islamiyyah – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Wed, 18 Feb 2026 08:59:36 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png islamiyyah – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 Ukhuwwah Islamiyyah (Bag. 6 Menanyakan kabar wanita miskin yang sakit berkepanjangan) https://nidaulfithrah.com/ukhuwwah-islamiyyah-bag-6-menanyakan-kabar-wanita-miskin-yang-sakit-berkepanjangan/ Wed, 24 Dec 2025 07:13:23 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21053
  • Menanyakan kabar wanita miskin yang sakit berkepanjangan
  • إنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ كانَ يعودُ مَرضى مساكينِ المسلمينَ وضعفائِهِم ويتبعُ جَنائزَهُم ولا يصلِّي عليهِم غيرُهُ، وأنَّ امرأةً مسكينةً من أَهْلِ العوالي طالَ سقمُها فَكانَ رسولُ اللَّهِ -صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ- سألَ عَنها من حضرَها مِن جيرانِها وأمرَهُم أن لا يدفِنوها إن حدثَ بِها حدثٌ فيصلِّي عليها فتوُفِّيَت تلكَ المرأةُ ليلًا، واحتملوها فأتَوا بِها معَ الجَنائزِ أو قالَ موضعَ الجَنائزِ عندَ مسجدِ رسولِ اللَّهِ -صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ- ليصلِّي عليها رسولُ اللَّهِ صلَّى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ كما أمرَهُم. فوجدوهُ قد نامَ بعدَ صلاةِ العشاءِ فَكَرِهوا أن يُهَجِّدوا رسولَ اللَّهِ -صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ- من نومِهِ فصلَّوا عليها، ثمَّ انطلقوا بِها فلمَّا أصبحَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ سألَ عنها من حضرَهُ من جيرانِها فأخبروهُ خبرَها وأنَّهم كرِهوا أن يُهَجِّدوا رسولَ اللَّهِ صلَّى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ لَها فقالَ لَهُم رسولُ اللَّهِ صلَّى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ : ولمَ فعلتُمُ ؟ انطلِقوا. فانطلقوا معَ رسولِ اللَّهِ -صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ- حتَّى قاموا علَى قبرِها فصفُّوا وراءَ رسولِ اللَّهِ صلَّى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ كما يصفُّ للصَّلاةِ علَى الجنازةِ فصلَّى عليها رسولُ اللَّهِ صلَّى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ وَكَبَّرَ أربعًا كما يُكَبِّرُ علَى الجَنائزِ(رواه بعض أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم |المحدث : الألباني | خلاصة حكم المحدث : إسناده صحيح )

    Rasulullah shallahu’alaihi wasallam biasa mengunjungi kaum muslimin yang miskin dan para dhu’afa dari kalangan mereka. Beliau juga mengantarkan jenazah mereka. Pernah beliau menyolati jenazah mereka tanpa didampingi orang lain. Suatu ketika ada seorang wanita miskin dari penduduk ‘Awali yang sakit berkepanjangan. Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bertanya tentangnya kepada para tetangganya dan berpesan agar mereka tidak memakamkannya jika terjadi sesuatu padanya hingga beliau menyolatinya. Dia meninggal di suatu malam. Mereka mengurus (jenazah)nya dan membawanya bersama para jenazah atau periwayat mengatakan ke tempat (disemayamkannya) jenazah di samping masjid Rasulullah agar beliau menyolatinya sebagaimana pesan beliau kepada mereka. Mereka mendapati beliau telah tidur setelah shalat Isya. Mereka tidak mau mengagetkan Rasulullah shallahu’alaihi wasallam dengan membangunkan dari tidurnya. Maka, mereka pun menyolatinya lalu membawanya pergi.

    Keesokan harinya Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bertanya kepada seseorang yang hadir dari kalangan tetangganya. Mereka memberitahukan kabarnya kepada beliau dan keengganan mereka untuk membangunkan beliau untuk menyolatinya
    Beliau bertanya: Kenapa tidak kalian lakukan? Ayo berangkat! Lalu mereka berangkat bersama Rasulullah shallahu’alaihi wasallam hingga berdiri di sisi kuburannya. Mereka membentuk shoff di belakang Rasulullah sebagaimana shoff shalat jenazah. Beliau menyolatinya dengan empat kali takbir atas jenazah
    (Hadits riwayat sebagian Shahabat. Syaikh Al-Albani: Isnadnya shahih)

    F. UKHUWWAH ISLAMIYYAH MENGHARUSKAN SESAMA MUSLIM UNTUK SALING MEMPERHATIKAN DALAM KEMASLAHATAN DUNIAWI YANG BERSIFAT FANA, LALU BAGAIMANA TERHADAP KEMASLAHATAN UKHROWI YANG BERSIFAT KEKAL ABADI? TENTU LEBIH DITEKANKAN LAGI

    a. Kuatkan Ukhuwwah untuk meraih Golongan yang Selamat
    Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda bahwa Ummat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan. Ungkapan “tujuh puluh” dalam bahasa Arab menunjukkan sangat banyak. Yang langsung masuk Surga hanya satu golongan. Selebihnya akan mampir ke Neraka dulu. Karena mereka tidak menjalankan keberagamaan sebagaimana keberagamaan para Sahabat. Berikut ini lafazh Haditsnya,

    وتفترقُ أمَّتي على ثلاثٍ وسبعينَ ملَّةً ، كلُّهم في النَّارِ إلَّا ملَّةً واحِدةً ، قالوا : مَن هيَ يا رسولَ اللَّهِ ؟ قالَ : ما أَنا علَيهِ وأَصحابي (رواه الترمذى عن عبد الله بن عمرو)

    “Ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya di Neraka kecuali satu golongan. Mereka (para Sahabat) bertanya: Siapa dia (satu golongan) itu ya Rasulullah? Beliau menjawab: Sesuatu yang saya dan para Sahabat saya berada di atasnya” (HR. At-Tirmidzi dari Abdullah bin Amr)
    Tidak ada ummat Islam yang berada di Neraka selama-lamanya. Ketika Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda hanya satu golongan yang di Surga selebihnya di Neraka, maka maksudnya adalah mampir Neraka terlebih dahulu sebelum masuk Surga.
    Beliau shallahu’alaihi wasallam menjelaskan bahwa syarat untuk masuk Surga langsung dengan tidak mampir terlebih dahulu ke Neraka adalah menjalankan keberagamaan sebagaimana para Sahabat. Sebagaimana juga ditegaskan di dalam Al-Qur’an dengan redaksi ancaman,

    وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ ٱلْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِۦ جَهَنَّمَ ۖ وَسَآءَتْ مَصِيرًا

    “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami akan masukkannya ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (QS. An-Nisa: 115)
    Di dalam ayat ini yang dimaksud “orang-orang mukmin” adalah para Sahabat radhiallahu’anhum.
    Untuk itu ukhuwwah Islamiyyah mengharuskan setiap muslim agar bersinergi di dalam dakwah sesuai manhaj para Sahabat. Ajaklah mereka agar :

    • beraqidah sebagaimana beraqidahnya para Shahabat
    • beribadah sebagaimana peribadahan para Shahabat
    • Bermuamalah sebagaimana praktek dan pemahaman para Shabat.

    Dengan ini, kita telah melakukan konsekwensi ukhuwwah Islamiyyah secara totalitas. Tidak saja saling peduli dalam kemaslahatan duniawi tetapi juga hal yang lebih penting yaitu kemaslatan ukhrowi. Karena duniawi bersifat fana sementara ukhrowi bersifat kekal.


    b. Men-Tahdzir Ahli Bid’ah dan memperingatkan Ummat darinya bagian dari Ukhuwaah Islamiyyah
    Bid’ah adalah perkara baru dalam agama baik dalam hal pemahaman atau amaliyah yang sangat dikecam oleh syareat. Ia perusak agama. Nabi sering sekali mengingatkan para Shahabat dari masalah bid’ah di dalah khutbah hajah sebelum memulai majlis. Sabda beliau,

    أما بعدُ فإنَّ أصدقَ الحديثِ كتابُ اللهِ ، وإنَّ أفضلَ الهديِ هديُ محمدٍ ، وشرَّ الأمورِ مُحدثاتُها ، وكلَّ مُحدَثةٍ بدعةٌ ، وكلَّ بدعةٍ ضلالةٌ ، وكلَّ ضلالةٍ في النَّارِ (رواه أحمد وألنسائى عن جابر بن عبد الله)

    Amma ba’du, Sesungguhnya sebaik-baiknya ucapan adalah al-Qur’an. Sesungguhnya sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seburuk-buruknya perkara adalah yang diada-adakan. Perkara yang diada-adakan adalah bid’ah. Setiap bid’ah adalah sesat. Dan, setiap kesesatan tempatnya di Neraka” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i dari Jabir Abdullah)
    Perhatikanlah di dalam Hadits ini, “setiap bid’ah adalah sesat” yang menunjukkan umum. Artinya bid’ah apapun tanpa dikecualikan baik yang merupakan kesyirikan atau kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari Islam ataupun tidak. Untuk itu banyak sekali statemen para ulama yang mengecam bid’ah dan mengingatkan ummat darinya dan ahlinya. Di antaranya statemen Imam Malik,

    مَن ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة، فقد زعم أن محمد ﷺ خَان الرسالة، لأن الله ﷻ يقول : “الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ” فما لم يكن يومئذ ديناً، فلا يكون اليوم ديناً

    “Barangsiapa yang membuat bid’ah di dalam Islam dan memandangnya baik, maka berarti dia telah menuduh Muhammad shallahu’alaihi wasallam berkhianat terhadap risalah, karena Allah ta’ala telah berfirman: الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ (pada hari ini telah Aku nyatakan sempurna bagi kalian agama kalian), maka apa yang pada saat itu bukan agama hari inipun bukan agama
    Jadi, men-tahdzir ahli bid’ah dan memperingatkan ummat darinya adalah bagian dari ukhuwwah Islamiyyah demi meraih keselamatan di Akhirat. Bahkan para ulama menjelaskan, saking pentingnya perkara ini agar ummat selamat tidak terjerumus bahwa diperbolehkan menyebutkan keburukan-keburukan ahli bid’ah tanpa menyebutkan kebaikannya. Di antara statemen para ulama:
    a. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahimahullah berkata: Men-jarh periwayat Hadits dengan haq dan membid’ahkan ahli bid’ah adalah wajib. Lebih lanjut beliau mengatakan: Pemuka-pemuka bid’ah yang selalu berkata dengan perkataan-perkataan yang menyelisihi Kitab dan Sunnah, maka jelaskanlah ihwal mereka dan peringatkan ummat dari mereka. Ini hukumnya wajib dengan kesepakatan kaum muslimin. Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanya manakah yang lebih Anda sukai orang yang shalat, puasa dan i’tikaf ataukah orang yang berbicara men-tahdzir ahli bid’ah? Beliau menjawab: Jika seseorang shalat, puasa dan i’tikaf maka itu hanya untuk dirinya. Tetapi seseorang yang berbicara men-tahdzir ahli bid’ah itu bermanfaat untuk kaum muslimin [selesai].


    b. Syaikh Bin Baz rahimahullah ditanya: Apakah manhaj Ahulussunnah wal jamaah di dalam me-naqd (kritik) terhadap ahli bid’ah dan kitab-kitab mereka wajib menyebutkan kebaikan-kebaikannya juga ataukah cukup menyebutkan keburukan-keburukannya saja? Beliau menjawab: Yang dikenal dari ucapan para ahli ilmu adalah mengkritik keburukannya untuk tujuan men-tahdzir dan menjelaskan kesalahan-kesalahannya. Menyebutkan kebaikan itu bagus, tetapi di sini bukan tempatnya…. [selesai].

    c. Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan rahimahulah ditanya setelah menjelaskan tentang jama’ah-jama’ah: Wahai Syaikh, apakah kita men-tahdzir mereka dengan menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka? Belau menjawab: Kalau kamu menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka berarti Anda menyeru untuk menerima dakwah mereka. Tidak, Janganlah Anda sebutkan kebaikan-kebaikan mereka. Cukuplah Anda sebutkan kesalahan-kesalahan mereka…. [selesai].

    d. Syaikh Abdu-s-Salam bin Salim As Suhaimi di dalam kitabnya “Kun Salafiyyan ‘ala-l-Jaaddah” mengatakan: Orang yang memperhatikan kitab-kitab para ulama niscaya akan mendapati pembahasan tentang tahdzir terhadap bid’ah dan ahlinya. Dan, tidak disebutkan di dalamnya para ulama tersebut menyertakan penyebutkan kebaikan-kebaikan ketika men-tahdzir mereka atas keburukan dan kesesatannya. Silahkan bisa dilihat beberapa kitab:

    1. kitab Imam Ahmad dan putranya, Abdullah,
    2. kitab Imam Bukhari “Kholqu Af’aali-l- ‘Ibad”,
    3. kitab al-Khollal dan Ibnu Khuzaimah di dalam kitab-kitab as-Sunnah dan Tauhid
    4. kitab Ibnu Baththoh “Syarh dan Ibanah”,
    5. kitab al-Lalika-I “Syarhu I’tiqodi Ushuuli Ahli-s-Sunnah”,
    6. kitab al-Baghowi “Muqoddimah Syarhu-s- Sunnah”,
    7. muqoddimah Ibnu Majah
    8. kitab Abu Daud “As-Sunan
    9. kitab Abu-l-Qosim at-Taymiy “al-Hujjah fi Bayani-l-Mahajjah
    10. al-Ashbahani
    11. Silahkan lihat juga kitab-kitab karya Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah, Ibnu-l-Qoyyim, Imam Muhammad bin Abdul Wahhab. Perhatikan juga bagaimana sikap mereka di dalam mu’amalah dengan ahli bid’ah.
    Jadi, tidaklah benar orang yang mengatakan “Sudahlah yang penting sama-sama mulim kita kuatkan persatuan. Tidak perlu merasa benar sendiri dengan mengoreksi aqidah dan ibadah mulim lainnya”

    SUNGGUH INI STATEMEN YANG BERBAHAYA DAN MENJERUMUSKAN

    G. PENUTUP
    Semoga Allah ta’ala memberikan taufiq kepada semua ummat Islam sehingga bisa memahami konsekwensi dari ukhuwwah Islamiyyah yang totalitas yaitu ukhuwwah yang mendatangkan kemaslahatan dunia dan Akherat sekaligus.

    وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

    Judul buku : UKHUWWAH ISLAMIYYAH

    Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
    (Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

    ]]>
    Ukhuwwah Islamiyyah (Bag. 2 UKHUWWAH ATAS DASAR AQIDAH LEBIH UTAMA DARIPADA UKHUWWAH ATAS DASAR APAPUN) https://nidaulfithrah.com/ukhuwwah-islamiyyah-bag-2-ukhuwwah-atas-dasar-aqidah-lebih-utama-daripada-ukhuwwah-atas-dasar-apapun/ Mon, 01 Sep 2025 07:04:00 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=20396 C. UKHUWWAH ATAS DASAR AQIDAH LEBIH UTAMA DARIPADA UKHUWWAH ATAS DASAR APAPUN
    Persaudaraan atas dasar aqidah lebih utama daripada persaudaraan atas dasar kabilah, bisnis, negara, kekayaan, komunitas, atau apapun. Bahkan lebih utama daripada persaudaraan atas dasar nasab/keluarga. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

    لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَٰنَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْإِيمَٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ حِزْبُ ٱللَّهِ ۚ أَلَآ إِنَّ حِزْبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ (المجادلة:22)

    “Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ta’ala ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah ta’ala. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung” (QS. Al-Mujadilah: 22)
    Coba kita perhatikan ayat ini, orang muknin tidaklah mencintai orang kafir meskipun ayah, anak, saudara atau famili. Padahal mereka adalah orang-orang yang ada ikatan nasab, tetapi mereka tidak boleh dicintai karena kafir.
    Ayat ini menjelaskan suatu kejadian dalam perang Badar. Ketika itu Abu Ubaidah membunuh ayahnya. Abu Bakar berkeinginan kuat untuk membunuh anaknya, Abdurrahman. Mush’ab bin Umair membunuh saudaranya Ubaid bin Umair. Umar bin Khottob membunuh kerabatnya. Hamzah, Ali dan Ubaidah bin Al-Harits juga membunuh kerabatnya yaitu ‘Utbah, Syaibah, dan Al-Walid bin ‘Utbah.
    Jelaslah, ukhuwwah atas dasar aqidah lebih utama daripada ukhuwwah atas dasar keluaga.

    D. PANCARAN ENERGI UKHUWWAH ISLAMIYYAH
    Ukhuwwah Islamiyyah memancarkan energi yang luar biasa dalam kehidupan kaum muslimin. Di antaranya:

    a. Tidak menzhalimi, tidak membiarkannya disakiti, saling menolong, dan menutup aibnya
    Disebutkan di dalam Hadits,

    المُسْلِمُ أخُو المُسْلِمِ لا يَظْلِمُهُ ولَا يُسْلِمُهُ، ومَن كانَ في حَاجَةِ أخِيهِ كانَ اللَّهُ في حَاجَتِهِ، ومَن فَرَّجَ عن مُسْلِمٍ كُرْبَةً، فَرَّجَ اللَّهُ عنْه كُرْبَةً مِن كُرُبَاتِ يَومِ القِيَامَةِ، ومَن سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَومَ القِيَامَةِ (رواه البخارى ومسلم عن ابن عمر)

    “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti. Barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah c akan membantu kebutuhannya. Barangsiapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah ta’ala menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari Kiamat. Barang siapa yang menutupi (aib) seorang muslim maka Allah ta’ala akan menutupi (aibnya) pada hari Kiamat” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar)

    • Nabi shallahu’alaihi wasllam menegur seseorang yang melaknat seorang muslim akibat suatu dosa

    Nabi shallahu’alaihi wasllam menegur orang yang menzhalimi saudaranya secara lisan, lalu bagaimana bentuk kezhaliman yang lebih besar lagi. Suatu hari Nabi shallahu’alaihi wasllam menghukum orang yang minum khamr, lalu ada orang yang mengomenteri peminum khamr tersebut dengan ucapan-ucapan yang buruk. Maka Nabi shallahu’alaihi wasllam menegurnya. Disebutkan di dalam Hadits,

    أنَّ رَجُلًا علَى عَهْدِ النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كانَ اسْمُهُ عَبْدَ اللَّهِ، وكانَ يُلَقَّبُ حِمَارًا، وكانَ يُضْحِكُ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، وكانَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ قدْ جَلَدَهُ في الشَّرَابِ، فَأُتِيَ به يَوْمًا فأمَرَ به فَجُلِدَ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ القَوْمِ: اللَّهُمَّ العنْه، ما أكْثَرَ ما يُؤْتَى بهِ؟ فَقَالَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: لا تَلْعَنُوهُ، فَوَاللَّهِ ما عَلِمْتُ إنَّه يُحِبُّ اللَّهَ ورَسولَهُ (رواه البخارى عن عمر الخطاب)

    “Ada seseorang pada zaman Nabi shallahu’alaihi wasllam namanya Abdullah. Biasa dijuluki dengan Himar. Dia orang yang pernah membikin Nabi tertawa. Nabi shallahu’alaihi wasllam pernah mencambuknya disebabkan minum khamr. Suatu hari dia dibawa ke hadapan Nabi shallahu’alaihi wasllam. Beliau memerintahkan agar dicambuk. Ada seseorang dari suatu kaum yang berkomentar: Ya Allah, laknatlah dia! Betapa sering dia ditangkap Maka Nabi shallahu’alaihi wasllam menegurnya: Janganlah kamu melaknatnya. Demi Allah, sungguh dia seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya” (HR. Bukhari dari -Umar bin al-Khottob)

    • Nabi menegur Abu Dzar yang me-laqob-i seseorang dengan laqob-laqob yang tidak patut.

    Nabi shallahu’alaihi wasllam menegur Abu Dzar yang me-laqob-i seseorang dengan laqob-laqob yang tidak patut. Disebutkan di dalam Hadits,

    رَأَيْتُ أَبَا ذَرٍّ وَعليه حُلَّةٌ، وعلَى غُلَامِهِ مِثْلُهَا، فَسَأَلْتُهُ عن ذلكَ، قالَ: فَذَكَرَ أنَّهُ سَابَّ رَجُلًا علَى عَهْدِ رَسولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ، فَعَيَّرَهُ بأُمِّهِ، قالَ: فأتَى الرَّجُلُ النبيَّ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ، فَذَكَرَ ذلكَ له، فَقالَ النبيُّ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ: إنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ، إخْوَانُكُمْ وَخَوَلُكُمْ، جَعَلَهُمُ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ، فمَن كانَ أَخُوهُ تَحْتَ يَدَيْهِ، فَلْيُطْعِمْهُ ممَّا يَأْكُلُ، وَلْيُلْبِسْهُ ممَّا يَلْبَسُ، وَلَا تُكَلِّفُوهُمْ ما يَغْلِبُهُمْ، فإنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ فأعِينُوهُمْ عليه (رواه البخارى ومسلم عن أبى ذر الغفارى)

    “Saya (periwayat) melihat Abu Dzar mengenakan pakaian. Budaknya juga mengenakan pakaian yang sama. Lalu saya (periwayat) bertanya sebab demikian. Dia menuturkan bahwa dirinya pernah mencela seseorang pada zaman Nabi shallahu’alaihi wasallam dengan menjelek-jelekkan ibunya. Ketika mendatangi Nabi shallahu’alaihi wasallam dan menceritakan apa yang terjadi, beliau bersabda: Sesungguhnya pada dirimu terdapat sifat jahiliyyah. Mereka itu saudara kalian. Allah ta’ala menjadikan mereka di bawah kekuasaan kalian. Maka siapa saja yang saudaranya itu di bawah kekuasaannya dia harus memberinya makan sebagaimana dirinya makan, dia harus memberinya pakaian sebagaimana dirinya berpakaian. Janganlah membebaninya dengan sesuatu yang di luar kemampuannya. Jika kamu menugaskannya dengan suatu tugas maka bantulah dia” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Dzar)

    Dua kejadian di atas menunjukkan dua kezhaliman yang barangkali dikatagorikan kezhaliman kecil. Meski demikian, Nabi shallahu’alaihi wasallam langsung menegurnya. Lalu, bagaimana jika kezhaliman besar?
    • Seorang muslim tidak membiarkan saudaranya disakiti

    Ibnu Hasyim rahimahullah menjelaskan mengenai sebab terjadinya perang Bani Qoinuqo, yaitu seorang muslim yang tidak rela saudarinya seorang Muslimah dilecehkan oleh orang Yahudi. Dia marah dan membunuh orang Yahudi tersebut. Dia sendiri akhirnya dibuhuh oleh orang-orang Yahudi.

    أن امرأة من العرب قدمت بجلب لها، فباعته بسوق بني قينقاع، وجلست إلى صائغ بها، فجعلوا يريدونها على كشف وجهها، فأبت، فعمد الصائغ إلى طرف ثوبها فعقده إلى ظهرها، فلما قامت انكشفت سوأتها، فضحكوا بها، فصاحت، فوثب رجل من المسلمين على الصائغ فقتله وكان يهوديًا، وشدّت اليهود على المسلم فقتلوه، فاستصرخ أهل المسلم المسلمين على اليهود، فغضب المسلمون، فوقع الشرّ بينهم وبين بني قينقاع

    Seorang perempuan( Muslimah) dari Arab membawa perhiasan. Dia hendak menjualnya di pasar Bani Qainuqa’. Perempuan itu duduk di tempat pembuat perhiasan. Mereka meminta kepanya agar membuka wajahnya. Dia tidak mau salah seorang pembuat perhiasan sengaja berbuat (buruk) dengan mengikatkan ujung pakaian bagian belakang muslimah tersebut ke bagian yang lainnya. Sehingga ketika perempuan itu bangkit dari duduknya tersingkaplah aurat bagian belakangnya. Hal itu membuat orang-orang yang ada di pasar melihat perempuan tersebut dan menertawakan. Dia berteriak. Seorang muslim segera menghampiri dan membunuh Yahudi tadi. Melihat hal itu, Yahudi yang lain pun mendatanginya lalu membunuh muslim tersebut. Kemudian terjadilah pertengkaran antara kaum muslimin yang ada di sana dengan Bani Qainuqa’.
    Allahu Akbar, beginilah ukhuwwah Islamiyyah. Seorang muslim tidak rela, marah dan tidak membiarkan saudaranya disakiti.

    Judul buku : UKHUWWAH ISLAMIYYAH

    Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
    (Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

    ]]>
    Ukhuwwah Islamiyyah (Bag. 1 KONSEKWENSI DARI KONSEP AL-WALA’ WAL-BARA’ YANG MERUPAKAN AJARAN ISLAM YANG FUNDAMENTAL) https://nidaulfithrah.com/ukhuwwah-islamiyyah-bag-1-konsekwensi-dari-konsep-al-wala-wal-bara-yang-merupakan-ajaran-islam-yang-fundamental/ Sat, 26 Jul 2025 05:20:19 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=20127 A. UKHUWWAH ISLAMIYYAH ADALAH KONSEKWENSI DARI KONSEP AL-WALA’ WAL-BARA’ YANG MERUPAKAN AJARAN ISLAM YANG FUNDAMENTAL

    Ukhuwwah Islamiyyah artinya persaudaraan Islam. Maksudnya persaudaraan sesama kaum muslimin.

    Al-Wala’ maksudnya cinta dan loyalitas. Al-Bara’ maksudnya benci dan putus ikatan hati. Kepada siapa kita mesti tunjukkan sikap al-Wala’ dan kepada siapa kita tunjukkan sikap al-Bara’. Islam telah mengaturnya. Jangan sampai salah sasaran atau keliru dengan dua persikapan ini. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

    إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَهُمْ رَٰكِعُونَ (المائدة” 55)

    “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)” (QS. Al-Maidah:55)
    Ayat ini menunjukkan bahwa circle al-Wala’ wa- al Bara’ adalah tiga pihak. Yaitu Allah ta’ala, Rasulullah shallahu’alaihi wasallam dan orang Islam (muslim).

    a. Allah ta’ala, Dia lah Tuhan yang kita menghambakan diri hanya kepada-Nya, yang kita memohon untuk dimasukkan ke dalam Surga-Nya. Maka, kita harus mencintai dan loyal kepada-Nya.

    b. Rasulullah shallahu’alaihi wasallam. Beliau adalah utusan Allah ta’ala yang melalui beliau syareat-Nya bisa sampai kepada kita sehingga kita bisa menjalani hidup di atas jalan yang lurus. Maka, kita harus cinta dan loyal kepada beliau.

    c. Muslim. Dia lah orang yang mencitai Allah dan Rasul-Nya. Dialah yang menegakkan dan mensyiarkan syareat Allah yang disampaikan kepadanya melalui Rasul-Nya. Maka, kepada muslim kita harus cinta dan loyal.

    Adapun terhadap kebalikan dari tiga pihak di atas kita harus menunjukkan sikap al-bara’ (benci dan putus ikatan hati);

    a. Berhala-berhala, jimat-jimat dan apapun yang merupakan tandingan bagi Allah. Kita harus berlepas diri dari semuanya itu (sikap al-bara’).

    b. Orang yang memposisikan diri sebagai Rasul; membuat syareat dan menetapkan hukum-hukum yang menyelisihi syareat Allah. Kepada orang semcam ini kita juga harus menunjukkan sikap al-bara’

    c. Orang kafir. Kepadanya kita sebatas berbuat baik dalam koredor pemenuhan hak-hak. Sebagai kawan, tetangga, pembeli, penjual, layanan jasa, partner bisnis dan lain-lain. Jadi, berbuat baik saja, tidak dalam koridor cinta dan loyalitas. Karena cinta dan loyalitas hanya sesama muslim. Allah ta’ala berfirman,

    فَسَوْفَ يَأْتِى ٱللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُۥٓ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلْكَٰفِرِين َ(المائدة:54)

    “Kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir” (QS. Al-Madiah:54)

    Ayat ini menunjukkah, benarnya cinta kepada Allah ta’ala di mana Allah ta’ala membalas cintanya alias tidak bertepuk sebelah tangan yaitu orang berlemah-lembut kepada orang muslim dan bersikap keras atau benci kepada orang kafir.

    لَّا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ (الممتحنة:8)

    “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (QS. Al-Mumtahanah:8)

    Adapun surat Al-Mumtahanah ayat 8 ini menunjukkan, terhadap orang kafir hanya diperbolehkan berbuat baik (memenuhi hak-haknya) bukan sikap cinta atau loyal. Karena cinta dan loyalitas hanya sesama muslim.

    Jelaslah, ukhuwwah Islamiyyah atau persaudaran atas dasar sesama orang yang bersyahadat itu merupakan konsekwensi dari ajaran Islam yang sangat fundamental.

    B. UKHUWWAH ITU TASYRI’ ROBBANI
    Artinya ia merupakan ketetapan syari’at dari Allah ta’ala langsung. Ia bukan tradisi suatu bangsa. Bukan warisan leluhur. Dan, bukan juga taqlid (mengekor) terhadap budaya suatu kaum.

    a. Allah ta’ala memerintahkannya di dalam Al-Qur’an.
    Dia ta’ala berfirman,

    وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ [ آل عمران: 103]

    “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu kamu menjadi orang-orang yang bersaudara karena nikmat Allah; dan kamu telah berada di tepi jurang Neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk” (QS. Ali Imran:103)

    Ayat ini menjelaskan tentang kondisi bangsa Arab sebelum datangnya Islam. Mereka selalu dalam permusuhan dan peperangan. Di antaranya adalah suku Aus dan Khazraj yang satu sebagai musuh bebuyutan bagi yang lainnya. Ketika Nabi shallahu’alaihi wasallam datang berdakwah, mereka berduyun-duyun masuk Islam. Maka, berubahlah kondisinya. Mereka menjadi ummat yang bersatu dan bersaudara. Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda,

    إنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاثًا، ويَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاثًا، فَيَرْضَى لَكُمْ: أنْ تَعْبُدُوهُ، ولا تُشْرِكُوا به شيئًا، وأَنْ تَعْتَصِمُوا بحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا ولا تَفَرَّقُوا، ويَكْرَهُ لَكُمْ: قيلَ وقالَ، وكَثْرَةَ السُّؤالِ، وإضاعَةِ المالِ (رواه مسلم عن أبى هريرة)

    “Allah ta’ala meridhoi untuk kalian pada tiga perkara dan membenci untuk kalian pada tiga perkara. Dia ridho untuk kalian menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, kalian berpegang teguh dengan tali Allah semuanya dan janganlah kalian bercerai berai, Dia ta’ala membenci untuk kalian “katanya-katanya”, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

    Secara gamblang Allah ta’ala perintahkan jika ada kaum muslimin bertikai agar didamaikan. Dia ta’ala berfirman,

    إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (الحجرات:10)

    “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah di antara saudara kalian. Dan bertaqwalah kepada Allah ta’ala agar kalian mendapatkan rahmat” (QS. Al-Hujurot:10)

    Bahkan saking tidak diperbolehkan adanya perselisihan dan pertikaian di dalam tubuh kaum muslimin, syareat menyatakan mendamaikan pihak-pihak yang bertikai itu termasuk salah satu dari sebaik-baiknya pembicaraan. Allah ta’ala berfirman,

    لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَاحٍۢ بَيْنَ النَّاسِۗ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا (النساء:114)

    “Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar” (QS. An-Nisa:114)

    b. Nabi shallahu’alaihi wasallam mempersaudarakan sesama Sahabat padahal mereka tidak ada ikatan nasab.

    Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan…. Nabi mempersaudarakan sesama Shahabat sebanyak dua kali. Pertama: khusus sesama muhajirin. Diantaranya dipersaudarakannya Zaid bin Haritsah dengan Hamzah bin Abdul Mutholib. Kedua: antara Muhajirin dan Anshor setelah hijrah ke Madinah.

    Jadi, sesampainya di Madinah selain mendirikan masjid Nabi shallahu’alaihi wasallam mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshor yang menunjukkan pentingnya kedua hal tersebut. Masjid terkait hubungan vertikal dan persaudaraan terkait hubungan horizontal.

    Bahkan persaudaraan ini yang ia tidak ada kaitannya dengan nashab bukan saja pada ikatan saling menolong, memperhatikan dan mempedulikan, tetapi lebih dari itu mereka juga saling mewarisi. Disebutkan di dalam Hadits,

    عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عنْهمَا كانَ المُهَاجِرُونَ لَمَّا قَدِمُوا المَدِينَةَ يَرِثُ المُهَاجِرُ الأنْصَارِيَّ دُونَ ذَوِي رَحِمِهِ؛ لِلْأُخُوَّةِ الَّتي آخَى النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ بيْنَهُمْ (رواه البخارى)

    “Dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma, ia mengatakan bahwa ketika orang-orang Muhajirin datang ke Madinah mereka mewarisi Anshor padahal tidak ada hubungan rahim. Itu tidak lain karena ikatan setelah Nabi persaudarakan sesama mereka” (HR. Bukhari)

    Namun, ikatan saling mewarisi ini dihapus. Yang masih tetap berlangsung adalah ikatan saling menolong dan mempedulikan. Sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Ibnu Abbas,

    فَلَمَّا نَزَلَتْ: {وَلِكُلٍّ جَعَلْنَا مَوَالِيَ} [النساء: 33] نَسَخَتْ، ثُمَّ قالَ: (وَالَّذِينَ عَاقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ) إلَّا النَّصْرَ، وَالرِّفَادَةَ، وَالنَّصِيحَةَ، وَقَدْ ذَهَبَ المِيرَاثُ، وَيُوصِي له (رواه البخارى)

    “Ketika turun ayat “ وَلِكُلٍّ جَعَلْنَا مَوَالِيَ ” (QS. An-Nisa:33) ia (saling mewarisi) dihapus. Kemudian firman-Nya “ وَالَّذِينَ عَاقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ “ menunjukkan (yang masih dilanjutkan) adalah saling menolong, menjamin, dan menasehati. Adapun saling mewarisi sudah ditiadakan” (HR. Bukhari)

    Berikut ini pasangan-pasangan persaudaran yang Rasulullah shallahu’alaihi wasallam lakukan terhadap Muhajirin dan Anshor:

    1. Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan Kharijah bin Zaid
    2. Umar bin Al-Khottob dengan ‘Utban bin Malik
    3. Ubaidah bin Al-Jarroh dengan Abu Tholhah
    4. Abdurrahman bin ‘Auf dengan Sa’ad bin Ar-Robi’
    5. Ja’far bin Abu Tholib dengan Mu’adz bin Jabal
    6. Mush’ab bin ‘Umair dengan Abu Ayyub Al-Anshory
    7. Abu Dzar Al-Ghifari dengan Al-Mundzir bin ‘Amr
    8. Salman Al-Farisi dengan Abu Darda’
    9. Tholhah bin ‘Ubaidillah dengan Ka’ab bin Malik
    10. Zubair bin Al-Awam dengan Salmah bin Salamah bin Waqsy
    11. Bilal bin Robah dengan Abu Rouhah Al-Khots’amy

    Judul buku : UKHUWWAH ISLAMIYYAH

    Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
    (Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

    ]]>