mayat – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Thu, 31 Jul 2025 06:46:41 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png mayat – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 Oh..Kematian?! (Himpitan Kubur Bag. 5) https://nidaulfithrah.com/oh-kematian-himpitan-kubur-bag-5/ Mon, 23 Dec 2024 07:03:51 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19415 F. Himpitan Kubur
Pertama : Himpitan kubur itu benar adanya.
Himpitan kubur adalah awal perkara yang dijumpai mayat di alam barzah. Banyak nash-nash shorih dan shohih dari Nabi shallahu ‘alaihi wasallam tentangnya. Diantaranya:
a. Dalil pertama:

عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال :إِنَّ لِلْقَبْرِ ضَغْطَةً وَلَوْ كَانَ أَحَدٌ نَاجِيًا مِنْهَا نَجَا مِنْهَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ )رواه أحمد (6/55 ،98) ، قال العراقي في “ تخريج الإحياء “ (5/259) : إسناده جيد . وقال الذهبي في “ السير “ (1/291) : إسناده قوي . وقال الألباني في “ السلسلة الصحيحة “ (1695) : “ وجملة القول أن الحديث بمجموع طرقه وشواهده صحيح بلا ريب “ انتهى. وصححه محققو مسند أحمد في طبعة مؤسسة الرسالة (40/327)

“Dari ‘Aisyah radhiallahu’anha bahwa Nabi shallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Pada kubur ada himpitan, kalau ada seseorang yang selamat darinya niscaya Sa’ad bin Mu’ad telah selamat” (HR. Imam Ahmad 6/55. 98).
Al-’Iroqi berkata di dalam “Takhrijul Ihya” 5/259: Isnadnya jayyid. Adz-Dzahabi berkata di dalam “Siyar” 1/291: Isnadnya qowiyy. Al-Albani berkata di dalam “As-Silsilah ash-Shohihah” 165: Seluruh pendapat menyatakan Hadits tersebut dengan seluruh jalannya dan syawahidnya shohih tanpa diragukan [selesai]
b. Dalil kedua

عن ابن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال عن سعد بن معاذ رضي الله عنه حين توفي :هَذَا الَّذِي تَحَرَّكَ لَهُ الْعَرْشُ وَفُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَشَهِدَهُ سَبْعُونَ أَلْفًا مِنْ الْمَلَائِكَةِ لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ فُرِّجَ عَنْهُ ] )رواه النسائي في “ السنن “ (2055) (4/100)[ وسكت عنه ، وبوب عليه بقوله : “ ضمة القبر وضغطته “، وصححه الألباني في “ صحيح النسائي “

Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang Sa’ad bin Mu’adz radhiallahu’anhu ketika wafatnya: “Ini orang yang ‘Arsy berguncang karenanya, pintu-pintu langit dibuka untuknya, dan telah dipersaksikan tujuh puluh ribu Malaikat, tapi masih mengalami himpitan kubur yang kemudian dilapangkan baginya(HR. An-Nasa’i di dalam “As-Sunan” 2055, 4/100) , dia tidak berkomentar tentangnya, dan menyebutkan di dalam penyusunan bab-babnya dengan “Bab Himpitan Qubur”. Di-shahih-kan oleh Al-Albani di dalam “Shohih An-Nasa’i
c. Dalil ketiga

عن أبي أيوب رضي الله عنه : أن صبيًا دُفنَ ، فقالَ صلى الله عليه وسلم :لَوْ أَفْلَتَ أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ القَبْرِ لَأَفْلَتَ هَذَا الصَبِيُّ ).رواه الطبراني “ المعجم الكبير “ (4/121) وصحح الحافظ ابن حجر نحوه في “ المطالب العالية “ (13/44)، وصححه الهيثمي في “ مجمع الزوائد “ (3/47) ، والألباني في “ السلسلة الصحيحة “ (رقم/2164)

Dari Abu Ayyub radhiallahua’hu bahwa ada bayi dimakamkan. Nabi shallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jika ada orang yang selamat dari himpitan kubur niscaya bayi ini selamat(HR Ath-Thobroni di dalam “al-Mu’jam al-Kabir” 4/121). Al-Hafizh Ibnu Hajar men-shahih-kannya di dalam “al-Matholib al-‘aliyah” 13/44. Al-Haitsami men-shahih-kannya di dalam “Majma’ az-Zawaid 3/47 dan Al-Albani di dalam “As-Silsilah ash-Shohihah” no. 2164.
Al-Qurthubi menyebutkan di dalam “At-Tadzkiroh fi Ahwaali-l-Mawta wa Umuri-l- Akhiroh” Hal. 323 pada Bab “Himpitan Kubur pada penghuninya meskipun Orang Sholeh”. Juga pada nash-nash lain dalam tema yang sama tetapi kebanyakannya dho’if dan munkar. Sebagaimana Ibnu-l-Ajur mengeluarkan di dalam “Al-Mawdhu’at” 3/231 sebagian besarnya dengan judul HIMPITAN KUBUR. Yang kami sebutkan dari Hadits-Hadits shohih sudah mencukupi. In sya-a Allah.
Kedua : Apakah orang mukmin mengalami himpitan kubur?
Ahli ilmu berbeda pendapat berkenanaan dengan seorang mukmin. Apakah ia mengalami himpitan kubur? Dan, bagaimanakah keadaannya? Ada dua pendapat:
Pendapat pertama: Himpitan kubur menimpa setiap mukmin dan dirasakan berat baginya. Namun, bagi orang mukmin yang sholeh cepat terbebas darinya dan dilapangkan kuburnya. Adzab ini tidak berkepanjangan baginya. Adapun orang fasik himpitan sangat dahsyat dirasakannya. Menyempitnya lahat memakan waktu yang lama sesuai dosa dan maksiatnya.
Abu-l-Qosim as-Sa’di rahimahullah berkata: Tidak akan selamat dari himpitan kubur orang tholih juga orang sholihnya. Bedanya antara muslim dan kafir adalah orang kafir terus-menerus, sementara orang muslim mengalaminya hanya ketika awal diturunkan ke liang lahat kemudian kembali mendapatkan kelapangan [selesai].
Al-Hakim at-Tirmidzi rahimahullah berkata: Himpitan ini disebabkan tidak lain setiap orang itu berbuat dosa, maka himpitan akan dirasakannya sebagai balasannya lalu dia akan merasakan rahmat [selesai]. Dinukil dari “Hasyiah as-Suyuthi ‘ala “Sunan an-Nasa’i” 3/292. Ar-Romli menukilnya di dalam “Fatawa” nya 4/210.
Pendapat kedua: Orang mukmin yang shalih juga mengalami himpitan kubur, tetapi ia himpitan sayang dan kelembutan. Tidak terdapat padanya sakit dan penderitaan. Adapun orang muslim yang bermaksiat, himpitan keras kemurkaan sangat dirasakan sesuai banyaknya dosa dan buruknya amalan mereka.
Dari Muhammad At-Taimiy rahimahullah, ia berkata: Dikatakan, Sesungguhnya himpitan kubur sejatinya ia itu ibu mereka. Darinya mereka diciptakan. Mereka telah raib dalam waktu yang lama. Ketika kembali ke sang Ibu, maka ia mendekapnya dengan dekapan kasih sayang, dekapan kerinduan terhadap anak-anaknya yang menghilang lalu datang kembali. Barangsiapa di antara mereka yang taat kepada Allah ta’ala maka akan didekapnya dengan kelembutan. Barangsiapa bermaksiat kepada Allah ta’ala maka akan didekapnya dengan dekapan kemurkaan (Imam As-Suyuthi menyebutkannya di dalam Hasyiah atas “Sunan An-Nasa’i 3/292 dari riwayat Ibnu Abi-d-Dunya. Dia menyebutnya di dalam “Busyro-l-Kaib bi liqoo-i-l- Habib”, Hal. 5 Bab: “Dzikru Takhfifi dhimmati-l-qobr ‘ala-l-mu’min”)
Ada Hadits marfu’ yang meriwayatkan secara makna dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, dia berkata:

يا رسول الله إنك منذ حدثتني بصوت منكر ونكير وضغطة القبر ليس ينفعني شيء ؟ قال: “يا عائشة إن أصوات منكر في أسماع المؤمنين كالإثمد في العين ، وإن ضغطة القبر على المؤمن كالأم الشفيقة يشكو إليها ابنها الصداع فتغمز رأسه غمزا رفيقا ، ولكن يا عائشة ويل للشاكين في الله كيف يُضغطون في قبورهم كضغطة البيضة على الصخرة ](رواه البيهقي في “ إثبات عذاب القبر “ (ص/85، رقم/116)[، والديلمي في “ مسند الفردوس “ (رقم/3776)، وفي سنده الحسن بن أبي جعفر وعلي بن زيد بن جدعان ضعيفان . فهو حديث ضعيف . وقد عزاه بعضهم لابن منده وابن النجار ولم أقف عليه

Ya Rasulullah! Sesungguhnya sejak hari Engkau memberitahuku tentang suara Munkar dan Nakir dan himpitan kubur, saya belum paham. Beliau bersabda: Ya ‘Aisyah! Sesungguhnya Munkar dan Nakir pada pendengaran orang mukmin itu seperti itsmid pada mata. Adapun himpitan kubur pada mukmin itu seperti Ibu yang anak mengeluhkan sakit kepala kepadanya, ia pun menganggukkan kepala dengan lembut. Wahai ‘Aisyah! Celakalah orang-orang yang ragu-ragu akan Tuhannya betapa mereka akan dihimpit oleh kubur seperti telor yang ditekan di atas batu (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di dalam “Itsbat ‘adzabi-l-qobr” (Hal. 85, No. 116), Ad-Dailami di dalam “Musnad Al-Firdaus” no. 3776, di dalam sanad-nya terdapat al-Hasan bin Abi Ja’far dan ‘Ali bin Zaid bin Jad’an. Keduanya lemah. Ini Hadits dho’if. Sebagian mereka menisbatkannya kepada Ibnu Mandah dan Ibnu an-Najjar
Al-Hafizh Adz-Dzahabi rahimahullah berkata: “Himpitan ini bukan adzab kubur. Tetapi, ia adalah perkara yang seorang mukmin menjumpainya sebagaimana sakit atas kehilangan anak dan teman karibnya di dunia. Sakit dari suatu penyakit. Sakit ketika terlepasnya ruh. Sakit karena keberadanya di kubur dan adanya ujian yang dihadapinya. Sakit akibat pengaruh dari tangisan keluarganya. Sakit ketika bangkit dari kuburnya. Sakit dari berdiri (di mahsyar, Pent.) dan kengerian yang mencekam. Sakit ketika mendatangi Neraka dan semacamnya. Kegoncangan-kegoncangan ini semua orang mendapatinya. Ia bukan adzab kubur. Juga bukan bagian dari adzab Jahannam. Tetapi seorang hamba menjumpainya pada sebagiannya atau keseluruhannya dengan kelembutan dari Allah ta’ala. Tidak ada rehat bagi mukmin hingga bertemu dengan Tuhannya. Allah ta’ala berfirman,

وَأَنذِرْهُمْ يَوْمَ ٱلْحَسْرَةِ

“Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan (QS. Maryam:39)

وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْآزِفَةِ إِذِ الْقُلُوبُ لَدَى الْحَنَاجِرِ كَاظِمِينَ(غافر: 18)

Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari Kiamat yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan (QS. Ghofir: 18)
Kita memohon ampunan dan kelembutan yang tersembunyi kepada Allah ta’ala. Ketika terjadi kegundahan-kegundahan pada diri kita (berkenaan himpitan kubur ini, Pent.), maka ketahuilah Sa’ad bin Mu’adz yang diketahui sebagai ahli Surga, syahid yang tertinggi dan telah meraih kemenangan masih merasakan kengerian, ketakutan,dan rasa sakit!!! Lalu bagaimana dengan kita?! Mintalah keselamatan kepada Tuhan kalian, dan semoga Dia ta’ala mengumpulkan kita bersama golongan Sa’ad bin Mu’adz [selesai]. “Siyar A’lami-n-Nubala” 1/290-292.
Syaikh An-Nafrawi al-Maliki berkata: Himpitan kubur adalah perkara yang pasti terjadi. Meskipun keadaannya berbeda-beda antara satu orang dengan yang lainnya [selesai]. “Al-Fawakih ad-Dawani” 2/688.
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata: Hadits ini, yaitu tentang dihimpitnya Sa’ad bin Mu’adz dalam kubur adalah masyhur di kalangan para ulama. Seandainya Hadits itu shahih, maka himpitan kubur bagi mukmin adalah himpitan rahmat dan kelembutan seperti seorang Ibu yang memeluk anaknya ke dadanya. Adapun bagi orang kafir, maka ia merupakan himpitan siksa. Wa-l-‘iyaadzu billah. Nabi shallahu ‘alaihi wasallam memberitahukan bahwa manusia ketika dikuburkan datanglah dua Malaikat yang akan bertanya tentang tiga perkara: Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Dan siapa Nabimu? Orang mukmin akan menjawab: Tuhanku Allah, agamaku Islam dan Nabiku Muhammad. Saya memohon kepada Allah ta’ala semoga menjadikan jawabanku dan jawaban kalian seperti ini. Adapun orang munafik atau murtad – semoga Allah ta’ala melindungi kami dan kalian semua – akan menjawab: Haa… haa.. saya tidak tahu. Saya mendengar orang-orang mengatakannya maka akupun mengatakannya. Lalu, kubur menghimpitnya hingga tulang-tulang rusuknya bersilangan carut-marut. Wa-l-‘iyaadzu billah. Jadi, berbeda antara himpitan kubur bagi kafir atau murtad dengan orang mukmin [selesai dengan ringkasan]. “Liqoo-aa-t Al-Baab al-Mafthuh” No. 161 Soal no. 17.
Zhahirnya – Allahu A’lam – yang rojih dari dua pendapat ini adalah pendapat yang berdasarkan teks sunnah yang menunjukkan demikian. Seorang mukmin saja merasakan himpitan kubur apalagi yang lainnya. Ini menunjukkan dahsyatnya himpitan kubur. Ia dirasakan sakit bagi orang yang dihimpitnya dengan kadar yang berbeda-beda antara satu dan yang lainnya. Masing-masing sesuai amalan dan keadaannya. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahmahullah menyebutkan himpitan kubur sebagai faktor penyebab diampuninya dosa-dosa. Dia rahimahullah berkata: Sebab kedelapan, apa yang terjadi di kubur berupa fitnah, himpitan dan kengeriannya bisa merupakan sebab yang menghapus kesalahan-kesalahan [selesai dari “Majmu’-l- Fatawa” 7/500.
Hadits yang disebutkan di dalam pertanyaan tidak menunjukkan bahwa Sa’ad bin Mu’adz sebagai satu-satunya yang selamat dari himpitan kubur sebagaimana yang dipahami oleh penanya. Tetapi, ia justru merupakan nash bahwa Sa’ad bin Mu’adz radhiallahu’anhu tidak selamat dari himpitan kubur. Jika ada orang yang selamat darinya, niscaya Sa’ad termasuk orang yang selamat di mana dia termasuk seutama-utamanya manusia. Lihatlah “Jawabu-s- Sual” no. 71175. Allahu A’lam.

Judul buku : Oh..Kematian?!

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Mayat non muslim kok jasadnya utuh setelah dimakamkan bertahun-tahun. Bagaimana penjelasannya? https://nidaulfithrah.com/mayat-non-muslim-kok-jasadnya-utuh-setelah-dimakamkan-bertahun-tahun-bagaimana-penjelasannya/ Fri, 25 Oct 2024 06:16:21 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19275 Sumber : (https://islamqa.info/ar/answers/248220/)

Teks Arab

يسأل عن دلالة عدم تحلل الجسد بعد موت أتباع بعض الأديان
السؤال: “اللافسادية” هو اعتقاد رومي كاثوليكي وأرثوذكسي ، ينص على أن التدخل الإلهي يسمح بعدم تعرض بعض الأجساد البشرية ـ وخصوصًا القديسين ـ لعملية التحلل بعد الموت كدليل على قدسية هؤلاء الأشخاص ، وقد سمعت وقرأت أن هناك بعض الحالات المشابهة عند المسلمين الذين لم تتحلل جثثهم بعد الموت ، فما صحة ذلك ؟ وما صحة هذه الظاهرة ؟ وهل يؤمن المسلمون بمثل هذا المعتقد؟
ملخص الجواب: والحاصل : أننا ندعو إلى التعقل والتفكر في ظاهرة عدم تحلل بعض جثث الموتى في مدافنهم، ودراسة الأمر من جميع الجوانب البيولوجية [الأحيائية]، والثيولوجية [دلالتها على الخالق]، فنحن لم نقف في كتب الإسلام على من يعد وقوع ذلك دليلا على صحة مذهب المتوفى أو ديانته ، كما لم نقف على من يستدل بذلك من علماء المسلمين في مجادلته لغير المسلمين ؛ لأنه ليس بدليل في حقيقة الأمر . بخلاف ما يريده القساوسة الذين تكتب عنهم الأبحاث والمواقع المتخصصة ، يستعملون الشمع والمواد الحافظة ، ليظهروا جثث كبارهم على أنها محفوظة مَصُونة بقدرة الرب تعالى ، وكأنها رسالة إلهية تدعو إلى الإيمان بالمسيحية أو اليهودية ، وهذا كله من المبالغات العاطفية ، والتدليسات الكنسية التي لا تنطلي على العقلاء. للمزيد يرجى النظر في الجواب الآتي: (230390)، (109997) . والله أعلم
الجواب: الحمد لله
ظاهرة اللاتحلُّلِيّة التي سألت عنها – وتعني بها عدم تحلل الجثة رغم مرور زمان على موتها – لم ترد في النصوص الإسلامية إلا للرسل والأنبياء فحسب ، وذلك في حديث صحيح عَنْ أَوْسِ بْنِ أَبِي أَوْسٍ رضي الله عنه، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ( مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمُ الْجُمُعَةِ ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ ، وَفِيهِ قُبِضَ ، وَفِيهِ النَّفْخَةُ ، وَفِيهِ الصَّعْقَةُ، فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ فِيهِ، فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ )
فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ ، وَكَيْفَ تُعْرَضُ عَلَيْكَ صَلَاتُنَا وَقَدْ أَرَمْتَ ؟ – يَعْنِي وَقَدْ بَلِيتَ
قَالَ: ( إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ ، صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِمْ) رواه الإمام أحمد في “المسند” (26/84)
ولم يرد في أدلة الكتاب والسنة ما يفسر وقوع هذه الظاهرة لغير الأنبياء، سواء للشهداء، أو العبّاد الصالحين، أو الأولياء، من الصغار والكبار، أو من الذكور والإناث. لا نملك أي نص نبوي يخبرنا عن تفسير هذا الأمر، وبيان حكمته وأمارته ، إن كان علامة لازمة على صلاح صاحبه ، أو يمكن أن يقع لغير الصالحين ، ولم يطلعنا الله عز وجل في كتابه الكريم على سبب صيانة بعض الجثث عن التحلل والفساد دون الأجساد الأخرى
أما الرسل والأنبياء فلا يمكن أن تتحلل أجسادهم الشريفة ؛ لأن الله عز وجل حرم على الأرض أن تصيبهم بشيء من آفات الموت ، ولكن هذا لا يعني أن كل من بقيت جثته على حالها ، أنه مثل الرسل والأنبياء تقى وصلاحا ، ليس هذا بالقياس اللازم، ولا بالدليل المؤكد في الإسلام ، فقد تكون ثمة عوامل طبيعية أدت إلى حفظ الجسد عن الفساد ، وغاية ما هنالك أننا نرجو الله تعالى أن يجعل هذه الظاهرة علامة على الصلاح والقبول عند الله سبحانه ، إذا كان صاحب الجثة من أهل الخير والصلاح
وبه تعلم أن الأمر لا يتجاوز حد الرجاء والدعاء ، فإذا وجدنا في المسلمين من سلمت جثته بعد دفنه سألنا الله تعالى أن يجعلها علامة رحمة وفضل وخير لهذا الميت، ولكننا لم نعتقد ـ ظنا راجحا ولا يقينا جازما ـ أن ذلك دليل على صلاح الميت وتقواه ووقوع مثل هذه الظاهرة لغير المسلمين هو على المنوال نفسه
قد يكون بسبب عوامل طبيعية في الجسد أو التربة أو المكان ، وهذا بحث مهم يمكن أن يجريه العلماء والخبراء، ويتبينوا أسبابه العلمية البحثية ، بدراسة تركيبة التربة ، وأنواع البكتيريا، أو دخول بعض المواد إلى تلك الجثة، كلها أسباب محتملة لصيانتها عن التحلل والتفسخ ، وهذا مبحث مهم ينظر فيه العلماء والباحثون
وقد يكون وهما مدلسا من قبل بعض المتعصبين ، يظهرون الجسد وكأنه محفوظ من التحلل، وحقيقة الأمر أنه متحلل متهالك ومتفسخ ، ولكنه شاخص بسبب بعض الملابس والحشوات ووجوه الشمع التي تظهر الجثة على حال متماسكة ، بغرض إقناع الناس بصحة دين معين أو مذهب كان يتبعه هذا المتوفى ، فالتركيز على الخطاب العاطفي والتدليس ، بعيدا عن العقلانية البحثية، أسلوب معلوم السلوك عند كثير من أتباع الأديان والطوائف ، ولكنه في ختام المطاف يرتد عليهم، ولا يمكن أن يُغَيِّبَ عقول الناس والأتباع إلى الأبد
وقد تكون الجثة فعلا قائمة متماسكة ، ولكن ثمة فرق بين هذا التماسك بالكاد، وبين الجثة الغضة الطرية التي كأنها توفيت الساعة ، الأول ظاهرة كثيرة الوقوع ، يبدو فيها الجسد لم يُنتقص منه شيء، ولكن لمسة واحدة كفيلة بتحويل هذا الجزء الملموس المتماسك إلى فتات ، أما الغضاضة والطراوة، بل وظهور روائح طيبة للجثة، وتفجر الدم منها في بعض الأحيان فياضا، هذا أمر نادر الوقوع ، وهو ما نرجو أن يكون علامة على صلاح صاحبه ، وكرامة من الله جل جلاله له ، إذا اجتمع فيه الإسلام والصلاح . ولكننا أيضا لا نجزم بذلك، ولا نملك أي دليل شرعي يدل عليه، إنما هو طمع بكرم الله لمثل هؤلاء الناس كما سبق بيانه

Terjemahan teks Arab

Pertanyaan: Lafsadiyah adalah keyakinan Romawi Katholik dan Orthodoks disebutkan bahwa campur tangan Tuhan menjadikan sebagian jasad manusia tidak hancur, khususnya “Al-Qodisiyyin” (orang-orang suci) di mana terjadi fenomena luar biasa setelah kematiannya yang menurut mereka sebagai dalil atas kesucian orang-orang tersebut. Saya telah mendengar dan membaca, adanya suatu keadaan yang mirip pada orang-orang Islam yang jasadnya tidak rusak setelah kematiannya. Bagaimanakah kebenaran hal tersebut? Bagaimanakah hakekat yang sesungguhnya? Apakah muslim boleh mempercayai aqidah seperti itu?
Rangkuman jawaban: Kami ajak bersama untuk melakukan penelitian atas fenomena ini yaitu utuhnya sebagian jasad mayat di pemakaman mereka dari berbagai sisi; biologi dan teologi (petunjuk-petunjuk Allah ta’ala). Kami tidak pernah mengatakan di dalam literatur-literatul Islami bahwa orang yang mengalami fenomena demikian sebagai bukti atas benarnya madzhab dan keberagamaan orang tersebut. Sebagaimana kami tidak pernah membenarkan pendapat dari kalangan ulama Islam yang menyatakan hal demikian sebagai dalil (atas kebenaran mereka, Pent.) di dalam mendebat non muslim. Karena ia bukanlah dalil atas suatu hakekat. Apa lagi para pendeta yang disebutkan di dalam pembahasan-pembahasan dan fenomena-fenomena tertentu dengan jasad yang masih utuh. Sesungguhnya hal itu menggunakan lilin dan materi pengawet lainnya. Namun demikian, mereka memperlihatkan jasad-jasad para pembesar mereka yang masih utuh dengan kekuasaan Allah ta’ala seakan-akan hal tersebut adalah risalah ilahiyyah yang mengajak manusia untuk beriman kepada Kristen atau Yahudi. Semua itu adalah kebohongan dan kepalsuan bikinan gereja yang orang berakal tidak akan tertipu dengannnya. Silahkan merujuk ke Jawaban no. 230390 dan 109997. Allahu A’lam.
Jawab: Alhamdulillah. Yang Anda tanyakan mengenai utuhnya jasad mayit meskipun sudah berlalu dalam waktu yang panjang dari kematiannya tidaklah terdapat penjelasan dalam nash Islam kecuali hanya terjadi pada Rasul dan Nabi ‘alaihissalam. Sebagaimana disebutkan di dalam Hadits shahih

عَنْ أَوْسِ بْنِ أَبِي أَوْسٍ رضي الله عنه، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ( مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمُ الْجُمُعَةِ ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ ، وَفِيهِ قُبِضَ ، وَفِيهِ النَّفْخَةُ ، وَفِيهِ الصَّعْقَةُ، فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ فِيهِ، فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ )
فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ ، وَكَيْفَ تُعْرَضُ عَلَيْكَ صَلَاتُنَا وَقَدْ أَرَمْتَ ؟ – يَعْنِي وَقَدْ بَلِيتَ. قَالَ: ( إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ ، صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِمْ) رواه الإمام أحمد في “المسند” (26/84)

Dari Aus bin Abi Aus radhiallahu’anhu, dia berkata: Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya di antara hari-harimu yang paling utama adalah hari Jum’at, pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu beliau wafat, pada hari itu juga ditiup (sangkakala) dan pada hari itu juga mereka pingsan. Maka perbanyaklah shalawat kepadaku -karena- shalawat kalian akan disampaikan kepadaku.” Aus bin Aus berkata; para Sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana mungkin shalawat kami bisa disampaikan kepadamu, sementara engkau telah meninggal? -atau mereka berkata; “Telah hancur (menjadi tulang) “- Beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah ta’ala mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (HR. Imam Ahmad di dalam Al-Musnad 26/84)
Tidak dijumpai di dalam al-Qur’an dan As-Sunnah dalil-dalil yang menjelaskan tentang fenomena tersebut pada selain Nabi baik itu syuhada, orang-orang shaleh maupun para wali dari kalangan anak kecil atau dewasa, lelaki atau perempuan. Kami tidak menjumpai nash Nabawi yang menjelaskan hal yang demikian itu; apa hikmahnya ataupun pertanda apa? Apakah ia tanda atas keshalihan seseorang ataukah terjadi juga pada selainnya? Allah ta’ala tidak menjelaskan kepada kita di dalam Al-Qur’anul Karim tentang sebab Dia Ta’ala menjadikan sebagian jasad mayat utuh tidak rusak tanpa sebagian lainnya.
Adapun para Nabi dan Rasul, jasad mereka yang mulia tidak mungkin rusak. Karena Allah ta’ala mengharamkan bumi untuk menimpakan suatu kerusakan apapun yang disebabkan kematian pada jasad mereka. Ini tidak berarti, setiap mayat yang jasadnya utuh kadar keshalehan dan ketaqwaannya menyerupai para Rasul dan Nabi. Tidak bisa diqiyaskan. Tidak ada dalil dalam Islam yang menegaskan hal demikian itu. Kemungkinan disebabkan oleh faktor-faktor alam yang mengakibatkan terjaganya jasad mayat dari kerusakan. Jika mayat tersebut ahli kebaikan dan keshalehan, kita hanya sekedar berharap kepada Allah ta’ala agar menjadikan fenomena tersebut sebagai tanda atas keshalehan seseorang dan diterimanya di sisi Allah ta’ala. Jadi, Anda sekarang tahu bahwa urusannya sebatas berdoa dan berharap. Jika kita menjumpai pada kalangan kaum muslimin mayat yang jasadnya utuh setelah pemakamannya maka kita meminta kepada Allah Ta’ala semoga itu pertanda rahmat, keutamaan dan kebaikan untuk mayat tersebut. Kita tidak boleh menetapkan dan memastikan hal itu sebagai tanda keshalehan dan ketaqwaan mayat.
Fenomana demikian yang terjadi pada selain kaum muslimin masuk dalam bab yang sama, yaitu: kemungkinan adanya faktor-faktor alam pada sisi jasad atau tanah atau tempat. Ini pembahasan penting yang bisa dilakukan oleh para pakar dan ahli untuk menyingkap faktor-faktornya secara ilmiyah. Bisa dikaji pada beberapa sisi, misal; kandungan tanahnya, jenis bakteri atau pengaruh materi lain yang mengkontaminasi jasad tersebut. Ini ranah pembahasan mereka para ahli dan para pakar.
Bisa jadi, yang sesungguhnya adalah tipuan yang dibikin-bikin oleh mereka yang fanatik. Mereka memperlihatkan jasad seakan-akan utuh terjaga dari kerusakan. Padahal sejatinya sudah rusak. Tetapi pakaiannya ditampilkan sedemikian rupa dan dengan design lilin yang memperlihatkan keutuhan jasadnya sejak awal meninggalnya. Ini mereka lakukan dengan tujuan untuk meyakinkan manusia akan kebenaran agamanya atau madzhabnya. Mereka terus melakukan propaganda dan penipuan. Ini, jauh dari ilmiyyah dan tidak bisa diterima akal. Model dan narasi seperti ini biasa dilakukan oleh mereka meskipun pada akhirnya para pengikutnya lari darinya karena memang tidak sesuai dengan akal sehat selama-lamanya.
Memang jasad terlihat utuh sebagaimana kondisi awal ketika meninggal. Namun, terdapat perbedaan antara yang utuh dengan tipuan (tidak asli) dan yang utuh asli tanpa ada polesan apapun sejak awal wafatnya. Yang pertama, Sering terjadi. Ia terlihat tidak berkurang suatu apapun. Jadi, keadaannya benar-benar mulus sekujur tubuh karena diolesi dengan suatu zat atau materi tertentu sampai pada suatu waktu tertentu. Adapun yang kedua, tanpa sentuhan polesan apapun bahkan tercium aroma harum pada jasadnya meskipun darah tampak masih mengalir dan menggenang pada beberapa bagian jasadnya. Fenomena semacam ini jarang terjadi. Inilah yang kita berharap bahwa ia sebagai tanda atas keshalehan pemilik jasad tersebut dan karomah dari Allah ta’ala. Tetapi kita tidak boleh memastikan yang demikian itu karena tidak ada dalil syar’i tentangnya melainkan sebatas harapan besar untuk kaum muslimin yang mengalami fenonema seperti itu.

Judul buku : Terkadang Ditanyakan 22

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>