kubur – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Mon, 10 Mar 2025 08:39:28 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png kubur – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 PANDUAN PRAKTIS HAJI & UMROH (Bag. 6 Beberapa Masalah Penting) https://nidaulfithrah.com/panduan-praktis-haji-umroh-bag-6-beberapa-masalah-penting/ Mon, 10 Mar 2025 08:39:28 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19727 E. Beberapa Masalah Penting

  • Masalah Mencukur atau Memendekkan Rambut
  1. Untuk lelaki yang utama mencukur keseluruhan rambut alias gundul. Karena Nabi shallahu’alaihi wasallam mendoakan orang yang mencukur gundul tiga kali. Sementara untuk yang memendekkan hanya sekali. Boleh memendekkan saja, misalnya dipendekkan 4 cm secara merata. Disebutkan di dalam Hadits,

رحمَ اللَّهُ المحلِّقينَ قالوا والمقصِّرينَ يا رسولَ اللَّهِ قالَ رحمَ اللَّهُ المحلِّقينَ قالوا والمقصِّرينَ يا رسولَ اللَّهِ قالَ رحمَ اللَّهُ المحلِّقينَ قالوا والمقصِّرينَ يا رسولَ اللَّهِ قالَ والمقصِّرين (رواه البخارى ومسلم عن عبد الله بن عمر)

“Semoga Allah ta’ala merahmati orang-orang yang mencukur rambutnya”. Orang-orang berkata: “Dan juga bagi orang-orang yang hanya memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah?” Beliau tetap berkata: “Semoga Allah Ta’ala merahmati orang-orang yang mencukur rambutnya”. Orang-orang berkata lagi: “Dan juga bagi orang-orang yang hanya memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah?” Beliau tetap berkata: “Semoga Allah, merahmati orang-orang yang mencukur rambutnya”. “Orang-orang berkata lagi: “Dan juga bagi orang-orang yang hanya memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah?” Beliau baru bersabda: “Ya, juga bagi orang-orang yang hanya memendekkan rambutnya” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar)
Ibnu Qudamah rahimahullah di dalam al-Mughni mengatakan: memendekkan atau mencukur haruslah merata pada keseluruhan kepala.
Imam Malik rahimahullah berkata: Bukanlah cara memendekkan rambut bagi seorang lelaki dengan memotong sebagian ujung rambutnya melainkan memendekkannya secara merata. Jadi, tidak sebagaimana wanita.
Adapun untuk wanita dipotong sepanjang satu ruas jari pada seluruh ujung rambutnya. Disebutkan di dalam Hadits Ibnu Abbas,

ليسَ على النِّساءِ حَلقٌ إنَّما على النِّساءِ التَّقصيرُ (رواه أبو داود والدارمى والطبراني)

“Tidaklah bagi wanita mencukur, tetapi baginya adalah memendekkan(HR. Abu Daud, Ad-Darimy dan Ath-Thobroni)

وقال ابن قدامة الحنبلي في المغني: وأي قدر قصَّر منه أجزأه؛ لأن الأمر به مطلق فيتناول الأقل. وقال أحمد: يقصر قدر الأنملة. وهو قول ابن عمر، والشافعي، وإسحاق، وأبي ثور

“Ibnu Qudamah Al-Hanbali mengatakan di dalam kitab Al-Mughni: Memendekkan rambut dengan kadar berapapun diperbolehkan. Karena perintahnya mutlak maka diperbolehkan meski hanya memendekkan sedikit. Imam Ahmad mengatakan dipendekkannya seukuran ruas jari demikian juga pendapat Ibnu Umar, Asy-Syafi’i, Ishaq dan Abu Tsaur
Lakukanlah di tempat tertutup, misalnya di kamar hotel karena rambut wanita itu aurat.
2. Pada umroh yang merupakan rangkaian haji tamattu’ yang afdhal adalah dengan memendekkannya. Karena nanti pada saat haji akan ada potong rambut lagi. Maka, pada saat haji inilah potong rambut dilakukan dengan mencukur atau gundul. Disebutkan di dalam Hadits Ibnu Umar,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم للناس …… ومن لم يَكن منْكم أَهدى فليطف بالبيتِ وبالصَّفا والمروةِ وليقصِّر وليحلل ثمَّ ليُهلَّ بالحجِّ ….. (رواه البخارى ومسلم)

“Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda kepada orang-orang….. Siapa saja di antara kalian yang tidak memiliki hadyu agar thowaf di Baitullah dan sa’i antara Shofa dan Marwah lalu hendaklah memendekkan rambut lalu bertahallul setelah itu berihram untuk haji…. (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:

أن المستحب في حق المتمتع عند حله من عمرته التقصير، ليكون الحلق للحج

“Yang mustahab pada haji tamattu’ ketika tahallul dari umroh adalah dengan memendekkan rambut. Adapun mencukurnya pada saat haji

  • Seputar Kegiatan Selama di Madinah

3. Selama berada di Madinah, sebelum melakukan ihram dari miqotnya yaitu Bir Ali, peribadahan yang bisa dilakukan berupa:
a. Shalat jama’ah di masjid Nabawi.
Pahalanya 1000x lipat dibandingkan shalat di masjid manapun selain Masjidil Haram dan Baitul Maqdis. Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda,

صلاةٌ في مسجدِي هذا خيرٌ من ألفِ صلاةٍ في ما سواه إلا المسجدَ الحرامَ، وصلاةٌ في المسجدِ الحرامِ أفضلُ من مائةِ صلاةٍ في مسجدِي هذا (رواه البخارى ومسلم عن أبى هريرة)

“Shalat di Masjidku ini lebih baik 1000x shalat di masjid manapun selain Masjidil Haram. Dan shalat di masjidil Haram lebih baik 100 x lipat dibandingkan shalat di masjidku ini” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Disebutkan di dalam Hadits Abu Dzar,

أنَّهُ سأل رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليْهِ وسلَّمَ عَن الصَّلاةِ في بَيتِ المقدِسِ أفضلُ أو في مسجِدِ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليْهِ وسلَّمَ فَقالَ صلاةٌ في مسجِدي هذا ، أفضلُ من أربعِ صلواتٍ فيهِ (رواه البيهقى)

“Ia bertanya kepada Rasulullah shallahu’alaihi wasallam tentang shalat di Baitul Maqdis. Apakah ia lebih afdhal ataukah di Masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Beliau menjawab: Shalat di masjidku ini lebih utama dengan 4 kali shalat di sana” (HR. Al-Baihaqi)

b. Shalat di Raudhoh.
Raudhah itu bagian di dalam Masjid Nabawi, space antara rumah Nabi shallahu’alaihi wasallam dan mimbar beliau shallahu’alaihi wasallam. Disebutkan di dalam Hadits,

عَنِ النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، قالَ: ما بيْنَ بَيْتي ومِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِن رِيَاضِ الجَنَّةِ، ومِنْبَرِي علَى حَوْضِي. (رواه البخارى عن أبى هريرة)

Dari Nabi shallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda: Antara rumahku dan minbarku adalah Roudhoh (taman) dari antara Riyadhul Jannah (taman-taman Surga), dan minbarku berada di atas Haudhku(HR. Bukhari dari Abu Hurairah)
Syaikh Abdul Aziz Bin Baz rahimahullah berkata tentang Hadits mengenai Raudhoh: Ini menunjukkan fadhilah Raudhoh, disyareatkan untuk shalat dan berdzikir tetapi tidak menetap di sana ketika datang waktu shalat sehingga tertinggal dari shoff yang di depan.
Di dalam Raudhoh ada dua tiang yang pada keduanya Nabi shallahu’alaihi wasallam biasa menghadap ketika shalat. Yaitu:

Tiang Muhallaqoh dikenal juga dengan tiang Muhajirin karena pembesar mereka biasanya duduk di situ, dikenal juga dengan tiang ‘Aisyah.

Ibnu Hajar berkata: Diriwayatkan dari Aisyah bahwa dia radhiallahu’anha mengatakan:

لو عَرَفها الناس لاضطربوا عليها بالسهام

Jika manusia mengetahui tiang tersebut niscaya mereka akan berebutan untuk mendapatkannya meskipun dengan diundi”
Aisyah merahasiakannya kepada Ibnu Zubair. Maka, dia pun orang yang memperbanyak shalat di situ
” (selesai)
Tiang Taubat. Sebuah tiang yang dulu Abu Lubabah mengikat dirinya di situ hingga Allah ta’ala menerima taubatnya.

c. I’tikaf
Yaitu berdiam diri di dalam masjid untuk fokus taqorrub kepada Allah ta’ala dengan memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, memperbanyak shalat, mudzakaroh ilmu. Demikian juga ketika berada di Makkah. Jika dilakukan di luar masjid yaitu di teras atau space yang merupakan perluasan masjid maka memiliki hukum yang sama sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Imam Asy-Syafi’i rahimahullah.

d. Ziarah kubur
Ziarah kubur ke makam Rasulullah, Abu Bakar, Umar dan pemakaman Baqi (tidak jauh dari Masjid Nabawi). Adapun untuk wanita tidak disunnah untuk ziarah kubur

e. Menghadiri halaqoh ilmu di Masjid Nabawi.
Ada halaqoh bersama para masyayikh. Bagi Anda yang bisa berbahasa Arab bisa istifadah di situ. Ada juga halaqoh bersama seorang Ustadz mahasiswa S3 dari Indonesia biasanya di pintu nomor 19.


f. Shalat di masjid Quba
Jarak dari Masjid Nabawi ke Masjid Quba sekitar 3 km. Keutamaan shalat di masjid tersebut dengan bersuci terlebih dahulu dari rumah atau hotel disebutkan di dalam Hadits berikut ini,

من تطَهَّرَ في بيتِهِ , ثمَّ أتى مسجدَ قباءٍ ، فصلَّى فيهِ صلاةً ، كانَ لَهُ كأجرِ عمرةٍ (رواه ابن ماجه والنسائى وأحمد عن سهل بن حنيف)

Barangsiapa bersuci dari rumahnya lalu mendatangi masjid Quba kemudian shalat di situ maka baginya pahala seperti pahala umroh(HR. Ibnu Majah, An-Nasa’i dan Ahmad dari Sahl bin Hanif)

Judul buku : PANDUAN PRAKTIS HAJI & UMROH Dilengkapi 40 permasalahan penting

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Doa berlindung dari empat perkara https://nidaulfithrah.com/doa-berlindung-dari-empat-perkara/ Thu, 20 Feb 2025 03:56:41 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19690 اللَّهُمَّ إنِّي أعُوذُ بكَ مِن عَذَابِ القَبْرِ، ومِنْ عَذَابِ النَّارِ، ومِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا والمَمَاتِ، ومِنْ فِتْنَةِ المَسِيحِ الدَّجَّالِ. (البخاري حديث: 1377)

“Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur, adzab Neraka, fitnah kehidupan, fitnah kematian, dan fitnah al-masih ad-Dajjal”

Judul buku : 162 DOA DARI AL QUR’AN & HADITS

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Oh..Kematian?! (Nikmat dan Adzab Kubur Bag. 6) https://nidaulfithrah.com/oh-kematian-nikmat-dan-adzab-kubur-bag-6/ Wed, 25 Dec 2024 03:00:34 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19433 G. Nikmat dan Adzab Kubur

Pertama : Keniscayaan nikmat dan adzab Kubur
Nikmat dan adzab kubur adalah haq, benar adanya dan kita harus mengimaninya. Berikut ini dalil-dalil tentangnya;

أن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ قال “المسلمُ إذا سُئِلَ في قبره فشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدًا رسول الله” فذلك قول الله “يُثَبِّتُ اللهُ الذينَ آمنوا بالقَوْلِ الثَّابِتِ في الحياةِ الدُّنْيَا وفي الآخرَةِ). وفي لفظٍ: نزلتْ في عذاب القبر، يُقال له: مَنْ ربك؟ فيقول: الله ربي ومحمد نَبِيِّي، فذلك قول الله: (يُثَبِّتُ اللهُ الذينَ آمنوا بالقولِ الثابتِ في الحياةِ الدنيا وفي الآخرة” (إبراهيم: 27). (رواه البخاري ومسلم وأصحاب السنن)

Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Seorang muslim apabila ditanya di dalam kubur, maka akan bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah. itulah firman Allah yang berbunyi: “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di Akhirat.” (Ibrahiim: 27). Di dalam lafazh lain: Ayat ini turun berkenaan dengan adzab kubur, dikatakan kepadanya: Siapa Tuhanmu? Dia menjawab: Allah Tuhanku dan Muhammad Nabiku. Yang demikian itu sebagaimana firman Allah ta’alaAllah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di Akhirat.” (Ibrahiim: 27) (HR. Bukhari, Muslim dan Ash-habu-s-Sunan)

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْعَبْدُ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَتُوُلِّيَ وَذَهَبَ أَصْحَابُهُ حَتَّى إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ فَأَقْعَدَاهُ فَيَقُولَانِ لَهُ مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُ أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ فَيُقَالُ انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنْ النَّارِ أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنْ الْجَنَّةِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا وَأَمَّا الْكَافِرُ أَوْ الْمُنَافِقُ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ فَيُقَالُ لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَقَةٍ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أُذُنَيْهِ فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ (رواه البخارى ومسلم عن أنس بن مالك)

“Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Jika jenazah sudah diletakkan di dalam kuburnya dan teman-temannya sudah berpaling dan pergi meninggalkannya, dia mendengar gerak langkah sandal sandal mereka, maka akan datang kepadanya dua Malaikat yang keduanya akan mendudukkannya seraya keduanya berkata kepadanya: “Apa yang kamu komentari tentang laki-laki ini, Muhammad shallahu’alaihi wasallam?”. Maka jenazah itu menjawab: “Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya”. Maka dikatakan kepadanya: “Lihatlah tempat dudukmu di Neraka yang Allah telah menggantinya dengan tempat duduk di Surga”. Nabi shallahu’alaihi wasallam selanjutnya berkata,: “Maka dia dapat melihat keduanya”. Adapun (jenazah) orang kafir atau munafiq akan menjawab: “Aku tidak tahu, aku hanya berkata, mengikuti apa yang dikatakan kebanyakan orang”. Maka dikatakan kepadanya: “Kamu tidak mengetahuinya dan tidak mengikuti orang yang mengerti”. Maka kemudian dia dipukul dengan palu godam besar terbuat dari besi diantara kedua telinganya sehingga mengeluarkan suara teriakan yang dapat didengar oleh yang ada di sekitarnya kecuali oleh dua makhluk (jin dan manusia)(HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik).

أن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ مَرَّ بقبور ثم قال: “إن هذه الأمة تُبْتَلَى في قبورها، فلولا ألا تُدافنوا لَدَعَوْتُ الله أن يُسمعكم من عذاب القبر الذي أَسَمَعُ منه” ثم قال: “تَعَوَّذُوا بالله من عذاب القبر” (رواه مسلم)

“Nabi shallahu’alaihi wasallam melewati kuburan, beliau bersabda: Sesungguhnya ummat ini akan diuji di kuburnya. Seandainya kalian tidak saling menguburkan niscaya saya akan berdoa kepada Allah ta’ala agar memperdengarkan kepada kalian adzab kubur sebagaimana yang saya dengar. Lalu beliau bersabda: Berlindunglah kalian dari adzab kubur” (HR. Muslim)

كانَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذَا صَلَّى صَلَاةً أقْبَلَ عَلَيْنَا بوَجْهِهِ فَقالَ: مَن رَأَى مِنْكُمُ اللَّيْلَةَ رُؤْيَا؟ قالَ: فإنْ رَأَى أحَدٌ قَصَّهَا، فيَقولُ: ما شَاءَ اللَّهُ فَسَأَلَنَا يَوْمًا فَقالَ: هلْ رَأَى أحَدٌ مِنكُم رُؤْيَا؟ قُلْنَا: لَا، قالَ: لَكِنِّي رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ رَجُلَيْنِ أتَيَانِي فأخَذَا بيَدِي، فأخْرَجَانِي إلى الأرْضِ المُقَدَّسَةِ، فَإِذَا رَجُلٌ جَالِسٌ، ورَجُلٌ قَائِمٌ، بيَدِهِ كَلُّوبٌ مِن حَدِيدٍ قالَ بَعْضُ أصْحَابِنَا عن مُوسَى: إنَّه يُدْخِلُ ذلكَ الكَلُّوبَ في شِدْقِهِ حتَّى يَبْلُغَ قَفَاهُ، ثُمَّ يَفْعَلُ بشِدْقِهِ الآخَرِ مِثْلَ ذلكَ، ويَلْتَئِمُ شِدْقُهُ هذا، فَيَعُودُ فَيَصْنَعُ مِثْلَهُ، قُلتُ: ما هذا؟ قالَا: انْطَلِقْ، فَانْطَلَقْنَا حتَّى أتَيْنَا علَى رَجُلٍ مُضْطَجِعٍ علَى قَفَاهُ ورَجُلٌ قَائِمٌ علَى رَأْسِهِ بفِهْرٍ – أوْ صَخْرَةٍ – فَيَشْدَخُ به رَأْسَهُ، فَإِذَا ضَرَبَهُ تَدَهْدَهَ الحَجَرُ، فَانْطَلَقَ إلَيْهِ لِيَأْخُذَهُ، فلا يَرْجِعُ إلى هذا حتَّى يَلْتَئِمَ رَأْسُهُ وعَادَ رَأْسُهُ كما هُوَ، فَعَادَ إلَيْهِ، فَضَرَبَهُ، قُلتُ: مَن هذا؟ قالَا: انْطَلِقْ فَانْطَلَقْنَا إلى ثَقْبٍ مِثْلِ التَّنُّورِ، أعْلَاهُ ضَيِّقٌ وأَسْفَلُهُ واسِعٌ يَتَوَقَّدُ تَحْتَهُ نَارًا، فَإِذَا اقْتَرَبَ ارْتَفَعُوا حتَّى كَادَ أنْ يَخْرُجُوا، فَإِذَا خَمَدَتْ رَجَعُوا فِيهَا، وفيهَا رِجَالٌ ونِسَاءٌ عُرَاةٌ، فَقُلتُ: مَن هذا؟ قالَا: انْطَلِقْ، فَانْطَلَقْنَا حتَّى أتَيْنَا علَى نَهَرٍ مِن دَمٍ فيه رَجُلٌ قَائِمٌ علَى وسَطِ النَّهَرِ – قالَ يَزِيدُ، ووَهْبُ بنُ جَرِيرٍ: عن جَرِيرِ بنِ حَازِمٍ – وعلَى شَطِّ النَّهَرِ رَجُلٌ بيْنَ يَدَيْهِ حِجَارَةٌ، فأقْبَلَ الرَّجُلُ الذي في النَّهَرِ، فَإِذَا أرَادَ أنْ يَخْرُجَ رَمَى الرَّجُلُ بحَجَرٍ في فِيهِ، فَرَدَّهُ حَيْثُ كَانَ، فَجَعَلَ كُلَّما جَاءَ لِيَخْرُجَ رَمَى في فيه بحَجَرٍ، فَيَرْجِعُ كما كَانَ، فَقُلتُ: ما هذا؟ قالَا: انْطَلِقْ، فَانْطَلَقْنَا حتَّى انْتَهَيْنَا إلى رَوْضَةٍ خَضْرَاءَ، فِيهَا شَجَرَةٌ عَظِيمَةٌ، وفي أصْلِهَا شيخٌ وصِبْيَانٌ، وإذَا رَجُلٌ قَرِيبٌ مِنَ الشَّجَرَةِ بيْنَ يَدَيْهِ نَارٌ يُوقِدُهَا، فَصَعِدَا بي في الشَّجَرَةِ، وأَدْخَلَانِي دَارًا لَمْ أرَ قَطُّ أحْسَنَ منها، فِيهَا رِجَالٌ شُيُوخٌ وشَبَابٌ، ونِسَاءٌ، وصِبْيَانٌ، ثُمَّ أخْرَجَانِي منها فَصَعِدَا بي الشَّجَرَةَ، فأدْخَلَانِي دَارًا هي أحْسَنُ وأَفْضَلُ فِيهَا شُيُوخٌ، وشَبَابٌ، قُلتُ: طَوَّفْتُمَانِي اللَّيْلَةَ، فأخْبِرَانِي عَمَّا رَأَيْتُ، قالَا: نَعَمْ، أمَّا الذي رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ، فَكَذَّابٌ يُحَدِّثُ بالكَذْبَةِ، فَتُحْمَلُ عنْه حتَّى تَبْلُغَ الآفَاقَ، فيُصْنَعُ به إلى يَومِ القِيَامَةِ، والذي رَأَيْتَهُ يُشْدَخُ رَأْسُهُ، فَرَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَنَامَ عنْه باللَّيْلِ ولَمْ يَعْمَلْ فيه بالنَّهَارِ، يُفْعَلُ به إلى يَومِ القِيَامَةِ، والذي رَأَيْتَهُ في الثَّقْبِ فَهُمُ الزُّنَاةُ، والذي رَأَيْتَهُ في النَّهَرِ آكِلُوا الرِّبَا، والشَّيْخُ في أصْلِ الشَّجَرَةِ إبْرَاهِيمُ عليه السَّلَامُ، والصِّبْيَانُ، حَوْلَهُ، فأوْلَادُ النَّاسِ والذي يُوقِدُ النَّارَ مَالِكٌ خَازِنُ النَّارِ، والدَّارُ الأُولَى الَّتي دَخَلْتَ دَارُ عَامَّةِ المُؤْمِنِينَ، وأَمَّا هذِه الدَّارُ فَدَارُ الشُّهَدَاءِ، وأَنَا جِبْرِيلُ، وهذا مِيكَائِيلُ، فَارْفَعْ رَأْسَكَ، فَرَفَعْتُ رَأْسِي، فَإِذَا فَوْقِي مِثْلُ السَّحَابِ، قالَا: ذَاكَ مَنْزِلُكَ، قُلتُ: دَعَانِي أدْخُلْ مَنْزِلِي، قالَا: إنَّه بَقِيَ لكَ عُمُرٌ لَمْ تَسْتَكْمِلْهُ فَلَوِ اسْتَكْمَلْتَ أتَيْتَ مَنْزِلَكَ (رواه البخاري عن سمرة بن جندب)

“Nabi shallahu’alaihi wasallam jika seusai sholat, beliau menghadapkan wajah beliau kepada kami seraya bersabda: “Siapakah di antara kalian yang melihat suatu mimpi tadi malam?” Jika ada seseorang melihatnya, dia akan bercerita, lalu Nabi mentakwilkannya sesuai dengan kehendak Allah. Lalu pada suatu hari beliau bertanya pada kami: “Siapakah di antara kalian yang melihat suatu mimpi tadi malam?” kami menjawab: “Tidak ada.” Beliau bersabda: “Tapi aku tadi malam melihat dalam mimpi ada dua orang yang mendatangiku seraya mengambil tanganku lalu mengeluarkan aku dari tanah suci. Tiba-tiba saja ada seseorang yang duduk, dan yang lainnya berdiri sambil membawa cakar besi di tangannya. Dia memasukkan cakar besi tadi ke dalam tepi mulutnya lalu menariknya hingga mencapai tengkuknya. Lalu dia berbuat seperti itu pada sisi mulut yang lain. Lalu tepi mulut yang robek tadi mengatup kembali, dan selanjutnya dirobek lagi seperti sebelumnya. Aku bertanya: “Apa ini?” Keduanya berkata: “Berangkatlah” maka kamipun berangkat lagi hingga kami mendatangi seseorang yang sedang berbaring di atas tengkuknya, dan yang lainnya berdiri di kepalanya dengan membawa batu pemukul atau batu karang, lalu dipergunakannya batu tadi untuk memecahkan kepalanya, setelah batu itu dipukulkan, batu tadi menggelinding, maka orang tadi beranjak mengejar batu tadi untuk mengambilnya. Belumlah dia kembali ke orang yang berbaring tadi, tetapi kepala orang itu mengatup dan kembali seperti semula. Lalu orang itu kembali kepadanya, seraya memukulnya lagi. Aku bertanya: “Apa ini?” Keduanya berkata: “Berangkatlah” maka kamipun berangkat lagi hingga kami mendatangi lubang seperti tungku, atasnya sempit, dan bagian bawahnya luas, di bawahnya ada api yang dinyalakan. Jika mendekati permukaan tungku, orang-orang (yang di dalamya) terbawa naik sampai hampir mau keluar darinya, tapi jika apinya padam, mereka kembali ke dalam. Mereka para pria dan wanita yang telanjang. Aku bertanya: “Apa ini?” Keduanya berkata: “Berangkatlah” maka kamipun berangkat lagi hingga kami mendatangi sungai darah yang terdapat orang di dalamnya. Di tengah sungai –atau berkata:- di tepi sungai ada orang yang di hadapannya ada bebatuan. Maka orang yang di sungai itu menuju ke arahnya, jika orang itu ingin keluar dari sungai, orang yang ini melemparinya dengan batu ke mulutnya sehingga mengembalikannya ke tempatnya semula. Dan demikian seterusnya, setiap kali orang tersebut hendak keluar, orang tadi melempari dengan batu pada mulutnya hingga mengembalikannya ke tempatnya semula. Aku bertanya: “Apa ini?” Keduanya berkata: “Berangkatlah” maka kamipun berangkat lagi hingga kami tiba di sebuah kebun yang hijau yang di dalamnya ada pohon besar, dan di pangkal pohon tadi ada seorang syaikh (tua) dan anak-anak kecil, tiba-tiba saja ada orang di dekat pohon itu, yang di depannya ada api yang dinyalakannya. Lalu dua orang ini membawaku naik di pohon itu lalu memasukkan aku ke sebuah rumah yang belum pernah aku lihat ada rumah yang lebih bagus darinya. Di dalamnya ada orang-orang tua, anak-anak muda, para perempuan dan anak-anak kecil. Lalu keduanya mengeluarkan aku dari rumah itu, membawaku naik lagi ke pohon itu lalu memasukkan aku ke sebuah rumah yang lebih bagus dan lebih mulia. Di dalamnya ada orang-orang tua dan anak-anak muda. Aku berkata: kalian berdua telah membawaku berkeliling malam ini, maka kabarilah aku tentang apa yang aku lihat. Keduanya menjawab: “Iya. Adapun orang yang kau lihat ujung mulutnya dirobek, maka dia itu adalah pembohong besar yang berbicara dengan kedustaan, lalu kedustaan itu dibawa darinya hingga mencapai ufuk-ufuk. Maka dia disiksa seperti itu sampai hari Kiamat. Dan orang yang engkau lihat kepalanya dipecahkan, dia adalah orang yang Allah ta’ala telah mengajarinya Al Qur’an, lalu dia tidur meninggalkannya di malam hari dan tidak mengamalkannya di siang hari. Maka dia disiksa seperti itu sampai hari Kiamat. Dan yang engkau lihat berada di dalam lubang tadi, mereka itu adalah para pezina. Dan orang yang engkau lihat ada di sungai, dia itu pemakan riba. Dan orang tua yang engkau lihat ada di pangkal pohon tadi, dia adalah Ibrohim alaihissalam . dan anak-anak yang di sekitarnya adalah anak-anak manusia. Dan orang yang menyalakan api tadi adalah Malik penjaga Neraka. Rumah yang pertama yang engkau masuki adalah rumah keumuman orang yang beriman. Adapun rumah yang kedua adalah rumah para syuhada. Dan aku adalah Jibril, dan ini Mikail. Angkatlah kepalamu.” Maka aku mengangkat kepalaku, ternyata di atasku ada seperti awan. Keduanya berkata: “Itu adalah tempat tinggalmu.” Aku berkata: “Biarkanlah aku memasuki tempat tinggalku.” Keduanya berkata: “Masih tersisa untukmu umur yang belum engkau selesaikan. Jika engkau telah menyelesaikannya, engkau akan mendatangi tempat tinggalmu.(HR. Bukhari )

أن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ قال في سعد بن معاذ “هذا الذي تَحَرَّكَ له العرش وفُتحتْ له أبواب السماء، وشَهده سبعون ألفًا من الملائكة، لقد ضُمَّ ـ هي ضَمَّةُ القبر ـ ثم فُرِجَ عنه”( رواه البخاري ومسلم)

“Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda mengenai Sa’ad bin Mu’adz: Ini orang yang ‘Arsy bergetar karenanya, dibukakan baginya pintu-pintu langit, dan disaksikan oleh tujuh puluh ribu Malaikat. Dia telah dihimpit oleh kubur lalu dilapangkan darinya(HR. Bukhari dan Muslim)

أن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ مَرَّ بقبرينِ فقال: “إنهما يُعذَّبانِ وما يُعذبان في كبير، بلى إنه كبير، أما أحدهما فكان يمشي بالنميمة وأما الآخر فكان لا يَستترُ من بوله”( رواه البخاري ومسلم)

“Nabi shallahu’alaihi wasallam melewati dua makam, lalu bersabda: Kedua (penghuni)nya lagi diadzab. Keduanya tidak diadzab karena urusan besar. Iya, tetapi ia besar. Salah satunya berbuat adu domba, Adapun satunya lagi tidak menjaga diri dari kencing” (HR. Bukhari dan Muslim)

النارُ يُعْرَضُونَ عليها غُدُّوًا وَعَشِيًّا ويومَ تَقُومُ الساعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ العذابِ ( غافر: 46)

Kepada mereka ditampakkan Neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada Malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras (QS. Ghofir:46)
“ditampakkan Neraka pada pagi dan petang” maksudnya adalah sebelum terjadinya hari Kiamat. Jelaslah itu di alam barzah.

Kedua : Nikmat dan adzab kubur langgeng?
Disebutkan di dalam Syarh al-‘Aqidah ath-Thohawiyyah” li-b-ni Abi-l-‘Iz: Apakah adzab kubur itu langgeng atau tidak langgeng (terputus)? Jawabannya ada dua macam; ada yang langgeng dan ada yang terputus. Pertama yaitu jenis yang langgeng sebagaimana firman Allah ta’ala,

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

Kepada mereka ditampakkan Neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada Malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras” (QS. Ghafir: 46)
Demikian juga dalam Hadits Ibnu ‘Azib tentang kisah orang Kafir “….lalu dibukakan baginya pintu menuju Neraka maka dia melihat tempat duduknya di dalamnya hingga hari Kiamat” (HR. Ahmad).
Jenis yang kedua: Adzab berlangsung sampai waktu tertentu lalu terputus. Yaitu, adzab untuk pelaku maksiat yang dosanya ringan, dia diadzab sesuai kadar dosanya lalu dihentikan [selesai].
Ibnul Qoyyim juga mengatakan yang kurang lebihnya berikut ini: Apakah adzab kubur langgeng atau tidak? Jawabannya ada dua macam; langgeng dan tidak langgeng. Yang tidak langgeng, sebagaimana dijumpai di dalam Hadits bahwa adzabnya diringankan dan dihentikan. Ketika mereka bangkit dari kuburnya, mengatakan:

يَا وَيْلَنَا مَن بَعَثَنَا مِن مَّرْقَدِنَا هَذَا (يس: 52)

“Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?” (QS. Yasin: 52)
Adapun yang langgeng, sebagaimana firman Allah ta’ala,

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

Kepada mereka ditampakkan Neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada Malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras” (QS. Ghafir: 46).
Dalil lainnya sebagaimana disebutkan di di dalam Hadits Samuroh yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari,

أمَّا الذي رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ، فَكَذَّابٌ يُحَدِّثُ بالكَذْبَةِ، فَتُحْمَلُ عنْه حتَّى تَبْلُغَ الآفَاقَ، فيُصْنَعُ به إلى يَومِ القِيَامَةِ، والذي رَأَيْتَهُ يُشْدَخُ رَأْسُهُ، فَرَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَنَامَ عنْه باللَّيْلِ ولَمْ يَعْمَلْ فيه بالنَّهَارِ، يُفْعَلُ به إلى يَومِ القِيَامَةِ،

Adapun orang yang kau lihat ujung mulutnya dirobek, maka dia itu adalah pembohong besar yang berbicara dengan kedustaan, lalu kedustaan itu dibawa darinya hingga mencapai ufuk-ufuk. Maka dia disiksa seperti itu sampai hari Kiamat. Dan orang yang engkau lihat kepalanya dipecahkan, maka dia adalah orang yang Allah ta’ala telah mengajarinya Al Qur’an, lalu dia tidur meninggalkannya di malam hari dan tidak mengamalkannya di siang hari. Maka dia disiksa seperti itu sampai hari Kiamat.
Juga Hadits Ibnu Abbas radhiallahu’anhu tentang dua penghuni kubur yang sedang diadzab lalu adzabnya diringankan dengan pelepah kurma yang ditancapkan oleh Rasulullah shallahu’alaihi wasallam pada kedua makamnya. Dirigankannya adzab di sini dikaitkan dengan pelepah kurma selama masih basah.
Hadits lainnya riwayat Al-Bazzar dari Abu Hurairah,

ثمَّ أَتَى عَلَى قَوْمٍ تُرضَخ رُءُوسُهُمْ بِالصَّخْرِ، كُلَّمَا رُضخت عَادَتْ كَمَا كَانَتْ، وَلَا يُفَتَّرُ عَنْهُمْ مِنْ ذَلِكَ شَيْءٌ، فَقَالَ: “مَا هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ؟ ” قَالَ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ تَتَثَاقَلُ رُءُوسُهُمْ عَنِ الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ

….Nabi menghampiri suatu kaum yang membentur-benturkan kepala dengan batu besar, setiap kali hancur kembalilah kepala mereka itu seperti sedia kala, dan hal itu berlangsung terus menerus tidak henti-hentinya. Nabi bertanya kepada Jibril yang kemudian dijawabnya : Mereka adalah orang-orang yang terasa berat kepalanya ketika hendak melakukan shalat wajib…….
Hadits lain,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَمَا رَجُلٌ يَتَبَخْتَرُ يَمْشِي فِي بُرْدَيْهِ قَدْ أَعْجَبَتْهُ نَفْسُهُ فَخَسَفَ اللَّهُ بِهِ الْأَرْضَ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِيهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ (رواه مسلم)

“Dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Dahulu ketika ada seseorang yang berjalan dan ia merasa bangga dengan mantelnya yang indah, tiba-tiba bumi beserta isinya ditenggelamkan, dan diapun ikut terbenam ke dalam perut bumi sembari meronta-ronta hingga hari Kiamat nanti (HR.Muslim)
Dalam Hadits lain tentang orang kafir di alam barzakh,

ثم يُفتَحُ له بابٌ من نارٍ فينظرُ إلى مقعدِه منها حتى تقومَ الساعةُ (رواه أحمد عن البراء بن عازب)

… kemudian dibukakan baginya pintu menuju Neraka, maka dia pun melihat tempa duduknyai di Neraka hingga hari Kiamat (HR. Ahmad dari Albaro bin ‘Azib)

Ketiga : Nikmat dan adzab kubur terjadi pada ruh atau jasad?
Asal dari nikmat atau adzab kubur adalah pada ruh. Terkadang juga pada ruh dan jasad sekaligus. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahimahullah berkata: Ketahuilah, madzhab salaful ummah dan para imamnya adalah bahwa orang yang telah meninggal dunia berada dalam nikmat atau adzab kubur. Itu terjadi pada ruh dan jasadnya. Ruh kekal setelah berlepas dari jasad dalam keadaan mendapatkan kenikmatan atau adzab. Kadang-kadang ia bersambung ke jasad. Maka, ruhnya pun merasakan nikmat atau siksa bersamaan dengan jasad. Adapun pada hari Kiamat nanti ruh akan kembali ke jasad untuk bangkit dari kuburnya menghadap Allah ta’ala Tuhan semesta alam [sesesai].
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya apakah adzab kubur itu pada jasad ataukah pada ruh? Beliau menjawab: Yang asal itu terjadi pada ruh. Karena hukum setelah kematian itu berkaitan dengan ruh. Karena jasad telah mati. Untuk itu jasad tidak butuh untuk dikekalkan di mana ia tidak makan dan tidak minum lagi. Bahkan ia dimakan oleh blatung. Jadi, asalnya itu pada ruh, tetapi Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah telah menjelaskan bahwa terkadang terjadi juga pada keduanya. Untuk itu para ulama mengatakan bahwa ruh terkadang bersambung ke jasad sehingga adzab terjadi pada keduanya. Bisa jadi landasan mereka adalah Hadits,

ويضيَّقُ عليْهِ قبرُهُ حتَّى تختلِفَ فيهِ أضلاعُهُ

“Sesungguhnya kubur disempitkan untuknya (orang kafir) sehingga tulang rusuknya bersilangan” (HR. Abu Daud dari Albaro bin ‘Azib)
Ini menunjukkan adzab bisa terjadi pada jasad, karena tulang rusuk itu dzat badan [selesai].

Judul buku : Oh..Kematian?!

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Oh..Kematian?! (Himpitan Kubur Bag. 5) https://nidaulfithrah.com/oh-kematian-himpitan-kubur-bag-5/ Mon, 23 Dec 2024 07:03:51 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19415 F. Himpitan Kubur
Pertama : Himpitan kubur itu benar adanya.
Himpitan kubur adalah awal perkara yang dijumpai mayat di alam barzah. Banyak nash-nash shorih dan shohih dari Nabi shallahu ‘alaihi wasallam tentangnya. Diantaranya:
a. Dalil pertama:

عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال :إِنَّ لِلْقَبْرِ ضَغْطَةً وَلَوْ كَانَ أَحَدٌ نَاجِيًا مِنْهَا نَجَا مِنْهَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ )رواه أحمد (6/55 ،98) ، قال العراقي في “ تخريج الإحياء “ (5/259) : إسناده جيد . وقال الذهبي في “ السير “ (1/291) : إسناده قوي . وقال الألباني في “ السلسلة الصحيحة “ (1695) : “ وجملة القول أن الحديث بمجموع طرقه وشواهده صحيح بلا ريب “ انتهى. وصححه محققو مسند أحمد في طبعة مؤسسة الرسالة (40/327)

“Dari ‘Aisyah radhiallahu’anha bahwa Nabi shallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Pada kubur ada himpitan, kalau ada seseorang yang selamat darinya niscaya Sa’ad bin Mu’ad telah selamat” (HR. Imam Ahmad 6/55. 98).
Al-’Iroqi berkata di dalam “Takhrijul Ihya” 5/259: Isnadnya jayyid. Adz-Dzahabi berkata di dalam “Siyar” 1/291: Isnadnya qowiyy. Al-Albani berkata di dalam “As-Silsilah ash-Shohihah” 165: Seluruh pendapat menyatakan Hadits tersebut dengan seluruh jalannya dan syawahidnya shohih tanpa diragukan [selesai]
b. Dalil kedua

عن ابن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال عن سعد بن معاذ رضي الله عنه حين توفي :هَذَا الَّذِي تَحَرَّكَ لَهُ الْعَرْشُ وَفُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَشَهِدَهُ سَبْعُونَ أَلْفًا مِنْ الْمَلَائِكَةِ لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ فُرِّجَ عَنْهُ ] )رواه النسائي في “ السنن “ (2055) (4/100)[ وسكت عنه ، وبوب عليه بقوله : “ ضمة القبر وضغطته “، وصححه الألباني في “ صحيح النسائي “

Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang Sa’ad bin Mu’adz radhiallahu’anhu ketika wafatnya: “Ini orang yang ‘Arsy berguncang karenanya, pintu-pintu langit dibuka untuknya, dan telah dipersaksikan tujuh puluh ribu Malaikat, tapi masih mengalami himpitan kubur yang kemudian dilapangkan baginya(HR. An-Nasa’i di dalam “As-Sunan” 2055, 4/100) , dia tidak berkomentar tentangnya, dan menyebutkan di dalam penyusunan bab-babnya dengan “Bab Himpitan Qubur”. Di-shahih-kan oleh Al-Albani di dalam “Shohih An-Nasa’i
c. Dalil ketiga

عن أبي أيوب رضي الله عنه : أن صبيًا دُفنَ ، فقالَ صلى الله عليه وسلم :لَوْ أَفْلَتَ أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ القَبْرِ لَأَفْلَتَ هَذَا الصَبِيُّ ).رواه الطبراني “ المعجم الكبير “ (4/121) وصحح الحافظ ابن حجر نحوه في “ المطالب العالية “ (13/44)، وصححه الهيثمي في “ مجمع الزوائد “ (3/47) ، والألباني في “ السلسلة الصحيحة “ (رقم/2164)

Dari Abu Ayyub radhiallahua’hu bahwa ada bayi dimakamkan. Nabi shallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jika ada orang yang selamat dari himpitan kubur niscaya bayi ini selamat(HR Ath-Thobroni di dalam “al-Mu’jam al-Kabir” 4/121). Al-Hafizh Ibnu Hajar men-shahih-kannya di dalam “al-Matholib al-‘aliyah” 13/44. Al-Haitsami men-shahih-kannya di dalam “Majma’ az-Zawaid 3/47 dan Al-Albani di dalam “As-Silsilah ash-Shohihah” no. 2164.
Al-Qurthubi menyebutkan di dalam “At-Tadzkiroh fi Ahwaali-l-Mawta wa Umuri-l- Akhiroh” Hal. 323 pada Bab “Himpitan Kubur pada penghuninya meskipun Orang Sholeh”. Juga pada nash-nash lain dalam tema yang sama tetapi kebanyakannya dho’if dan munkar. Sebagaimana Ibnu-l-Ajur mengeluarkan di dalam “Al-Mawdhu’at” 3/231 sebagian besarnya dengan judul HIMPITAN KUBUR. Yang kami sebutkan dari Hadits-Hadits shohih sudah mencukupi. In sya-a Allah.
Kedua : Apakah orang mukmin mengalami himpitan kubur?
Ahli ilmu berbeda pendapat berkenanaan dengan seorang mukmin. Apakah ia mengalami himpitan kubur? Dan, bagaimanakah keadaannya? Ada dua pendapat:
Pendapat pertama: Himpitan kubur menimpa setiap mukmin dan dirasakan berat baginya. Namun, bagi orang mukmin yang sholeh cepat terbebas darinya dan dilapangkan kuburnya. Adzab ini tidak berkepanjangan baginya. Adapun orang fasik himpitan sangat dahsyat dirasakannya. Menyempitnya lahat memakan waktu yang lama sesuai dosa dan maksiatnya.
Abu-l-Qosim as-Sa’di rahimahullah berkata: Tidak akan selamat dari himpitan kubur orang tholih juga orang sholihnya. Bedanya antara muslim dan kafir adalah orang kafir terus-menerus, sementara orang muslim mengalaminya hanya ketika awal diturunkan ke liang lahat kemudian kembali mendapatkan kelapangan [selesai].
Al-Hakim at-Tirmidzi rahimahullah berkata: Himpitan ini disebabkan tidak lain setiap orang itu berbuat dosa, maka himpitan akan dirasakannya sebagai balasannya lalu dia akan merasakan rahmat [selesai]. Dinukil dari “Hasyiah as-Suyuthi ‘ala “Sunan an-Nasa’i” 3/292. Ar-Romli menukilnya di dalam “Fatawa” nya 4/210.
Pendapat kedua: Orang mukmin yang shalih juga mengalami himpitan kubur, tetapi ia himpitan sayang dan kelembutan. Tidak terdapat padanya sakit dan penderitaan. Adapun orang muslim yang bermaksiat, himpitan keras kemurkaan sangat dirasakan sesuai banyaknya dosa dan buruknya amalan mereka.
Dari Muhammad At-Taimiy rahimahullah, ia berkata: Dikatakan, Sesungguhnya himpitan kubur sejatinya ia itu ibu mereka. Darinya mereka diciptakan. Mereka telah raib dalam waktu yang lama. Ketika kembali ke sang Ibu, maka ia mendekapnya dengan dekapan kasih sayang, dekapan kerinduan terhadap anak-anaknya yang menghilang lalu datang kembali. Barangsiapa di antara mereka yang taat kepada Allah ta’ala maka akan didekapnya dengan kelembutan. Barangsiapa bermaksiat kepada Allah ta’ala maka akan didekapnya dengan dekapan kemurkaan (Imam As-Suyuthi menyebutkannya di dalam Hasyiah atas “Sunan An-Nasa’i 3/292 dari riwayat Ibnu Abi-d-Dunya. Dia menyebutnya di dalam “Busyro-l-Kaib bi liqoo-i-l- Habib”, Hal. 5 Bab: “Dzikru Takhfifi dhimmati-l-qobr ‘ala-l-mu’min”)
Ada Hadits marfu’ yang meriwayatkan secara makna dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, dia berkata:

يا رسول الله إنك منذ حدثتني بصوت منكر ونكير وضغطة القبر ليس ينفعني شيء ؟ قال: “يا عائشة إن أصوات منكر في أسماع المؤمنين كالإثمد في العين ، وإن ضغطة القبر على المؤمن كالأم الشفيقة يشكو إليها ابنها الصداع فتغمز رأسه غمزا رفيقا ، ولكن يا عائشة ويل للشاكين في الله كيف يُضغطون في قبورهم كضغطة البيضة على الصخرة ](رواه البيهقي في “ إثبات عذاب القبر “ (ص/85، رقم/116)[، والديلمي في “ مسند الفردوس “ (رقم/3776)، وفي سنده الحسن بن أبي جعفر وعلي بن زيد بن جدعان ضعيفان . فهو حديث ضعيف . وقد عزاه بعضهم لابن منده وابن النجار ولم أقف عليه

Ya Rasulullah! Sesungguhnya sejak hari Engkau memberitahuku tentang suara Munkar dan Nakir dan himpitan kubur, saya belum paham. Beliau bersabda: Ya ‘Aisyah! Sesungguhnya Munkar dan Nakir pada pendengaran orang mukmin itu seperti itsmid pada mata. Adapun himpitan kubur pada mukmin itu seperti Ibu yang anak mengeluhkan sakit kepala kepadanya, ia pun menganggukkan kepala dengan lembut. Wahai ‘Aisyah! Celakalah orang-orang yang ragu-ragu akan Tuhannya betapa mereka akan dihimpit oleh kubur seperti telor yang ditekan di atas batu (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di dalam “Itsbat ‘adzabi-l-qobr” (Hal. 85, No. 116), Ad-Dailami di dalam “Musnad Al-Firdaus” no. 3776, di dalam sanad-nya terdapat al-Hasan bin Abi Ja’far dan ‘Ali bin Zaid bin Jad’an. Keduanya lemah. Ini Hadits dho’if. Sebagian mereka menisbatkannya kepada Ibnu Mandah dan Ibnu an-Najjar
Al-Hafizh Adz-Dzahabi rahimahullah berkata: “Himpitan ini bukan adzab kubur. Tetapi, ia adalah perkara yang seorang mukmin menjumpainya sebagaimana sakit atas kehilangan anak dan teman karibnya di dunia. Sakit dari suatu penyakit. Sakit ketika terlepasnya ruh. Sakit karena keberadanya di kubur dan adanya ujian yang dihadapinya. Sakit akibat pengaruh dari tangisan keluarganya. Sakit ketika bangkit dari kuburnya. Sakit dari berdiri (di mahsyar, Pent.) dan kengerian yang mencekam. Sakit ketika mendatangi Neraka dan semacamnya. Kegoncangan-kegoncangan ini semua orang mendapatinya. Ia bukan adzab kubur. Juga bukan bagian dari adzab Jahannam. Tetapi seorang hamba menjumpainya pada sebagiannya atau keseluruhannya dengan kelembutan dari Allah ta’ala. Tidak ada rehat bagi mukmin hingga bertemu dengan Tuhannya. Allah ta’ala berfirman,

وَأَنذِرْهُمْ يَوْمَ ٱلْحَسْرَةِ

“Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan (QS. Maryam:39)

وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْآزِفَةِ إِذِ الْقُلُوبُ لَدَى الْحَنَاجِرِ كَاظِمِينَ(غافر: 18)

Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari Kiamat yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan (QS. Ghofir: 18)
Kita memohon ampunan dan kelembutan yang tersembunyi kepada Allah ta’ala. Ketika terjadi kegundahan-kegundahan pada diri kita (berkenaan himpitan kubur ini, Pent.), maka ketahuilah Sa’ad bin Mu’adz yang diketahui sebagai ahli Surga, syahid yang tertinggi dan telah meraih kemenangan masih merasakan kengerian, ketakutan,dan rasa sakit!!! Lalu bagaimana dengan kita?! Mintalah keselamatan kepada Tuhan kalian, dan semoga Dia ta’ala mengumpulkan kita bersama golongan Sa’ad bin Mu’adz [selesai]. “Siyar A’lami-n-Nubala” 1/290-292.
Syaikh An-Nafrawi al-Maliki berkata: Himpitan kubur adalah perkara yang pasti terjadi. Meskipun keadaannya berbeda-beda antara satu orang dengan yang lainnya [selesai]. “Al-Fawakih ad-Dawani” 2/688.
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata: Hadits ini, yaitu tentang dihimpitnya Sa’ad bin Mu’adz dalam kubur adalah masyhur di kalangan para ulama. Seandainya Hadits itu shahih, maka himpitan kubur bagi mukmin adalah himpitan rahmat dan kelembutan seperti seorang Ibu yang memeluk anaknya ke dadanya. Adapun bagi orang kafir, maka ia merupakan himpitan siksa. Wa-l-‘iyaadzu billah. Nabi shallahu ‘alaihi wasallam memberitahukan bahwa manusia ketika dikuburkan datanglah dua Malaikat yang akan bertanya tentang tiga perkara: Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Dan siapa Nabimu? Orang mukmin akan menjawab: Tuhanku Allah, agamaku Islam dan Nabiku Muhammad. Saya memohon kepada Allah ta’ala semoga menjadikan jawabanku dan jawaban kalian seperti ini. Adapun orang munafik atau murtad – semoga Allah ta’ala melindungi kami dan kalian semua – akan menjawab: Haa… haa.. saya tidak tahu. Saya mendengar orang-orang mengatakannya maka akupun mengatakannya. Lalu, kubur menghimpitnya hingga tulang-tulang rusuknya bersilangan carut-marut. Wa-l-‘iyaadzu billah. Jadi, berbeda antara himpitan kubur bagi kafir atau murtad dengan orang mukmin [selesai dengan ringkasan]. “Liqoo-aa-t Al-Baab al-Mafthuh” No. 161 Soal no. 17.
Zhahirnya – Allahu A’lam – yang rojih dari dua pendapat ini adalah pendapat yang berdasarkan teks sunnah yang menunjukkan demikian. Seorang mukmin saja merasakan himpitan kubur apalagi yang lainnya. Ini menunjukkan dahsyatnya himpitan kubur. Ia dirasakan sakit bagi orang yang dihimpitnya dengan kadar yang berbeda-beda antara satu dan yang lainnya. Masing-masing sesuai amalan dan keadaannya. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahmahullah menyebutkan himpitan kubur sebagai faktor penyebab diampuninya dosa-dosa. Dia rahimahullah berkata: Sebab kedelapan, apa yang terjadi di kubur berupa fitnah, himpitan dan kengeriannya bisa merupakan sebab yang menghapus kesalahan-kesalahan [selesai dari “Majmu’-l- Fatawa” 7/500.
Hadits yang disebutkan di dalam pertanyaan tidak menunjukkan bahwa Sa’ad bin Mu’adz sebagai satu-satunya yang selamat dari himpitan kubur sebagaimana yang dipahami oleh penanya. Tetapi, ia justru merupakan nash bahwa Sa’ad bin Mu’adz radhiallahu’anhu tidak selamat dari himpitan kubur. Jika ada orang yang selamat darinya, niscaya Sa’ad termasuk orang yang selamat di mana dia termasuk seutama-utamanya manusia. Lihatlah “Jawabu-s- Sual” no. 71175. Allahu A’lam.

Judul buku : Oh..Kematian?!

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>