memendekkan – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Fri, 08 Aug 2025 07:03:30 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png memendekkan – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 Apakah mencukur atau memendekkan bagi orang yang berhaji Tamattu’? https://nidaulfithrah.com/apakah-mencukur-atau-memendekkan-bagi-orang-yang-berhaji-tamattu/ Fri, 08 Aug 2025 07:03:29 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=20251 Sumber : (https://www.islamweb.net/ar/fatwa/166901/)

Teks Arab

هل يحلق المتمتع بعد العمرة أم يقصر

السؤال: الحاج المتمتع سوف يحلق مرتين الأولى بعد العمرة والمرة الثانية بعد طواف الإفاضة، فإذا حلقت بعد العمرة فسوف لا يكون هنالك شعر كي أقصره أو أحلقه، أرجو منكم أن تنصحوني.

الجواب: الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

فإن الأفضل للمتمتع أن يقصر شعره ولا يحلقه بعد التحلل من عمرة التمتع، ويجعل الحلق عند التحلل من حجه. قال أبو محمد بن قدامه في المغني: وقول الخرقي: قصر من شعره، ثم قد حل ـ يدل على أن المستحب في حق المتمتع عند حله من عمرته التقصير، ليكون الحلق للحج، قال أحمد في رواية أبي داود: ويعجبني إذا دخل متمتعا أن يقصر، ليكون الحلق للحج، ولم يأمر النبي صلى الله عليه وسلم أصحابه إلا بالتقصير، فقال في حديث جابر: أحلوا من إحرامكم بطواف بين الصفا والمروة وقصروا، وفي صفة حج النبي صلى الله عليه وسلم: فحل الناس كلهم، وقصروا، وفي حديث ابن عمر أنه قال: من لم يكن معه هدي فليطف بالبيت وبين الصفا والمروة، وليقصر، وليحلل. متفق عليه. وإن حلق جاز، لأنه أحد النسكين، فجاز فيه كل واحد منهما. انتهى.

والله أعلم.

Terjemahan teks Arab

Pertanyaan: Orang yang berhaji Tamattu’ akan memotong rambut dua kali; pertama setelah umroh dan kedua setelah thowaf ifadhah. Jika setelah umroh mencukur maka tidak ada rambut lagi untuk dipendekkan atau dicukur. Mohon nasehat dari Antum.

Jawab

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Yang utama, orang yang berhaji Tamattu’ memendekkan rambutnya tidak mencukurnya setelah melakukan umroh Tamattu’. Cukurnya nanti setelah tahalull dari haji. Abu Muhammad bin Qudamah berkata di dalam “Al-Mughni”: Perkataan Al-Khurofiy, “Pendekkanlah rambutnya” berarti dia telah ber-tahallul. Hal ini berarti yang dianjurkan bagi jamaah haji Tamattu ketika ber-tahallul dari umroh adalah memendekkan. Adapun untuk cukurnya nanti pada saat haji. Nabi tidaklah memerintahkan para Sahabat kecuali untuk memendekkan saja. Di dalam Hadits Jabir tentang haji Nabi bahwa seluruh Sahabat ber-tahallul dan memendekkan rambut. Beliau bersabda, 

أحلوا من إحرامكم بطواف بين الصفا والمروة وقصروا

Ber-tahallul lah dari ihram kalian dengan sa’i antara Shofa dan Marwah lalu pendekkanlah (rambut)

Di dalam Hadits Ibnu Umar, 

من لم يكن معه هدي فليطف بالبيت وبين الصفا والمروة، وليقصر، وليحلل (متفق عليه)

Siapa yang belum memiliki hadyu hendaklah thowaf di Baitullah dan sa’i antara Shofa dan Marwah lalu pendekkanlah rambut dan ber-tahallul (Muttafaq ‘alaih)

Jika mencukur juga boleh. Karena ia salah satu bagian dari rangkaian haji. Mana saja dari keduanya, boleh. [Selesai]

Judul buku : Terkadang Ditanyakan 24

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
PANDUAN PRAKTIS HAJI & UMROH (Bag. 2 Memendekkan rambut) https://nidaulfithrah.com/panduan-praktis-haji-umroh-bag-2-memendekkan-rambut/ Fri, 21 Feb 2025 06:14:32 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19694 c. Memendekkan rambut.
Untuk haji tamattu’, bagi lelaki yang afdhol ketika umroh adalah dengan memendekkan rambut. Adapun mencukurnya dilakukan nanti pada saat haji. Adapun untuk wanita, dengan memendekkannya seukuran ruas jari. Setelah memendekkan rambut, selesailah pelaksanaan umroh, dan telah halal kembali seluruh yang diharamkan selama ihram. Berikutnya menunggu tanggal 8 Dzulhijjah.


Tanggal 8 Dzulhijjah
Pada tanggal 8 Dzulhijjah berihram untuk haji dari tempat manapun di dalam kota Makkah. Sebelum niat ihram, terlebih dahulu mandi dan memakai wewangian pada badan seperti kepala, ketiak dan jenggotnya (untuk lelaki) lalu memakai pakaian ihram dan berniat,

لبَّيكَ حَجًّا

Seusai niat ihram inilah, para jamaah haji mulai ber-talbiyah sebanyak-bayaknya. Kemudian menuju Mina. Shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh dilakukan di sana dengan di-qoshor tanpa jamak.


Tanggal 9 Dzhulhijjah
Ketika matahari terbit pada tanggal 9 Dzulhijjah, bertolak menuju ‘Arofah dan turun di Namiroh jika memungkinkan. Jika tidak, maka dilanjutkan sampai di Arofah dan wukuf di sana. Para jamaah melakukan shalat Zhuhur dan Ashar dengan jamak taqdim dan qoshor. Setelah itu mereka disibukkan dengan doa dan dzikir. Maksimalkanlah dalam berdoa dan dzikir hingga waktu Maghrib. Durasi dari Zhuhur ke Maghrib bukanlah waktu yang singkat, untuk itu harus disiapkan apa saja yang ingin dipanjatkan dalam berdoa sejak jauh-jauh hari bahkan sejak sebelum keberangkatan ke tanah suci. Adapun dzikir yang sangat diutamakan adalah membaca,

لا إله إلا الله وحده لا شريكَ له، له الملك، وله الحمد، وهو على كل شيءٍ قدير

Sebagaimana disebutkan dalam Hadits Amr bin Syua’ib dari ayahnya dari kakeknya bahwa Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda,

خير الدُّعاء دعاء يوم عرفة، وخير ما قلتُ أنا والنَّبيون من قبلي: لا إله إلا الله وحده لا شريكَ له، له الملك، وله الحمد، وهو على كل شيءٍ قدير (رواه الترمذى)

Sebaik-baik doa itu doa di hari Arafah. Dan sebaik-baik yang saya baca juga para Nabi sebelumku adalah: Laa ilaaha illa Allah wahdahu laa syariika lahu, lahu-l-mulku wa lahu-l-hamdu wa huwa ‘ala kulli syay-in qodiir” (HR. At-Tirmidzi)


Tanggal 10 Dzulhijjah
Ketika matahari sudah terbenam di hari Arofah, jamaah haji bertolak menuju Muzdalifah. Shalat Maghrib dan Isya dilakukan di Muzdalifah secara jamak dan qoshor. Dan, terus berada di sini hingga datang waktu Shubuh.
Setelah shalat Shubuh dan ufuk berwarna kuning dilanjutkan berangkat menuju Mina. Bagi yang kesulitan karena macet atau penuh sesak maka diperbolehkan meninggalkan Muzdalifah sebelum Shubuh. Disebutkan di dalam Hadits,

نَزَلْنَا المُزْدَلِفَةَ، فَاسْتَأْذَنَتِ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ سَوْدَةُ أنْ تَدْفَعَ قَبْلَ حَطْمَةِ النَّاسِ -وكَانَتِ امْرَأَةً بَطِيئَةً- فأذِنَ لَهَا، فَدَفَعَتْ قَبْلَ حَطْمَةِ النَّاسِ، وأَقَمْنَا حتَّى أصْبَحْنَا نَحْنُ، ثُمَّ دَفَعْنَا بدَفْعِهِ، فَلَأَنْ أكُونَ اسْتَأْذَنْتُ رَسولَ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كما اسْتَأْذَنَتْ سَوْدَةُ، أحَبُّ إلَيَّ مِن مَفْرُوحٍ بهِ (رواه البخارى عن عائشة)

Kami turun di Muzdalifah. Saudah meminta izin kepada Nabi shallahu’alaihi wasallam untuk bertolak (menuju Mina) sebelum padatnya manusia. Dia itu seorang wanita yang sudah lambat. Nabi mengizinkannya. Dia lalu bertolak sebelum padatnya manusia. Adapun kami menetap hingga pagi hari. Kami baru bertolak ketika beliau shallahu’alaihi wasallam bertolak. )Ketika melihat penuh sesaknya manusia) Jika saya meminta izin sebagaimana Saudah tentu lebih saya sukai dibandingkan bergembiranya dia dari berbagai sisi manapun (HR. Bukhari dari Aisyah)
Selanjutnya ke Mina. Begitu sampai langsung bersegera melempar jumroh ‘Aqobah terlebih dahulu dengan tujuh kerikil sebelum melakukan apapun. Setiap lontaran kerikil dibarengi dengan bacaan takbir. Berikutnya menyembelih hadyu lalu mencukur atau memendekkan rambut. Tetapi, mencukur lebih utama. Bagi wanita, memendekkan seluruh ujung rambutnya seukuran satu ruas jari. Dengan rangkaian ibadah ini berarti sudah TAHALLUL AWAL di mana perkara yang dilarang selama ihram telah diperbolehkan kecuali jima’.
MARI KITA BERHENTI SEJENAK UNTUK PENEGASAN MATERI !! Coba perhatikan ibadah apa saja yang dilakukan oleh jamaah haji pada tanggal 10 Dzulhijjah?
a. Melontar jumroh ‘Aqobah
b. Menyembelih hadyu
c. Mencukur atau memendekkan rambut
d. Thowaf
e. Sa’i
Demikianlah lima ibadah ini dilakukan secara berurutan. Tetapi jika tidak berurutan tidaklah mengapa. Ini kemudahan dari Allah ta’ala untuk para hamba-Nya. Misalnya:

#dari Muzdalifah ->ke Mekkah untuk thowaf dan sa’i -> lalu ke Mina untuk lontar jumrah. Ini tidak mengapa.

#dari Muzdalifah -> melontar jumroh -> mencukur -> menyembelih -> thowaf dan sa’i tidaklah mengapa.

#Dari Muzdalifah -> melontar jumroh -> menyembelih -> mencukur -> thowaf dan sa’i juga tidak mengapa.

Dari antara yang lima ini mana saja dilakukan terlebih dahulu tidaklah mengapa. Disebutkan di dalam Hadits,

النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَخْطُبُ يَومَ النَّحْرِ، فَقَامَ إلَيْهِ رَجُلٌ فَقَالَ: كُنْتُ أحْسِبُ أنَّ كَذَا قَبْلَ كَذَا، ثُمَّ قَامَ آخَرُ فَقَالَ: كُنْتُ أحْسِبُ أنَّ كَذَا قَبْلَ كَذَا، حَلَقْتُ قَبْلَ أنْ أنْحَرَ، نَحَرْتُ قَبْلَ أنْ أرْمِيَ، وأَشْبَاهَ ذلكَ، فَقَالَ النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: افْعَلْ ولَا حَرَجَ، لهنَّ كُلِّهِنَّ، فَما سُئِلَ يَومَئذٍ عن شيءٍ إلَّا قَالَ: افْعَلْ ولَا حَرَجَ (رواه البخارى ومسلم عن عبد الله بن عمرو)

Nabi shallahu’alaihi wasallam berkhutbah pada hari Nahr. Ada seseorang yang mendekati beliau dan bertanya: “Saya kira ini harus dilakukan sebelum ini”. Ada yang berdiri lagi dan berkata: Saya kira ini harus dilakukan sebelum ini”. “Saya telah cukur sebelum menyembelih”. “Saya telah meyembelih sebelum melontar” dan perkataan-perkataan lainnya. Beliau shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Lakukanlah keseluruhannya (mulai dari yang mana saja) tidak mengapa”. Tidaklah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya lagi melainkan pasti bersabda: “Lakukanlah tidak mengapa(HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah Ibnu Amr)
Rangkaian ibadah berikutnya adalah mabit di Mina di malam 11 dan 12. Bagi yang ingin melanjutkan hingga malam ke-13, maka itu lebih utama. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَاذْكُرُواْ اللّهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ فَمَن تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَن تَأَخَّرَ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ [البقرة:203]

“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. Barangsiapa yang ingin segera berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya, bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya” (QS. Al-Baqoroh: 203)

Judul buku : PANDUAN PRAKTIS HAJI & UMROH Dilengkapi 40 permasalahan penting

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>