merindukanmu – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Mon, 22 Sep 2025 04:03:40 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png merindukanmu – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 PEGAWAI, SURGA MERINDUKANMU (DOA YANG BISA DIPANJATKAN AGAR SELALU DIJAGA OLEH ALLAH ta’ala, Bag. 6) https://nidaulfithrah.com/pegawai-surga-merindukanmu-doa-yang-bisa-dipanjatkan-agar-selalu-dijaga-oleh-allah-taala-bag-5/ Fri, 07 Feb 2025 04:02:58 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19654 B. DOA YANG BISA DIPANJATKAN AGAR SELALU DIJAGA OLEH ALLAH Ta’ala

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا (رواه الترمذي عن ابن عمر)

Ya Allah, anugerahkanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu, yang dapat menghalangi antara kami dan perbuatan maksiat kepada-Mu, dan (anugerahkanlah kepada kami) ketaatan kepada-Mu yang akan menyampaikan Kami ke surga-Mu dan (anugerahkanlah pula) keyakinan yang akan menyebabkan ringannya bagi kami segala musibah dunia ini.
“Ya Allah, anugerahkanlah kenikmatan kepada kami melalui pendengaran kami, penglihatan kami dan dalam kekuatan kami selama kami masih hidup, dan jadikanlah ia warisan dari kami. Jadikanlah balasan kami atas orang-orang yang menganiaya kami, dan tolonglah kami terhadap orang yang memusuhi kami, dan janganlah Engkau jadikan musibah kami dalam urusan agama kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita terbesar kami dan puncak dari ilmu kami, dan jangan Engkau jadikan orang-orang yang tidak menyayangi kami berkuasa atas kami
(HR Tirmidzi dari Abdullah Ibnu Umar).

اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ عِلمًا نافعًا ورزقًا طيِّبًا وعملًا متقبَّلًا (رواه ابن ماجه عن أم سلمة)

“Ya Allah, sesungguhnya saya memohon ilmu yang manfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima” (HR. Ibnu Majah dari Ummu Salamah)

اللَّهُمَّ اكْفِني بحلالِك عن حرامِك، وأغْنِني بفَضْلِك عمَّن سِواك (رواه الترمذي عن علي اب أبى طالب)

“Ya Allah! Cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu daripada bergantung kepada selain-Mu” (HR. At-Tirmidzi dari Ali bin Abu Thalib)

اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَاْلإِنْجِيْلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اَللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ اْلآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اِقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ (رواه ابن حبان عن أبى هريرة)

“Ya Allah! Tuhan yang menguasai tujuh langit, Tuhan yang menguasai ‘Arsy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu. Tuhan yang membelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji benih, Tuhan yang menurunkan Taurat, Injil dan Furqan (Al-Quran). Aku memohon perlindungan dengan-Mu dari segala kejahatan sesuatu yang Engkau memegang ubun-ubunnya. Ya Allah! Engkaulah Yang Awwal, tidak ada apapun sebelum-Mu. Engkaulah Yang Akhir, tidak ada apapun sesudah-Mu. Engkaulah Azh-Zhahir, tidak ada apapun di atas-Mu. Engkaulah Al-Bathin, tidak ada apapun di bawah-Mu. Tunaikanlah hutang kami dan berilah kami kekayaan agar terbebas dari kefakiran.” (HR. Ibnu Hiibban dari Abu Hurairah)
C. PENUTUP
Alhamdulillah telah selesai penulisan topik ini. Meskipun ditulis dengan sederhana, topik ini sangat penting untuk diketahui. Karena hampir seluruh muslim keberadaannya sebagai pegawai atau karyawan terlepas di mana posisinya. Dengan memahami topik ini semoga keberadaan seseorang sebagai pegawai atau karyawan berlimpah keberkahan dari Allah Ta’ala. Amin.

Judul buku : PEGAWAI, SURGA MERINDUKANMU

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
PEGAWAI, SURGA MERINDUKANMU (Untuk Pemilik Usaha, Utamakan Meraih Jalan-Jalan Keberkahan, Bag. 5) https://nidaulfithrah.com/pegawai-surga-merindukanmu-untuk-pemilik-usaha-utamakan-meraih-jalan-jalan-keberkahan-bag-5/ Mon, 03 Feb 2025 02:31:56 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19625 10. Untuk Pemilik Usaha, Utamakan Meraih Jalan-Jalan Keberkahan
Keberkahan itu perkara yang sangat penting. Keberkahan artinya diliputi dengan kebaikan-kebaikan.

  • Tubuh dikatakan berkah, jika kondisi fit dan tidak fitnya terkondisikan untuk mendatangkan pahala.
  • Rumah dikatakan berkah jika keberadaannya menjadikan penghuninya nyaman untuk berbuat kebaikan-kebaikan, bagaimanapun kondisinya.
  • Umur dikatakan berkah jika menjadikan pemiliknya terdorong kuat untuk berbuat ketaatan-ketaatan pada waktu-waktu yang dilaluinya.
  • Harta dikatakan berkah, jika banyak dan sedikitnya bisa menjadikan siapapun yang terkait dengannya diliputi kebaikan dan jauh dari kemungkaran. Misalnya: Harta yang didapatkan seseorang bisa menjadikan istri shalehah, putra- putri shalih shalihah, makanan menyehatkan badan, dan faslitas dirasakan nyaman untuk ibadah. Ia mudah untuk dialokasikan pada hal-hal kebaikan, sebaliknya sulit untuk dialokasikan pada hal-hal kemungkaran. Itulah harta yang berkah.
Nah, bagaimanakah agar bisnis dan penghasilan seseorang berkah?

Tema ini saya khususkan untuk pengelola bisnis yang memiliki sejumlah pegawai atau karyawan. Jawabannya adalah: utamakanlah meraih jalan-jalan keberkahan, diantaranya:
a. Sesuaikan“waktu manusia” dengan “waktu Allah ta’ala”.
Jangan dibalik, “waktu Allah ta’ala” yang disesuaikan dengan “waktu manusia”. Misalnya jam masuk dan keluar kerja disesuaikan dengan waktu shalat sehingga Anda dan karyawan Anda yang lelaki bisa shalat di awal waktu dan berjamaah di masjid.
b. Tidak memilih karyawan non muslim dengan pertimbangan agar etos kerja terjaga.
Ada sebagian pengusaha yang memiliki pandangan bahwa karyawan muslim akan menghentikan pekerjaan pada waktu-waktu shalat yang mengakibatkan berkurangnya efektivitas kerja selama beberapa menit, yaitu pada waktu-waktu shalat; Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh. Juga pada saat puasa Ramadhan, efektivitas kerja bisa terganggu selama satu bulan. Inilah pandangan mereka. Hal ini menjadikan mereka lebih memilih orang-orang non muslim sebagai karyawannya. Subhanallah….. Apa artinya kehilangan beberapa menit atau beberapa saat. Lagi pula, jika Anda merasa dirugikan bukankah masalah jam kerja bisa diatur dengan kesepakatan bersama?
Justru dengan karyawan muslimlah, Anda membantu pemenuhan hajatnya seperti menyekolahkan putra-putrinya demi kaderisasi keshalihan generasi, berinfaq di masjid, berdonasi untuk panti asuhan, dan “proyek-proyek ukhrowi” lainnya. Dan, dengan karyawan muslimlah Anda membantu keberadaannya yang terikat dengan Allah ta’ala sebagai hamba yang harus menghambakan diri kepada-Nya. Dan, tidak kalah penting ia akan selalu mendoakan dengan kebaikan-kebaikan untuk Anda dan memanjatkannya kepada Tuhan Yang Haq. Yang semua ini tidak akan Anda dapatkan pada karyawan yang non muslim. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَهُمْ رَٰكِعُونَ (المائدة: 55)

Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah) (QS. Al-Maidah: 55)
c. Adakan kajian rutin untuk pegawai/karyawan.
Adakan kajian rutin untuk pegawai/karyawan. Misalnya sepekan sekali, dua pekan sekali atau sebulan sekali. Atau pada waktu-waktu yang memungkinkan. Hakekat kajian tidak lain adalah upaya mengkondisikan ummat muslim pada khouf, roja’ dan mahabbah kepada Allah ta’ala. Ia tidak lain adalah upaya mengkondisikan ubudiyah ummat Islam agar senantiasa tersadarkan pada rambu-rambu syareat yang harus dijalaninya. Ia tidak lain adalah diperdengarkannya ayat-ayat al-Qur’an dan penjelasannya yang memiliki fungsi sebagai obat rohani sekaligus obat jasmani. Semuanya itu akan berdampak sangat positif pada bisnis atau perkantoran Anda.
Allah ta’ala berfirman,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ[الأعراف: 96]

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS. Al-A’rof: 96)
d. Segera memberikan upah sebelum keringatnya kering
Keberkahan bisa tidak Allah ta’ala turunkan atau tunda disebabkan majikan/pengusaha mengabaikan hak-hak pegawai/karyawannya. Contohnya upah atau gaji yang semestinya sudah diberikan tetapi belum diberikan. Bahkan ada di antara mereka yang merengek-rengek dan bolak-balik menuntutnya tetapi tidak diberikan juga. Allahu-l-Musta’an.
Nabi shallahu’alaihi wasallam mengingatkan hal ini di dalam Haditsnya,

أعطوا الأجيرَ أجْرَه قَبلَ أنْ يَجِفَّ عَرَقُه (رواه ابن ماجه عن عبد الله ابن عمر)

“Berilah pegawai upahnya sebelum keringatnya kering(HR. Ibnu Majah dari Abdullah Ibnu Umar)
e. Memperhatikan kemaslahatan keluarga pegawai
Karyawan Anda bekerja, tidak lain karena dorongan tanggungjawab terhadap keluarganya. Untuk itu, perhatikanlah keluarga mereka. Niscaya mereka akan menunjukkan sikap terimakasih dan akan banyak mendoakan kebaikan untuk Anda. Perhatian kepada mereka bisa berupa mengadakan rekreasi bersama, membantu biaya pengobatan, memberikan beasiswa kepada putra-putri yang prestasi, dan lain-lain. Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda,

واللهُ في عونِ العبدِ ما كان العبدُ في عونِ أخيه (رواه مسلم عن أبى هريرة)

“Allah ta’ala senantiasa menolong hamba-Nya selama dia menolong saudaranya” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
11. Berinfaq setiap hari
Berapapun gaji atau pendapatan Anda banyak atau sedikit, berinfaqlah setiap hari. Karena infaq tidak hanya diperintahkan kepada orang kaya saja. Tentu nominalnya disesuaikan dengan kemampuan dengan tidak memudharatkan Anda dan keluarga Anda. Disebutkan di dalam Al-Qur’an tentang muttaqin (orang yang bertaqwa),

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ (اال عمران:134 )

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah ta’ala menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Ali Imran: 134)
Setiap hari ada dua Malaikat yang berdoa khusus terkait orang yang berinfaq. Sebagaimana disebutkan di dalam Hadits,

ما مِن يَومٍ يُصْبِحُ العِبادُ فِيهِ، إلَّا مَلَكانِ يَنْزِلانِ، فيَقولُ أحَدُهُما: اللَّهُمَّ أعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، ويقولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا (رواه البخارى ومسلم عن أبى هريرة)

“Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun dua Malaikat kepadanya lalu salah satunya berkata; “Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya”, sedangkan yang satunya lagi berkata; “Ya Allah berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil) “ (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Tentu setiap hari Anda ingin termasuk orang yang didoakan oleh Malaikat agar harta yang diinfaqkan diganti dengan yang lebih baik. Untuk itu berinfaqlah setiap hari!!

Kita tidak perlu berpikir bahwa berinfaq hanya akan mengurangi harta. Apa lagi kalau dilakukan setiap hari. Tidak usah berpikir demikian. Cukuplah kita meyakini statemen seseorang yang kebenarannya mutlak dan tidak pernah salah. Bagaimana tidak, seluruh statemennya bersumber dari wahyu Ilahi. Beliau bersabda,

ما نَقَصَتْ صَدَقةٌ مِن مالٍ (رواه مسلم عن أبى هريرة)

“Harta tidak akan berkurang disebabkan shodaqoh” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
Betul, memang secara nominal berkurang. Tetapi, bukankah penggantinya jauh lebih besar baik yang bersifat materi ataupun yang immateri berupa keberkahan hidup yang mendatangkan kebaikan dari berbagai aspek.
Apakah pernah terdengar sebuah informasi tentang seseorang yang bangkrut disebabkan banyak berinfaq? PASTI TIDAK PERNAH.
Apakah pernah terdengar sebuah perusahaan yang bangkrut disebabkan banyak melakukan kepedualian sosial? PASTI TIDAK PERNAH.
Yang ada justru sebaliknya. Orang banyak berifaq usahanya menjadi semakin maju. Perusahaan yang banyak peduli sosial menjadi semakin jaya dan berkembang. Allah ta’ala berfirman,

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍ ۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah ta’ala adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Baqarah:261)
Dalam ayat lain,

مَّن ذَا ٱلَّذِى يُقْرِضُ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَٰعِفَهُۥ لَهُۥ وَلَهُۥٓ أَجْرٌ كَرِيمٌ

Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah ta’ala pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak” (QS. Al-Hadid: 11)

Judul buku : PEGAWAI, SURGA MERINDUKANMU

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
PEGAWAI, SURGA MERINDUKANMU (Saling Menasehati, Bag. 4) https://nidaulfithrah.com/pegawai-surga-merindukanmu-saling-menasehati-bag-4/ Mon, 27 Jan 2025 04:27:41 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19566 7. Saling Menasehati
Ada empat kewajiban bagi setiap muslim. Siapapun orangnya tanpa terkecuali, yaitu: berilmu, beramal, berwasiat dalam haq dan sabar. Allah ta’ala berfirman,

وَالْعَصْرِ () إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ () إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa () Sesungguhnya manusia benar-benar dalam keadaan rugi () kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan saling berwasiat dalam al-Haqq dan saling berwasiat agar menetapi kesabaran” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)
Dari keempat kewajiban ini salah satunya adalah berwasiat dalam haq. Dalam ungkapan lain yaitu menasehati. Dan, nash menyebutkannya dengan lafadz “ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ“. bentuk kalimatnya menunjukkan makna “lil musyarokah baina-ts-nain” yang artinya SALING. Jadi, artinya SALING MENASEHATI. Berarti Anda harus siap untuk memberi nasehat juga harus siap untuk diberi nasehat. Jadi, kita harus siap dengan keduanya. Adakalanya sebagai subyek juga sebagai obyek. Tidak usah “gumedhe” sehingga maunya hanya menasehati saja tidak mau dinasehati, kalau dinasehati marah.

Untuk menguatkan mental kita agar senang DINASEHATI, TIDAK HANYA MENASEHATI adalah hadirkanlah kesadaran bahwa:
a.] Tidak ada manusia yang sempurna, setiap orang ada kekurangannya
b.] Yang menilai diri kita adalah orang lain, bukan kita sendiri
c.] Mencerminkan sifat tawadhu’ yang dicintai semua orang
d.] Suatu kesalahan atau kekeliruan tidak akan terbiarkan

Ketika milieu SALING MENASEHATI DAN DINASEHATI berjalan, maka sebuah team work di dalam kantor atau perusahaan akan terjaga eksistensinya.
8. Qona’ah dan Tawakkal
Anda tentu melihat orang bergelimang harta tetapi seringkali gelisah seakan-akan tak memiliki kekayaan. Sebaliknya, Anda melihat orang yang serba kekurangan sehingga untuk memenuhi kebutuhan primer saja seringkali harus “ngempet-ngempet”, tetapi ia tampak seperti orang yang berkecukupan. Kenapa bisa demikian? Jawabannya, orang pertama tidak “qona’ah dan tawakkal” (menerima apa yang didapatkan dan bersandar kepada Allah ta’ala) sehingga selalu merasa kurang dan tidak pernah puas. Sedangkan orang kedua, ia “qona’ah dan tawakkal” sehingga harta yang didapatkannya dirasakan bisa mencukupi dan akhirnya menjadi orang yang pandai-pandai mensyukuri nikmat. Hati pun merasa plong dan jiwa merasa tenang. Allah ta’ala berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ (إبراهيم:7)

“Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu memaklumatkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim:7)
Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda,

لو أنكم تتوكلون على الله حقَّ توكُّله ؛ لرزقكم كما يرزق الطيرَ : تغدوا خماصًا وتروح بطانًا(رواه أحمد والترمذي وابن ماجه عن عمر ابن الخطاب)

“Sekiranya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Dia akan memberi rizki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rizki terhadap burung, ia pergi dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Umar bin al-Khoththob)
Orang yang tidak bisa “qona’ah dan tawakkal” akan terdorong untuk berbuat apapun demi memenuhi hasratnya. Ini sangat membahayakan karena bisa terperangkap ke dalam “gelap mata gelap hati” yang akhirnya mengambil jalan pintas menghalalkan segala macam cara. Dia tidak merasa risih untuk mengabaikan hukum-hukum Allah ta’ala. Tidak merasa beban untuk melanggar syariat-Nya. Perdukunan dan berbagai praktek kesyirikanpun dipandangnya sebagai solusi, padahal rizki tidak akan diraihnya kecuali sebatas yang telah Allah ta’ala taqdirkan. Orang semacam ini Allah ta’ala telah cerai-beraikan urusan-urusannya sehingga jiwanya gersang, hidupnya tidak pernah tenang dan selalu sumpek. Disebutkan di dalam Hadits,

من كانتِ الآخرةُ هَمَّهُ جعلَ اللَّهُ غناهُ في قلبِهِ وجمعَ لَه شملَهُ وأتتهُ الدُّنيا وَهيَ راغمةٌ ، ومن كانتِ الدُّنيا همَّهُ جعلَ اللَّهُ فقرَهُ بينَ عينيهِ وفرَّقَ عليهِ شملَهُ ، ولم يأتِهِ منَ الدُّنيا إلَّا ما قُدِّرَ له (رواه الترمذى عن أنس مالك)

“Barangsiapa yang menjadikan Akhirat sebagai tujuannya, maka Allah ta’ala akan menjadikan kekayaan berada di dalam hatinya, Allah ta’ala akan mengumpulkan (memudahkan) baginya urusannya, dan dunia akan mendatanginya dalam kondisi rendah dan hina.
Dan barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, maka Allah ta’ala akan menjadikan kemiskinan selalu berada di depan kedua matanya, Allah ta’ala akan mencerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak akan mendatanginya kecuali apa yang telah ditaqdirkan untuknya.” (HR. At-Tirmidzi dari Anas bin Malik)
9. Tidak Membiarkan Waktu untuk Bengong
Berapa lama waktu yang Anda tempuh untuk berangkat menuju tempat kerja? Gunakanlah sebaik-baiknya untuk mendulang pahala. Caranya, gunakanlah kesempatan tersebut untuk berdzikir; membaca al-Qur’an yang telah dihafal, tasbih, tahmid, takbir, istighfar, shalawat dan lain-lain. Semakin jauh tempat kerjanya, maka semakin banyak kesempatan untuk berdzikir. Dengan berdzikir Anda tidak membiarkan pikiran Anda kosong alias bengong. Justru akan menguatkan ibadah mahdhoh sebagaimana yang dibahas pada poin (a). Yaitu “menyematkan ibadah pada aktivitas”. Dzikir selain akan menjadikan Anda ke dalam kelompok “adz-dzakirin wadz–dzakirot” yang fadhilahnya adalah mendapatkan maghfiroh dan rahmat Allah ta’ala juga akan mendatangan ketenangan jiwa. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (الأحزاب:35)

“Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir (menyebut nama Allah), Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS. Al-Ahzab: 35)

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (الرعد:28)

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram (QS. Ar-Ro’d: 28)
Kesempatan ini juga bisa dimanfaatkan untuk tidak terlalu jauh dari keteladanan Nabi shallahu’alaihi wasallam. Keteladanan yang manakah itu? Beliau shallahu’alaihi wasallam orang yang tidak memiliki dosa tetapi setiap hari ber-istighfar tidak kurang dari 100x. Jadi, kita bisa khususkan untuk ber-istighfar sepanjang perjalanan menuju kantor atau pulangnya. Coba kita introspeksi, kapan sajakah kita ber-istighfar hingga mencapai 100x? Jika hanya seusai shalat maka hanya 3x, atau 15x dalam 5 waktu shalat. Sementara yang dituntut minimal 100x. Kapan kita bisa memenuhinya? Tidak ada cara, kecuali kita harus mengagendakannya. Nah, pada kesempatan inilah kita bisa melakukannya. Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda,

إنِّي لأستغفرُ اللهَ وأتوبُ إليهِ في اليومِ مائةَ مرةٍ (رواه ابن ماجه عن أبى هريرة)

“Sesungguhnya saya memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya di dalam sehari seratus kali” (HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

Hal ini ringan untuk dilakukan tetapi susah untuk direalisasikan. Karena kecenderungan sesorang itu bolak-balik antara kosong pikiran alias bengong atau ngobrol. Untuk itu, ia butuh pembiasaan yang terus-menerus hingga terbiasa dan akhirnya bisa menjadi kebiasaan.

Judul buku : PEGAWAI, SURGA MERINDUKANMU

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
PEGAWAI, SURGA MERINDUKANMU (Menghormati dan Menyayangi, Bag. 3) https://nidaulfithrah.com/pegawai-surga-merindukanmu-menghormati-dan-menyayangi-bag-3/ Thu, 16 Jan 2025 06:26:25 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19511 4. Menghormati dan Menyayangi
Sebuah team work yang pasti terdiri dari atasan dan bawahan akan bekerja dengan baik sehingga apa yang merupakan target kerja bisa tercapai dengan semestinya manakala semua individu di dalamnya merasakan kenyamanan, kedamaian dan ketentraman. Untuk itu sesuatu yang sangat dibutuhkan mereka adalah adanya sikap saling menghormati dan menyayangi.
Sebagai atasan tidak boleh semena-mena terhadap bawahan. Janganlah kedudukan yang lebih tinggi menjadikannya bersikap abai dan meremehkan orang-orang yang berkedudukan di bawahnya. Tidak membebani tugas di luar kemampuannya, perhatikanlah kemaslahatan jasmani dan rohaninya. Bersikaplah mengayomi dan santun dalam memberikan intruksi-intruksi, lembut dalam memberikan evaluasi-evaluasi dan tidak bakhil untuk memberikan apresiasi atas suatu prestasi. Prilaku atasan yang MENYAYANGI sedemikian rupa akan menjadikan bawahan menyenangi pekerjaannya.
Sebagai bawahan harus menghormati atasannya. Tunjukkan adab yang baik dalam tutur kata dan prilaku. Tidak menggunjingnya. Tidak membuat kegaduhan dalam lingkungan kerja. Janganlah melampaui wewenangnya. Responlah setiap perintah dan keputusannya dengan baik dan berbuatlah secara all out terhadap setiap tugas yang diberikannya. Prilaku bawahan yang MENGHORMATI sedemikian rupa akan menjadikan atasan terdorong untuk mempertahankan keberadaannya bahkan tidak ragu untuk mengangkat kedudukan atau jabatannya.
Tentang nilai-nilai MENYAYANGI DAN MENGHORMATI antara atasan dan bawahan, antara senior dan yunior telah diajarkan oleh Nabi shallahu’alaihi wasallam. Beliau bersabda,

ليسَ منَّا من لَم يَرحَمْ صغيرَنا ، و يعرِفْ حَقَّ كَبيرِنا (أخرجه أبوداود و الترمذي وأحمد عن عبدالله بن عمرو )

“Tidak termasuk bagian dari kami orang yang tidak menyayangi orang yang kecil di antara kami, dan tidak mengetahui hak orang yang besar dari antara kami” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan Ahmad dari Abdullah bin Amr)
Dalam riwayat lain,

ليس منا من لم يرحمْ صغيرَنا ، ويُوَقِّرْ كبيرَنا (رواه الألباني، في صحيح الجامع، عن أنس بن مالك وعبدالله بن عمرو بن العاص وابن عباس)

“Tidak termasuk bagian dari kami orang yang tidak menyayangi orang kecil dan tidak menghormati orang besar di antara kami” (HR. Al-Albani di dalam Shahih al-Jami’ dari Anas bin Malik, Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash dan Ibnu Abbas)
5. Jangan Ghibah
Sesama pegawai dalam satu team jangan pernah ada ghibah di dalamnya. Ghibah itu membicarakan aib atau kekurangan orang lain. Jika orang yang dibicarakan tersebut mendengarnya pasti akan marah. Aib atau kekurangan apapun bentuknya janganlah sekali-kali dijadikan bahan obrolan dan perbincangan. Karena hal itu akan mencoreng kehormatan saudaranya. Bukankah sesama muslim terikat dengan ikatan “al-wala” (loyalitas)? Coba bayangkan, jika yang di ghibah-i itu Anda. Pasti marah, bukan? Nah, jika Anda tidak mau di- ghibah-i maka jangan meng-ghibah-i orang lain.
Jika aib atau kekurangan tersebut bisa berdampak pada reputasi kantor/perusahaan atau menurunnya pendapatan maka lakukanlah salah satu dari dua cara ini;
a.] Yang bersangkutan diajak bicara secara tertutup, dinasehati dan diberikan arahan agar tidak mengulanginya lagi.
b.] Yang bersangkutan langsung dilaporkan ke atasan yang berwenang. Ini tindakan yang solutif. Bukan dibeberkan aibnya ke khalayak karena akan menjatuhkan nama baiknya dan lagi pula tidak sebagai solusi.
Ghibah itu dosa besar. Tetapi anehnya banyak kaum muslimin yang memandangnya remeh. Sehingga di mana ada kerumunan, maka obrolannya tidak lepas dari ghibah. Allahu al-Musta’an. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ (الحجرات:12)

Dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang (QS. Al-Hujurot:12)
Rasulullah shallahu’alaihi wsallam bersabda,

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Tahukah kamu, apakah ghibah itu?” Para Sahabat menjawab; ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Kemudian Rasulullah shallahu’alaihi wsallam bersabda: ‘Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.’ Seseorang bertanya; ‘Ya Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan? ‘ Rasulullah shallahu’alaihi wsallam bersabda: ‘Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu ada padanya, maka berarti kamu telah menggunjingnya. Dan apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah membuat-buat kebohongan terhadapnya.’ (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
Pelaku ghibah akan disiksa dengan mencakar-cakar wajah dan dadanya sendiri dengan kuku-kuku dari tembaga. Disebutkan di dalam Hadits,

لمَّا عُرِجَ بي مَرَرْتُ بِقومٍ لهُمْ أَظْفَارٌ من نُحاسٍ ، يَخْمُشُونَ وُجُوهَهُمْ وصُدُورَهُمْ ، فقُلْتُ : مَنْ هؤلاءِ يا جبريلُ ؟ قال : هؤلاءِ الذينَ يأكلونَ لُحُومَ الناسِ ، ويَقَعُونَ في أَعْرَاضِهِمْ (رواه أحمد وأبو داود عن أنس بن مالك) .

“Ketika aku dinaikkan ke langit (mi’raj), aku melewati suatu kaum yang kuku mereka terbuat dari tembaga, kuku itu mereka gunakan untuk mencakar muka dan dada mereka. Aku lalu bertanya, “Wahai Jibril, siapa mereka itu?” Jibril menjawab, “Mereka itu adalah orang-orang yang memakan daging manusia (ghibah) dan merusak kehormatan mereka.(HR. Ahmad dan Abu Daud dari Anas bin Malik)
6. Tidak Saling Menikung, Emosi dan Menjatuhkan Orang Lain Disebabkan Hasad dan Lainnya
Jadilah hamba-hamba Allah ta’ala yang bersaudara. Ini perintah untuk muslim secara umum. Tentu lebih utama lagi sesama teman dalam satu team work yang melekat padanya “sinergitas”. Bukankah Anda sekalian antara satu dan yang lainnya saling terikat dan terkait demi eksistensi dan kemajuan sebuah perusahaan yang kalian bekerja di dalamnya? Dan, dari perusahaan itulah kalian mendapatkan penghasilan?
Jagalah persaudaraan demi milieu kerja yang nyaman dan menyenangkan. Jangan ada hasad di antara kalian. Berlatihlah untuk mensyukuri atas suatu nikmat yang diraih oleh teman Anda karena rizki masing-masing orang telah Allah ta’ala gariskan dan tidak ada yang keliru ataupun meleset. Rizki Anda juga telah Allah ta’ala tetapkan. Bukankah Anda yakin bahwa Allah ta’ala itu “Ar-Rozzaq” (الرزاق)?
Janganlah saling menikung dan menjatuhkan demi ambisi suatu jabatan dan lainnya karena segalanya telah Allah ta’ala takdirkan. Anda beriman kepada takdir, bukan?
Jika ada suatu hal yang menjadikan kalian saling diam dan tidak bertegur sapa maka segeralah disudahi, tidak boleh berlanjut hingga melebihi tiga hari. Nabi shallahu’alaihi wsallam bersabda,

لاَ تقاطعوا ولاَ تدابروا ولاَ تباغضوا ولاَ تحاسدوا وَكونوا عبادَ اللَّهِ إخوانًا ولاَ يحلُّ لمسلمٍ أن يَهجرَ أخاهُ فوقَ ثلاثٍ (رواه الترمذى عن أنس بن مالك)

“Janganlah kalian saling memutuskan, saling membelakangi, saling murka dan saling dengki. Jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah ta’ala yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim untuk mendiamkan saudaranya melebih tiga hari” (HR At-Tirmidzi dari Anas bin Malik)
Dalam riwayat lain,

المسلِمُ أخُو المسلِمِ ، لا يَظلِمُهُ ولا يَخذُلُهُ ، ولا يَحقِرُهُ ، التَّقْوى ههُنا – وأشارَ إلى صدْرِهِ – بِحسْبِ امْرِئٍ من الشَّرِّ أنْ يَحقِرَ أخاهُ المسلِمَ ، كلُّ المسلِمِ على المسلِمِ حرامٌ ، دمُهُ ، ومالُهُ ، وعِرضُهُ (رواه البخارى ومسلم عن أبى هريرة)

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, sehingga dia tidak boleh menzhaliminya, menghinanya, mendustakannya dan merendahkannya. Takwa itu letaknya di sini –sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali– cukuplah seseorang itu dalam kejelekan selama dia merendahkan sesama saudara muslim. Setiap muslim terhadap muslim lainnya haram dan terjaga darah, harta dan kehormatannya. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Judul buku : PEGAWAI, SURGA MERINDUKANMU

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
PEGAWAI, SURGA MERINDUKANMU (Jujur dan Profesional, Bag. 2) https://nidaulfithrah.com/pegawai-surga-merindukanmu-jujur-dan-profesional-bag-2/ Sat, 04 Jan 2025 05:53:59 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19497 3. Jujur dan Profesional
Tentang pelaksanaan kerja/tugas, Al-Qur’an menyebutkan dua kata kunci yaitu jujur dan profesional. Keduanya harus ada, tidak boleh hanya salah satunya. Bisa dibayangkan apa yang terjadi jika suatu perusahaan hanya diisi oleh orang-orang yang jujur tetapi tidak profesional, atau sebaliknya hanya diisi oleh orang-orang yang profesional tetapi tidak jujur? Sudah pasti kerugian dan kehancuran. Disebutkan tentang Nabi Musa ‘alaihissalam ketika diminati untuk dijadikan pegawai,

قَالَتْ إِحْدَىٰهُمَا يَٰٓأَبَتِ ٱسْتَـْٔجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ ٱسْتَـْٔجَرْتَ ٱلْقَوِىُّ ٱلْأَمِينُ (القصص:26)

Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Wahai bapakku jadikanlah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya (QS. Al-Qoshosh: 26)

Nabi Musa ‘alaihissalam disebut sebagai ٱلْقَوِىُّ (yang kuat/profesional) dan ٱلْأَمِينُ (jujur)

Demikian juga Nabi Yusuf ‘alaihissalam untuk menjadi penanggungjawab atas perbendaharaan kerajaan disebutkan sebagai حَفِيظٌ (yang menjaga/jujur) dan عَلِيمٌ (yang berpengetahuan/profesional), sebagaimana firman-Nya,

قَالَ ٱجْعَلْنِى عَلَىٰ خَزَآئِنِ ٱلْأَرْضِ ۖ إِنِّى حَفِيظٌ عَلِيمٌ (يوسف:55)

Yusuf berkata: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga (jujur), lagi berpengetahuan (profesional) (QS. Yusuf: 55)
Demikian juga ‘Ifrith disebutkan sebagai ٱلْقَوِىُّ (yang kuat/profesional) dan ٱلْأَمِينُ (jujur), sebagaimana firman-Nya,

قَالَ عِفْرِيتٌ مِّنَ ٱلْجِنِّ أَنَا۠ ءَاتِيكَ بِهِۦ قَبْلَ أَن تَقُومَ مِن مَّقَامِكَ ۖ وَإِنِّى عَلَيْهِ لَقَوِىٌّ أَمِينٌ (النمل:39)

“ ‘Ifrith dari golongan jin berkata: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat (profesional) untuk membawanya lagi dapat dipercaya (jujur)” (QS. An-Naml:39)
* Jujur
Jujur adalah sifat mendasar bagi muslim. Allah ta’ala berfirman,

لِّيَجْزِىَ ٱللَّهُ ٱلصَّٰدِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ ٱلْمُنَٰفِقِينَ إِن شَآءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا (الأحزاب: 24)

Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Al-Ahzab: 24)
Perhatikanlah ayat di atas! Allah ta’ala menyebut muslim dengan sebutan ash-shodiq (orang yang jujur) ketika dipertentangkan dengan orang munafik. Kenapa demikian? Untuk menegaskan bahwa sebagaimana sifat mendasar orang munafiq adalah dusta, maka sifat mendasar muslim adalah jujur.
Jujur membawa kebaikan di dalam segala hal. Karena ia menenangkan semua pihak, baik kepada perseorangan, team, orang banyak dan juga kepada diri sendiri. Karena tidak ada pihak manapun yang dirugikan atau dizholimi. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنَّ الصِّدقَ يَهدي إلى البِرِّ وإنَّ البِرَّ يَهدي إلى الجنَّةِ وإنَّ الرَّجلَ ليصدقُ ويتحرَّى الصِّدقَ حتَّى يُكتبَ عندَ اللَّهِ صدِّيقًا (رواه البخارى ومسلم عن عبد الله بن مسعود)

“Sesungguhnya jujur itu menghantarkan kepada kebaikan. Sesungguhnya kebaikan itu menghantarkan kepada Surga. Dan sungguh ada seseorang yang jujur dan terus mengupayakan kejujuran hingga dicatat di sisi Allah ta’ala sebagai SHIDDIQ (orang jujur)” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud)
Disebutkan di dalam Hadits lain,

دعْ ما يُريبُكَ إلى ما لا يُريبُكَ فإنَّ الصدقَ طُمأنينةٌ وإنَّ الكذبَ رِيبَةٌ (رواه أحمد والترمذى والنسائى عن الحسن بن علي بن أبي طالب )

”Tinggalkanlah sesuatu yang membuatmu ragu, dan kerjakanlah sesuatu yang tidak membuatmu ragu. Sesungguhnya jujur itu ketenangan dan dusta itu kegalauan” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan An-Nasa’i dari Hasan bin Ali bin Abi Tholib)
Jujur merupakan salah satu sikap yang sangat penting dan harus dimiliki oleh setiap manusia dalam beraktivitas apapun, termasuk saat bekerja/berbisnis. Sikap jujur akan melahirkan kepercayaan antara satu orang dan lainnya. Sikap jujur juga menjauhkan rasa curiga, benci, keretakan dan juga menjauhkan kekhawatiran akan rusaknya sebuah kepercayaan yang dibangun.
Orang yang jujur sangat disenangi oleh siapa pun. Perilaku jujur juga menjadi pondasi dalam menjaga kepercayaan antar mitra kerja. Selain itu kejujuran akan memudahkan Anda dekat dengan atasan. Kejujuran juga akan terpandang lebih terhormat dari orang yang memiliki sikap kecurangan.
Pegawai/ karyawan yang jujur akan dimudahkan dalam segala urusan. Baik itu pekerjaan atau kehidupannya. Ciri dari sebuah kejujuran adalah ia ikhlas dalam menjalankan pekerjaannya tanpa mengeluh dan selalu lapang dada.
Tidak semua orang dapat bertindak jujur apalagi pegawai/ karyawan yang berhubungan dengan jenis pekerjaan yang melibatkan kepercayaan, seperti mengelola uang, memberi informasi yang benar dan lain sebagainya.
Jujur dan profesional (yang akan dibahas di bawah ini) akan menghantarkan pada integritas Anda. Jadi, bukan suatu alasan Anda tidak berlaku jujur dalam keadaan apa pun, tidak tergoda dengan urusan yang melibatkan ketidakjujuran. Integritas bagi seorang pekerja wajib dipegang teguh walaupun amat sulit dilakukan. Berikut ini saya nukilkan kisah tentang kejujuran yang luar biasa tentang seseorang yang takut memakan hak orang lain dari Hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam untuk bisa diambil ‘ibrah-nya,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اشْتَرَى رَجُلٌ مِنْ رَجُلٍ عَقَارًا لَهُ فَوَجَدَ الرَّجُلُ الَّذِي اشْتَرَى الْعَقَارَ فِي عَقَارِهِ جَرَّةً فِيهَا ذَهَبٌ فَقَالَ لَهُ الَّذِي اشْتَرَى الْعَقَارَ خُذْ ذَهَبَكَ مِنِّي إِنَّمَا اشْتَرَيْتُ مِنْكَ الْأَرْضَ وَلَمْ أَبْتَعْ مِنْكَ الذَّهَبَ وَقَالَ الَّذِي لَهُ الْأَرْضُ إِنَّمَا بِعْتُكَ الْأَرْضَ وَمَا فِيهَا فَتَحَاكَمَا إِلَى رَجُلٍ فَقَالَ الَّذِي تَحَاكَمَا إِلَيْهِ أَلَكُمَا وَلَدٌ قَالَ أَحَدُهُمَا لِي غُلَامٌ وَقَالَ الْآخَرُ لِي جَارِيَةٌ قَالَ أَنْكِحُوا الْغُلَامَ الْجَارِيَةَ وَأَنْفِقُوا عَلَى أَنْفُسِهِمَا مِنْهُ وَتَصَدَّقَا (رواه البخارى ومسلم)

“Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu ia berkata; Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada seorang laki-laki yang membeli sebidang tanah dari orang lain kemudian laki-laki yang membeli tanah itu mendapatkan sebuah guci yang di dalamnya ada emas. Orang yang membeli tanah itu berkata; “Ambillah emas milikmu karena aku hanya membeli tanah dan bukan membeli emas”. Si penjual berkata; “Yang aku jual adalah tanah dan apa yang ada di dalamnya”. Akhirnya kedua orang itu meminta pendapat kepada seseorang, lalu orang yang dimintai pendapat itu berkata; “Apakah kalian berdua mempunyai anak?. Laki-laki yang satu berkata; “Aku puya anak laki-laki”. Dan yang satunya lagi berkata: “Aku punya anak perempuan”. Maka orang yang dimintai pendapat berkata; “Nikahkanlah anak laki-laki itu dengan anak perempuan itu dan berilah nafkah untuk keduanya dari emas tadi dan juga shadaqahkanlah” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kedua orang dalam Hadits ini menujukkan kejujuran yang luar biasa. Bukankah sangat mudah bagi pembeli tanah untuk langsung memiliki emas temuannya itu dengan mengedapankan alasan bahwa dirinya telah membeli tanah, maka sudah barang tentu include apapun yang di dalamnya.
Demikian pula si penjual. Sangat luar biasa kejujurannya. Dia tidak memanfaatkan kesempatan atas kejujuran si pembeli. Dia tidak bersikap “aji mumpung” bahkan langsung menolak dan mengedepankan pandangannya bahwa menjual tanah itu include dengan apapun yang ada di dalamnya.
* Profesional
Profesional adalah kemampuan seseorang untuk menjalankan tugasnya dengan baik sesuai dengan bidang yang ditekuninya. Profesionalitas meliputi beberapa karakter:

  1. Bangga pada pekerjaan dan menunjukkan komitmen pribadi pada kualitas
  2. Berusaha meraih tanggung jawab
  3. Mengantisipasi dan tidak menunggu perintah untuk menunjukkan inisiatif
  4. Mengerjakan apa yang perlu dikerjakan untuk merampungkan tugas
  5. Melibatkan diri secara aktif dan tidak sekadar bertahan pada peran yang telah ditetapkan untuk mereka
  6. Selalu mencari cara untuk membuat berbagai hal menjadi lebih mudah bagi orang-orang yang mereka layani
  7. Ingin belajar sebanyak mungkin mengenai bisnis orang-orang yang mereka layani
  8. Mendengarkan kebutuhan orang-orang yang mereka layani
  9. Belajar memahami dan berpikir seperti orang-orang yang mereka layani sehingga bisa mewakili mereka ketika orang-orang itu tidak ada di tempat
  10. Pemain dalam team
  11. Memahami mana saja perkara yang merupakan konsumsi internal atau eksternal
  12. Loyalitas, sense of belonging dan dedikasi
  13. Terbuka terhadap kritik-kritik yang membangun mengenai cara meningkatkan diri.
  14. Mengedepankan sinergitas team dan membuang jauh-jauh sikap ego.

Dalam dunia kerja, menjadi seorang yang profesional bukanlah hal yang mudah. Dengan menerapkan beberapa hal di atas, maka dapat membantu terciptanya profesionalisme dalam ruang lingkup pekerjaan dan membuat hasil pekerjaan lebih memuaskan.

Judul buku : PEGAWAI, SURGA MERINDUKANMU

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
PEGAWAI, SURGA MERINDUKANMU (Beberapa perkara yang harus diperhatikan, Bag. 1) https://nidaulfithrah.com/pegawai-surga-merindukanmu-beberapa-perkara-yang-harus-diperhatikan-bag-1/ Fri, 03 Jan 2025 06:56:07 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19482 A. Beberapa perkara yang harus diperhatikan
1. Menyematkan Ibadah pada Aktivitas
I’tikaf, shalat, membaca Al-Qur’an, tholabul ilmi, dzikir, infaq, wakaf, haji, umroh, ziarah kubur, dan lain-lain semuanya itu secara dzatnya merupakan ibadah yang mendatangkan pahala. Biasanya disebut dengan ibadah mahdhoh.
Lalu, bagaimana dengan bekerja, olahraga, mandi, makan, minum, rekreasi, touring, mendaki gunung, dan lain-lain? Semuanya itu merupakan aktivitas duniawi yang tidak mendatangkan pahala tetapi sekedar kemaslahatan duniawi. Namun, haruslah diketahui bahwa aktivitas duniawi ini bisa bernilai ibadah yang mendatangkan pahala dengan satu syarat. Apa syaratnya? Landaskanlah pada seluruh aktivitas tersebut dengan niat untuk mendukung, menopang dan memperkuat peribadahan-peribadahan mahdhoh. Contoh:

  • Ketika mandi, hadirkan dalam hati: Ya Allah, dengan mandi sehatkanlah badan demi bisa menjalankan ibadah-ibadah.
  • Ketika olahraga, hadirkan dalam hati: Ya Allah, dengan olahraga ini jadikanlah badanku sehat sehingga bisa berbuat banyak peribadahan; puasa, qiyamullail, shodaqoh tenaga di berbagai acara baksos, silaturrahim dan lain-lain
  • Ketika mendaki gunung dan touring, niatkanlah untuk tadabbur alam yang menghadirkan rasa keagungan dan kebesaran terhadap Allah ta’ala sebagai satu-satunya Dzat yang harus diibadahi.
  • DEMIKIAN JUGA KETIKA ANDA BEKERJA, HADIRKANLAH setiap kali akan berangkat kerja dalam hati Anda: Ya Allah, saya niatkan dari pekerjaan ini untuk menafkahi keluargaku sebagai tanggungjawabku yang Engkau berikan kepadaku. Yang dengannya pula saya bisa mendapatkan rizki untuk infaq, membayar biaya pendidikan, wakaf, santunan anak yatim, membantu dhu’afa, membeli pakaian untuk menutup aurat dan lain-lain. DENGAN CARA INI, ANDA MENJADI PEGAWAI yang pekerjaan Anda bernilai ibadah yang mendatangkan pahala. Ibadah seperti ini terjadi dari amalan mubah yang didasari niat disebut ibadah ghoiru mahdhoh

Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda,

إنَّكَ لن تُنْفِقَ نفقةً تبتَغي بها وجهَ اللهِ عزَّ وجلَّ إلَّا أُجِرْتَ بها حتَّى ما تجعلُ في فَمِ امرأتِكَ (رواه البخارى عن سعد بن أبى وقاص)

“Sesungguhnya kamu tidaklah memberi nafkah karena mengharapkan Wajah Allah ‘azzawajalla melainkan kamu diberi pahala dengannya hingga sesuatu yang kamu masukkan ke dalam mulut istrimu(HR. Bukhari dari Sa’ad bin Abu Waqosh)

Mu’adz bin Jabal radhiallahu’anhu berkata:

أمَّا أنَا فأنَامُ وأَقُومُ، فأحْتَسِبُ نَوْمَتي كما أحْتَسِبُ قَوْمَتِي (رواه البخارى عن أبى موسى ألأشعرى)

“Adapun saya, saya tidur dan bangun. Saya berharap tidurku sebagaimana melek-ku(HR.Bukhari dari Abu Musa Al-Asy’ari)

Alhafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan, Mua’adz bin Jabal berharap pahala dari rehatnya itu sebagaimana ketika beraktivitas di mana rehat yang dimaksudkan untuk memperkuat ibadah akan mendatangkan pahala.

Maksudnya, Mu’adz bin Jabal radhiallahu’anhu berharap dari tidurnya yang notabene diam tidak ada kegiatan apapun yang bisa mendatangkan pahala tetapi tetap bisa mendatangkan pahala. Tidak lain caranya dengan menghadirkan niat bahwa tidur yang dilakukannya untuk “getting power” yang akan memperkuat peribadahan.

Zubaid al-Yamiy (seorang Tabi’in wafat tahun 124 H) berkata,

إني لأحب أن تكون لي نية في كل شيء، حتى في الطعام والشراب

“Sungguh saya sangat mencintai kalau pada setiap aktivitasku ada niat sampai ketika makan dan minum”

Yang bisa membantu hadirnya niat adalah perenungan, penghayatan, ketenangan alias tidak tergesa-gesa, evaluasi diri sebelum bekerja, dan setiap saat memastikan kehalalan atas jenis pekerjaan dan hasilnya.

2. Bekerja pada Pekerjaan yang Halal

Kadang masih terdengar ucapan dari sebagian orang, “Mencari yang haram saja susah apalagi yang halal”. Jika ada seseorang merasa kesulitan untuk mendapatkan mata pencaharian atau pendapatannya pas-pasan, hendaklah memperkuat kesabaran sehingga tidak sampai berpenghasilan haram. Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda,

أَيُّها النَّاسُ، إنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لا يَقْبَلُ إلَّا طَيِّبًا، وإنَّ اللَّهَ أمَرَ المُؤْمِنِينَ بما أمَرَ به المُرْسَلِينَ، فقالَ: {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ} [المؤمنون: 15]، وقالَ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} [البقرة: 271]، ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أشْعَثَ أغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إلى السَّماءِ، يا رَبِّ، يا رَبِّ، ومَطْعَمُهُ حَرامٌ، ومَشْرَبُهُ حَرامٌ، ومَلْبَسُهُ حَرامٌ، وغُذِيَ بالحَرامِ، فأنَّى يُسْتَجابُ لذلكَ؟! (رواه مسلم عن أبى هريرة)

“Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah ta’ala telah memerintahkan kepada kaum mukminin dengan sesuatu yang Allah perintahkan pula kepada para Rasul. Maka Allah ta’ala berfirman: ”Wahai para Rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih.” Dan Allah ta’ala berfirman: ”Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kalian dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepada kalian.” Kemudian beliau shallahu’alaihi wasallam menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan panjang dalam keadaan dirinya kusut dan kotor, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: ”Wahai Rabb-ku, wahai Rabb-ku,” tetapi makanannya haram, minumannya haram dan pakaiannya haram dan kenyang dengan sesuatu yang haram, bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?.” (HR. Muslim)

Hadits ini memperingatkan kita betapa penghasilan haram akan menjadikan doa kita tidak dikabulkan. Meskipun yang berdoa adalah seorang musafir yang doanya mustajab. Penghasilan haram itulah yang menjadikan hilangnya ke-mustajab-annya doa.

Dalam Hadits lain, Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda,

يا كعبُ بنَ عُجْرةَ إنَّه لا يدخُلُ الجنَّةَ لحمٌ ودمٌ نبَتا على سُحتٍ النَّارُ أَوْلى به (رواه ابن حبان)

“Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah, sesungguhnya tidak akan masuk Surga daging yang tumbuh dari makanan haram, Neraka lebih utama baginya” (HR. Ibnu Hibban)
Yang dimaksud dengan pekerjaan halal ada dua macam;
a. Jenisnya; bukan pekerjaan yang ribawi, tipu-menipu, ada unsur judi, dan unsur kezhaliman.
b. Implementasinya; bisa jadi jenis pekerjaannya halal. Tetapi seseorang mengerjakannya tidak dengan semestinya. Misalnya korupsi waktu, bekerja asal-asalan tetapi saat pembagian gaji menuntutnya secara sempurna, menerima tips dari klien padahal sudah digaji oleh instansinya atas pekerjaannya, menerima gratifikasi dan contoh-contoh lainnya. Tentang ini ada nash yang mengecamnya,

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ () ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكْتَالُوا۟ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسْتَوْفُونَ () وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang () (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi (QS. Al-Muthoffifin : 1-3)
Disebutkan di dalam Hadits,

لعنةُ اللهِ على الرّاشِي والمُرْتَشِي (رواه أحمد والترمذى عن عبد الله بن عمرو)

Laknat Allah bagi orang yang menyuap dan yang disuap” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi dari Abdullah bin Amr)
Disebutkan di dalam Hadits,

اسْتَعْمَلَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ رَجُلًا مِنَ الأسْدِ، يُقَالُ له: ابنُ اللُّتْبِيَّةِ، قالَ عَمْرٌو: وَابنُ أَبِي عُمَرَ، علَى الصَّدَقَةِ، فَلَمَّا قَدِمَ قالَ: هذا لَكُمْ، وَهذا لِي، أُهْدِيَ لِي، قالَ: فَقَامَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ علَى المِنْبَرِ، فَحَمِدَ اللَّهَ، وَأَثْنَى عليه، وَقالَ: ما بَالُ عَامِلٍ أَبْعَثُهُ، فيَقولُ: هذا لَكُمْ، وَهذا أُهْدِيَ لِي، أَفلا قَعَدَ في بَيْتِ أَبِيهِ، أَوْ في بَيْتِ أُمِّهِ، حتَّى يَنْظُرَ أَيُهْدَى إلَيْهِ أَمْ لَا؟ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بيَدِهِ، لا يَنَالُ أَحَدٌ مِنكُم منها شيئًا إلَّا جَاءَ به يَومَ القِيَامَةِ يَحْمِلُهُ علَى عُنُقِهِ بَعِيرٌ له رُغَاءٌ، أَوْ بَقَرَةٌ لَهَا خُوَارٌ، أَوْ شَاةٌ تَيْعِرُ، ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ حتَّى رَأَيْنَا عُفْرَتَيْ إبْطَيْهِ، ثُمَّ قالَ: اللَّهُمَّ، هلْ بَلَّغْتُ؟ مَرَّتَيْنِ (رواه مسلم عن أبى حميد الساعدى)

“Rasulullah shallahu’alaihi wasallam memperkerjakan seorang laki-laki dari suku Al Asad bernama Ibnu Luthbiyah -Amru dan Ibnu Abu ‘Umar berkata- untuk mengumpulkan harta sedekat (zakat). Ketika menyetorkan zakat yang dipungutnya, dia berkata, “Zakat ini kuserahkan kepada Anda, dan ini pemberian orang kepadaku.” Abu Humaid berkata, “Rasulullah shallahu’alaihi wasallam lalu berkhutbah di atas mimbar, setelah beliau memuji dan menyanjung Allah ta’ala, beliau sampaikan: “Ada seorang petugas yang aku tugaskan memungut zakat, dia berkata, ‘Zakat ini yang kuberikan (setorkan) kepada Anda, dan ini pemberian orang untukku.’ Mengapa dia tidak duduk saja di rumah ibu bapaknya menunggu orang mengantarkan hadiah kepadanya? Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, tidak ada seorangpun di antara kalian yang menggelapkan zakat ketika ia ditugaskan untuk memungutnya, melainkan pada hari Kiamat kelak dia akan memikul unta yang digelapkannya itu melenguh-lenguh di lehernya, atau sapi yang melenguh, atau kambing yang mengembik-embik.” Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sehingga kami melihat putih kedua ketiaknya. kemudian beliau bersabda: ‘Ya Allah, telah aku sampaikan (HR. Muslim dari Abu Hamid as- Sa’idi)
Canggihnya kemajuan teknologi menjadikan manusia mudah untuk berbuat banyak hal. Tidak terlewatkan, pemanfaatannya untuk bisnis online. Akhirnya muncullah macam- macam bisnis dengan berbagai variasinya secara online. Berhati-hatilah dan perhatikanlah mana yang syar’i dan yang tidak syar’i. Sebut saja misalnya menjual emas secara online, menjual barang yang tidak dimilikinya padahal salah satu rukun jual beli adalah adanya barang yang dijual. Maka kedua contoh ini tidaklah syar’i. Banyak juga bermunculan variasi bisnis offline yang mengharuskan kita untuk berhati-hati. Karena ada yang secara zhahir kelihatannya syar’i padahal hakekatnya tidaklah demikian.
Hadirkan selalu Hadits tentang persidangan di hari Kiamat bahwa kedua telapak kaki tidak akan bergeser hingga ditanya tentang asal perolehan harta yang kita dapatkan,

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ (رواه الترمذى عن أبو برزة الأسلمي نضلة بن عبيد )

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari Kiamat hingga dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya” (HR. Tirmidzi dari Abu Barzah al-Aslami Nadholah bin Ubaid).

Judul buku : PEGAWAI, SURGA MERINDUKANMU

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>