liang – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Mon, 13 Apr 2026 06:44:07 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png liang – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 Bolehkah mengeluarkan tulang-belulang jenazah dari kuburan agar jenazah lain bisa dimakamkan di situ? https://nidaulfithrah.com/bolehkah-mengeluarkan-tulang-belulang-jenazah-dari-kuburan-agar-jenazah-lain-bisa-dimakamkan-di-situ/ Thu, 31 Jul 2025 06:54:16 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=20183 Sumber : (http://www.ibnbaz.org.sa/mat/14091)

Teks Arab

هل يجوز إخراج عظام الميت من القبر ليدفن فيه آخر؟

الحمد لله.

إذا دفن الميت في القبر فالواجب تركه حتى يبلى ، ولا يبقى له أثر ، ولا يجوز نبش القبر وإخراج عظام الميت منه ، ليدفن فيه آخر ، بل الميت أحق به إلى أن يبلى .

قال الإمام الشافعي فيمن حفر فوجد عظام ميت : “وإن أخرجت عظام ميت أحببت أن تعاد فتدفن” انتهى .

“الأم” (1/316) .

وقال النووي رحمه الله في “المجموع” (5/273) :

“وَأَمَّا نَبْشُ الْقَبْرِ فَلَا يَجُوزُ لِغَيْرِ سَبَبٍ شَرْعِيٍّ بِاتِّفَاقِ الْأَصْحَابِ .

وَيَجُوزُ نَبْشُ الْقَبْرِ إذَا بَلِيَ الْمَيِّتُ وَصَارَ تُرَابًا , وَحِينَئِذٍ يَجُوزُ دَفْنُ غَيْرِهِ فِيهِ , وَيَجُوزُ زَرْعُ تِلْكَ الْأَرْضِ وَبِنَاؤُهَا وَسَائِرُ وُجُوهِ الِانْتِفَاعِ وَالتَّصَرُّفِ فِيهَا بِاتِّفَاقِ الْأَصْحَابِ , وَإِنْ كَانَتْ عَارِيَّةً رَجَعَ فِيهَا الْمُعِيرُ . وَهَذَا كُلُّهُ إذَا لَمْ يَبْقَ لِلْمَيِّتِ أَثَرٌ مِنْ عَظْمٍ وَغَيْرِهِ , قَالَ أَصْحَابُنَا رحمهم الله : وَيَخْتَلِفُ ذَلِكَ بِاخْتِلَافِ الْبِلَادِ وَالْأَرْضِ وَيُعْتَمَدُ فِيهِ قَوْلُ أَهْلِ الْخِبْرَةِ بِهَا “ انتهى .

وقال ابن قدامة في “المغني” (2/194) :

“ وَإِنْ تَيَقَّنَ أَنَّ الْمَيِّتَ قَدْ بَلِيَ وَصَارَ رَمِيمًا , جَازَ نَبْشُ قَبْرِهِ , وَدَفْنُ غَيْرِهِ فِيهِ ، وَإِنْ شَكَّ فِي ذَلِكَ رَجَعَ إلَى أَهْلِ الْخِبْرَةِ . فَإِنْ حَفَرَ , فَوَجَدَ فِيهَا عِظَامًا دَفَنَهَا , وَحَفَرَ فِي مَكَان آخَرَ . نَصَّ عَلَيْهِ أَحْمَدُ “ انتهى .

وإذا لم يوجد مكان لدفن الميت إلا أن ينبش قبر فيه ميت ويدفن فيه ، فيجوز ذلك للضرورة ، ولكن في هذه الحالة يجب أن يدفن معه ، ولا يجوز إخراج عظام الميت الأول من القبر .

قال في “تحفة المحتاج” (3/173) :

“وَيَحْرُمُ إدْخَالُ مَيِّتٍ عَلَى آخَرَ وَإِنْ اتَّحَدَا [يعني في الجنس] قَبْلَ بِلَى جَمِيعِهِ … ومحل تحريمه : عند عدم الضرورة ، وأما عندها فيجوز كما في الابتداء” يعني : كما يجوز أن يدفن اثنان معاً في ابتداء الدفن للضرورة .

وفي “الفتاوى الفقهية الكبرى” لابن حجر الهيتمي رحمه الله (2/14) :

“حيث حفر قبر إما تعديا وإما مع ظن أنه بلي ولم يبق فيه عظم فوجد فيه عظم ، رد التراب عليه وجوبا ، ولا يجوز الدفن فيه قبل البلى .

وفي “الروضة” وغيرها : يحرم نبش قبر الميت ودفن غيره فيه قبل بلائه عند أهل الخبرة بتلك الأرض ، فإن حفر فوجد فيها شيء من عظم الميت قبل تمام الحفر وجب رد ترابه عليه ، وإن وجدها بعد تمام الحفر جعلها في جانب من القبر وجاز لمشقة استئناف قبر دفن الآخر معه” انتهى.

وقال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله :

“إذا كان الأول قد دفن واستقر في قبره فإنه أحق به ، وحينئذ لا يدخل عليه ثانٍ ، اللهم إلا للضرورة القصوى” انتهى .

“الشرح الممتع” (5/369) .

وسئل الشيخ ابن باز رحمه الله :

يوجد لدينا محل الأموات على شكل غرفة تحت الأرض ، حيث يوضع الميت ، وبعد سنة يفتح هذا القبر ، ويوضع ميت آخر ، فهل يعذب المذنب ، ويؤذى المحسن في قبر واحد ؟

فأجاب :

“السنة أن يقبر كل إنسان على حدة مع القدرة ، إذا اتسعت الأرض ، وأمكن قبر كل واحد على حدة فهذا هو السنة ، كما كان النبي صلى الله عليه وسلم في البقيع يقبرون الموتى هكذا ، كل واحد على حده ، أما إذا حصل ضرورة ولم يوجد مكان إلا هكذا فلا حرج ، وكل يؤاخذ بذنبه ، المحسن يجازى بإحسانه ، والمسيء يجازى بإساءته ( وَلاَ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى ) لكن مهما أمكن فالمشروع أن يدفن كل واحدٍ على حدة ، كل قبر على حدة ، ولا يجمع في محل واحد “ انتهى من موقع الشيخ .

(https://islamqa.info/ar/answers/141084/)

وعلى هذا ، فالواجب عليكم التعاون لإيجاد طريقة للدفن الشرعي ، بزيادة الأماكن المخصصة لدفن الموتى ، حتى يكون لكل ميت قبر .

فإن لم يمكن هذا ، فيجوز إدخال ميت على ميت في القبر للضرورة ، ولكنه لا تخرج عظام الميت الأول من القبر ، بل تجعل في جانب ثم يدفن معه الثاني .

ولمزيد الفائدة يراجع جواب السؤال رقم : (115531) .

والله أعلم

Terjemahan teks Arab

Pertanyaan: Apakah boleh mengeluarkan tulang-tulang mayit dari liang kubur untuk dimakamkan padanya jenazah lainnya?

Jawab: Alhamdulillah. Jika mayat telah dimakamkan di liang kubur maka wajib dibiarkan hingga jasadnya hancur, tidak tersisa bekas-bekas. Tidak diperbolehkan menggali liang kubur untuk dikeluarkan darinya tulang-tulang mayit demi memakamkan jenazah lainnya. Mayat yang pertama lebih berhak di situ hingga hancur. Imam Syafi’i berkata tentang orang yang menggali lalu menjumpai tulang-tulang mayit, “Jika tulang-tulang mayit telah dikeluarkan maka saya lebih menghendaki agar dikembalikan lagi lalu dikubur” [selesai]. Lihat: “Al-Umm” (1/316)

Imam An-Nawawi rahima hullah berkata di dalam “Al-Majmu” (5/273): Tidak boleh membongkar kuburan tanpa adanya suatu sebab syar’i dengan kesepakatan para ulama. Kuburan boleh dibongkar jika mayat telah menjadi tanah. Ketika itulah boleh memakamkan mayat lain di situ atau ditanami pada tanah tersebut atau dibangun sesuatu bangunan atau untuk apa pun yang bermanfaat berdasarkan kesepakatan para ulama. Ini semua jika sudah tidak terdapat bekas apa pun, tulang dan lainnya. Para ulama mengatakan: Tentang permasalahan ini bisa terjadi perbedaan di antara tanah-tanah yang ada di suatu negara. Bisa ditanyakan kepada orang yang berpengalaman dalam masalah ini [selesai]. 

Ibnu Qudamah berkata di dalam “Al-Mughni” (2/194): Jika diyakini mayat telah hancur menjadi tanah, maka kuburan boleh digali lalu dimakamkan di situ jenazah lainnya. Jika ragu-ragu, bisa ditanyakan kepada orang yang berpengalaman dalam masalah ini. Ketika digali dan ternyata masih dijumpai tulang-tulang maka dimakamkan kembali. Galilah di tempat lain. Demikianlah nash dari Imam Ahmad [selesai].

Jika tidak dijumpai tempat lain untuk memakamkan mayit kecuali harus menggali kuburan yang di dalamnya ada mayatnya maka diperbolehkan karena kondisi darurat. Namun, ia harus dimakamkan bersamanya. Tidak boleh tulang-tulang mayat yang pertama dikeluarkan. 

Disebutkan di dalam “Tuhfatul Muhtaj” no. 3/173: Haram memasukkan mayat ke kuburan mayat lain sebelum keseluruhan jasadnya hancur.  Alasan haramnya itu ketika bukan suatu kondisi darurat. Adapun ketika darurat maka boleh bahkan sejak awal pemakaman. Maksudnya mayat kedua boleh digabungkan ke mayat pertama sebagaimana menguburkan berbarengan sejak awal.

Disebutkan di dalam “Al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubro” karya Ibnu Hajar al-Haitamy rahima hullah no. 2/14: Menggali kuburan bisa karena sengaja melanggar atau karena diduga jasad mayat telah hancur. Jika ternyata masih dijumpai tulang-tulang maka wajib dikembalikan lagi dan di-urug tanah lagi. Tidak boleh memakamkan di situ sebelum jasadnya hancur.

Di dalam “Ar-Rowdhoh”dan lainnya: Haram menggali kuburan mayat untuk dimakamkan di situ mayat lainnya sebelum jasadnya hancur yang dinyatakan oleh orang yang ahli tentang tanah di daerah tersebut. Jika proses penggalian dilakukan lalu dijumpai tulang-tulang mayat sebelum selesainya penggalian maka tanah wajib di-urug kembali. Tetapi jika dijumpai tulang-tulang seusai selesainya penggalian maka boleh membikin liang kubur di situ lalu dimakamkan bersama-sama [selesai].

Syaikh Ibnu Utsaimin rahima hullah berkata: Jika mayat yang pertama telah dimakamkan di situ maka dia lebih berhak dengan tempat tersebut. Tidak boleh dimasukkan ke dalamnya jenazah lain kecuali ada kondisi yang benar-benar darurat [selesai] (Dari “Syarhu-l-Mumti’“) no. 5/369.

Syaikh bin Baz rahima hullah ditanya: Di daerah kami mayat-mayat dikuburkan di tempat seperti ruangan di bawah tanah. Mekanismenya, mayat ditempatkan di situ lalu setelah satu tahun kuburan dibuka lalu ditempatkan di situ mayat lain. Apakah jika seorang mayat pendosa diadzab, akan menyakitkan mayat yang shalih dalam satu kuburan tersebut?

Beliau menjawab: Yang sunnah, setiap orang dikuburkan secara tersendiri jika memungkinkan, jika area tanah pemakamannya luas. Jadi setiap orang dikuburkan sendiri-sendiri. Inilah yang sunnah. Nabi shalallahu alaihi wasallam menguburkan orang-orang yang meninggal masing-masing dengan kuburan sendiri-sendiri. Kecuali jika keadaan darurat dan tidak ada tempat lain maka tidak mengapa. Dan, masing-masing diadzab dengan dosanya sendiri-sendiri. Orang yang baik diberi balasan kebaikan sedangkan orang yang buruk diberi balasan keburukan. Disebutkan di dalam Al-Qur’an, 

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ (فاطر: 18)

Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain(QS.Fathir: 18)

Tetapi, jika memungkinkan yang disyariatkan masing-masing dimakamkan di kuburannya sendiri-sendiri, tidak digabungkan dalam satu liang kubur. 

Untuk itu, wajib bagi kalian untuk bekerja sama dalam mewujudkan tata cara yang syar’i dengan menambah area-area pemakaman sehingga setiap jenazah dimakamkan di kuburan sendiri-sendiri. Jika tidak memungkinkan, maka boleh memasukkan mayat ke kuburan mayat lain karena darurat dengan tidak mengeluarkan tulang-tulang mayat yang pertama tetapi ditempatkan di sampingnya berbarengan. Untuk penjelasan lebih luas silahkan rujuk ke “Jawab wa Sual” no. 115531.

Judul buku : Terkadang Ditanyakan 23

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Oh..Kematian?! (Jasad Seluruh Nabi Utuh, Tidak Hancur Setelah Kematiannya Bag. Penutup) https://nidaulfithrah.com/oh-kematian-jasad-seluruh-nabi-utuh-tidak-hancur-setelah-kematiannya-bag-penutup/ Fri, 27 Dec 2024 04:26:14 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19439 H. Jasad Seluruh Nabi Utuh, Tidak Hancur Setelah Kematiannya
Seluruh jasad manusia di dalam liang lahad akan rusak dan hancur yang tersisa hanyalah tulang ekor, kecuali jasad para Nabi ‘alaihimussalam. Disebutkan di dalam Hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu,

كلُّ ابنِ آدمَ يأْكلُهُ التُّرابُ إلاَّ عجبَ الذَّنبِ منْهُ خلقَ وفيهِ يرَكَّبُ (رواه البخارى و مسلم)

Setiap anak Adam akan dimakan oleh tanah kecuali tulang ekornya. Darinya Allah menciptakan dan dengannya akan disusun kembali (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam Hadits Aus bin Abu Aus radhiallahu’anhu,

إنَّ اللَّهَ عزَّ وجلَّ حرَّمَ علَى الأرضِ أجسادَ الأنبياءِ (رواه أبو داود)

“Sesungguhnya azzawajalla mengharamkan bumi dari (memakan) jasad para Nabi (HR. Abu Daud)

Jadi, tegasnya hanya jasad Nabi saja yang tidak hancur, karena Allah ta’ala telah mengharamkan bumi untuk memakannya

Lalu bagaimana dengan jasad syuhada?
Tidak ada dalil tentang utuhnya jasad syuhada. Yang ada hanya jasad para Nabi. Namun, dalam kenyataannya tidak sedikit dijumpai jasad syuhada masih tetap utuh meskipun telah terkubur dalam tanah dalam kurun waktu yang sangat lama. Seperti dalam Riwayat Jabir bin Abdullah radhiallahu’anhu berikut ini,

لَمَّا حَضَرَ أُحُدٌ دَعَانِي أبِي مِنَ اللَّيْلِ، فَقالَ: ما أُرَانِي إلَّا مَقْتُولًا في أوَّلِ مَن يُقْتَلُ مِن أصْحَابِ النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، وإنِّي لا أتْرُكُ بَعْدِي أعَزَّ عَلَيَّ مِنْكَ، غيرَ نَفْسِ رَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فإنَّ عَلَيَّ دَيْنًا فَاقْضِ، واسْتَوْصِ بأَخَوَاتِكَ خَيْرًا، فأصْبَحْنَا، فَكانَ أوَّلَ قَتِيلٍ ودُفِنَ معهُ آخَرُ في قَبْرٍ، ثُمَّ لَمْ تَطِبْ نَفْسِي أنْ أتْرُكَهُ مع الآخَرِ، فَاسْتَخْرَجْتُهُ بَعْدَ سِتَّةِ أشْهُرٍ، فَإِذَا هو كَيَومِ وضَعْتُهُ هُنَيَّةً غيرَ أُذُنِهِ (رواه البخارى)

Ketika terjadi perang Uhud, pada suatu malamnya bapakku memanggilku seraya berkata,: “Tidaklah aku melihat diriku (menduga) melainkan aku akan menjadi orang yang pertama-tama gugur di antara para sahabat Nabi (dalam peperangan ini) dan aku tidak meninggalkan sesuatu yang berharga bagimu sepeninggalku melainkan diri Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam. Dan aku mempunyai hutang, maka lunasilah dan berilah nasehat yang baik kepada saudara-saudaramu yang perempuan”. Pada pagi harinya kami dapati bapakku adalah orang yang pertama gugur dan dikuburkan bersama dengan yang lain dalam satu kubur. Setelah itu perasaanku tidak nyaman dengan membiarkan dia bersama yang lain, maka kemudian aku keluarkan setelah enam bulan lamanya dari hari pemakamannya dan aku dapati jenazah bapakku masih utuh sebagaimana hari dia dikebumikan dan tidak ada yang berubah padanya kecuali sedikit pada ujung bawah telinganya (HR. Bukhari)
Dan, masih banyak lagi fenomena-fenomena masih utuhnya jasad mayat setelah dikubur sekian lama. Anda pun mungkin mendengar atau menjumpainya. Berikut ini penjelasan Syaikh Utsaimin,

أما الشهداء والصديقون والصالحون فهؤلاء قد لا تأكل الأرض بعضهم كرامة لهم، وإلا فالأصل أنها تأكله ولا يبقى إلا عجب الذنب انتهى

Adapun syuhada, shiddiqun, sholihun ketika bumi tidak memakan sebagian mereka adalah bentuk karomah untuk mereka. Jika tidak demikan, maka hukum asal jasad siapapun adalah dimakan oleh tanah kecuali tulang ekor [selesai].
Bagaimana jika diketahui bahwa jasad yang utuh tersebut bukanlah orang yang sangat shaleh selama hidupnya. Para ulama menjelaskan bahwa Nabi dan Rasul alaihimussalam lah yang tidak mungkin jasadnya dimakan oleh tanah karena Allah ta’ala mengharamkannya untuk memakan jasad mereka. Namun, bukan berarti setiap mayat muslim yang jasadnya utuh disamakan seperti Rasul dalam ketaqwaan dan keshalehannya. Tidak ada dalil atau Nash yang menunjukkan demikian. Tidak juga ada unsur untuk meng-qiyas-kan yang demikian itu.. Adakalanya hal itu disebabkan faktor-faktor alam yang menjadikan mayat terawetkan secara alami, sebagaimana halnya mayat yang meninggal di pegunungan es, atau mayat yang dibalsem untuk dijadikan mummi. Kalau ada mayat orang kafir yang masih utuh jasadnya maka tidak lain karena faktor ini.


I. Adab-Adab Terhadap Mayat

  1. Bersabar untuk terus men-talqin-nya yaitu menuntunnya dengan kalimat “Laa ilaaha Illa Allah”. Dalam Hadits Abu Sa’id Al-Hudhri dan Abu Hurairah Nabi Shallahu’alaihi wsallam bersabda ,

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ (رواه مسلم وأبو داود والترمذى والنسائى وابن ماجه)

Talqinlah orang yang akan meninggal di antara kalian dengan “Laa Ilaaha illa Allah(HR. Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

2. Ketika ruhnya terlepas dari jasadnya, segera matanya dipejamkan dan didoakan. Disebutkan di dalam Hadits Ummu Salamah radhiallahu’anhu ,

دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَبِي سَلَمَةَ وَقَدْ شَقَّ بَصَرُهُ فَأَغْمَضَهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الرُّوحَ إِذَا قُبِضَ تَبِعَهُ الْبَصَرُ فَضَجَّ نَاسٌ مِنْ أَهْلِهِ فَقَالَ لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلَّا بِخَيْرٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَبِي سَلَمَةَ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّينَ وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ فِي الْغَابِرِينَ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ (رواه مسلم)

Ketika Abu Salamah meninggal, Rasulullah shallahu’alaihi wasallam datang ke rumah kami untuk menjenguk jenazahnya. Saat itu, mata Abu Salamah tengah terbelalak, maka beliau menutupnya. Kemudian beliau bersabda: “Apabila ruh telah dicabut, maka penglihatan akan mengikutinya” dan keluarganya pun meratap histeris. Maka, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Janganlah sekali-kali mendoakan atas diri kalian kecuali kebaikan, sebab ketika itu Malaikat akan mengaminkan apa yang kalian ucapkan”. Setelah itu, beliau berdoa: “ALLAHUMMAGHFIR LI ABI SALAMAH WARFA’ DARAJATAHU FIL MAHDIYYIIN WAKHLUFHU FI ‘AQIBIHI FIL GHAABIRIIN, W-AGH-FIR LANAA WA LAHU YAA RABBA-L- ‘ALAMIIN, WA-F-SAH LA HU FII QABRIHI WA NAWWIR LAHU FIIHI (Ya Allah, ampunilah Abu Salamah, tinggikan derajatnya di kalangan orang-orang yang terpimpin dengan petunjuk-Mu dan gantilah ia bagi keluarganya yang ditinggalkannya. Ampunilah kami dan ampunilah dia. Wahai Rabb semesta alam. Lapangkanlah kuburnya dan terangilah dia di dalam kuburnya).(HR. Muslim)

3. Menutupkan kain ke seluruh tubuhnya

أنَّ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ حِينَ تُوُفِّيَ سُجِّيَ ببُرْدٍ حِبَرَةٍ (رواه البخارى عن عائشة)

Rasulullah shallahu’alaihi wasallam ketika wafat, beliau ditutupi dengan kain hibarah (kain yang bergaris) (HR. Bukhari dari ‘Aisyah)

4. Menyegerakan pengurusannya mulai dari memandikan hingga memakamkan

أسرِعُوا بالجنازَةِ ، فإنْ تكُ صالِحةً فخيرٌ تُقدِّمُونَها إليه ، وإنْ تَكُ سِوَى ذلكَ فشَرٌّ تَضعونَهُ عن رِقابِكمْ (رواه البخارى ومسلم عن أبى هريرة)

“Bersegerah (di dalam mengurus) jenazah, karena bila jenazah itu dari orang shalih berarti kalian telah mempercepat kebaikan untuknya dan jika tidak, berarti kalian telah menyingkirkan kejelekan dari pundak kalian” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

5. Segera menunaikan hutang-hutangnya dari hartanya meskipun habis keseluruhannya.
Disebutkan di dalam Hadits Jabir radhiallahu ‘anhu ,

تُوفِّيَ رَجُلٌ مِنَّا، فغسَّلْناه، وحنَّطْناه، وكفَّنَّاه، ثم أَتَيْنا به رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فقُلنا: تُصلِّي عليه؟ فخَطا خُطًى، ثم قال: أعليه دَينٌ؟ قلنا: دينارانِ، فانصَرَفَ، فتحَمَّلَهما أبو قَتادَةَ، فقال أبو قَتادَةَ: الدِّنيارانِ عليَّ، فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: حَقُّ الغَريمِ، وبَرِئَ منهما الميِّتُ؟ قال: نَعَمْ، فصلَّى عليه

Ada seorang laki-laki di antara kami meninggal dunia, lalu kami memandikannya, membubuhkan wewangian padanya, dan mengkafaninya. Kemudian kami mendatangi Rasulullah shallahu’alaihi wasallam dan kami tanyakan: Apakah baginda akan menyolatkannya?. Beliau melangkah beberapa langkah kemudian bertanya: “Apakah ia mempunyai hutang?”. Kami menjawab: Dua dinar. Lalu beliau kembali. Maka Abu Qotadah menanggung hutang tersebut. Ketika kami mendatanginya; Abu Qotadah berkata: Dua dinar itu menjadi tanggunganku. Lalu Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Betul-betul engkau tanggung dan mayit itu terbebas darinya.” Ia menjawab: Ya. Maka beliau menyolatkannya. (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Nasa’i) Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Hakim.

J. Niyahah, Perkara yang Diharamkan bagi Keluarga Mayat
Niyahah yaitu meratapi mayat disebabkan sedih yang berlebihan. Disebutkan di dalam Hadits,

أَرْبَعٌ في أُمَّتي مِن أمْرِ الجاهِلِيَّةِ لا يَتْرُكُونَهُنَّ: الفَخْرُ في الأحْسابِ، والطَّعْنُ في الأنْسابِ، والاسْتِسْقاءُ بالنُّجُومِ، والنِّياحَةُ. وقالَ: النَّائِحَةُ إذا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِها، تُقامُ يَومَ القِيامَةِ وعليها سِرْبالٌ مِن قَطِرانٍ، ودِرْعٌ مِن جَرَبٍ.(رواه مسلم عن أبو مالك الأشعري)

“Ada empat perkara jahiliyah yang masih melekat pada umatku dan mereka belum meninggalkannya: Membanggakan kedudukan, mencela nasab (garis keturunan), meminta hujan dengan bintang-bintang, dan niyahah (meratapi mayit).” Dan beliau bersabda: “Orang yang meratapi mayit, jika ia belum bertaubat sebelum ajalnya tiba maka pada hari kiamat ia akan dibangkitkan dengan memakai baju terbuat dari tir dan memakai tameng dari kudis (kulitnya dipenuhi kudis, Pent.).” (HR. Muslim dari Abu Malik al-Asy’ari)
Niyahah bisa berupa:
a. Menampar-nampar pipi, merobek-robek baju, sebagaimana sabda Nabi shallahu’alaihi wasallam,

ليسَ مِنَّا مَن ضَرَبَ الخُدُودَ، أوْ شَقَّ الجُيُوبَ، أوْ دَعا بدَعْوَى الجاهِلِيَّةِ (رواه البخارى ومسلم عن عبدالله بن مسعود)

“Bukan dari golongan kami siapa yang memukul-mukul pipi, merobek-robek baju dan menyeru dengan seruan jahiliyyah (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud).
b. Menggundul rambut kepala.

وَجِعَ أَبُو مُوسَى وجَعًا شَدِيدًا، فَغُشِيَ عليه ورَأْسُهُ في حَجْرِ امْرَأَةٍ مِن أَهْلِهِ، فَلَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَرُدَّ عَلَيْهَا شيئًا، فَلَمَّا أَفَاقَ، قالَ: أَنَا بَرِيءٌ مِمَّنْ بَرِئَ منه رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، إنَّ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: بَرِئَ مِنَ الصَّالِقَةِ والحَالِقَةِ والشَّاقَّةِ (رواه البخارى عن أبى موسى الأشعرى)

“Abu Musa merasakan sakit hingga jatuh pingsan sementara kepalanya menyandar dalam pangkuan seorang wanita dari keluarganya, wanita itu pun berteriak histeris sementara ia (Abu Musa) tidak bisa melakukan apa-apa (karena pingsan). Ketika sadar, maka [Abu Musa] pun berkata, ‘Saya berlepas diri dari tindakan yang mana Rasulullah shallahu’alaihi wasallam berlepas diri darinya. Sesungguhnya Rasulullah shallahu’alaihi wasallam berlepas diri dari wanita yang berteriak-teriak ketika terjadi musibah, dan yang memotong-motong rambut, serta menyobek-nyobek baju.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari)
c. Mengurai rambut

كانَ فيما أخذَ علَينا رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ في المعروفِ الَّذي أخذَ علَينا: أن لا نَعصيَهُ فيهِ أن لا نَخمِشَ وجهًا ولا ندعوَ ويلًا ولا نَشُقَّ جيبًا ولا ننشرَ شَعرًا (رواه أبوداود عن امرأة من المبايعات )

“Diantara yang Rasulullah shallahu’alaihi wasallam wajibkan atas kami dari perkara yang ma’ruf adalah kami tidak bermaksiat kepadanya, dan tidak mencakar wajah, tidak menyerukan kebinasaan, dan tidak merobek saku, serta tidak mengacak-acak rambut(HR. Abu Daud dari seorang wanita yang berbai’at) .

K. Penutup
Semoga tulisan ini bisa menginspirasi kita semua untuk lebih berhati-hati di dalam menjalani kehidupan ini dan lebih banyak memikirkan untuk bekal kematian kita. Sehingga kita mendapatkan ampunan dan rahmat Allah ta’ala. Amin. Alhamdulillahi Robb-l- ‘alamin.

Referensi:

  1. Al-Wajiz fi Fiqhi-s-Sunnah wa-l-Kitabi-l- ‘Aziz oleh Syaikh Dr. Abdul Azhim Badawi
  2. Ushul fi-t-tafsir oleh Syaikh Al-Utsaimin
  3. Tafsir Ath-Thobari
  4. Tafsir Ibnu Katsir
  5. Tafsir As-Sa’di
  6. Tafsir Al Wasith
  7. https://dorar.net/hadith/sharh
  8. Islamweb.net
  9. Islamqa.info
  10. https://midad.com/article/223092/
  11. https://almoslim.net/node/83879
  12. https://khutabaa.com/ar/article
  13. https://al-maktaba.org/book/
  14. https://shamela.ws/book/9953/40

Judul buku : Oh..Kematian?!

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>