnahkan bagi lelaki dan perempuan untuk mandi sebagaimana mandi junub. Untuk lelaki memakai wewangian pada kepala, badan dan jenggotnya lalu mengenakan baju ihram. Bekas atau pengaruh dari parfum dan wewangian yang berlanjut selama ihram tidaklah mengapa. Disebutkan di dalam Hadits Aisyah,

    كأنِّي أنظرُ إلى وَبيصِ الطِّيبِ في رأسِ رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ، وَهوَ مُحرِمٌ (رواه البخارى ومسلم)

    “Benar-benar seakan-akan aku melihat kilauan minyak wangi di (belahan-belahan) rambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan beliau sedang berihram” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Jangan memakai wewangian pada kain ihram sebagaimana sabda beliau ketika ditanya tentang pakaian ihram,

    ولا تلبَسوا مِن الثِّيابِ شيئًا مسَّه الوَرْسُ والزَّعفران (رواه البخارى ومسلم عن عبدالله بن عمر

    “…… Janganlah kalian mengenakan kain yang terkena waros dan za’faron” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar)
    Untuk jamaah haji Indonesia yang ke Madinah terlebih dahulu, maka miqotnya mengikuti penduduk Madinah yaitu di Bir Ali atau Dzul Hulaifah. Di masjid itulah niat ihram dimulai. Jika bertepatan dengan shalat fardhu maka dilakukannya setelah shalat fardhu, atau shalat sunnah apapun di dalamnya seperti Sunnah wudhu, Dhuha, Tahiyyatul masjid dan lain-lain. Ketahuilah tidak ada shalat sunnah ihram karena tidak ada dalil tentangnya. Wanita yang sedang haidh atau nifas tidak melakukan shalat, tetapi hanya berniat ihram untuk umroh dengan membaca,

    لبَّيكَ عُمرةً

    Setelah itu memperbanyak talbiyah selama di perjalanan hingga menjelang thowaf, bacaannya;

    لبَّيكَ اللَّهمَّ لبَّيكَ لبَّيكَ لا شريكَ لك لبَّيكَ إنَّ الحمدَ والنِّعمةَ لك والملكُ لا شريكَ لكَ

    Maksimalkan dalam ber-talbiyah. Janganlah melakukan perbuatan yang menghilangkan makna kekhusyu’an dalam talbiyah seperti ngobrol berlebihan, bermain gadget, tidur sepanjang jalan dan lain-lain. Dengan merenungi makna yang terkandung dalam lafazh talbiyah, niscaya Anda akan bertambah khusyu’ dan khidmat.


    2. Memasuki kota Makkah
    Kalau sudah mendekati Makkah hendaknya para jamaah mandi terlebih dahulu untuk memasuki kota Makkah sebagaimana yang dilakukan Nabi shallahu’alaihi wasallam dalam Hadits Ibnu Umar,

    أنَّ ابْنَ عُمَرَ كانَ لا يَقْدَمُ مَكَّةَ إلَّا بَاتَ بذِي طَوًى، حتَّى يُصْبِحَ وَيَغْتَسِلَ ثُمَّ يَدْخُلُ مَكَّةَ نَهَارًا، وَيَذْكُرُ عَنِ النبيِّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ أنَّهُ فَعَلَهُ (رواه البخارى ومسلم)

    “Ibnu Umar radhiallahu’anhu tidak memasuki Makkah hingga bermalam di Dzi Tuwa terlebih dahulu sampai pagi lalu mandi kemudian memasuki Makkah di siang hari. Dia menyebutkan dari Nabi shallahu’alaihi wasallam bahwa beliau melakukannya(HR. Biukhari dan Muslim)
    Untuk memasuki masjidil haram mendahulukan kaki kanan dengan membaca,

    بسمِ اللَّهِ والسَّلامُ علَى رسولِ اللَّهِ اللَّهُمَّ اغفِر لي ذُنوبي وافتَح لي أبوابَ رحمتِكَ أعوذُ باللهِ العظيمِ وبوجهِه الكريمِ وسلطانِه القديمِ من الشيطانِ الرجيمِ

    a. Melakukan thowaf
    Talbiyah berakhir di sini. Thowaf dimulai dari Hajar Aswad dengan mengusapnya dan menciumnya jika berkemudahan. Jika tidak, maka memberikan isyarat kepadanya dengan membaca,

    اللهُ أكبرُ atau بسم الله والله أكبر

    Lalu mengelilingi Ka’bah dengan menjadikannya di sebelah kirinya atau berlawanan dengan arah jarum jam. Thowaf ini dilakukan sebanyak tujuh putaran. Untuk lelaki, kain bagian atas ditutupkan pada pundak kiri. Untuk pundak kanan dibiarkan terbuka dengan cara kain dilewatkan di bawah ketiak kanannya dan ujungnya diarahkan ke pundak kiri (bisa diikat di situ). Dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir di Hajar Aswad juga. Tidak ada sudut Ka’bah yang diusap kecuali Hajar Aswad dan Rukun Yamani saja. Nabi shallahu’alaihi wasallam tidaklah mengusap kecuali pada keduanya saja. Untuk lelaki pada tiga putaran pertama disunnahkan raml, yaitu mempercepat jalan dengan memendekkan langkah mulai dari Hajar Aswad sampai Rukun Yamani. Adapun dari Rukun Yamani sampai Hajar Aswad berjalan biasa . Doa yang ditentukan hanya pada antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad saja yaitu membaca,

    رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

    Adapun pada selain tempat ini tidak ada bacaan yang ditentukan pada seluruh putaran, mulai putaran pertama hingga ketujuh. Boleh membaca apapun yang dikendakinya baik dzikir, doa atau membaca al-Qur’an. Untuk jamaah haji harus diperingatkan dari buku-buku saku yang banyak beredar yang berisikan variasi doa dan dzikir pada setiap putaran. Ini perkara tertolak karena tidak diajarkan oleh Rasulullah shallahu’alaihi wasallam. Beliau bersabda,

    مَن أَحْدَثَ في أَمْرِنَا هذا ما ليسَ فِيهِ، فَهو رَدٌّ (رواه البخارى عن عائشة)

    Barangsiapa mengada-ngadakan di dalam urusan kami sesuatu yang tidak termasuk bagian darinya maka ia tertolak (HR. Bukhari dari Aisyah)
    Perhatikan! Ketika penuh berdesak-desakan ada sebagian orang yang masuk ke dalam hijr Ismail lalu keluar melalui pintu satunya lagi. Ini tidak sah karena dia tidak mengelilingi Ka’bah secara sempurna di mana Hijr Ismail itu bagian dari Ka’bah sementara yang disyareatkan adalah mengelilingi Ka’bah.
    Setelah thowaf menuju maqom Ibrahim dengan membaca

    وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى

    disitu shalat sunnah thowaf 2 rakaat dengan kedua pundak tertutup dimana sebelumnya pundak kanan terbuka. Dlakukannya di belakang maqom Ibrahim jika memungkinkan. Kalau tidak, maka di manapun bagian dari masjid. Bacaan yang dianjurkan adalah al-Ikhlash dan al-Kafirun. Disebutkan di dalam Hadits Jabir,

    عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِاللَّهِ رضي الله عنهما: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَرَأَ فِي رَكْعَتَيِ الطَّوَافِ بِسُورَتَيِ الْإِخْلَاصِ: قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (تحفة الأحوذى)

    “Dari Jabir radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shallahu’alaihi wasallam membaca pada dua rakaat thowaf dengan dua surat Ikhlas yaitu qul yaa ayyuhal kaafirun dan qul huwallaahu Ahad” (Tuhfatul Ahwadzi)
    Seusai shalat menuju Shofa untuk melakukan sa’i.
    b. Sa’i
    Naik menuju bukit shofa, ketika sudah dekat dengannya membaca,

    إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَائِرِ اللَّهِ (البقرة: 158)

    Tidak perlu dilanjutkan hingga akhir ayat, berdasarkan Hadits Jabir radhiallahu’anhu. Lalu membaca,

    أَبْدَأ بِمَا بَدَأَ اللهُ به

    Kemudian naik ke atas bukit Shofa hingga melihat Ka’bah atau menghadap ke arahnya. Adapun yang dibaca adalah:

    اللهُ أكبَرُ، اللهُ أكبَرُ، اللهُ أكبَرُ
    لا إلهَ إلَّا اللهُ وَحْدَه لا شريكَ له، له المُلْك وله الحَمْدُ، وهو على كلِّ شيءٍ قديرٍ
    لا إلهَ إلَّا اللهُ وحدَه، أنجَزَ وَعْدَه، ونصَرَ عَبْدَه، وهَزَمَ الأحزابَ وَحْدَه

    Setelah membaca rangkaian dzikir di atas dilanjutkan dengan berdoa sekehendaknya. Lalu kembali membaca rangkaian dzikir di atas. Kemudian berdoa lagi sekehendaknya. Ditutup dengan membaca rangkaian dzikir di atas. Jadi, 3x dzikir dan 2x doa. Jangan sia-siakan kesempatan ini untuk berdoa sebanyak-banyaknya.
    Berikutnya, turun menuju bukit Marwah dengan berjalan biasa sampai di lampu hijau pertama. Dari lampu hijau ini berlari cepat jika memungkinkan sampai lampu hijau kedua lalu berjalan lagi menaiki bukit Marwah. Di bukit Marwah ini melakukan persis sebagaimana di bukit Shofa, yaitu menghadap ke arah Ka’bah dengan 3x dzikir dan 2x doa. Untuk ayat “Inna-sh-shofa wa-l-marwata min sya’arillah” dan “Abdau bima badallahu bihi” tidak dibaca lagi. Kedua lafazh ini hanya dibaca sekali saja di awal memulai sa’i.
    Setelah dari bukit Marwah turun menuju bukit Shofa dengan tata cara yang sama persis dan terus demikian hingga mencapai 7x putaran. Terakhirnya berada di atas bukit Marwah tanpa membaca dzikir dan doa melainkan langsung keluar dari area sa’i untuk memendekkan rambut. Gambar sketsa sa’i berikut ini:

    Judul buku : PANDUAN PRAKTIS HAJI & UMROH Dilengkapi 40 permasalahan penting

    Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
    (Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

    ]]>
    Memasuki Makkah tanpa ihram dengan niat umroh? https://nidaulfithrah.com/memasuki-makkah-tanpa-ihram-dengan-niat-umroh/ https://nidaulfithrah.com/memasuki-makkah-tanpa-ihram-dengan-niat-umroh/#respond Sun, 13 Aug 2023 13:51:46 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=17656 (https://islamqa.info/ar/answers/205153/)

    Teks Arab

    دخل مكة دون إحرام بنية العمرة    

    السؤال : قمت أنا وزوجتى بأداء عمرة منذ عدة سنوات ، وكنا بصحبة عائلة أخرى بسيارتهم من الرياض ، وقال لنا الصديق : بأنه من الممكن أن ندخل مكة المكرمة بدون إحرام ونبيت بها ، ثم نحرم من هناك ، وفعلنا ذلك دون علم منا بأن ذلك من المحظورات ، ولم تكن تلك العمرة عمرة الإسلام ، كما أننا أدينا العمرة بعد ذلك عدداً كثيراً من المرات مع الالتزام بالميقات . فهل علينا شىء لتلك العمرة ؟ وإن كان علينا ذبح فهل هناك جمعيات تقوم بذلك نيابة عنا لأنني أعمل بالرياض ؟
    الجواب
    الحمد لله.
    قد أخطأ صديقكم – ولا شك – فيما قاله لكم من جواز مروركم على الميقات دون إحرام ، وأخطأ مرة أخرى من جعلكم تحرمون من مكة نفسها ؛ لأن أهل مكة ومن في حكمهم لا بد لهم من الخروج للحل إذا رغبوا بأداء عمرة .
    وقد حدَّد الشرع مواقيت مكانية للقادمين إلى مكة لغرض العمرة والحج ، فإما أن يمر بعينها فيحرم منها ، أو يحرم من المكان الذي يحاذيها .
    ومن كان يسكن بين المواقيت ومكة : فإنه يحرم من مكانه ، وكذا من جاء جدة أو نحوها ، ممن هو دون المواقيت ، ثم بدا له أن يأتي بعمرة : فإنه يحرم من مكانه .
    عن ابن عباس رضي الله عنهما قال : “ وقَّت رسول الله صلى الله عليه وسلم لأهل المدينة ذا الحليفة ، ولأهل الشأم الجحفة ، ولأهل نجد قرن المنازل ، ولأهل اليمن يلملم ، فهنَّ لهنَّ ولمن أتى عليهنَّ من غير أهلهن لمن كان يريد الحج والعمرة ، فمن كان دونهن فمهِله من أهله “ .
    رواه البخاري ( 1454 ) ، ومسلم ( 1181 ) .
    والواجب على صديقكم التوبة والاستغفار من نسبته ذلك الحكم للشرع ، والواجب عليكم – جميعاً – عند جمهور أهل العلم – شاة تُذبح في الحرم وتوزع على فقرائه ، فمن لم يستطع منكم ذلك فتكفيه التوبة .
    قال علماء اللجنة الدائمة :
    “ الواجب على من نوى العمرة ثم مر بالميقات أن يحرم منه ، ولا يجوز له مجاوزته بدون إحرام ، وحيث لم تحرموا من الميقات فإنه يجب على كل منكم دم ، وهو ذبح شاة تجزئ في الأضحية تذبح بمكة المكرمة ، وتقسم على فقرائها ، ولا تأكلوا منها شيئاً ، أما ترك صلاة ركعتين بعد لبس الإحرام فلا حرج عليكم في ذلك “ .
    الشيخ عبد العزيز بن عبد الله بن باز ، الشيخ عبد الرزاق عفيفي ، الشيخ عبد الله بن غديان .
    “ انتهى من “ فتاوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء “ ( 11 / 176 ، 177 ) .
    وقال الشيخ ابن عثيمين – رحمه الله – بعد تفصيل علمي في مسألة من ترك واجباً في الحج والعمرة – :
    “ وحينئذٍ نقول لمن ترك واجباً : اذبح فدية في مكة ووزعها على الفقراء بنفسك ، أو وكِّل من تثق به من الوكلاء ، فإن كنتَ غير قادرٍ : فتوبتك تجزئ عن الصيام ، وهذا هو الذي نراه في المسألة “ .
    انتهى من “ الشرح الممتع “ ( 7 / 441 ) .
    ويمكنكم الاتصال بالمؤسسات الموثوقة لتوكيلها بالذبح لكم في مكة .
    والله أعلم .

    Terjemahan teks Arab

    Pertanyaan: Beberapa tahun yang lalu saya dan istriku menunaikan umroh. Kami bersama keluarga lainnya dengan kendaraan mereka berangkat dari Riyadh. Seorang teman berkata kepada kami: Kita tidak usah memasuki Makkah Mukarromah dalam keadaan ihram. Kita bermalam di sana lalu langsung berihram dari situ juga. Kami pun melakukannya, dan kami tidak tahu bahwa itu termasuk pelanggaran. Kami belum umroh sebelumnya. Setelah itu kami baru menunaikan umroh beberapa kali dengan memulai berihram dari miqot yang semestinya. Apa yang harus kami lakukan terkait umroh tersebut? Jika kami wajib menyembelih di sana, maka apakah di sana ada Lembaga yang bisa mewakili karena kami bekerja di Riyadh?
    Jawab: Alhamdulillah. Temanmu itu keliru, tidak diragukan lagi, atas apa yang dikatakan kepadamu untuk melewati miqot tanpa melakukan ihram di sana. Dia keliru juga ketika mengajak untuk berihram dari Makkah. Karena penduduk Makkah dan orang yang memiliki hukum yang sama dengan mereka harus keluar menuju tanah halal jika hendak menunaikan umroh. Syareat telah menetapkan tempat-tempat miqot bagi orang yang berangkat ke Makkah untuk umroh dan haji, bisa melewati miqot itu secara langsung dan berihram di situ atau berihram di tempat yang sejajar dengannya.
    Bagi orang yang tinggal di daerah antara tempat-tempat miqot dan Makkah maka dia berihram dari tempatnya masing-masing. Termasuk yang tinggal di Jeddah dan sekitarnya yang letaknya setelah miqot-miqot. Bagi yang menghendaki umroh ihramnya dari tempatnya masing-masing.


    عن ابن عباس رضي الله عنهما قال : وقَّت رسول الله صلى الله عليه وسلم لأهل المدينة ذا الحليفة ، ولأهل الشأم الجحفة ، ولأهل نجد قرن المنازل ، ولأهل اليمن يلملم ، فهنَّ لهنَّ ولمن أتى عليهنَّ من غير أهلهن لمن كان يريد الحج والعمرة ، فمن كان دونهن فمهِله من أهله .(رواه البخاري / 1454 ، ومسلم 1181 / )

    “Dari Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma berkata: Nabi Shallahu ‘alaihi wassalam menetapkan miqat untuk penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, penduduk Syam di Juhfah, penduduk Nejd di Qarnul Manazil dan penduduk Yaman di Yalamlam.” (HR. Bukhari no. 1454 dan Muslim 1181)
    Wajib bagi teman Anda untuk bertaubat dan beristighfar karena telah berbicara atas nama hukum syareat. Wajib bagi kalian semua – menurut jumhur ulama – menyembelih kambing di Haram dan dibagikan kepada penduduknya yang faqir. Jika kalian tidak mampu, maka cukuplah bagi kalian bertaubat.
    Ulama Lajnah Daimah mengatakan: Wajib bagi orang yang berniat umroh kemudian melewati miqot, maka dia wajib bermiqot di situ. Tidak boleh melampauinya tanpa ihram. Jika kalian tidak berihram maka wajib bagi kalian semua terkena dam yaitu menyembelih kambing di Makkah Mukarromah yang memenuhi persyaratan untuk qurban lalu dibagikan kepada penduduknya yang miskin. Kalian tidak boleh makan sedikitpun darinya. Adapun mengenai tidak dilakukannya shalat dua rakaat setelah mengenakan pakaian ihram maka tidak ada masalah.
    Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Syaikh Abdur Rozak ‘Afifi, Syaikh Abdullah bin Ghudayyan [selesai dari “Fatawa-l-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-‘ilmiyyah wa-l-Ifta’ no.11/176-177].
    Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah setelah menjelaskan secara rinci tentang hukumi orang yang meninggalkan wajib haji dan umroh mengatakan: Kami katakan kepada orang yang meninggalkan wajib haji, “Sembelihlah denda di Makkah lalu bagikanlah kepada penduduknya yang miskin langsung oleh Anda sendiri atau jika Anda tidak mampu bisa diwakilkan kepada perwakilan yang Anda percayai. Dan taubatmu sudah mencukupi tanpa perlu berpuasa. Ini yang kami pahami dalam masalah ini [selesai dari “Asy-Syarh al-mumti’ 7/441”
    Mungkin juga bagi Anda untuk menghubungi yayasan/lembaga yang ada di Makkah sebagai wakil bagi Anda untuk masalah penyembelihan. Allahu A’lam

    Judul buku : Terkadang Ditanyakan 10

    Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
    (Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

    ]]>
    https://nidaulfithrah.com/memasuki-makkah-tanpa-ihram-dengan-niat-umroh/feed/ 0