imam – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Mon, 23 Dec 2024 07:03:51 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png imam – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 Oh..Kematian?! (Himpitan Kubur Bag. 5) https://nidaulfithrah.com/oh-kematian-himpitan-kubur-bag-5/ Mon, 23 Dec 2024 07:03:51 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19415 F. Himpitan Kubur
Pertama : Himpitan kubur itu benar adanya.
Himpitan kubur adalah awal perkara yang dijumpai mayat di alam barzah. Banyak nash-nash shorih dan shohih dari Nabi shallahu ‘alaihi wasallam tentangnya. Diantaranya:
a. Dalil pertama:

عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال :إِنَّ لِلْقَبْرِ ضَغْطَةً وَلَوْ كَانَ أَحَدٌ نَاجِيًا مِنْهَا نَجَا مِنْهَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ )رواه أحمد (6/55 ،98) ، قال العراقي في “ تخريج الإحياء “ (5/259) : إسناده جيد . وقال الذهبي في “ السير “ (1/291) : إسناده قوي . وقال الألباني في “ السلسلة الصحيحة “ (1695) : “ وجملة القول أن الحديث بمجموع طرقه وشواهده صحيح بلا ريب “ انتهى. وصححه محققو مسند أحمد في طبعة مؤسسة الرسالة (40/327)

“Dari ‘Aisyah radhiallahu’anha bahwa Nabi shallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Pada kubur ada himpitan, kalau ada seseorang yang selamat darinya niscaya Sa’ad bin Mu’ad telah selamat” (HR. Imam Ahmad 6/55. 98).
Al-’Iroqi berkata di dalam “Takhrijul Ihya” 5/259: Isnadnya jayyid. Adz-Dzahabi berkata di dalam “Siyar” 1/291: Isnadnya qowiyy. Al-Albani berkata di dalam “As-Silsilah ash-Shohihah” 165: Seluruh pendapat menyatakan Hadits tersebut dengan seluruh jalannya dan syawahidnya shohih tanpa diragukan [selesai]
b. Dalil kedua

عن ابن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال عن سعد بن معاذ رضي الله عنه حين توفي :هَذَا الَّذِي تَحَرَّكَ لَهُ الْعَرْشُ وَفُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَشَهِدَهُ سَبْعُونَ أَلْفًا مِنْ الْمَلَائِكَةِ لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ فُرِّجَ عَنْهُ ] )رواه النسائي في “ السنن “ (2055) (4/100)[ وسكت عنه ، وبوب عليه بقوله : “ ضمة القبر وضغطته “، وصححه الألباني في “ صحيح النسائي “

Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang Sa’ad bin Mu’adz radhiallahu’anhu ketika wafatnya: “Ini orang yang ‘Arsy berguncang karenanya, pintu-pintu langit dibuka untuknya, dan telah dipersaksikan tujuh puluh ribu Malaikat, tapi masih mengalami himpitan kubur yang kemudian dilapangkan baginya(HR. An-Nasa’i di dalam “As-Sunan” 2055, 4/100) , dia tidak berkomentar tentangnya, dan menyebutkan di dalam penyusunan bab-babnya dengan “Bab Himpitan Qubur”. Di-shahih-kan oleh Al-Albani di dalam “Shohih An-Nasa’i
c. Dalil ketiga

عن أبي أيوب رضي الله عنه : أن صبيًا دُفنَ ، فقالَ صلى الله عليه وسلم :لَوْ أَفْلَتَ أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ القَبْرِ لَأَفْلَتَ هَذَا الصَبِيُّ ).رواه الطبراني “ المعجم الكبير “ (4/121) وصحح الحافظ ابن حجر نحوه في “ المطالب العالية “ (13/44)، وصححه الهيثمي في “ مجمع الزوائد “ (3/47) ، والألباني في “ السلسلة الصحيحة “ (رقم/2164)

Dari Abu Ayyub radhiallahua’hu bahwa ada bayi dimakamkan. Nabi shallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jika ada orang yang selamat dari himpitan kubur niscaya bayi ini selamat(HR Ath-Thobroni di dalam “al-Mu’jam al-Kabir” 4/121). Al-Hafizh Ibnu Hajar men-shahih-kannya di dalam “al-Matholib al-‘aliyah” 13/44. Al-Haitsami men-shahih-kannya di dalam “Majma’ az-Zawaid 3/47 dan Al-Albani di dalam “As-Silsilah ash-Shohihah” no. 2164.
Al-Qurthubi menyebutkan di dalam “At-Tadzkiroh fi Ahwaali-l-Mawta wa Umuri-l- Akhiroh” Hal. 323 pada Bab “Himpitan Kubur pada penghuninya meskipun Orang Sholeh”. Juga pada nash-nash lain dalam tema yang sama tetapi kebanyakannya dho’if dan munkar. Sebagaimana Ibnu-l-Ajur mengeluarkan di dalam “Al-Mawdhu’at” 3/231 sebagian besarnya dengan judul HIMPITAN KUBUR. Yang kami sebutkan dari Hadits-Hadits shohih sudah mencukupi. In sya-a Allah.
Kedua : Apakah orang mukmin mengalami himpitan kubur?
Ahli ilmu berbeda pendapat berkenanaan dengan seorang mukmin. Apakah ia mengalami himpitan kubur? Dan, bagaimanakah keadaannya? Ada dua pendapat:
Pendapat pertama: Himpitan kubur menimpa setiap mukmin dan dirasakan berat baginya. Namun, bagi orang mukmin yang sholeh cepat terbebas darinya dan dilapangkan kuburnya. Adzab ini tidak berkepanjangan baginya. Adapun orang fasik himpitan sangat dahsyat dirasakannya. Menyempitnya lahat memakan waktu yang lama sesuai dosa dan maksiatnya.
Abu-l-Qosim as-Sa’di rahimahullah berkata: Tidak akan selamat dari himpitan kubur orang tholih juga orang sholihnya. Bedanya antara muslim dan kafir adalah orang kafir terus-menerus, sementara orang muslim mengalaminya hanya ketika awal diturunkan ke liang lahat kemudian kembali mendapatkan kelapangan [selesai].
Al-Hakim at-Tirmidzi rahimahullah berkata: Himpitan ini disebabkan tidak lain setiap orang itu berbuat dosa, maka himpitan akan dirasakannya sebagai balasannya lalu dia akan merasakan rahmat [selesai]. Dinukil dari “Hasyiah as-Suyuthi ‘ala “Sunan an-Nasa’i” 3/292. Ar-Romli menukilnya di dalam “Fatawa” nya 4/210.
Pendapat kedua: Orang mukmin yang shalih juga mengalami himpitan kubur, tetapi ia himpitan sayang dan kelembutan. Tidak terdapat padanya sakit dan penderitaan. Adapun orang muslim yang bermaksiat, himpitan keras kemurkaan sangat dirasakan sesuai banyaknya dosa dan buruknya amalan mereka.
Dari Muhammad At-Taimiy rahimahullah, ia berkata: Dikatakan, Sesungguhnya himpitan kubur sejatinya ia itu ibu mereka. Darinya mereka diciptakan. Mereka telah raib dalam waktu yang lama. Ketika kembali ke sang Ibu, maka ia mendekapnya dengan dekapan kasih sayang, dekapan kerinduan terhadap anak-anaknya yang menghilang lalu datang kembali. Barangsiapa di antara mereka yang taat kepada Allah ta’ala maka akan didekapnya dengan kelembutan. Barangsiapa bermaksiat kepada Allah ta’ala maka akan didekapnya dengan dekapan kemurkaan (Imam As-Suyuthi menyebutkannya di dalam Hasyiah atas “Sunan An-Nasa’i 3/292 dari riwayat Ibnu Abi-d-Dunya. Dia menyebutnya di dalam “Busyro-l-Kaib bi liqoo-i-l- Habib”, Hal. 5 Bab: “Dzikru Takhfifi dhimmati-l-qobr ‘ala-l-mu’min”)
Ada Hadits marfu’ yang meriwayatkan secara makna dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, dia berkata:

يا رسول الله إنك منذ حدثتني بصوت منكر ونكير وضغطة القبر ليس ينفعني شيء ؟ قال: “يا عائشة إن أصوات منكر في أسماع المؤمنين كالإثمد في العين ، وإن ضغطة القبر على المؤمن كالأم الشفيقة يشكو إليها ابنها الصداع فتغمز رأسه غمزا رفيقا ، ولكن يا عائشة ويل للشاكين في الله كيف يُضغطون في قبورهم كضغطة البيضة على الصخرة ](رواه البيهقي في “ إثبات عذاب القبر “ (ص/85، رقم/116)[، والديلمي في “ مسند الفردوس “ (رقم/3776)، وفي سنده الحسن بن أبي جعفر وعلي بن زيد بن جدعان ضعيفان . فهو حديث ضعيف . وقد عزاه بعضهم لابن منده وابن النجار ولم أقف عليه

Ya Rasulullah! Sesungguhnya sejak hari Engkau memberitahuku tentang suara Munkar dan Nakir dan himpitan kubur, saya belum paham. Beliau bersabda: Ya ‘Aisyah! Sesungguhnya Munkar dan Nakir pada pendengaran orang mukmin itu seperti itsmid pada mata. Adapun himpitan kubur pada mukmin itu seperti Ibu yang anak mengeluhkan sakit kepala kepadanya, ia pun menganggukkan kepala dengan lembut. Wahai ‘Aisyah! Celakalah orang-orang yang ragu-ragu akan Tuhannya betapa mereka akan dihimpit oleh kubur seperti telor yang ditekan di atas batu (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di dalam “Itsbat ‘adzabi-l-qobr” (Hal. 85, No. 116), Ad-Dailami di dalam “Musnad Al-Firdaus” no. 3776, di dalam sanad-nya terdapat al-Hasan bin Abi Ja’far dan ‘Ali bin Zaid bin Jad’an. Keduanya lemah. Ini Hadits dho’if. Sebagian mereka menisbatkannya kepada Ibnu Mandah dan Ibnu an-Najjar
Al-Hafizh Adz-Dzahabi rahimahullah berkata: “Himpitan ini bukan adzab kubur. Tetapi, ia adalah perkara yang seorang mukmin menjumpainya sebagaimana sakit atas kehilangan anak dan teman karibnya di dunia. Sakit dari suatu penyakit. Sakit ketika terlepasnya ruh. Sakit karena keberadanya di kubur dan adanya ujian yang dihadapinya. Sakit akibat pengaruh dari tangisan keluarganya. Sakit ketika bangkit dari kuburnya. Sakit dari berdiri (di mahsyar, Pent.) dan kengerian yang mencekam. Sakit ketika mendatangi Neraka dan semacamnya. Kegoncangan-kegoncangan ini semua orang mendapatinya. Ia bukan adzab kubur. Juga bukan bagian dari adzab Jahannam. Tetapi seorang hamba menjumpainya pada sebagiannya atau keseluruhannya dengan kelembutan dari Allah ta’ala. Tidak ada rehat bagi mukmin hingga bertemu dengan Tuhannya. Allah ta’ala berfirman,

وَأَنذِرْهُمْ يَوْمَ ٱلْحَسْرَةِ

“Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan (QS. Maryam:39)

وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْآزِفَةِ إِذِ الْقُلُوبُ لَدَى الْحَنَاجِرِ كَاظِمِينَ(غافر: 18)

Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari Kiamat yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan (QS. Ghofir: 18)
Kita memohon ampunan dan kelembutan yang tersembunyi kepada Allah ta’ala. Ketika terjadi kegundahan-kegundahan pada diri kita (berkenaan himpitan kubur ini, Pent.), maka ketahuilah Sa’ad bin Mu’adz yang diketahui sebagai ahli Surga, syahid yang tertinggi dan telah meraih kemenangan masih merasakan kengerian, ketakutan,dan rasa sakit!!! Lalu bagaimana dengan kita?! Mintalah keselamatan kepada Tuhan kalian, dan semoga Dia ta’ala mengumpulkan kita bersama golongan Sa’ad bin Mu’adz [selesai]. “Siyar A’lami-n-Nubala” 1/290-292.
Syaikh An-Nafrawi al-Maliki berkata: Himpitan kubur adalah perkara yang pasti terjadi. Meskipun keadaannya berbeda-beda antara satu orang dengan yang lainnya [selesai]. “Al-Fawakih ad-Dawani” 2/688.
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata: Hadits ini, yaitu tentang dihimpitnya Sa’ad bin Mu’adz dalam kubur adalah masyhur di kalangan para ulama. Seandainya Hadits itu shahih, maka himpitan kubur bagi mukmin adalah himpitan rahmat dan kelembutan seperti seorang Ibu yang memeluk anaknya ke dadanya. Adapun bagi orang kafir, maka ia merupakan himpitan siksa. Wa-l-‘iyaadzu billah. Nabi shallahu ‘alaihi wasallam memberitahukan bahwa manusia ketika dikuburkan datanglah dua Malaikat yang akan bertanya tentang tiga perkara: Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Dan siapa Nabimu? Orang mukmin akan menjawab: Tuhanku Allah, agamaku Islam dan Nabiku Muhammad. Saya memohon kepada Allah ta’ala semoga menjadikan jawabanku dan jawaban kalian seperti ini. Adapun orang munafik atau murtad – semoga Allah ta’ala melindungi kami dan kalian semua – akan menjawab: Haa… haa.. saya tidak tahu. Saya mendengar orang-orang mengatakannya maka akupun mengatakannya. Lalu, kubur menghimpitnya hingga tulang-tulang rusuknya bersilangan carut-marut. Wa-l-‘iyaadzu billah. Jadi, berbeda antara himpitan kubur bagi kafir atau murtad dengan orang mukmin [selesai dengan ringkasan]. “Liqoo-aa-t Al-Baab al-Mafthuh” No. 161 Soal no. 17.
Zhahirnya – Allahu A’lam – yang rojih dari dua pendapat ini adalah pendapat yang berdasarkan teks sunnah yang menunjukkan demikian. Seorang mukmin saja merasakan himpitan kubur apalagi yang lainnya. Ini menunjukkan dahsyatnya himpitan kubur. Ia dirasakan sakit bagi orang yang dihimpitnya dengan kadar yang berbeda-beda antara satu dan yang lainnya. Masing-masing sesuai amalan dan keadaannya. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahmahullah menyebutkan himpitan kubur sebagai faktor penyebab diampuninya dosa-dosa. Dia rahimahullah berkata: Sebab kedelapan, apa yang terjadi di kubur berupa fitnah, himpitan dan kengeriannya bisa merupakan sebab yang menghapus kesalahan-kesalahan [selesai dari “Majmu’-l- Fatawa” 7/500.
Hadits yang disebutkan di dalam pertanyaan tidak menunjukkan bahwa Sa’ad bin Mu’adz sebagai satu-satunya yang selamat dari himpitan kubur sebagaimana yang dipahami oleh penanya. Tetapi, ia justru merupakan nash bahwa Sa’ad bin Mu’adz radhiallahu’anhu tidak selamat dari himpitan kubur. Jika ada orang yang selamat darinya, niscaya Sa’ad termasuk orang yang selamat di mana dia termasuk seutama-utamanya manusia. Lihatlah “Jawabu-s- Sual” no. 71175. Allahu A’lam.

Judul buku : Oh..Kematian?!

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Doa agar keluarga dan keturunannya menjadi imam bagi muttaqin https://nidaulfithrah.com/doa-agar-keluarga-dan-keturunannya-menjadi-imam-bagi-muttaqin/ Mon, 25 Nov 2024 08:18:06 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19341 رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا [الفرقان: 74]

Wahai Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al Furqon Ayat 74)

Judul buku : 162 DOA DARI AL QUR’AN & HADITS

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Kewajiban bagi orang yang tidak membaca al-Fatihah di dalam shalat karena lupa https://nidaulfithrah.com/kewajiban-bagi-orang-yang-tidak-membaca-al-fatihah-di-dalam-shalat-karena-lupa/ https://nidaulfithrah.com/kewajiban-bagi-orang-yang-tidak-membaca-al-fatihah-di-dalam-shalat-karena-lupa/#respond Wed, 25 Sep 2024 04:17:14 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19177 Sumber : (https://www.islamweb.net/ar/fatwa/447652/)

Teks Arab

واجب من لم يقرأ الفاتحة ناسيا
السؤأل: كنت إماما، ونسيت قراءة الفاتحة في الركعة الأولى، ولم يصحح لي من خلفي. هل صلاتنا كاملة أم لا؟وهل علي وزري، ووزر من صلوا خلفي؟
وجزاكم الله خيرا
الإجابة: الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعد
فقراءة الفاتحة ركن في حق الإمام والمنفرد، وكان الواجب على المأمومين أن يفتحوا عليك حين تركت الفاتحة، وانظر الفتوى: 312526
وحيث تركت هذا الركن حتى طال الفصل، فيلزمك إعادة الصلاة
قال النووي: فيمن ترك الفاتحة ناسياً حتى سلم أو ركع، قولان مشهوران، أصحهما باتفاق الأصحاب، وهو الجديد: لا تسقط عنه القراءة
وإن تذكر بعد السلام -والفصل قريب- لزمه العود إلى الصلاة، ويبني على ما فعل, فيأتي بركعة أخرى، ويسجد للسهو. وإن طال الفصل، يلزمه استئناف الصلاة. انتهى
وكذا يلزم المأمومين إعادتها، فإنه كان يجب عليهم إذ لم يفتحوا عليك أن يفارقوك، ولا يسعهم المضي معك في الصلاة، وانظر الفتوى: 137032
والله أعلم

Terjemahan teks Arab

Pertanyaan: Saya menjadi imam. Saya lupa membaca al-Fatihah pada rakaat pertama. Tetapi tidak ada seorangpun di belakangku yang mengingatkan. Apakah shalat kami sempurna ataukah tidak? Apakah saya berdosa dan seluruh yang shalat bersamaku? Jazakumullahu khairan.
Jawab:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعد

Membaca al-Fatihah adalah rukun bagi imam dan orang yang shalat sendirian. Wajib bagi makmum untuk mengingatkan Anda ketika Anda kelupaan membaca al-Fatihah. Lihat “Fatwa” no. 312526. Jika Anda meninggalkan rukun ini hingga berkepanjangan jedanya maka shalat harus diulang. Imam An-Nawawi berkata: Bagi orang yang kelupaan membaca al-Fatihah hingga salam atau ruku’ terdapat dua pendapat yang masyhur. Yang shohih dari keduanya adalah – dengan kesepakatan semua teman-temanku – yaitu pendapat terbaru adalah bacaan al-Fatihah tidak menjadi gugur….
Jika ingatnya setelah salam dan jedanya dekat, maka wajib mengulangi shalat untuk menggantikan rakaat (yang tidak terdapat al-Fatihah di dalamnya, Pent.) lalu sujud sahwi. Tetapi, jika jedanya panjang maka wajib mengulangi shalat dari awal [selesai]. Wajib bagi makmum juga untuk mengulanginya. Jika mereka tidak mengingatkan Anda maka wajib bagi mereka untuk “mufaroqoh” (memisahkan diri) dari Anda. Tidak berlanjut shalat bersama Anda. Lihat “Fatwa” no. 137032

Judul buku : Terkadang Ditanyakan 21

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
https://nidaulfithrah.com/kewajiban-bagi-orang-yang-tidak-membaca-al-fatihah-di-dalam-shalat-karena-lupa/feed/ 0
Kapan waktu yang dianjurkan bagi imam untuk mendatangi masjid di hari Jum’at? https://nidaulfithrah.com/kapan-waktu-yang-dianjurkan-bagi-imam-untuk-mendatangi-masjid-di-hari-jumat/ https://nidaulfithrah.com/kapan-waktu-yang-dianjurkan-bagi-imam-untuk-mendatangi-masjid-di-hari-jumat/#respond Tue, 17 Sep 2024 05:27:22 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19152 Sumber : (https://www.islamweb.net/ar/fatwa/28950/)

Teks Arab

الوقت المستحب لحضور الإمام للمسجد يوم الجمعة
السؤال: ماهو وقت دخول الإمام إلى المسجد يوم الجمعة؟ وهل هناك حديث يتكلم عن طي المصحف وقت دخوله؟ وجزاكم الله خيراً
الإجابة: الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد
فإن الوقت المستحب لدخول الإمام للمسجد يوم الجمعة هو بعد الزوال وقت الهاجرة عندما يجتمع الناس، فهذا هو السنة كما كان النبي صلى الله عليه وسلم يفعل
قال ابن القيم في الزاد: وكان صلى الله عليه وسلم يمهل يوم الجمعة حتى يجتمع الناس، فإذا اجتمعوا خرج إليهم، فإذا دخل المسجد سلم عليهم، فإذا صعد المنبر استقبل الناس بوجهه وسلم عليهم، انتهى
وفي الصحيحين وغيرهما واللفظ لـلبخاري عن أنس رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يصلي الجمعة حين تميل الشمس
ولا مانع من دخول الإمام المسجد قبل هذا الوقت والجلوس فيه كغيره من المسلمين للأحاديث الواردة في الترغيب في التبكير يوم الجمعة لعامة المسلمين، ولعدم ورود الاستثناء للإمام أو غيره، ومجرد فعله صلى الله عليه وسلم لا يقتضي العموم ولا التخصيص للأحاديث العامة
فقد جاء في الصحيحين وغيرهما عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: من اغتسل يوم الجمعة غسل الجنابة ثم راح فكأنما قرب بدنة، ومن راح في الساعة الثانية فكأنما قرب بقرة، ومن راح في الساعة الثالثة فكأنما قرب كبشاً أقرن، ومن راح في الساعة الرابعة فكأنما قرب دجاجة، ومن راح في الساعة الخامسة فكأنما قرب بيضة، فإذا خرج الإمام حضرت الملائكة يستمعون الذكر
فهذا الحديث وما أشبهه يدل بعمومه على أن الإمام كغيره ينبغي له أن يبادر بالحضور إن أمكنه ذلك، قال الحافظ ابن حجر في الفتح: استنبط منه الماوردي أن التبكير لا يستحب للإمام. واعترض عليه الحافظ بقوله: وما قاله غير ظاهر لإمكان أن يجمع بين الأمرين بأن يبكر ولا يخرج من المكان المُعدّ له في الجامع إلا إذا حضر الوقت، انتهى
وقد نص أهل العلم على أن الإمام إذا جاء قبل الوقت أو قبل اجتماع المصلين أنه يصلي تحية المسجد ويجلس كغيره حتى يحين وقت الصلاة ويجتمع الناس، ولم يذكروا في ذلك كراهة.قال الدسوقي المالكي عند قول خليل: وكره تنفل إمام قبلها، قال: حيث دخل ليرقى المنبر، فإن دخل قبل وقته أو لانتظار الجماعة ندبت له التحية.وقال النفراوي: …وليرقَ المنبر كما يدخل. أي ساعة دخوله. وأما لو دخل المسجد قبل الزوال أو بعده وقبل حضور الجماعة فإنه يطالب بتحية المسجد
ومعناه أن للإمام المجيء قبل دخول الوقت وقبل حضور المصلين، وليس في ذلك كراهة إن شاء الله تعالى، ولا شك أن خروج الإمام وقت الخطبة وصعوده على المنبر مباشرة أقرب إلى السنة لفعله صلى الله عليه وسلم، ولكن لا مانع ولا كراهة في التبكير للإمام للأحاديث الواردة في فضل ذلك، وأما طي الصحف فقد ورد في أحاديث منها ما رواه أحمد والنسائي وغيرهما، فعن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إذا كان يوم الجمعة قعدت الملائكة على أبواب المسجد فكتبوا من جاء إلى الجمعة، فإذا خرج الإمام طوت الملائكة الصحف
والله أعلم

Terjemahan teks Arab

Pertanyaan: Kapan waktu bagi imam untuk masuk ke masjid pada hari Jum’at? Dan apakah ada Hadits yang menjelaskan tentang melipat lembaran catatan ketika Imam sudah memasuki masjid? Jazakumullahu khairan.
Jawab:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد

Waktu yang dianjurkan bagi imam untuk memasuki masjid pada hari Jum’at adalah ketika matahari sudah tergelincir ( masuk waktu Zhuhur, Pent.) ketika para jamaah sudah berkumpul. Inilah yang sunnah sebagaimana Nabi shalallahu’alaihi wasallam melakukannya.
Ibnul Qoyyim berkata di dalam kitab “Zadul Ma’ad”: Nabi shalallahu’alaihi wasallam menunda (menuju masjid) pada hari Jum’at hingga manusia berkumpul. Ketika mereka sudah berkumpul, beliau keluar. Ketika sudah memasuki masjid beliau langsung ke mimbar menghadap kepada jamaah kaum muslimin [selesai].
Di dalam ash-Shahihaini dan yang lainnya dengan lafazh milik al-Bukhari,

عن أنس رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يصلي الجمعة حين تميل الشمس

Beliau shalat Jum’at ketika matahari tergelincir
Tidak ada masalah jika Imam memasuki masjid sebelum waktu ini (matahari tergelincir, Pent.) lalu duduk di situ sebagaimana kaum muslimin berdasarkan Hadits-Hadits yang warid tentang anjuran kepada kaum muslimin secara umum agar segera berangkat ke masjid pada hari Jum’at. Dan, tidak adanya pengecualian untuk imam atau selainnya. Sekedar melihat perbuatan Nabi shalallahu’alaihi wasallam tidak bisa dijadikan sandaran umum juga tidak bisa men-takhsish keumuman Hadits-Hadits. Di dalam Ash-Shahihain dan yang lainnya disebutkan,

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: من اغتسل يوم الجمعة غسل الجنابة ثم راح فكأنما قرب بدنة، ومن راح في الساعة الثانية فكأنما قرب بقرة، ومن راح في الساعة الثالثة فكأنما قرب كبشاً أقرن، ومن راح في الساعة الرابعة فكأنما قرب دجاجة، ومن راح في الساعة الخامسة فكأنما قرب بيضة، فإذا خرج الإمام حضرت الملائكة يستمعون الذكر

Barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at sebagaimana mandi junub kemudian dia pergi ke masjid pada awal waktu, maka dia mendapat pahala seperti pahala berkurban satu ekor unta. Barangsiapa berangkat ke masjid pada waktu yang kedua, maka dia mendapat pahala seperti pahala berkurban seekor sapi. Barangsiapa yang berangkat ke masjid pada waktu yang ketiga, maka dia mendapat pahala seperti pahala berkurban seekor kambing jantan. Barangsiapa yang berangkat ke masjid pada waktu yang keempat, maka dia mendapat pahala seperti pahala berkurban seekor ayam. Dan barangsiapa yang berangkat ke masjid pada waktu yang kelima, maka dia mendapat pahala seperti berkurban sebutir telur. Apabila imam telah datang (untuk menyampaikan khuthah) maka para Malaikat juga turut hadir untuk mendengarkan khutbah.
Hadits ini dan yang semisalnya menunjukkan keumuman bahwa imam itu sebagaimana yang lainnya dianjurkan untuk segera berangkat jika memungkinkan baginya.
Al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam “Al-Fath” berkata: Dari situ Al-Mawardi menyimpulkan bahwa bersegera tidak dianjurkan bagi imam.
Al-Hafizh menyelisihinya dengan mengatakan: Apa yang dikatakannya itu tidak eksplisit sehingga memungkinkan untuk menggabungkan antara kedua perkara tersebut, yaitu: seyognya imam mensegerakan berangkat, tetapi tidak keluar menuju tempat yang telah disediakan di masjid (mimbar, Pent) kecuali jika sudah masuk waktu [selesai].
Para ulama menyatakan bahwa jika imam datang sebelum waktu Zhuhur atau sebelum berkumpulnya kaum muslimin, maka dia melakukan shalat Tahiyyatul masjid lalu duduk sebagaimana yang lainnya hingga datang waktu shalat dan berkumpulnya manusia. Para ulama tersebut tidak menyebutnya sebagai perkara yang makruh.
Ad-Dasuki al-Maliki berkata….: Adalah makruh bagi imam untuk melakukan shalat sunnah sebelumnya. Tetapi begitu masuk masjid langsung naik mimbar. Tetapi kalau dia memasukinya sebelum waktunya atau menunggu hadirnya para jamaah maka dia mengerjakan shalat Tahiyyatul masjid.
An-Nafrowi berkata: Hendaklah dia naik mimbar ketika datang atau saat memasuki masjid. Adapun jika memasuki masjid sebelum Zhuhur atau sesudah masuk waktu Zhuhur jika jamah belum hadir maka dia menunaikan shalat Tahiyyatul masjid.
Jadi, Jika imam datang sebelum waktu Zhuhur atau sebelum hadirnya para jamaah hukumnya tidak makruh – in syaa Allah – dan tidak diragukan lagi jika imam datang ke masjid lalu langsung menuju mimbar maka ini yang lebih mendekati sunnah berdasarkan perbuatan Nabi shalallahu’alaihi wasallam. Tetapi, tidak ada larangan dan tidak makruh jika imam bersegera berangkat berdasarkan Hadits-Hadits yang warid tentang keutamaan yang demikian itu.
Adapun mengenai ditutupnya lembar catatan, ini berdasarkan Hadits-Hadits tentangnya. Diantaranya riwayat Imam Ahmad, An-Nasa’i dan selain keduanya:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إذا كان يوم الجمعة قعدت الملائكة على أبواب المسجد فكتبوا من جاء إلى الجمعة، فإذا خرج الإمام طوت الملائكة الصحف

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam jika hari Jum’at datang, para Malaikat duduk di pintu-pintu masjid mencatat siapa yang menghadiri Jum’at. Kalau imam sudah keluar para Malaikat menutup lembaran catatan tersebut. Allahu A’lam.

Judul buku : Terkadang Ditanyakan 21

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
https://nidaulfithrah.com/kapan-waktu-yang-dianjurkan-bagi-imam-untuk-mendatangi-masjid-di-hari-jumat/feed/ 0