#Manhaj – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Wed, 15 Feb 2023 02:27:59 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png #Manhaj – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 TIDAK TAKUTKAH KALIAN PADA BID’AH? https://nidaulfithrah.com/tidak-takutkah-kalian-pada-bidah/ https://nidaulfithrah.com/tidak-takutkah-kalian-pada-bidah/#comments Mon, 01 Aug 2022 00:37:06 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=15796 “Jauhilah oleh kalian perkara yang di ada-adakan (dalam agama). Sesungguhnya perkara yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah. Da setiap bid’ah itu adalah kesesatan” (HR. Abu Daud)

STANDAR DI DALAM BERAGAMA: adalah apa yang Para Sahabat ambil dari Nabi sebagai pemahaman dan amaliyah. Kemudian diriwayatkan oleh para ulama dan dibukukan oleh para ulama Hadits dan Atsar (SANAD).

“… Barangsiapa diantara kalian yang hidup sepeninggalku nanti niscaya akan melihat perselisihan yang banyak, maka kalian wajiba berpegang teguh dengan sunnahku (ajaranku) dan sunnah (ajaran) para khalifah yang telah mendapatkan petunjuk. Gigitlah sunnah (ajaran) tersebut dengan gigi geraham” (HR. Abu Daud)

“… Umar radhiyallahu ‘anhu berkhutbah di hadapan manusia, dia berkata: Wahai manusia! Telah disunnahkan untuk kalian perkara-perkara yang sunnah dan telah diwajibkan untuk kalian perkara-perkara yang wajib, kalian ditinggalkan di atas (ajaran) yang jelas, Kecuali kalau kalian hendak sesat bersama manusia dengan condong ke kanan dan condong ke kiri” (Al-Muwatho- Riwayat Yahya Al- Laitsi)

“Dari Qotadah, dia berkata: Hudzaifah bin Al-Yaman berkata: Ikutilah (jejak kami) janganlah berbuat bid’ah. Ikutilah jejak kami karena kalian telah didahului oleh masa yang jauh. Jika kalian berbuat kesesatan maka kalian telah tersesat dengan kesasatan yang jauh” (Al-Ibanah Al-Kubro li Ibni Bathoh)

“Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Tidaklah datang kepada manusia suatu masa melainkan mereka membuat-buat bid’ah di dalamnya dan mematikan sunnah (ajaran Nabi) di dalamnya. Akhirnya hiduplah bid’ah dan matilah sunnah” (Al-Muwatho- Riwayat Yahya Al-Laitsi)

PEMAHAMAN DAN RITUAL IBADAH YANG ADA PADA ZAMAN NABI DAN PARA SAHABATNYA ITULAH YANG HARUS ADA DI ZAMAN SEKARANG. APA YANG TIDAK ADA PADA MEREKA, JANGANLAH KITA MENGADAADAKAN

Judul buku : 30 Materi Kultum

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
https://nidaulfithrah.com/tidak-takutkah-kalian-pada-bidah/feed/ 1
Benarkah Kita Tidak Konsisten dengan Manhaj Salaf? https://nidaulfithrah.com/benarkah-kita-tidak-konsisten-dengan-manhaj-salaf/ https://nidaulfithrah.com/benarkah-kita-tidak-konsisten-dengan-manhaj-salaf/#respond Fri, 24 Dec 2021 23:11:51 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=12949 Ada syubhat begini, bahwa kita tidak konsisten dengan manhaj salaf. Buktinya adalah menjadikan Al-Hafizh Ibnu Hajar, Al-Hafizh Imam An-Nawawi sebagai rujukan dalam mengambil ilmu. Bukankah keduanya itu beraqidah asy-ariyyah?

Untuk menjawab syubhat ini, saya nukilkan pertanyaan dan jawaban dari situs islamqa. InsyaAllah, sudah cukup sebagai jawaban.

Pertanyaan:

Salah satu ulama umat Islam di Madinah di mana saya bertempat tinggal berkata: “Bahwa Imam Ibnu Hajar dan Imam Nawawi adalah pelaku bid’ah, ia menyebutkan beberapa dalil dari “Fathul Baari” untuk menguatkan pendapatnya tersebut. Ia juga memberikan contoh dari pendapatnya tersebut dari syarahnya Imam Ibnu Hajar, bahwa maksud dari “Wajhullah” adalah rahmat-Nya. Bagaimanakah pendapat Anda ?

Jawaban:

Alhamdulillah. Ahlus sunnah pendapatnya objektif dalam menghukumi seseorang. Tidak mengangkat seseorang di atas kapasitasnya dan tidak pula mengurangi apa yang menjadi miliknya. Dan di antara bentuk berimbang dalam menjelaskan tentang seseorang adalah menjelaskan pula beberapa kesalahan para ulama, dan orang yang menta’wil ilmunya, dan tetap mendoakan agar mereka mendapatkan rahmat Allah. Termasuk juga di antara bentuk informasi berimbang adalah mengajak untuk berhati-hati akan kesalahannya, sehingga seseorang tidak terkesima dengan kedudukannya, dan mungkin mengikuti kesalahannya. Ahlus sunnah tidak terburu-buru menghukumi seseorang yang menyelisihi sunnah dengan sengaja, yaitu; sebagai pelaku bid’ah dan sesat.

Ada beberapa orang di masa kita ini yang menuduh kedua Imam Ibnu Hajar dan Imam Nawawi, dan mengatakan bahwa mereka adalah ahli bid’ah dan sesat. Dan bahkan sebagian mereka sampai pada derajat bodoh dengan mengatakan wajib hukumnya untuk membakar kedua kitab “Fathul Baari” dan “Syarah Muslim”.

Namun juga bukan berarti mereka berdua tidak memiliki kesalahan dalam masalah agama, khususnya dalam masalah asma’ wa shifat (Nama-nama dan Sifat-sifat Allah). Ulama kita sudah memberikan catatan, menjelaskannya, pada saat yang sama mereka juga mengharapkan mereka berdua mendapatkan rahmat dari Allah, memuji keduanya sesuai dengan derajatnya, mendo’akan kebaikan bagi mereka berdua, dan menganjurkan untuk mengambil manfaat dari kitab-kitab mereka berdua. Inilah sikap berimbang atau menyampaikan apa adanya yang sangat masyhur dalam Ahlus sunnah wal jama’ah. Sungguh sangat berbeda dengan sikap orang-orang yang membid’ahkan keduanya, menyesatkannya, bahkan menyatakan agar kitab-kitab mereka berdua dibakar. Juga sangat berbeda dengan sikap orang-orang yang mengambil pendapat keduanya seperti halnya wahyu (yang tidak pernah salah), dan menjadikan apa yang menjadi keyakinan keduanya adalah kebenaran yang tidak diragukan lagi.

Kami akan menyebutkan beberapa pendapat ulama kita, agar seorang muslim bersikap berimbang dalam menilai, mengetahui, menghukumi dengan adil kepada kedua imam tersebut:

a. Ulama Lajnah Daimah pernah ditanya:

Bagaimanakah sikap kita terhadap beberapa ulama yang mentakwil sifat-sifat Allah, seperti: Ibnu Hajar, Imam Nawawi, Ibnul Jauzi, dan lain sebagainya. Apakah kita tetap menganggap mereka termasuk para Imam ahlus sunnah wal jama’ah atau bagaimana?, apakah kita berkata: Mereka melakukan kesalahan dengan takwil mereka, atau mereka sesat ?

Mereka menjawab:

“Sikap kita terhadap Abu Bakar al Baqillani, al Baihaqi, Abu al Farj Ibnul Jauzi, Abu Zakariya an Nawawi, Ibnu Hajar dan ulama yang serupa dengan mereka yang mentakwil sebagian sifat-sifat Allah atau menyerahkan sepenuhnya (tafwidh) kepada Allah tentang hakekat makna sifat-sifat tersebut. Menurut hemat kami mereka semua termasuk para ulama kaum muslimin yang ilmunya bermanfaat bagi umat, semoga Allah merahmati mereka semua dengan rahmat yang luas dan jazahumullah khoiral jazaa’. Mereka masih tergolong Ahlus sunnah dalam masalah-masalah yang sesuai dengan para Sahabat –radhiyallahu ‘anhum– dan para ulama salaf pada tiga abad pertama yang mendapatkan persaksian baik dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– . Kesalahan mereka adalah kerena mentakwil nash yang menjelaskan tentang sifat-sifat Allah. Baik yang terkait dengan sifat-sifat dzatiyah, ataupun sifat perbuatan atau sebagiannya.Hal ini bertengan dengan ulama salaf dan para imam  sunnah –rahimahumullah-. Petunjuk yang benar hanya milik Allah. Semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam

(Syekh Abdul Aziz bin Baaz, Syekh Abdur Razzaq al ‘Afifi, Syekh Abdullah bin Qu’ud)

(Fatawa Lajnah Daimah: 3/241)

b. Syaikh Muhammad bin Shaleh al ‘Utsaimin –rahimahullah– ditanya:

Berkaitan dengan ulama yang memiliki beberapa kesalahan dalam aqidah, seperti: masalah nama-nama dan sifat-sifat Allah dan lain-lain. Nama-nama mereka tidak asing lagi bagi kami, apalagi ketika kami kuliah dahulu. Pertanyaannya adalah apa hukumnya mendoakan mereka dengan ucapan: “Semoga Allah merahmati mereka semua”?

Syaikh bertanya balik: “Seperti siapa ?“

Penanya          : “Seperti Zamakhsyari, Zarkasyi dan lain-lain..”

Syaikh               : “Zarkasyi dalam masalah apa ? “

Penanya          : “Dalam masalah Nama-nama dan sifat-sifat Allah”.

Beliau menjawab:

“Yang jelas di sana ada beberapa orang yang menisbatkan dirinya kepada kelompok tertentu dengan membawa bendera bid’ah, seperti Mu’tazilah yang termasuk di dalamnya adalah Zamakhsyari, ia seorang mu’tazilah. Ia menamakan orang-orang yang menetapkan sifat-sifat bagi Allah sebagai Hasyawiyah (tidak bisa dipercaya) atau Mujassimah (berbentuk), dan menyesatkan mereka. Oleh karenanya bagi siapa saja yang membaca bukunya “al Kasysyaf” dalam mentafsiri al Qur’an agar berhati-hati dengan pendapatnya terkait sifat-sifat Allah. Namun kitab tafsir tersebut dari sisi balaghah adalah baik, banyak memberikan manfaat, tentu saja berbahaya bagi siapa saja yang belum mengetahui tentang masalah Nama-nama dan Sifat-sifat Allah.

Akan tetapi di sana ada beberapa ulama yang terkenal baik, dan tidak termasuk dalam kelompok ahlul bid’ah, namun dalam pendapat mereka ada beberapa yang mengandung bid’ah, seperti Ibnu Hajar al Asqalani dan An Nawawi –rahimahumallah -. Sebagian orang-orang yang tidak mengerti menuduh mereka berdua sembarangan, bahkan dikatakan kepada saya: “Sungguh sebagian orang berkata: Diwajibkan untuk membakar kitab “Fathul Baari” ; karena Ibnu Hajar adalah termasuk ‘Asy’ariyyah, hal ini tidak benar; karena kedua ulama tersebut saya tidak pernah mengetahui pada masa sekarang ada seseorang yang mampu mempersembahkan sebuah karya terbaiknya kepada Islam dalam masalah Hadits seperti karya mereka berdua. Hal itu menunjukkan kepada Anda bahwa Allah –Subhanahu wa Ta’ala– dengan daya dan kekuatan-Nya -saya tidak mendahului kehenak Allah- bahwa Dia telah menerimanya. Hampir semua hasil karya mereka berdua dapat diterima oleh semua pihak, baik yang terpelajar, bahkan sampai masyarakat umum. Kitab “Riyadhus Shalihin” misalnya ia dibaca pada setiap majelis, dan pada setiap masjid, mampu memberikan manfaat kepada banyak kalangan. Saya berharap bahwa Allah akan menjadikan salah satu buku saya seperti kitab “Riyadhus Shalihin”, semua orang akan mendapatkan manfaat di rumahnya, di masjidnya.

Jadi, bagaimana mungkin kedua ulama tersebut dikatakan bahwa mereka ahli bid’ah dan sesat, tidak boleh didoakan dengan rahmat Allah, dan buku-bukunya tidak boleh dibaca, Fathul Baari dan Syarah Muslim wajib dibakar ?!!. Subhanallah, maka saya katakan kepada mereka baik dengan bahasa lisan maupun perbuatan:

أَقِلُّوا عليهمُ لا أبا لأبيكمُ مِن اللومِ أو سدوا المكان الذي سدوا

“Persedikit dalam menilai mereka –demi Allah-  dari celaan, atau tutuplah tempat itu  yang telah menutup”.

Siapa yang mampu mempersembahkan karya terbaiknya untuk Islam sebagaimana yang mereka persembahkan ?!… Kecuali jika Allah berkehendak. Maka saya berkata: Semoga Allah mengampuni Imam Nawawi, Ibnu Hajar al Asqalani, dan siapa saja yang mirip dengan mereka berdua, yang telah Allah jadikan mereka bermanfaat bagi Islam dan kaum muslimin. Semuanya hendaknya mengamininya. (Liqaat Bab Maftuh: 43/soal nomor: 9)

c. Syekh Shaleh bin Fauzan al Fauzan –hafidzahullah-

Muncul perbedaan di antara penuntut ilmu syar’i tentang definisi pelaku bid’ah:

Sebagian mereka berkata: ia adalah orang yang berkata atau berbuat bid’ah, meskipun belum di cek kebenarannya. Sebagian yang lain berkata: harus di cek kebenarannya. Sebagian yang lain membedakan antara perkataan seorang alim dan mujtahid dan lainnya yang mencetuskan dasar-dasar yang berlawanan dengan manhaj Ahlusunnah jama’ah. Bahkan sebagian mereka membid’ahkan Ibnu Hajar dan An Nawawi dan tidak boleh (mendo’akan) mereka agar mendapatkan rahmat Allah? 

Beliau menjawab: 

Pertama:

“Tidak selayaknya bagi para santri pemula atau yang lainnya menyibukkan diri untuk membid’ahkan seseorang atau menganggapnya fasiq; karena masalah tersebut sangat berbahaya dan sensitif, sedang mereka belum memiliki pengetahuan yang cukup dalam masalah tersebut. Yang demikian itu juga akan melahirkan kebencian dan permusuhan. Kewajiban mereka yang sesungguhnya adalah menuntut ilmu dan menahan lisan mereka dari hal-hal yang tidak bermanfaat. 

Kedua:

Bid’ah itu adalah mendatangkan suatu hal yang baru dalam agama dan dari dahulu tidak pernah termasuk bagian darinya, berdasarkan hadits Rasulullah –shallallahu ‘alaihi was sallam- :

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد (رواه البخاري)

“Barang siapa yang mendatangkan sesuatu yang baru dalam urusan kami, yang sebelumnya bukan termasuk darinya, maka akan tertolak”. (HR. Bukhori)

Apabila seseorang melakukan kesalahan atau menyimpang atas dasar ketidaktahuan, maka ia dimaafkan karena ketidaktahuannya dan tidak dihukumi sebagai pelaku bid’ah,

namun apa yang dilakukannya termasuk bid’ah.

Ketiga:

Barangsiapa yang memiliki kesalahan dalam masalah ijtihadiyah, yang telah melakukan takwil, seperti Ibnu Hajar, Nawawi terhadap beberapa sifat Allah, maka mereka tidak dihukumi sebagai pelaku bid’ah. Namun harus dijelaskan bahwa inilah kesalahan  mereka, dan diharapkan untuk mereka semoga mendapat ampunan dengan besarnya perhatian mereka terhadap sunnah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, Mereka berdua adalah Imam yang mulia, dipercaya oleh para ulama. (Al Mauntaqa min Fatawa Fauzan: 2/211-212).

d. Syekh Muhammad Nashiruddin al Al Baani –rahimahullah-:

Imam Nawawi, Ibnu Hajar dan lainnya yang serupa dengan mereka berdua adalah sebuah kedzaliman jika mereka di sebut sebagai ahli bid’ah. Saya mengetahui bahwa kedua ulama tersebut dari ‘Asy’ariyyah. Namun keduanya tidak bermaksud untuk menyelisihi al Qur’an dan Sunnah, akan tetapi mereka ragu-ragu dan mengira bahwa aqidah ‘Asy’ariyyah itulah yang diwarisakan. Mereka mengira dari dua sisi:

Pertama: Bahwa Imam Asy’ari juga berpendapat demikian, memang pada masa lalu, tetapi kemudian beliau pada akhirnya kembali (ke jalan yang benar).

Kedua: Mereka mengira bahwa pendapat itulah yang benar, padahal tidak.

(Dari kaset nomor 666, dengan tema: “Man Huwa al Kafir wa Man Mubtadi’)

Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat-Nya kepada kedua Imam tersebut. Semoga Allah mengampuni kesalahan mereka berdua. Wallahu a’lam.

Judul buku : Catatan Singkat tentang “MENGENAL ALLAH ‘AZZA WA JALLA”

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc.Hafizhahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
https://nidaulfithrah.com/benarkah-kita-tidak-konsisten-dengan-manhaj-salaf/feed/ 0
Aqidah Asy’ariyyah Telah Ditaubati Oleh Perumusnya https://nidaulfithrah.com/aqidah-asyariyyah-telah-ditaubati-oleh-perumusnya/ https://nidaulfithrah.com/aqidah-asyariyyah-telah-ditaubati-oleh-perumusnya/#respond Fri, 24 Dec 2021 23:01:43 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=12946 Al-Imam Abu-l- Hasan Al-Asy’ari (260 – 324 H), beliaulah yang merumuskan aqidah asy’ariyyah. Beliau sendiri telah meninggalkan rumusan tersebut dan mentaubatinya. Tetapi banyak kaum muslimin yang tetap mendasarkan aqidahnya kepada rumusan beliau. Berikut ini pernyataan Ibnu Katsir ( 701 – 776 H ), penulis kitab Tafsir yang sangat masyhur yang juga memiliki sebuah karya tulis terkait biografi beberapa ulama Syafi’iyyah yang berjudul “Thabaqaat asy-Syafi’iyyah”  Beliau menulis tentang perjalanan beliau:

ذكروا للشيخ أبي الحسن الأشعري، رحمه الله، ثلاثة أحوال،

أولها : حال الاعتزال، التي رجع عنها لا محالة،

والحال الثاني : إثبات الصفات العقلية السبعة، وهي :الحياة، والعلم، والقدرة، والإرادة، والسمع، والبصر، والكلام، وتأويل الجبرية كالوجه، واليدين، والقدم، والساق، ونحو ذلك،

والحال الثالثة : إثبات ذلك كله من غير تكييف، ولا تشبيه، جريا على منوال السلف، وهي طريقته في الإبانة التي صنفها آخرا، وشرحه القاضي الباقلاني، ونقلها أبو القاسم ابن عساكر، وهي التي مال إليها الباقلاني، وإمام الحرمين، وغيرهما من أئمة الأصحاب المتقدمين، في أواخر أقوالهم، والله أعلم.

 Para ulama menyebutkan : “Asy-Syaikh Abul Hasan Al-Asy’ari memiliki 3 fase keadaan dirinya sebagai berikut :

1. Fase berkecimpung dalam Mu’tazilah yang kemudian beliau sudah rujuk secara total.

2. menetapkan sifat Aqliyyah yang tujuh, yaitu : Hayyat, Ilmu, Qudroh, Iradah, Mendengar, Melihat dan Kalam. dan beliau juga mentakwil sifat-sifat Khobariyyah seperti : Wajah, dua Tangan, Kaki, Betis dan yang semisalnya.

3. Menetapkan semua Sifat-Sifat Allah dengan tidak menanyakan kaifiyat-nya (mendeskripsikannya), tidak men-tasybih (menyerupakannya) dengan makhluk-Nya,dan berjalan menurut kaedah-kaedah manhaj Salaf. Ini adalah metode yang beliau tetapkan dalam tulisannya yang terakhir yang berjudul “Al-Ibaanah”, yang kemudian kitab tersebut di-syarah oleh al-Baaqilaaniy, dinukil juga oleh Al-Hafidz Abul Qoosim ibnu ‘Aasakir. (metode Salaf) inilah yang Imam Al-Baaqilaaniy, Imamul Haromain dan Aimah senior Syafi’iyyah lainnya condong kepadanya, yang kemudian menjadi revisi terakhir dari pendapat mereka (dalam masalah Ushuluddin). Wallahul A’lam.” 

Dari penuturan Ibnu Katsir di atas, jelaslah bahwa Asy-Syaikh Abul Hasan Al-Asy’ari telah mentaubati penetapan rumusan aqidahnya dan ruju’ kepada penetapan para As-Salafush Sholih. Di antara penuturan beliau di dalam kitabnya, “Al-Ibanah ‘an ushuli-d-diyanah” (الإبانة عن أصول الديانة):

قولنا الذي نقول به، وديانتنا التي ندين بها: التمسك بكتاب الله ربنا وبسنة نبينا محمد صلى الله عليه وسلم وما روي عن السادة الصحابة والتابعين وأئمة الحديث، ونحن بذلك معتصمون، وبما كان يقول به أبو عبد الله أحمد بن محمد بن حنبل نضر الله وجهه ورفع درجته وأجزل مثوبته

Pernyataan yang kami menyatakannya dan  agama yang kami beragama dengannya adalah berpegang teguh dengan Kitabullah Tuhan kami dan Sunnah Nabi kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga apa yang diriwayatkan dari yang mulia para Sahabat, Tabi’in dan para Imam ahli Hadits. Terhadap semuanya itu kami berpegang teguh, dan juga terhadap apa yang dikatakan oleh Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal. Semoga Allah mencerahkan wajahnya dan mengangkat derajatnya serta memberikan kepadanya pahala besar (Al-Ibanah)

Beliau juga mengatakan dalam kitabnya yang lain “Maqolaat al-Islamiyyin” (مقالات الإسلاميين):

 أهل السنة وأصحاب الحديث: ليس بجسم ولا يشبه الأشياء, وأنه على العرش كما قال عز وجل: الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى ]طه: 5[، ولا نقدم بين يدي الله في القول، بل نقول استوى بلا كيف.
وأنه نور كما قال تعالى: اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ]النور: 35[
وأن له وجهاً كما قال الله: وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ]الرحمن: 27[.
وأن له يدين كما قال تعالى: خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ]ص: 75[
وأن له عينين كما قال تعالى: تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا ]القمر: 14[
وأنه يجيء يوم القيامة هو وملائكته كما قال تعالى: وَجَاء رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا ]الفجر: 22[.
وأنه ينزل إلى السماء الدنيا كما جاء في الحديث.
ولم يقولوا شيئاً إلا ما وجدوه في الكتاب، أو جاءت به الرواية عن رسول الله صلى الله عليه وسلم”  ا هـ.

Ahlussunnah dan Ahli Hadits tidak menyatakan Allah ber-jism dan menyerupai sesuatu. Sesungguhnya Dia ‘Azza wa Jalla istawa di atas ‘arsy sebagaimana yang Dia firmankan dalam QS.Thoha:5, “Ar-Rohman di atas ‘arsy bersemayam”. Kami tidak mendahului Allah dengan suatu pernyataan, melainkan menyatakan sebagaimana yang Dia firmankan tanpa mendeskripsikan (kaif).

Sesungguhnya Dia ‘Azza wa Jalla adalah cahaya sebagaimana yang Dia firmankan dalam QS. 35, “Allah cahaya langit dan bumi”

Sesungguhnya Dia ‘Azza wa Jalla memiliki Wajah sebagaiman Dia firmankan dalam QS. Ar-Rahman: 27, “Dan kekal lah Wajah Tuhanmu”

Sesungguhnya Dia ‘Azza wa Jalla memiliki dua Tangan sebagaimana Dia ‘Azza wa Jalla firmankan dalam QS. Shod:75, “Aku menciptakan dengan kedua Tangan-Ku”

Sesungguhnya Dia ‘Azza wa Jalla memiliki dua Penglihatan sebagaimana Dia ‘Azza wa Jalla firmankan dalam QS. Al-Fajr:14, “Ia berjalan dengan Penglihatan-Ku”

Sesungguhnya Dia ‘Azza wa Jalla datang pada Hari Kiamat dan juga para Malaikat-Nya sebagaimana yang Dia firmankan dalam QS. Al-Fajr:22, “Datanglah Tuhanmu dan Malaikat dengan berbaris”.

Sesungguhnya Dia ‘Azza wa Jalla Turun ke langit dunia sebagaimana yang Nabi sabdakan dalam Haditsnya.

Mereka semua tidaklah mengatakan kecuali apa yang mereka jumpai dalam Al-Qur’an dan riwayat-riwat dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam” [selesai].

Muhammad Fuad Abdul Baqi’ penyusun kitab “Al-Lu’lu’ wa-l-Marjan fima ittafaqo ‘alaihi Syaikhoni” mengatakan di dalam muqoddimah kitab tersebut: Inilah madzhab Imam Abul Hasan Al-‘Asy’ari yang beliau wafat di atas madzhab tersebut dengan meninggalkan dua kitab “Maqolaat al-Islamiyyin” (مقالات الإسلاميين) dan “Al-Ibanah ‘an ushuli-d-diyanah” (الإبانة عن أصول الديانة). Di dalam dua kitab ini beliau menetapkan madzhab yang haq yang Imam Ahlissunnah Ahmad bin Hanbal dan madzhabnya berada di atasnya, demikian juga madzhab sebelumnya para Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in, yang Nabi nyatakan di dalam Haditsnya sebagai generasi utama karena keutamaan dan kebaikannya. Wahai Asy-‘ariyyun! Yang menisbatkan diri mereka kepada Imam Abul Hasan Al-Asy’ari semoga bisa menyadari bahwa beliau telah berhijrah dari madzhab mu’tazilah menuju madzhab Ahli haq, para Salafush Shalih yang beliau nyatakan sendiri (di dalam tulisannya). Mereka semua beragama dalam hal Asma wa shifat di atas kebenaran.

Judul buku : Catatan Singkat tentang “MENGENAL ALLAH ‘AZZA WA JALLA”

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc.Hafizhahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
https://nidaulfithrah.com/aqidah-asyariyyah-telah-ditaubati-oleh-perumusnya/feed/ 0
Ahlussunnah wal Jamaah tentang Asma’ wa Shifat https://nidaulfithrah.com/ahlussunnah-wal-jamaah-tentang-asma-wa-shifat/ https://nidaulfithrah.com/ahlussunnah-wal-jamaah-tentang-asma-wa-shifat/#respond Fri, 24 Dec 2021 22:55:48 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=12943 Ahlussunnah wal Jamaah meyakini bahwa Allah memiliki Nama yang baik dan sifat yang Tinggi. Dia bersifat dengan segala sifat kesempurnaan. Dia Maha Suci dari sifat kurang.

Ahlussunnah wal Jamaah menetapkan untuk Allah Nama dan Sifat sebagaimana Dia menetapkan untuk diri-Nya dan sebagaimana yang Rasul tetapkan untuk Allah.

Di dalam menetapkan sifat, Ahlussunah menetapkannya sebagaimana zhahirnya nash tanpa melakukan TAKYIF (menanyakan bagaimana), TAHRIF (mengubah makna), TAMTSIL (menyamakan dengan makhluk) dan TA’THIL (membatalkan).

  • Bagaimana mungkin melakukan  TAKYIF (menanyakan bagaimana) sementara tidak ada satu pun dari kalangan sahabat yang menanyakan bagaimana istiwa-Nya, yad (Tangan)-Nya, nuzul (Turun ke langit dunia)-Nya, Wajah-Nya, Qodam (kaki) dan lain-lain. Mereka membaca Al-Qur’an di zaman Nabi dan di sisi beliau selama 23 tahun, tetapi tidak ada satupun yang menanyakan bagaimana tentang sifat-sifat Allah tersebut kepada Nabi. Oleh karena itu ketika ada orang bertanya tentang bagaimana istiwa Allah di atas ‘arsy, Imam Malik menjawab:

الاستواء معلوم ، والكيف مجهول ، والإيمان به واجب ، والسؤال عنه بدعة (اعتقاد أهل السنة شرح أصحاب الحديث / ص: 22)

Istiwa’ itu jelas (diketahui maknanya), bagaimananya itu tidak ada yang tahu, mengimaninya itu hukumnya wajib, dan mempertanyakannya itu bid’ah”.

Cukuplah kita mengetahui makna sifat-sifat Allah tersebut tanpa mem-bagaimana-kannya.  Adapun tentang “bagaimnanya”  diserahkan kepada Allah. Bukankah Allah telah berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ [الشورى: 11]

“Tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah(QS. Asy-Syura:11)

Kalau kita menanyakan “bagaimna-Nya” atau membagaimanakan berarti kita menyerupakan Allah dengan makhluk. Subhanallah.

  • Bagaimana mungkin melakukan TAHRIF/ TAKWIL (mengubah makna). Istiwa ‘alal ‘arsy dimakani berkuasa di atas ‘arsy.

Atas dasar apa mengubah makna istiwa yang maknanya ‘alaa wa-r-fafa’: bersemayam diubah ke makna berkuasa?

 Atas dasar apa Yad yang artinya tangan diubah maknanya menjadi kekuasaan?

 Atas dasar apa Allah turun (ينزل ربنا إلى السماء الدنيا…) diubah maknanya bahwa yang turun bukan Allah tapi rahmat-Nya? Atas dasar apa menyatakan Allah tidak di atas ‘arsy padahal Allah menetapkan diri-Nya bersifat di atas ‘Arsy?

Apakah kalian lebih tahu tentang Allah daripada Allah sendiri?

Kalaulah suatu hal tergambar oleh kita,  terbersit dalam benak kita tentu kita sah-sah saja melakukan takwil.  Contoh ada pernyataan: “Sang singa podium tadi malam sangat memikat audience”. Kita bisa mentakwil yang dimaksud singa di sini adalah sang orator. Karena hal ini tergambar dalam benak kita, siapa yang biasanya di atas podium? Orator, bukan?

Contoh lain: “ Si Kuda dari Timur itu tidak pernah tekalahkan dalam perlombaan lari sejak tahun 2015” Kita bisa mentakwil yang dimaksud kuda di sini adalah pelari yang sangat cepat dan tak mudah lelah”. Kita sah-sah saja mentakwil demikian karena perlombaan lari itu terbersit dalam benak kita. Siapakah pesertanya? Bukankah manusia? Jadi, kuda ditakwilkan demikian tentu dibenarkan.

Lalu, adakah dzat Allah tergambar oleh benak kita? Tentu tidak.

Adakah yang pernah melihat Allah? Tentu tidak ada.

Jadi, atas dasar apa mentakwilkan sifat-sifat yang Allah tetapkan untuk diri-Nya ke makna lain?

KETAHUILAH! Kesamaan nama tidak melazimkan kesamaan hakikat.

Contoh: Pernyataan pertama: “.Gedung ini daun pintunya banyak”.

Pernyataan kedua: “Betapa rindangnya daun pohon ini”

Perhatikanlah, ada penamaan yang sama yaitu daun. Apakah hakikatnya sama daun pada pernyataan pertama dan kedua? Hakikatnya jauh sekali. Ini perbandingan sesame makhluk, ternyata nama yang sama tidak melazimkan kesamaan hakikat. Lalu bagaimana antara Allah Al-Kholiq dan makhluq-Nya? Maka, tentu lebih gamblang lagi TIDAK MUNGKIN PENAMAAN SIFAT ALLAH SAMA HAKIKATNYA DENGAN PENAMAAN SIFAT PADA MANUSIA.

Allah punya dua tangan (QS. Shod: 75) tidak mungkin sama hakikatnya dengan dua tangan manusia demikian juga sifat-sifat Allah yang lain.

RENUNGKANLAH! Bukankah kita mengimani sifat-sifat Allah yang berupa Mendengar, Mengetahui , Maha Penyayang, Maha Adil? Lalu kenapa kita tidak bisa mengimani bahwa Allah bersifat memiliki dua tangan, memiliki wajah, bersemayam di atas ‘arsy, qidam (kaki)? Padahal semua sifat tersebut bersumber dari Allah sendirii. Dial ah yang menyatakan bersiafat dengan semuanya itu. Atas dasar apa sebagiannya diterima langsung tetapi sebagian yang lainnya baru bisa diterima setealah ditakwil?

INGAT! Kita tidak mengkin berbicara tentang Allah dan meyakini tentang-Nya kecuali sebatas apa yang Dia informasikan tentang diri-Nya. Jadi, tidak tempat bagi kita untuk mentakwil.

Allah berfirman:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ  [الأعراف: 33]

“Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Al-A’rof: 33)

  • Bagaimana mungkin melakukan TAMTSIL (menyamakan Allah dengan makhluk). Sungguh orang yang melakukannya telah berbuat perkara yang sangat bathil, seperti kelompok mujassimah.
  • Bagaimana mungkin melakukan TA’THIL (membatalkan sifat-sifat Allah), sementara Allah sendiri menetapkan sifat-sifat untuk diri-Nya.

Mari kita memperhatikan penjelasan para ulama pendahulu kita tentang sifat-sifat Allah ‘Azza wa Jalla.

a. Imam Sufyan bin Uyainah,

كل ما وصف الله به نفسه في كتابه فتفسيره قراءته، والسكوت عنه ليس لأحد أن يفسره إلا الله ورسوله صلى الله عليه وسلم (تنبيه ذوي الألباب السليمة عن والوقوع في الألفاظ المبتدعة الوخيمة -1 (ص: 54)

“Setiap sifat yang Allah mensifati diri-Nya dengan sifat tersebut di dalam Kitab-Nya, maka tafsirnya adalah (sebagaimana) bacaannya itu, diam darinya karena tidak ada siapapun yang berhak mentafsirkannya kecuali hanya Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam” (Tanbiih dzawi-l-albaab as-salimah ‘ani-l-wuqu’ fi-l- alfaazh al-mubtadi’ah al-wakhiimah, Hal. 54)

Dia juga mengatakan:

كل ما وصف الله به نفسه فى القرآن فقراءته تفسيره لا كيف ولا مثل (الصفات – الدارقطني ، ص: 41)

“Setiap sifat yang Allah mensifati diri-Nya dengan sifat tersebut di dalam Al-Qur’an, maka tafsirnya adalah (sebagaimana) bacaannya itu, tanpa BAGAIMANA  dan tanpa MENYERUPAKAN (Ash-Shifat – Ad-Daruquthni, hal. 41)

b. Imam Malik dan Imam Al-Awza’i

وقال الإِمام مالك بن أنس – إِمام دار الهجرة- رحمه الله : (إِياكُم والبِدَع) قيل : وما البدع؟ قال : (أَهلُ البِدَعِ هُم الذينَ يتكلمونَ في أَسماء اللهِ وصفاتِهِ وكلامِه وعلمه وقُدرتِه ، ولا يَسْكُتونَ عمَا سَكَت عَنهُ الصحابةُ والتابعونَ لهم بإِحسان

(الوجيز في عقيدة السلف الصالح أهل السنة والجماعة ، ص: 51)

Imam Malik bin Anas – Imam Darul Hijrah—rahimahullah mengatakan: Jauhilah oleh kalian bid’ah. Beliau ditanya bid’ah itu apa? Beliau menjawab: Ahlu bid’ah adalah mereka yang berbicara tentang nama dan sifat Allah, kalam-Nya, ilmu-Nya dan qudroh-Nya tetapi mereka tidak diam darinya sebagaimana para Sahabat dan para Tabi’in diam darinya (Al-Wajiz fi ‘aqidati-s- salafi-sh-sholih Ahli-s- Sunnah wa-l- Jama’ah, hal.51)

وقال الوليد بن مُسلم : سأَلت الأَوزاعي ، وسفيانَ بن عُيينة ، ومالك بن أَنسٍ عن هذه الأَحاديث في الصِّفات والرؤية ، فقالوا : (أَمِروها كما جاءتْ بلا كَيْف)

 (الوجيز في عقيدة السلف الصالح أهل السنة والجماعة ، ص: 51)

Al-Walid bin Muslim berkata: Saya bertanya kepada Al-Awza’i, Sufyan bin ‘Uyainah dan Malik bin Anas tentang Hadits-Hadits tentang sifat dan ru’yah (melihat Allah di Surga). Mereka menjawab: Biarkanlah ia (Hadits-Hadits tersebut) sebagaimana datangnya (apa adanya) tanpa MEM-BAGAIMANA-KAN (Al-Wajiz fi ‘aqidati-s- salafi-sh-sholih Ahli-s- Sunnah wa-l- Jama’ah, hal.51)

c. Imam Abu Hanifah

 لا ينبغي لأَحد أَن ينطقَ في ذات الله بشيء ؛ بل يصفهُ بما وصفَ به نفسهُ ، ولا يقول فيه برأيه شيئا ؛ تبارك الله تعالى رَبُّ العالمين، ولما . سُئل- رحمه الله- عن صفة النزول ، فقال : (ينزلُ بلا كيف) (الوجيز في عقيدة السلف الصالح أهل السنة والجماعة (ص: 52)

Tidak sepatutnya bagi seseorang untuk berbicara apapun berkenaan dzat Allah. Tetapi ia harus mensifati-Nya sebagaimana Dia mensifati untuk diri-Nya. Dan janganlah sedikitpun berbicara tentang dzat-Nya dengan akalnya. Maha Suci Allah Tuhan semesta alam. Ketika  ditanya tentang sifat nuzul (turun ke langit dunia), beliau menjawab: Dia ‘Azza wa Jalla turun tanpa ditanyakan bagaimana-nya (Al-Wajiz fi ‘aqidati-s- salafi-sh-sholih Ahli-s- Sunnah wa-l- Jama’ah, hal.51)

d. Imam Asy-Syafi’i

آمنتُ باللهِ ، وبما جاءَ عن اللهِ على مرادِ اللهِ ، وآمنتُ برسول الله وبما جاء عن رسولِ اللهِ على مُراد رَسُولِ الله (الوجيز في عقيدة السلف الصالح أهل السنة والجماعة (ص: 51)

Saya beriman kepada Allah dan terhadap apa yang datang dari Allah sebagaimana yang dimaksudkan Allah. Saya beriman kepada Rasulullah dan terhadap apa yang datang dari Rasulullah sebagaimana yang dimaksudkan Rasulullah (Al-Wajiz fi ‘aqidati-s- salafi-sh-sholih Ahli-s- Sunnah wa-l- Jama’ah, hal.51)

e. Imam Ahmad bin Hanbal

عن أبي بكر المروذي قال: سألت أحمد بن حنبل عن الأحاديث التي تردها الجهمية في الصفات والرؤية والإسراء وقصة العرش فصححها، وقال: تلقتها الأمة بالقبول وتمر الأخبار كما جاءت. [مناقب الشافعي لابن أبي حاتم ص182]

Dari Abu Bakar al-Mawardzi, dia berkata: Saya bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal tentang Hadits-Hadits yang ditolak oleh Jahmiyyah, yaitu tentang sifat-sifat Alla, ru’yah (melihat Allah di Surga), Isra’, dan kisah ‘Arsy. Beliau membenarkan semuanya itu lalu mengatakan: Ummat harus menerimanya dan membiarkan Hadits-Hadits tersebut sebagaimana datangnya (apa adanya) (Manaqib asy-Syafi’I li-b-ni Abi Hatim, hal. 182)

قال الإمام أحمد: وزعم – جهم بن صفوان – أن من وصف الله بشيءٍ مما وصف به نفسه في كتابه، أو حدَّث عنه رسوله كان كافراً وكان من المشبِّهة. [مناقب الإمام أحمد ص221]

Imam Ahmad mengatakan: Jahm bin Shofwan (pendiri paham Jahmiyyah) memandang bahwa barangsiapa yang mensifati Allah dengan sifat yang Dia sifati untuk diri-Nya di dalam Al-Qur’an. Atau mensifati Allah sebagaimana Rasulullah tetapkan untuk Allah, maka orang tersebut kafir dan termasuk musyabbihah (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya) (Manaqib Al-Imam Ahmad, hal. 221)


 قال الإمام أحمد: نحن نؤمن بأن الله على العرش، كيف شاء، وكما شاء، بلا حد، ولا صفة يبلغها واصف أو يحده أحد؛ فصفات اللهِ منه وله، وهو كما وصف نفسه، لا تدركه الأبصار. [درء تعارض العقل والنقل لابن تيمية ج2 ص30]

Imam Ahmad mengatakan: “Kami beriman bahwa Allah berada di atas Arsy, sesuai kehendak-Nya, seperti yang dikehendaki-Nya, dengan tanpa batasan dan sifat dari siapapun. Karena sifat Allah adalah dari-Nya dan untuk-Nya, Dia itu sebagaimana disifati oleh-Nya, dan Dia tidak bisa dilihat oleh indra mata (ketika di dunia)”. (Dar’u Ta’arudhil Aqli wan Naql libni Taimiyah 2/30)

Perhatikanlah! Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:

عن معاوية بن الحكم السلمي؛ قال: …… وكانت لي جارية ترعى غنما لي قبل أحد والجوانية. فاطلعت ذات يوم فإذا الذيب [الذئب؟؟] قد ذهب بشاة من غنمها. وأنا رجل من بني آدم. آسف كما يأسفون. لكني صككتها صكة. فأتيت رسول الله صلى الله عليه وسلم فعظم ذلك علي. قلت: يا رسول الله! أفلا أعتقها؟ قال “ائتني بها” فأتيته بها. فقال لها “أين الله؟” قالت: في السماء. قال “من أنا؟” قالت: أنت رسول الله. قال “أعتقها. فإنها مؤمنة

“. Mu’aawiyyah bin Al-Hakam As-Sulamiy berkata : “…..Aku mempunyai seorang budak wanita yang menggembalakan kambingku ke arah gunung Uhud dan Jawwaaniyyah. Pada suatu hari aku memantaunya, tiba-tiba ada seekor serigala yang membawa lari seekor kambing yang digembalakan budakku itu. Aku sebagaimana manusia biasa pun marah sebagaimana orang lain lain marah (melihat itu). Namun aku telah menamparnya, lalu aku mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun menganggap besar apa yang telah aku lakukan. Aku berkata : ‘Wahai Rasulullah, apakah aku harus memerdekakannya ?’. Beliau menjawab : ‘Bawalah budak wanita itu kepadaku’. Aku pun membawanya kepada beliau. Lalu beliau bertanya kepada budak wanita itu :‘Dimanakah Allah ?’. Ia menjawab : ‘Di langit’. Beliau bertanya lagi : ‘Siapakah aku ?’. Ia menjawab : ‘Engkau adalah utusan Allah (Rasulullah)’. Beliau pun bersabda :‘Bebaskanlah, sesungguhnya ia seorang wanita beriman(H.R Muslim dalam Shahih-nya, Ahmad, Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf dan Al-Musnad )

Renungkanlah! Ketika ditanya, sang budak menjawab bahwa Muhammad sebagai Rasul dan Allah ‘Azza wa Jalla di atas ‘Arsy, lalu Nabi pun menyatakan dia sebagai wanita beriman.

Jadi, seorang mukmin adalah yang mengimani keberadaan Allah di atas ‘Arsy.

Judul buku : Catatan Singkat tentang “MENGENAL ALLAH ‘AZZA WA JALLA”

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc.Hafizhahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
https://nidaulfithrah.com/ahlussunnah-wal-jamaah-tentang-asma-wa-shifat/feed/ 0
Pembagian Tauhid https://nidaulfithrah.com/pembagian-tauhid/ https://nidaulfithrah.com/pembagian-tauhid/#respond Fri, 24 Dec 2021 22:34:12 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=12940 Ada sebagian orang yang mempertanyakan tentang pembagian tauhid menjadi tiga; tauhid Rububiyyah, tauhid Uluhiyyah, dan tauhid Asma wa Shifat. Menurut mereka hal ini adalah bentuk mengada-ada, atau kesesatan, atau ….. karena pembagian semacam ini tidak pernah ada pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada juga yang mengatakan pembagian semacam ini rancu, tidak jelas. Bahkan sebagian mereka mengatakan pembagian semacam ini berarti sama saja dengan ideologi trinitas dalam Kristen.

Syubhat mereka ini harus diluruskan. Bukankah hukum taklifi yang lima (wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah) tidak pernah ada pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Istilah hukum taklifi  tersebut lahir dari ijtihad para ulama demi untuk kemudahan kaum muslimin di dalam keberagamaannya. Dan, memang pemahaman dari dalil-dalil yang ada menunjukkan adanya lima hukum tersebut.

Demikikan pula dengan tauhid. Dalil-dalil yang ada baik ayat-ayat Al-Qur’an ataupun Hadits  menunjukkan adanya tiga macam tauhid, yaitu:

  1. Allah adalah satu-satunya Tuhan. Dia lah yang menciptakan alam semesta, mengaturnya, memeliharanya, menghancurkannya, menerbitkan matahari, membenamkan matahari, menghidupkan, mematikan, menjadikan sehat, menjadikan sakit, menjadikan adanya malam dan siang dan lain-lain. Yang kemudian dikenal dengan sebutan TAUHID RUBUBIYYAH.
  2. Allah adalah satu-satunya Tuhan yang segala bentuk ibadah apapun harus ditujukan kepada-Nya. Sebagai konsekwensi dari tauhid rububiyyah. Yang kemudian dikenal dengan sebutan TAUHID ULUHIYYAH.
  3. Allah adalah satu-satunya Dzat yang Maha Sempurna dalam Nama dan Sifat-Nya. Yang kemudian dikenal dengan sebutan TAUHID ASMA’ WA SHIFAT.

Allah Maha Esa atas ketiga perkara tersebut di atas. Dan, tidak ada siapapun yang menolaknya.

Banyak sekali ayat yang menunjukkan tiga macam tauhid tersebut. Saya akan menukilkan dua ayat saja. Disebutkan dalam QS. Marayam:65,

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا  [مريم: 65]

Tuhan (Pencipta, Pemilik, Pengatur) langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Maka, sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribah kepada-Nya. Apakah kamu tahu Dia memiliki Nama? (Maryam:65)

Mari kita perthatikan!

  • Tuhan (Pencipta, Pemilik, Pengatur) langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya = TAUHID RUBUBIYYAH
  • Maka, sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribah kepada-Nya = TAUHID ULUHIYYAH.
  • Apakah kamu tahu Dia memiliki Nama? = TAUHID ASMA’ WA SHIFAT.

Sifat Allah selain terkandung di dalam Nama-Nya juga disebutkan secara tersendiri oleh Allah dan Rasul-Nya.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ () الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ [الفاتحة:]

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (QS. Al-Fatihah)

Mari kita perhatikan!

  • Segala puji bagi Allah = TAUHID ULUHIYYAH.
  • Tuhan semesta alam = TAUHID RUBUBIYYAH.
  • Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang = TAUHID ASMA’ WA SHIFAT.

Judul buku : Catatan Singkat tentang “MENGENAL ALLAH ‘AZZA WA JALLA”

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc.Hafizhahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
https://nidaulfithrah.com/pembagian-tauhid/feed/ 0