#Kisah&Ibroh – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Mon, 23 Feb 2026 04:32:12 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png #Kisah&Ibroh – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 Nabi Yusuf alaihissalam (Kisah dan ‘Ibrah) bagian 9 https://nidaulfithrah.com/nabi-yusuf-alaihissalam-kisah-dan-ibrah-bagian-9/ Mon, 23 Feb 2026 03:25:50 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21462 43. Kebaikan-kebaikan di dunia dan akhirat tidak lain merupakan pengaruh dari taqwa dan sabar. Sebagaimana ucapan Nabi Yusuf alaihissalam dalam Al-Qur’an,

قَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ (يوسف: 90)

“Sungguh Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barangsiapa yang bertaqwa dan bersabar, maka sungguh Allah tidak menyia-nyiakan balasan orang-orang yang berbuat baik” (QS. Yusuf: 90)

44. Jika seorang hamba mendapatkan kelapangan dan kenikmatan maka seyogyanya dia mengingat keadaan sebelumnya ketika ditimpa kesempitan dan cobaan sehingga dia akan lebih bisa merasakan besarnya nikmat dan bisa bersyukur secara lebih berkualitas. Demikianlah yang dilakukan Nabi Yusuf alaihissalam sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an,

وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُمْ مِنَ الْبَدْوِ مِنْ بَعْدِ أَنْ تَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي (يوسف: 10)

“Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, Dia telah membebaskanku dari penjara dan ketika membawa kalian dari dusun padang pasir, setelah syetan merusak (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. Yusuf: 100)

45. Di dalam kisah ini terdapat bentuk-bentuk kasih sayang dan kelembutan Allah ta’ala. Di antaranya kisah mimpi Yusuf yang mengandung makna kegembiraan baginya dan ayahnya, Nabi Ya’qub. Juga wahyu- Nya kepada Yusuf ketika berada di dalam sumur bahwa dirinya akan memberitahukan semua perbuatan suadara-saudaranya. Juga perpindahan dari satu keadaan ke keaadan lain terdapat kasih sayang Allah ta’ala yang zhahir dan tersembunyi. Untuk itu di akhir perjalanan ini Nabi Yusuf alaihissalam mengatakan bahwa Allah “Lathif” sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an,

إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ [يوسف: 100]

“Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki” (QS. Yusuf: 100).

Allah Al-Lathiif menggiring Yusuf kepada suatu kemuliaan yang telah diisyaratkan-Nya dalam mimpi tanpa dia mengetahuinya. Yusuf baru menyadarinya betapa Allah itu Al-Lathif setelah kemuliaan yang diisyaratkan-Nya terwujud.

Untuk mendapatkan penjelasakan lebih luas mengenai Al-Lathiif sebagai nama Allah bisa dilihat buku saku yang saya tulis dengan judul “Memahami Al-Asma’ul Husna” jilid 12.

46. Sujud yang dilakukan oleh saudara-saudara Yusuf dan kedua orang tuanya terhadap dirinya adalah sujud sebagai bentuk penghormatan, bukan peribadahan. Meski demikian hal itu diharamkan pada syari’at Nabi kita, Muhammad shalallahu alaihi wasallam.

لَمَّا قَدِمَ مُعَاذٌ مِنَ الشَّامِ سَجَدَ لِلنَّبِيِّ ـ صلى الله عليه وسلم ـ قَالَ ‏”‏ مَا هَذَا يَا مُعَاذُ ‏”‏ ‏.‏ قَالَ أَتَيْتُ الشَّامَ فَوَافَقْتُهُمْ يَسْجُدُونَ لأَسَاقِفَتِهِمْ وَبَطَارِقَتِهِمْ فَوَدِدْتُ فِي نَفْسِي أَنْ نَفْعَلَ ذَلِكَ بِكَ ‏.‏ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ ‏”‏ فَلاَ تَفْعَلُوا فَإِنِّي لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Ketika Mu’adz baru pulang dari negeri Syam, dia bersujud kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam. Nabi bersabda: “Apa ini wahai Mu’adz?!”. Mu’adz menjawab: “Aku datang ke kota Syam, dan aku mendapati mereka bersujud kepada uskup-uskup mereka dan panglima-panglima perang mereka. Maka aku ingin untuk melakukannya terhadap engkau wahai Rasulullah”. Maka Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kamu lakukan demikian! Sesungguhnya andaikan aku memerintahkan seseorang sujud kepada selain Allah, maka aku akan perintahkan para istri agar sujud kepada suaminya…..” (HR. Ibnu Majah).

C. Penutup

Al-Qur’an tidak sedikit memuat kisah-kisah. Tujuannya, agar kita bisa mengambil ‘ibrah-nya. Sebagaimana firman-Nya,

فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Maka kisahkanlah kisah-kisah agar mereka berpikir” (QS. Al-A’rof: 176)

Janganlah kisah-kisah terbiarkan tanpa ada faedah-faedah yang bisa kita ambil. Akhirnya, hambar begitu saja tidak berdampak kepada peningkatan keimanan dan ketaqwaan. Semoga kita semua masuk golongan ulul Albab, yaitu orang-orang yang bisa mengambil ‘ibrah dan hikmah dari kisah, peristiwa dan fenomena apapun. Allah ta’ala berfiman,

إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَبِ (الرعد: ١٩)

Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran (QS. Ar-Ra’d : 19)

Judul Buku: Nabi Yusuf alaihissalam (Kisah dan ‘Ibrah)

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Nabi Yusuf alaihissalam (Kisah dan ‘Ibrah) bagian 8 https://nidaulfithrah.com/nabi-yusuf-alaihissalam-kisah-dan-ibrah-bagian-8/ Sun, 22 Feb 2026 03:25:49 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21461 28. Melanjutkan poin nomor 26 di atas; Yusuf alaihissalam meminta agar dirinya diangkat sebagai bendahara kerajaan . Apakah berarti dia meminta kekuasaan yang dilarang di dalam agama Islam? Sebagaimana disebutkan di dalam Hadits,

قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم: يا عبد الرحمن بن سمرة لا تسأل الامارة، فإن أعطيتها عن مسألة وكلت إليها، وإن أعطيتها عن غير مسألة أعنت عليها (رواه البخاري ومسلم عن عبد الرحمن)

“Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda kepadaku: Wahai Abdurrahman bin Samuroh, janganlah kamu meminta kekuasaan. Jika kamu diberi kekuasaan karena kamu memintanya, maka kamu akan diserahkan sepenuhnya kepadanya (tidak diberi pertolongan). Tetapi, jika kamu diberi kekuasaan tanpa kamu meminta, maka kamu akan ditolong (Allah ta’ala)” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdurrahman bin Samuroh)

Juga disebutkan di dalam riwayat lain,

إنكم ستحرصون على الإمارة ، و إنها ستكون ندامةً و حسرةً (رواه النسائي عن أبي هريرة)

“Sesungguhnya kalian bersemangat untuk meraih kekuasaan, tetapi itu akan menjadi sumber penyesalan dan kesedihan” (HR. An- Nasa’i dari Abu Hurairah)

Betapa kekuasaan adalah amanah besar nan berat yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti. Maka, syariat melarang ummat untuk memintanya. Lalu, bagaimana dengan Nabi Yusuf alaihissalam? Apakah dia menyelisihi syariat Allah ta’ala ini?

Jawabannya adalah TIDAK. Beliau alaihissalam seorang Nabi yang di dalam bertindak tentu berdasarkan wahyu dari Allah ta’ala. Terkait paceklik di Mesir dan sekitarnya sebelum terjadinya, dia alaihissalam telah mengetahuinya. Bagaimana solusi untuk mengatasinya dan pengaturannya sehingga mendatangkan kemaslahatan bagi banyak manusia secara berkelanjutan, dia lah yang mengetahuinya. Tidak ada selain dirinya yang dipandang mumpuni, maka untuk keberlangsungan kehidupan banyak manusia, dia mengajukan diri pada posisi tersebut.

Syaikh Bin Baz rahima hullah mengatakan bahwa seseorang yang mengajukan diri untuk suatu jabatan diperbolehkan jika ada kemaslahatan. Syariat yang berlaku pada umat sebelum kita adalah juga berlaku bagi kita, selama tidak ada hal yang menyelisihi pada syariat kita. Syariat kita melarang meminta kekuasaan. Namun, para ulama menyebutkan bahwa jika seseorang terpaksa dan dibutuhkan untuk menempati kekuasaan maka tidak ada masalah jika ia melihat ada kemaslahatan di dalamnya, bukan untuk tujuan meninggikan diri di muka bumi, bukan untuk melakukan kerusakan, dan bukan karena tamak, tetapi untuk kemaslahatan umat Islam. Hal ini mengikuti jejak Nabi Yusuf alaihissalam.

29. Dua perkara yang harus ada pada setiap pegawai, petugas, pekerja, pemimpin dan lain-lain adalah amanah dan profesional. Dengan keduanya semua perkara apapun yang dihadapi akan di handle sebaik-baiknya. Tidak ada penyalahgunaan, tabdzir, penyelewengan, kezhaliman dan kemungkaran-kemungkaran apapun. Sebagaimana perkataan Yusuf yang disebutkan di dalam Al-Qur’an,

قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ (يوسف: 55)

“Yusuf berkata: Jadikanlah aku bendaharawan kerajaan (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan”. (QS. Yusuf: 55)

“Pandai menjaga” maknanya amanah, sedangkan “berpengetahuan” maknanya profesional.

Allah ta’ala Maha luas rahmat-Nya. Dia ta’ala memperhatikan dua kebaikan, yaitu duniawi dan ukhrowi. Manusia diperintahkan untuk meraih keduanya. Bukan ukhrowi saja. Tetapi, kebaikan ukhrowi lebih utama daripada kebaikan duniawi. Jalan untuk meraihnya adalah iman dan taqwa. Ketika seseorang terluputkan dari suatu kenikmatan duniawi janganlah bersedih. Segeralah memandang kepada kenikmatan yang jauh lebih baik nan kekal dan abadi, yaitu kenikmatan ukhrowi. Nabi shalallahu alaihi wasallam memberikan perumpamaan perbandingan kadar kenikmatan duniawi dan ukhrowi seperti perbandingan antara kadar air yang menempel di jari telunjuk ketika usai dicelupkan ke dalam laut dengan kadar air laut itu sendiri. Sungguh jauh sekali perbedaannya. Disebutkan di dalam Al-Qur’an tentang ucapan Nabi Yusuf alaihissalam,

وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ لِلَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (يوسف: 57)

“Sungguh balasan di akhirat lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa” (QS. Yusuf: 57)

31. Yusuf alaihissalam telah menunjukkan kepiawaian dalam mengatur keuangan dan sumber daya Mesir, mulai dari ujung ke ujung. Beliau berhasil meningkatkan produksi pertanian hingga panen menjadi sangat berlimpah. Dampaknya, penduduk dari berbagai wilayah datang ke Mesir untuk membeli bahan makanan karena mereka mengetahui bahwa Mesir memiliki stok yang berlimpah.

32. Di antara bentuk keadilan dan kebijakan Nabi Yusuf alaihissalam adalah beliau tidak memberikan kepada setiap orang yang datang lebih dari kebutuhan primernya atau bahkan kurang dari itu agar tidak terjadi permainan barang dan harga. Beliau tidak memberikan lebih dari beban seekor unta untuk setiap orang yang datang. Allahu A’lam, Ini menunjukkan bahwa beliau memberikan jatah yang lebih sedikit kepada penduduk Mesir sendiri karena mereka bisa langsung datang kepadanya kapan saja.

33. Menimbun bahan pangan seperti beras, gandum dan lain-lain dalam jumlah besar ketika musim panen, dengan tujuan untuk membantu stabilitas pangan bagi masyarakat di masa mendatang ketika terjadi paceklik atau kesulitan tidaklah mengapa. Bahkan, hal ini sangat dianjurkan karena Nabi Yusuf alaihissalam memerintahkan yang demikian, pengumpulan bahan pangan pada tahuntahun surplus sebagai persiapan menghadapi tahun-tahun paceklik. Yang dilarang adalah menimbun bahan makanan untuk tujuan keuntungan pihak tertentu saja dengan mengorbankan masyarakat luas.

34. Disyariatkan memuliakan tamu. Ia merupakan sunnah para Nabi. Sebagaimana Nabi Yusuf alaihissalam melakukannya. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

أَلَا تَرَوْنَ أَنِّي أُوفِي الْكَيْلَ وَأَنَا خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ (يوسف: 59)

“Tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan takaran dan aku adalah sebaik-baik penerima tamu?” (QS. Yusuf: 59)

35. Berburuk sangka (su’uzzu dzon) terhadap seseorang yang terdapat indikasi yang menunjukkan kemungkinan buruknya, tidaklah dilarang dan tidak haram. Contohnya adalah Nabi Ya’qub alaihissalam yang berkata kepada anak-anaknya,

هَلْ آمَنُكُمْ عَلَيْهِ إِلَّا كَمَا أَمِنْتُكُمْ عَلَى أَخِيهِ مِنْ قَبْلُ (يوسف: 64)

“Akankah aku akan mempercayakan dia (Bunyamin) kepada kalian, kecuali sebagaimana aku telah mempercayakan saudara laki-lakinya (Yusuf) kepada kalian dahulu?” (QS. Yusuf: 64).

قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنفُسُكُمْ أَمْرًا فَصَبْرٌ جَمِيلٌ (يوسف 83)

Beliau juga berkata: “Tetapi kalian telah memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku)” (QS. Yusuf: 83).

Di sini, Nabi Ya’qub alaihissalam berburuk sangka kepada anak-anaknya bukan tanpa sebab, melainkan karena telah terjadi sesuatu yang membuatnya curiga, sehingga perkataannya tersebut tidaklah tercela.

36. Mencari sebab atau ikhtiar agar tidak terkena ‘ain atau hal-hal yang tidak disukai itu diperintahkan, meskipun semuanya terjadi dengan takdir Allah ta’ala. Nabi Ya’qub alaihissalam memerintahkan anak-anaknya agar berpencar ketika memasuki Mesir sebagai upaya agar terhindar dari ‘ain. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

يَا بَنِيَّ لَا تَدْخُلُوا مِنْ بَابِ وَاحِدٍ وَادْخُلُوا مِنْ أَبْوَابٍ مُتَفَرِّقَةٍ (يوسف: 67)

“Wahai anakku, janganlah kalian masuk dari satu pintu, masuklah dari pintu yang berbeda-beda” (QS. Yusuf: 67)

Boleh melakukan cara tersembunyi untuk bisa mendapatkan suatu hak. Sungguh penggunaan cara yang halus dan tersembunyi demi mendapatkan hak itu terpuji. Sebagaimana Yusuf alaihissalam men-setting sedemikian rupa strateginya untuk bisa bertemu dengan Bunyamin dan orangtuanya.

Yang tercela adalah melakukan makar atau cara-cara halus untuk berbuat perkara haram atau menggugurkan suatu kewajiban.

38. Jika seseorang ingin memberikan kesan kepada orang lain tentang sesuatu yang dia tidak ingin menyatakannya secara jelas tetapi samar, maka dia harus menggunakan kata-kata atau tindakan yang tidak secara langsung menunjukkan kebohongan, seperti yang dilakukan Nabi Yusuf alaihissalam ketika dia meletakkan piala di kantong saudaranya, lalu menemukannya dan mengambilnya kembali dari situ seolah-olah saudaranya adalah pencuri, maka dia alaihissalam tidak secara langsung menuduh saudaranya mencuri, tetapi menggunakan ungkapan yang tidak langsung bermakna jelas (ta’ridh) untuk mencapai tujuannya. Ungkapan Nabi Yusuf alaihissalam berikut ini sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an,

مَعَاذَ اللَّهِ أَنْ نَأْخُذَ إِلَّا مَنْ وَجَدْنَا مَتَاعَنَا عِنْدَهُ (يوسف: 79)

“Aku berlindung kepada Allah, (bagaimana) kami akan menghukum seseorang kecuali siapa yang kami temukan barang kami ada padanya” (QS. Yusuf: 79).

Beliau tidak mengatakan, “kecuali siapa yang mencuri barang kami”.

Dalam Islam, diperbolehkan menggunakan kata-kata atau tindakan yang tidak secara langsung menyatakan kebohongan jika ada tujuan yang baik dan tidak menimbulkan mudharat kepada orang lain.

39. Tidak boleh melakukan persaksian kecuali terhadap apa yang seseorang benar-benar mengetahuinya atau dia memastikan dirinya melihat atau mendengarnya. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

وَمَا شَهِدْنَا إِلَّا بِمَا عَلِمْنَا (يوسف: 81)

“Dan kami tidaklah bersaksi kecuali apa yang kami ketahui” (QS. Yusuf: 81)

Nabi Ya’qub alaihissalam mendapatkan ujian besar; berpisah dengan anaknya dalam waktu yang sangat lama. Panjangnya perjalanan waktu tidak bisa menjadikan beliau memisahkan hatinya dari kesedihan. Beliau sangat bersedih hingga matanya putih. Beliau hanya mengadukan kesedihannya kepada Allah ta’ala. Ini tidak tercela dan tidak menghilangkan makna sabar. Yang tercela itu kalau mengadukan kesedihan kepada manusia. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ (يوسف: 86)

“Ya’qub berkata: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku” (QS. Yusuf: 86)

41. Ketika kesulitan-kesulitan dirasakan semakin menumpuk dan berat hingga pada kadar yang seorang hamba merasa tidak sanggup lagi menanggungnya setelah menghadapinya dengan kesabaran yang luar biasa, maka ketika itulah Allah Dzat Yang Maha Menghilangkan kesedihan dan kesulitan akan memberikan kelapangan dan solusi. Ini salah satu perbuatan Allah ta’ala yang indah, terutama bisa dirasakan oleh hamba-hamba pilihan-Nya. Karena hal ini membuat mereka semakin mengenal dan mencintai Allah ta’ala yang menjadikan pahala dan kedudukan mereka di sisi Allah lebih tinggi.

42. Seorang hamba boleh memberitahukan kepada orang lain apa yang dia jumpai dan rasakan pada dirinya seperti sakit, kefakiran dan musibah-musibah lainnya asalkan tidak bermakna murka kepada taqdir atau ketetapan Allah. Seperti ucapan Nabi Ya’qub,

يَا أَسَفَى عَلَى يُوسُفَ (يوسف: 84)

“Sungguh saya berduka atas Yusuf” (QS. Yusuf: 84)

Juga ucapan saudara-saudara Yusuf yang direspon oleh Yusuf alaihissalam dengan baik,

مَسَّنَا وَأَهْلَنَا الضُّرُّ (يوسف: 88)

“Kami dan keluarga ditimpa paceklik” (Yusuf: 88)

Judul Buku: Nabi Yusuf alaihissalam (Kisah dan ‘Ibrah)

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Nabi Yusuf alaihissalam (Kisah dan ‘Ibrah) bagian 7 https://nidaulfithrah.com/nabi-yusuf-alaihissalam-kisah-dan-ibrah-bagian-7/ Sat, 21 Feb 2026 02:37:47 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21456 15. Hindari ber-kholwat dengan wanita yang bukan mahram. Terlebih wanita yang dikhawatirkan potensi fitnahnya lebih besar. Juga hindari mencintai sesuatu yang bukan pada tempatnya. Zulaikha terjerumus ke dalam fitnah besar karena kesendiriannya bersama Yusuf dan adanya rasa cinta yang bukan pada tempatnya. Yang harus dia cintai adalah suaminya, bukan lelaki lain.

16. Ketika muncul dorongan pada diri Yusuf untuk merespon Zulaikha, ketika itu pula dia langsung berpaling darinya. Yang menjadikan dirinya bisa berpaling adalah keimanan yang terpatri kuat. Dorongan kepada syahwat yang diharamkan itu ada pada setiap orang, akankah dituruti atau ditepis maka bergantung kepada kadar keimanannya. Iman adalah benteng pertahanan. Semakin kuat kadarnya semakin kuat pula dia menjaga pemiliknya dari kemaksiatan dan kemungkaran.

Untuk itu, kondisikan keimanan agar selalu kokoh. Dan sebaik-baiknya perkara yang mengkondisikannya adalah ilmu dan teman yang baik.

17. Kalau seseorang berada pada suatu tempat atau kondisi yang bisa menjerumuskan dirinya maka segeralah tinggalkan tempat itu atau berlepas darinya. Seperti Yusuf segera berlari meninggalkan tempat Zulaikha. Demikian juga misalnya Anda terfitnah dengan rokok maka hindarilah teman-teman perokok. Kalau Anda terfitnah dengan seorang wanita hapuslah nomor kontaknya. Kalau Anda terfitnah dengan televisi keluarkan ia dari rumah. Kalau Anda terfitnah dengan perbuatan ghibah maka tinggalkanlah majlis ghibah beralihlah ke majlis taklim. Demikian dan seterusnya.

18. Suatu indikator bisa digunakan dalam pendakwaan. Ketika Yusuf dituduh berbuat mesum, maka hal yang merupakan indikator dilihat, yaitu kainnya yang robek bagian depan ataukah bagian belakang. Ternyata bagian belakang, maka disimpulkan secara kuat bahwa Yusuf tidak berbuat seperti yang dituduhkan.

19. Jadilah seperti Yusuf. Bukan saja zhohirnya yang rupawan melainkan juga batinnya. Sungguh dia cakep lahir dan batin. Zhahirnya sedemikian memikat sampai Zulaikha dan para wanita “kesemsem”, tidak kalah dari itu, batinnya. Sungguh dia bisa menjaga diri dari fitnah syahwat yang sesungguhnya sulit untuk terhindar darinya. Belum lagi akhlak mulia lainnya seperti pemaaf, penyabar dan tidak pendendam. Sementara kaum muslimin zaman sekarang banyak di antara mereka yang hanya mempercantik dan memperbagus fisik tetapi tidak demikian pada hati dan kejiwaannya.

20. Jika seseorang dihadapkan pada dua pilihan sulit, memilih yang manapun ada resiko yang harus ditanggung maka pilihlah yang menghantarkan pada keselamatan di Akherat. Yusuf berhadapan dengan dua pilihan; maksiat atau penjara. Dia memilih penjara. Ia lebih ringan. Karena Ia sekedar siksa duniawi. Daripada memilih maksiat yang menghantarkan kepada adzab dahsyat di Akherat nanti.

21. Ketika menghadapi permasalahan hendaknya seseorang lari kepada Allah ta’ala terlebih dahulu sebelum melakukan sebab-sebab manusiawi. Yusuf, begitu menghadapi permasalahan dia langsung lari berlindung kepada Allah ta’ala. Sebagaimana disebutkan di dalam Al- Qur’an,

قَالَ رَبِّ ٱلسِّجْنُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا يَدْعُونَنِىٓ إِلَيْهِ ۖ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّى كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ ٱلْجَٰهِلِينَ

“Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dariku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh” (QS. Yusuf: 33)

  • Ketika Anda sakit, lari kepada Allah Asy-Syafi terlebih dahulu sebelum membeli obat atau ke dokter.
  • Ketika Anda bingung, lari terlebih dahulu kepada Allah Al-Lathiif sebelum konsultasi dan lainnya
  • Ketika Anda dalam kesulitan, lari kepada Allah Al-Hayyu Al-Qoyyum terlebih dahulu
    sebelum meminta bantuan dan lainnya
  • Ketika Anda ditagih hutang, lari kepada Allah Al-Gnoniy terlebih dahulu sebelum mencari “hutangan” dan lainnya.
  • Ketika Anda dihadang preman, lari kepada Allah Al-Jabbar Al-‘Aziz terlebih dahulu sebelum menghindari, melawan atau cari perlindungan.

22. Memulai itu dari hal yang paling penting nan mendesak lalu yang penting nan mendesak kemudian yang penting tetapi tidak mendesak dan seterusnya. Jika ada orang yang bertanya tentang sesuatu sementara ada hal yang lebih penting terkait ihwalnya maka mulailah terlebih dahulu dari perkara yang lebih penting tersebut. Ada dua pemuda bertanya kepada Nabi Yusuf alaihissalam tentang takwil mimpinya. Nah, ketika diketahui bahwa pada keduanya terdapat kesyirikan maka dia alaihissalam tidak langsung menjawabnya tetapi mengalihkan terlebih dahulu kepada masalah yang lebih penting yaitu kesyirikan.

23. Tidak mengapa meminta pertolongan kepada seseorang di dalam perkara yang merupakan ranah kemampuannya. Dengan keyakinan bahwa semua itu adalah sebatas sebab bukan penentu. Adapun di dalam perkara yang merupakan ranah Allah c maka tidak boleh meminta kepada selain-Nya. Misalnya urusan rizki, keselamatan, kesuksesan, kesembuhan, kemenangan dan lain-lain. Yusuf j meminta tolong kepada salah seorang dari dua pemuda yang diperkirakan akan selamat untuk menyampaikan kepada raja perihal dirinya. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

ٱذْكُرْنِى عِندَ رَبِّكَ

“(Yusuf berkata): Nanti sebutlah aku di hadapan tuanmu” (QS. Yusuf: 42)

24. Seorang da’i di dalam berdakwah haruslah ikhlas semata-mata mengharapkan keridhoan Allah ta’ala. Tidak menjadikan aktivitas dakwahnya sebagai sarana untuk meraup keuntungan duniawi. Ia tidak marah atau merasa rugi ketika tidak mendapatkan imbalan dari aktivitas dakwahnya. Jika mendapatkan maka itu sebagai bentuk i’anah untuk menopang aktivitasnya. Jika tidak mendapatkan, maka tidak akan pernah mempermasalahkan. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda,

إنَّ أحق ما أخذتم عليه أجرًا كتاب الله (رواه البخاري عن عبدالله بن عباس)

“Sesungguhnya upah yang paling haq untuk diambil adalah upah mengajarkan al-Qur’an)”
(HR. Bukhari dari Abdullah bin Abbas)

Dalam Hadits ini dijelaskan mengambil upah dari mengajarkan Al-Qur’an merupakan upah yang paling haq. Bagaimana tidak, seseorang mengambilnya tidak lain agar menopang kegiatan pengajaran Al-Qur’an sehingga keberlangsungannya terus terjaga. Kalau ia tidak mengambil lalu berdampak pada terganggunya kemaslahatan duniawi pada dirinya sehingga ia tidak bisa istiqomah mengajar maka ummatlah yang dirugikan.

Tentu saja tidak terbatas kegiatan sebagai pengajar Al-Qur’an, melainkan juga juru dakwah, muadzin, guru agama dan lain sebagainya memiliki hukum yang sama. Yaitu upah yang diterima adalah upah yang paling haq.

Lihatlah, Yusuf alaihissalam telah berbuat baik dengan mendakwahi dua orang pemuda. Dia berpesan kepada salah seorang dari mereka yang diperkirakan selamat agar menyebut namanya di hadapan raja. Tetapi dia lupa menyebutnya hingga berlalu sekitar tujuh tahun menetap di dalam penjara. Ketika raja membutuhkan orang yang bisa mentakwilkan mimpi, teringatlah pemuda tersebut dan langsung menemui Yusuf. Apakah dia alaihissalam mencela dan marah kepadanya? Sungguh sama sekali tidak. Yusuf tidak merasa dirinya telah berjasa pada pemuda tersebut sehingga dia harus berbalas budi. Sungguh tidak. Itulah keikhlasan dalam berdakwah.

25. Seyogyanya orang yang ditanya tidak sebatas menjawab poin-poin pertanyaan, tetapi juga menjelaskan dan menunjukkan kepada sesuatu yang bermanfaat terkait dengan hal yang ditanyakannya. Nabi Yusuf alaihissalam ketika ditanya tentang takwil mimpi oleh raja, dia tidak sebatas menjawab takwil mimpi melainkan juga memberikan arahan dan penjelasan terkait dengan takwil tersebut apa yang semestinya dilakukan oleh raja. Demikian juga yang dilakukan Nabi shalallahu alaihi wasallam ketika ditanya tentang hukum air laut, beliau menjawab melebihi yang ditanyakan. Disebutkan Hadits,

سأل رجلٌ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ فقال يا رسولَ اللهِ إِنَّا نركب البحر ونحمل معنا القليل مِنَ الماءِ فإن توضأنا به عطشنا أفنتوضأ بماء البحر فقال رسول اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ هو الطهور ماؤه الحل ميته (رواه أبو داود عن أبي هريرة)

“Seseorang bertanya kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam: Ya Rasulullah kami mengarungi laut dengan membawa air yang cuma sedikit. Jika kami gunakan untuk berwudhu maka kami akan kehausan. Apakah kami boleh berwudhu dengan air laut? Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menjawab: Laut itu suci airnya dan halal bangkainya” (HR. Abu Daud dari Abu Hurairah)

Lihatlah! Dalam Hadits ini Nabi shalallahu alaihi wasallam tidak saja menjawab tentang hukum air laut melainkan diluaskan dengan membahas hukum bangkainya.

26. Tidaklah tercela bagi seseorang untuk membela diri atas tuduhan terhadap dirinya. Bahkan wajib dilakukan. Lihatlah Yusuf alaihissalam memilih bersabar tidak keluar dari penjara hingga permasalahannya clear dan nama baiknya yang tercoreng dipulihkan terlebih dahulu. Padahal dia telah dibebaskan yang merupakan idaman setiap narapidana. Hal ini tidak lain karena adanya beban atas tercorengnya nama baik yang belum dipulihkan.

27. Tidaklah mengapa seseorang menginformasikan kepada orang lain atas kelebihan yang dimiliki oleh dirinya, baik sisi ilmu, kedudukan, skill, dan lain-lain asalkan untuk suatu kemaslahatan dan tidak untuk tujuan riya’. Sebagaimana Yusuf alaihissalam menyatakan dirinya sebagai orang yang memiliki kapasitas sebagai bendahara kerajaan. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

قَالَ ٱجْعَلْنِى عَلَىٰ خَزَآئِنِ ٱلْأَرْضِ ۖ إِنِّى حَفِيظٌ عَلِيمٌ

“Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan” (QS. Yusuf: 55)

Judul Buku: Nabi Yusuf alaihissalam (Kisah dan ‘Ibrah)

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Nabi Yusuf alaihissalam (Kisah dan ‘Ibrah) bagian 6 https://nidaulfithrah.com/nabi-yusuf-alaihissalam-kisah-dan-ibrah-bagian-6/ Fri, 20 Feb 2026 06:40:34 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21449 B. ‘IBROH

1. Ini sebaik-baiknya kisah dan yang paling gamblang yang dituturkan oleh Al-Qur’an. Di dalamnya terdapat banyak fenomena peralihan dari satu keadaan ke keadaan yang lain. Dari satu ujian ke ujian lainnya. Dari suatu ujian kepada pertolongan. Dari kehinaan kepada kemuliaan. Dari rasa aman kepada rasa takut dan sebaliknya. Dari orang merdeka menjadi budak dan sebaliknya. Dari perpecahan kepada persatuan dan sebaliknya. Dari kegembiraan kepada kesedihan dan sebaliknya. Dari subur ke tandus dan sebaliknya. Dari lapang ke sempit dan sebaliknya. Dan lain-lain termasuk tentang perjalanan menuju kesudahan yang baik. Maha Tinggi Allah yang telah menjadikan kisah ini sebagai ‘ibrah bagi ulul albab.

2. Secara umum ilmu takwil mimpi didasarkan pada kemiripan atau kesesuaian atau hal-hal yang memiliki sifat serupa. Tetapi ilmu tentang takwil mimpi hanya diberikan oleh Allah azza wa jalla kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari antara hamba-hamba-Nya.

a. Kita perhatikan kesesuaian mimpi Yusuf dengan takwilnya. Dia melihat matahari, bulan dan 11 bintang sujud kepadanya. Mereka adalah perhiasan langit yang memiliki manfaat besar. Demikian pula para Nabi, ulama dan orang-orang pilihan adalah perhiasan di bumi. Melalui mereka manusia mendapatkan petunjuk dari kegelapan menuju cahaya sebagaimana cahaya benda-benda langit menerangi dunia. Ayah dan ibunya adalah induk tentu cahayanya lebih kuat daripada saudara-saudaranya. Nah, matahari dan bulan itu laksana ayah dan ibu sementara bintang-bintang adalah saudara-saudaranya. Orang yang disujudi tentu lebih utama daripada orang yang bersujud kepadanya. Ketika Yusuf disujudi tidak saja oleh saudarasaudaranya melainkan juga oleh ayah dan ibunya menunujukkan betapa Yusuf menjadi orang yang sangat agung. Tidaklah derajat ini didapatkan oleh Yusuf kecuali setelah melalui proses ilmu, amal dan ujian yang panjang. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an,

وَكَذَٰلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِن تَأْوِيلِ ٱلْأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُۥ عَلَيْكَ وَعَلَىٰٓ ءَالِ يَعْقُوبَ كَمَآ أَتَمَّهَا عَلَىٰٓ أَبَوَيْكَ مِن قَبْلُ إِبْرَٰهِيمَ وَإِسْحَٰقَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebagian dari takwil mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu” (QS. Yusuf: 6)

b. Pada mimpi dua orang pemuda juga ada kesesuaian pada takwilnya. Memeras anggur biasanya dilakukan oleh seseorang untuk tuannya. Maka ditakwilkan pemuda yang bermimpi tersebut akan menjadi pelayan bagi raja. Demikian juga pemuda yang bermimpi memanggul roti di atas kepalanya lalu burung datang mematukinya ditakwilkan ia akan dibunuh lalu disalib sampai pada suatu masa hingga otak yang ada dalam kepalanya habis dimakan oleh burung.

c. Pada mimpi raja tentang tujuh sapi dan tujuh tangkai gandum ditakwilkan dengan masa subur dan masa paceklik. Sisi kesesuaiannya, raja itu terikat kuat dengan rakyat pada hal kesejahteraan atau sebaliknya. Tahun-tahun subur dan tahuntahun tandus adalah dua perkara yang meliputi kehidupan. Sapi alat untuk membajak sawah dan mengangkut hasil panen. Disebutkan tujuh sapi gemuk lalu tujuh sapi kurus, juga tujuh tangkai gandum hijau lalu tujuh gandum kering. Dari keduanya yang disebutkan terlebih dahulu adalah yang gemuk dan hijau baru kemudian kurus dan kering, karena suatu keniscayaan yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah menanam dan menyimpan hasil panen kemudian memakannya sedkkit-sedikit untuk menghadapi tahun-tahun paceklik selama tujuh tahun.

d. Dari mana Yusuf mentakwilkan setelah tujuh tahun paceklik adalah tahun-tahun subur? Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an,

ثُمَّ يَأْتِى مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَامٌ فِيهِ يُغَاثُ ٱلنَّاسُ وَفِيهِ يَعْصِرُونَ

“Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur” (QS. Yusuf: 49)

Apakah itu tambahan dari Yusuf berdasarkan wahyu? Jawabannya tentu dari mentakwil mimpi itu sendiri. Bukankah tahun-tahun peceklik akan berlangsung hanya selama tujuh tahun? Berarti yang berikutnya adalah tahun-tahun subur.

Menunjukkan bukti kenabian Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Beliau telah mengkisahkan kisah ini secara terperinci sesuai realitanya. Padahal beliau tidak pernah membaca kitab-kitab terdahulu dan tidak pernah belajar kepada siapapun sebagaimana hal itu diketahui oleh kaumnya. Beliau sendiri ummiy tidak bisa membaca dan menulis. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

ذَٰلِكَ مِنْ أَنۢبَآءِ ٱلْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ ۖ وَمَا كُنتَ لَدَيْهِمْ إِذْ أَجْمَعُوٓا۟ أَمْرَهُمْ وَهُمْ يَمْكُرُونَ

“Demikian itu (adalah) di antara berita-berita yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); padahal kamu tidak berada pada sisi mereka, ketika mereka memutuskan rencananya (untuk memasukkan Yusuf ke dalam sumur) dan mereka sedang mengatur tipu daya” (QS. Yusuf: 102)

4. Seyogyanya seorang hamba menghindarkan diri dari perkara yang bisa menjerumuskan kepada keburukan dan menyembunyikan sesuatu yang bisa mendatangkan kemudharatan. Sebagaimana ucapan Ya’qub kepada Yusuf,

قَالَ يَٰبُنَىَّ لَا تَقْصُصْ رُءْيَاكَ عَلَىٰٓ إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا۟ لَكَ كَيْدًا ۖ إِنَّ ٱلشَّيْطَٰنَ لِلْإِنسَٰنِ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, niscaya mereka akan membuat makar (untuk membinasakanmu. Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”. (QS. Yusuf: 5)

5. Boleh menyebutkan seseorang dengan sesuatu yang tidak disukai sebagai antisipasi untuk menghidarkan kemudhorotan. Sebagaimana ucapan Ya’qub kepada Yusuf pada ayat di atas (QS. Yusuf: 5).

6. Nikmat yang Allah ta’ala berikan kepada seseorang juga merupakan kenikmatan untuk siapapun yang terkait dengannya, seperti keluarganya, kerabatnya dan teman-temannya. Sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an,

وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُۥ عَلَيْكَ وَعَلَىٰٓ ءَالِ يَعْقُوبَ

“Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub” (QS. Yusuf: 6)

Yang mendapatkan nikmat Yusuf, tetapi Allah ta’ala menyatakan juga untuk keluarga Ya’qub berupa kebahagiaan, kedudukan, hilangnya permusuhan, dan utuhnya ukhuwwah.

Untuk mencapai kenikmatan besar baik duniawi atau ukhrowi haruslah dengan ikhtiar-ikhtiar atau sebab-sebab yang menghantarkan kepadanya. Ini adalah ketetapan Allah atau sunnatullah. Yusuf mendapatkan kedudukan terhormat tidak dengan “lenggang kangkung”. Allah pun memberikan kepada Yusuf taufiq untuk meniti proses-proses dan tahapan-tahapannya.

8. Bersikap adil itu dituntut dalam setiap permasalahan, besar ataupun kecil. Penguasa terhadap rakyatnya, majikan terhadap bawahannya, guru terhadap muridnya, orangtua terhadap anaknya dan lain-lain. Nabi Ya’qub telah berbuat adil kepada anak-anaknya. Dia tidak pilih kasih terhadap mereka. Dia tidak memberikan suatu pemberian kepada Yusuf tanpa saudara lainnya yang menciderai sikap adil . Adapun adanya kecenderungan lebih kepada Yusuf daripada yang lainnya disebabkan ibunya telah wafat sementara dia masih kecil. Jadi, semata-mata sekedar kecenderungan hati atau perasaan cinta. Kecenderungan hati secara tidak adil tidak tercela di dalam agama. Karena hal itu di luar kemampuan manusia. Sebagaimana Nabi berbuat adil kepada istri-istrinya, tetapi kecenderungan hati secara lebih besar itu kepada ‘Aisyah. Namun demikian, hal itu telah menjadikan saudara-saudara Yusuf dengki kepadanya. Lalu bagaimana kiranya jika Ya’qub tidak bersikap adil sesama mereka? Sungguh syetan selalu memperdaya manusia.

9. Dampak buruk suatu dosa. Satu dosa akan melahirkan dosa berikutnya dan terus berantai yang terbangun dari dosa pertama. Lihatlah dosa saudara-saudara Yusuf. Ketika mereka berkeinginan memisahkan Yusuf dan ayahnya, maka mereka berbuat dosa lainnya agar tidak ketahuan keburukannya. Berkali-kali mereka berbuat kedustaan. Di mulai memalsukan darah, memperlihatkan kesedihan palsu, membuat- buat tangisan palsu, datangnya di waktu Isya untuk menyamarkan banyak hal dan kedustaankedustaan lainnya. Waspadalah dari setiap dosa. Khususnya dosa yang bisa bercabang-cabang!

10. Seseorang itu dilihat pada perjalanan akhirnya. Masa lalunya yang “hitam” janganlah dilihat hingga menutupi cemerlangnya akhir perjalanan. Saudara-saudara Yusuf berbuat dosa sedemikian rupa, tetapi perjalanan berikutnya adalah taubat nasuha dan menghiasi diri dengan kebaikan yang akhirnya mendapatkan permaafan dari ayah mereka dan Yusuf serta didoakan dengan ampunan dan rahmat. Kalau manusia saja sebagai hamba leluasa memberikan permaafan lalu bagaimana dengan Allah Arhamu-r-Rahimin? Maka saudara-saudara Yusuf pun Allah angkat derajatnya dengan menjadi Nabi sebagaimana dijelaskan oleh sebagian mufassir dengan mendasarkan pada firman Allah,

قُولُوٓا۟ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَآ أُنزِلَ إِلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ وَإِسْمَٰعِيلَ وَإِسْحَٰقَ وَيَعْقُوبَ وَٱلْأَسْبَاطِ

“Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya” (QS. Al-Baqoroh: 136)

Yang dimaksud dalam ayat ini “anak cucunya” adalah anak-anak Ya’qub yang jumlahnya 12 orang. Dikuatkan dengan mimpi Nabi Yusuf bahwa mereka adalah bintang-bintang yang notabene cahaya dan hidayah yang identik dengan para Nabi. Jika bukan para Nabi, maka mereka para ulama ahli ibadah.

11. Nabi Yusuf alaihissalam diberi anugerah ilmu, kesabaran dan akhlak mulia lainnya. Sehingga mudah sekali baginya untuk memaafkan saudara-saudaranya tanpa mengungkit-ungkit kesalahan mereka sedikitpun.

12. Nabi Yusuf alaihissalam sangat sabar dan teguh di dalam berdakwah, hingga keberadaannya di dalam penjara pun dia gunakan sebaik-baiknya untuk berdakwah. Dua pemuda yang bertanya mengenai takwil mimpi, tidak langsung dijawab melainkan dijadikannya kesempatan untuk menyampaikan dakwah.

13. Kejahatan bertingkat-tingkat ada yang ringan, sedang dan berat. Melakukan kejahatan yang lebih ringan lebih baik daripada kejahatan yang lebih berat. Ketika saudara-saudara Yusuf mengatakan “Bunuh Yusuf”, maka ada seseorang dari mereka yang mengatakan “ Jangan kalian bunuh, tetapi lemparkan saja ke sumur niscaya ada musafir yang mengambilnya”. Idenya ini lebih baik daripada ide mereka. Tujuan mereka sama yaitu menyingkirkan Yusuf dari ayahnya, tetapi ide yang kedua bisa menyelamatkan saudara-saudaranya dari dosa yang lebih besar dan menyelamatkan nyawa Yusuf.

14. Mendapatkan barang yang tidak syar’i tidaklah berdosa jika seseorang tidak mengetahui kronologi keharamannya. Di sini musafir membeli Yusuf sebagai budak dan menjualnya kembali juga sebagai budak karena ketidaktahuannya bahwa dia bukanlah budak. Saudara-saudara Yusuf lah yang bermasalah. Dalilnya, Allah ta’ala menyebut perbuatan pembesar kerajaan untuk mendapatkan Yusuf dengan sebutan “isytaroo” yang bermakna membeli sebagaimana pada QS. Yusuf: 11.

Judul Buku: Nabi Yusuf alaihissalam (Kisah dan ‘Ibrah)

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Nabi Yusuf alaihissalam (Kisah dan ‘Ibrah) bagian 5 https://nidaulfithrah.com/nabi-yusuf-alaihissalam-kisah-dan-ibrah-bagian-5/ Thu, 19 Feb 2026 07:44:34 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21444 Memerintahkan untuk mencari Yusuf dan Bunyamin

Sesuai kadar keimanan seseorang, maka setinggi itu pula rasa harap kepada rahmat Allah ta’ala. Ya’qub alaihissalam seorang Nabi sudah barang tentu memiliki keimanan tertinggi dari antara manusia, beliau pun memerintahkan anak-anaknya,

“Anak-anakku pergilah kalian ke Mesir dan tempat manapun yang diperkirakan Yusuf dan Bunyamin ada di situ. Carilah keduanya dengan penuh optimis. Berharaplah kepada rahmat Allah. Bukti orang berharap rahmat adalah semangat dan bersungguh-sungguh dalam berikhtiar. Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah ta’ala. Karena tidaklah berputus asa dari rahmat Allah melainkan orang kafir”.

Mereka berangkat. Ketika sampai di istana kerajaan Mesir, Mereka segera menghadap Yusuf,

“Paduka yang mulia nan dermawan. Kami datang lagi untuk mendapatkan bahan makanan. Sungguh manusia mengalami paceklik, kekurangan dan kelaparan, demikian juga kami dan keluarga..”

“Paduka yang mulia, yang kami bawa hanya barang-barang murahan yang setiap pedagang akan memalingkan pandangan. Tapi, mohon Paduka yang mulia, berilah kami jatah sebagaimana semestinya meskipun kami hanya bisa menyerahkan barang-barang murahan ini….”

“Paduka yang mulia, ditambah lagi perasaan kami selalu gundah-gulana melihat Ayah kami yang terus menangis sedih sejak putranya, Bunyamin engkau jadikan budak sebagai hukuman atas perbuatannya”

“Dan, sebelumnya Beliau telah kehilangan putranya yang bernama Yusuf”.

“Paduka yang mulia nan dermawan, Allah lah yang akan membalas seluruh kebaikanmu”.

Yusuf diam tertegun mendengarkan penuturan saudara-saudaranya. Terbayang olehnya akan kesulitan yang dialami orangtua dan keluarganya. Sementara dirinya berada dalam istana dengan segala fasilitas di atas rata-rata. Dia pun menangis….air matanya berlinang membanjiri pipi. Lalu, dibukanya mahkota kebesaran istana. Dia hendak menyingkap rahasia yang sedang ditutupinya. Maka, terlihatlah tahi lalat pada pelipisnya yang sangat mereka kenali sebagai ciri-ciri Yusuf. Saudara-saudaranya pun terperanjat kaget.

“Apa yang kalian lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kalian diliputi kebodohan?”, tanya Yusuf membuyarkan terperanjatnya mereka.

Betapa mereka tersadarkan orang yang ada di hadapannya tidak lain adalah saudara mereka, Yusuf.

“Apakah kamu itu Yusuf?”, tanya mereka hampir berbarengan.

“Iya betul, saya Yusuf dan ini Bunyamin saudaraku”.

“Allah ta’ala telah memberikan kami anugerah disebabkan kesabaran dan ketaqwaan. Sungguh Allah ta’ala tidak menyia-nyiakan balasan bagi para muhsinin”.

Mereka, lalu, mendekap memeluk Yusuf dan Bunyamin. Rasa haru dan bahagia pun meliputi mereka.

Mengakui kesalahan

Saudara-saudara Yusuf berkata,

“Allah ta’ala telah menganugerahkanmu akhlak mulia dan sifat-sifat terpuji. Sementara kami telah berbuat buruk kepadamu. Kami telah menjauhkanmu dari Ayah. Kami juga telah berbuat keji yang bisa mencelakakanmu”.

“Sungguh Allah ta’ala memuliakanmu dan menempatkanmu pada kedudukan yang kamu kehendaki. Sementara kami ini orang-orang pendosa. Kami ini jahat terhadapmu, wahai Yusuf”.

“Maafkanlah kami, wahai Yusuf…”

“Maafkanlah kami, wahai Yusuf..”

Yusuf merespon dengan hati sangat lapang dan sikap memaafkan. Sedikitpun tidak mengungkitungkit kesalahan mereka. Dia tetap bersikap manis tanpa roman muka emosi apalagi dendam. Bahkan dia mendoakan dengan rahmat dan ampunan Allah ta’ala. Yang demikian itu sulit kecuali bagi orang khusus pilihan Allah ta’ala,

Yang lalu sudahlah biarkan berlalu. Tidaklah tercela orang berbuat kesalahan lalu mentaubatinya. Semoga Allah ta’ala mengampuni dan merahmati kalian semua Sesungguhnya Allah Dzat Yang Paling penyayang dari antara siapapun yang penyayang”.

“O iya, bagaimana kabar Ayah dan Ibu?”, tanya Yusuf.

“Ayah sering sedih sejak berpisah darimu hingga kedua matanya memutih”, jelas saudara-saudaranya.

“Kalau begitu pulanglah kalian dan bawalah bajuku ini, lalu usapkanlah pada wajahnya, nanti pandangannya bisa normal kembali in syaa-a Allah”.

“Dan jangan lupa, datanglah kalian dengan semua keluarga kalian kemari!!!”

Setiap penyakit ada obatnya. Sang ayah menjadi sakit karena banyak sedih akibat kehilangan anaknya. Obatnya adalah pertemuan. Paling tidak muqoddimahnya yaitu mencium aroma bau anaknya terlebih dahulu agar semangat kejiwaannya bangkit kembali. Pada hal yang demikian ini terdapat hikmah dan rahasia Allah. Tetapi tidak semua orang mengetahuinya.

Penglihatan Nabi Ya’qub alaihissalam kembali normal

Ketika kafilah itu telah meninggalkan negeri Mesir memasuki Palestina dengan membawa pakaian Yusuf, Ya’qub berkata kepada orang-orang yang bersamanya,

”Sesungguhnya saya benar-benar mencium aroma bau Yusuf”.

Orang-orang yang ada di sekitarnya terkejut dengan ucapan Ya’qub itu dan memandanginya dengan terheran-heran, “Engkau tidak benar, jangan-jangan engkau mengigau?”

“Lho… kalian jangan mengira saya ini mengigau, melamun, meracau…. . Saya ini ngomong dengan sadar!”, jelas Ya’qub memecahkan kebekuan.

Ketika mereka sudah sampai rumah, memancarlah cahaya kegembiraan. Seseorang yang membawa baju Yusuf bergegas menuju Ayah dan langsung mengusapkannya pada wajahnya. Seketika itu, beliau bisa melihat normal kembali. Ya’qub alaihissalam lalu mengatakan kepada anak-anaknya dan orang-orang yang di sekitarnya,

“Bukankah saya telah katakan kepada kalian saya ini telah mencium aroma bau Yusuf, tetapi kalian sepertinya tidak percaya”.

Ketahuilah saya mengetahui dari Allah ta’ala sesuatu yang kalian tidak mengetahuinya”.

Anak-anaknya sangat senang sekali dengan kesembuhan ayah mereka, tetapi pada saat yang sama mereka sangat ketakutan atas makar yang telah diperbuatnya. Barcampurlah pada diri mereka antara rasa gembira, ketakutan dan rasa bersalah.

“Ayah, maafkanlah kami….. !”

“Ayah, maafkanlah kami..!”

“Ayah, mohonkan ampunan kepada Allah untuk kami..!”

“Ayah, mohonkan ampunan kepada Allah untuk kami..!”

“Sudah pasti, Anak-anakku. Harapanku sedemikian besar agar Allah Al-Ghofur Ar-Rohim mengampuni dan melimpahkan rahmat kepada kalian dan kita semua. Tetapi, saya akan memanjatkannya nanti di waktu sahur. Waktu yang mustajab untuk berdoa”, jawabnya memenuhi permintaan maaf anak-anaknya.

Bersama, berangkat menuju istana Mesir

Nabi Ya’qub alahissalam, anak-anaknya dan seluruh keluarga mereka melakukan persiapan untuk keberangkatan menemui Yusuf dan Bunyamin di istana Mesir. Mereka menyiapkan apa saja yang diperlukan. Ketika sudah sampai, mereka langsung masuk ke istana dan segera menuju tempat Yusuf berada. Begitu melihat mereka, Yusuf langsung mendekap dan memeluk kedua orangtuanya dengan penuh kehangatan. Yusuf menunjukkan sikap rindu dan ta’zhim kepada orangtuanya. Suasana haru dan bahagia meliputi Nabi Ya’qub dan keluarganya. Lengkap sudah Ya’qub berkumpul dengan anak-anaknya.

“Ahlan wa sahlan…. Ayah, Ibu dan seluruh saudara-saudaraku dengan seluruh keluarganya. Aman…aman….aman… di Mesir ini in syaa-a Allah”, ujar Yusuf yang menambah suasana semakin hangat dan akrab.

Terwujudnya takwil mimpi

Yusuf alaihissalam menempatkan ayah dan ibunya untuk duduk di tempat terhormat, singgasana kerajaan. Lalu, ayah dan ibu serta seluruh saudaranya sujud kepadanya sebagai bentuk penghormatan. Melihat keadaan yang demikian, Yusuf langsung berujar,

“Ayah, ini takwil mimpi yang dulu saya ceritakan kepada engkau…”

“Ketika itu saya bermimpi melihat matahari, bulan dan sebelas bintang semuanya sujud kepadaku. Inilah wujudnya. Allah ta’ala telah menjadikannya sebagai kenyataan. Bukan bunga tidur belaka”.

“Sungguh, Allah ta’ala telah berbuat baik kepadaku. Dia Ta’ala mengeluarkanku dari penjara dan mendatangkan suadara-saudaraku dari tempat yang jauh…”

“Sungguh Allah ta’ala telah mempertemukan saya dan saudara-saudaraku setelah syetan mencerai-beraikan kami..”.

“Sungguh Allah itu AL-LATHIIF Dzat Yang Maha Lembut kepada siapa saja yang dikehendaki”.

Di sini Yusuf mengatakan Allah telah berbuat baik “kepadaku”, tidak mengatakan “kepada kita”, untuk mensyukuri nikmat bahwa balasan orang yang sabar dan berbuat baik seperti dirinya adalah kebaikan juga.

Di sini juga tampak agungnya budi pekerti Yusuf. Dia hanya menyebut kondisinya ketika di penjara, sama sekali tidak menyinggung keberadaannya di sumur. Karena hal itu akan mengungkit kesalahan saudara-saudaranya. Sungguh dia seorang pemaaf.

Dia juga tidak mengatakan bahwa Allah ta’ala telah mendatangkan saudara-saudaranya ”dari kelaparan”. Tetapi, yang dikatakan “dari tempat yang jauh”. Dia bersikap tawadhu’ atas kebaikan yang telah diperbuatnya terhadap saudara-saudaranya yang kelaparan.

Kemudian Nabi Yusuf alaihissalam memuji Allah ta’ala dan berdoa kepada-Nya,

رَبِّ قَدْ ءَاتَيْتَنِى مِنَ ٱلْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِى مِن تَأْوِيلِ ٱلْأَحَادِيثِ ۚ فَاطِرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ أَنتَ وَلِىِّۦ فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ ۖ تَوَفَّنِى مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِى بِٱلصَّٰلِحِينَ

“Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajariku sebagian takwil mimpi. Wahai Dzat Pencipta langit dan bumi, Engkau Pelindungku di dunia dan Akherat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan kumpulkanlah aku dengan orang-orang yang shaleh.

Judul Buku: Nabi Yusuf alaihissalam (Kisah dan ‘Ibrah)

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Nabi Yusuf alaihissalam (Kisah dan ‘Ibrah) bagian 4 https://nidaulfithrah.com/nabi-yusuf-alaihissalam-kisah-dan-ibrah-bagian-4/ Wed, 18 Feb 2026 07:40:06 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21439 Mereka pun memasuki kerajaan Mesir secara berpencar sebagaimana yang diwasiatkan ayah mereka. Ketika mereka masuk menemui Nabi Yusuf alaihissalam, mereka berkata,

“Ini saudara kami yang Paduka perintahkan agar turut serta bersama kami. Jadi, kami telah memenuhi perintahmu”.

“Betul betul betul…. Sungguh kalian telah memenuhi perintahku. Terimakasih. Sekarang saya yakin kalian adalah orang-orang yang jujur. Kami akan berikan kalian hadiah”, Yusuf menyambut mereka dengan senang hati.

Kemudian dia mengatur situasi. Dia memerintahkan agar mereka dijamu sebaikbaiknya dengan berbagai hidangan dan minuman. Dan setiap tempat duduk di-design untuk dua orang. Mereka pun dipersilahkan menempati tempat tersebut, lalu dikondisikanlah agar Bunyamin sendirian.

“Qoddarallah, Kalau saudaraku Yusuf masih hidup, tentu saya akan ditempatkan bersamanya”, gumam Bunyamin dalam hati.

Nabi Yusuf alaihissalam berkata: ‘Sungguh, saudara kalian sendirian. Biarlah saya yang menemaninya”, Lalu Nabi Yusuf mendatanginya dan menyantap makanan bersama Bunyamin.

Ketika malam tiba, Nabi Yusuf alaihissalam memerintahkan agar setiap dua orang untuk tidurnya menempati satu tempat. Sebagaimana sebelumnya, Bunyamin dibiarkan sendirian. Maka Nabi Yusuf berkata,

“Saudara kalian yang sendirian biarlah saya yang menemaninya”.

Yusuf mendatanginya dan langsung memeluknya lalu mengajaknya berbincang-bincang , “Siapa namamu?”

“Bunyamin”.

“Siapa nama Ibumu?”, tanya Yusuf kembali.

“Rahil binti Lawi”.

“Apa hubunganmu dengan saudara-saudaramu itu?”

“Saudara seayah”

“Teruss… hmmm… dari ibumu kamu punya saudara?”

“Iya, punya tapi sudah tidak ada”, jawab Bunyamin dengan mata berkaca-kaca.

“Siapa namanya?”

“Namanya Yusuf”

“Hhmmm…. Bunyamin, apakah kamu mau kalau aku jadi saudaramu?”

Tersentak kaget Bunyamin menjawab, “Wahai Paduka yang mulia, siapa yang tidak senang mempunyai saudara seperti engkau… tetapi Ya’qub dan Rahel tidak pernah melahirkanmu…”,

Yusuf tidak kuat menahan diri, dan berderailah air matanya, “Wahai Bunyamin, saya ini Yusuf saudaramu”.

Tercengang kaget seakan tak percaya, Bunyamin memandangi Yusuf. Lalu keduanya berpelukan erat.

“Bunyamin, tolong rahasiakan ini! Jangan bersedih atas apa yang telah mereka perbuat! Yang terpenting Allah ta’ala telah berbuat baik kepada kita semua”, bisik Yusuf terharu bercampur bahagia.

Nabi Yusuf alaihissalam melanjutkan skenario

Nabi Yusuf alaihissalam membuat skenario agar Bunyamin menetap tidak turut pulang bersama mereka. Ketika membagi-bagikan jatah bahan makanan ke kantong-kantong mereka, dia memasukan piala ke dalam kantong Bunyamin. Ketika mereka baru bertolak meninggalkan istana, sebagian staff Yusuf berteriak,

“Tunggu…. Tunggu… Tunggu!!! Ternyata kalian ini pencuri?!”

Mereka berhenti dan langsung menemui, “Kalian kehilangan apa, kenapa menuduh kami pencuri?”

“Kami kehilangan piala raja”

“Demi Allah! Bukankah kalian mengetahui kami ini orang baik-baik?!”, bantah saudara-saudara Yusuf.

“Bukankah kalian mengetahui kami tidak berbuat kegaduhan apalagi kerusakan sepanjang perjalanan kami kemari?!”

“Sudah begini saja. Bagi kami yang terpenting piala raja bisa ditemukan.”

“Kami bikin sayembara siapa yang bisa menemukan piala raja maka baginya hadiah berupa tambahan jatah bahan makanan”.

“Lho…sama sekali kami bukanlah pencuri!!”, tegas mereka membela diri.

“Terus, apa yang harus kami lakukan jika kalian berbohong?”, kata pegawai kerajaan balik bertanya.

“Jika piala tersebut ditemukan di kantong salah seorang di antara kami, maka si pemilik kantong tersebut menjadi budak pemilik barang yang dicuri selama satu tahun, hukum yang berlaku pada kami seperti itu”, jelas saudara-saudara Yusuf.

“Baik, kami akan periksa kantong-kantong kalian”.

“Tidak mungkin kalian akan mendapatkannya dalam kantong-kantong kami. Kami bukan pencuri. Kami ini orang baik-baik”, ucap sebagian mereka dengan penuh kesal.

Pemeriksaan pun dilakukan…

Pegawai kerajaan melakukan pemeriksaan tidak langsung ke Bunyamin. Tetapi dimulai dari yang lainnya terlebih dahulu. Ini untuk menghindarkan dugaan bahwa hal ini sudah di-setting. Satu persatu dicek hingga keseluruhannya, piala tidak ditemukan. Tinggallah kantong Bunyamin. Ketika dibuka, piala raja didapatinya ada di dalamnya, “naah…. ini ada kan?!”

Maka, dia langsung ditangkap.

“Jika dia mencuri…. yaa wajarlah… dia kan saudaranya Yusuf…. yaa sama lah sifatnya, memang bisa saja keduanya berbuat jahat”, ujar sebagian mereka yang dibenarkan oleh sebagian lainnya untuk saling menenangkan, “iya betul… betul… betul !!!”

Yusuf mendengarkan percakapan sesama mereka. Dia bersabar menahan diri. Dia tidak berkata apa-apa melainkan sekedar bergumam di dalam hati, “Justru kalian berbuat lebih buruk dengan apa yang telah kalian lakukan”.

Bunyamin pun ditahan. Nabi Yusuf alaihissalam berhasil menahan adiknya untuk tetap tinggal bersamannya dengan suatu cara yang tidak disadari oleh saudara-saudaranya.

Nabi Yusuf alaihissalam tidak memberlakukan hukum untuk adiknya dengan hukum kerajaan Mesir. Melainkan dengan hukum yang diberlakukan di negeri tempat mereka tinggal yaitu dijadikannya budak selama setahun bagi pemilik barang yang dicuri. Dengan demikian, Yusuf bisa terus bersama adiknya. Lain halnya jika yang diterapkan hukum kerajaan Mesir, yaitu dipukul dan diwajibkan mengganti nilai barang yang dicurinya, maka Yusuf pun akan menyakiti adiknya. Itulah kecerdikan Yusuf.

Allahu Akbar !! Sungguh cara yang halus dan terpuji sehingga tidak diketahui oleh suadarasaudaranya dan tidak sampai menimpakan kerugian atau penderitaan kepada objek sasaran. Jelaslah di atas orang berilmu ada yang lebih berilmu lagi. Dan yang paling tinggi dari setiap yang berilmu adalah Allah ta’ala.

Berat, harus pulang tanpa Bunyamin

Mereka memohon kepada Yusuf dengan penuh iba agar dia berkenan membebaskan Bunyamin.

“Paduka yang mulia, saudara kami yang engkau ambil untuk dijadikan budak selama satu tahun ini memiliki ayah yang sudah tua. Cintanya kepada Bunyamin sangat luar biasa. Bagaimana keadaannya nanti kalau kami pulang tanpa Bunyamin?”

“Paduka yang mulia, kami memohon ambillah salah seorang dari antara kami sebagai penggantinya untuk engkau jadikan budak selama setahun sebagai konsekuensi hukuman pencurian”.

“Paduka yang mulia, tidaklah kami memohon permohonan ini melainkan karena kami melihat engkau orang yang sangat baik. Kami sangat merasakan bagaimana engkau memperlakukan kami selama ini”.

“Sungguh kami memohon, Paduka yang mulia”.

Permohonan mereka tidak membuahkan hasil. Nabi Yusuf alaihissalam menolaknya,

“Kami berlindung kepada Allah, tidak mungkin kami menghukum kecuali terhadap orang yang piala kami dijumpai ada padanya. Kalau tidak demikan, maka kami termasuk orang-orang zhalim”.

Ketika mereka putus asa upaya-upayanya kandas tidak bisa membebaskan Bunyamin, maka mereka pun menjauh kumpul sesama mereka sendiri dan saling berbicara dengan lirih. Saudara tertua mereka berkata,

“Bukankah kalian menyadari Ayah dengan nama Allah ta’ala telah mengambil janji dari kita untuk menjaga Bunyamin baik-baik dan untuk turut serta pulang bersama kita kecuali ada hal-hal seperti bencana dan lainnya yang di luar kemampuan kita?”

“Dan ingat juga, sebelumnya kita telah berbuat zhalim terhadap Yusuf. Jadi, terkumpul pada kita dua kesalahan besar. Coba kalian pikirkan!!”

“Sungguh saya tidak akan pulang….. kecuali kalau Ayah memaafkan dan mengizinkanku pulang…. atau Allah Ta’ala memutuskan lain, saya tetap pulang sendirian atau pulang bersama Bunyamin, Allah lah sebaik-baiknya Dzat yang memutuskan”.

“Pulanglah kalian kepada Ayah dan katakanlah, ‘Wahai Ayah, Bunyamin telah mencuri piala raja. Lalu ditahan. Kami sudah berupaya sekuat tenaga agar bisa dibebaskan tapi tidak berhasil. Sungguh kami tidak bisa mempersaksikan apa-apa kecuali sebatas yang kami ketahui. Dan, yang kami ketahui memang piala itu dikeluarkan dari kantongnya”.

“Jangan lupa kalian juga harus mengatakan begini, ‘Ayah kami tidak mengetahui perkara ghoib. Sekiranya kami mengetahui perkara ghoib tentu kami tidak akan meminta-minta kepadamu untuk membawa Bunyamin ketika engkau mengambil sumpah dari kami”.

“Juga kalian harus mengatakan begini, ‘Ayah jika engkau ragu-ragu terhadap penjelasan kami maka silahkan tanya penduduk daerah yang kami melewatinya dan rombongan-rombongan musafir yang kami jumpai, sungguh kami tidak mengada-ada”.

Nabi Ya’qub alaihissalam semakin sedih

Ketika mereka kembali kepada ayah mereka dan memberitakan kepadanya tentang kejadian itu, Nabi Ya’qub alaihissalam sangat sedih dan kesedihannya semakin bertambah. Beliau curiga terhadap mereka dalam masalah ini, sebagaimana beliau curiga pada peristiwa sebelumnya, yaitu peristiwa hilangnya Yusuf. Namun, beliau hanya berkomentar,

“Sebenarnya nafsu kalian telah memperdaya kalian, sabar…sabar…. sabar…. wahai diriku!!!”.

Betapa Nabi Ya’qub alaihissalam menahan diri dari keluh kesah. Beliau menyerahkan segala urusan sepenuhnya kepada Allah ta’ala. Sedikitpun tidak mengeluh kepada manusia. Lalu terlontarlah dari lisannya,

Mudah-mudahan Allah ta’ala akan mengumpulkan mereka semua kepadaku”.

Setelah itu Ya’qub alaihissalam berpaling dari mereka. Hatinya dipenuhi kesedihan dan duka yang bertambah- tambah hingga banyak menangis dan matanya menjadi putih. Luka lama yang telah terpendam kini muncul kembali. Rasa sedih dan rindu yang membuncah menggerakkan lisannya terus berucap,

“Yusuf…. Yusuf….Yusuf…. sungguh kasihan kamu!!!”

“Ayah, engkau masih terus mengingat-ingat Yusuf sepanjang hidupmu sampai badanmu melemah seperti ini? Ayah kalau keadaanmu terus-menerus seperti ini maka engkau bisa terbujur kaku tidak bisa gerak dan tidak bisa bicara!”, respon anak-anaknya dengan penuh iba melihat keadaan ayah.

Ayah menyanggah, “Tidak anak-anakku. Saya tidak mengeluhkan duka dan kesedihanku melainkan kepada Allah ta’ala. Tidak kepada kalian tidak pula kepada manusia. Kalian mau mengatakan apapun terserah saja, tetapi saya mengetahui apa yang kalian tidak ketahui. Mereka akan dikembalikan semua kepadaku!”

Judul Buku: Nabi Yusuf alaihissalam (Kisah dan ‘Ibrah)

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Nabi Yusuf alaihissalam (Kisah dan ‘Ibrah) bagian 2 https://nidaulfithrah.com/nabi-yusuf-alaihissalam-kisah-dan-ibrah-bagian-2/ Mon, 16 Feb 2026 06:37:59 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21425 Keputusan tetap dipenjara

Sebenarnya sangat terang bagi raja dan para pembesarnya bahwa Yusuf adalah orang baik. Bukti-bukti dan perilakunya menunjukkan dia terbebas dari tuduhan buruk, Seperti: tuduhan perselingkuhan, padahal Zulaikha yang berbuat makar. Teriris-irisnya tangan para wanita yang diundang ke istana juga makar Zulaikha. Namun demikian, kerajaan tetap memutuskan agar Yusuf dijebloskan ke dalam penjara. Kenapa? Karena raja menginginkan case closed. Jika tidak dipenjara, maka siapa saja yang melihat Yusuf akan teringat kasus Zulaikha. Sehingga cerita akan terus bergulir di tengah-tengah masyarakat menjadi bola liar.

Berdakwah di penjara

Nabi Yusuf alaihissalam masuk penjara bersama dua orang pemuda. Salah satu dari keduanya mengatakan, “Saya bermimpi memeras khamr.” Yang satunya lagi mengatakan, “Saya bermimpi membawa roti di atas kepalaku lalu burung -burung memakannya.”

“Wahai Yusuf, takwilkanlah mimpi kami. Sungguh kami memandangmu sebagai orang yang baik!”, pinta mereka kepada Nabi Yusuf alaihissalam.

Nabi Yusuf alaihissalam menjawab, “Kalian berdua tenang saja, saya akan segera menerangkan mimpi kalian. Sebelum sarapan atau makan siang kalian datang, saya sudah jelaskan arti mimpi kalian berdua.”

Nabi Yusuf alaihissalam memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mendakwahi keduanya. “Tidaklah saya bisa mentakwilkannya melainkan karena saya diberitahu oleh Allah ta’ala. Dia lah Tuhan kita semua. Kaumku banyak yang berbuat kesyirikan, sementara saya tidak. Saya hanya menyembah Allah ta’ala saja. Saya hanya mengikuti agama Bapak-Bapakku; Nabi Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub. Tidak patut bagi manusia untuk mempersekutukan Allah ta’ala dengan sesuatu apapun. Tidak takutkah mereka yang berbuat kesyirikan? Dia akan meng-hisab kita semua di Akhirat nanti.”

Lebih lanjut Nabi Yusuf alaihissalam mendakwahi mereka, “Hai Sobat, coba ya kalian berdua pikirkan, apakah benar tuhan itu banyak? Tentu tidak, kalau tuhan banyak maka akan terjadi perebutan kekuasaan di antara mereka. Padahal yang namanya tuhan harus berkuasa mutlak.

Atau tidak dikatakan terjadi perebutan kekuasaan di antara mereka, melainkah berbagi kekuasaan. Maka, sama saja. Ini juga menunjukkan tidak ada kekuasaan mutlak. Padahal yang namanya tuhan harus berkuasa mutlak. Untuk itu Tuhan pasti harus satu. Dia Maha Esa. Dia Maha Kuasa.”

“Wahai Sobat, tidaklah kalian menyembah selain Allah ta’ala melainkan sekedar nama-nama yang kalian menamainya semau kalian. Semuanya itu tidak pernah ada dasar yang membenarkannya. Allah ta’ala tidak pernah menetapkan ketetapan yang demikian. Allah ta’ala lah Dzat yang berhak menetapkan semua ketetapan. Dia memerintahkan kalian dan seluruh manusia untuk hanya menyembah kepada-Nya saja. Tetapi kebanyakan manusia melalaikannya.”

Setelah mendakwahi dua kawannya dengan ketauhidan, Nabi Yusuf alaihissalam baru kemudian mentakwilkan mimpi keduanya,

“Wahai Sobat, salah seorang di antara kalian nanti akan menjadi pelayan raja dengan menyediakan hidangan, makanan, minuman dan lainnya. Sementara satunya lagi akan disalib. Dia dibiarkan tidak dikubur sehingga burung-burung berdatangan untuk memakan bangkainya hingga otaknya. Demikianlah takwil mimpi yang kalian tanyakan. Dan pastilah terjadi takwil ini atas mimpi yang kalian berdua tanyakan.”

Bagaimana tidak benar takwilnya, tidaklah ia mentakwilkan melainkan berdasarkan ilmu yang diajarkan Allah ta’ala.

Lalu Nabi Yusuf alaihissalam berpesan kepada salah satu dari keduanya yang diperkirakan selamat yaitu yang menjadi pelayan raja, “Nanti ketika kamu sedang melayani raja ingatkan dia tentang aku, jangan sampai lupa ya!”.

Ketika sudah datang waktunya, seseorang dari keduanya telah menjadi pelayan raja dan satunya lagi disalib lalu dibiarkan tidak dikubur sehingga bangkainya dimakan oleh burung-burung sebagaimana telah ditakwilkan oleh Yusuf, sang pelayan dijadikan lupa oleh syetan sehingga tidak pernah menceritakan tentang Yusuf kepada raja. Akhirnya Yusuf pun berkepanjangan di penjara hingga tujuh tahun lamanya.

Mentakwil mimpi raja

Di hadapan para pemuka dan tokoh kerajaan sang raja menyampaikan mimpi yang dilihat di dalam tidurnya,

“Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh tangkai gandum yang hijau tertutupi oleh tujuh tangkai gandum lainnya yang kering”.

“Saya heran kok bisa sapi yang gemuk-gemuk dan kuat dimakan sapi-sapi yang kurus yang lemah. Demikan juga tangkai-tangkai gandum kering kok malah menutupi tangkai-tangkai gandum yang hijau-hijau nan segar?!”.

“Wahai, para pemuka dan tokoh, tolong jelaskan kepadaku takwilannya!!”

Mereka menjawab, “Kami memandang itu sekedar bunga tidur atau mimpi dari syetan, maka kami tidak bisa mentakwilkan. Adapun kalau mimpi yang bermakna dan berkualitas, maka pasti kami akan takwilkan”.

Subhanallah, sebenarnya mereka tidak bisa mentakwilkan mimpi. Tetapi mereka malah menyombongkan diri. Kemudian…..

Pemuda teman sepenjara Yusuf menghadap raja. Dia baru ingat tentang Yusuf setelah tujuh tahun berlalu, “Wahai Baginda Raja, utuslah saya kepada seseorang. Saya akan bertanya kepadanya tentang takwil mimpimu!”.

Pemuda itu bergegas menemui Yusuf di penjara, “Wahai Yusuf orang yang terpercaya, beritahukanlah saya tentang mimpi raja. Dia bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh tangkai gandum yang hijau tertutupi oleh tujuh tangkai gandum lainnya yang kering”.

“Takwilkanlah wahai Yusuf. Nanti saya akan kembali kepada raja dan para pembesarnya untuk menyampaikan takwilnya. Semoga mereka paham dan bisa mengambil manfaat. Juga, nanti namamu akan terangkat, wahai Yusuf”.

Yusuf pun mentakwilkan. “Dengar baik-baik ya… begini takwilnya,

“Kalian harus terus-menerus menanam gandum selama tujuh tahun sebagaimana kalian biasa menanam. Nanti kalau sudah panen biarkan gandum itu di dalam bulirnya. Simpanlah baikbaik. Jangan dikonsumsi kecuali sedikit saja. Kalian harus pandai berhemat”.

“Kemudian sesudah itu akan datang tahun – tahun yang amat sulit, yaitu paceklik selama tujuh tahun. Ia akan menghabiskan gandum yang telah kalian simpan selama tujuh tahun. Sehingga kalian hanya bisa menyisakan sedikit saja”

Kemudian setelah melewati tujuh tahun masa paceklik kalian akan diberi hujan dan air akan berlimpah. Tanaman – tanaman akan tumbuh subur di mana- mana. Rezeki kalian bertambah-tambah bahkan kalian akan memeras anggur dan sejenisnya sebagai tambahan makanan untuk kalian.

Ketika pemuda itu kembali kepada raja dan para pembesarnya dan memberitahukan takwil mimpi oleh Yusuf, mereka kagum karenanya dan sangat bersukacita.

Nabi Yusuf alaihissalam diminta menghadap raja

Raja memerintahkan kepada para pegawai yang ada di sekitarnya untuk mengeluarkan Yusuf dari penjara lalu dibawa untuk menghadapnya. “Wahai Yusuf, silahkan keluar dan mari bersama saya menghadap raja. Beliau memanggilmu”, perintah seorang pegawai kerajaan.

“Oh tidak, kembalilah kamu dan sampaikan kepadanya saya tidak mau keluar dari penjara hingga nama baikku dikembalikan. Tanyakan kepada raja mengenai kejadian para wanita yang mengiris-ngiris tangannya. Apa kaitannya denganku? Apa salahku? Kenapa saya dihukum penjara? Sungguh Allah ta’ala Tuhanku Maha Mengetahui apa yang sebenarnya terjadi”, respon Yusuf menolak intruksi pegawai kerajaan.

Yusuf menolak untuk keluar dari penjara meskipun telah diputuskan bebas. Ini menunjukkan kesabarannya. Dia rela tinggal lebih lama lagi di dalam penjara hingga nama baiknya dipulihkan terlebih dahulu. Dia tidak mau dikesankan oleh manusia sebagai orang buruk karena telah dihukum penjara. Dan, hal yang luar biasa dia sama sekali tidak menyebut Zulaikha sebagai bentuk penghormatan kepadanya.

Kemudian, raja meminta para wanita dihadirkan, “Ketika kalian merayu-rayu Yusuf, apakah kalian mendapatinya ada keinginan juga untuk berbuat terhadap kalian”.

“Oh, subhanallah…. subhanallah…. Sungguh kami tidak berbuat demikan”, ucap mereka membantah tuduhan.

Mereka pun secara reflek menoleh ke Zulaikha, ”Dia lah yang merayu-rayu, dan kami diperintahkan untuk memotivasi Yusuf agar memenuhi keinginannya. Sedikitpun kami tidak melihat keburukan pada diri Yusuf,”

Khawatir para wanita melakukan sumpah atas dirinya, Zulaikha pun langsung mengakuinya, “Iya benar, sekarang perkaranya telah terangbenderang, saya lah yang merayu-rayu Yusuf. Sungguh dia orang yang baik, jujur dan menjaga diri”.

“Pengakuanku ini tidak lain agar lebih terang bagi suamiku bahwa belum terjadi apa-apa antara saya dan Yusuf kecuali sebatas merayunya saja. Saya tidak mengkhianatinya. Saya tidak merusak kehormatannya. Sungguh Allah ta’ala tidak memberi hidayah pada makar dan pengkhianatan”,

Dari ucapannya ini, Zulaikha membela dan memuji diri seakan – akan tidak berbuat kemungkaran dalam kejadian ini. Padahal tindakannya itu merupakan kemungkaran dan dosa, Setelah menyadari dirinya telah berbuat tazkiyatun nafs yaitu memandang dirinya suci, maka dia langsung mentaubatinya dengan mengatakan,

“Saya tidak mungkin membebaskan diriku dari keburukan. keserakahan, dan makar jahat. Karena nafsu ammarah bis suu-i (senantiasa berbisik kejahatan). Tidak ada yang bisa terhindar darinya kecuali orang yang telah dilimpahkan rahmat oleh Allah ta’ala. Ya Allah, saya bertaubat kepada-Mu. Engkaulah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Penyayang”.

Judul Buku: Nabi Yusuf alaihissalam (Kisah dan ‘Ibrah)

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Nabi Yusuf alaihissalam (Kisah dan ‘Ibrah) https://nidaulfithrah.com/nabi-yusuf-alaihissalam-kisah-dan-ibrah/ Sat, 14 Feb 2026 06:23:56 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21422 A. KISAH

Asal Nabi Yusuf dan keluarganya

Nabi Yusuf alaihissalam, putra Nabi Ya’qub alaihissalam, lahir di Kan’an wilayah Syam yang sekarang meliputi Palestina, Libanon, Suriyah dan Yordania. Dia dua belas bersaudara. Saudara kandungnya bernama Bunyamin. Adapun yang lainnya saudara seayah. Yusuf sangatlah tampan. Itulah karunia Allah ta’ala yang diberikan kepadanya. Nabi Ya’qub mencintai mereka semuanya.

Mimpi isyarat kemuliaan

Nabi Yusuf alaihissalam, ketika umurnya belum genap 12 tahun, bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan semuanya sujud kepada dirinya. Takwil matahari dan bulan adalah ayah dan ibunya. Sedangkan sebelas bintang adalah saudara-saudaranya. Ayahnya berpesan kepadanya agar mimpi tersebut yang merupakan isyarat kemuliaan Yusuf, jangan sekali-kali diceritakan kepada saudara-saudaranya, dikhawatirkan mereka akan cemburu kepada dirinya. Ini menunjukkan sang ayah menginginkan mereka tetap hidup rukun damai tanpa hasad dan perpecahan.

Saudara-saudaranya cemburu kepadanya

Saudara-saudara Yusuf mendapatkan kesan ayah mereka lebih menyayangi Yusuf dan Bunyamin. ”Sungguh Ayah kita lebih mencintai Yusuf dan Bunyamin padahal kita satu keluarga. Sungguh ayah sangat tidak adil”, ujar mereka. Mereka merasakan perhatian ayah kepada keduanya lebih besar, padahal mereka lebih besar dan lebih kuat untuk membantu pekerjaan orangtua daripada Yusuf dan Bunyamin yang masih kecil-kecil.

Sang Ayah, Nabi Ya’kub alaihissalam senantiasa berbuat adil kepada anak-anaknya. Adapun dia lebih perhatian kepada Yusuf dan Bunyamin disebabkan keduanya masih kecil-kecil dan ibu keduanya telah meninggal dunia. Perhatian kepada Yusuf semakin bertambah setalah Yusuf bermimpi yang mengisyaratkan kemuliaan dirinya.

Saudara-saudaranya merencanakan makar

“Bunuh saja Yusuf! Atau kita singkirkan dia, kita buang ke tempat yang jauh agar kita terbebas dari dia. Urusan dosa, gampang saja tinggal kita bertaubat kepada Allah ta’ala”, rembug sesama mereka.

Seseorang dari mereka mengatakan, “Jangan dibunuh, tapi kita singkirkan saja ke tempat yang jauh, kita lemparkan ke sumur biar ditemukan oleh musafir yang lewat lalu dibawanya pergi. Yang terpenting kan kita terbebas dari dia”

Merealisasikan makar

Mereka membujuk sang Ayah agar merelakan Yusuf untuk bermain bersama mereka, “Ayah biarkanlah dia bermain bersama kami. Kami akan menjaganya”.

Ayah tidak mengizinkannya karena khawatir mereka teledor yang berakibat Yusuf dimakan serigala.

Mereka terus membujuk, “Mengapa engkau tidak percaya kepada kami, wahai Ayah?!! Sungguh benar-benar kami akan menjaganya. Bagaimana mungkin kami teledor darinya akhirnya dimakan srigala, bukankah kami bersaudara?!”

Ketika mereka berhasil membawa Yusuf, mereka bersepakat untuk melemparkannya ke dalam sumur. Yusuf berontak untuk bisa terlepas dari cengkraman mereka. Tapi, apalah artinya energi Yusuf yang hanya bocah kecil di hadapan saudara-saudaranya yang besar.

Yusuf ditinggal sendirian di dalam sumur. Saudara-saudaranya pulang di waktu Isya. Berpura-pura menangis dan bersedih bersedih, “Ayah…. Ayah… Ayah…. (sambil terus terisak tangis), maafkan kami Ayah… Sungguh kami benar-benar menjaga Yusuf, tapi pas kami bermain Yusuf kami tempatkan bersama barangbarang kami, ternyata ada serigala dan memangsanya”

Tersentak kaget bercampur marah dan sedih, Ayah hanya bisa mengatakan, “Shobrun jamiil….. Sabar…sabar… sabar. Sabar…. Ya Allah, Kuatkan kesabaranku!”

Ayah…. Ayah… (sambil terus terisak tangis) kami sudah menduga engkau tidak akan percaya kepada kami. Percayalah Ayah! Kami tidak bohong. Ini buktinya,” Mereka menyodorkan baju Yusuf yang telah dilumuri darah palsu, bukan darah sungguhan dari jasad Yusuf.

“Sabar…. Sabar….. sabar….. sabar…. Shobrul jamiiil… Allah lah tempat memohon pertolongan”, ujar Ayah menguatkan penyandaran kepada Allah ta’ala.

Sementara itu, Yusuf yang ditinggal sendirian di dalam sumur terhibur dengan turunnya wahyu dari Allah ta’ala, “Sungguh kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedangkan mereka tidak menyadari”

Ditemukan oleh rombongan musafir

Rombongan musafir yang hendak ke Mesir memerlukan air. Seseorang dari mereka mendatangi sebuah sumur. Ketika timba diulurkan ke dalam sumur untuk mendapatkan air, betapa kagetnya dia, ada seorang bocah yang memegang erat timba tersebut. Diangkatlah timba, “Sungguh menggembirakan…. seorang bocah ganteng” Mereka hendak merahasiakannya dan membawanya pergi bersama barang-barang mereka.

Saudara-saudara Yusuf yang tidak jauh dari situ dan dari awal mengamatinya segera mendatanginya, “Maaf… maaf… maaf, dia itu budak kami yang melarikan diri. Tidak mengapa kalian memilikinya, kami jual dengan harga murah”.

Yusuf dijual sebagai budak dengan harga yang sangat murah. Karena keinginan mereka bukan uang, tetapi semata-mata agar terbebas darinya. Mereka pun memastikan agar Yusuf benar-benar dibawa bersama rombongan musafir itu.

Dibeli oleh seorang pembesar kerajaan Mesir

Rombongan musafir menjual Yusuf. Seorang pembesar istana melihatnya dan sangat terkagum-kagum dengannya. Dia membelinya, “Perlakukanlah dia sebaik-baiknya. Kita bisa memanfaatkannya untuk membantu pekerjaanpekerjaan atau kita angkat sebagai anak kita”, kata dia berembug dengan istrinya.

Tumbuh sebagai pemuda sholeh di dalam lingkungan istana

Yusuf tumbuh besar di dalam lingkungan istana. Ketika menginjak usia yang kuat dan siap untuk menghadapi beban kehidupan secara fisik dan psikis, Allah ta’ala memberinya ilmu dan hikmah. Dia diangkat menjadi Nabi. Dengan ilmu Yusuf mengetahui banyak hal, dan dengan hikmah dia berbuat dan memutuskan sesuai petunjuk ilmu.

Fitnah mulai menerpa

Yusuf, pemuda tampan tinggal satu rumah dengan wanita yang mengasuhnya, Zulaikha. Istri pembesar istana. Suatu hari Zulaikha tidak kuasa untuk menguasai dirinya. Ketampanan Yusuf yang selalu menggoda menjadikannya mabuk kepayang. Dia mengunci seluruh pintu, tidak ada siapapun di dalam rumah kecuali hanya mereka berdua, lalu mendekati Yusuf dan merayu-rayunya agar mau berbuat untuk memenuhi hasratnya. Yusuf menolak, “Saya berlindung kepada Allah ta’ala dari perbuatan maksiat. Saya berlindung kepada Allah ta’ala dari mengkhianati orang yang selama ini berbuat baik kepadaku”.

Keadaan ini sulit bagi Yusuf. Dia seorang bujangan, hidup di pengasingan jauh dari keluarga, hanya berduaan tidak ada yang melihat, dan yang terus menggodanya adalah wanita cantik jelita dari kalangan pembesar istana. Ketika itu wajah ayahnya, Nabi Ya’kub hadir di hadapannya dengan mengatakan, Hai Yusuf, akankah kamu berbuat kebodohan ini, padahal kamu telah tertulis di sisi Allah ta’ala sebagai Nabi?! Bukti kebenaran dari Tuhannya ini telah melindunginya. Akhirnya ia selamat dari ajakan keji. Di sisi Allah ta’ala dia termasuk hamba yang mukhlis.

Lari dari jeratan fitnah

Yusuf berlari kencang kabur dari Zulaikha, tetapi dia tetap mengejarnya dan berhasil meraih bajunya. Baju Yusuf pun robek bagian belakangnya. Namun, Yusuf berhasil meraih pintu dan membukanya tepat ketika sang suami berada di hadapannya. Zulaikha membuat makar, “Wahai suamiku, apa balasan bagi orang yang hendak berbuat jahat terhadap istrimu. Bukankah hukuman yang setimpal adalah penjara atau disiksa?!”

“Oh tidak, justru dia yang merayu-rayu dan menggodaku”, tangkis Yusuf membantah fitnah.

Sang suami tidak bisa menyimpulkan siapakah yang jujur dan siapakah yang berbohong? Di situ ada seseorang yang masih satu keluarga dengan Zulaikha. Dia membantu mencarikan jawaban,

“Begini saja, ini kan permasalahan yang mudah in syaa-Allah. Coba perhatikan robeknya baju bagian depan ataukah belakang? Kalau robeknya bagian depan, maka Zulaikha yang benar. Tetapi, kalau robeknya bagian belakang, maka Yusuf yang benar”

Sang suami yang tidak lain adalah pembesar istana benar-benar memperhatikannya, jelaslah baginya bahwa yang jujur adalah Yusuf. Karena robeknya baju bagian belakang. Dia pun murka kepada istrinya, “Sungguh keterlaluan…. keterlaluan…. Kamu telah berbuat makar. Beristighfar lah kamu… Taubatlah kamu !!!”

“Wahai Yusuf, sudahlah lupakan saja semua ini!!”, ujarnya mengakhiri permasalahan.

Berita ini tersebar viral ke lapisan masyarakat. Khususnya kaum wanita, mereka mencibir perbuatan Zulaikha, “Oh sesat itu…. Sungguh dia terbuai oleh budaknya sendiri, mabuk cinta kepadanya, Sayang dia tidak bisa menahan diri, sungguh keterlaluan…..”

Respon Zulaikha

Zulaikha tidak tahan dengan cibiran kaum hawa. Dia hendak membuktikan betapa mereka pasti juga terpesona dan tergila-gila dengan kegantengan Yusuf alaihissalam. Dia ingin ketergelincirannya itu dimaklumi bukan dicibir. Pembuktian pun dimulai. Dia menyiapkan hamparan permadani dan bantal-bantal untuk bersandar lengkap dengan berbagai macam makanan dan buah-buahan yang membutuhkan pisau untuk mengupasnya. Ketika mereka sudah datang dan dipersilahkan menikmati jamuan, Yusuf disuruh keluar dan berjalan di depan mereka. sontak mereka beucap, “Maa syaa-a Allah…. Maa syaa-a Allah…. Maa syaa-a Allah…. Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar…. Ini bukan manusia, ini Malaikat…. Maa syaa-a Allah…. Allahu Akbar…???!!!”

Saking terpesona dengan kegantengan Yusuf, mereka tidak menyadari tangan-tangan mereka bersimbah darah. Rupanya bukan makanan dan buah-buahan yang dikupas-kupas melainkan tangan yang diiris-iris. Fenomena itu langsung dijadikan Zulaikha untuk membungkam mereka,

“Tuh kan… Masih terus mencibir saya?!
“Kalian lihat sendiri kan ?!”

Setelah para wanita memaklumi ketergelinciran Zulaikha dalam kemungkaran, Dia memberitahukan ihwal Yusuf, betapa dia bukan saja sempurna secara fisik melainkan juga kepribadiannya,

“Sungguh saya telah menggoda dan merayu-rayunya tapi dia tetap tidak bergeming.”

Kobaran cinta dan hasrat mendapatkan kehangatan dari Yusuf tidaklah padam, maka di hadapan para wanita Zulaikha yang merasa dirinya sebagai majikannya menunjukkan kekuasaannya,

“Bukankah aku majikannya, kalau dia tidak menuruti apa yang saya inginkan pasti akan saya penjara hingga ditimpa kehinaan”

Para wanita itu pun akhirnya memotivasi Yusuf untuk mentaati majikannya daripada beresiko dipenjara atau dihinakan. Apa yang dilakukan Nabi Yusuf alaihissalam? Beliau langsung memohon pertolongan kepada Allah ta’ala,

“Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika Engkau tidak hindarkan dariku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.”

Allah ta’ala langsung meng-ijabah-i doanya. Nabi Yusuf alaihissalam pun terhindar dari makar mereka untuk berbuat mesum.

Judul Buku: Nabi Yusuf alaihissalam (Kisah dan ‘Ibrah)

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Sepenggal Kisah Penjual Beras https://nidaulfithrah.com/sepenggal-kisah-penjual-beras/ https://nidaulfithrah.com/sepenggal-kisah-penjual-beras/#respond Sat, 25 Dec 2021 00:56:19 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=12953 Dampak pandemi virus korona begitu dirasakan banyak pihak. Khususnya aspek perekonomian. Bi-t- taufiq minallah saya berlaku sigap. Jualan beras pun mulai dijalani. Merk yang saya pilih tentu Nidaul Fithrah karena selain brandingnya bagus; tanpa pengawet, tanpa pemutih dan tanpa pewangi juga merupakan usaha miliki yayasan dakwah.

Sepenggal kisah pun dimulai….

Hari itu, Selasa sore 18 Rajab 1442/2 Maret 2021, ada orderan 10 sak beras (@ 5kg )dari seorang Ibu di Jl. Prambanan dan 1 sak dari seorang Ibu di Wonorejo. Rencananya seusai dari jl. Prambanan langsung ke Wonorejo. Kalau hanya 1 sak beras mungkin saya kurang semangat, tapi beliau juga pesan frozen dan gulakong. Jadinya tetap semangat meskipun sudah tergambar perjalanan yang tidak searah dan cukup jauh. Tapi ini  tidak seberapa jauh, karena sebelumnya pernah melayani order tiga sak ke Sido Rejo Krian.  Ya, memang usaha ini masih perintisan. Jadi, mesti memperkuat motto “semakin banyak tabur benih semakin banyak panen, insyaallah”. Ya Allah! Jadikanlah hati-hati kaum muslimin cenderung kepada beras Nidaul Fithrah, Innaka Anta Muqollibul Qulu bwa innaka Anta Ar-Rozzaq Dzul quwatil matin. Amin

“Tapi mendung eh”, komentar istri saya melihat cuaca.

“ iya sich… insyallah cukup waktunya gak sampai hujan, Jl. Prambanan gak terlalu jauh kok”, argumen saya meyakinkan istri.

Istri menyiapkan kantong hitam besar. Saya mengangkuti 11 sak beras dari ruang kelas TK yang dipinjam sementara untuk gudang beras. Tujuh sak sudah dimasukkan ke dalam plastik dan ditempatkan di sepeda motor matic bagian depan, empat sak lainnya dibonceng di belakang  dipegangi istri. Biasanya memang demikian. Karena kalau ditempatkan di bagian depan semua sepeda motor susah untuk di belokkan.

Adapun si kecil, Albaro Muhammad (5 tahun) telah dititipkan pada Amminya di Rumah Belajar (RB) THAYBAH.

“Kalau dari Keputih lewat Mulyorejo saja lurus terus sampai mentok, Jl. Prambanan ya di sekitar situ”, terang mas Rudi teman seperjuangan saya di yayasan beberapa saat sebelum mengangkuti beras melalui telpon.

Allahu Akbar…..baru saja memasuki wilayah Mulyorejo seusai melewati jalan kembar Mulyosari gerimis mulai menyapa.  Tidak lama kemudian dalam hitungan detik turunlah hujan yang membuyarkan suasana hati.

“Abi ada plastik?” Tanya istri.

“Gak ada, ya hanya yang di depan ini”. Jawabku

“Terus gimana beras yang di belakang ini?”

“O, iya… ada jas hujan Abi di bawah jok”, responku penuh yakin karena memandangnya sebaagai solusi.

Subhanallah… ternyata tidak cukup untuk menutupi tubuh istri. Jas hujannya hanya cukup untuk menutupi saya dan beras di belakang. Keputusan pun diambil; yang penting beras selamat tidak basah. Tapi istri terbiarkan basah kuyup kehujanan.

 “Hihihihhiii……(terdengar menggigil), Abi kan tahu aku gak kuat dingin-dingin…”. Padahal sepeda motor baru saja melaju beberapa meter. Memang istri sangat anti dingin. Di rumah suka-suka  ribut kalau  saya meng-on kan AC sebelum tidur. Di ruang kelas tempat dia mengajar juga suka-suka AC di on kan dengan suhu 28 derajat.

“Iya…terus gimana, masak balik lagi sich… kan sudah kadung kehujanan”?”

“Iya… tapi aku menggigil kedinginan…”. Keluhnya.

“Orang-orang lho pada berteduh, kok Abi malah jalan terus”, keluhnya lagi yang menjadikan saya semakin iba.

Sepeda motor terus melaju, rintihannya semakin menjadi-jadi. Terlebih kalau motornya dirasa lebih kencang yang menjadikan terpaan anginnya lebih kencang juga.

“Dingin…dingin…dingin… hihihihi….jangan banter-banter aku gak kuaaat!!”.

“Abi…. Abi…Abi… Abi??!!!

Hujan terus mengguyur seakan tak kenal kompromi, sepeda motor saya hentikan. “Pulang saja….Aku gak kuat”.

“Lho sudah separo jalan ini”,

“Ya saya diturunkan di mana gitu, Abi sendirian saja?!”

“Ya, gak apa-apa, Abi carikan tempat yang aman”.

“Di musholla saja, Bi. Tuh ada musholla”.

Saya mengkhawatirkan masalah keamanan, karena tampak mushollanya sepi dan saya pikir kondisi baju yang basah kuyup seperti itu tidak memungkinkan ada tempat baginya . “Jangan di musholla di tempat lain saja yang lebih aman”.

Terdengar dari pengeras suara menggema bacaan-bacaan yang  menunjukkan tidak lama lagi Maghrib akan tiba. Saya berhenti di depan salah satu mini market yang terletak di pinggir jalan, menurunkan istri dan satu sak beras. Kini di depan saya ada 10 sak yang ditutupi dengan jas hujan. Tujuh berada dalam plastik besar sehingga aman dari basah sementara yang  3 sak ditumpukkan di atasnya. Setelah memastikan kondisi istri aman dengan badan yang tetap menggigil, saya melanjutkan perjalanan.  Allahu Akbar, sungguh cukup susah kalau pas harus membelokkan sepeda motor karena terganjal dengan tambahan beras tadi. Sesekali saya harus berhenti membetulkan posisi beras yang mau jatuh.

Jaglugg….. Subhanallah!!! Sepeda motor oleng ke kiri. Rupanya masuk jegongan yang tidak terlihat tertupi oleh banjir, dan 1 sak beras terdorong mau jatuh. Sambil membetulkan posisi beras di pinggir jalan, saya gunakan kesempatan untuk bertanya kepada seseorang yang ada di situ, “Mas, jl, Pacar Keling itu mana?”

“Terus saja sampai mentok, Pak. Terus nanti ke kiri.”

“Lho… bukannya ke kanan, Mas?

“Bukan, Pak, Tapi ke kiri”.

Saya agak bingung. Karena kata oang yang ditanya waktu menurunkan istri setelah mentok ke arah kanan.

“Mas, sebenarnya tujuan saya mau ke Jalan Prambanan”.

“ Oh ya memang seputar situ, Pak. Nanti di sana nanya saja lagi”.

Sepeda motor terus melaju hingga sampai ujung jalan.  Mentok di persimpangan. Mungkin bisa dikatakan simpang lima.  Saya belok kiri sedikit berhenti di situ sambil menunggu orang lewat untuk bertanya. Sebentar kemudian seakan tersadarkan kalau diteruskan bisa tembus ke RS. Dr. Sutomo. Ya betul, rasanya pernah lewat situ. Sebenarnya di situ ada banyak orang berteduh di teras rumah. Tapi tidak memungkinkan untuk menghampiri mereka karena sulitnya medan dan susahnya membelokkan sepeda motor. Bertanya ke Mbah geogle juga tidak mungkin karena hujan lebat. Alhamdulillah tidak lama kemudian ada seseorang berjalan kaki. “Bu, maaf, jalan Prambanan itu mana?”

Ibu tersebut menjelaskannya cukup rinci dan jelas. Intinya,  harus menyeberang jalan. Tapi, qodarallah karena terhalang helm yang tertarik ke depan oleh jas hujan saya tidak bisa menoleh ke belakang untuk memastikan apakah sudah bisa menyeberang. Lalu lintasnya terlihat cukup padat. Akhirnya saya menunggu sepeda motor yang mau menyeberang untuk bisa dibarengi. Alhamdulillah Allah beri kemudahan.

Perjalanan berlanjut ke jalan Prambanan. Ternyata sudah dekat dari persimpangan tadi. Mulailah  tengok-tengok ke kanan dan ke kiri mencari alamat rumah. Alhamdulillah ketemu. Tapi penghuninya belum juga keluar padahal bel rumah sudah ditekan. “Mungkin saja belnya sedang bermasalah”, gumamku.

 Agak lama menunggu, saya putuskan untuk menelpon. Dengan susah payah berkali-kali mencoba membuka password HP. Subhanallah… sulit sekali. Bagaimana  tidak, layar HP basah kena tetasan-tetesan hujan meskipun sudah mulai mereda. Dengan posisi masih di atas sepeda motor, saya menuju pohon yang berada di sebelah kiri sudut pagar rumah berharap siapa tahu tidak terkena tetesan-tetesan hujan agar password bisa dibuka. Sama saja hasilnya nihil. Akhirnya HP harus berulang kali diusap-usapkan pada jaket. Dan…. alhamdulillah password berhasil dibuka.

Setelah telpon terhubung, seorang pembantu membukakan pintu pagar. Saya izin menaiki sepeda motor hingga ke garasi rumah agar bisa menurunkan beras dengan nyaman.

“Bu, maaf. Ini tujuh sak tidak basah alhamdulillah. Tapi tiga sak ini mungkin berasnya ada yang basah karena sekedar ditutupi jas hujan. Nanti saya ke sini lagi untuk mengganti tiga sak yang basah ini”, kataku kepada Ibu pemesan beras yang keluar menemuiku di teras rumah.

“Nggak usah, Pak. Nanti biar dicek. Kalau memang basah ya biar dimasak duluan”.

“MasyaAllah barakallahu fih baik sekali Ibu ini”, gumamku dalam hati. “Semoga Allah membalas kebaikannya”.

Adzan Maghrib sudah terdengar sejak sekitar lima menit sebelumnya. Pikiranku hanya tertuju pada istri. Setelah puter balik, saya menunju simpang lima tadi. Terlihat jalan yang tadi dilalui terdapat tanda forbidden lingkaran merah dengan stret putih di tengahnya. “Waah… berarti saya tidak boleh lewat situ, itu jalan satu arah, tapi istriku di situ”, gumamku dalam hati. “Terus lewat mana yah?”. 

“Mas, permisi mau nanya, kalau lewat situ gak boleh?”, tanyaku kepada penjual nasi goreng kaki lima di pinggir jalan.

“Gak boleh, Pak, Itu forbidden”.

“Terus lewat mana, Mas?”

“Lho, Bapak mau ke mana?”

“Mau ke Mulyosari”

“Lewat situ, Mas. Nanti belok kiri”. Dia menunjuk jalan yang tembus sampai RS. Dr. Sutomo.

“Tapi, saya mau jemput istri di jalan situ, Mas. Tadi saya tinggal di mini market deket-deket Hotel Sampurno”,

“Ohhh… coba saja lewat situ. Banyak kok yang lewat situ”.

“Akankah saya melanggar peraturan lalu lintas?”, gumamku dalam hati.

Saya tetap mencoba mendekat ke jalan yang bertanda forbidden tersebut. MasyaAllah ternyata itu jalan kembar terpisahkan oleh sungai. Jalan satunya lagi tidak terlihat karena tertutupi warung-warung.

Sepeda motor melaju ke arah balik sambil terus tengok-tengok ke kanan mencari mini market A tempat istri ditinggal. Terlihatlah mini market A. Setelah putar balik menuju ke sana, betapa hati ini berdebar-debar, istri tidak saya jumpai di situ. “Berarti bukan mini market ini”, gumamku dalam hati.

“Mas, apa ada mini market A selain ini?”, tanyaku kepada seseorang yang sedang istrirahat di teras.

“Iya, ada. Terus saja ke arah sana, paling-paling lima menitan”, terangnya sambil menunjuk ke arah persimpangan tadi.

Saya pun mengikuti arahan tersebut. Ternyata sudah mentok di persimpangan tidak ada mini market A lagi.

 Saya kembali balik arah dan ketika puter balik, ternyata saya menuju ke  mini market A yang baru saja didatangi. “Allahu Akbar….kok mini market ini lagi?”.

 Bukankah posisinya setelah pertigaan? Tapi kok bukan ya….”, menerawang kebingungan sambil menyalahkan diri sendiri, kenapa tidak “nengerin’ posisinya secara pasti. Qoddarallah.

Saya putuskan untuk kembali balik arah lebih jauh lagi, baru setelah itu menyisir setiap mini market A yang dijumpai. Sepeda motor terus melaju. Tepat di musholla pinggir jalan kuhentikan.  di bawah atap terasnya ku coba menelpon istri.

“Mi, Umi di mana sich?”

“Ya di mini market A”,  terdengar memelas. “Cepetan … Aku menggigil kedinginan,,,, gak kuat banget”

“Lho mini market A mana…. Abi sudah dua kali ke situ gak ada Ummi”, tanyaku kebingungan.

Betapa hati ini sedih sekali, di musholla sedang berlangsung shalat jamaah Maghrib sementara saya seperti orang linglung di pinggir jalan. Rasanya pengin bergabung shalat jamaah dulu, tapi keadaan memaksa saya untuk mempertimbangkan maslahat dan mafsadat. Tidak mungkin membiarkan istri dalam kondisi seperti itu.

Sepeda motor Kembali di-stater, terus melaju sambal tengok-tengok ke arah kanan. Setelah melewati mini market A yang didatangi dua kali tadi, saya berkeyakinan kuat kalau menjumpai mini market A berikutnya insyaallah dia di sana. Beberapa saat kemudian setelah dirasa agak jauh, terlihatlah mini market A, Kini tinggal mencari jalan puter balik. Dan benarlah ketika sudah semakin dekat tampak satu-satunya sosok wantia bercadar. Alhamdulillah.

“Bi…..bi….bi….. hiiiiiiihhiiii….dingin banget, Bi. Umi pake jas hujannya ya?”, mintanya memelas.

Jas hujan dilepas dan dikenakan istri. Paling tidak agar tubuhnya tidak terkena guyuran hujan lagi yang kini mulai lebat kembali dan juga terpaan angin, meskipun bajunya yang basah kuyup sudah sangat membuatnya kedinginan.

Saya mengkhawatirkan kalau sampai dia pingsan. Makanya, saya menyarankannya agar membonceng dengan posisi “mbegagah” jangan “nyemplak”. Dia tidak mau. Katanya kalau “mbegagah”terpaan angginnya lebih kuat yang membuatnya semakin menggigil.

Sepeda motor melaju pelan-pelan membelah genangan banjir yang menutupi jalan. Rasanya ingin ngebut biar segera sampai. Tapi, setiap kali menambah kecepatan sedikit saja istri sudah teriak-teriak. “Dingin….dingin… jangan banter-banter!!”. 

Saya benar-benar mengkhawatirkan kalau dia pingsan. Terlebih ketika pegangannya pada jaketku dirasa melemah.  Sesekali saya panggil. Rupanya kini dia banyak diam karena tangisan yang tak terbendung. Setiap kali saya mengecek keadaan dengan menjulurkan tangan ke badannya, setiap itu pula dia teriak, “jangan sentuh…. tangan Abi dingin banget”…….

“Mi, ini sudah dekat Mulyosari, nanti mau mampir Bu Erwadi?”

“Mau apa?”

“Biar Ummi segera ganti baju”.

“Gak mau ah… malu kalau pinjam baju”.

Dengan penuh kesabaran, sepeda motor terus melaju pelan-pelan. Tidak jarang kami terkena cipratan air ke wajah dan ke tubuh pas mobil atau motor yang berpapasan melaju kencang. Plong….serasa sudah sampai begitu memasuki jalan  Keputih Tegal Timur yang telah berubah menjadi ‘sungai dadakan”. Padahal rumah masih lumayan jauh sekitar 700 meter lagi. Hal ini mungkin telah menghibur sementara kejiwaan dan badan yang  sedang mengalami keletihan .  

Sesampainya di rumah, air panas dari termos langsung ku tuang buat mandi istri, pas juga gas elpiji habis. Kami bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla atas penjagaan-Nya. Senang bercampur haru, tapi juga sedih karena tidak mendapatkan shalat Maghrib berjamaah. Selesai.

#Semoga kita semua selalu bersemangat mencari rizki yang halal#

Hikmah dan Pelajaran yang Bisa Diambil

  1. Apa yang Allah ‘Azza wa Jalla takdirkan pasti terjadi. Disebutkan dalam Al-Qur’an,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ [الحديد: 22]

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid:22)

Pandemi virus korona berkepanjangan sebagaimana yang kita alami ini tentu sudah Allah tetapkan. Bahkan telah ditetapkan sejak 50.000 tahun sebelum Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan langit dan bumi.

2. Dampak pandemi virus korona yang sedemikian dirasakan adalah musibah bagi kita semua kaum muslimin. Sikapilah musibah ini dengan sabar dan memperkuat ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dsebutkan di dalam Al-Qur’an.

وَمَآ أَرْسَلْنَا فِى قَرْيَةٍ مِّن نَّبِىٍّ إِلَّآ أَخَذْنَآ أَهْلَهَا بِٱلْبَأْسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ (الأعراف:94)

: Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri (QS. Al-A’rof:94)

Meskipun ayat ini menginformasikan tentang adzab yang ditimpakan kepada para penentang Rasul agar mereka sadar, tetapi tentunya merupakan cambuk bagi kita juga. Karena bersamaan dengan keimanan dan keislaman yang ada pada kita, bisa jadi banyak hal yang dilanggar sehingga Allah menegur kita dengan teguran-teguran; kekurangan, sakit, kesulitan dan yang lainnya agar kita menyadari. Intinya, ketika ditimpa musibah kita harus banyak mendekatkan diri kepada Allah.

Ketahuilah!! Karakter seorang mukmin adalah tidak pernah memandang dirinya telah banyak berbuat amalan. Namun, sebaliknya memandang dirinya sebagai orang yang baru sedikit amalannya. Meskipun kenyataannya telah berbuat amalan-amalan yang sangat banyak. Juga mengkhawatirkan jika amalan-amalannya tidak diterima. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ [المؤمنون: 60]

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dalam keadaan hati takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka” (QS. Al-Mukminun:60)

Di dalam Tafsir Ibnu Katsir, tentang ayat ini ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، {وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ} ، هُوَ الَّذِي يَسْرِقُ وَيَزْنِي وَيَشْرَبُ الْخَمْرَ، وَهُوَ يَخَافُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ؟ قَالَ: “لَا يَا بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ، يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُ الَّذِي يُصَلِّي وَيَصُومُ وَيَتَصَدَّقُ، وَهُوَ يَخَافُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ”.

“Ya Rasulullah! “ Orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dalam keadaan hati takut “  kok takut ? apakah karena dia pencuri? Atau pezina? Atau peminum khamr? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Bukan begitu, Wahai putri Ash-Shiddiq. Justru dia itu orang shalat, berpuasa dan bershodaqoh tetapi takut kepada Allah (jangan-jangan amalannya tidak diterima)”

3. Tidak boleh menyesali suatu tindakan yang ternyata berdampak menyusahkan atau menyulitkan atau menyusahkan. Seperti ungkapan, “Coba kalau tadi gak berangkat, gak kehujanan kayak gini lah…”. Karena perbuatan semacam ini akan membuka pintu masuknya syetan.  Tetapi ucapkanlah,

قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

Sebagaimana disebutkan dalam riwayat,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، وَاحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ، فَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ “.

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata, Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu, tetapi katakanlah, Ini telah ditakdirkan Allâh, dan Allâh berbuat apa saja yang Dia kehendaki, karena ucapan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan syaitan”. (HR. Muslim dan  Ahmad).

4. Seorang mukmin tidak boleh lemah. Sebaliknya harus selalu semangat. Mari kita renungkan katagori lemah sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Utsaimin. Menurut beliau dengan mengambil sebuah contoh, jika ada seseorang ingin mengetahui biografi seorang Shahabat tertentu. Misalnya saja Shahabat Salman Al-Farisi. Dia pun mengambil kitab siroh shahabat. Ketika kitab itu dibuka dia tidak langsung tertuju pada biografi Salman Al-Farisi, melainkan membaca biografi Shahabat yang lainnya dulu. Ini termasuk katagori mukmin yang lemah. Seharusnya dia tidak membaca siroh Shahabat siapapun sebelum Salman Al-Farisi terlebih dahulu. Karena dari awal dia ingin mengetahui siroh Salman Al-Farisi.

Allahu Akbar! Apa renungan kita terhadap penjelasan Syaikh Utsaimini ini? Ini kan perpindahan dari suatu kebaikan beralih ke sesuatu lain yang masih merupakan  kebaikan juga. Dari siroh Shahabat Salman ke siroh Shahabat yang lain dulu. Namun, demikian kata beliau tindakan semacam ini masuk katagori lemah. Lalu bagaimana jika perpindahannya dari suatu kebaikan beralih ke suatu keburukan? Tentu masuk katagori sangat  lemah sekali. Misalnya: sejak awal ber-azam untuk berangkat ke majlis taklim kemudian melihat tayangan televisi ada drama Korea. Akhirnya dia mengurungkan berangkat demi menonton drama Korea tersebut. Ini perpindahan dari baik ke buruk. Beliau rahimahullah menukil keteladanan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa suatu ketika ada seseorang memohon Nabi agar shalat di rumahnya. Di tempat yang beliau shalat  nantinya akan digunakan untuk dia  shalat dan keluarganya. Setiba di rumahnya, beliau tidak menyantap hidangan yang telah disiapkan. Beliau meminta ditunjukkan tempat yang dia telah memohon untuk shalat di tempat tersebut. Setelah ditunjukkan, beliau pun shalat. Baru setelah itu beliau berkenan menyantap hidangan. Karena dari awal tujuan utama adalah untuk shalat. Hal ini disebutkan dalam riwayat,

عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، أَنَّ مَحْمُودَ بْنَ الرَّبِيعِ الْأَنْصَارِيَّ، حَدَّثَهُ أَنَّ عِتْبَانَ بْنَ مَالِكٍ – وَهُوَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّنْ شَهِدَ بَدْرًا مِنَ الْأَنْصَارِ – أَنَّهُ أَتَى رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي قَدْ أَنْكَرْتُ بَصَرِي، وَأَنَا أُصَلِّي لِقَوْمِي، وَإِذَا كَانَتِ الْأَمْطَارُ سَالَ الْوَادِي الَّذِي بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ وَلَمْ أَسْتَطِعْ أَنَّ آتِيَ مَسْجِدَهُمْ فَأُصَلِّيَ لَهُمْ، وَدِدْتُ أَنَّكَ يَا رَسُولَ اللهِ تَأْتِي فَتُصَلِّي فِي مُصَلًّى، فَأَتَّخِذَهُ مُصَلًّى، قَالَ: فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «سَأَفْعَلُ إِنْ شَاءَ اللهُ»، قَالَ عِتْبَانُ: فَغَدَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ حِينَ ارْتَفَعَ النَّهَارُ، فَاسْتَأْذَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَذِنْتُ لَهُ، فَلَمْ يَجْلِسْ حَتَّى دَخَلَ الْبَيْتَ، ثُمَّ قَالَ: «أَيْنَ تُحِبُّ أَنْ أُصَلِّي مِنْ بَيْتِكَ؟» قَالَ: فَأَشَرْتُ إِلَى نَاحِيَةٍ مِنَ الْبَيْتِ، فَقَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَبَّرَ، فَقُمْنَا وَرَاءَهُ، فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ سَلَّمَ، قَالَ: وَحَبَسْنَاهُ عَلَى خَزِيرٍ صَنَعْنَاهُ لَهُ (رواه البخاري و مسلم)

“Dari Ibnu Syihab, Mahmud bin Ar-Robi’ memberitahukannya bahwa ‘Itban bin Malik As-Salimi radhiallahu an’hu salah seorang yang ikut serta dalam perang Badar dari kalangan Anshor berkata: “Aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku bertanya kepadanya: ‘Wahai Rasulullah, mataku sakit dan banjir menghalangiku untuk mendatangi masjid kaumku, hingga aku tidak dapat melaluinya. Sekiranya engkau berkehendak datang dan salat di rumahku yang bisa aku jadikan sebagai tempat salat, maka lakukanlah.”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku akan datang, insya Allah”. Maka di awal siang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berangkat. Beliau minta izin dan akupun memberinya izin (masuk). Namun beliau tidak langsung duduk hingga beliau bertanya: “Tempat mana yang engkau sukai untuk aku jadikan tempat salat di rumahmu ini?”

‘Lalu aku memberi isyarat kepada beliau tempat yang aku sukai. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berdiri dan kami membuat shaf (barisan) di belakangnya, lalu beliau salat dua raka’at bersama kami. Setelah itu aku menghidangkan daging yang berkuah kepada mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Keharusan berlemah lembut kepada istri.  Dalam riwayat Abu Hurairah,  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  

اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ، فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ، إِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا ( رواه البخاري ومسلم)

Berwasiatlah untuk para wanita karena sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk dan yang paling bengkok dari bagian tulang rusuk adalah bagian atasnya. Jika engkau ingin meluruskan tulang rusuk tersebut maka engkau akan mematahkannya, dan jika engkau membiarkannya maka ia akan tetap bengkok, maka berwasiatlah untuk para wanita(HR. Bukhari dan Muslim)

Ringkasnya, wanita itu memiliki karakter unik. Kalau dibiarkan tetap bengkok, kalau disikapi dengan keras akan patah. Jadi, harus hati-hati dalam menghadapi istri. Selain memahami karakter ini, untuk bisa tetap berlemah lembut kepada istri, suami harus memahami bahwa wanita itu lebih didominasi oleh perasaan daripada akalnya. Sebaliknya lelaki, lebih didominasi oleh akal daripada perasaannya. Untuk itu suami tidak bisa selalu mengajak istri masuk wilayah “kalkulasi logis”, melainkan “kalkulasi perasaan”

Uraian ini saya sampaikan untuk para suami. Tidak ketinggalan, saya juga ingin menyampaikan untuk para istri: Ketika suami Anda sudah berusaha keras untuk berlemah lembut kepada Anda dengan memahami karakter Anda, maka upayakanlah untuk bisa mengimbangi kebaikan dan kelemahlembutan suami. janganlah seperti yang terjadi pada para wanita yang jauh dari majlis ilmu, kebaikan dan kelemahlembutan suami malah dijadikan sebagai kesempatan untuk “memerasnya”, selalu melonjak dan semacamnya.  Inilah barangkali maksud  pepatah “dikasih daging minta rempelo”

6. ـJihad istri itu dengan setia kepada suaminya. Istri tidaklah bertanggungjawab atas nafkah rumah tangganya. Hal itu adalah kewajiban suami. Namun, istri yang setia pasti akan peka, mengerti, memahami dan siap membantu apa yang merupakan kewajiban suaminya. Insyaallah istri seperti ini akan termasuk istri yang  dipersilahkan untuk memasuki Surga melalui pintu manapun yang dikehendakinya sebagaimana hal ini  diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ ”  (مسند أحمد)

7. Kita harus senang dengan turunnya hujan karena ia adalah rahmat.

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ حَتَّى إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالاً سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ فَأَنزَلْنَا بِهِ الْمَاء فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ كَذَلِكَ نُخْرِجُ الْموْتَى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ) الأعراف: 57(

“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran” (QS. Al-A’rof:57)

Perhatikanlah! Allah ‘Azza wa Jalla menyebut hujan dengan rahmat. Pantaskah kita bersedih ketika hujan turun? Sekali-kali tidak. Untuk itu kita tidak boleh lupa untuk membaca doa ketika turun hujan agar jangan sampai menjadi adzab. Doanya berikut ini sebagaimana disebutkan dalam Hadits  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أُمْطِرَ، قَالَ: «اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ صَيِّبًا نَافِعًا»
(رواه النسائي)

“dAri ‘Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika turun hujan, beliau membaca: Ya Allah! Jadikanlah ia hujan yang  bermanfaat” (HR. Bukhari)

Bisa juga dengan lafazh,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا …….  وَإِنْ مَطَرَتْ قَالَ: «اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا»  (رواه البخاري)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘ahha…..Jika hujan, beliau shallalllahu ‘alaihi wa sallam membaca: Ya Allah! Hujan yang bermanfaat(HR. Bukhari)

8. Seorang muslim tidak boleh putus asa terhadap rintangan apapun yang sedang dihadapinya. Sebaliknya dia harus bersabar darinya. Karena putus asa adalah sifat orang kafir. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ (يوسف:87)

dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir” (QS. Yusuf:87)

9. Jangan malu bertanya jika Anda tidak tahu tentang suatu daerah kepada orang yang diperkirakan sebagai penghuninya atau orang yang diperkirakan mengenali daerah tersebut. Disebutkan di dalam Al-Qur’an tetang kisah saudara-saudara Yusuf ‘alaihissalam yang berusaha meyakinkan ayahnya,

وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ الَّتِي كُنَّا فِيهَا وَالْعِيرَ الَّتِي أَقْبَلْنَا فِيهَا (يوسف:82)

”Dan tanyalah (wahai ayah kami), kepada penduduk mesir dan siapa saja yang bersama kami dalam rombongan khalifah yang kami berada bersama mereka” (QS. Yusuf:82)

10. Jadilah penjual atau pembeli yang memudahkan. Karena hal itu akan mendatangkan rahmat Allah ‘Azza wa Jalla. Disebutkan dalam riwayat,

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: رَحِمَ اللَّهُ عَبْدًا سَمْحًا إِذَا بَاعَ، سَمْحًا إِذَا اشْتَرَى، سَمْحًا إِذَا اقْتَضَى  (رواه البخاري)

“Dari Jabir bin Abdillah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah merahmati seorang hamba yang penuh toleransi/memudahkan ketika menjual dan membeli dan juga ketika memutuskan” (HR. Bukhari)

Sebagai penjual lakukanlah pelayanan untuk pembeli dengan baik dalam segala hal. Seperti: jujur, keterusterangan tentang kondisi barang, penyambutan yang ramah, “friendly”, menepati janji, menyempurnakan timbangan dan lain-lain sehingga pembeli merasakan kenyamanan. Demikian pula sebagai pembeli  meskipun pembeli itu “raja” tapi janganlah semena-mena sehingga penjual merasa tidak direpotkan dan dibebani atau hal-hal lainnya yang mengganggu hatinya.

11. Ketika melihat sesuatu yang menyenangkan atau mengagumkan hendaknya mengucapkan “maa syaa-a Allah” dan “Baarakallahu fih” sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits,

وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا ([الكهف: 39]

“Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan” (QS. Al-kahfi:39)

إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ شَيْئًا يُعْجِبُهُ فَلْيُبَرِّكْ فَإِنَّ الْعَيْنَ حَقّ (المستدرك على الصحيحين للحاكم)

“Jika seseorang di antara kalain meliahat sesuatu yang mengagumkannya maka hendaklah dia berdoa dengan keberkahan, karena sesungguhnya ‘ain itu haq” (Al-Mustadrok ‘ala-sh-shohihaini lil Hakim)

12. Ketika melihat atau mengalami sesuatu yang mengagetkan atau dipandangnya perkara besar, maka ucapkanlah “Subhanallah” atau “Allahu Akbar”. Sebagaimana disebutkan di dalam riwayat,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه: “أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم لَقِيَهُ فِي بَعْضِ طَرِيقِ المَدِينَةِ وَهُوَ جُنُبٌ، فَانْخَنَسْتُ مِنْهُ. فَذَهَبَ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ جَاءَ، فَقَالَ: «أَيْنَ كُنْتَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ؟» قَالَ: كُنْتُ جُنُبًا، فَكَرِهْتُ أَنْ أُجَالِسَكَ وَأَنَا عَلَى غَيْرِ طَهَارَةٍ. فَقَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ! إِنَّ المُسْلِمَ لاَ يَنْجُسُ (رواه البخاري)

“Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi  pernah berjumpa dengannya di salah satu jalan Madinah, sementara ia dalam keadaan junub.”
Abu Hurairah berkata, ‘Aku malu dan pergi diam-diam’ lalu pergi mandi dan kembali lagi setelah itu, beliau lalu bertanya: “Kemana saja kamu tadi wahai Abu Hurairah?” Dia menjawab: “Aku tadi junub. Dan aku tidak nyaman bersamamu sedang aku dalam keadaan tidak suci.” Beliau pun bersabda:

“Subhaanallah! Sesungguhnya seorang Muslim itu tidak itu najis.” (HR. Bukhari)

عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه: “أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم «عَادَ رَجُلًا مِنَ الْمُسْلِمِينَ» قَدْ خَفَتَ فَصَارَ مِثْلَ الْفَرْخِ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «هَلْ كُنْتَ تَدْعُو بِشَيْءٍ أَوْ تَسْأَلُهُ إِيَّاهُ؟» قَالَ: نَعَمْ، كُنْتُ أَقُولُ: اللهُمَّ مَا كُنْتَ مُعَاقِبِي بِهِ فِي الْآخِرَةِ، فَعَجِّلْهُ لِي فِي الدُّنْيَا. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «سُبْحَانَ اللهِ! لَا تُطِيقُهُ -أَوْ لَا تَسْتَطِيعُهُ- أَفَلَا قُلْتَ: اللهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ». قَالَ: فَدَعَا اللهَ لَهُ، فَشَفَاهُ”. (رواه مسلم)

“Sesungguhnya rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjenguk seorang sahabat yang telah kurus bagaikan anak burung (karena sakit). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Apakah kamu berdo’a atau meminta sesuatu kepada Allah?” Ia berkata, “Ya, aku berdo’a/meminta kepada Allah, “Ya Allah siksa yang kelak Engkau berikan kepadaku di akhirat segerakanlah untukku di dunia.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Subhanallah, kamu tidak akan mampu menanggungnya. Mengapa kamu tidak mengucapkan, “Ya Allah berikan kepada kami di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan dan peliharalah kami dari adzab Neraka.” Maka orang itupun berdo’a dengannya. Allah pun menyembuhkannya(HR Muslim).

عن أبي وَاقِدٍ اللَّيْثِيَّ – وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ يَقُولُ: لَمَّا افْتَتَحَ رَسُولُ اللَّهِ مَكَّةَ، خَرَجَ بِنَا مَعَهُ قِبَلَ هَوَازِنَ، حَتَّى مَرَرْنَا عَلَى سِدْرَةِ الْكُفَّارِ: سِدْرَةٌ يَعْكِفُونَ حَوْلَهَا، وَيَدْعُونَهَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ، قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اللَّهُ أَكْبَرُ، إِنَّهَا السُّنَنُ، هَذَا كَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ لِمُوسَى: اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلهة، قال: إنكم قوم تجهلون” ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إنكم لتركبن سنن من قبلكم” (صحيح ابن حبان)

 Dari Abu Waqid Al Laitsi (salah seorang Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), ia berkata:  Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membebaskan kota Mekkah, beliau berangkat bersama kami menuju Hawazan, sampai kami melintasi sebuah pepohonan kaum kafir, pada pohon tersebut mereka duduk di sekelilingnya dan mereka memberinya nama “Dzat Anwath”, kami berkata: Wahai Rasulullah, buatkan kami “Dzat Anwath” seperti “Dzat Anwath” milik mereka!

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allahu Akbar! ini adalah sunan, ini seperti yang dikatakan kaum Bani Israil kepada Musa: {“Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah Tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa Tuhan (berhala}. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sungguh kalian akan melakukan perilaku-perilaku orang sebelum kalian.” [Shahih Ibnu Hibban]

13. Termasuk akhlak tinggi adalah tidak meminta atau barang kepada orang lain sehingga ketergantungan hati hanya kepada Allah saja. Kecuali kalau diberi, tidak meminta maka diterima. Sebagaimana petunjuk Nabi kepada Umar bin Khoththob radhiyallahu ‘anhu,

حديث عُمَر رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ   أنه يقول : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يُعْطِينِي الْمَالَ، فَأَقُولُ أَعْطِهِ، مَنْ هُوَ أَفْقَرُ إِلَيْهِ مِنِّي، وَإِنَّهُ أَعْطَانِي مَرَّةً مَالًا، فَقُلْتُ لَهُ، أَعْطِهِ، مَنْ هُوَ أَحْوَجُ إِلَيْهِ مِنِّي، فَقَالَ: «مَا آتَاكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هَذَا الْمَالِ مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ، وَلَا إِشْرَافٍ، فَخُذْهُ، فَتَمَوَّلْهُ، أَوْ تَصَدَّقْ بِهِ، وَمَا لَا فَلَا تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ» (سنن النسائي)

“Hadits Umar[ radliallahu ‘anhu, ia  berkata; dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberiku harta, lalu aku mengatakan; berikan kepada orang yang lebih membutuhkannya daripada diriku. Dan beliau suatu kali memberiku harta, lalu aku mengatakan kepadanya; berikan kepada orang yang lebih membutuhkan kepadanya daripada diriku. Maka beliau bersabda: “Apa yang telah Allah Azza wa Jalla berikan kepadamu tidak karena meminta dan tidak karena ketamakan maka ambillah, kemudian kembangkan atau sedekahkan, dan yang tidak demikian maka janganlah engkau perturutkan dirimu.” (Sunan An-Nasa’i)

Juga tidak meminta bantuan atau pertolongan.  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membai’at kepada beberapa Shahabat untuk tidak pernah meminta apapun kepada orang lain. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat,

عَنْ عَوْفُ بْنُ مَالِكٍ الْأَشْجَعِيُّ، قَالَ: كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، تِسْعَةً أَوْ ثَمَانِيَةً أَوْ سَبْعَةً، فَقَالَ: «أَلَا تُبَايِعُونَ رَسُولَ اللهِ؟» وَكُنَّا حَدِيثَ عَهْدٍ بِبَيْعَةٍ، فَقُلْنَا: قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ، ثُمَّ قَالَ: «أَلَا تُبَايِعُونَ رَسُولَ اللهِ؟» فَقُلْنَا: قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ، ثُمَّ قَالَ: «أَلَا تُبَايِعُونَ رَسُولَ اللهِ؟» قَالَ: فَبَسَطْنَا أَيْدِيَنَا وَقُلْنَا: قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ، فَعَلَامَ نُبَايِعُكَ؟ قَالَ: «عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، وَتُطِيعُوا – وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً – وَلَا تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا» فَلَقَدْ رَأَيْتُ بَعْضَ أُولَئِكَ النَّفَرِ يَسْقُطُ سَوْطُ أَحَدِهِمْ، فَمَا يَسْأَلُ أَحَدًا يُنَاوِلُهُ إِيَّاهُ (صحيح مسلم)

“Dari Auf bin Malik Al Asyja’i ia berkata; Kami pernah berada dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selama sembilan atau delapan atau tujuh hari. Saat kami hendak berpisah, beliau bersabda: “Apakah kalian tidak berbai’at kepada Rasulullah?” Ketika itu kami baru saja berbai’at kepada beliau, maka kami pun menjawab, “Sesungguhnya kami telah berbai’at kepadamu wahai Rasulullah.” Kemudian beliau bertanya lagi: “Apakah kalian tidak berbai’at kepada Rasulullah?” kami menjawab, “Sungguh, kami telah berbai’at kepada Anda wahai Rasulullah.” Beliau mengulangi pertanyaannya: “Apakah kalian tidak berbai’at kepada Rasulullah?” Maka kami pun mengulurkan tangan sambil berujar, “Sesungguhnya kami telah berbai’at kepada Tuan, lalu atas apa lagi kami berbai’at kepada Tuan wahai Rasulullah?” beliau menjawab, “Bahwa kalian akan menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun juga, akan menegakkan shalat lima waktu, akan berlaku patuh kemudian beliau melirihkan perkataannya: dan tidak akan meminta sesuatupun kepada orang banyak.” Auf berkata; Aku pernah melihat sebagian dari mereka itu suatu saat cambuknya jatuh, tetapi ia tidak meminta tolong sedikit pun kepada orang lain untuk mengambilkannya.” (Shahih Muslim)

Namun, jika dalam kondisi darurat terlebih orang yang akan dimintai bantuan tidak merasa keberatan bahkan senang, maka boleh. Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Utsaimin dalam Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Beliau menukil  tentang daging yang disedekahkan kepada Barirah,

دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبُرْمَةٌ عَلَى النَّارِ فَقُرِّبَ إِلَيْهِ خُبْزٌ وَأُدْمٌ مِنْ أُدْمِ الْبَيْتِ فَقَالَ أَلَمْ أَرَ الْبُرْمَةَ فَقِيلَ لَحْمٌ تُصُدِّقَ بِهِ عَلَى بَرِيرَةَ وَأَنْتَ لَا تَأْكُلُ الصَّدَقَةَ قَالَ هُوَ عَلَيْهَا صَدَقَةٌ وَلَنَا هَدِيَّةٌ  (رواه البخاري)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk sementara periuk berada di atas api, lalu beliau pun disuguhkan roti beserta lauk. Maka beliau bersabda: “Bukankah tadi aku melihat periuk?” dikatakanlah pada beliau, “Periuk itu berisikan daging yang disedekahkan kepada Barirah, sementara Anda tidak makan sedekah.” Beliau bersabda: “Baginya sedekah, tetapi bagi kita adalah hadiah.” (HR. Bukhari)

Syaikh Utsaimin menjelaskan bahwa dalam Hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yakin bahwa Barirah akan bersuka cita kalau diminta, maka Nabi menyampaikan ungkapan yang maknanya adalah meminta “Baginya sedekah, tetapi bagi kita adalah hadiah.” Maka jika kamu tahu bahwa permintaanmu menyenangkan temanmu maka tidak mengapa.

14. Mempertimbangkan sisi maslahat dan mafsadat.

Jika kita dihadapkan pada dua keadaan yang masing-masing berdampak pada mafsadat (kerusakan) maka kedepankanlah yang lebih ringan mafsadatnya. Kaedah menyatakan:

إذا تعارض مفسدتان روعي أعظمهما ضررًا بارتكاب أخفهما

Apabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus diperhatikan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.

Contoh: dua keadaan yang saya hadapi; antara mengikuti shalat jamaah Maghrib dengan membiarkan istri menunggu di mini market menggigil nan kedinginan

 ataukah

 segera mencari keberadaan istri lalu menjemput dan membawanya pulang agar segera terbebas dari kondisinya yang memudharatkan dengan terlewatkan shalat jamaah?

Jawabannya:

Terlewatkan shalat jamaah itu mafsadat, demikian juga membiarkan istri dengan kondisisi sedemikian rupa juga mafsadat. Maka manakah yang lebih ringan mafsadat-nya? Tentu terlewatkan dari shalat jamaah itu lebih ringan mafsadat-nya.

15. Mengupayakan amalan yang istiqomah. Karena jika suatu amalan telah di- istiqomah-i ketika ada udzur sehingga kita tidak mengerjakannya maka tetap dicatat di sisi Allah mendapatkan pahala sebagaimana mengamalkan dengan semestinya. Padahal kita tidak mengamalkannya.  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda  dalam Hadits Abu Musa:

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا (رواه أحمد و البخاري)

“Jika seorang hamba sakit atau musafir dicatat baginya pahala sebagaimana ia mengerjakannya (suatu amalan) ketika kondisi mukim (tidak safar) atau sehat (HR. Ahmad dan Bukhari)

Judul buku : Sepenggal Kisah Penjual Beras

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc.Hafizhahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
https://nidaulfithrah.com/sepenggal-kisah-penjual-beras/feed/ 0