badan – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Sat, 19 Jul 2025 08:43:22 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png badan – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 Doa ketika merebahkan badan hendak tidur https://nidaulfithrah.com/doa-ketika-merebahkan-badan-hendak-tidur/ Tue, 22 Jul 2025 08:38:32 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=20118 ربَ قِني عذابَكَ يومَ تَبْعَثُ عبادَكَ (مسلم حديث 709)

“Wahai Tuhanku, jagalah aku dari adzab-Mu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu”

Judul buku : 162 DOA DARI AL QUR’AN & HADITS

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
PANDUAN PRAKTIS HAJI & UMROH (Bag. 4 Rangkuman pelaksanaan ibadah haji) https://nidaulfithrah.com/panduan-praktis-haji-umroh-bag-4-rangkuman-pelaksanaan-ibadah-haji/ Sat, 01 Mar 2025 05:50:36 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19719 Rangkuman pelaksanaan ibadah haji:

  • Hari pertama ( tanggal 08 Dzulhijjah)
  1. Ihram haji dari tempatnya. Dimulai dengan mandi, memakai wewangian pada badan dan mengenakan pakaian ihram. Lalu memperbanyak talbiyah
  2. Menuju Mina dan mabit di sana hingga terbit matahari pada tanggal 09 Dzulhijjah. Shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh dilakukan pada masing-masing waktunya dengan cara mengqoshor shalat yang empat rakaat.

  • Hari kedua (tanggal 09 Dzulhijjah)
  1. Setelah matahari terbit, bertolak menuju Arofah. Shalat Zhuhur dan Ashar dijamak qoshor. Jika memungkinkan sebelum datang waktu Zhuhur singgah di Namiroh.
  2. Terus menetap di ‘Arofah (wuquf) hingga datang waktu Maghrib. Selama wukuf berdoa sebanyak-banyaknya dengan mengangkat kedua tangan menghadap ke kiblat.
  3. Ketika sudah Maghrib bertolak menuju Muzdalifah. Shalat Maghrib dan Isya dikerjakan dengan dijamak ta’khir dan qoshor di Muzdalifah, dan terus mabit hingga datang waktu Shubuh.
  4. Setelah shalat Shubuh, berdzikir dan doa hingga ufuk berwarna kuning
  5. Sebelum matahari terbit, bertolak menuju Mina

  • Hari ketiga (tanggal 10 Dzulhijjah)
  1. Sesampainya di Mina, melontar jumroh ‘Aqobah Dengan tujuh butir kerikil bertakbir pada setiap lontaran.
  2. Menyembelih hadyu.
  3. Mencukur rambut atau memendekkannya. Ini yang disebut tahallul awal. Seluruh yang dilarang selama ihram sudah diperbolehkan kecuali hubungan suami istri.
  4. Bertolak menuju Makkah untuk melakukan thowaf ifadhoh (thowaf haji) dilanjutkan dengan sa’i di Shofa dan Marwah. Dengan selesainya ini jamaah haji sudah tahallul tsani dimana seluruh larangan selama ihram sudah dibolehkan termasuk jima’.
  5. Kembali ke Mina untuk mabit malam sebelas Dzulhijjah.

  • Hari keempat (tanggal 11 Dzulhijjah)
  1. Ketika sudah datang waktu Zhuhur lontar tiga jumroh. Dimulai dari Ula, Wustho dan ‘Aqobah. Masing-masing dengan 7 butir kerikil. Tidak boleh dikerjakan sebelum Zhuhur. Seusai lontar pada Ula dan Wustho berdiri panjang untuk memanjatkan doa.
  2. Mabit di Mina malam 12 DZulhijjah

  • Hari kelima (tanggal 12 Dzulhijjah)
  1. Lontar tiga jumroh sebagaimana hari keempat (tanggal 11 Dzulhijjah)
  2. Meninggalkan Mina sebelum terbenamnya matahari bagi yang menginginkan. Ini disebut nafar awal. Bagi yang menghendaki nafar tsani, mabit lagi di Mina malam 13 Dzulhijjah.

  • Hari keenam (tanggal 13 Dzulhijjah)
Hari ini khusus bagi yang menghendaki nafar tsani.
  1. Lontar jumroh sebagaimana tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah
  2. Meninggalkan Mina.
  • Selesailah pelaksanaan haji.

Tinggal satu lagi peribadahan yaitu thowaf wada’. Ia dilakukan ketika jamaah haji akan pulang meninggalkan Mekkah. Semoga haji kita semua mabrur. Amin

B. Rukun, Wajib dan Sunnah Haji

  • Rukun haji:

a. Ihram: berniat umroh atau haji
b. Wukuf di Arofah
c. Thowaf Ifadhoh
d. Sa’i antara Shofa dan Marwah

  • Wajib Haji

a. Ihram dari miqot yang telah ditetapkan
b. Mabit di Muzdalifah
c. Mabit di Mina malam 11,12, 13
d. Lontar jumroh
e. Mencukur/memendekkan rambut
f. Thowaf Wada’

  • Sunnah Haji

Selain yang disebutkan pada rukun dan wajib haji maka masuk ke dalam sunnah haji, seperti:
a. Thowaf qudum bagi haji ifrod dan qiron
b. Mabit di Mina tanggal 8 Dzulhijjah
c. Raml pada tiga putaran pertama thowaf
d. Idhthiba
e. Mandi sebelum ihram
f. Mengenakan kain putih bagi lelaki
g. Talbiyah
h. Mengusap dan mencium hajar Aswad

C. Fidyah atau denda dalam Haji
Orang yang sedang ihram jika melakukan pelanggaran, maka dikenakan fidyah (denda). Rinciannya berikut ini:


a. Tidak ada fidyah: akad nikah.
Ia tidak sah dan pelakunya berdosa tetapi tidak ada fidyah.


b. Fidyah besar: jima’.
Jika dilakukan sebelum tahallul awal, berdosa, hajinya tidak sah dengan tetap menyelesaikan amalan yang tersisa dan hajinya wajib diulang tahun berikutnya. Keduanya suami dan istri tersebut dikenakan fidyah kambing, disembelih dan dagingnya dibagi-bagikan kepada fakir miksin di wilayah Haram. Adapun jika jima’ diakukan setelah tahallul awal, hajinya sah tetapi dikenakan denda seekor kambing yang dibagikan di daerah haram.

Judul buku : PANDUAN PRAKTIS HAJI & UMROH Dilengkapi 40 permasalahan penting

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
PANDUAN PRAKTIS HAJI & UMROH (Bag. 2 Memendekkan rambut) https://nidaulfithrah.com/panduan-praktis-haji-umroh-bag-2-memendekkan-rambut/ Fri, 21 Feb 2025 06:14:32 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19694 c. Memendekkan rambut.
Untuk haji tamattu’, bagi lelaki yang afdhol ketika umroh adalah dengan memendekkan rambut. Adapun mencukurnya dilakukan nanti pada saat haji. Adapun untuk wanita, dengan memendekkannya seukuran ruas jari. Setelah memendekkan rambut, selesailah pelaksanaan umroh, dan telah halal kembali seluruh yang diharamkan selama ihram. Berikutnya menunggu tanggal 8 Dzulhijjah.


Tanggal 8 Dzulhijjah
Pada tanggal 8 Dzulhijjah berihram untuk haji dari tempat manapun di dalam kota Makkah. Sebelum niat ihram, terlebih dahulu mandi dan memakai wewangian pada badan seperti kepala, ketiak dan jenggotnya (untuk lelaki) lalu memakai pakaian ihram dan berniat,

لبَّيكَ حَجًّا

Seusai niat ihram inilah, para jamaah haji mulai ber-talbiyah sebanyak-bayaknya. Kemudian menuju Mina. Shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh dilakukan di sana dengan di-qoshor tanpa jamak.


Tanggal 9 Dzhulhijjah
Ketika matahari terbit pada tanggal 9 Dzulhijjah, bertolak menuju ‘Arofah dan turun di Namiroh jika memungkinkan. Jika tidak, maka dilanjutkan sampai di Arofah dan wukuf di sana. Para jamaah melakukan shalat Zhuhur dan Ashar dengan jamak taqdim dan qoshor. Setelah itu mereka disibukkan dengan doa dan dzikir. Maksimalkanlah dalam berdoa dan dzikir hingga waktu Maghrib. Durasi dari Zhuhur ke Maghrib bukanlah waktu yang singkat, untuk itu harus disiapkan apa saja yang ingin dipanjatkan dalam berdoa sejak jauh-jauh hari bahkan sejak sebelum keberangkatan ke tanah suci. Adapun dzikir yang sangat diutamakan adalah membaca,

لا إله إلا الله وحده لا شريكَ له، له الملك، وله الحمد، وهو على كل شيءٍ قدير

Sebagaimana disebutkan dalam Hadits Amr bin Syua’ib dari ayahnya dari kakeknya bahwa Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda,

خير الدُّعاء دعاء يوم عرفة، وخير ما قلتُ أنا والنَّبيون من قبلي: لا إله إلا الله وحده لا شريكَ له، له الملك، وله الحمد، وهو على كل شيءٍ قدير (رواه الترمذى)

Sebaik-baik doa itu doa di hari Arafah. Dan sebaik-baik yang saya baca juga para Nabi sebelumku adalah: Laa ilaaha illa Allah wahdahu laa syariika lahu, lahu-l-mulku wa lahu-l-hamdu wa huwa ‘ala kulli syay-in qodiir” (HR. At-Tirmidzi)


Tanggal 10 Dzulhijjah
Ketika matahari sudah terbenam di hari Arofah, jamaah haji bertolak menuju Muzdalifah. Shalat Maghrib dan Isya dilakukan di Muzdalifah secara jamak dan qoshor. Dan, terus berada di sini hingga datang waktu Shubuh.
Setelah shalat Shubuh dan ufuk berwarna kuning dilanjutkan berangkat menuju Mina. Bagi yang kesulitan karena macet atau penuh sesak maka diperbolehkan meninggalkan Muzdalifah sebelum Shubuh. Disebutkan di dalam Hadits,

نَزَلْنَا المُزْدَلِفَةَ، فَاسْتَأْذَنَتِ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ سَوْدَةُ أنْ تَدْفَعَ قَبْلَ حَطْمَةِ النَّاسِ -وكَانَتِ امْرَأَةً بَطِيئَةً- فأذِنَ لَهَا، فَدَفَعَتْ قَبْلَ حَطْمَةِ النَّاسِ، وأَقَمْنَا حتَّى أصْبَحْنَا نَحْنُ، ثُمَّ دَفَعْنَا بدَفْعِهِ، فَلَأَنْ أكُونَ اسْتَأْذَنْتُ رَسولَ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كما اسْتَأْذَنَتْ سَوْدَةُ، أحَبُّ إلَيَّ مِن مَفْرُوحٍ بهِ (رواه البخارى عن عائشة)

Kami turun di Muzdalifah. Saudah meminta izin kepada Nabi shallahu’alaihi wasallam untuk bertolak (menuju Mina) sebelum padatnya manusia. Dia itu seorang wanita yang sudah lambat. Nabi mengizinkannya. Dia lalu bertolak sebelum padatnya manusia. Adapun kami menetap hingga pagi hari. Kami baru bertolak ketika beliau shallahu’alaihi wasallam bertolak. )Ketika melihat penuh sesaknya manusia) Jika saya meminta izin sebagaimana Saudah tentu lebih saya sukai dibandingkan bergembiranya dia dari berbagai sisi manapun (HR. Bukhari dari Aisyah)
Selanjutnya ke Mina. Begitu sampai langsung bersegera melempar jumroh ‘Aqobah terlebih dahulu dengan tujuh kerikil sebelum melakukan apapun. Setiap lontaran kerikil dibarengi dengan bacaan takbir. Berikutnya menyembelih hadyu lalu mencukur atau memendekkan rambut. Tetapi, mencukur lebih utama. Bagi wanita, memendekkan seluruh ujung rambutnya seukuran satu ruas jari. Dengan rangkaian ibadah ini berarti sudah TAHALLUL AWAL di mana perkara yang dilarang selama ihram telah diperbolehkan kecuali jima’.
MARI KITA BERHENTI SEJENAK UNTUK PENEGASAN MATERI !! Coba perhatikan ibadah apa saja yang dilakukan oleh jamaah haji pada tanggal 10 Dzulhijjah?
a. Melontar jumroh ‘Aqobah
b. Menyembelih hadyu
c. Mencukur atau memendekkan rambut
d. Thowaf
e. Sa’i
Demikianlah lima ibadah ini dilakukan secara berurutan. Tetapi jika tidak berurutan tidaklah mengapa. Ini kemudahan dari Allah ta’ala untuk para hamba-Nya. Misalnya:

#dari Muzdalifah ->ke Mekkah untuk thowaf dan sa’i -> lalu ke Mina untuk lontar jumrah. Ini tidak mengapa.

#dari Muzdalifah -> melontar jumroh -> mencukur -> menyembelih -> thowaf dan sa’i tidaklah mengapa.

#Dari Muzdalifah -> melontar jumroh -> menyembelih -> mencukur -> thowaf dan sa’i juga tidak mengapa.

Dari antara yang lima ini mana saja dilakukan terlebih dahulu tidaklah mengapa. Disebutkan di dalam Hadits,

النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَخْطُبُ يَومَ النَّحْرِ، فَقَامَ إلَيْهِ رَجُلٌ فَقَالَ: كُنْتُ أحْسِبُ أنَّ كَذَا قَبْلَ كَذَا، ثُمَّ قَامَ آخَرُ فَقَالَ: كُنْتُ أحْسِبُ أنَّ كَذَا قَبْلَ كَذَا، حَلَقْتُ قَبْلَ أنْ أنْحَرَ، نَحَرْتُ قَبْلَ أنْ أرْمِيَ، وأَشْبَاهَ ذلكَ، فَقَالَ النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: افْعَلْ ولَا حَرَجَ، لهنَّ كُلِّهِنَّ، فَما سُئِلَ يَومَئذٍ عن شيءٍ إلَّا قَالَ: افْعَلْ ولَا حَرَجَ (رواه البخارى ومسلم عن عبد الله بن عمرو)

Nabi shallahu’alaihi wasallam berkhutbah pada hari Nahr. Ada seseorang yang mendekati beliau dan bertanya: “Saya kira ini harus dilakukan sebelum ini”. Ada yang berdiri lagi dan berkata: Saya kira ini harus dilakukan sebelum ini”. “Saya telah cukur sebelum menyembelih”. “Saya telah meyembelih sebelum melontar” dan perkataan-perkataan lainnya. Beliau shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Lakukanlah keseluruhannya (mulai dari yang mana saja) tidak mengapa”. Tidaklah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya lagi melainkan pasti bersabda: “Lakukanlah tidak mengapa(HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah Ibnu Amr)
Rangkaian ibadah berikutnya adalah mabit di Mina di malam 11 dan 12. Bagi yang ingin melanjutkan hingga malam ke-13, maka itu lebih utama. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَاذْكُرُواْ اللّهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ فَمَن تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَن تَأَخَّرَ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ [البقرة:203]

“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. Barangsiapa yang ingin segera berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya, bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya” (QS. Al-Baqoroh: 203)

Judul buku : PANDUAN PRAKTIS HAJI & UMROH Dilengkapi 40 permasalahan penting

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>