#AsmaulHusna – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Fri, 13 Feb 2026 07:24:42 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png #AsmaulHusna – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 Nama Allah Al-Kabiir (الكَبِير) https://nidaulfithrah.com/nama-allah-al-kabiir/ Mon, 26 Jan 2026 23:28:00 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21298 A. Penyebutan Nama Allah Al-Kabiir (الكَبِير) di dalam Nash

Disebutkan di dalam Al-Qur’an sebanyak enam kali. Di antaranya:

عَٰلِمُ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ ٱلْكَبِيرُ ٱلْمُتَعَالِ (الرعد:9)

وَلَا تَنفَعُ ٱلشَّفَٰعَةُ عِندَهُۥٓ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُۥ ۚ حَتَّىٰٓ إِذَا فُزِّعَ عَن قُلُوبِهِمْ قَالُوا۟ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا۟ ٱلْحَقَّ ۖ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْكَبِيرُ (سبأ:23)

 ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ (الحج: ٢٦)

B. Makna Al-Kabiir (الكَبِير) Secara Bahasa

Al-Kabiir (الكَبِير) adalah isim fa’il dari fi’il kaburoyakburu (كَبُرَ-يَكْبُر) artinya yang besar, kebalikan shoghiir (صَغِير) dari fi’il shoghiro- yashghuru (صَغِرَ – يَصْغُرُ) artinya yang kecil.

C. Makna Al-Kabiir (الكَبِير) Sebagai Nama Allah

Imam Ibnu Jarir Ath-Thobari mengatakan: Al-Kabiir (الكَبِير) adalah Dzat yang segala apapun di hadapan-Nya sangatlah kecil. (Tambahan dari saya, Pen.) Tidak ada apa-apanya dan tidak ada nilainya sedikitpun [selesai].

Al-Ashfahani rahima hullah berkata yang kurang lebihnya berikut ini: Di antara nama Allah adalah Al-Kabiir (الكَبِير). Ia musytaq (bentukan) dari kibriyaa-u (كبرياء) artinya Dzat Yang Sombong. Siapapun tidak boleh bersifat sombong. Hanya Dia ta’ala saja yang bersifat dengan sifat ini. Maka, adalah haram jika seseorang merasa gumedhe di hadapan orang lain. Setiap orang tidak boleh ada pada dirinya kesombongan sedikitpun, dia harus tawadhu’ kepada siapapun. Barangsiapa yang tawadhu’ maka Allah ta’ala akan meninggikan derajatnya. Dia ta’ala berfirman, 

وَلَهُ الْكِبْرِيَاءُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ  (الجاثية: 37)

“Dan bagi-Nya-lah keagungan di langit dan bumi, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Al-Jatsiyah: 37) [selesai]

Kesombongan bagi Allah ta’ala adalah sifat terpuji. Karena Dia ta’ala semata yang berhak atas sifat ini. Bagi makhluk, kesombongan adalah sifat tercela karena siapapun selain Allah ta’ala tidak berhak menyandang sifat ini. Hal ini, tidak lain karena mereka diliputi berbagai sifat kurang, lemah, terbatas, dan lain-lainnya yang semakna. Untuk itu Dia ta’ala berfirman di dalam Hadits Qudsi, 

الكبرياءُ رِدائِي ، فمَنْ نازعَنِي في رِدائِي قَصَمْتُهُ (رواه أبو داود وابن ماجه وأحمد)

“Kesombongan adalah selendang-Ku, barangsiapa membantah-Ku tentang selendang-Ku, maka Aku akan menghancurkannya” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad dari Abu Hurairah)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahima hullah mengatakan: Al-Kabiir (الكَبِير), Dzat yang lebih besar dari apapun. Segala sesuatu itu di hadapan-Nya rendah dan hina [selesai].

Imam Asy-Syaukani rahima hullah mengatakan: Al-Kabiir (الكَبِير), Dzat Yang Maha Besar sehingga tidak ada yang menyamai-Nya, tidak membutuhkan kepada pasangan, anak dan perserikatan. Dia lah Pemilik kesombongan di dalam rububiyyah dan kerajaan-Nya [selesai].

D. Tadabbur 

1. Pemahaman terhadap makna nama Allah Al-Kabiir (الكَبِير), seorang hamba akan memenuhi hatinya dengan penghambaan dan ketaatan kepada Allah ta’ala.

2. Pemahaman terhadap makna nama Allah Al-Kabiir (الكَبِير) menghantarkan  seorang hamba untuk menguatkan ketundukan kepada haq (kebenaran) yang telah Allah jelaskan melalui lisan Rasul-Nya di dalam Al-Qur’an dan Hadits.

3. Pemahaman terhadap makna nama Allah Al-Kabiir (الكَبِير), menjadikan seorang hamba untuk tidak sekali-kali bersikap sombong, meremehkan orang lain. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda, 

 إنَّ اللهَ أوحى إليَّ أن تواضَعوا حتى لا يبغيَ أحدٌ على أحدٍ، ولا يفخرَ أحدٌ على أحدٍ (رواه البخارى ومسلم عن عياض بن حمار)

“Sesungguhnya Allah ta’ala menurunkan wahyu kepadaku agar kalian tawadhu’ hingga tidak ada seorangpun menzhalimi orang lain, dan tidak ada seorangpun yang sombong terhadap orang lain” (HR. Bukhari dan Muslim dari ‘Iyadh bin Himar)

Untuk poin 2 dan 3 Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda, 

الكِبْرُ بَطَرُ الحَقِّ، وغَمْطُ النَّاسِ (رواه مسلم عن ابن مسعود)

“Sombong itu menolak kebenaran dan meremehkan manusia” (HR. Muslim dari Ibnu Mas’ud)

4. Seorang hamba akan semakin takut dan malu jika tidak segera berbuat ketaatan terhadap perintah-Nya dan tunduk kepada hukum-hukum-Nya.

Yakin bahwa setiap orang yang sombong akan Allah ta’ala binasakan, sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an, 

a. di dunia

فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً أَوَلَمْ يَرَوْا أَن اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَكَانُوا بِآَيَاتِنَا يَجْحَدُونَ () فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا فِي أَيَّامٍ نَحِسَاتٍ لِنُذِيقَهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَعَذَابُ الْآَخِرَةِ أَخْزَى وَهُمْ لَا يُنْصَرُونَ (فصلت: ١٥، ١٦) 

“Adapun kaum ‘Ad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah Yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami () Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak menimpakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan Sesungguhnya siksa Akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan” (QS. Fushilat: 15-16)

b. di Akhirat

فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَفْسُقُونَ [الأحقاف: ٢٠]

“Maka pada hari ini kamu dibalasi dengan adzab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik” (QS. Al-Ahqof: 20)

Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda,

يُحشَرُ المتَكَبِّرونَ يومَ القيامةِ أمثالَ الذَّرِّ في صُوَرِ الرِّجالِ يغشاهمُ الذُّلُّ من كلِّ مَكانٍ ، يُساقونَ إلى سجنٍ في جَهَنَّمَ يسمَّى بولُسَ تعلوهُم نارُ الأَنْيارِ يُسقونَ من عُصارةِ أَهْلِ النَّارِ طينةَ الخبالِ (رواه الترمذى وأحمد عن عبدالله بن عمرو)

“Orang-orang sombong akan dikumpulkan pada Hari Kiamat seperti semut yang berwujud manusia. Kehinaan akan menyelimuti mereka dari segala penjuru. Mereka akan dijebloskan ke penjara di Neraka yang disebut Bolus. Api dari tumpukan kayu bakar yang menyala-nyala akan membumbung tinggi di atas mereka. Mereka akan diberi minum dari lumpur penghuni Neraka, lumpur kerusakan” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad dari Abdullah bin Amr)

6. Hadits di atas, kaum muslimin tidak akan menjadi lemah dan tertipu oleh kekuatan dan kekuasaan kaum kafirin karena mereka merasakan betapa Allah ta’ala di atas mereka dan akan menghancurkan mereka jika kaum muslimin mengambil sebab-sebab yang mendatangkan pertolongan Allah ta’ala tersebut.

7. Dzikir agung yang Allah ta’ala cintai dan Dia ta’ala mensyariatkannya di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya di antaranya adalah Takbir, yaitu “Allahu Akbar”. Bahkan kalau kita perhatikan dzikir ini dibaca di dalam berbagai banyak kesempatan. Di antaranya:

a. Perintah ber-takbir setelah ayat tentang puasa, sebagaimana firman-Nya, 

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (البقرة: ١٨٥)

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS. Al-Baqoroh: 185)

Yang dimaksud adalah takbiran pada malam idul fithri hingga selesai shalat ‘Id. 

b. Perintah ber-takbir setelah ayat tentang daging dan darah sembelihan nusuk haji. Sebagaimana firman-Nya,

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ [الحج: ٣٧].

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah atas hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Hajj: 37)

Ibnu Umar radiallahu anhu menjelaskan, ayat ini menunjukkan lafazh yang dibaca setelah basmalah ketika menyembelih adalah takbir, yaitu Allahu Akbar.

c. Allahu Akbar adalah lafazh awal yang   dibaca ketika memulai shalat dan sebagai tanda  diharamkannya ucapan apapun selain bacaan shalat. 

d. Lafazh yang dibaca pada setiap perpindahan gerakan di dalam shalat selain i’tidal

e. Lafazh yang diulang-ulanginya di awal dan akhir adzan.

f. Lafazh ini dibaca ketika sejajar dengan hajar aswad untuk memulai thowaf.

g. Dibaca ketika setiap kali memulai dzikir di bukit Shofa dan Marwah.

h. Ketika di atas kendaraan untuk safar.

i. Setiap kali berada di tempat yang tinggi dari permukaan bumi.

j. Ketika melontar jumroh.

k. Dikumandangkan sepanjang waktu di sepuluh hari pertama Dzulhijjah ditambah tiga hari tasyrik.

l. Bagian dari dzikir setelah shalat lima waktu.

m. Dibaca berbarengan dengan tasbih dan tahmid ketika hendak tidur.

n. Diteriakkan ketika di medan jihad.

o. Ketika berdecak kagum dengan terhadap fenomena-fenomena alam semesta yang mengagumkan

E. Perbedaan Antara Nama Allah Al-Kabiir (الكَبِير) dan Al-Mutakabbir (المُتَكَبّر)

Penjelasan mengenai nama Allah Al-Mutakabbir (المُتَكَبّر) sudah dibahas di jilid tujuh (7). Saya memandang tidak perlu mengulangi lagi di sini. 

Al-Kabiir (الكَبِير) dan Al-Mutakabbir (المُتَكَبّر) memiliki akar kata yang sama, yaitu ka-ba-ro (كبر). Perbedaan keduanya pada wazan-nya (bentuk kata);

a. Al-Kabiir (الكَبِير) ber-wazan al-fa’iil (الفَعِيل), bermakna Allah Maha Besar (terkait Dzat-Nya)

b. Al-Mutakabbir (المُتَكَبّر) ber-wazan al-mutafa’il (المُتَفَعِّل), bermakna Allah Menyombongkan diri kepada para hamba-Nya (terkait perbuatan-Nya)

Jadi, hanya Allah ta’ala saja yang diperbolehkan menyombongkan diri kepada para hamba-Nya karena Dia-lah Dzat yang Maha Besar. Adapun makhluk keseluruhannya kecil, maka haram bagi siapapun dari antara mereka untuk menyombongkan diri. Allah ta’ala berfirman di dalam Hadits Qudsi, 

الكبرياءُ رِدائِي ، فمَنْ نازعَنِي في رِدائِي قَصَمْتُهُ (رواه أبو داود وابن ماجه وأحمد عن أبى هريرة)

“Kesombongan adalah selendang-Ku, maka barangsiapa membantah-Ku tentang jubah-Ku, niscaya Aku akan menghancurkannya” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad dari Abu Hurairah)

Judul Buku: Memahami Al-Asma’ul Husna Jilid 12

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Nama Allah Dzul Jalaal wa-l-Ikrom (ذو الجلال والإكرام) https://nidaulfithrah.com/nama-allah-dzul-jalaal-wa-l-ikrom/ Mon, 26 Jan 2026 07:01:43 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21308 A. Penyebutan Dzul Jalaal wa-l-Ikrom (ذو الجلال والإكرام) di dalam Nash

Disebutkan di dalam Al-Qur’an, di antaranya:

وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو ٱلْجَلَٰلِ وَٱلْإِكْرَامِ (الرحمن: 27)

تَبَٰرَكَ ٱسْمُ رَبِّكَ ذِى ٱلْجَلَٰلِ وَٱلْإِكْرَامِ (الرحمن: 78)

B. Makna Dzul Jalaal wa-l-Ikrom (ذو الجلال والإكرام) Secara Bahasa

Jalal (جلال) itu mashdar dari Jalla – yajullu – Jalil (جَليلٌ) artinya yang besar. Sedangkan Ikrom (إكرام) itu mashdar dari akroma – yukrimu – mukrim (أكرم – يكرم – مكرم) artinya yang dimuliakan/diagungkan.

Al-Khuthobi rahima hullah mengatakan: ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ, artinya Allah Dzat Maha Besar yang berhak untuk diagungkan, ini perkara yang tidak diingkari.

Ibnu Jarir rahima hullah berkata: ذِي الْجَلَالِ artinya pemilik keagungan, وَالْإِكْرَامِ artinya dimuliakan oleh seluruh makhluk.

C. Makna Dzul Jalaal wa-l-Ikrom (ذو الجلال والإكرام) Sebagai Nama Allah

Makna dan penjelasannya serta tadabbur-nya sama dengan Al-Kabiir (الكَبِير). Perbedaannya dijelaskan berikut ini.

D. Perbedaan Antara Al-Kabiir (الكَبِير), Al-‘Azhim (العظيم), dan Al-Jaliil (الجليل)

Al-Jaliil (الجليل) bukan nama Allah ta’ala. Nama yang sesuai dengan nash sharih adalah Dzul Jalaal wa-l-Ikrom (ذو الجلال والإكرام). Al-Jaliil (الجليل) adalah makna darinya.

Perbedaan antara ketiganya adalah:

1. Al-Kabiir (الكَبِير): Allah Maha Besar terkait dengan Dzat-Nya.

2. Al-‘Azhim (العظيم): Allah Maha Besar terkait dengan Sifat-Nya.

3. Al-Jaliil (الجليل): Allah Maha Besar terkait Dzat dan Sifat-Nya.

Judul Buku: Memahami Al-Asma’ul Husna Jilid 12

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Nama Allah Al-‘Azhim (ٱلْعَظِيم) https://nidaulfithrah.com/nama-allah-al-azhim/ Sat, 24 Jan 2026 23:27:00 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21302 A. Penyebutan Nama Allah Al-‘Azhim (العظيم) di dalam Nash

Di dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak Sembilan (9) kali, di antaranya:

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ (البقرة: 255)

فَسَبِّحْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلْعَظِيمِ (الواقعة: 96)

لَهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۖ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ (الشورى: 4)

B. Makna Al-‘Azhim (العظيم) Secara Bahasa

Al-‘Azhim (العظيم) adalah isim fa’il dari ‘azhoma – ya’zhumu (عظم – يعظم) artinya besar, kebalikan dari ash-shoghir (الصَغِير) yang berarti kecil.

C. Makna Al-‘Azhim (العظيم) Sebagai Nama Allah

Maknanya sama dengan Al-Kabiir (الكبير). Perbedaan antara keduanya akan dibahas pada penjelasan nama Allah Dzul Jalaal wa-l-Ikrom (ذو الجلال والإكرام), insya Allah.

Judul Buku: Memahami Al-Asma’ul Husna Jilid 12

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Nama Allah Al-Lathiif (اللَّطِيفُ) Bagian 3 https://nidaulfithrah.com/nama-allah-al-lathiif-bagian-3/ Sat, 24 Jan 2026 16:25:56 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21290 11. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Anak sholeh dan hebat juga lahir dari orangtua yang sholeh dan hebat. Umar bin Abdul Aziz yang dikenal sebagai khulafau-r-Rasyidin kelima lahir dari bibit yang berbobot. Tidak ada yang mengetahui digiringnya Umar bin Khothob oleh Allah ta’ala untuk inspeksi di malam hari terhadap rakyatnya yang ketika itu mendapati gadis putri penjual susu sholihah yang kemudian dijadikan menantu, dinikahkan dengan putranya Ashim LALU LAHIRLAH Laila yang menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan lalu lahirlah MANUSIA HEBAT,  UMAR BIN ABDUL AZIZ. 

12. Di antara bentuk “Lathiif” nya Allah ta’ala Dia memberikan hamba-Nya rizki yang halal yang dirasakannya cukup karena qona’ah yang ditanamkan di dalam hatinya sehingga dia nyaman menjalani hidup dengan tetap melakukan peribadahan-peribadahan dengan semestinya. Sedikitpun tidak digelincirkan oleh iming-iming glamournya dunia yang menjerumuskan. Padahal duniawi itu sangat memikat, manis rasanya dan enak dipandang. Disebutkan di dalam Hadits, 

إنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وإنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كيفَ تَعْمَلُونَ (رواه مسلم علن أبى سعيد الخدرى)

“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan Allah ta’ala menempatkan kalian di dalamnya. Lalu Dia ta’ala melihat apa yang kalian perbuat” (HR. Muslim dari Abu Said Al-Khudri)

13. Di antara bentuk “Lathiif” nya Allah ta’ala adalah ketika Dia menetapkan pada hamba  bentuk ketaatan tinggi yang tidak bisa dilakukan kecuali dengan faktor-faktor pendukungnya, maka niscaya Dia ta’ala akan men-taqdir-kan faktor-faktor pendukung tersebut. Contoh: untuk mendakwahi raja zhalim dengan segala puncak kezhalimannya, Musa alaihissalam membutuhkan pendamping yang meguatkan. Maka, Allah ta’ala tetapkan Harun alaihissalam sebagai pendamping yang menguatkan. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

وَٱجْعَل لِّى وَزِيرًۭا مِّنْ أَهْلِى () هَـٰرُونَ أَخِى () ٱشْدُدْ بِهِۦٓ أَزْرِى () وَأَشْرِكْهُ فِىٓ أَمْرِى () كَىْ نُسَبِّحَكَ كَثِيرًۭا () وَنَذْكُرَكَ كَثِيرًا (طه:29-34)

“Jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku. Harun, saudaraku. Teguhkanlah kekuatanku dengan (adanya) dia. Dan libatkanlah dia dalam urusanku. Agar kami banyak bertasbih kepada-Mu. Dan, banyak mengingat-Mu” (QS. Thoha: 29-34)

Allah ta’ala mengabulkannya di dalam firman-Nya,

قَالَ قَدْ أُوتِيتَ سُؤْلَكَ يَٰمُوسَىٰ (طه:36)

“Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa” (QS. Thoha: 36)

Sebagaimana Allah ta’ala mejadikan Hawariyyun membantu dakwah Nabi Isa alaihissalam,

وَإِذْ أَوْحَيْتُ إِلَى ٱلْحَوَارِيِّۦنَ أَنْ ءَامِنُوا۟ بِى وَبِرَسُولِى قَالُوٓا۟ ءَامَنَّا وَٱشْهَدْ بِأَنَّنَا مُسْلِمُونَ (المائدة: 111)

“Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku”. Mereka menjawab: Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai Rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)”(QS. Al-Maidah: 111)

Menggerakkan hati manusia dan menjadikan hati mencintai adalah perkara di luar kemampuan manusia. Allah ta’ala berfirman, 

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًا مَّآ أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهُۥ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (الإنفال:63)

“Dan Dia ta’ala lah yang menyatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat menyatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah menyatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Al-Anfal: 63)

Jadi, semua itu tidak lain karena luthfu (kelembutan) Allah kepada hamba-Nya yang diberi tugas berat. Demikian juga sebagaimana Allah ta’ala berbuat dengan luthfu (kelembutan) -Nya kepada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

هُوَ ٱلَّذِىٓ أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِۦ وَبِٱلْمُؤْمِنِينَ (المائدة:62) 

“Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi Pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para kaum mukminin” (QS. Al-Maidah: 62)

Maa syaa-a Allah, mari kita lihat para Shahabat radiallahu anhu, melalui mereka Allah ta’ala kuatkan dakwah beliau shalallahu alaihi wasallam. Di antaranya, mereka yang sejak awal mendampingi beliau, dijadikan sebagai keluarga dekat sehingga circle-nya lebih kuat. 

a. Abu Bakar putrinya dinikahi Nabi shalallahu alaihi wasallam

b. Umar bin Khoththob putrinya dinikahi Nabi shalallahu alaihi wasallam

c. Utsaman bin ‘Affan dijadikan sebagai menantu beliau shalallahu alaihi wasallam

d. Ali bin abu Tholib dijadikan sebagai menantu beliau shalallahu alaihi wasallam.

Bagi bangsa Arab, ketika itu pernikahan adalah sarana yang sangat kuat di dalam menjalin hubungan. Maka, selain keempat orang di atas, Nabi menikahi para wanita yang melalui mereka dakwah semangat kuat. Misalnya:

e. Juwairiyah, putri pimpinan kaum Bani Mustholiq. Sejak dinikahi, kaumnya tidak lagi memusuhi kaum muslimin bahkan banyak dari mereka yang masuk Islam dan menjadi tentara di dalam banyak peperangan. 

f. Ramlah Ummu Habibah, putri Abu Sufyan sang dedengkot Quraisy yang sangat memusuhi Nabi shalallahu alaihi wasallam. Sejak putrinya dinikahi ia tidak lagi menunjukkan permusuhan bahkan akhirnya masuk Islam.

g. Shofiyah, wanita Yahudi putri Huyay pemimpin Yahudi Bani Nadhir. Sejak dinikahi oleh Nabi shalallahu alaihi wasallam, pahamlah manusia bahwa Islam datang bukan untuk mengangkat derajat kaum tertentu dengan merendahkan kaum lainnya. 

14. Di antara bentuk “Lathiif” nya Allah ta’ala adalah Dia ta’ala memberikan kepada hamba-Nya pasangan (suami/istri), anak, dan harta yang sangat mereka senangi dan cintai. Lalu, Allah ta’ala uji mereka dengan kematian, kekurangan, dan kebangkrutan yang menjadikan mereka sedih. Tetapi, Allah ganti semuanya dengan pahala yang besar dan derajat yang tinggi. Untuk itu, Nabi shalallahu alaihi wasallam mengajari kita doa, 

اللَّهُمَّ أْجُرْنِي في مُصِيبَتِي، وأَخْلِفْ لي خَيْرًا مِنْها

“Ya Allah! Berilah saya pahala atas musibah ini, dan gantilah untukku yang lebih baik darinya”

Sebagaimana disebutkan di dalam Hadits, Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda,

ما مِن مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ، فيَقولُ ما أمَرَهُ اللَّهُ: {إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ} [البقرة: 651]، اللَّهُمَّ أْجُرْنِي في مُصِيبَتِي، وأَخْلِفْ لي خَيْرًا مِنْها، إلَّا أخْلَفَ اللَّهُ له خَيْرًا مِنْها  (رواه مسلم عن أم سلمة)

“Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah lalu mengucapkan apa yang Allah ta’ala perintahkan yaitu: “Inna lillahi wa inna ilaihi wa ilaihi roji’un” (QS. Al-Baqoroh: 56) dan “Allumma’jurni fi mushibati wa akhlif lii khoiron minha” melainkan Allah ta’ala akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya” (HR. Muslim dari Ummu Salamah)

15. Di antara bentuk “Lathiif”-nya Allah ta’ala adalah ketika menguji hamba-Nya dengan musibah-musibah, Dia ta’ala memberinya taufiq untuk bersikap sabar dimana balasannya yang berupa pahala besar dan derajat tinggi jauh melampaui kadar ujiannya. Contoh Nabi Ayyub alaihissalam. Ujian musibahnya sangat besar, tetapi dengan luthfu (kelembutan) -Nya beliau merasakan di dalam hatinya manisnya ruh roja’ (harapan), kuatnya harapan rahmat, dan gigihnya permohonan kesembuhan dan besarnya pahala maka beban berat sakitnya dirasakannya ringan dan jiwanya tetap semangat.

16. Di antara bentuk “Lathiif”-nya Allah ta’ala, Dia ta’ala memberikan ujian kepada hamba-Nya sesuai dengan kadar iman-nya. Jika imannya kuat maka ujiannya besar, sebaliknya jika imannya tipis maka ujiannya pun tidak besar. Disebutkan di dalam Hadits, 

سُئِلَ رسولُ اللهِ أيُّ الناسِ أشدُّ بلاءً قال الأنبياءُ ثم الأمثلُ فالأمثلُ يُبتَلى الناسُ على قدرِ دِينِهم فمن ثَخنَ دِينُه اشتدَّ بلاؤه ومن ضعُف دِينُه ضعُفَ بلاؤه وإنَّ الرجلَ لَيصيبُه البلاءُ حتى يمشيَ في الناسِ ما عليه خطيئةٌ (رواه الترمذى عن سعد بن أبى وقاص)

“Rasulullah shalallahu alaihi wasallam ditanya, siapakah manusia yang berat ujiannya? Beliau menjawab: Para Nabi kemudian yang semisal dan yang semisalnya. Manusia diuji sesuai kadar agamanya. Barangsiapa yang agamanya kuat maka ujiannya berat, dan barangsiapa yang agamanya lemah maka lemah pula ujiannya. Dan, seseorang senantiasa akan diberi ujian hingga dia berjalan di tengah-tengah manusia tanpa adanya dosa” (HR. At-Tirmidzi dari Sa’ad bin Abi Waqosh)

17. Di antara bentuk “Lathiif”-nya Allah ta’ala dijadikannya manusia menemukan cara atau strategi atau rumusan yang lebih mudah dan lebih sederhana di dalam meraih kemaslahatannya. Contoh: Dahulu, anak-anak baru bisa baca Al-Qur’an ketika duduk di kelas lima SD. Sekarang dengan ditemukannya metode tertentu anak-anak TK banyak yang sudah bisa membaca Al-Qur’an.

Contoh lain, Alhamdulillah dengan taufiq-Nya saya menulis buku “Belajar Ilmu Waris Praktis”. Bermula dari perbincangan dengan beberapa orang. Mereka mengeluhkan susahnya belajar ilmu faroidh, sulit, mbulet, rumit, dan…. dan… dan…. Ada yang mengatakan bahwa dirinya aktif mengikuti kajian faraidh sepekan sekali, tetapi tidak paham sama sekali. Dia menuturkan dirinya tetap hadir hanya semata-mata untuk  mendapatkan fadhilah dari bermajlis ilmu saja.  Akhirnya saya mencoba mengingat-ingat pelajaran dengan metode bagan yang pernah diajarkan oleh guru saya. Kemudian saya mulai menulis. Dan, alhamdulillah metode bagan ini cukup bisa membantu ummat dalam mempelajari ilmu faroidh.

18. Ketika kita memahami nama Allah Al-Lathiif (اللَّطِيفُ) yang makna-maknanya menunjukkan betapa Dia sangat memperhatikan kemaslahatan hamba-hamba-Nya, bahkan demi kemaslahatan ini mereka dikondisikan dari satu tahapan ke tahapan berikutnya tanpa mereka menyadarinya. Hal ini harus meningkatkan pada diri hamba rasa cinta kepada-Nya setinggi-tingginya.

19. Ketika makna Al-Lathiif (اللَّطِيفُ) yang diantaranya adalah Allah ta’ala menggiring hamba kepada kemaslahatan yang diinginkannya tanpa hamba menyadarinya akan menjadikan hati semakin tenang sehingga kegundahan hati mudah sekali disingkirkan. Untuk itu, jika Anda menghadapi kondisi banyak kebuntuan dan peralihan dari satu benturan ke benturan yang lainnya segera sadarilah bahwa siapa tahu ini bagian dari skenario Allah ta’ala di dalam menghantarkan Anda kepada suatu solusi yang lebih kuat dan kokoh. 

20. Ketika makna Al-Lathiif (اللَّطِيفُ) sering dihadirkan di dalam hati, akan menguat pada diri seorang hamba kadar tawakkal kepada Allah ta’ala. 

21. Ketika makna Al-Lathiif (اللَّطِيفُ) yang diantaranya betapa Ilmu Allah meliput segala sesuatu sampai pada hal yang sangat lembut, sangat samar, dan sangat tersembunyi akan menjadikan hamba menjalani hidup semakin lebih hati-hati baik terkait perkataan ataupun tindak-tanduk. Seorang hamba betul-betul akan terpatri pada dirinya konsekwensi makna ayat 16 surat Lukman, 

يَٰبُنَىَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِى صَخْرَةٍ أَوْ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوْ فِى ٱلْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا ٱللَّهُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ (لقمان: 16)

“(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui” (QS. Lukman: 16)

Sungguh hamba menyadari betapa tidak ada apapun yang terluput dari-Nya, biji sawi saja sesuatu yang sangat kecil di dalam batu lagi tidak luput dari-Nya apa lagi perkara lain yang lebih besar. Hal ini menjadikan hamba banyak me-muhasabah diri dan semakin lebih berhati-hati. Allah ta’ala berfirman, 

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلْخَبِيرُ (الملك:14)

“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Lembut lagi Maha Mengetahui?” (QS. Al-Mulk: 14)

Judul Buku: Memahami Al-Asma’ul Husna Jilid 12

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Nama Allah Al-Lathiif (اللَّطِيفُ) Bagian 2 https://nidaulfithrah.com/nama-allah-al-lathiif-bagian-2/ Wed, 21 Jan 2026 09:09:46 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21287 3. antara bentuk “Lathiif” nya Allah ta’ala adalah Dia menghendaki kemaslahatan makhluk-Nya di dunia, maka Dia pun menetapkan perkara-perkara kebaikan dan kemudahan bagi mereka. Allah ta’ala berfirman:

يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ (البقرة: 185)

“Allah menghendaki bagi kalian kemudahan dan tidak menghendaki bagi kalian kesukaran” (QS. Al-Baqoroh: 185)

4. Di antara bentuk “Lathiif” nya Allah ta’ala adalah Dia menggiring untuk mereka rizki dan apa yang merupakan hajat juga kedudukan mereka tanpa mereka menyadarinya. Allah ta’ala berfirman, 

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا() وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ (الطلاق: 2-3)

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia menjadikan baginya jalan keluar. Dan, memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka” (QS. Ath-Tholaq: 2-3)

a. Nabi Yusuf alaihissalam tidak menyadari dirinya sedang digiring dengan suatu proses tertentu oleh Allah ta’ala untuk mencapai kedudukan tinggi di kerajaan Mesir. Dari awal dia alaihissalam sudah diperlihatkan mimpi yang mengisyaratkan akan kemuliaannya, tetapi proses dan tahapannya dia sama sekali tidak mengetahui kalau dia sedang digiring menuju isyarat tersebut. Setelah dikeluarkan dari penjara, dan bertemu dengan ayah, ibu, dan saudara-saudaranya dia langsung menyebut Allah ta’ala sebagai Al-Lathiif (اللَّطِيفُ), 

وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى ٱلْعَرْشِ وَخَرُّوا۟ لَهُۥ سُجَّدًا ۖ وَقَالَ يَٰٓأَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُءْيَٰىَ مِن قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّى حَقًّا ۖ وَقَدْ أَحْسَنَ بِىٓ إِذْ أَخْرَجَنِى مِنَ ٱلسِّجْنِ وَجَآءَ بِكُم مِّنَ ٱلْبَدْوِ مِنۢ بَعْدِ أَن نَّزَغَ ٱلشَّيْطَٰنُ بَيْنِى وَبَيْنَ إِخْوَتِىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى لَطِيفٌ لِّمَا يَشَآءُ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْحَكِيمُ (يوسف:100)

Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkatalah Yusuf: “Wahai ayahku inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku اللَّطِيفُ (Maha Lembut) terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. Yusuf: 100)

b. Nabi Musa alaihissalam sewaktu masih bayi Allah ta’ala pertintahkan agar ditaruh di peti lalu diarungkan di sungai. Ibunya tidak pernah mengetahui bagaimana Allah ta’ala menggiringnya untuk bisa disusui oleh ibunya kembali. Dan, tidak ada yang memperkirakan bahwa Musa Allah ta’ala giring ke tengah-tengah istana untuk dirawat dan dipelihara dengan sebaik-baiknya oleh Fir’aun padahal dia alaihissalam akan menjadi musuhnya dan menghancurkan kerajaannya, petaka besar yang selama itu dia khawatirkan sehingga membunuhi setiap bayi lelaki yang lahir. Allahu Akbar, betapa Allah Al-Lathiif (اللَّطِيفُ). Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

أَنِ ٱقْذِفِيهِ فِى ٱلتَّابُوتِ فَٱقْذِفِيهِ فِى ٱلْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ ٱلْيَمُّ بِٱلسَّاحِلِ يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِّى وَعَدُوٌّ لَّهُۥ ۚ وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِّنِّى وَلِتُصْنَعَ عَلَىٰ عَيْنِىٓ () إِذْ تَمْشِىٓ أُخْتُكَ فَتَقُولُ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ مَن يَكْفُلُهُۥ ۖ فَرَجَعْنَٰكَ إِلَىٰٓ أُمِّكَ كَىْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ ۚ وَقَتَلْتَ نَفْسًا فَنَجَّيْنَٰكَ مِنَ ٱلْغَمِّ وَفَتَنَّٰكَ فُتُونًا ۚ فَلَبِثْتَ سِنِينَ فِىٓ أَهْلِ مَدْيَنَ ثُمَّ جِئْتَ عَلَىٰ قَدَرٍ يَٰمُوسَىٰ (طه: 39-40)

“Letakkanlah ia (Musa) didalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir’aun) musuh-Ku dan musuhnya. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku. (yaitu) ketika saudara perempuanmu berjalan, lalu ia berkata kepada (keluarga Fir’aun): “Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?” Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita. Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu Kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan; maka kamu tinggal beberapa tahun diantara penduduk Madyan, kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan hai Musa” (QS. Thoha: 39-40)

c. Sekitar tahun 2000-2003 saya berada di Jakarta. Saya suka mengunjungi Islamic Book Fair yang biasanya diadakan di JCC Senayan Jakarta. Setiap kali berkunjung, perhatian saya tertuju pada buku-buku saku. Allahu Akbar, semua buku saku di setiap stand bisa dikatakan ludes terjual habis. Saya dengan teman-teman saling berkomentar, “Maa syaa-a Allah, betapa beruntung penulisnya, pahala mengalir….”. Saya sendiri bergumam di dalam hati, “Ya Allah, sekiranya saya berkesempatan banyak menulis buku saku”. 

Tahun 2004, Allah ta’ala mentaqdirkan saya untuk tinggal di Surabaya. Bahkan sekarang sudah ber-KTP Surabaya. Sungguh, tidak pernah terbersit di dalam hati untuk menjadi warga Surabaya. Rupanya inilah jalan yang Allah ta’ala menggiring saya untuk banyak menulis buku saku. Tepatnya mulai tahun 2012 ketika mendapatkan amanah menjadi mudir YNF. 

Juga, dulu saya sering mengikuti kajian tafsir. Bersamaan dengan itu, sering juga terbersit di dalam hati, “Ya Allah, sungguh nikmat sekali hafal al-Qur’an sekaligus mengerti tafsirnya dan mengajarkannya, sekiranya saya bisa seperti itu”. Allahu Akbar! Rupanya Allah ta’ala kabulkan dengan menggiringku di Surabaya ini. Saya berkesempatan mengajarkan tafsir di beberapa majlis taklim. Sungguh, tidak pernah saya perkirakan sebelumnya. Ya Allah Engkau lah Al-Lathiif.

d. Ketika melewati RS. dr. Soetomo, sempat bergumam di dalam hati. Maa syaa-Allah rumah sakit besar sekali sudut-sudutnya melewati empat perempatan. “Ya Allah, mungkinkah dakwah sunnah masuk ke dalam rumah sakit ini”. 

Beberapa lama kemudian, saya mendapatkan undangan untuk mengisi kajian wali murid SD Al-Azhar. Nah, di antara yang hadir ada seorang Bapak yang istrinya seorang dokter dan berpraktek di RS. dr. Soetomo. Suatu ketika Ibu dokter tersebut datang ke Pesma THAYBAH tempat saya tinggal untuk konsultasi banyak hal tentang agama. Kemudian saya diminta untuk mengisi kajian di rumah sakit tersebut,  dan alhamdulillah masih terus berlangsung sampai sekarang. Bahkan melebar ke bidang-bidang lainnya. Selain Ongyn, juga BTKV, anestesi, paru, urologi dan lain-lain. Ya Allah innaka Anta Al-Lathiif.

5. Kalau untuk urusan dunia Allah ta’ala sedemikan rupa memperhatikan hamba-Nya sampai dikondisikannya pada suatu kemaslahatan tanpa dia menyadari, lalu bagaimanakah dengan kemaslahatan di Akherat nanti, tentu Dia akan banyak menghapus dosa-dosa dan melipatgandakan pahala. Disebutkan di dalam Al-Qur’an, 

 مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا (لأنعام: 160)

“Barangsiapa berbuat kebaikan maka baginya (pahala) sepuluh kali lipatnya” (QS. Al-An’am)

Disebutkan di dalam Hadits Ibnu Umar radiallahu anhuma

أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: إن الله يدْني المؤمن، فيضع عليه كنَفَه ويستره، فيقول: أتعرف ذنب كذا؟ أتعرف ذنب كذا؟ فيقول: نعم، أي رب، حتى إذا قرَّره بذنوبه، ورأى في نفسه أنه هلك، قال: سترتُها عليك في الدنيا، وأنا أغفرها لك اليوم، فيُعطى كتابَ حسناته، وأما الكافر والمنافق، فيقول الأشهاد هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ  (هود: 81).

“Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda; Allah mendekatkan orang mukmin, menutupinya, dan menyembunyikannya, lalu berfirman: Tahukah kamu dosa ini dan itu? Tahukah kamu dosa ini dan itu? Ia akan menjawab: Iya, wahai Tuhanku. Kemudian, ketika Dia telah membuatnya mengakui dosa-dosanya dan ia melihat pada dirinya sebagai orang yang binasa, Dia berfirman: Aku telah menutupinya darimu di dunia ini, dan Aku mengampuni dosa-dosamu hari ini. Kemudian ia akan diberikan kitab amal sholehnya. Adapun orang-orang kafir dan munafik, para saksi akan berkata: “Mereka adalah orang-orang yang berdusta terhadap Tuhan mereka. Sesungguhnya laknat Allah atas orang-orang yang zholim.[Hud: 18].

6. Di antara bentuk “Lathiif”-nya Allah ta’ala adalah Dia menciptakan janin di dalam perut ibunya di dalam tiga kegelapan; kegelapan perut, kegelapan dinding rahim  dan kegelapan selaput ketuban. Dia mengalami beberapa fase; nuthfah kemudian segumpal darah, segumpal daging dan dibungkusnya tulang dengan daging. Dikondisikannya demikian, tidak lain untuk menjaga keberadaannya. Dia berfirman, 

ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ  (المؤمنون: 14)

“Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain, Maha Suci Allah sebaik-baiknya Pencipta” (QS. Al-Mu’minun: 14)

7. Di antara bentuk “Lathiif” nya Allah ta’ala adalah Dia menahan bagi hamba-Nya setiap sebab yang bisa membinasakannya. Dia ta’ala menjadikan sebab yang menghalangi antara hamba dan kemaksiatan. Allah ta’ala mengetahui bahwa duniawi, harta dan kekuasaan adalah hal-hal yang manusia berlomba-lomba untuk meraihnya, maka Allah ta’ala memutuskan keterikatan dengannya yang secara membabi buta, dan mengkondisikan hamba-Nya untuk senantiasa melakukan penghambaan diri kepada-Nya. Untuk itu Dia ta’ala tetapkan kadar rizki bagi mereka secara proporsional, tidak digelontorkan tanpa batasan. Karena hal itu bisa membinasakan. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

وَلَوْ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزْقَ لِعِبَادِهِۦ لَبَغَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَآءُ ۚ إِنَّهُۥ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرٌۢ بَصِيرٌ(الشورى:27)

Dan jikalau Allah melapangkan rizki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat (QS. Asy-Syuro: 27).

8. Di antara bentuk “Lathiif” nya Allah ta’ala adalah Dia memerintahkan ibadah-ibadah sosial (ibadah yang terkait dengan hablun mina-n-nas) kepada para hamba-Nya. Dengan ibadah-ibadah sosial tersebut akan semakin menguatkan eksistensi mereka dan  akan melahirkan sense of competity dalam kebaikan yang biasa disebut dengan fas tabiqul khoirot.

9. Di antara bentuk “Lathiif” nya Allah ta’ala adalah Dia memberikan ujian-ujian kepada para hamba-Nya untuk meninggikan derajat mereka dan menggiringnya kepada kesempurnaan, tetapi bisa jadi hamba tidak menyadarinya. Dia ta’ala berfirman, 

كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia sangat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia sangat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

10. Di antara bentuk “Lathiif” nya Allah ta’ala adalah Dia mengkondisikan hamba- hamba-Nya yang dikehendaki menjadi Nabi dimana tugasnya sangatlah berat, yaitu “ngemong” ummat dengan pembiasaan karakter-karakter kesabaran dan mujahadah. Mareka pun dari awal telah dikondisikan untuk “angon” kambing.

Bermula dari “angon” kambing yang membentuk karakter kesabaran dan mujahadah lalu diangkat menjadi Nabi dengan tugas “ngemong” ummat yang sungguh sangat membutuhkan kesabaran dan mujahadah. Disebutkan di dalam Hadits,

ما بعثَ اللَّهُ نبيًّا إلَّا راعيَ غنَمٍ، قالَ لَهُ أصحابُهُ: وأنتَ يا رسولَ اللَّهِ؟ قالَ: وأَنا كُنتُ أرعاها لأَهْلِ مَكَّةَ بالقَراريط قالَ سُوَيْدٌ: يعني كلَّ شاةٍ بقيراطٍ

(رواه البخارى عن أبى هريرة)

“Allah tidak mengutus seorang Nabi kecuali ia adalah seorang penggembala domba. Para Sahabat bertanya kepadanya, “Dan engkau, wahai Rasulullah?” Ia menjawab, “Aku juga. Dulu aku menggembalakan domba-domba milik penduduk Mekah dengan satu qirat.” Suwayd berkata, “Yang ia maksud setiap domba dengan imbalan satu qirat.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah)

Satu qiroth adalah nominal tertentu dari dinar atau dirham. 

Judul Buku: Memahami Al-Asma’ul Husna Jilid 12

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Nama Allah Al-Lathiif (اللَّطِيفُ) Bagian 1 https://nidaulfithrah.com/nama-allah-al-lathiif/ Tue, 20 Jan 2026 09:09:53 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21275 A. Penyebutan di dalam Nash

Disebutkan di dalam Al-Qur’an sebanyak tujuh kali. Kebanyakan penyebutannya dibarengkan dengan nama Allah Al-Khobir (الْخَبِيرُ) dan selebihnya disebutkan secara sendirian. Di antaranya;

 لا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ  [الأنعام: 103]

 أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ  (الملك: 14)

 إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ  [يوسف: 100]

 اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ  (الشورى: 19)

B. Makna Al-Lathiif (اللَّطِيفُ) Secara Bahasa

”اللَّطِيفُ” adalah isim fa’il dari ”لطف”. Ia berkisar antara dua makna:

a. Huruf tho’ di-fathah (لطَف) artinya: kebaikan, kehangatan, memuliakan, penuh kelembutan untuk meraih sesuatu yang diharapkan. Ia fi’il muta’addi (kata kerja transitif) sebagaimana firman Allah ta’ala

اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ (الشورى: 19).

b. Huruf tho’ di-dhommah (لطُف) artinya tersembunyi. Dia bukan muta’addi. Ia tidak di-idhofah-kan kepada Allah ta’ala kecuali dengan lafazh yang dikaitkan. Disini Al-Lathiif (اللَّطِيفُ) bermakna pengetahuan-Nya lembut yang mencakup segala hal yang lembut dan samar. Sebagaimana disebutkan di dalam al-Qur’an, 

يَٰبُنَىَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِى صَخْرَةٍ أَوْ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوْ فِى ٱلْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا ٱللَّهُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ (لقمان: 16)

“(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui” (QS. Luqman: 16).

C. Makna Al-Lathiif (اللَّطِيفُ) Sebagai Nama Allah ta’ala

Al-Khuthobi berkata: Al-Lathiif (اللَّطِيفُ) Dzat Yang Berbuat baik kepada hamba-Nya di mana mereka tidak menyadarinya, Dia membuat sebab untuk kemaslahatan-kemaslahatan mereka di mana mereka tidak menyadarinya. Allah ta’ala berfriman, 

اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ (الشورى: 19).

“Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada siapa yang di kehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa” (QS. Asy-Syuro: 19)

Asy-Syaukani berkata tentang firman Allah ta’ala

إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ  (يوسف: 100)

“Sesungguhnya Tuhanku itu Lathiif” (QS. Yusuf: 100)

Maksudnya Allah itu Maha lembut, maka tidak tersembunyi bagi-Nya apapun yang samar. Bahkan ilmu-Nya meliputi semua perkara yang samar.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menggabungkan antara dua pengertian, dia mengatakan;

a. Al-Lathiif  (اللَّطِيفُ), Dzat Yang lembut ilmu-Nya sehingga Dia mengetahui semua rahasia, perkara yang tersembunyi dan yang ghoib. Disebutkan di dalam al-Qur’an, 

فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى (طه: 7)

“Maka sesungguhnya Dia mengetahui yang rahasia dan tersembunyi” (QS. Thoha: 7)

b. Al-Lathiif (اللَّطِيفُ), Dia Maha lembut kepada hamba dan wali-Nya, maka Dia menggiring kebaikan dan kebajikan kepadanya tanpa dia menyadarinya. Dia ta’ala menjaganya dari keburukan tanpa dia memperkirakannya. Dia ta’ala menaikannya ke derajat yang lebih tinggi dengan sebab-sebab yang tidak terpikirkan oleh hamba bahkan dia merasakannya sebagai hal yang tidak disukainya padahal dengannya dia sedang berproses untuk meraih perkara tinggi yang diidam-idamkan dan kedudukan yang mulia [selesai].

D. Tadabbur

1. Tidak ada apapun yang terlewatkan, tidak ada apapun yang tidak diketahuinya meskipun sangat lembut, sangat kecil, sangat tersembunyi atau di tempat yang sangat dalam. Dia ta’ala berfirman, 

 وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ  (الأنعام: 59)

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidaklah sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (QS. Al-An’am: 59)

Disebutkan juga di dalam Al-Qur’an, 

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ (لقمان: 16)

“(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui” (QS. Luqman: 16).

“ خَرْدَلٍ” artinya biji berukuran sangat kecil yang tidak bisa ditimbang. Jika ia berada di tengah padang pasir di dalam bumi atau di langit, niscaya Allah ta’ala mengetahuinya. Dia lah Al-Lathiif  (اللَّطِيفُ). Ini terkait dengan benda-benda pergerakan dan diamnya. Adapun terkait dengan burung, hewan-hewan dan seluruh makhluk, disebutkan di dalam Al-Qur’an, 

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ (الأنعام: 38)

“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami lewatkan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dikumpulkan” (QS. Al-An’am: 38)

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ  (هود: 6)

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat tinggal binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)” (QS. Hud: 6)

Jika demikian ilmu-Nya terhadap benda-benda dan burung lalu bagaimana terhadap makhluk yang mukallaf (mendapatkan tugas syariat) yaitu jin dan manusia di mana tidaklah mereka diciptakan melainkan untuk ibadah. Disebutkan di dalam Al-Qur’an, 

 يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ (غافر: 19)

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati” (QS. Ghofir: 19)

وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَلَا أَصْغَرَ مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْبَرَ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ  (يونس: 61)

“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (QS. Yunus: 61)

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ () الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ () وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ () إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (الشعراء: 217 – 220)

“Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang). Dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Asy-Syu’ara: 217-220)

Disebutkan di dalam Hadits Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya dari Hadits Abu Hurairah bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda di dalam Hadits Jibril, 

أن تعبد الله كأنك تراه، فإنك إن لم تكن تراه، فإنه يراك

“Anda menyembah Allah seakan-akan Anda melihat-Nya, jika Anda tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihat Anda”

2. Ketika seorang hamba mengetahui Allah ta’ala bersifat dengan ilmu-Nya yang lembut dan peliputan-Nya terhadap segala apapun baik yang kecil ataupun besar, niscaya dia akan me-muhasabah dirinya; perkataan, perbuatan, pergerakan dan diamnya. Dia menyadari sepenuhnya bahwa Allah ta’ala akan membalas keseluruhannya, di mana orang baik tidak akan disia-siakan kebaikannya meskipun sebesar biji sawi. Demikian juga orang buruk tidak akan disia-siakan keburukannya meskipun sebesar biji sawi. Disebutkan di dalam Al-Qur’an, 

 فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ  ()  وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ  (الزلزلة: 7-8)

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS-Az-Zalzalah: 7 – 8)

وَوُضِعَ ٱلْكِتَٰبُ فَتَرَى ٱلْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَٰوَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلْكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحْصَىٰهَا ۚ وَوَجَدُوا۟ مَا عَمِلُوا۟ حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا[الكهف: 49]، 

Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat para pendosa ketakutan terhadap apa yang (tercatat) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tercatat). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorangpun” (QS. Al-Kahfi: 49).

وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا  [طه: 112]

“Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya” (QS. Thoha: 112)

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ  (الأنبياء: 47)

“Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang sholeh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya” (QS. Al-Anbiya’: 47)

Judul Buku: Memahami Al-Asma’ul Husna Jilid 12

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Nama Allah Al-Mujiib (المُجِيْب) https://nidaulfithrah.com/nama-allah-al-mujiib/ Fri, 16 Jan 2026 03:42:42 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21250 A. Penyebutan Nama Allah Al-Mujiib (المُجِيْب) di dalam Nash

Nama Allah Al-Mujiib (المُجِيْب) di dalam Al-Qur’an disebutkan hanya sekali,

فَٱسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّى قَرِيبٌ مُّجِيبٌ (هود:16)

Ada satu ayat yang menyebutkannya dalam bentuk jama’ atau plural,

وَلَقَدْ نَادَىٰنَا نُوحٌ فَلَنِعْمَ ٱلْمُجِيبُونَ (الصفات:75)

Disebutkan di dalam “Al-Lisan”: Al-Mujiib (المُجِيْب) itu isim fa’il dari ajaaba yujiibu (أجاب – يجيب)  artinya memberikan jawaban atau merespon atau memenuhi. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (البقرة: 186)

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al-Baqarah: 186)

B. Makna Al-Mujiib (المُجِيْب) Sebagai Nama Allah

Disebutkan di dalam “Al-Lisan”: Berkaitan dengan Asmau -l- Husna, maka Makna Al-Mujiib (المُجِيْب) adalah Dzat Yang mengabulkan, merespon, atau memenuhi doa dan permintaan dengan pemberian.

Az-Zajaji rahima hullah mengatakan: Al-Mujiib (المُجِيْب) maksudnya Allah ta’ala menjawab atau merespon atau mengabulkan atau memenuhi doa para hamba-Nya ketika mereka berdoa. Allah ta’ala berfirman,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (البقرة: 186)

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al-Baqarah: 186)

Abu Sulaiman al-Khithobi mengatakan: Dia ta’ala mengabulkan atau memenuhi atau meng-ijabah-i mudhthor (orang yang kepepet) ketika berdoa dan malhuf (orang yang gundah) ketika menyeru.

Ibnul Qoyyim rahima hullah menuturkan di dalam bait-bait syairnya,

وهو المجيب يقول من يدعو أجيبه

أنا المجيب لكل من ناداني

وهو المجيب لدعوة الممضطر إذ

يدعوه فى سر وإعلانه

Dia Al-Mujiibu berfirman siapa yang berdoa Aku memenuhinya

Aku Al-Mujiib bagi setiap yang menyeru-Ku

Dia lah Al-Mujiib terhadap doa orang yang kepepet

Ketika berdoa kepada-Nya secara rahasia ataupun terang-terangan

Syaikh As-Sa’di mengatakan: Termasuk nama Allah ta’ala Al-Mujiib (المُجِيْب). Dia mengabulkan doa orang yang berdoa dan permintaan orang yang meminta dan hamba-hamba yang taat. Ijabah (dikabulnya) doa di sisi Allah ta’ala ada dua macam:

a. Ijabah ‘ammah (terkabulnya doa yang bersifat umum). Ini bagi siapapun yang berdoa, baik doa ibadah ataupuan doa mas-alah. Contoh doa mas-alah: ‘Ya Allah! Jauhkanlah kami dari ini dan ini….. Ini berlaku untuk orang baik dan orang buruk. Allah ta’ala mengabulkan doa semua mereka sesuai dengan keadaan yang melaziminya dan sesuai dengan hikmah-Nya. Ini menunjukkan Maha Pemurah-Nya dan mencakupnya kebaikan-Nya kepada siapapun secara umum. Kepada orang baik ataupun orang jahat. Ketika orang jahat di-ijabah-i bukan berarti menunjukkan ihwalnya itu baik dan benar sebagaimana para Nabi dan para wali ketika berdoa. Di-ijabah-i nya mereka (para Nabi dan Wali) sudah barang tentu menunjukkan ihwalnya yang baik dan benar. Jadi tegasnya di-ijabah-i nya orang buruk tidak lain sesuai dengan keadaan yang melaziminya dan Hikmah-Nya. Dia lah Dzat yang Al-Hakiim (Dzat Yang Maha Hikmah). 

b. Ijabah khusus. Di sini ada sebab-sebab khusus. Diantaranya:

a. doa mudhthor (orang yang “kepepet”)  di mana dia dalam keadaan yang sulit dan terdesak. Allah ta’ala mengabulkan doanya. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

أَمَّن يُجِيبُ ٱلْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَآءَ ٱلْأَرْضِ ۗ أَءِلَٰهٌ مَّعَ ٱللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ (النمل: 62)

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)” (QS.An-Naml:62).

Di-ijabah-i nya doa mudhthor disebabkan saking butuh dan konsentrasinya seseorang kepada Allah ta’ala, kuatnya kerendahan hati dan terputusnya ketergantungan kepada siapapun selain Allah ta’ala. Juga karena luasnya rahmat-Nya. Kepada hamba yang tidak mudhthor saja di-ijabah-i lalu bagaimana terhadap yang mudhthor.

b. Jauhnya safar seseorang. Disebutkan di dalam Hadits, 

عن أبي هريرة قال: قال: رسول الله ﷺ: ثلاث دعوات مستجابات، لا شك فيهن: دعوة المظلوم، ودعوة المسافر، ودعوة الوالد على ولده (رواه أبو داود والترمذي) 

“Dari Abu Hurairah radiallahu anhu, dia berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Ada tiga doa mustajab, tidak diragukan lagi padanya. Yaitu: doanya orang yang dizhalimi, doanya musafir, dan doa orang tua untuk anaknya” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)

c. Doa orang yang bertawassul dengan perkara-perkara yang Allah mencintainya. Seperti bertawassul dengan asma wa shifat, amal shaleh, dan doa orang shaleh yang masih hidup.

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ (الأعراف 180) 

“Dan bagi Allah al-Asmaul Husna, maka serulah Dia dengannya” (QS. Al-A’rof: 180)

وعن عبدِ اللهِ بنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عنهما قال: سَمِعْتُ رَسولَ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يقولُ:  انْطَلَقَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كانَ قَبْلَكُمْ حتَّى أوَوْا المَبِيتَ إلى غَارٍ، فَدَخَلُوهُ فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الجَبَلِ، فَسَدَّتْ عليهمُ الغَارَ، فَقالوا: إنَّه لا يُنْجِيكُمْ مِن هذِه الصَّخْرَةِ إلَّا أنْ تَدْعُوا اللَّهَ بصَالِحِ أعْمَالِكُمْ، فَقالَ رَجُلٌ منهمْ: اللَّهُمَّ كانَ لي أبَوَانِ شيخَانِ كَبِيرَانِ، وكُنْتُ لا أغْبِقُ قَبْلَهُما أهْلًا ولَا مَالًا، فَنَأَى بي في طَلَبِ شيءٍ يَوْمًا، فَلَمْ أُرِحْ عليهما حتَّى نَامَا، فَحَلَبْتُ لهما غَبُوقَهُمَا، فَوَجَدْتُهُما نَائِمَيْنِ وكَرِهْتُ أنْ أغْبِقَ قَبْلَهُما أهْلًا أوْ مَالًا، فَلَبِثْتُ والقَدَحُ علَى يَدَيَّ، أنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُما حتَّى بَرَقَ الفَجْرُ، فَاسْتَيْقَظَا، فَشَرِبَا غَبُوقَهُمَا، اللَّهُمَّ إنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذلكَ ابْتِغَاءَ وجْهِكَ، فَفَرِّجْ عَنَّا ما نَحْنُ فيه مِن هذِه الصَّخْرَةِ، فَانْفَرَجَتْ شيئًا لا يَسْتَطِيعُونَ الخُرُوجَ، قالَ النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: وقالَ الآخَرُ: اللَّهُمَّ كَانَتْ لي بنْتُ عَمٍّ، كَانَتْ أحَبَّ النَّاسِ إلَيَّ، فأرَدْتُهَا عن نَفْسِهَا، فَامْتَنَعَتْ مِنِّي حتَّى ألَمَّتْ بهَا سَنَةٌ مِنَ السِّنِينَ، فَجَاءَتْنِي، فأعْطَيْتُهَا عِشْرِينَ ومِئَةَ دِينَارٍ علَى أنْ تُخَلِّيَ بَيْنِي وبيْنَ نَفْسِهَا، فَفَعَلَتْ حتَّى إذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا، قالَتْ: لا أُحِلُّ لكَ أنْ تَفُضَّ الخَاتَمَ إلَّا بحَقِّهِ، فَتَحَرَّجْتُ مِنَ الوُقُوعِ عَلَيْهَا، فَانْصَرَفْتُ عَنْهَا وهي أحَبُّ النَّاسِ إلَيَّ، وتَرَكْتُ الذَّهَبَ الذي أعْطَيْتُهَا، اللَّهُمَّ إنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ابْتِغَاءَ وجْهِكَ، فَافْرُجْ عَنَّا ما نَحْنُ فِيهِ، فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ غيرَ أنَّهُمْ لا يَسْتَطِيعُونَ الخُرُوجَ منها، قالَ النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: وقالَ الثَّالِثُ: اللَّهُمَّ إنِّي اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ، فأعْطَيْتُهُمْ أجْرَهُمْ غيرَ رَجُلٍ واحِدٍ تَرَكَ الذي له وذَهَبَ، فَثَمَّرْتُ أجْرَهُ حتَّى كَثُرَتْ منه الأمْوَالُ، فَجَاءَنِي بَعْدَ حِينٍ فَقالَ: يا عَبْدَ اللَّهِ أدِّ إلَيَّ أجْرِي، فَقُلتُ له: كُلُّ ما تَرَى مِن أجْرِكَ مِنَ الإبِلِ والبَقَرِ والغَنَمِ والرَّقِيقِ، فَقالَ: يا عَبْدَ اللَّهِ لا تَسْتَهْزِئُ بي، فَقُلتُ: إنِّي لا أسْتَهْزِئُ بكَ، فأخَذَهُ كُلَّهُ، فَاسْتَاقَهُ، فَلَمْ يَتْرُكْ منه شيئًا، اللَّهُمَّ فإنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذلكَ ابْتِغَاءَ وجْهِكَ، فَافْرُجْ عَنَّا ما نَحْنُ فِيهِ، فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ، فَخَرَجُوا يَمْشُونَ 

Dari Abdullah bin Umar radiallahu anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Ada tiga orang dari antara orang-orang sebelum kalian bepergian lalu mereka mencari tempat berlindung di sebuah gua untuk bermalam. Mereka masuk ke dalam gua itu, lalu sebuah batu menggelinding dari gunung, sehingga gua itu tertutup bagi mereka. Mereka berkata: “Tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian dari batu ini, kecuali kalian berdoa kepada Allah dengan amal saleh kalian.” Salah seorang dari mereka berkata: “Ya Allah, aku memiliki dua orang tua yang sudah sepuh. Aku tidak akan memberi makan keluarga dan hartaku (budak dan lainnya)   sebelum mereka. Suatu hari, aku pergi jauh untuk mencari sesuatu, dan aku tidak beristirahat sampai mereka tertidur. Aku memerah susu untuk minum sore mereka, tetapi aku mendapati mereka sudah tidur, dan aku tidak ingin memberi makan keluarga dan hartaku sebelum mereka. Maka aku tetap memegang bejana di tanganku, menunggu mereka bangun hingga fajar menyingsing. Kemudian mereka bangun dan meminum minuman (susu) tersebut. Ya Allah, jika aku melakukan itu karena mengharap keridhaan-Mu, maka bebaskanlah kami dari keadaan yang kami alami dari batu ini.” Maka batu itu terbuka sedikit, mereka belum bisa keluar. 

Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda: Dan yang satunya berkata: Ya Allah, sesungguhnya aku memiliki sepupu dan dia itu orang yang paling aku cintai, aku sangat menginginkan dirinya , tetapi dia menolakku hingga ia menderita selama setahun. Kemudian dia datang kepadaku, dan aku memberinya seratus dua puluh dinar dengan syarat dia mau ber-khalwat denganku. Dia menyetujuinya. Ketika aku sudah menguasai dirinya, dia berkata, “Aku tidak mengizinkanmu untuk memutuskan cincin kecuali dengan cara  yang benar.” Aku merasa takut untuk berbuat terhadapnya, maka aku pun berpaling darinya, meskipun dia adalah orang yang paling aku cintai, dan aku membiarkan emas yang telah kuberikan kepadanya. “Ya Allah, jika aku melakukannya karena mengharap keridhaan-Mu, maka bebaskanlah kami dari keadaan yang kami alami dari batu ini.”.” Maka batu itu terbuka, tetapi mereka belum dapat keluar darinya. 

Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Dan yang ketiga berkata, ‘Ya Allah, aku mempekerjakan para pekerja,  aku sudah berikan upah mereka, kecuali seorang laki-laki yang meninggalkan apa yang menjadi haknya, dia pergi. Aku kembangkan upahnya hingga hartanya berkembang. Beberapa waktu kemudian, dia datang kepadaku dan berkata: Wahai hamba Allah, berikanlah upahku. Aku berkata kepadanya: Semua yang kau lihat adalah upahmu berupa unta, sapi, domba, dan budak. Dia berkata: Wahai hamba Allah, jangan mengejekku. Aku berkata: Aku tidak mengejekmu. Lalu, dia mengambil semuanya dan membawanya pergi, dan tidak menyisakan sedikit pun. Ya Allah, jika aku melakukan itu karena mengharapkan keridhaan-Mu, maka bebaskanlah kami dari apa yang kami alami. Maka terbukalah batu itu, mereka pun keluar dan melanjutkan berjalan kaki (HR Bukhari dan Muslim dari Umar bin al-Khoththob) 

 أنَّ عُمَرَ بنَ الخَطَّابِ، كانَ إذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بالعَبَّاسِ بنِ عبدِ المُطَّلِبِ فَقَالَ: اللَّهُمَّ إنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إلَيْكَ بنَبِيِّنَا صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فَتَسْقِينَا، وإنَّا نَتَوَسَّلُ إلَيْكَ بعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا قَالَ: فيُسْقَوْنَ(رواه البخارى عن أنس بن مالك)

“Bahwasanya Umar bin al-Khoththob radiallahu anhu jika manusia mengalami paceklik meminta kepada Abbas untuk didoakan turunnya hujan. Dia radiallahu anhu mengucapkan: Ya Allah, kami ber-tawassul dengan Nabi kami shalallahu alaihi wasallam kepada-Mu dan Engkau turunkan hujan untuk kami. Sekarang kami ber-tawassul dengan paman Nabi kami kepada-Mu maka turunkanlah hujan untuk kami. Periwayat mengatakan: Mereka pun mendapatkan hujan” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik)

d. Doa orang sakit

Disebutkan di dalam Hadits,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: يَا ابْنَ آدَمَ! مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِي .قَالَ: يَا رَبِّ! كَيْفَ أَعُودُكَ؟ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ.قَالَ: أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلَانًا مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ، أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَنِي عِنْدَهُ؟ (رواه مسلم)

“Dari Abu Hurairah radiallahu anhu, dia mengatakan, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Allah Azza wa Jalla berfirman pada hari Kiamat: Wahai Anak Adam! Aku sakit tetapi kamu tidak menjenguk-Ku? Anak Adam menjawab: Ya Robbi! Bagaimana saya menjenguk-Mu sementara Engkau adalah Tuhan semesta alam? Allah berfirman: Tidakkah kamu tahu bahwa hamba-Ku si Fulan sakit, kenapa kamu tidak menjenguknya? Tidakkah kamu tahu jika kamu menjenguknya niscaya kamu mendapati-Ku di sisinya”. (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan orang yang sakit diharapkan doanya mustajab jika dia mendoakan seseorang. Ini sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Utsaimin.

e. Doa orang yang dizhalimi

Disebutkan di dalam Hadits,

 ان رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ بعَثَ معاذَ بنَ جَبلٍ إلى اليمَنِ، فقالَ اتَّقِ دَعوةَ المظلومِ؛ فإنَّهُ ليسَ بينَها وبينَ اللَّهِ حجابٌ (رواه لبخارى ومسلم عن ابن عباس)

“Bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman. Beliau bersabda: Takutlah kamu terhadap doa orang yang dizhalimi. Karena tidak ada penghalang antara dia dengan Allah ta’ala(HR.Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas)

f. Doa orang yang sedang berpuasa

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ثلاث دعوات لا ترد: دعوة الوالد لولده، ودعوة الصائم، ودعوة المسافر (رواه البهقى عن أنس بن مالك)

“Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Tiga doa yang tidak tertolak; doa orang tua untuk anaknya, doa orang yang puasa dan doa musafir” (HR. Baihaqi dari Anas bin Malik)

g. Doa orang tua untuk anaknya

Dalilnya sudah disebutkan di atas.

h. Doa di waktu dan keadaan yang utama

Seperti ketika sujud dan sebelum salam dalam shalat, ketika hujan, di sepertiga malam terakhir.

وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أما الركوع فعظموا فيه الرب، وأما السجود فاجتهدوا في الدعاء فقَمِنٌ أن يستجاب لكم (رواه مسلم)

“Adapun ketika ruku, maka agungkanlah Allah. Sedangkan ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, niscaya doa tersebut pasti dikabulkan untuk kalian.” (HR. Muslim dari Ibnu Abbas)

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : أَقْرَبُ مَا يَكُونُ العَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ  (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

Dari Abu Hurairah radiallahu anhu, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Keadaan seorang hamba paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang bersujud, maka perbanyaklah berdoa saat itu.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah) 

[selesai nukilan dari Syaikh As-Sa’di dengan tambahan dalil dan keterangan dari penulis]

C. Tadabbur

Pengaruh dari nama-Nya Al-Mujiib (المُجِيْب) bisa dilihat dari dikabulkannya doa para Nabi dan orang shalih sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an dan Hadits,

a. Nabi Nuh alaihissalam

وَنُوحًا إِذْ نَادَىٰ مِن قَبْلُ فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ فَنَجَّيْنَٰهُ وَأَهْلَهُۥ مِنَ ٱلْكَرْبِ ٱلْعَظِيمِ (الأنبياء:76)

“Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa, dan Kami memperkenankan doanya, lalu Kami selamatkan dia beserta keluarganya dari bencana yang besar” (QS. Al-Anbiya’: 76)

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ () فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ فَكَشَفْنَا مَا بِهِۦ مِن ضُرٍّ ۖ وَءَاتَيْنَٰهُ أَهْلَهُۥ وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَذِكْرَىٰ لِلْعَٰبِدِينَ (الأنبياء:83-84)

Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipatgandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah” (QS. Al-Anbiya’: 83-84)

b. Nabi Yunus alaihissalam

وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَٰضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِى ٱلظُّلُمَٰتِ أَن لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ () فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ وَنَجَّيْنَٰهُ مِنَ ٱلْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُۨجِى ٱلْمُؤْمِنِينَ (الأنبياء:87-88)

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim. Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kesusahan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman”. (QS-Al-Anbiya: 87-88)

c. Nabi Zakariya alaihissalam

وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَرْنِى فَرْدًا وَأَنتَ خَيْرُ ٱلْوَٰرِثِينَ () فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ وَوَهَبْنَا لَهُۥ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُۥ زَوْجَهُۥٓ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا۟ يُسَٰرِعُونَ فِى ٱلْخَيْرَٰتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا۟ لَنَا خَٰشِعِينَ (الأنبياء:89-90)

“Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik.  Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami” (QS. Al-Anbiya: 89-90)

d. Anas bin An-Nadhor

أنَّ الرُّبَيِّعَ عَمَّتَهُ كَسَرَتْ ثَنِيَّةَ جَارِيَةٍ، فَطَلَبُوا إلَيْهَا العَفْوَ فأبَوْا، فَعَرَضُوا الأرْشَ فأبَوْا، فأتَوْا رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ وأَبَوْا، إلَّا القِصَاصَ فأمَرَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ بالقِصَاصِ، فَقالَ أنَسُ بنُ النَّضْرِ: يا رَسولَ اللَّهِ أتُكْسَرُ ثَنِيَّةُ الرُّبَيِّعِ؟ لا والذي بَعَثَكَ بالحَقِّ لا تُكْسَرُ ثَنِيَّتُهَا، فَقالَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: يا أنَسُ، كِتَابُ اللَّهِ القِصَاصُ. فَرَضِيَ القَوْمُ فَعَفَوْا، فَقالَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: إنَّ مِن عِبَادِ اللَّهِ مَن لو أقْسَمَ علَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ (رواه البخارى و مسلم)

“Bahwa bibi Ar-Rubai mematahkan gigi seorang budak. Mereka meminta maaf padanya, tapi mereka (keluarga budak) menolak. Mereka menawarkan kompensasi, tetapi mereka juga menolak. Mereka mendatangi Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan mereka tetap menolaknya, kecuali harus dengan qishash. Maka Rasulullah shalallahu alaihi wasallam memerintahkan (ditegakkannya) qishash. Anas bin An-Nadr berkata: Wahai Rasulullah, apakah gigi Ar-Rubai akan dipatahkan? Tidak, demi Dzat Yang mengutus engkau dengan haq, giginya tidak akan pernah dipatahkan. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Hai Anas, sesungguhnya ketentuan Allah adalah qishash.” Kemudian mereka (keuarga budak) meridhoi dan memaafkannya. Setelah itu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Di antara hamba-hamba Allah ada seseorang yang jika dia bersumpah dengan nama Allah, niscaya Dia akan memenuhinya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik)

Allahu Akbar! Ketika negosiasi dan jalan damai buntu sehingga hukuman qishash harus tetap diberlangsungkan,  Anas bin An-Nadhor (saudaranya Rubayyi binti An-Nadhor) ber-munajat kepada Allah ta’ala agar jangan sampai gigi saudarinya di-qishosh (dipatahkan), Allah pun mengabulkannya. Akhirnya keluarga korban tergerakkan hatinya untuk memaafkannya. Setelah itu Nabi bersabda bahwa ada diantara hamba-hamba Allah ta’ala kalau bersumpah, Allah ta’ala langsung mengabulkannya. Dalam hal ini adalah Anas bin An-Nadhor.

2. Allah ta’ala meng-ijabah-i permohonan orang yang dalam kondisi terdesak atau “kepepet” dimana hatinya sangat bergantung kuat kepada Allah ta’ala. Sebagaimana disebutkan di dalam surat An-Naml: 62

أَمَّن يُجِيبُ ٱلْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ ٱلسُّوٓءَ (النمل: 62)

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya” (QS.An-Naml: 62).

Jika Allah ta’ala belum mengabulkannya maka tentu ada suatu hikmah. Ibnu Jauzi rahima hullah berkata: “Saya melihat suatu musibah yang luar bisa, seorang mukmin yang tertimpa musibah tersebut berdoa tetapi belum di-ijabah-i. Dia terus berdoa tetapi belum juga di-ijabah-i. Waktu pun berlalu tetapi tidak ada juga tanda-tanda di-ijabah-i. Aku katakan hendaknya dia mengetahui bahwa musibah ini adalah musibah yang membutuhkan multi kesabaran”

الحمد لله رب العامين

ULUL ALBAB

Ulul Albab itu orang yang melihat sesuatu dengan objektif. Dengan akal sehat dan hati jernih, tanpa dipengaruhi hawa, kepentingan, ataupun kedengkian. 

Karakter yang demikian ini melahirkan perilaku yang berupa: 

a. Hablun min Allah bagus

b. Hablun mina-n-nas bagus 

c. Suka silaturrahim 

d. Berdzikir dan berfikir 

e. Takut terhadap hisab di Akherat 

Semoga kita semua Ulul Albab

Judul Buku: Memahami Al-Asma’ul Husna Jilid 11

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Nama Allah Al-Qoriib (القَرِيب) https://nidaulfithrah.com/nama-allah-al-qoriib/ Wed, 14 Jan 2026 07:21:38 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21240 A. Penyebutan Al-Qoriib (القَرِيب) di dalam Nash

Di dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak tiga kali. 

– Disebutkan secara tersendiri,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (البقرة:186)

– Disebutkan berbarengan dengan as-Sami’ (السَمِيع)

قُلْ إِن ضَلَلْتُ فَإِنَّمَآ أَضِلُّ عَلَىٰ نَفْسِى ۖ وَإِنِ ٱهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِىٓ إِلَىَّ رَبِّىٓ ۚ إِنَّهُۥ سَمِيعٌ قَرِيبٌ

– Disebutkan berbarengan dengan al-Mujiib (المُجِيب)

فَٱسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّى قَرِيبٌ مُّجِيبٌ  (هود:61)

B. Makna Al-Qoriib (القَرِيب) Secara Bahasa

Disebutkan di “Al-Lisan”, قَرِيب (qoriib) mashdarnya قرب (qurb) artinya adalah dekat, kebalikan dari بعد (bu’d) yang artinya adalah jauh. 

Al-Laits mengatakan, al-Quroob (القُراب), al-Qiroob (القِراب) maknanya muqoorobatu as-sya-i (مقاربة الشيئ) yaitu berdekatannya sesuatu…. Al-Qurbaan (القربان) maknanya sesuatu yang dengannya seseorang mendekatkan diri kepada Allah ta’ala….

بشيء تقرب إلى الله 

artinya seseorang dengan sesuatu melakukan pendekatan kepada Allah ta’ala

C. Makna Al-Qoriib (القَرِيب) Sebagai Nama Allah

Ath-Thobari rahima hullah mengatakan bahwa firman Allah ta’ala,

إِنَّهُۥ سَمِيعٌ قَرِيبٌ (سبأ: 50)

“Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat” (QS. Saba’: 50)

Sesungguhnya Tuhanku mendengarkan apa yang saya katakan kepada kalian, Dia menjaganya, dan Dia membalas untukku atas kebenaranku. Dia dariku tidak jauh yang menjadikan Pendengaran-Nya terhalang dari apa yang saya katakan kepada kalian dan apa yang kalian katakan, juga apa yang dikatakan oleh selain kita. Dia itu Maha Dekat dari  siapapun yang berbicara. Dia Maha Mendengar apapun yang seseorang mengatakannya. Dia Maha dekat bahkan lebih dekat dari daripada urat lehernya [selesai]

Az-Zajaj mengatakan, Al-Qoriib (القَرِيب) …. Allah ta’ala Maha Dekat. Dia tidak jauh. Sebagaimana Dia berfirman, 

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ (البقرة:186)

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku” (QS. Al-Baqoroh: 186)

Artinya Aku Dekat ijabah-Nya. Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,

هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى ٱلْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (الحديد:4)

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari: Kemudian Dia ber-istiwa’ di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Hadid: 4)

Sebagaimana firman-Nya juga, 

أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۖ مَا يَكُونُ مِن نَّجْوَىٰ ثَلَٰثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَآ أَدْنَىٰ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا۟ ۖ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ (المجادلة:7)

“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari Kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu” (QS.Al-Mujadilah: 7)

Syaikh As-Sa’di rahima hullah berkata: Al-Qoriib (القَرِيب) artinya Dzat Yang Maha Dekat kepada siapapun. Dekat-Nya ada dua macam:

a. Dekat-Nya dalam makna umum, yaitu dekat kepada siapapun dengan ilmu-Nya, kebaikan-Nya, muroqobah-Nya, persaksian-Nya, dan peliputan-Nya. Dia lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya.

b. Dekat-Nya dalam makna khusus, yaitu dekat kepada penyembah-Nya, orang yang meminta kepada-Nya dan orang yang mentaati-Nya. Dekat yang bermakna mencintai, menolong, meneguhkan,  menguatkan di dalam gerak dan diamnya, dan mengabulkan setiap permohonan. Inilah makna dari ayat,

وَٱسْجُدْ وَٱقْتَرِب (العلق:19)

“Sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah ta’ala)” (QS. Al-‘Alaq: 19)

إِنَّ رَبِّى قَرِيبٌ مُّجِيبٌ (هود:61)

“Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)” (QS.Hud: 61)

Syaikh Utsaimin rahima hullah mengatakan: Ketahuilah para ulama membagi dekat-Nya ta’ala ada dua macam sebagaimana pembagian “ma’iyyah”, yaitu dekat-Nya kepada makhluk secara umum dan secara khusus [selesai]

Diantara ayat tentang dekat-Nya yang bermakna umum, 

وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِۦ نَفْسُهُۥ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ ٱلْوَرِيدِ (ق:16)

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS. Qof: 16)

Yang dimaksud dengan “ٱلْإِنسَٰنَ “ di dalam ayat ini adalah semua manusia. 

Dalil lainnya,

فَلَوْلَا إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ () وَأَنْتُمْ حِينَئِذٍ تَنْظُرُونَ () وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلَكِنْ لَا تُبْصِرُونَ (الواقعة:38-58)

“Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan. Padahal kamu ketika itu melihat. Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Namun kamu tidak melihat” (QS. Al-Waqi’ah: 83-85)

Kemudian disebutkan bahwa mereka yang nyawanya sudah sampai kerongkongan ada tiga macam, salah satunya adalah orang kafir. Jadi dekatnya Allah ta’ala selain yang bersifat khusus juga ada yang bersifat umum.

Ibnul Qoyyim mengatakan: Tidaklah bertentangan antara Tingginya Allah ta’ala dengan Dekat-Nya. Dia ta’ala itu Dekat di dalam ketinggian-Nya dan Tinggi dalam kedekatan-Nya sebagaimana disebutkan di dalam Hadits shahih dari Abu Musa al-Asy’ari,

كُنَّا مع النبيِّ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ في سَفَرٍ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَجْهَرُونَ بالتَّكْبِيرِ، فَقالَ النبيُّ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ: أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا علَى أَنْفُسِكُمْ، إنَّكُمْ ليسَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا، إنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا (رواه مسلم)

“Kami pernah bersama Nabi shalallahu alaihi wasallam dalam suatu perjalanan, ketika tiba-tiba orang-orang mulai bersuara lantang mengumandangkan takbir, beliau bersabda: Wahai manusia, berhati-hatilah dengan dirimu sendiri. Anda tidak memanggil dzat  yang tuli tidak pula dzat yang jauh. Akan tetapi, kamu menyeru kepada Dzat yang Maha Mendengar lagi Dekat” (HR. Muslim)

Nabi shalallahu alaihi wasallam sebagai manusia yang paling mengenal tentang Allah ta’ala memberitahukan, Allah ta’ala lebih dekat kepada kalian daripada urat lehernya. Beliau shalallahu alaihi wasallam juga memberitahukan, Allah ta”ala berada di atas ‘Arsy meliputi seluruh makhluk-Nya. Dia ta’ala Melihat perbuatan mereka dan apapun yang mereka rahasiakan. Ini perkara haq yang tidak saling bertentangan antara keduanya. 

Tidak sulit untuk menalarnya. Coba kita pahami baik-baik! Dari penjelasan Nabi shalallahu alaihi wasallam kita memahami betapa Allah adalah Dzat Yang Maha Agung dan Dia mengetahui seluruh makhluk-Nya. Bagaimana tidak, tujuh langit itu di Tangan-Nya perumpamaannya seperti sebutir biji sawi di tangan seseorang di antara kalian. Dan, tujuh bumi berada di Tangan lain-Nya lalu menggenggamnya. Mustahilkah perkara tersebut pada Dzat Yang Maha Besar? Dia dekat kepada siapapun dengan keberadaan-Nya di atas ‘Arsy.

Saya ambil ilustrasi untuk memudahkan pemahaman. Perhatikanlah bulan purnama! Di manapun manusia berada di belahan bumi ini baik di Indonesia, Malaysia, Saudai, Turki, Amerika, Eropa dan lain-lain bukankah bulan purnama senantiasa bersama mereka? Jawabannya pasti YA, bahkan sangat dekat. Padahal di manakah keberadaan dia? Jawabannya pasti jauh DI ATAS. Ini baru makhluk yang namanya bulan. Lalu bagaimana dengan Al-Kholiq Yang Berkuasa atas segala sesuatu. Maka, sangat mudah sekali keberadaan-Nya di atas ‘arsy tetapi ilmunya meliputi siapapun dan apapun tanpa kecuali. Disebutkan di dalam Nash, 

هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى ٱلْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (الحديد:4)

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Kemudian Dia istiwa’ di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (QS. Al-Hadid: 4)

Istiwa’ artinya tinggi di atas.

يَطْوي اللهُ السَّماواتِ يومَ القيامةِ ثُمَّ يأخُذُهنَّ بيدِه اليمنى ثُمَّ يَطْوي الأَرَضينَ ثُمَّ يأخُذُهنَّ بشمالِه ثُمَّ يقولُ أنا المَلِكُ أين الجبَّارونَ أين المُتكبِّرونَ (رواه البخارى ومسلم عن عبد الله بن عمر)

“Allah menggulung langit pada hari Kiamat, Dia mengambilnya dengan Tangan kanan-Nya. Kemudian meggulung bumi, Dia mengambilnya dengan Tangan kiri-Nya lalu berfirman: Aku lah Raja. Mana orang-orang yang sombong? Mana orang-orang takabbur?” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abullah bin Amr)

D. TADABBUR

1. Kecintaan kepada-Nya harus semakin meningkat. Karena mengimani akan Dekat-Nya adalah keimanan akan Dekat-Nya dalam pengertian khusus; kasih-sayang, meng-ijabah-i doa, dan kelembutan yang menjadikan hamba merasakan ketenangan. 

2. Roja’ (berharap) kepada-Nya semakin meningkat. Ketika seorang hamba menyadari Allah ta’ala itu Dekat, maka dia semangat dan optimis atas suatu permintaan yang ditujukan kepada-Nya. Dia tidak akan putus asa dari rahmat-Nya. Justru, ketika berdoa terkondisikan untuk lebih tadhourru’ dan khusyu’ karena merasakan kedekatan-Nya

3. Beriman kepada Dekat-Nya dalam pengertian umum dimana Allah ta’ala meliput dan memantau detail setiap ucapan dan gerak-gerik hamba kapanpun, dimanapun dan bagaimanapun menjadikan khouf kita semakin meningkat. 

4. Beriman kepada Dekat-Nya dan dihadirkannya yang demikian itu di dalam hati bahwa Dia ta’ala lebih dekat daripada apapun yang dekat menjadikan seorang hamba menyembunyikan doanya kepada-Nya dan tidak jenuh untuk terus melakukannya.

5. Ibnul Qoyyim rahima hullah mengatakan mengatakan: Ada satu point tersirat mengagumkan yang menunjukkan dekatnya orang yang berdoa kepada-Nya. Dia meminta sesuatu kepada-Nya dengan volume lirih, tidak sebagaimana volume suara terhadap sesuatu yang jauh. Untuk itu Allah ta’ala memuji Nabi Zakariya alaihissalam dalam firman-Nya,

إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ نِدَآءً خَفِيًّا (مريم:3)

“Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lirih” (QS. Maryam: 3)

Ini semakna dengan surat Al-Baqoroh: 186,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (البقرة:186)

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al-Baqoroh: 186)

Asbabu-n-Nuzul ayat ini, para Shahabat bertanya kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam, “Ya Rasulullah apakah Tuhan kita dekat sehingga kita cukup menyeru-Nya dengan lirih ataukah jauh hingga kita menyeru-Nya dengan suara keras?” Maka turunlah ayat ini. Jadi, ini merupakan petunjuk agar menyeru Allah itu dengan munajat (suara lirih).

6. Mengupayakan kedekatan dengan Allah ta’ala. Dia ta’ala Dekat kepada hamba-Nya yang melakukan pendekatan (taqorrub). Tidaklah taqorrub itu melainkan dengan ketaatan-ketaatan yang dibenarkan oleh syariat. Jadi, dari tadabbur ini seorang hamba takut untuk berbuat ibadah-ibadah yang tidak ada tuntunan syariatnya. Karena bukan semakin mendekatkan diri kepada Allah ta’ala, malah menjauhkan diri dari-Nya. 

7. Tidaklah terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits dekatnya Allah ta’ala kepada makhluk-nya secara Dzat sebagaimana dalam aqidah wihdatul wujud yang mereka salah paham tentang Hadits,

إنَّ اللَّهَ قالَ: مَن عادَى لي وَلِيًّا فقَدْ آذَنْتُهُ بالحَرْبِ، وما تَقَرَّبَ إلَيَّ عَبْدِي بشَيءٍ أحَبَّ إلَيَّ ممَّا افْتَرَضْتُ عليه، وما يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إلَيَّ بالنَّوافِلِ حتَّى أُحِبَّهُ، فإذا أحْبَبْتُهُ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذي يَسْمَعُ به، وبَصَرَهُ الَّذي يُبْصِرُ به، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بها، ورِجْلَهُ الَّتي يَمْشِي بها، وإنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، ولَئِنِ اسْتَعاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ، وما تَرَدَّدْتُ عن شَيءٍ أنا فاعِلُهُ تَرَدُّدِي عن نَفْسِ المُؤْمِنِ؛ يَكْرَهُ المَوْتَ، وأنا أكْرَهُ مَساءَتَهُ.(رواه البخارى عن أبى هريرة)

“……. Aku menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, Aku menjadi penglihatannya yang dengannya dia melihat, Aku menjadi tangannya yang dengannya dia memukul, Aku menjadi kakinya yang dengannya dia melangkah…. (HR. Bukhari dari Abu Hurairah)

Judul Buku: Memahami Al-Asma’ul Husna Jilid 11

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Nama Allah Ar-Roqiib (الرَّقِيب) https://nidaulfithrah.com/nama-allah-ar-roqiib/ Mon, 12 Jan 2026 23:22:55 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21224 A. Penyebutan Ar-Roqiib (الرَّقِيب) di dalam Nash

Disebutkan di dalam Al-Qur’an sebanyak tiga kali, yaitu:

فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِى كُنتَ أَنتَ ٱلرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ (المائدة: 117)

إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (النساء:1)

وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ رَّقِيبًا (الأحزاب: 25)

B. Makna Ar-Roqiib (الرَّقِيب) secara Bahasa

Disebutkan di dalam “Ash-Shihah”: Ar-Roqiib (الرَّقِيب) artinya yang menjaga, yang mengawasi. Seperti dalam penggunaan kalimat:

رقبت الشيئ أرقبه رقوبا ورِقبة: إذا رصدته

“Saya mengawasinya dengan seksama”

Disebutkan di dalam “Lisanul ‘Arab”: Ar-Roqiib (الرَّقِيب) berpola “الفعيل”  maknanya “ الفاعل“ artinya yang memperhatikan, yang menjaga, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, 

قَالَ يَبْنَؤُمَّ لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِى وَلَا بِرَأْسِىٓ ۖ إِنِّى خَشِيتُ أَن تَقُولَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ وَلَمْ تَرْقُبْ قَوْلِى

Harun menjawab’ “Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang jenggotku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): “Kamu telah memecah belah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku” (QS. Thoha: 94)

C. Makna Ar-Roqiib (الرَّقِيب) Sebagai Nama Allah

Imam Ath-Thobari berkata tentang ayat,

وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (النساء:1)

“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) Nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu” (QS. An-Nisa: 1)

Maknanya “ رَقِيبًا” menjaga nan menghitung amalan kalian dan mengawasi pemeliharaan kalian terhadap silaturrahim ataupun pemutusan dan pengabaiannya.

Az-Zajaji rahima hullah berkata: Makna “ رَقِيبًا” adalah Dzat yang Menjaga yang tidak lengah penjagaannya.

As-Sa’di rahima hullah berkata: Ar-Roqiib (الرَّقِيب) artinya Dzat yang mengawasi secara detail apa yang tersembunyi dalam dada. Yang selalu hadir pada setiap apapun yang dikerjakan oleh jiwa. Dia lah yang menjaga seluruh makhluk dan memberlakukan padanya sebaik-baiknya aturan dan sesempurna- sempurnanya pengurusan.

D. Tadabbur

  1. Beribadah kepada Allah ta’ala dengan Nama-Nya Ar-Roqiib (الرَّقِيب) melahirkan perasaan diawasi oleh Allah ta’ala. Baik dalam keadaan tersembunyi atau terang-terangan, sepi atau ramai, siang atau malam. Karena seluruh makhluk tidak pernah tesembunyi dari-Nya. Hakekat ini menjadikan hamba sangat menjaga hati, pendengaran, penglihatan, lisan dan anggota badannya jangan sampai berbuat hal-hal yang mendatangkan  kemurkaan-Nya.
  2. Ibnul Qoyyim rahima hullah berkata tentang muroqobah. Ia adalah beribadah kepada Allah ta’ala dengan nama-nama-Nya;  Ar-Roqiib (الرَّقِيب), Al-Hafizh (الحَٰافِظ), Al- ‘Alim  (عَلِيمٌ), As-Sami’ (السَمِيع), Al-Bashir (البَصِيۡر) 
  3. Ibnul Qoyyim rahima hullah juga berkata: Muroqobah adalah pengetahuan dan keyakinan yang terus-menerus pada seorang hamba bahwa dirinya tidak lepas dari pengamatan-Nya secara zhahir dan batin.

Syaikh Umar Al-Asyqor berkata: Jika makna Ar-Roqiib (الرَّقِيب)  pada hati seorang hamba terpatri kuat dan kendali jiwa telah menguasainya maka akan melahirkan perasaan selalu diawasi (muroqobah). Dia merasa beban jika Allah ta’ala menjumpainya di tempat yang dia dilarang sebagaimana Allah tidak akan kehilangan dia di tempat yang dia diperintahkan. Ketika godaan-godaan maksiat dan syahwat yang dikendalikan syaithan mengitari kepalanya agar dia masuk ke dalam zona kebatilan, kegelapan dan kehancuran datanglah  pengawasan Allah ta’ala yang telah terpatri di dalam jiwanya sebagai benteng dan penjaganya, maka sadarlah dia bahwa Allah itu  Ar-Roqiib (الرَّقِيب). Dzat yang Menjaga yang tidak lengah penjagaannya. Dia juga segera menyadari bahwa Malaikat-Nya setiap saat  mencatat seluruh gerak-gerik dan ucapannya. Disebutkan di dalam al-Qur’an,

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ (ق: 18)

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir (QS. Qoof: 18)

Judul Buku: Memahami Al-Asma’ul Husna Jilid 11

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Nama Allah Asy- Syahiid (الشهيد) https://nidaulfithrah.com/nama-allah-asy-syahiid/ Sat, 10 Jan 2026 03:56:03 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21206 A. Penyebutan Asy- Syahiid (الشهيد) di dalam Nash

Di dalam Al-Qu’an, ia disebutkan sebanyak 18 kali. Di antaranya;

مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَآ أَمَرْتَنِى بِهِۦٓ أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ رَبِّى وَرَبَّكُمْ ۚ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَّا دُمْتُ فِيهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِى كُنتَ أَنتَ ٱلرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ (المأئدة: 117)

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱلَّذِينَ هَادُوا۟ وَٱلصَّٰبِـِٔينَ وَٱلنَّصَٰرَىٰ وَٱلْمَجُوسَ وَٱلَّذِينَ أَشْرَكُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ (الحج:17)

لَّٰكِنِ ٱللَّهُ يَشْهَدُ بِمَآ أَنزَلَ إِلَيْكَ ۖ أَنزَلَهُۥ بِعِلْمِهِۦ ۖ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ يَشْهَدُونَ ۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدًا (النساء:166)

B. Makna Asy- Syahiid (الشهيد) secara Bahasa

Disebutkan di dalam Al-Lisan, Ibnu Sayidah berkata: Artinya adalah yang menyaksikan dan mengetahui serta menjelaskannya.

Az-Zajaj berkata: yang menyaksikan dan hadir. Ucapan seseorang: “شهدت به ” artinya saya menyaksikannya. Maksudnya saya menyaksikan di mana saya hadir di situ. Hari Kiamat disebut “ اليوم المشهود “ karena ia tidak mustahil dan diketahui secara pasti akan keniscayaannya.

C. Makna Asy- Syahiid (الشهيد) sebagai nama Allah ta’ala

Tentang ayat,

وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ (المأئدة: 117)

Ath-Thobari berkata: Engkau menyaksikan segala sesuatu, karena bagi-Mu tidak ada sesuatupun yang tersembunyi.

Al-Khuthobi rahima hullah berkata: Dia adalah Dzat yang tidak ada apapun yang ghoib bagi-Nya.

Ibnu Katsir rahima hullah berkata: Allah menyaksikan perbuatan mereka, menjaga / mengawasi perkataan mereka, mengetahui rahasia mereka dan segala apapun yang tersembunyi.

Ibnul Qoyyim rahima hullah berkata: Di antara nama Allah adalah Asy- Syahiid (الشهيد), Dzat yang segala sesuatu tidak ghoib bagi-Nya. Tidak tersembunyi segala apapun di muka bumi meskipun seberat atom. Dia meliputi segala sesuatu serinci-rincinya. 

As-Sa’di rahima hullah berkata: Asy-Syahiid (الشهيد), Dzat yang meliputi segala sesuatu, Dzat yang mendengar segala suara yang terang dan samar, Dzat yang mengetahui segala apapun  yang tersembunyi dan gamblang, kecil dan besar, ilmu-Nya mencakup segala sesuatu pada hamba-Nya segala apa yang mereka perbuat.

D. TADABBUR

1. Dengan memahami makna nama Allah Asy-Syahiid (الشهيد) bahwa Dia Dzat yang meliputi segala sesuatu, Dzat yang mendengar segala suara yang terang dan samar, Dzat yang mengetahui segala apapun  yang tersembunyi dan gamblang, kecil dan besar, serta ilmu-Nya mencakup segala sesuatu pada hamba-Nya apapun yang mereka perbuat, maka hal ini akan menjadikan hati seorang hamba “melek” senantiasa berhati-hati, mawas diri  dan takut kepada Allah ta’ala sehinga tidak akan terlahir darinya ucapan dan perilaku kecuali yang Allah ta’ala ridhoi. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

وَمَا تَكُونُ فِى شَأْنٍ وَمَا تَتْلُوا۟ مِنْهُ مِن قُرْءَانٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ ۚ وَمَا يَعْزُبُ عَن رَّبِّكَ مِن مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِى ٱلسَّمَآءِ وَلَآ أَصْغَرَ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكْبَرَ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ (يونس 61)

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar dzarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh) (QS. Yunus: 61)

2. Dengan memahami makna nama Allah Asy-Syahiid (الشهيد) bahwa Dia Dzat yang Maha Mengetahui secara persis dan detail apa yang kita perselisihkan di dalam muamalah sesama manusia dan nantinya di hari Kiamat akan diadili seadil-adilnya menjadikan kita semakin berhati-hati dalam ber-muamalah. Tidak abai terhadap hak-hak orang lain. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

إِنَّ ٱللَّهَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ (الحج:17)

“Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari Kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu” (QS. Al-Hajj: 17)

3. Persaksian Allah ta’ala adalah setinggi-tingginya persaksian. Allah sebagai Dzat Yang Maha Agung, Maha Tinggi, Maha Kuasa, Maha Besar maka persaksiannya sempurna karena tidak ada yang tersembunyi sedikitpun bagi-Nya. Untuk itu, orang yang mengakui bahwa Allah ta’ala menyaksikan dirinya, maka dia mencukupkan diri dengan-Nya ta’ala tidak perlu mendatangkan persaksian dari yang lain. Perhatikanlah, ketika Nabi berselisih dengan orang-orang musyrik di dalam masalah tauhid dan apa yang didakwahkan Allah ta’ala memerintahkan beliau shalallahu alaihi wasallam untuk mengatakan: 

قُلْ أَىُّ شَىْءٍ أَكْبَرُ شَهَٰدَةً ۖ قُلِ ٱللَّهُ ۖ شَهِيدٌۢ بَيْنِى وَبَيْنَكُمْ ۚ وَأُوحِىَ إِلَىَّ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانُ لِأُنذِرَكُم بِهِۦ وَمَنۢ بَلَغَ ۚ أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ ٱللَّهِ ءَالِهَةً أُخْرَىٰ ۚ قُل لَّآ أَشْهَدُ ۚ قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ وَإِنَّنِى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ (الأنعام: 19)

Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah: “Allah”. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang Al-Quran sampai (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?” Katakanlah: “Aku tidak mengakui”. Katakanlah: “Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)” (QS. A-An’am: 19)

Allah ta’ala telah bersaksi untuk diri-Nya tentang ketauhidan-Nya sebagaimana dalam firman-Nya,

شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ (أل عمران: 18)

“Allah ta’ala bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Dia” (QS. Ali Imron: 18)

Tentang ayat ini Ibnul Qoyyim rahima hullah berkata: Ayat ini mengandung makna sebesar-besar dan seagung-agungnya persaksian. Yaitu persaksian Allah ta’ala yang menunjukkan juga besar dan agungnya perkara yang dipersaksikan” [selesai]

4. Allah ta’ala bersaksi tentang benarnya apa yang disampaikan oleh Nabi-Nya. Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya adalah firman-Nya dan Hadits sebagai penjelasnya adalah berdasarkan wahyu bukan dari hawa-nya sendiri. Disebutkan di dalam Al-Qur’an, 

هُوَ ٱلَّذِىٓ أَرْسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلْهُدَىٰ وَدِينِ ٱلْحَقِّ لِيُظْهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ ۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدًا (الفتح:28)

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi” (QS.Al-Fath: 28).

لٰكِنِ اللّٰهُ يَشْهَدُ بِمَآ اَنْزَلَ اِلَيْكَ اَنْزَلَه بِعِلْمِه وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ يَشْهَدُوْنَۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًاۗ (النساء:166)

Akan tetapi, Allah bersaksi atas apa (Al-Qur’an) yang telah diturunkan-Nya kepadamu (Nabi Muhammad). Dia menurunkannya dengan ilmu-Nya. (Demikian pula) para Malaikat pun bersaksi. Cukuplah Allah menjadi saksi (QS. An-Nisa: 166)

Judul Buku: Memahami Al-Asma’ul Husna Jilid 11

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>